BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
D. Pengujian Efek Analgetik Kelompok Perlakuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya efek analgetik pada
ekstrak etanol daun kepel dan seberapa besar daya analgetiknya. Metode yang
digunakan dalam penelitian adalah metode rangsang kimia. Metode ini dipilih dari
beberapa metode pengujian efek analgetik yang lain karena metode ini cukup sederhana
dan mudah dilakukan.
Pengujian efek analgetik kelompok perlakuan dilakukan setelah seluruh uji
pendahuluan selesai dilakukan. Penelitian ini menggunakan CMC Na 0,5% sebagai
suspending agent sekaligus kontrol negatif, parasetamol dosis 91 mg/kgBB sebagai kontrol positif, dan ekstrak etanol daun kepel dengan empat peringkat dosis yaitu 35
mg/kgBB, 140 mg/kgBB, 560 mg/kgBB dan 2240 mg/kgBB, sedangkan rangsang nyeri
yang digunakan adalah asam asetat dengan dosis 100 mg/kgBB.
Data yang diperoleh berupa jumlah kumulatif geliat pada tiap kelompok
perlakuan. Jumlah kumulatif geliat diubah ke dalam bentuk % penghambatan terhadap
geliat yang dibandingkan dengan kontrol negatif dan dianalisis secara statistik dengan
variansi satu arah (One Way Anova) kemudian dilanjutkan uji LSD dengan taraf
kepercayaan 95%. Setelah diketahui % penghambatan terhadap geliat, dilakukan
perhitungan potensi relatif ekstrak terhadap kontrol positif, yaitu parasetamol dosis 91
mg/kgBB. Data jumlah kumulatif geliat dan % penghambatan terhadap geliat seluruh
kelompok perlakuan serta hasil analisis statistiknya dapat dilihat pada lampiran 11 dan
12, ringkasannya dapat dilihat pada tabel IX.
Tabel IX. Jumlah kumulatif geliat dan % penghambatan terhadap geliat pada seluruh kelompok perlakuan. Kelompok perlakuan n Jumlah kumulatif geliat (X ± SE) % penghambatan terhadap geliat (X ± SE) I 7 59,86 ± 3,11 - II 7 25,29 ± 1,32 57,76 ± 2,21 III 7 43,14 ± 0,74 27,93 ± 1,23 IV 7 30,00 ± 1,60 49,88 ± 2,68 V 7 16,57 ± 0,65 72,32 ± 1,08 VI 7 37,71 ± 1,13 37,00 ± 1,88 Keterangan :
n = Jumlah subyek uji X = Mean (Rata–rata) SE = standard error (SD/√n)
I = Kontrol negatif (CMC Na 0,5%)
II = Kontrol positif (parasetamol 91 mg/kgBB) III = Ekstrak etanol daun kepel 35 mg/kgBB IV = Ekstrak etanol daun kepel 140 mg/kgBB V = Ekstrak etanol daun kepel 560 mg/kgBB VI = Ekstrak etanol daun kepel 2240 mg/kgBB
Rata-rata jumlah kumulatif geliat dan % penghambatan terhadap geliat pada
seluruh kelompok perlakuan dapat pula disajikan dalam bentuk diagram batang seperti
padagambar 12. 59.86 25.29 43.14 30 37.71 16.57 0 20 40 60 80 I II III IV V VI Kelompok perlakuan Rata-rata jumlah kumulatif geliat 57.76 27.93 49.88 37 72.32 0 20 40 60 80 I II III IV V VI Kelompok perlakuan Rata-rata %peng-hambatan terhadap geliat (a) (b)
Gambar 12. (a) Diagram batang rata-rata jumlah kumulatif geliat,
(b) Diagram batang rata-rata % penghambatan terhadap geliat pada seluruh kelompok perlakuan.
Keterangan :
I = Kontrol negatif (CMC Na 0,5%)
II = Kontrol positif (parasetamol 91 mg/kgBB) III = Ekstrak etanol daun kepel 35 mg/kgBB IV = Ekstrak etanol daun kepel 140 mg/kgBB V = Ekstrak etanol daun kepel 560 mg/kgBB VI = Ekstrak etanol daun kepel 2240 mg/kgBB
Berdasarkan tabel dan gambar tersebut, dapat disimpulkan bahwa jumlah
geliat berbanding terbalik dengan % penghambatan terhadap geliat. Semakin banyak
geliat berarti semakin kecil % penghambatan terhadap geliat atau daya analgetiknya.
Kelompok kontrol negatif memiliki jumlah geliat yang paling banyak dibandingkan
kelompok lainnya, sedangkan kelompok kontrol positif dan kelompok ekstrak
mengalami penurunan jumlah geliat apabila dibandingkan dengan kelompok kontrol
Data % penghambatan terhadap geliat pada setiap kelompok perlakuan diuji
menggunakan analisis variansi satu arah dengan taraf kepercayaan 95% untuk
mengetahui adanya perbedaan di antara kelompok tersebut. Hasil analisis variansi satu
arah dapat dilihat pada lampiran 12. Dari hasil analisis tersebut diperoleh nilai
probabilitasnya adalah 0,000 (p<0,05) yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan
antar kelompok perlakuan. Selanjutnya data % penghambatan terhadap geliat diuji lagi
dengan uji LSD untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan yang bermakna di antara
seluruh kelompok perlakuan. Hasil uji LSD dapat dilihat pada tabel X.
Tabel X. Hasil analisis uji LSD % penghambatan terhadap geliat pada seluruh kelompok perlakuan. Kelompok perlakuan I II III IV V VI I - bb bb bb bb bb II - - bb bb bb bb III - - - bb bb bb IV - - - - bb bb V - - - bb VI - - - Keterangan : bb = Berbeda bermakna ( p < 0,05 ) tb = Berbeda tidak bermakna ( p > 0,05 ) I = Kontrol negatif (CMC Na 0,5%)
II = Kontrol positif (parasetamol 91 mg/kgBB) III = Ekstrak etanol daun kepel 35 mg/kgBB IV = Ekstrak etanol daun kepel 140 mg/kgBB V = Ekstrak etanol daun kepel 560 mg/kgBB VI = Ekstrak etanol daun kepel 2240 mg/kgBB
Hasil pengujian menunjukkan bahwa di antara seluruh kelompok perlakuan
yang meliputi kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif dan kelompok
perlakuan ekstrak etanol daun kepel dengan dosis 35 mg/kgBB, 140 mg/kgBB, 560
mg/kgBB, dan 2240mg/kgBB menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna satu
kontrol positif dan kelompok perlakuan ekstrak etanol daun kepel. Oleh karena itu,
dapat disimpulkan bahwa kelompok kontrol positif dan kelompok perlakuan ekstrak
etanol daun kepel memiliki efek analgetik. Kedua kelompok tersebut dianggap
memiliki efek analgetik karena berpotensi dalam menghambat jumlah geliat yang
muncul. Hal ini ditunjukkan dengan adanya pengurangan jumlah geliat dibandingkan
dengan kontrol negatif.
Kelompok perlakuan ekstrak etanol daun kepel dosis 35 mg/kgBB, 140
mg/kgBB, 560 mg/kgBB, dan 2240 mg/kgBB masing-masing memiliki rata-rata %
penghambatan terhadap geliat berturut-turut sebesar 27,93%; 49,88%; 72,32%; dan
37,00%, sedangkan parasetamol yang digunakan sebagai kontrol positif memiliki
rata-rata % penghambatan terhadap geliat sebesar 57,76%. Pada kelompok perlakuan
ekstrak etanol daun kepel dosis 35 mg/kgBB, 140 mg/kgBB, dan 2240 mg/kgBB
menunjukkan % penghambatan yang lebih kecil dibandingkan dengan kelompok
kontrol positif, sehingga dapat dikatakan bahwa ekstrak etanol daun kepel dengan dosis
tersebut kurang mampu dalam menghambat geliat dari mencit. Pada kelompok
perlakuan ekstrak etanol daun kepel dosis 560 mg/kgBB menunjukkan %
penghambatan yang lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol positif,
sehingga dapat dikatakan bahwa ekstrak etanol daun kepel dengan dosis tersebut
memiliki kemampuan menghambat geliat mencit lebih baik dibandingkan dengan
parasetamol.
Menurut prosedur evaluasi Anonim (1991) mengenai aktivitas analgetik pada
metode rangsang kimia, suatu zat dikatakan memiliki aktivitas analgetik apabila
dengan kata lain memiliki % penghambatan terhadap geliat ≥ 50%. Oleh karena itu, walaupun keempat dosis ekstrak etanol daun kepel menunjukkan efek analgetik, tetapi
hanya ekstrak etanol daun kepel dosis 560 mg/kgBB yang memenuhi syarat untuk
dapat dikatakan memiliki aktivitas analgetik. Hal ini dikarenakan ekstrak etanol daun
kepel pada dosis 560 mg/kgBB memiliki % penghambatan terhadap geliat ≥ 50%.
Berbeda dengan ekstrak etanol daun kepel dosis 35 mg/kgBB, 140 mg/kgBB, dan 2240
mg/kgBB yang tidak memiliki aktivitas analgetik karena % penghambatan terhadap
geliatnya kurang dari 50%.
Sumber lain menyatakan bahwa pada metode rangsang kimia, suatu zat
dikatakan mempunyai aktivitas analgetik maksimal jika dapat menghambat jumlah
geliat pada hewan uji > 70%, sedangkan zat yang dapat menghambat jumlah geliat <
70% dikatakan mempunyai aktivitas analgetik minimal (Vogel, 2002). Jika berdasarkan
prosedur evaluasi ini, maka ekstrak etanol daun kepel dosis 560 mg/kgBB dinyatakan
mempunyai aktivitas analgetik maksimal, sedangkan ekstrak etanol daun kepel dosis 35
mg/kgBB, 140 mg/kgBB, dan 2240 mg/kgBB dinyatakan memiliki aktivitas analgetik
minimal.
Secara alamiah tubuh memproduksi antioksidan yang mampu melindungi sel
dari radikal bebas. Radikal bebas yang berlebihan akan menyebabkan kerusakan
jaringan sehingga menimbulkan nyeri. Apabila jumlah radikal bebas semakin banyak,
antioksidan endogen tidak mampu lagi melumpuhkannya secara efektif sehingga harus
ada tambahan antioksidan dari luar (eksogen) yang berasal dari bahan makanan
(Sibuea, 2004). Pada penelitian ini diharapkan antioksidan eksogen dapat berasal dari
Sunarni (2006) telah menguji aktivitas isolat dari daun kepel sebagai
antioksidan penangkap radikal bebas. Dari penelitian tersebut disimpulkan bahwa isolat
A1 dan B4b mempunyai aktivitas antioksidan penangkap radikal yang relatif lebih
tinggi dibandingkan dengan ketiga isolat yang lain (isolat B2, B3, dan B4a). Isolat B4b
menunjukkan aktivitas yang paling tinggi, meskipun hanya selisih sedikit dengan isolat
A1. Aktivitas antioksidan isolat B2 lebih rendah dibandingkan A1 dan B4b, sedangkan
dua isolat yang kurang aktif sebagai antioksidan penangkap radikal adalah isolat B3
dan B4a. Perbedaan aktivitas ini kemungkinan disebabkan karena masing-masing isolat
yang diduga flavonoid mempunyai gugus hidroksil dengan jumlah dan lokasi pada
kerangka flavonoid yang berbeda. Gulcin dkk (2004) dan Pokorny dkk (2001),
menyatakan bahwa aktivitas antioksidan dari senyawa alamiah yang berasal dari
tanaman, seperti flavonoid disebabkan adanya gugus hidroksil pada struktur
molekulnya.
Tingginya aktivitas antioksidan B4b dibandingkan dengan isolat lainnya
kemungkinan disebabkan oleh adanya gugus o-diOH dan 3-OH bebas. Hal ini sesuai
dengan Cos dkk (1998) yang menyatakan keberadaan gugus 3-OH dan 3’-OH pada
cincin B dapat dihubungkan dengan aktivitas antioksidan penangkap radikal bebas
yang tinggi. Adanya gugus hidroksil pada cincin B dari isolat B4b merupakan sisi aktif
utama dalam memutus rantai oksidasi dan gugus hidroksil ganda pada cincin B lebih
meningkatkan aktivitasnya. Hasil identifikasi isolat B4b adalah
3,7,3’,4’-tetrahidroksi-5-metilflavon (Sunarni dkk, 2007). Berdasarkan hal tersebut, efek analgetik yang
dihasilkan oleh ekstrak etanol daun kepel kemungkinan disebabkan oleh adanya
Dilihat dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pada dosis tertinggi
ekstrak etanol daun kepel yaitu 2240 mg/kgBB terjadi penurunan % penghambatan
terhadap geliat. Pada konsentrasi tinggi, aktivitas antioksidan kelompok fenolik sering
hilang bahkan aktivitas antioksidan tersebut menjadi prooksidan (Gordon, 1990 cit
Trilaksani, 2003). Berdasarkan teori tersebut, maka penurunan % penghambatan
terhadap geliat pada ekstrak dosis 2240 mg/kgBB mungkin dikarenakan konsentrasi
yang digunakan terlalu tinggi. Flavonoid yang merupakan antioksidan akan
menetralkan radikal bebas dan antioksidan tersebut akan berubah menjadi radikal
antioksidan yang relatif lebih stabil, akan tetapi dalam jumlah yang berlebihan radikal
antioksidan yang relatif stabil ini dapat merusak jaringan. Jadi dengan semakin
tingginya konsentrasi maka radikal antioksidan akan semakin banyak sehingga dapat
merusak jaringan dan menimbulkan nyeri. Hal ini yang menyebabkan pada dosis yang
lebih tinggi efek analgetik yang dihasilkan menjadi berkurang.
Berdasarkan hasil perhitungan % penghambatan terhadap geliat, kemudian
dihitung potensi relatif ekstrak terhadap kontrol positif (parasetamol dosis 91
mg/kgBB). Pada penelitian ini yang memiliki aktivitas sebagai analgetika hanya
ekstrak etanol daun kepel dosis 560 mg/kgBB, maka yang dihitung potensi relatifnya
hanya ekstrak dosis 560 mg/kgBB. Potensi dari parasetamol diasumsikan sebesar
100%, sedangkan rata-rata potensi relatif ekstrak terhadap parasetamol untuk ekstrak
dosis 560 mg/kgBB adalah sebesar 20,34%. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa
ekstrak dosis 560 mg/kgBB memiliki potensi yang jauh lebih kecil dibandingkan
dengan parasetamol dosis 91 mg/kgBB dalam menghambat rasa nyeri. Meskipun %
parasetamol, akan tetapi % penghambatan itu didapatkan karena dosis ekstrak yang
digunakan juga lebih besar dibandingkan dengan parasetamol dosis 91 mg/kgBB. Hal
inilah yang menyebabkan potensi ekstrak menjadi jauh lebih kecil dari parasetamol.
E. Perbandingan Daya Analgetik Ekstrak Etanol Daun Kepel