BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
C. Pengujian Asumsi Klasik
1. Uji Normalitas Data
Uji normalitas data bertujuan untuk menguji variabel dependen dan
variabel independen keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak.
Pengujian normalitas data dilakukan dengan menggunakan model
commit to user
signifikansi yang diperoleh dengan taraf signifikansi yang sudah
ditentukan yaitu 0,05. Apabila nilai signifikansi (p-value) lebih besar dari
taraf signifikansi yaitu 0,05 maka data berdistribusi normal.
Hasil pengujian normalitas data dengan menggunakan uji
kolmogorov-smirnov dapat ditunjukkan pada tabel berikut ini:
Tabel IV.3
Hasil Uji Kolmogorov-Smirnov
Variabel Nilai Sig. Sig. 5% Kesimpulan
Return Saham 0,034 0,05 Berdistribusi normal Firm Size 0,000 0,05 Berdistribusi normal Book to Market Ratio 0,000 0,05 Berdistribusi normal PER 0,001 0,05 Berdistribusi normal DER 0,000 0,05 Berdistribusi normal Sumber: Data primer diolah
Dari hasil pengujian diatas menunjukkan bahwa variabel dependen
dan variabel independen telah berdistribusi normal. Hal ini ditunjukkan
dengan nilai signifikansi yang lebih kecil dari taraf signifikansi yaitu 0,05.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data tersebut berdistribusi
normal.
2. Uji Multikolinieritas
Uji multikolinieritas digunakan untuk mengetahui korelasi antar
variabel independen. Model regresi yang baik adalah model yang korelasi
antar variabel independennya rendah. Cara yang digunakan untuk
mendeteksi ada tidaknya gejala multikolinearitas adalah dengan melihat
commit to user
dibawah 0,1 dan VIF lebih besar dari 10 maka menunjukkan adanya
multikolinearitas. Sebaliknya jika nilai tolerance diatas 0,1 dan VIF
dibawah 10 maka tidak terjadi multikolinearitas.
Hasil pengujian multikolinearitas ditunjukkan dalam tabel berikut
ini:
Tabel IV.4
Hasil Uji Multikolinieritas
Variabel Tolerance VIF Kesimpulan
Firm Size 0,997 1,003 Tidak terjadi multikolinieritas BM Ratio 0,943 1,061 Tidak terjadi multikolinieritas PER 0,898 1,114 Tidak terjadi multikolinieritas DER 0,951 1,052 Tidak terjadi multikolinieritas Sumber: Data primer diolah
Berdasarkan hasil penghitungan dengan menggunakan SPSS,
diketahui bahwa nilai tolerance untuk semua variabel yang diuji memiliki
nilai yang mendekati angka 1, begitu pula dengan nilai VIF semua variabel
memiliki nilai VIF kurang dari angka 10. Dari hasil tersebut dapat
disimpulkan bahwa setiap variabel independen yang akan diuji tidak
mengalami multikolinearitas, artinya variabel independen dalam satu
persamaan saling bebas dan tidak berkorelasi satu sama lain.
3. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi dilakukan untuk menguji apakah dalam model
regresi terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t
commit to user
autokorelasi dapat dilihat dari nilai Durbin-Watson. Panduan mengenai
angka Durbin-Watson (D-W) untuk mendeteksi autokorelasi bisa dilihat
dalam tabel D-W.
Hasil pengujian autokorelasi ditunjukkan dalam tabel berikut ini:
Tabel IV.5
Hasil Uji Autokorelasi
D-W Hitung Nilai du Keterangan
2,188 1,727 Tidak terdapat autokorelasi Sumber: Data primer diolah
Berdasarkan perhitungan diperoleh nilai d (Durbin Watson) sebesar
2,188. Selanjutnya dari tabel statistik d (Durbin Watson) pada tingkat
signifikansi 5%, k = 4, n= 59 ditemukan nilai dL= 1,444 dan du = 1,727.
Berdasarkan nilai dL dan du tersebut maka nilai 4 – du = 2,273 dan
nilai du = 1,727. Oleh karena nilai d (Durbin Watson) 2,188 lebih besar
dari batas atas (du) 1,727 dan kurang dari 2,273 (4-du), maka dapat
disimpulkan bahwa dalam penelitian ini tidak terdapat adanya autokorelasi
baik positif maupun negatif.
4. Uji heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas digunakan untuk menguji apakah semua
variabel bebas mempunyai varian kesalahan pengganggu yang sama dalam
model regresi. Pendeteksian gejala tersebut adalah dengan melihat pola
tertentu pada grafik dimana sumbu Y adalah residual (Y prediksi - Y
commit to user
Jika pada grafik terdapat titik - titik yang membentuk pola tertentu
dan teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit) maka telah
terjadi heteroskedastisitas. Sebaliknya jika tidak ada pola yang jelas serta
titik - titik menyebar di atas dan di bawah angka nol pada sumbu Y maka
tidak terjadi heteroskedastisitas.
Berikut ini adalah gambar scatterplot untuk melihat apakah model
regresi yang digunakan dalam penelitian ini mengalami heteroskedastisitas
atau tidak.
Gambar IV.1
Grafik Scatterplot Uji Heteroskedastisitas
Berdasarkan gambar diatas, dapat diketahui bahwa titik-titik
menyebar secara acak serta tersebar baik diatas maupun dibawah angka 0
commit to user D. Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis pada penelitian ini menggunakan analisis regresi
linear berganda dengan formula sebagai berikut:
Y = a + b1 x1 + b2 x2 + b3 x3 + b4 x4 + e
Keterangan :
Y = Return saham
a = Konstanta
x1 = Firm Size
x2 = Book to Market Equity Ratio
x3 = Price Earning Ratio (PER)
x4 = Debt to Equity Ratio (DER)
e = Error
b1, b2, b3, b4 = Koefisien regresi
Tabel IV.6
Hasil Uji Statistik
Variabel Hipotesi
s
Koefisien Koefisien B Std. Error t Sig
Konstanta a 0,168 0,116 1,442 0,151 SIZE Negatif b1 1,116E-14 0,000 2,855 0,005
BM Ratio Negatif b2 -0,106 0,035 -2,980 0,003 PER Positif b3 0,028 0,004 6,976 0,000 DER Negatif b4 -0,079 0,039 -2,041 0,043 R2 0,361 Adj. R2 0,347 Fhitung 24,337 Sig. Fhitung 0,000
commit to user 1. Pengujian Koefisien Regresi secara Parsial
Hipotesis 1 menguji pengaruh firm size terhadap return saham.
Hasil pengujian menunjukan bahwa firm size memiliki nilai koefisien positif
1,116E-14 dengan nilai signifikansi 0,005. Berdasarkan hasil tersebut dapat
disimpulkan bahwa hipotesis 1 yang menyatakan bahwa variabel firm size
berpengaruh negatif terhadap return saham ditolak.
Hipotesis 2 menguji pengaruh book to market equity ratio terhadap
return saham. Hasil pengujian menunjukan bahwa book to market equity
ratio memiliki nilai koefisien -0,106 dengan nilai signifikansi 0,003.
Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa hipotesis 2 diterima,
jadi variabel book to market equity ratio berpengaruh negatif terhadap
return saham.
Hipotesis 3 menguji pengaruh PER terhadap return saham. Hasil
pengujian menunjukan bahwa PER memiliki nilai koefisien positif 0,028
dengan nilai signifikansi 0,000. Berdasarkan hasil tersebut dapat
disimpulkan bahwa hipotesis 3 diterima, jadi variabel PER berpengaruh
positif terhadap return saham.
Hipotesis 4 menguji pengaruh DER terhadap return saham. Hasil
pengujian menunjukan bahwa DER memiliki nilai koefisien -0,079 dengan
nilai signifikansi 0,043. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa
hipotesis 4 diterima, jadi variabel DER berpengaruh negatif terhadap return
commit to user 2. Pengujian Koefisien Regresi secara Simultan
Pengujian koefisien regresi secara simultan merupakan pengujian
terhadap variabel-variabel independen secara keseluruhan dan serentak yang
dilakukan untuk melihat signifikansi pengaruh variabel independen secara
keseluruhan terhadap variabel dependen. Dengan melihat nilai Fsig sebesar
0,000 maka dapat disimpulkan bahwa variabel firm size, book to market
equity ratio, PER, DER secara simultan berpengaruh terhadap return saham.
3. Koefisien Determinasi (Adjusted R2)
Untuk mengetahui besarnya pengaruh faktor-faktor firm size, book
to market equity ratio, price earning ratio (PER) dan debt equity ratio
(DER) terhadap return saham dapat dilihat dari besarnya koefisien
determinasi (adjusted R square) yang memiliki nilai positif sebesar 0,347
yang menunjukkan bahwa return saham perusahaan manufaktur yang
tercatat di Bursa Efek Indonesia dapat dijelaskan oleh faktor-faktor firm
size, book to market equity ratio, price earning ratio (PER) dan debt equity
ratio (DER) sebesar 34,70% dan sisanya sebesar 65,30% menggambarkan
adanya variasi bebas (independen variable) lain yang tidak diamati dalam
commit to user E. Pembahasan
Dari hasil analisis data yang peneliti lakukan dan telah lolos dari uji
asumsi klasik, maka dapat dilakukan pembahasan untuk masing-masing
hipotesis yang telah dirumuskan sebagai berikut:
1. Hipotesis I
Dari hasil analisis regresi, ditemukan bahwa variabel firm size
mempunyai pengaruh positif terhadap return saham. Hal ini dapat
ditunjukkan dari besarnya koefisien regresi yang bertanda positif yaitu
1,116E-14. Artinya apabila firm size dinaikan sebesar 1, maka akan
mengakibatkan meningkatnya return saham sebesar 1,116E-14, dengan
anggapan faktor-faktor lainnya konstan.
Perusahaan yang memiliki total aktiva besar menunjukkan bahwa
perusahaan tersebut telah mencapai tahap kedewasaan. Dalam tahap ini
arus kas perusahaan sudah positif dan dianggap memiliki prospek yang
baik dalam jangka waktu yang relatif lama, selain itu juga mencerminkan
bahwa perusahaan relatif lebih stabil dan lebih mampu menghasilkan laba
dibanding perusahaan dengan total aktiva yang kecil.
Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Gerrit
(2005). Akan tetapi, hasil pengujian ini tidak sesuai dengan hasil
penelitian yang dilakukan oleh Charitou dan Constantinidis (2004) dan
Tripathi (2008) yang menunjukkan bahwa firm size berpengaruh negatif
commit to user 2. Hipotesis II
Dari hasil analisis regresi, ditemukan bahwa variabel book to
market equity ratio mempunyai pengaruh negatif terhadap return saham.
Hal ini dapat ditunjukkan dari besarnya koefisien regresi yang bertanda
negatif yaitu -0,106. Artinya apabila book to market equity ratio dinaikan
sebesar 1, maka akan mengakibatkan menurunnya return saham sebesar -
0,106, dengan anggapan faktor-faktor lainnya konstan.
Hasil penelitian tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan
oleh Tripathi (2008), dan Naughton dan Veeraraghavan (2005) yang
menyatakan bahwa secara parsial book to market ratio mempunyai
pengaruh negatif terhadap return saham. Akan tetapi, hasil penelitian ini
tidak sesuai dengan penelitian Yuningsih dan Yudaruddin (2007) yang
menunjukkan bahwa book to market ratio secara parsial berpengaruh
positif terhadap return saham pada perusahaan manufaktur di BEI.
3. Hipotesis III
Dari analisis regresi, ditemukan bahwa variabel Price Earning
Ratio mempunyai pengaruh positif terhadap return saham. Hal ini dapat
ditunjukkan dari besarnya koefisien regresi yang bertanda positif yaitu
0,028. Artinya apabila Price Earning Ratio dinaikan sebesar 1, maka akan
mengakibatkan meningkatnya return saham sebesar 0,028, dengan
commit to user
Hasil penelitian tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan
oleh Valentino (2005) dan Trisnaeni (2007) yang menyatakan bahwa
secara parsial Price Earning Ratio (PER) mempunyai pengaruh positif
terhadap return saham. Akan tetapi, hasil pengujian ini tidak sesuai
dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Winarto (2007) yang
menunjukkan bahwa price earning ratio secara parsial tidak berpengaruh
terhadap return saham pada perusahaan manufaktur di BEI.
4. Hipotesis IV
Dari analisis regresi, ditemukan bahwa variabel Debt to Equity
Ratio mempunyai pengaruh negatif terhadap return saham. Hal ini dapat
ditunjukkan dari besarnya koefisien regresi yang bertanda negatif yaitu
-0,079. Artinya apabila Debt to Equity Ratio dinaikan sebesar 1, maka
akan mengakibatkan menurunnya return saham sebesar -0,079, dengan
anggapan faktor-faktor lainnya konstan.
Debt equity ratio yang merupakan perbandingan antara hutang
yang ditanggung perusahaan dengan modal sendiri yang dimiliki
perusahaan memiliki pengaruh antar keduanya. Yaitu semakin kecil debt
equity perusahaan, yang berarti perusahaan memiliki hutang yang relatif
kecil dengan ditopang oleh modal sendiri perusahaan yang besar
menunjukkan kinerja yang baik, kondisi ini tentu dapat dijadikan
pertimbangan investor dalam mengambil keputusan berinvestasi, yang
commit to user
perilaku investor tersebut maka akan meningkatkan penjualan saham, yang
tentu saja menyebabkan harga saham semakin baik, atau harga saham akan
terkoreksi naik.
Hasil penelitian tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan
oleh Tripathi (2008), Anastasia (2003), Winarto (2007) yang menyatakan
bahwa secara parsial debt to equity ratio mempunyai pengaruh negatif
commit to user BAB V
PENUTUP
Bab ini menguraikan tentang kesimpulan, keterbatasan, dan saran yang
didasarkan pada bab-bab sebelumnya.
A. Kesimpulan
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh firm size, book to
market equity ratio, debt equity ratio (DER) dan price earning ratio (PER)
terhadap return saham pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia tahun pengamatan 2007-2009. Berdasarkan hasil penelitian
dan pembahasan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Firm size berpengaruh positif terhadap return saham. Hal ini berarti
semakin besar firm size maka semakin besar pula return saham yang
akan diterima.
2. Book to market ratio berpengaruh negatif terhadap return saham. Hal ini
berarti semakin besar book to market ratio maka semakin kecil return
commit to user
3. Price earning ratio berpengaruh positif terhadap return saham. Hal ini
berarti semakin besar price earning ratio maka semakin besar return
saham yang akan diterima.
4. Debt equity ratio berpengaruh negatif terhadap return saham. Hal ini
berarti semakin besar debt equity ratio maka semakin kecil return saham
yang akan diterima.
5. Penelitian ini menunjukkan bahwa variabel firm size, book to market
equity ratio, debt equity ratio dan price earning ratio secara bersama-
sama mempunyai pengaruh terhadap return saham.
B. Keterbatasan
1. Jangka waktu penelitian relatif pendek yaitu tiga tahun pengamatan.
Periode ini relatif pendek untuk menguji pengaruh firm size, book to
market equity ratio, debt equity ratio (DER) dan price earning ratio
(PER) terhadap return saham, hal tersebut kemungkinan menyebabkan
variabel yang diuji dalam penelitian ini kurang memberi hasil yang
signifikan terhadap return saham.
2. Dalam penelitian ini masih terkonsentrasi pada satu industri, untuk itu
perlu diuji pada jenis industri lain, kemungkinan hasilnya tidak sama jika
diaplikasikan dalam industri lain, karena karakteristik yang berbeda.
3. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini baru terbatas
commit to user C. Saran
1. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat dilakukan dengan menambah
periode penelitian lebih dari 3 tahun atau dengan menambah sampel
(Hartati, 2010).
2. Diharapkan para peneliti selanjutnya untuk menggunakan data yang
cakupannya lebih luas, sehingga mampu mengeneralisasi hasil (Ernawati,
2003)
3. Untuk penelitian selanjutnya dapat dicoba dengan menambah variabel
independen lain dari faktor eksternal perusahaan antara lain tingkat suku