NASIONAL PENGENDALIAN
10. Penguatan Riset dan Kajian Pengendalian Zoonosis
§ Konsep program pasar sehat diharapkan mampu mewujudkan k o n d i s i p a s a r y a n g b e r s i h , aman, nyaman dan sehat oleh masyarakat secara mandiri dan berkesinambungan melalui : ketersediaan infrastruktur yg memenuhi syarat, masyarakat Pasar yg berdaya, meningkatnya PHBS dan manajemen efektif, efisien, akuntabel untuk itu telah disusun pedoman program pasar sehat melalui Kepmenkes nomor 519 tahun 2007 tentang pedoman program pasar sehat;
§
§ Komponen kegiatan pasar sehat terdiri dari :
1) Koordinasi : Pertemuan LS di daerah untuk mengembangkan p r o y e k p e r c o n t o h a n P P S dan Sosialisasi PPS kepada p e m e r i n t a h d a e r a h d a n pembentukan kelembagaan; 2) Penguatan kapasitas : Menyusun
modul TOT Pasar Sehat (antara lain: PHAST, Pembersihan Pasar, Manajemen PPS dan Strategi
PPS dan Melatih fasilitator daerah (propinsi, kab/kota, dan komunitas pasar);
3) Fasilitas penunjang PHBS : Peningkatan kualitas sarana s a n i t a s i d a n a i r b e r s i h , melengk api k it keamanan pangan, kit pembersihan pasar dan pembersihan pasar secara rutin;
4) Pe n i n g k a t a n K e s a d a r a n : S u r v e y K A P t e n t a n g P P S d a n A I , m e n g e m b a n g k a n media komunikasi PPS serta mengembangan Radio Land, sebagai media infomasi dan edukasi di pasar.
§
§ Potensi pengembangan PPS dipasar tradisional diseluruh Indonesia yang berjumlah 17.445 (tradisional dan desa) dan pengembangan lokasi-lokasi percontohan lainnya baik melalui anggaran APBN (tahun 2012 di 8 lokasi), dana daerah dan CSR Perusahaan.
10. Penguatan Riset dan Kajian Pengendalian Zoonosis
§
§ Kejadian zoonosis merupakan interaksi tiga komponen yaitu a g e n , h o s t d a n l i n g k u n g a n . Ag e n m e r u p a k a n k o m p o n e n yang sangat beragam seperti
Infektivitas, Patogenisitas, Virulensi, Imunogenisitas, Stabilitas antigenic dan Survival. Komponen lingkungan terdiri dari Cuaca, Habitat/Kandang, Geografi, Vegetasi, Kualitas udara, Pa k a n -A i r d a n Ta n a h - L a h a n . Komponen inang/host zoonosis memiliki keragaman dan dapat dikelompokkan sesuai dengan fungsi hewan penular;
§
§ Paradigma yang masih banyak terjadi bahwa banyak sek ali kejadian anthraks pada manusia tidak dilaporkan karena faktor pertimbangan non kesehatan d e n g a n m e m p e r t i m b a n g k a n dampak yang akan terjadi oleh karena hal tersebut maka akan meningkatkan potensi terjadinya w a b a h z o o n o s i s s e h i n g g a zoonosis harus ditangani secara komprehensif dan profesional; §
§ Terdapat 3 tantangan yang harus dipahami dalam pengendalian zoonosis yaitu :1) karakter alami penyakit (the nature of disease), 2) menilai (to assess) resiko-resiko terhadap manusia, 3) munculnya strain pandemi asal hewan (animal
origin);
§
§ Pencegahan merupakan prinsip u t a m a d a l a m p e n g e n d a l i a n
zoonosis namun masih diperlukan p e n g u a t a n k a j i a n d a l a m mendukung upaya pencegahan zoonosis yang meliputi :
1) Pengenalan zoonosis terutama riset zoonosis pada satwa liar yang telah dilaporkan bahwa 60% zoonosis melibatk an satwa liar dalam penularannya kepada manusia, oleh karena itu dibutuhkan penguatan kerjasama khususnya dalam melengkapi kapasitas secara lintas sektor, salah satunya : diagnostik laboratorium dan peningkatan kapasitas SDM antara Kementerian Kehutanan dengan Kementerian Pertanian dan Perguruan Tinggi;
2) Investigasi terhadap patogen apa saja yang kemungkinan dibawa oleh satwa liar khususnya yang memasuki habitat manusia, untuk melakukan investigasi tersebut terdapat permasalahan terutama dalam pengambilan sampel;
3) Kolaborasi harus memperhatikan struktur hubungan antar institusi karena adanya pembatasan yang diatur oleh regulasi yang berlaku di sektor masing-masing, salah
satu wadah kolaborasi dapat dilakukan dalam pusat kajian zoonosis/zoonosis center-IPB untuk menyusun suatu kajian secara komprehensif;
4) Diagnosis, sur veilans dan intervensi merupakan tiga tema kajian yang berkaitan erat. Diagnosis berhubungan dengan penegakan diagnosa yang hanya mungkin dilakukan di RS rujukan atau laboratorium referensi. Surveilans untuk mengurangi potensi dampak akibat wabah zoonosis sehingga dilakukan secara berkelanjutan dengan keterlibatan lintas sektor, namun belum terlaksana secara terpadu sehingga diperlukan kajian untuk memecahkan hambatan pelaksanaannya. Intervensi m e l a l u i p e m b e r d a y a a n masyarakat merupakan langkah cerdas dan hemat biaya sehingga diperlukan kajian tentang model pelaksanaannya;
5) Riset mengenai epidemiologi terapan, ekologi dan molekular epidemiologi;
6) Peningkatan kapasitas SDM masyarakat, laboran dan petugas lapangan sehingga diperlukan kajian dalam penyusunan materi
dalam pelaksanaannya;
7) Informasi dan komunikasi untuk menyusun suatu substansi informasi yang dapat dengan mudah diterima oleh masyarakat s e h i n g g a t e r j a d i p r o s e s komunikasi yang efektif;
§
§ Dalam melaksanakan penguatan riset dan kajian pengendalian zoonosis diperlukan input berupa data dan informasi zoonosis dan renstranas pengendalian zoonosis terpadu. Pelaksanaan riset dan kajian terkait kelemahan, kekuatan, peluang dan ancaman dipengaruhi oleh sistim yang berlaku secara nasional, metodologi, sumber daya manusia, institusi/lembaga riset, manajemen, unsur pendukung dan sarana prasarana. Sehingga hasil riset dan kajian dapat menghasilkan suatu output yang menjadi dasar pengambilan kebijakan nasional komprehensif. Untuk melakukan hal tersebut maka diperlukan sinergitas program pengendalian zoonosis dari pusat hingga daerah yang akan langsung berdampak kepada masyarakat indonesia makmur dan sejahtera.
Berdasarkan masukan dari para peserta rakornas, pembicara dan hasil diskusi menghasilkan kesimpulan, tindak lanjut dan rekomendasi sebagai berikut:
KESIMPULAN :
1. K e m e n t e r i a n / L e m b a g a t e l a h berpartisipasi aktif dalam penyusunan Renstranas Pengendalian Zoonosis Terpadu, untuk itu perlu dievaluasi tindak lanjut pelaksanaannya;
2. Sesuai UU no. 18 tahun 2009, Menteri Pertanian bersama dengan Menteri Kesehatan harus segera menetapkan zoonosis prioritas nasional dan juga menempatkan jenis zoonosis lain sesuai dengan karakter tantangan di daerah yang akan menjadi penyusunan analisis situasi zoonosis dan rencana kerja pengendalian zoonosis;
3. K e m e n t e r i a n K e s e h a t a n p e r l u mengimplementasikan IHR 2005 dalam pengendalian zoonosis sesuai dengan konsep One Health;
4. K e m e n t e r i a n P e r t a n i a n p e r l u mengakselerasikan pemanfaatan sistem Partisipatory Diseases Surveilans
and Response (PDSR) menjadi sebuah
sistem di SKPD yang melaksanakan fungsi kesehatan dan kesehatan hewan dalam pengendalian zoonosis;
5. Menko Kesra selaku ketua Komnas perlu menerbitkan Permenko tentang tata dan hubungan kerja, pedoman koordinasi dan bentuk laporan;
6. K e m e n t e r i a n K e h u t a n a n p e r l u penguatan sistim perlindungan wilayah terhadap zoonosis di daerah perbatasan dan segera menyelesaikan naskah akademik guna penyusunan Peraturan Menteri Kehutanan tentang Pengendalian dan Penanggulangan Zoonosis pada Satwa Liar;
7. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama dinas pariwisata siap bekerjasama mengendalikan penyebaran zoonosis di daerah tujuan wisata, menyebarluaskan bahan komunikasi, informasi, edukasi kepada seluruh pemangku kepentingan pariwisata termasuk masyarakat wisata; 8. Zoonosis memiliki nilai ganda untuk
kesejahteraan masyarakat namun juga memiliki potensi penyalahgunaan sebagai senjata biologis dan tindakan bioterorisme;
9. Bahan bahasan para peserta Rakornas perihal perlunya keberadaan SKPD yang menangani fungsi kesehatan hewan terkait dengan zoonosis merupakan urusan wajib perlu diselesaikan dalam waktu sesegera mungkin;