BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Penetapan Efek Antidiare
2. Pengujian efek antidiare
Pengujian efek antidiare pada penelitian ini menggunakan metode proteksi terhadap diare oleh oleum ricini. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah frekuensi terjadinya diare, waktu terjadinya diare, konsistensi dan jumlah atau bobot feses serta jangka waktu terjadinya diare. Semakin sedikit frekuensi terjadinya diare, semakin lama waktu pertama kali terjadinya diare, semakin normal konsistensi feses serta semakin kecil bobot atau jumlah feses dan
makin singkat jangka waktu terjadinya diare bila dibandingkan dengan kontrol negatif maka suatu senyawa uji dapat dinyatakan mempunyai kemampuan sebagai antidiare.
Kontrol positif yang digunakan pada penelitian ini adalah loperamid HCl karena loperamid HCl merupakan obat antidiare yang telah digunakan secara luas oleh masyarakat, selain itu loperamid HCl juga mempunyai mekanisme kerja yang sesuai dengan prinsip kerja metode yang digunakan dalam penelitian ini. Sedangkan untuk kontrol negatif digunakan aquades karena aquades merupakan pelarut untuk sampel yang diujikan dalam penelitian ini. Diharapkan sebagai kontrol negatif, aquades tidak mempunyai kemampuan sebagai antidiare. Terdapat kelompok perlakuan mencit yang diberi larutan CMC Na 1% karena CMC Na 1% merupakan pelarut yang digunakan dalam pembuatan suspensi loperamid HCl.
Tabel II. Hasil pengamatan parameter frekuensi terjadinya diare (kali) Kelompok x frekuensi diare (kali) ± SE Perbandingan dengan kontrol negatif (%) Perbandingan dengan kontrol positif (%) I 7,8 ± 1,1624 -27,87 II 6,4 ± 0,5207 -17,95 III 6,1 ± 1,3452 -21,79 IV 3,6 ± 0,7775 40,98 -53,85 V 6,3 ± 0,9074 -3,28 -19,23 VI 0,56 ± 0,2940 90,98 - 92,94 Keterangan :
I :Kelompok kontrol positif dengan pemberian suspensi loperamid HCl dalam CMC Na 1%
II : Kelompok perlakuan CMC Na 1%
III : Kelompok kontrol negatif dengan pemberian aquades
IV : Kelompok perlakuan I dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 5,035 g/kgBB
V : Kelompok perlakuan II dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 10,07 g/kgBB
VI : Kelompok perlakuan III dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 20,14 g/kgBB
Dalam penelitian ini, parameter frekuensi diare diamati dengan cara menghitung jumlah defekasi mencit yang mengeluarkan feses cair dan lembek selama waktu pengamatan.
Dari hasil pengamatan frekuensi diare pada tabel II, dapat dilihat bahwa rata-rata frekuensi terjadinya diare pada kelompok VI yang diberi infusa buah sawo manila segar dengan dosis 20,14 g/kgBB menunjukkan frekuensi terjadinya diare yang paling sedikit bila dibandingkan dengan kelompok lainnya. Terbukti bila dilihat % penurunan frekuensi diare terhadap kontrol negatif didapatkan nilai sebesar 90,98%. Sedangkan pada kelompok V yang diberi infusa buah sawo manila segar dengan dosis 10,07 g/kgBB menunjukkan rata-rata frekuensi terjadinya diare yang lebih besar dibandingkan dengan kelompok IV yang diberi infusa buah sawo manila segar dengan dosis 5,035 g/kgBB. Pada kelompok kontrol positif, nilai rata-rata frekuensi diare yang dihasilkan lebih besar bila dibandingkan dengan kelompok lainnya, sedangkan pada kelompok kontrol negatif mempunyai nilai rata-rata frekuensi yang hampir sama dengan kelompok V, namun nilai tersebut masih lebih besar bila dibandingkan dengan nilai rata-rata pada kelompok IV dan kelompok VI. Nilai negatif pada persen perbandingan dengan kontrol negatif menunjukkan bahwa terdapat peningkatan frekuensi diare dibandingkan dengan kontrol negatif, sedangkan nilai negatif pada persen perbandingan dengan kontrol positif menunjukkan bahwa terdapat penurunan frekuensi diare dibandingkan dengan kontrol positif. Dari nilai rata-rata frekuensi diare yang didapat kemudian dibuat dalam bentuk diagram batang.
Gambar 3. Diagram batang rata-rata frekuensi diare
Dari diagram batang tersebut dapat dilihat bahwa kelompok yang diberi infusa buah sawo dengan dosis 5,035 g/kgBB dan dosis 20,14g/kgBB mempunyai rata-rata frekuensi diare yang lebih kecil dibandingkan dengan kelompok lainnya, sedangkan kelompok kontrol positif, kelompok perlakuan CMC Na 1%, kelompok kontrol negatif dan kelompok yang diberi infusa buah sawo dengan dosis 10,07 g/kgBB mempunyai rata-rata frekuensi diare yang relatif sama. Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan terhadap frekuensi terjadinya diare antar kelompok tersebut dilakukan uji statistika non parametrik
Kruskal-Wallis dengan taraf kepercayaan 95%.
Tabel III. Hasil uji statistika Kruskal-Wallis untuk parameter frekuensi diare
Parameter Derajad bebas Signifikan
Hasil uji statistika Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa nilai signifikan 0,000. Dari nilai signifikan tersebut terlihat bahwa nilainya kurang dari 0,05 (p<0,05). Angka signifikan yang menunjukkan kurang dari 0,05 (p<0,05) berarti bahwa terdapat perbedaan antar kelompok (kelompok kontrol positif, kelompok kontrol negatif, kelompok perlakuan I, II dan III). Untuk mengetahui kelompok mana yang mempunyai perbedaan secara signifikan maka dilakukan analisis post hoc menggunakan uji Mann-Whitney.
Tabel IV. Rangkuman hasil analisis uji Mann-Whitney untuk parameter frekuensi terjadinya diare Kelompok I II III IV V VI I tb tb bb tb bb II tb III tb tb tb bb IV bb tb tb bb V tb tb tb bb VI bb bb bb bb Keterangan:
tb : berbeda tidak bermakna (p > 0,025) bb : berbeda bermakna (p < 0,025)
I : Kelompok kontrol positif dengan pemberian suspensi loperamid HCl dalam CMC Na 1%
II : Kelompok perlakuan CMC Na 1%
III : Kelompok kontrol negatif dengan pemberian aquades
IV : Kelompok perlakuan I dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 5,035 g/kgBB
V : Kelompok perlakuan II dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 10,07 g/kgBB
VI : Kelompok perlakuan III dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 20,14 g/kgBB
Dari hasil analisis Mann-Whitney dapat diketahui bahwa kelompok IV yang diberi infusa buah sawo manila segar dengan dosis 5,035 g/kgBB mempunyai nilai frekuensi diare yang berbeda secara signifikan dengan kontrol positif dan kelompok VI, sedangkan kelompok VI yang diberi infusa buah sawo
manila segar dengan dosis 20,14 g/kgBB mempunyai frekuensi diare yang berbeda bermakna dengan kelompok lainnya.
Dari hasil pengamatan frekuensi diare tersebut, kelompok kontrol positif menunjukkan rata-rata frekuensi terjadinya diare yang paling besar. Hal ini tidak sesuai dengan teori bahwa seharusnya kontrol positif yang diberi loperamid mempunyai aktivitas sebagai antidiare dan menunjukkan frekuensi terjadinya diare yang lebih sedikit dibandingkan dengan kontrol negatif yang diberi aquades.
Dapat disimpulkan dari hasil analisis tersebut bahwa kelompok VI yang diberi infusa buah sawo manila segar dengan dosis 20,14 g/kgBB mempunyai aktivitas sebagai antidiare dilihat dari parameter frekuensi terjadinya diare karena bila dibandingkan dengan kontrol negatif, kontrol positif, kelompok perlakuan I dan perlakuan II frekuensi terjadinya diare secara signifikan lebih berkurang.
Tabel V. Hasil pengamatan parameter onset diare (menit ke-) Kelompok x onset diare (menit ke-) ± SE Perbandingan dengan kontrol negatif (%) Perbandingan dengan kontrol positif (%) I 95,8 ± 8,473 29,92 - II 96,6 ± 7,391 - 0,83 III 136,7 ± 21,706 - 42,69 IV 132,4 ± 19,043 3,14 38,20 V 101,1 ± 10,940 26,04 5,53 VI 220,33 ± 12,202 -61,18 129,99 Keterangan :
I : Kelompok kontrol positif dengan pemberian suspensi loperamid HCl dalam CMC Na 1%
II : Kelompok perlakuan CMC Na 1%
III : Kelompok kontrol negatif dengan pemberian aquades
IV : Kelompok perlakuan I dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 5,035 g/kgBB
V : Kelompok perlakuan II dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 10,07 g/kgBB
VI : Kelompok perlakuan III dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 20,14 g/kgBB
Selain parameter frekuensi terjadinya diare dilakukan juga pengamatan terhadap waktu pertama kali terjadinya diare atau onset diare. Waktu pertama kali terjadinya diare atau waktu onset diare ini dinyatakan dalam satuan menit.
Dari hasil pengamatan waktu onset diare pada tabel V dapat diketahui bahwa pada kelompok VI mempunyai rata-rata waktu onset diare yang paling besar dibandingkan dengan kelompok lainnya, sedangkan kelompok kontrol positif mempunyai rata-rata waktu onset diare yang paling kecil bila dibandingkan dengan kelompok lainnya. Untuk kelompok III dan IV mempunyai nilai rata-rata waktu onset yang relatif sama, namun nilai tersebut relatif masih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol positif dan kelompok V serta relatif lebih kecil dibandingkan dengan kelompok VI. Pada kelompok dengan nilai rata-rata waktu onset yang lebih besar menunjukkan bahwa waktu pertama kali terjadinya diare lebih lama dibandingkan dengan kelompok yang mempunyai nilai rata-rata waktu onset yang lebih kecil. Nilai negatif pada persen perbandingan dengan kontrol negatif menunjukkan kenaikan waktu onset diare dibandingkan dengan kontrol negatif. Oleh karena itu nilai persen perbandingan dengan kontrol negatif pada kelompok VI bernilai negatif karena nilai rata-rata waktu onset diarenya jauh lebih besar dibandingkan dengan kontrol negatif, sedangkan nilai positif pada persen perbandingan dengan kontrol positif menunjukkan bahwa terdapat kenaikan waktu onset diare dibandingkan dengan kontrol positif.
Nilai rata-rata waktu onset diare yang didapat kemudian dibuat dalam bentuk diagram batang. Dari diagram batang tersebut dapat dilihat bahwa waktu pertama kali terjadinya diare pada kelompok VI yang diberi infusa buah sawo
manila segar dengan dosis 20,14 g/kgBB mempunyai rata-rata yang paling besar dibandingkan dengan kelompok lainnya. Sedangkan pada kelompok lainnya relatif mempunyai nilai rata-rata onset diare yang sama.
Gambar 4. Diagram batang rata-rata waktu pertama kali terjadinya diare/waktu onset diare (menit)
Untuk melihat apakah terdapat perbedaan rata-rata waktu pertama kali terjadinya diare (waktu onset diare) yang signifikan antar kelompok maka dilakukan analisis statistika menggunakan uji non parametrik Kruskal-Wallis
dengan taraf kepercayaan 95%.
Tabel VI. Hasil analisis statistika uji Kruskal-Wallis untuk parameter waktu pertama kali terjadinya diare
Parameter Derajad bebas Signifikan
Waktu pertama kali terjadinya diare
Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa nilai signifikan sebesar 0,001 (p<0,05). Hal ini berarti bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antar kelompok baik kelompok kontrol positif, kontrol negatif, kelompok perlakuan I ,kelompok perlakuan II serta kelompok perlakuan III. Namun dari uji Kruskal-Wallis tidak dapat diketahui kelompok mana yang berbeda secara signifikan sehingga dilakukan uji Mann-Whitney.
Tabel VII.Hasil rangkuman analisis Mann-Whitney untuk parameter waktu pertama kali terjadinya diare (menit ke-)
Kelompok I II III IV V VI I tb tb tb tb bb II tb III tb tb tb bb IV tb tb tb bb V tb tb tb bb VI bb bb bb bb Keterangan:
tb : berbeda tidak bermakna (p > 0,025) bb : berbeda bermakna (p < 0,025)
I : Kelompok kontrol positif dengan pemberian suspensi loperamid HCl dalam CMC Na 1%
II : Kelompok perlakuan CMC Na 1%
III : Kelompok kontrol negatif dengan pemberian aquades
IV : Kelompok perlakuan I dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 5,035 g/kgBB
V : Kelompok perlakuan II dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 10,07 g/kgBB
VI : Kelompok perlakuan III dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 20,14 g/kgBB
Dari hasil analisis Mann-Whitney pada tabel VII, hanya kelompok VI yang diberi infusa buah sawo manila segar dengan dosis 20,14 g/kgBB yang berbeda signifikan dibanding dengan semua kelompok (kelompok kontrol positif, kontrol negatif, kelompok IV dan kelompok V). Hal ini berarti bahwa kelompok VI ini mempunyai efek antidiare bila dilihat dari parameter waktu pertama kali terjadinya diare.
Parameter selanjutnya yang diamati adalah bobot feses yang dihasilkan oleh mencit. Parameter bobot feses ini diamati dengan cara menimbang feses yang dihasilkan oleh masing-masing mencit setiap selang waktu 30 menit. Bobot feses diperoleh dengan cara mengurangkan bobot kertas dan feses dengan bobot kertas tanpa feses. Bobot feses yang diperoleh setiap selang waktu 30 menit diakumulasikan hingga 4 jam pengamatan.
Tabel VIII. Tabel hasil pengamatan parameter bobot feses (gram) Kelompok x bobot feses (gram) ± SE Perbandingan dengan kontrol negatif (%) Perbandingan dengan kontrol positif (%) I 1,0083 ± 0,1472 25,587 II 1,1317 ± 0,0965 12,24 III 1,3550 ± 0,2308 34,385 IV 0,7412 ± 0,1225 45,299 -26,49 V 1,0554 ± 0,1363 22,111 4,671 VI 0,3438 ± 0,1054 74,627 -65,903 Keterangan :
I : Kelompok kontrol positif dengan pemberian suspensi loperamid HCl dalam CMC Na 1%
II : Kelompok perlakuan CMC Na 1%
III : Kelompok kontrol negatif dengan pemberian aquades
IV : Kelompok perlakuan I dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 5,035 g/kgBB
V : Kelompok perlakuan II dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 10,07 g/kgBB
VI : Kelompok perlakuan III dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 20,14 g/kgBB
Dari hasil pengamatan bobot feses yang ditunjukkan pada tabel VIII, kelompok VI yang diberi infusa buah sawo manila segar dosis 20,14 g/kgBB mempunyai rata-rata bobot feses yang paling sedikit dibandingkan dengan kelompok lainnya, sedangkan kelompok kontrol negatif mempunyai rata-rata bobot feses yang paling besar di antara kelompok lainnya. Hal ini sesuai dengan teori bahwa pada kelompok kontrol negatif mempunyai bobot feses yang paling
banyak karena pada kelompok tersebut tidak diberi senyawa antidiare sehingga mencit pada kelompok tersebut mengalami diare dengan mengeluarkan feses yang cukup banyak.
Nilai positif pada persen perbandingan dengan kontrol negatif menunjukkan bahwa terdapat penurunan bobot feses dibandingkan dengan kontrol negatif. Dari tabel VIII diketahui bahwa kelompok VI mempunyai nilai persen penurunan bobot feses yang paling besar bila dibandingkan dengan kontrol negatif. Nilai negatif pada persen perbandingan dengan kontrol positif menunjukkan bahwa terdapat penurunan bobot feses dibandingkan dengan kontrol positif, sedangkan nilai positif pada persen perbandingan dengan kontrol positif menunjukkan bahwa terdapat peningkatan bobot feses dibandingkan dengan kontrol positif.
Dari diagram batang pada gambar 5, dapat dilihat bahwa rata-rata bobot feses pada kelompok yang diberi infusa buah sawo manila pada dosis 20,14g/kgBB paling rendah bila dibandingkan dengan kelompok lainnya, sedangkan rata-rata bobot feses kelompok yang diberi infusa buah sawo manila pada dosis 10,07 g/kgBB mempunyai rata-rata bobot feses yang mendekati kelompok kontrol positif. Pada kelompok perlakuan CMC Na 1% rata-rata bobot feses yang dihasilkan tidah jauh berbeda dengan kelompok kontrol positif.
Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antar kelompok uji tersebut maka dilakukan analisis statistika menggunakan uji one-way ANOVA dengan taraf kepercayaan 96%.
Tabel IX. Hasil uji statistika one- way ANOVA untuk parameter bobot feses (gram) Jumlah kuadrat Derajad bebas Kuadrat rata-rata F Signifikan Antar kelompok 5.458 4 1.364 5.681 0,001 Dalam kelompok 10.567 44 0.240 Jumlah 16.025 48
Nilai signifikan yang dihasilkan dari uji one way ANOVA sebesar 0,001. Nilai tersebut kurang dari 0,05 (p<0,05), hal ini berarti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan di antara kelompok uji baik itu kelompok kontrol positif, kelompok kontrol negatif, kelompok perlakuan CMC Na 1%, kelompok perlakuan I, perlakuan II maupun perlakuan III. Karena dari hasil analisis statistika uji one way ANOVA hanya dapat mengetahui bahwa terdapat perbedaan yang signifikan
di antara kelompok uji maka untuk dapat mengetahui perbedaan yang signifikan antar kelompok uji dilakuan analisis post hoc menggunakan uji Scheffe.
Dari hasil analisis post hoc pada tabel X, dapat diketahui bahwa hanya pada kelompok pemberian infusa dengan dosis 20,14 g/kgBB yang mempunyai bobot feses yang berbeda secara signifikan dengan kelompok kontrol negatif. Hal ini menunjukkan bahwa pada kelompok perlakuan tersebut mempunyai aktivitas sebagai antidiare berdasarkan parameter bobot feses yang dihasilkan.
Tabel X. Hasil rangkuman analisis post hoc uji Scheffe untuk parameter bobot feses (gram)
Keterangan:
tb : berbeda tidak bermakna (p > 0,05) bb : berbeda bermakna (p < 0,05)
I : Kelompok kontrol positif dengan pemberian suspensi loperamid HCl dalam CMC Na 1%
II : Kelompok perlakuan CMC Na 1%
III : Kelompok kontrol negatif dengan pemberian aquades
IV : Kelompok perlakuan I dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 5,035 g/kgBB
V : Kelompok perlakuan II dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 10,07 g/kgBB
VI : Kelompok perlakuan III dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 20,14 g/kgBB
Jangka waktu berlangsungnya diare merupakan parameter yang juga diamati untuk melihat suatu senyawa yang diuji apakah mempunyai efek antidiare atau tidak. Jangka waktu terjadinya diare diamati dengan cara mengurangkan waktu akhir pengamatan dengan waktu pertama kali terjadinya diare.
Kelompok I II III IV V VI I tb tb tb tb tb II tb III tb tb tb bb IV tb tb tb tb V tb tb tb tb VI tb bb tb tb
Dari tabel XI dapat dilihat bahwa rata-rata durasi diare yang paling singkat adalah pada kelompok VI yaitu kelompok yang diberi infusa buah sawo manila dengan dosis 20,14 g/kgBB, sedangkan kelompok kontrol positif mempunyai rata-rata durasi diare yang paling lama bila dibandingkan dengan kelompok lainnya. Nilai negatif pada persen perbandingan dengan kontrol negatif menunjukkan bahwa terdapat kenaikan durasi diare dibandingkan dengan kontrol negative, sedangkan nilai negatif pada persen perbandingan dengan kontrol positif menunjukkan bahwa terdapat penurunan durasi diare dibandingkan dengan kontrol positif.
Tabel XI. Hasil pengamatan parameter jangka waktu berlangsungnya diare (menit) Kelompok x durasi diare (menit) ± SE Perbandingan dengan kontrol negatif (%) Perbandingan dengan kontrol positif (%) I 144,2 ± 8,473 -39,59 II 141 ± 8,043 -2,22 III 103,3 ± 21,706 -28,36 IV 107,6 ± 19,043 -4,16 -25,38 V 138,9 ± 10,940 -34,48 -3,67 VI 19,67 ± 12,202 80,96 -86,36 Keterangan :
I : Kelompok kontrol positif dengan pemberian suspensi loperamid HCl dalam CMC Na 1%
II : Kelompok perlakuan CMC Na 1%
III : Kelompok kontrol negatif dengan pemberian aquades
IV : Kelompok perlakuan I dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 5,035 g/kgBB
V : Kelompok perlakuan II dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 10,07 g/kgBB
VI : Kelompok perlakuan III dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 20,14 g/kgBB
Dari hasil diagram batang rata-rata durasi diare, dapat diketahui bahwa kelompok yang diberi infusa buah sawo dengan dosis 20,14 g/kgBB mempunyai rata-rata durasi diare yang paling singkat dibandingkan dengan kelompok lainnya.
Kelompok kontrol negatif dan kelompok uji yang diberi infusa buah sawo dengan dosis 5,035 g/kgBB mempunyai rata-rata durasi diare yang relatif sama, sedangkan kelompok kontrol positif, kelompok perlakuan CMC Na 1% dan kelompok uji yang diberi infusa buah sawo manila dengan dosis 10,07 g/kgBB mempunyai rata-rata durasi diare yang relatif sama yaitu relatif paling lama. Hal ini tidak sesuai dengan teori dimana seharusnya kontrol positif mempunyai waktu berlangsungnya diare yang paling singkat.
Gambar 5. Diagram batang rata-rata durasi diare (menit)
Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang bermakna antar kelompok uji, dilakukan analisis statistika menggunakan uji Kruskal-Wallis
Tabel XII. Hasil uji statistika Kruskal-Wallis untuk parameter jangka waktu terjadinya diare
Parameter Derajat bebas Signifikan Jangka waktu terjadinya diare 4 0,001
Hasil uji statistika Kruskal-Wallis untuk parameter waktu berlangsungnya diare menunjukkan nilai signifikan di bawah 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antar kelompok uji. Dari hasil uji Kruskal Wallis hanya dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antar kelompok dan untuk mengetahui kelompok mana yang perbedaan secara signifikan dilakukan analisis post hoc dengan uji Mann-Whitney.
Tabel XIII. Hasil rangkuman analisis Mann-Whitney untuk parameter jangka waktu terjadinya diare (menit)
Kelompok I II III IV V VI I tb tb tb bb II tb III tb tb tb bb IV tb tb tb bb V tb tb tb bb VI bb bb bb bb Keterangan:
tb : berbeda tidak bermakna (p > 0,025) bb : berbeda bermakna (p < 0,025)
I : Kelompok kontrol positif dengan pemberian suspensi loperamid HCl dalam CMC Na 1%
II : Kelompok perlakuan CMC Na 1%
III : Kelompok kontrol negatif dengan pemberian aquades
IV : Kelompok perlakuan I dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 5,035 g/kgBB
V : Kelompok perlakuan II dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 10,07 g/kgBB
VI : Kelompok perlakuan III dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 20,14 g/kgBB
Dari hasil analisis Mann-Whitney, hanya kelompok perlakuan III (kelompok VI) yang berbeda secara signifikan dengan kelompok kontrol positif, kontrol negatif, kelompok perlakuan I dan kelompok perlakuan II. Hal ini
menunjukkan bahwa kelompok perlakuan III yang diberi infusa buah sawo manila segar dengan dosis 20,14 g/kgBB mempunyai efek antidiare dalam parameter menurunkan jangka waktu terjadinya diare bila dibandingkan dengan kontrol negatif yang tidak mempunyai kemampuan sebagai antidiare.
Parameter pengamatan untuk konsistensi diare dilakukan dengan mengamati konsistensi feses yang dihasilkan oleh mencit. Konsistensi feses dalam penelitian ini dibagi menjadi 3 kategori, yaitu konsistensi feses yang normal (keras), lembek dan cair. Untuk memudahkan dalam melakukan pengamatan secara kuantitatif maka kategori tersebut diberi label dimana konsistensi feses yang normal diberi nilai 1, konsistensi feses yang lembek diberi nilai 2 dan konsistensi feses yang cair diberi nilai 3.
Tabel XIV. Rangkuman hasil pengamatan konsistensi feses Kelompok x konsistensi feses ± SE Perbandingan dengan kontrol negatif (%) Perbandingan dengan kontrol positif (%) I 24,4 ± 3,314 -19,02 - II 22,3 ± 1,719 - -8,61 III 20,5 ± 3,695 - -15,98 IV 10,5 ± 2,141 48,8 -56,97 V 19,5 ± 2,794 4,88 -20,08 VI 2,89 ± 1,11 85,90 -88,16 Keterangan :
I : Kelompok kontrol positif dengan pemberian suspensi loperamid HCl dalam CMC Na 1%
II : Kelompok perlakuan CMC Na 1%
III : Kelompok kontrol negatif dengan pemberian aquades
IV : Kelompok perlakuan I dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 5,035 g/kgBB
V : Kelompok perlakuan II dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 10,07 g/kgBB
VI : Kelompok perlakuan III dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 20,14 g/kgBB
Dari hasil pengamatan konsistensi feses dapat diketahui bahwa rata-rata konsistensi feses yang paling kecil adalah pada kelompok VI yaitu kelompok
yang diberi infusa buah sawo manila dengan dosis 20,14 g/kgBB. Sedangkan rata-rata konsistensi feses yang paling besar adalah pada kelompok kontrol positif. Hal ini tidak sesuai dengan teori karena seharusnya kontrol positif mempunyai nilai