II. Deskripsi Program & Capaian Hasil Implementasi Program
2. Penguatan Kapasitas di Tingkat Kabupaten/Kota
Program DBE1 di tingkat kabupaten/kota bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pemerintah kabupaten/kota dan pemangku kepentingan lainnya dalam hal pengembangan kebijakan kependidikan termasuk perencanaan dan penganggaran pendidikan. Dalam proses perumusan kebijakan, azas partisipasi, transparansi dan akuntabilitas dikedepankan sehingga memberi kesempatan bagi orang tua, anggota
masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya untuk menyuarakan aspirasi mereka untuk kualitas pendidikan yang lebih baik di kabupaten/kota.
Program tingkat kabupaten/kota yang dilaksanakan DBE1 Provinsi Aceh adalah penyusunan (a) Renstra SKPD Dinas Pendidikan, LAKIP, dan Renja berdasarkan Renstra SKPD, (b) penyusunan rencana kerja tahunan (Renja) Dinas Pendidikan, (c) analisis keuangan pendidikan kabupaten/kota (AKPK), (d) perhitungan biaya operasional satuan pendidikan (BOSP), (e) Penyusunan Biaya Standar Akses Pendidikan (PBSAP), dan (f) program rintisan. Program rintisan terdiri atas (1) pilot project penguatan EMIS-ICT, (2) Sistem Informasi Manajemen Aset (SIMA), dan (3) Sistem Informasi Manajemen Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (SIMPTK). Penguatan kapasitas kabupaten/kota dilakukan dengan memadukan dua pendekatan yaitu pelatihan dan pendampingan langsung. Hal tersebut bukan hanya ditujukan agar supaya kabupaten/kota memiliki produk dokumen, tapi lebih dari itu para pemangku kepentingan di tingkat kabupaten/kota diharapkan memiliki kesadaran pentingnya perencanaan dan memiliki keahlian khusus dalam menyusun kebijakan pendidikan. Para staf pemda di semua kabupaten/kota yang telah difasilitasi oleh DBE1 telah menunjukkan bahwa unsur eksekutif mampu mengembangkan kepemimpinan yang responsif, partisipatif, efektif/efisien dan akuntabel. Demikan pula Majelis Pendidikan Daerah (MPD) dan masyarakat madani (pers dan LSM) mampu melaksanakan peran dan fungsi yang tepat dalam tata layanan pendidikan sebagaimana diamanatkan oleh peraturan perundangan.
Adapun kegiatan DBE1 di tingkat kabupaten/kota dapat dilihat di tabel dibawah ini.
Tabel 7. Rangkuman Kegiatan DBE1 Tingkat Kabupaten/Kota di Aceh Kabupaten/Kota AKPK BOSP Renstra SIPPK Lakip Manajemen
Aset SIMPTK PBPSAP Renja
Update BOSP Aceh Tenggara √ √ √ √ √ Aceh Besar √ √ √ √ √ Aceh Barat Daya √ √ √ √ √ Aceh Jaya √ √ √ √ √ Kota Sabang √ √ √ √ Simeulue √ √ √ √ √ Aceh Timur √ √ √ √ √ Pidie √ √ √ √ √ √ Gayo Lues √ √ √ √ √ Bener Meriah √ √ √ √ √ √ Kota Langsa √ √ √ √ √ √ Singkil √ √ √ √ √ √ Aceh Tengah √ √ √ √ √ √ √ Bireuen √ √ √ √ √ Aceh Tamiang √ √ √ √ √ √ √ Pidie Jaya √ √ √ √ Kota Lhokseumawe √ √ √ √ √
Kabupaten/Kota AKPK BOSP Renstra SIPPK Lakip Manajemen
Aset SIMPTK PBPSAP Renja
Update BOSP Aceh Selatan √ √ √ √ √ √ Aceh Barat √ √ √ √ √ √ Aceh Utara √ √ √ √ √ √ Nagan Raya √ √ √ √ √ √ Kota Banda Aceh √ √ √ √ √ √ Kota Subussalam √ √ √ √ √
a. Penyusunan Rencana Strategis (Renstra) SKPD Dinas Pendidikan
DBE1 telah memfasilitasi kabupaten/kota dalam penyusunan Renstra Dinas Pendidikan. Selain itu, DBE1 juga mendorong pemanfaatan Renstra Dinas Pendidikan sebagai landasan dalam perumusan kebijakan pendidikan yang lebih operasional. Penyusunan Renstra Dinas Pendidikan didasarkan pada data pendidikan yang terkini, relative valid, dan relevan. Sistem Informasi Perencanaan Pendidikan Kabupaten/Kota (SIPPK) yang kemudian disempurnakan menjadi Sistem Informasi Manajemen Pendidikan Kabupaten/Kota (SIMPK) merupakan perangkat lunak pendukung yang disediakan untuk membantu tim penyusun Renstra. SIPPK menyajikan tabel-tabel profil pendidikan, termasuk angka partsipasi kasar (APK), angka partisipasi murni (APM), angka mengulang kelas (AMK), jumlah guru menurut kualifikasi pendidikan, kecukupan sarana dan prasarana dan data pokok pendidikan lainnya. Sistem informasi ini juga dapat membantu dinas pendidikan melihat secara cepat kinerja pendidikan kabupaten dalam bentuk distribusi sekolah/madrasah. Melalui sajian data tersebut dinas dapat mengambil kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan nyata sekolah/madrasah. Melalui tabel distribusi ini, tim dinas dapat melihat kesenjangan kinerja pendidikan antar sekolah/madrasah dalam satu kecamatan/kabupaten maupun antar kecamatan/desa dalam satu kabupaten. Disamping itu, pemanfaatan SIPPK telah mendorong dinas untuk meningkatkan ketersediaan dan kualitas data pendidikan.
Tabel 8. Perkembangan Rasio Ruang Kelas terhadap Rombongan Belajar Tiga Tahun Terakhir
Jenis Sekolah
Rasio R. Kelas Terhadap Rombel 2005/2006 2006/2007 2007/2008
SMP 1:0,88 1:0,84 1:1,0 MTs 1:1,0 1:0,75 1:0,95 Total 1:0,82 1:0,92 1:0,98
Sumber: Profil Pendidikan Aceh Tengah, 2007/2008
Data dalam tabel di atas menggambarkan kondisi ketersediaan ruang kelas pada tingkat kabupaten selama tiga tahun terakhir. Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa jumlah ruang kelas SMP/MTs lebih banyak dibandingkan rombongan belajar. Untuk melihat kelebihan ruang kelas, berikut ini disajikan data distribusi sekolah menurut
ketersediaan/kecukupan ruang kelas (rasio ruang kelas terhadap rombongan belajar). Melalui tabel ini dapat dilihat berapa sekolah yang memiliki rasio ruang kelas lebih besar dibandingkan dengan rombongan belajar.
SIPPK dibangun berdasarkan data individu sekolah/madrasah di satu kabupaten yang dikumpulkan setiap awal tahun pelajaran. Tabel 8 dan 9 merupakan salah satu contoh ouput SIPPK berupa tabel rasio ruang kelas terhadap rombongan belajar dan distribusi ruang kelas SMP/MTs Kabupaten Aceh Tengah.
Tabel 9. Distribusi Rasio Ruang Kelas Terhadap Rombongan Belajar Rasio R. Kelas Terhadap
Rombongan Belajar Jumlah Sekolah Persen <0,4 4 8,33 0,4 – 0,6 2 4,17 0,6 – 0,8 1 2,08 0,8 – 1.0 4 8,33 ≥ 1 37 77,08 Total 48 100,00
Dengan menggunakan SIPPK dapat diketahui kebutuhan atau kekurangan ruang kelas di setiap sekolah/madrasah bahkan dengan mudah dapat dihitung jumlah biaya yang diperlukan. Oleh sebab itu, diperlukan pengembangan kapasitas Dinas Pendidikan dalam pengolahan data kependidikan dengan perangkat lunak SIPPK tersebut.
Pengembangan kapasitas tim dinas dalam mengolah data dengan SIPPK ini dilakukan melalui pelatihan dan pendampingan. Sampai dengan saat ini, 17 kabupaten/kota mitra DBE 1 telah menggunakan SIPPK dalam mengolah data kependidikannya sebagai dasar penyusunan Renstra-SKPD Dinas Pendidikan.
Peningkatan kapasitas staf dinas pendidikan dalam menyusun Rencana Strategis Dinas Pendidikan yang sesuai dengan regulasi dan berkualitas merupakan salah satu tujuan program DBE 1. Renstra dinas pendidikan disusun berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang tahapan, tata cara penyusunan, pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah.
Kegiatan awal yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut di atas adalah membangun komitmen dengan kepala dinas pendidikan dan pemangku kepentingan kabupaten/kota, yang dilanjutkan dengan tahapan sebagai berikut.
Pembentukan tim penyusun Renstra yang beranggotakan 11 orang, yang terdiri dari Kepala Dinas, Sekretaris, Kasi Penyusunan Program, Kasi Kurikulum TK,SD dan SMP, Kasi Kurikulum SMA, Mapenda, MPD, Kasi data program, Kasi PLS, staff bidang program. Disamping sebagai tim tersebut, kepala Dinas terlibat dalam mengkoordinasikan proses penyusunan
Renstra, baik dengan tim internal maupun dengan pihak eksternal, seperti bupati/walikota, dan Kemenag;
Pelatihan penggunaan software SIPPK untuk tim penyusun Renstra; Penyiapan dan pengolahan data layanan pendidikan;
Pelatihan dan pendampingan penyusunan Renstra Dinas Pendidikan bagi tim penyusun Renstra;
Reviu draft Renstra di lingkungan internal Dinas Pendidikan dalam lokakarya internal Renstra.;
Konsultasi publik draft Renstra.
Gambar 3. Tahapan Penyusunan Renstra Dinas Pendidikan
Dalam proses penyusunan Renstra, pelibatan pemangku kepentingan juga didorong melalui serangkaian workshop, diskusi, dan uji publik. Uji publik diikuti oleh staf Dinas Pendidikan, Bappeda, staf Dinas Kemenag, DPRK, Majelis Pendidikan Daerah (MPD), LSM, Media, perwakilan sekolah/madrasah, baik negeri maupun swasta. Secara umum, proses tersebut di atas memungkinkan pemangku kepentingan memahami lebih mendalam kondisi pendidikan kabupaten/kota masing-masing dan pada gilirannya mampu menyampaikan masukan dan mengkritisi dokumen Renstra dengan tepat.
DBE1 Provinsi Aceh telah mendampingi 17 kabupaten/kota mitra dalam menyusun Renstra-SKPD Dinas Pendidikan.
Tabel 10. Kabupaten yang Telah Memiliki Dokumen SIPPK dan Renstra-SKPD Dinas Pendidikan
No Kabupaten/Kota
1. Kota Banda Aceh 2. Kabupaten Aceh Besar 3. Kabupaten Pidie 4. Kabupaten Bireuen 5. Kabupaten Bener Meriah 6. Kabupaten Aceh Tengah 7. Kabupaten Aceh Utara 8. Kabupaten Aceh Timur 9. Kota Langsa
10. Kabupaten Tamiang 11. Kabupaten Aceh Jaya 12. Kabupaten Aceh Barat 13. Kabupaten Nagan Raya 14. Kab. Aceh Barat Daya 15. Kabupaten Aceh Selatan 16. Kota Subulussalam 17. Kabupaten Singkil
Enam kabupaten/kota lainnya, yaitu Aceh Tenggara, Gayo Luwes, Pidie Jaya, Kota Sabang, Kota Lhokseumawe, dan Simeulu belum menerima fasilitasi penyusunan Renstra-SKPD Dinas Pendidikan dari DBE1. Hal ini karena pada akhir 2010 DBE1 direncanakan untuk berakhir. DBE1 bekerjasama dengan SEDIA dan berharap SEDIA dapat melanjutkan kegiatan ini.
b. Penyusunan Rencana Kerja Tahunan (Renja)
Rencana Kerja Tahunan (Renja) merupakan salah satu dokumen perencanaan yang wajib dibuat oleh setiap SKPD. Renja berisi program dan kegiatan yang akan dilaksanakan beserta target yang akan dicapai untuk kurun waktu setahun ke depan. Rencana kerja ini juga menyajikan jumlah dana yang dibutuhkan untuk melaksanakan setiap program dan kegiatan tersebut. Sebagai dokumen perencanaan tahunan, Renja SKPD Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota merupakan turunan dari rencana strategis (renstra). Penyusunan Renja Dinas Pendidikan yang difasilitasi oleh DBE1 juga mengacu kepada hasil kinerja tahun sebelumnya (LAKIP). Dalam wilayah Provinsi Aceh, hanya dua kabupaten yang mendapat fasilitasi penyusunan Renja dari DBE1, yaitu Pidie dan Aceh Tengah. Hal ini disebabkan oleh sangat terbatasnya waktu dan sumber daya yang dimiliki DBE1. Staf Dinas Pendidikan yang telah dikembangkan kapasitasnya dalam penyusunan Renja di kedua kabupaten tersebut sebanyak 9 orang yang terdiri atas unsur pimpinan dan staf Dinas Pendidikan.
Gambar 9 :
Porsi Sum berdana Pendidikan di Kabupaten Tahun 2009 APBN 21 M, 7% APBK 219 M, 75% APBA 53 M, 18%
Total : 293 M
c. Analisis Keuangan Pendidikan Kabupaten/Kota (AKPK)
Analisis Keuangan Pendidikan Kabupaten/Kota (AKPK) bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang sumber pendanaan dan alokasi belanja sektor pendidikan kabupaten/kota. AKPK menyajikan informasi terkait dengan (i) Berapa total belanja sektor pendidikan dan porsinya dalam APBD Kabupaten/Kota? (ii) Darimana sumber-sumber pendanaan pendidikan? (iii) Berapa besar masing-masing sumber dana tersebut (APBN, APBD Provinsi, APBD Kab/Kota, dan lainnya)? (iv) Apa saja jenis belanja sektor pendidikan? (v) Berapa yang dibelanjakan untuk setiap jenjang pendidikan secara keseluruhan atau per murid?
Contoh analisis keuangan sektor pendidikan6 Kota Banda Aceh berikut ini menunjukkan bahwa penggunaan dana terbesar adalah untuk gaji pegawai (85%), sedangkan untuk dana PBM sangat kecil (6%). Total dana pendidikan Kota Banda Aceh Rp 219 M (2009)
Gambar 4. Hasil Analisis Alokasi Belanja Sektor Pendidikan Kota Banda AcehTahun 2009
Gambar 5. Hasil Analisis Sumber Pendanaan Sektor Pendidikan di Kabupaten Tahun 2009
6 Keuangan sector pendidikan meliputi APBN, APBD Provinsi, DPA Dinas Pendidikan maupun SKPD lain.
Gam bar 5 : Struk tur Be lanja Pe ndidik an Tahun 2009
M odal (R 19 m ) 9% Gaji (Rp187 m ) 85% Ope ras ional
(Rp14 m ) 6% Gam bar 4 : Struk tur Be lanja Pe ndidik an Tahun 2008
Ope ras ional (Rp7 m ) 4% M odal (Rp18 m ) 10% Gaji (Rp150 m ) 86%
Hasil AKPK telah menjadi masukan bagi pemerintah kabupaten/kota dalam penyusunan kebijakan anggaran, khususnya dalam perumusan strategi pembiayaan sektor pendidikan agar lebih efektif, efisien dan produktif pada tahun anggaran berikutnya. Artinya, alokasi anggaran sektor pendidikan lebih diprioritaskan pada pembiayaan program/kegiatan yang berhubungan langsung dengan peningkatan mutu proses dan output pembelajaran. AKPK juga dapat menjadi acuan dalam penetapan skala prioritas pembiayaan program/kegiatan pada Renstra Dinas Pendidikan.
Di Kota Banda Aceh, data hasil AKPK yang difasilitasi DBE1 Aceh telah digunakan sebagai dasar penyusunan anggaran pendidikan. Pemerintah Kota Banda Aceh sudah memperoleh informasi tentang persentase biaya pendidikan dari total keseluruhan APBK yang ada dan berapa besar porsinya masing-masing aspek pembangunan pendidikan serta aspek pembangunan pendidikan mana yang porsi dananya cukup besar. Oleh sebab itu, Walikota Banda Aceh membuat beberapa kebijakan, antara lain telah membatasi penerimaan tenaga pendidik dan kependidikan.
Penyusunan dokumen AKPK di setiap kabupaten/kota dilakukan oleh suatu tim yang terdiri atas Kepala Seksi Monev dan Pelaporan dan 2 orang staf keuangan. Pendekatan yang digunakan dalam proses AKPK adalah sebagai berikut.
Pelatihan intensif tim kerja melalui lokakarya
Penghitungan dan pemilahan belanja sektor pendidikan melalui serangkaian lokakarya
Konsultasi internal Dinas Pendidikan terhadap hasil AKPK sebagai uji validitas sebelum ditetapkan sebagai hasil akhir
Penyusunan dokumen analisis, simpulan dan rekomendasi kebijakan Konsultasi publik sebagai bagian dari upaya membangun dukungan
pemangku kepentingan pendidikan terhadap perubahan kebijakan anggaran dan strategi pembiayaan sektor pendidikan
Tim kerja penyusunan dokumen AKPK mengkaji beberapa dokumen sebagai dasar analisis, antara lain sebagai berikut.
Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) SKPD Pendidikan dan APBA Provinsi Aceh Tahun 2008-2009.
Dokumen rincian gaji pendidik dan nonpendidik diperoleh dari APBK kabupaten/Kota.
Dokumen DPA SKPD Pendidikan dan APBA Provinsi Aceh tahun yang sedang berjalan.
Dokumen daftar alokasi dana dekonsentrasi kota dari SKPD Pendidikan Provinsi Aceh.
Profil Pendidikan Kabupaten/Kota.
Di Provinsi Aceh, 21 kabupaten/kota menerima program AKPK yang difasilitasi DBE1 dan hasilnya berupa dokumen AKPK telah dimiliki oleh Dinas Pendidikan masing-masing. Dua Kabupaten, yaitu Pidie dan Bireun hingga akhir fase kedua tidak
berkesempatan menghitung AKPK-nya. Karena ke dua kabupaten/kota ini tidak memiliki data pendukung yang lengkap dan adanya kebijakan DBE1 untuk memfasiltasi tiga kabupaten/kota per provinsi mitra, maka kabupaten/kota ini tidak terpilih.
Tabel 11. Daftar Kabupaten/Kota yang Telah Memiliki Dokumen AKPK
No Kabupaten/Kota
1. Aceh Tenggara 2. Aceh Besar 3. Aceh Barat Daya 4. Aceh Jaya 5. Kota Sabang 6. Simeulue 7. Aceh Timur 8 Gayo Lues 9 Bener Meriah 10. Kota Langsa 11. Singkil 12. Aceh Tengah 13. Bireuen 14. Aceh Tamiang 15. Pidie Jaya 16. Kota Lhokseumawe 17. Aceh Selatan 18. Aceh Barat 19. Aceh Utara 20 Nagan Raya 21 Kota Banda Aceh 22 Kota Subussalam
d. Biaya Operasional Satuan Pendidikan (BOSP)
PP 19/2005 tentang Standar Pembiayaan mendefinisikan Biaya Operasional7 Satuan Pendidikan (BOSP) sebagai bagian dari dana pendidikan untuk membiayai kegiatan operasi satuan pendidikan agar kegiatan pendidikan sesuai SNP dapat berlangsung
7
Biaya operasional adalah biaya pegawai (gaji dan tunjangan pendidik dan tenaga kependidikan serta honor guru sukarelawan/tidak tetap dan tenaga kependidikan sukarelawan) dan biaya bukan pegawai (ATS, bahan dan alat habis pakai, rapat-rapat, transport/perjalanan dinas, penilaian/evaluasi, langganan daya dan jasa, pemeliharaan sarana dan prasarana, pendukung pembinaan siswa ditambah dengan bantuan personal siswa kurang mampu, investasi ringan: buku teks, buku referensi, komputer, alat peraga/media).
secara teratur dan berkelanjutan. Berdasarkan PP 19/2005 tersebut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) pada tahun 2008 mengembangkan metode penghitungan BOSP, hasil dari penghitungan yang dilakukan oleh BSNP ini kemudian dituangkan ke dalam Permendiknas 69/2009 tentang Standar Pembiayaan Pendidikan.
Bekerja sama dengan BSNP, DBE1 melakukan pengembangan lebih lajut dari metode tersebut dengan melakukan tiga penyesuaian:
Penyesuaian harga satuan dengan menggunakan standar harga Kabupaten/Kota
Menyesuaikan volume bila kabupaten/kota memandang kebutuhan mereka berbeda dengan standar BSNP
Melakukan penambahan/pengurangan line item untuk merefleksikan kebutuhan yang berbeda di tiap Kabupaten/Kota
Pengembangan metode ini dilakukan agar hasil penghitungan BOSP tersebut dapat lebih baik merefleksikan kebutuhan masing-masing Kabupaten/Kota yang sangat beragam. Hasil penghitungan BSNP dalam Permendiknas 69/2009 tetap selalu menjadi referensi tolok ukur dari hasil penghitungan BOSP yang difasilitasi DBE1. Manfaat utama dari hasil penghitungan BOSP ini adalah menjadi sumber informasi bagi pemangku kebijakan dalam melihat sejauh mana kebutuhan operasional sekolah telah terpenuhi. Hasil BOSP yang dihitung per siswa ini disandingkan dengan Bantuan Biaya Operasional Sekolah (BOS) dari Pemerintah Pusat, ataupun dari Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota, untuk melihat kesenjangan yang ada. Dari sini, pemangku kepentingan dapat memformulasikan kebijakan untuk memenuhi kebutuhan BOSP yang diperlukan.
Di Provinsi Aceh, angka-angka hasil penghitungan BOSP telah digunakan oleh Dinas Pendidikan dan Tim Koordinator Pendidikan Provinsi Aceh (TK-PPA) sebagai masukan bagi SEDIA-AusAid menyusun program Equity Strategy untuk diusulkan kepada Gubernur sebagai dasar penambahan dana pendidikan. DBE1 sebagai salah satu donor pendukung TK-PPA (sesuai surat Gubernur Aceh) selalu dilibatkan dalam berbagai kegiatan TK-PPA, misalnya dalam mereview RPJM Pendidikan di Bappeda, penyusunan draf juknis MBS sebagai kelengkapan lampiran surat Gubernur tentang penerapan MBS pada semua sekolah di Provinsi Aceh. Sebaliknya, TK-PPA senantiasa mendukung semua kegiatan yang dilaksanakan oleh DBE1. Bahkan, kegiatan penutupan program DBE1 tingkat provinsi dilaksanakan dalam forum TK-PPA tersebut.
Walikota Banda Aceh dan Bupati Aceh Tengah telah menjadikan hasil perhitungan BOSP ini sebagai dasar penambahan biaya pendidikan jenjang SMP dan SMA/SMK. Bagi sekolah/madrasah, hasil penghitungan BOSP digunakan sebagai dasar pengajuan kebutuhan dana operasional kepada pemerintah daerah maupun pihak lain. Hasil penghitungan BOSP juga memberikan gambaran kepada orang tua tentang kebutuhan dana operasional sekolah/madrasah sehingga dapat menumbuhkan partisipasi. Contoh hasil Penghitungan BOSP beberapa kabupaten/kota di Provinsi Aceh adalah sebagai berikut.
BOSP persisw a/tahun (Rupiah) 584.077; 12% 740.323; 15% 819.198; 16% 2.895.232; 57% SD SMP SMA SMKN
Tabel 12. Hasil Penghitungan Biaya Operasional Satuan Pendidikan Tahun 2009
Catatan:
BOS SD/MI (kabupaten) : Rp. 397,000 SD/MI (kota): Rp. 400,000
SMP/MTs (kabupaten): Rp. 570,000 SMP/MTs (kota): Rp. 575,000
Biaya Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) di Kota Banda Aceh berikut ini menunjukkan bahwa kebutuhan biaya operasional satuan pendidikan untuk siswa di jenjang SD pada tahun 2009 masih kurang dibandingkan dengan pendapatan sekolah/madrasah walaupun kekurangannya relative lebih kecil.
Gambar 6. Besaran BOSP per Siswa per Tahun Kota Banda Aceh Tahun 2009
Gambar 7. Perbandingan Antara BOSP per Siswa VS Pendapatan SD/MI
BOSP dihitung oleh tim kerja kabupaten/kota yang terdiri dari unsur dinas pendidikan, kepala sekolah/madrasah (SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA), UPTD/KCD, Pengawas, DPRD Komisi Pendidikan, Bappeda, DPPKAD/Bag. Keuangan Setda, Kantor Kementerian Agama, dan dewan pendidikan. Penghitungan BOSP dilakukan melalui serangkaian lokakarya dan proses konsultasi internal di dinas pendidikan serta konsultasi publik. Konsultasi publik digunakan untuk membangun dukungan pemangku kepentingan pendidikan terhadap perubahan kebijakan anggaran dan strategi pembiayaan sektor pendidikan.
e. Perhitungan Biaya Pencapaian Standar Akses Pendidikan
Dalam beberapa tahun terakhir ini pemerintah, melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah berupaya mencapai dua sasaran kebijakan utama, yaitu (1) Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun yang dicapai dengan memperluas akses pendidikan di tingkat SD/MI dan SMP/MTs dalam bentuk investasi pada infrastruktur sekolah; (2) pemerataan mutu pendidikan, sebuah kebijakan yang penting untuk menjawab keluhan banyak pihak mengenai ketidakadilan di dalam penyediaan layanan pendidikan.
Salah satu instrumen kebijakan yang dianggap tepat dalam mendukung sasaran kedua ini adalah dengan memperkenalkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) di bidang pendidikan yang akan memberikan arahan penyediaan layanan pendidikan.
Untuk dapat mencapai SPM tentunya diperlukan pendanaan yang cukup. Oleh karena
BOSP SD
Rp 584 rb/th
Rp 170 rb/th siapa yg menanggung? Dana BOSDA, Rp 13 rb/th Dana BOS, Rp 400 rb/thitu, DBE1 mengembangkan suatu metoda yang dapat digunakan oleh daerah untuk mengetahui estimasi biaya yang diperlukan dalam mencapai SPM dan target akses, yaitu Penghitungan Biaya Pencapaian Standar dan Akses Pendidikan (PBPSAP). Untuk bisa melakukan PBPSAP, DBE1 mengembangkan Sistem Informasi Manajemen Pendidikan Kabupaten/Kota (SIMPK) yang merupakan pengembangan dari SIPPK guna menghasilkan profil pencapaian SPM kabupaten/kota. Input dari SIMPK adalah data padatiWeb dan NUPTK yang dimiliki oleh dinas pendidikan kabupaten/kota.
Gambar 8. Tahap Analisis PBPSAP
Di Provinsi Aceh, 14 kabupaten/kota mendapatkan program PBPSAP yang difasilitasi DBE1. Penetapan kabupaten/kota tersebut sebagai sasaran pelaksanaan program didasarkan atas dua pemikiran dasar. Pertama, hasil diskusi DBE1 dengan Dinas Pendidikan Provinsi bahwa telah ada tiga lembaga donor, yaitu SEDIA-AusAid, UNICEF, dan LOGICA yang akan membantu sembilan kabupaten/kota dalam perhitungan SPM dengan metode survei. Kedua, kabupaten/kota tersebut memiliki data padatiWeb dan NUPTK yang cukup lengkap.
Kegiatan PBPSAP mulai dilaksanakan pada pertengahan Juni dan keseluruhan proses worshopnya mulai tahap 1—3 dapat diselesaikan pada akhir Oktober 2011. PBPSAP dilakukan dalam beberapa tahapan kegiatan sebagai berikut.
Pelatihan Sistem Informasi Manajemen Pendidikan Kabupaten/Kota (SIMPK) bagi data operator dinas pendidikan.
Lokakarya PBPSAP bagi para pengambil keputusan di lingkungan dinas pendidikan kabupaten/kota
Konsultasi internal dinas pendidikan kabupaten/kota
Lokakarya review hasil PBPSAP oleh Dinas Pendidikan dan Bappeda kabupaten/kota.
Hasil yang dicapai dalam kegiatan PBPSAP adalah sebagai bnerikut.
Di 14 kabupaten/kota tersebut masing-masing telah memiliki 5 orang data operator yang mampu mengolah data padatiWeb dan NUPTK dengan menggunakan SIMPK.
Para pengambil kebijakan di Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota tersebut mampu menganalisis data hasil olahan SIMPK, merumuskan alternatif kebijakan dalam rangka mencapai SPM dan target akses, dan menghitung estimasi kebutuhan biaya untuk mencapai SPM dan target akses.
Dinas Pendidikan dari 14 kabupaten/kota tersebut sudah mengetahui gambaran kebutuhan biaya untuk mencapai SPM dan target akses. Hasil PBPSAP ini dapat menjadi input dalam penyusunan perencanaan pendidikan kabupaten/kota.
Keempat belas kabupaten/kota yang menerima fasilitasi penyusunan PBPSAP dari DBE1 Aceh adalah sebagai berikut.
Tabel 13. Daftar Kabupaten/Kota Sasaran PBPSAP
No Kabupaten
1. Kota Banda Aceh 2. Kabupaten Pidie
3. Kabupaten Bener Meriah 4. Kabupaten Aceh Utara 5. Kota Langsa
6. Kabupaten Gayo Luwes 7. Kabupaten Aceh Barat 8. Kabupaten Nagan Raya 9. Kota Lhokseumawe 10. Kabupaten Aceh Selatan 11. Kabupaten Simeulu 12. Kabupaten Singkil
13. Kabupaten Aceh Tenggara 14. Kabupaten Tamiang
Sejak akhir Agustus 2011, beberapa pihak, misalnya Dinas Pendidikan Provinsi dan lembaga donor mitra telah memperoleh informasi dari dinas kabupaten/kota peserta PBPSAP tentang proses dan hasil sementara perhitungan SPM dan akses pendidikan oleh DBE1 . Atas dasar informasi tersebut dinas pendidikan Provinsi Aceh memonitor capaian perhitungan SPM oleh donor mitra lainnya dan meminta dapat segera diselesaikan. Selanjutnya, donor mitra SEDIA AusAid dan UNICEF menggunakan perangkat lunak PBPSAP dari DBE1 untuk memperlancar kegiatan perhitungan SPM di kabupaten/kota binaannya.
f. Kebijakan
DBE1 memfasilitasi proses penyusunan rancangan peraturan Dinas Pendidikan kabupaten/kota, seperti penerbitan Surat Edaran (SE) Kepala dinas Pendidikan