• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGUATAN KESIAPSIAGAAN DAN PENANGANAN DARURAT BENCANA

Dalam dokumen PDF Compressor Free Version (Halaman 47-50)

BAB IV REKOMENDASI

4.6. PENGUATAN KESIAPSIAGAAN DAN PENANGANAN DARURAT BENCANA

Dalam kesiapsiagaan dilakukan langkah yang tepat guna dan berdaya guna untuk mengantisipasi bencana melalui tiga tahap yaitu kontijensi, sistem peringatan dini dan evakuasi. Selanjutnya, untuk tanggap darurat bencana kegiatan yang dilakukan harus dengan segera pada saat kejadian bencana. Hal tersebut dilakukan untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi

korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana. Berdasarkan hal di atas perlu adanya penguatan kesiapsiagaan dan penanganan darurat bencana dengan melaksanakan rekomendasi aksi yang ditentukan berdasarkan kondisi umum berikut.

4.6.1.Kondisi Umum

1) Pemerintah Kabupaten Sleman belum memiliki Rencana Kontijensi untuk bencana gempabumi, banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, dan cuaca ekstrim yang sinkron dengan Prosedur Tetap Penanganan Darurat Bencana atau Rencana Penanggulangan Kedaruratan Bencana, sehingga menyebabkan kurang efektifnya perencanaan pada masa krisis dan Rencana Operasi pada masa tanggap darurat bencana untuk bencana-bencana tersebut.

2) Pemerintah Kabupaten Sleman telah memiliki Rencana Kontijensi untuk bencana letusan gunungapi, yang sinkron dengan Prosedur Tetap Penanganan Darurat Bencana atau Rencana Penanggulangan Kedaruratan Bencana. Kondisi ini berdampak terhadap efektifnya perencanaan pada masa krisis dan Rencana Operasi pada masa tanggap darurat bencana letusan gunungapi, sehingga dapat mempengaruhi kebijakan anggaran tanggap darurat bencana di Kabupaten Sleman.

3) Pemerintah Kabupaten Sleman belum memiliki sistem peringatan dini untuk bencana banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, dan cuaca ekstrim, sehingga Kabupaten Sleman belum melakukan pelatihan, simulasi dan uji sistem dan prosedur peringatan dini untuk bencana tersebut secara berkala terhadap multi stakeholder. Kondisi tersebut menyebabkan kurangnya kesadaran masyarakat akan bahaya banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, dan cuaca ekstrim di Kabupaten Sleman.

4) Pemerintah Kabupaten Sleman telah memiliki sistem peringatan dini untuk bencana letusan gunungapi. Sistem peringatan dini tersebut telah dilakukan pelatihan, simulasi dan uji sistem dan prosedur peringatan dini untuk bencana letusan gunungapi secara berkala terhadap multi stakeholder. Kondisi tersebut menyebabkan tingginya kesadaran masyarakat akan bahaya erupsi gunungapi di Kabupaten Sleman, serta menimbulkan rasa aman masyarakat (dan investor) dari ancaman letusan gunungapi tersebut.

5) Pemerintah Kabupaten Sleman telah menyusun rencana evakuasi bencana letusan gunungapi berdasarkan hasil kajian risiko bencana yang memperhitungkan aksesibilitas pengungsi. Rencana tersebut juga telah diselenggarakan pelatihan, simulasi dan uji sistem secara berkala oleh multi

stakeholder. Kondisi ini mengakibatkan seluruh masyarakat di daerah rawan bencana letusan gunungapi sudah mengetahui perencanaan evakuasi untuk bencana letusan gunungapi. Dengan demikian masyarakat telah merasakan manfaat dengan adanya rambu peringatan dan/atau rambu evakuasi bencana letusan gunungapi.

6) Pemerintah Kabupaten Sleman telah memiliki infrastruktur evakuasi yang dilengkapi dengan rencana evakuasi untuk bencana erupsi gunungapi berdasarkan pengkajian risiko bencana erupsi gunungapi.

PDF Compressor Free Version

Hal tersebut juga telah melalui proses pelatihan, simulasi dan uji untuk sistem evakuasi bencana erupsi gunungapi secara berkala oleh multi stakeholder, sehingga masyarakat telah memahami sistem dan infrastruktur evakuasi gunungapi dengan baik.

7) Belum adanya ketersediaan tempat pengungsian untuk bencana gempabumi, banjir, tanah longsor, letusan gunungapi, kebakaran hutan dan lahan, dan cuaca ekstrim yang dilengkapi dengan adanya sumber air bersih, sarana sanitasi dan layanan kesehatan serta didukung dengan adanya prosedur dan mekanisme pengelolaan tempat pengungsian di Kabupaten Sleman.

8) Pemerintah Kabupaten Sleman sudah memiliki mekanisme dan prosedur tentang penentuan status darurat bencana dan penggunaan anggaran khusus untuk penanganan darurat bencana. Hal tersebut belum dalam sebuah aturan tertulis (baik dalam bentuk peraturan daerah, keputusan kepala daerah, dan atau peraturan setingkat lainnya), sehingga masyarakat belum mengetahui kapan melakukan tindakan kesiapsiagaan dan penangananan darurat bencana.

9) Pemerintah Kabupaten Sleman telah memiliki mekanisme dan prosedur yang mengatur tentang struktur komando tanggap darurat bencana. Namun mekanisme dan prosedur tersebut belum diperkuat dalam sebuah aturan tertulis (baik dalam bentuk peraturan daerah, keputusan kepala daerah, dan atau peraturan setingkat lainnya), sehingga sistem komando tanggap darurat bencana tersebut belum dipahami oleh seluruh SKPD di Kabupaten Sleman sebagai acuan dalam operasi darurat bencana. 10)Pemerintah Kabupaten Sleman telah memiliki relawan/personil terlatih untuk melakukan kaji cepat pada

masa krisis. Upaya kaji cepat tersebut telah didukung dengan prosedur pengerahan tim dan pelaksanaan kaji cepat pada masa krisis, sehingga upaya kaji cepat dapat dilakukan sesuai dengan prosedur yang berlaku dan dijadikan acuan dalam penentuan status tanggap darurat bencana.

11)Pemerintah Kabupaten Sleman telah memiliki relawan/personil terlatih untuk melakukan penyelamatan dan pertolongan korban pada masa krisis dan tanggap darurat bencana. Hal tersebut didukung dengan adanya prosedur pengerahan tim dan pelaksanaan penyelamatan dan pertolongan korban. Kondisi ini menyebabkan tim penyelamatan dan pertolongan korban dalam melakukan tugasnya sudah berdasarkan prosedur yang berlaku secara efektif di Kabupaten Sleman.

12)Pemerintah Kabupaten Sleman belum memiliki prosedur perbaikan darurat bencana yang diperkuat melalui sebuah aturan daerah untuk pemulihan fungsi fasilitas kritis pada masa tanggap darurat bencana. Kondisi ini memperlihatkan belum adanya peran pemerintah, komunitas, dan dunia usaha dalam perbaikan darurat bencana di Kabupaten Sleman.

13)Pemerintah Kabupaten Sleman telah memiliki relawan dan personil yang melakukan pendistribusian bantuan kemanusiaan bagi masyarakat terjauh pada masa krisis dan tanggap darurat bencana. Hal ini didukung dengan adanya mekanisme dan prosedur untuk penggalangan dan/atau pengerahan bantuan darurat bencana, sehingga personil pendistribusian bantuan kemanusiaan tersebut melakukan tugasnya sesuai dengan prosedur yang berlaku serta menjangkau masyarakat terjauh.

14)Pemerintah Kabupaten Sleman sudah memiliki aturan tertulis (baik dalam bentuk peraturan daerah, keputusan kepala daerah) tentang prosedur penghentian status tanggap darurat bencana. Aturan tersebut dilengkapi dengan mekanisme proses transisi/peralihan dari tanggap darurat ke rehabilitasi dan rekonstruksi. Hal ini menyebabkan masyarakat mengetahui akhir dari masa tanggap darurat bencana serta mampu mengembalikan kondisi aktivitas masyarakat di Kabupaten Sleman.

4.6.2.Rekomendasi Pilihan Tindak

1. Penguatan Kesiapsiagaan menghadapi Bencana Gempabumi, Banjir, Tanah Longsor, Kebakaran Hutan dan Lahan, Kekeringan, dan Cuaca Ekstrim melalui Perencanaan Kontijensi

Kabupaten Sleman belum memiliki Rencana Kontijensi untuk bencana gempabumi, banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, dan cuaca ekstrim yang tersinkronisasi dengan prosedur tetap peringatan dini dan penanganan darurat bencana. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Sleman perlu menyusun rencana kontijensi bencana gempabumi, banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, dan cuaca ekstrim yang disinkronkan dengan Prosedur Tetap Penanganan Darurat Bencana atau Rencana Penanggulangan Kedaruratan Bencana. Rencana kontijensi ini dapat dijalankan pada masa krisis dan menjadi rencana operasi pada masa tanggap darurat bencana.

2. Penguatan Kapasitas Tata Kelola dan Sumberdaya untuk Penanganan Darurat Bencana Erupsi Gunungapi berdasarkan Perencanaan Kontijensi

Kabupaten Sleman telah menyusun Rencana Kontijensi Bencana Erupsi Gunungapi yang tersinkronisasi dengan Prosedur Tetap Peringatan Dini dan Penanganan Darurat Bencana Erupsi Gunungapi. Selain itu, telah dapat dijalankan pada masa krisis dan diturunkan menjadi Rencana Operasi pada masa tanggap darurat bencana erupsi gunungapi dan mempengaruhi kebijakan anggaran di Kabupaten Sleman. Rencana kontijensi tersebut diharapkan dapat diperbarui secara berkala dan dapat dijadikan acuan dalam pengambilan kebijakan anggaran daerah.

3. Penguatan Sistem Peringatan Dini Bencana Banjir, Tanah Longsor, Kebakaran Hutan dan Lahan, Kekeringan, dan Cuaca Ekstrim

Kabupaten Sleman belum memiliki sistem peringatan dini untuk bencana banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, dan cuaca ekstrim dengan sistem dan prosedur yang akan diuji secara berkala. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Sleman perlu membangun sistem peringatan dini dan sarana prasarannya yang dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, dan cuaca ekstrim.

4. Peningkatan Validitas Kejadian dan Rentang Informasi Perintah Evakuasi Kejadian Bencana Erupsi Gunungapi

Kabupaten Sleman telah membangun sistem peringatan dini bencana erupsi gunungapi. Upaya tersebut telah didukung oleh pelaksanaan pelatihan, simulasi dan uji sistem dan prosedur peringatan dini bencana secara berkala oleh multi stakeholder. Hal ini mengakibatkan timbulnya kesadaran masyarakat

PDF Compressor Free Version

dalam upaya penyelamatan dari bahaya erupsi gunungapi. Selain itu, telah mampu menimbulkan rasa aman bagi masyarakat. Untuk mengoptimalkan penanganan bencana tersebut, maka diperlukan evaluasi sistem dan pemeliharaan peralatan peringatan dini secara berkala di Kabupaten Sleman. 5. Penguatan Kapasitas dan Sarana Prasarana Evakuasi Masyarakat untuk Bencana Erupsi Gunungapi

Rencana evakuasi yang dilengkapi infrastruktur bencana erupsi gunungapi, baik rambu evakuasi, jalur, dan tempat evakuasi sementara berdasarkan hasil kajian risiko bencana telah ada di Kabupaten Sleman. Rencana tersebut telah didukung oleh pelatihan, simulasi, dan uji coba sistem evakuasi bencana erupsi gunungapi secara berkala oleh multi stakeholder. Hal ini membuat masyarakat mampu memahami sistem dan infrastruktur tersebut dengan baik, sehingga dapat diterapkan dan bermanfaat. Untuk mengoptimalkan upaya tersebut, maka kegiatan tersebut perlu dilaksanakan secara berkelanjutan dan dievaluasi.

6. Penguatan Kapasitas dan Sarana Prasarana Tempat Pengungsian Masyarakat untuk Bencana Gempabumi, Banjir, Tanah Longsor, Letusan Gunungapi, Kebakaran Hutan dan Lahan, dan Cuaca Ekstrim

Kabupaten Sleman belum memiliki ketersediaan tempat pengungsian untuk bencana gempabumi, banjir, tanah longsor, letusan gunungapi, kebakaran hutan dan lahan, dan cuaca ekstrim yang didukung dengan adanya prosedur dan mekanisme pengelolaan tempat pengungsian di Kabupaten Sleman. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Sleman perlu menetapkan dan membangun tempat pengungsian untuk bencana gempabumi, banjir, tanah longsor, letusan gunungapi, kebakaran hutan dan lahan, dan cuaca ekstrim yang didukung dengan adanya sumber air bersih, sarana sanitasi dan layanan kesehatan. Hal ini agar upaya tanggap darurat dapat berjalan sesuai dengan rencana kontijensi.

7. Penguatan Mekanisme Penetapan Status Darurat Bencana

Pemerintah Kabupaten Sleman telah memiliki mekanisme dan prosedur tentang penentuan status tanggap darurat dan penggunaan anggaran khusus untuk penanganan darurat bencana. Mekanisme tersebut belum diperkuat oleh aturan tertulis dan dapat menggerakkan masyarakat untuk melakukan tindakan kesiapsiagaan dan penanganan darurat bencana. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Sleman perlu menyusun aturan yang mengatur mekanisme dan prosedur tentang penentuan status tanggap darurat dan penggunaan anggaran penanganan darurat bencana di Kabupaten Sleman, baik dalam bentuk peraturan daerah, keputusan kepala daerah, atau peraturan setingkat lainnya.

8. Penguatan Mekanisme Sistem Komando Tanggap Darurat Bencana

Kabupaten Sleman telah memiliki mekanisme prosedur tentang Struktur Komando Tanggap Darurat bencana, namun belum diperkuat oleh aturan daerah tentang Struktur Komando Tanggap Darurat Bencana. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Sleman perlu menyusun aturan tentang Struktur Komando Tanggap Darurat (SKTD) Bencana. SKTD tersebut diharapkan dapat dipahami oleh seluruh SKPD dan digunakan sebagai acuan dalam operasi darurat di Kabupaten Sleman.

9. Pelaksanaan Kaji Cepat untuk Penetapan Status Darurat Bencana

Kabupaten Sleman telah memiliki relawan dan personil terlatih. Selain adanya relawan, penanganan darurat bencana telah dilaksanakan berdasarkan prosedur pengerahan tim dan pelaksanaan kaji cepat pada masa krisis. Relawan dan personil terlatih tersebut melakukan kaji cepat sesuai dengan prosedur yang berlaku. Hasil kaji cepat tersebut telah dijadikan acuan dalam penentuan status tanggap darurat bencana. Pemerintah Kabupaten Sleman perlu mempertahankan kaji cepat penetapan status darurat bencana sesuai dengan prosedur yang berlaku untuk efektivitas penyelenggaraan masa darurat bencana.

10. Pelaksanaan Penyelamatan dan Pertolongan Korban pada Masa Krisis

Relawan dan personil terlatih serta prosedur dalam pelaksanaan penyelamatan dan pertolongan korban pada masa krisis dan tanggap darurat bencana di Kabupaten Sleman telah tersedia. Tim penyelamatan dan pertolongan korban terlatih tersebut melakukan tugasnya sesuai dengan prosedur yang berlaku dan melaksanakan tugasnya secara efektif. Pemerintah Kabupaten Sleman perlu mempertahankan dan melaksanakan upaya penyelamatan dan pertolongan korban pada masa krisis tersebut secara berkelanjutan sehingga masa tanggap darurat dapat berjalan lebih efektif.

11. Penguatan Kebijakan dan Mekanisme Perbaikan Darurat Bencana

Kabupaten Sleman belum memiliki prosedur perbaikan darurat bencana untuk pemulihan fasilitas kritis. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Sleman perlu menyusun prosedur perbaikan darurat bencana. Prosedur tersebut diharapkan dapat diperkuat oleh aturan daerah, baik dalam bentuk surat keputusan kepala daerah, peraturan kepala daerah, atau peraturan daerah. Aturan dan prosedur tersebut diharapkan dapat mengakomodir peran pemerintah, komunitas, dan dunia usaha, dalam perbaikan darurat bencana di Kabupaten Sleman.

12. Pengerahan Bantuan Kemanusiaan Saat Darurat Bencana hingga Masyarakat Terjauh sesuai dengan Mekanisme

Kabupaten Sleman memilki relawan dan personil, serta prosedur yang melakukan pendistribusian bantuan kemanusiaan bagi masyarakat termasuk masyarakat terjauh pada masa krisis dan tanggap darurat bencana. Relawan dan personil yang melakukan pendistribusian bantuan kemanusiaan telah melaksanakan tugas sesuai prosedur dan mampu menjangkau masyarakat terjauh. Upaya tersebut perlu dipertahankan agar penyelenggaraan penanggulangan bencana, khususnya masa tanggap darurat bencana terus berjalan secara efektif di Kabupaten Sleman.

13. Penghentian Status Darurat Bencana

Kabupaten Sleman sudah memiliki aturan tertulis baik dalam bentuk peraturan daerah maupun keputusan kepala daerah tentang prosedur penghentian status tanggap darurat bencana. Prosedur tersebut telah mengatur mekanisme proses transisi/peralihan dari tanggap darurat ke rehabilitasi dan rekonstruksi. Selain itu, penentuan status tanggap darurat tersebut menjadi acuan bagi masyarakat untuk mengetahui akhir dari masa tanggap darurat dan mampu mengembalikan kondisi aktivitas

PDF Compressor Free Version

masyarakat kembali normal. Upaya tersebut perlu dilakukan secara berkelanjutan di Kabupaten Sleman agar masa tanggap darurat bencana terus berjalan secara efektif.

Dalam dokumen PDF Compressor Free Version (Halaman 47-50)

Dokumen terkait