DOSISS EFEKTIF (Achras zap
DENGA D Diaju Memp UN F ANTIDIA
apota L.) PA AN METOD
DIARE OL
ukan untuk M peroleh Gela Program Bernad NIM FAKUL NIVERSITA YO ARE INFUS ADA MENC DE PROTEK LEH OLEUM SKRIPSI Memenuhi Sa
ar Sarjana Fa Studi Ilmu F
Oleh : detta Eka Ni M : 0581140
LTAS FARM AS SANATA
GYAKART 2009
SA BUAH SA CIT PUTIH
KSI TERH M RICINI
DOSISS EFEKTIF (Achras zap
DENGA D Diaju Memp UN F ANTIDIA
apota L.) PA AN METOD
DIARE OL
ukan untuk M peroleh Gela Program Bernad NIM FAKUL NIVERSITA YO ARE INFUS ADA MENC DE PROTEK LEH OLEUM SKRIPSI Memenuhi Sa
ar Sarjana Fa Studi Ilmu F
Oleh : detta Eka Ni M : 0581140
LTAS FARM AS SANATA
GYAKART 2009
SA BUAH SA CIT PUTIH
KSI TERH M RICINI
v
Karya kecil ini aku persembahkan untuk :
Tuhan Yesus Kristus yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang bagiku. Kedua orangtuaku (Pak Anto dan Bu Nuning), semoga karya kecil ini bisa
membuat bapak-ibu bangga padaku.
vi PRAKATA
Puji dan syukur atas segala anugerah dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, yang selalu mendampingi penulis dalam menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul ”Dosis Efektif Antidiare Infusa Buah Sawo Manila (Achras zapota L.) pada Mencit Putih Betina dengan Metode Proteksi Terhadap Diare oleh Oleum Ricini”. Adapun skripsi ini disusun dalam rangka untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) pada Program Studi Ilmu Farmasi di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Dalam penyusunan skripsi ini, tentunya penulis tidak dapat terlepas dari bantuan, dukungan, pendampingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis ingin berterima kasih kepada :
1. Rita Suhadi, M.Si., Apt, selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan dosen pendamping akademik yang selalu memberikan saran kepada penulis.
2. Ipang Djunarko, S.Si., Apt, selaku dosen pembimbing skripsi atas pendampingan, saran dan kritikan dalam penyusunan skripsi ini.
3. Drs. Mulyono, Apt, selaku dosen penguji atas kritik, saran dan masukan dalam penyempurnaan skripsi ini.
vii
5. Warsianto S. dan C. Sri Wahyuningsih selaku orang tua penulis atas segala pengertian dan pengorbanan yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini.
6. Leonardus D. N. atas dorongan semangat yang diberikan sehingga memacu penulis untuk segera menyelesaikan penyusunan skripsi ini.
7. Lina, Aya dan Siska atas dukungan dan pengorbanan waktu yang diberikan untuk membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
8. Septi dan Nisi atas kerja keras dan pendampingan yang diberikan kepada penulis.
9. Teman-teman Farmasi angkatan 2005 : Ade, Pan-Pan, Lina, Aya, Siska, Diana, Virginia, Fian, atas bantuan dan dukungan yang diberikan kepada penulis.
10. Dani dan Nixon atas segala bentuk bantuan baik secara moral maupun material dalam membantu terlaksananya penelitian ini.
11. Bapak, Ibu dan Paman dari Vincentia Septiana atas bantuan dalam menyediakan buah sawo yang digunakan dalam penelitian ini.
12. Ami dan Uni atas bantuan doa dan dukungan yang diberikan kepada penulis . 13. Mas Nendi, Mas Heri, Mas Albert, Mas Hadi, Mas Sukur, Mas Yoyo, Mas
Adit, Dewi, Vivi, Dona, Christin, Vira, Nisi dan Septi serta teman-teman sekomunitas atas doa dan dukungan yang diberikan.
viii
15. Dhessy, Siska, Heti, Reni, Ria, Diana, dan Yuli atas doa, pengorbanan dan dukungan yang diberikan sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan. 16. Mas Parjiman, Mas Heru, Mas Kayat atas bantuan yang diberikan dalam
menyediakan bahan dan alat untuk penelitian ini serta Mas Yuwono atas bantuan dalam menyediakan ruangan untuk penelitian .
17. Petugas Keamanan Kampus III, Paingan atas ijin dan pengawasan yang diberikan sehingga penelitian ini dapat berjalan dengan lancar.
18. Pak Parno atas bantuan yang diberikan dalam menyediakan hewan percobaan. 19. Semua orang yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam
penyusunan skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak dapat lepas dari kekurangan dan ketidaksempurnaan, oleh karena itu penulis membutuhkan saran dan kritik yang membangun untuk mengembangkan karya tulis ini.
x
INTISARI
Telah dilakukan penelitian mengenai dosis efektif antidiare infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) pada mencit putih betina berdasarkan adanya kandungan tanin dalam buah sawo manila (Achras zapota L.) yang masih muda. Karena telah diketahui bahwa tanin dapat berfungsi sebagai adstringen yang dapat meringankan diare dengan cara mengecilkan selaput lendir usus.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni dengan rancangan acak lengkap pola searah yang menggunakan metode proteksi terhadap diare oleh oleum ricini dengan subyek uji mencit putih betina sebanyak 60 ekor yang dibagi secara acak menjadi 6 kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif, kontrol positif, perlakuan CMC Na 1% dan tiga kelompok uji dengan tiga peringkat dosis berturut-turut 5,035 g/kgB; 10,07 g/kgBB dan 20,14 g/kgBB. Parameter yang diamati adalah onset diare, frekuensi terjadinya diare, jumlah atau bobot feses, konsistensi feses dan durasi diare. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara statistik. Untuk parameter waktu pertama kali terjadinya diare, frekuensi terjadinya diare, konsistensi feses dan jangka waktu berlangsungnya diare dianalisis menggunakan uji Kruskal-Walls dilanjutkan dengan uji post hoc Mann-Whitney sedangkan untuk parameter jumlah atau bobot feses dianalisis menggunakan uji one-way ANOVA dilanjutkan dengan uji poct hoc Scheffe
dengan taraf kepercayaan 95%.
Data hasil penelitian menunjukkan infusa buah sawo manila Achras zapota
L.) mempunyai aktivitas sebagai antidiare. Dosis efektif pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) pada mencit putih betina adalah pada dosis 20,14 g/kgBB karena pada dosis tersebut menunjukkan parameter frekuensi diare, onset diare, jumlah atau bobot feses, durasi diare dan konsistensi feses yang berbeda signifikan dengan kontrol negatif.
xi
ABSTRACT
It has been conducted a research about the effective dose of antidiarrhea found on infusion of sawo manila fruit (Achras zapota L.) on white female mice based on there are tannin contents on green sawo manila fruit (Achras zapota L.). Because have been known that tannin can be used as adstringent to help alleviate diarrhea by make membrane mucus intestine small.
This research belong to a pure experimental with complete random program same direction pattern uses the protection to castrol oil induced diarrhea method with 60 female white mice tests subject that are divided randomly become 6 groups that is negative control group, positif control group, CMC Na 1% group and 3 test group with 3 level doses continued 5,035 g/kgBB, 10,07 g/kgBB and 20,14 g/kgBB. Parameters that is observed are onset of diarrhea, frequency of diarrhea, quantity or weight of feces, consistency of feces and duration of diarrhea. The result data then be analyzed statistically. For parameters frequency of diarrhea, onset of diarrhea, consistency of feces and duration of diarrhea uses Kruskal Wallis test then post hoc test Mann Whitney while for parameter quantity or weight of feces be analyzed by one way ANOVA test then post hoc test Scheffe with level confidence 95%.
The result of experiment show that the infusion of sawo manila fruit (Achras zapota L.) have antidiarrhea activity. The effective dose the infusion sawo manila fruit (Achras zapota L.) on white female mice is 20,14 g/kgBB because in that dose shows parameters onset of diarrhea, frequency of diarrhea, quantity or weight of feces, consistency of feces and duration of diarrhea that different with negative control.
xii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ……… ii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ……….. iii
HALAMAN PENGESAHAN ……….. iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ……….. v
PRAKATA ………... vi
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ……….. x
INTISARI ………. xi
ABSTRACT ………... xii
DAFTAR ISI ……… xiii
DAFTAR TABEL ……… xvii
DAFTAR GAMBAR ………... xix
DAFTAR LAMPIRAN ……… xx
BAB I PENGANTAR……….. 1
A. Latar Belakang ………. 1
1. Permasalahan ………. 2
2. Keaslian Penelitian ……… 3
3. Manfaat Penelitian ………. 3
B. Tujuan ……….. 4
1. Tujuan Umum ……… 4
2. Tujuan Khusus ………... 4
xiii
A. Obat Tradisional ………... 5
B. Sawo Manila (Achras zapota L.) ………. 6
1. Sistematika tanaman ……….. 6
2. Nama latin ………. 6
3. Nama daerah ……….. 6
4. Nama simplisia ……….. 7
5. Morfologi ……….. 7
6. Kandungan kimia ………... 7
7. Khasiat dan kegunaan ……… 8
C. Diare ………. 8
1. Definisi ………... 8
2. Epidemiologi ………. 9
3. Patofisiologi ………... 10
4. Gejala dan tanda ……… 11
5. Penatalaksanaan terapi ………... 13
D. Antidiare ………... 15
E. Metode Uji ………... 18
1. Metode transit intestinal ………. 18
2. Metode proteksi terhadap diare oleh oleum ricini ………….. 18
F. Tanin ……… 18
1. Pengertian ………... 18
xiv
3. Kontraindikasi untuk tanin ………. 19
4. Aplikasi ……….. 19
G. Infusa ……… 20
H. Loperamid HCl ……… 20
1. Kimia ……….. 20
2. Farmakologi ………... 21
3. Farmakokinetik ……….. 22
4. Penggunaan ……… 22
I. Landasan Teori ………. 24
J. Hipotesis ………... 24
BAB III METODE PENELITIAN ………... 25
A. Jenis dan Rancangan Penelitian ………... 25
B. Variabel dan Definisi Operasional ………... 26
C. Bahan Penelitian ……….. 28
D. Instrumen atau Alat Penelitian ……… 29
E. Tata Cara Penelitian ………. 29
F. Tata Cara Analisis Hasil ……….. 35
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ……….. 36
A. Determinasi ……….. 36
B. Penetapan Efek Antidiare ………. 37
1. Penentuan kontrol positif ………... 38
2. Pengujian efek antidiare ………. 38
xv
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ………. 61
A. Kesimpulan ……….. 61
B. Saran ………. 61
DAFTAR PUSTAKA ……….. 62
LAMPIRAN ………. 65
xvi
DAFTAR TABEL
halaman Tabel I. Hubungan antara gejala yang timbul dan penyebab diare .. 12 Tabel II. Hasil pengamatan parameter frekuensi terjadinya diare
(kali) ……… 39
Tabel III. Hasil uji statistika Kruskal-Wallis untuk parameter frekuensi diare ………. 42 Tabel IV. Rangkuman hasil analisis uji Mann-Whitney untuk
parameter frekuensi terjadinya diare ………... 42 Tabel V. Hasil pengamatan parameter onset diare (menit ke-) ……. 44 Tabel VI. Hasil analisis statistika uji Kruskal-Wallis untuk
parameter waktu pertama kali terjadinya diare …………... 46 Tabel VII. Hasil rangkuman analisis Mann-Whitney untuk parameter
waktu pertama kali terjadinya diare (menit ke-) …………. 47 Tabel VIII. Tabel hasil pengamatan parameter bobot feses (gram) ….. 48 Tabel IX. Hasil uji statistika one- way ANOVA untuk parameter
bobot feses (gram) ……….. 50 Tabel X. Hasil rangkuman analisis uji Scheffe untuk parameter
bobot feses (gram) ……….. 51 Tabel XI. Hasil pengamatan parameter jangka waktu berlangsungnya diare (menit) ………. 52 Tabel XII. Hasil uji statistika Kruskal-Wallis untuk parameter jangka
xvii
jangka waktu terjadinya diare (menit) ……… 54 Tabel XIV. Rangkuman hasil pengamatan konsistensi feses ………… 55 Tabel XV. Hasil uji statistika Kruskal-Wallis untuk parameter
konsistensi feses ……….. 57 Tabel XVI. Hasil analisis Mann-Whitney untuk parameter konsistensi
xviii
DAFTAR GAMBAR
halaman Gambar 1. Skema kerja penelitian………. 34 Gambar 2. Diagram batang rata-rata frekuensi diare ……… 41 Gambar 3. Diagram batang rata-rata waktu pertama kali terjadinya
xix
DAFTAR LAMPIRAN
halaman Lampiran 1. Data volume pemberian suspensi loperamid dan oleum
ricini untuk kelompok kontrol positif serta contoh perhitungan volume pemberian ……… 65 Lampiran 2. Data volume pemberian aquades dan oleum ricini pada
kelompok perlakuan kontrol negatif serta contoh perhitungan volume pemberian ……… 66 Lampiran 3. Data volume pemberian larutan CMC Na 1% dan oleum
ricini pada kelompok perlakuan CMC Na 1% serta contoh perhitungan volume pemberian ……… 67 Lampiran 4. Data penimbangan buah sawo manila (Achras zapota L.)
segar ………. 68
Lampiran 5. Perhitungan konsentrasi infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) ... 69 Lampiran 6. Data hasil pengamatan frekuensi diare ……… 70 Lampiran 7. Hasil pengamatan dengan parameter waktu terjadinya diare
(menit ke-) ……… 71
Lampiran 8. Hasil pengamatan dengan parameter bobot feses (gram) …. 72 Lampiran 9. Hasil pengamatan dengan parameter jangka waktu
xx
Lampiran 12. Hasil pengamatan konsistensi feses pada perlakuan kontrol
positif ……… 76
Lampiran 13. Hasil pengamatan pada kelompok perlakuan CMC Na 1% . 77 Lampiran 14. Hasil pengamatan konsistensi feses pada kelompok
perlakuan CMC Na 1% ……… 78 Lampiran 15. Hasil pengamatan pada kelompok perlakuan kontrol
negatif ……….. 79
Lampiran 16. Pengamatan konsistensi feses pada kelompok perlakuan kontrol negatif ……….. 80 Lampiran 17. Hasil pengamatan pada kelompok perlakuan infusa buah
sawo dosis 5,035 x 103 mg/kgBB ……… 81 Lampiran 18. Pengamatan konsistensi feses pada kelompok perlakuan
infusa buah sawo dosis 5,035 x 103 mg/kgBB ………. 82 Lampiran 19. Hasil pengamatan pada kelompok perlakuan infusa buah
sawo dosis 1,007 x 104 mg/kgBB ……… 83 Lampiran 20. Pengamatan konsistensi feses pada kelompok perlakuan
infusa buah sawo dosis 1,007 x 104 mg/kgBB ………. 84 Lampiran 21. Hasil pengamatan pada kelompok perlakuan infusa buah
sawo dosis 2,014 x 104 mg/kgBB ……… 85 Lampiran 22. Hasil pengamatan konsistensi feses pada kelompok
xxi
frekuensi diare ……….. 88 Lampiran 25. Hasil uji statistika Mann Whitney untuk parameter
frekuensi diare ……….. 89 Lampiran 26. Hasil uji statistika Kruskal Wallis untuk parameter onset
diare ……….. 95
Lampiran 27. Hasil uji statistika Mann Whitney untuk parameter onset
diare ……….. 96
Lampiran 28. Hasil analisis ANOVA untuk parameter bobot feses ……... 102 Lampiran 29. Hasil analisa statistika uji post hoc Scheffe untuk parameter
bobot feses ……… 103 Lampiran 30. Hasil uji statistika Kruskal Wallis untuk parameter durasi
diare ……….. 104
Lampiran 31 Hasil uji statistika Mann Whitney untuk parameter durasi
diare ……….. 105
Lampiran 32 Hasil uji statistika Kruskal Wallis untuk parameter konsistensi feses ………... 111 Lampiran 33. Hasil uji statistika Mann Whitney untuk parameter
1
BAB I
PENGANTAR
A. Latar Belakang
Diare adalah keadaan buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat) setidaknya 3 kali dalam waktu 24 jam (Anonim, 2005). Diare saat ini masih merupakan salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia, dengan insidensi 400 kasus per 1000 penduduk. Lebih dari separuh (60-70%) penderita diare adalah anak berusia di bawah 5 tahun, dengan kejadian 2-3 episode tiap anak per tahun (Anonim, 1988).
World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa 3-5 milyar kasus diare terjadi setiap tahun di seluruh dunia (1 milyar kasus merupakan anak-anak berusia di bawah 5 tahun) dan kira-kira 5 juta kematian dikarenakan diare setiap tahunnya (2,5 juta merupakan anak-anak berusia di bawah 5 tahun). (Heinrich, 2004).
Diare menyebabkan penderitanya kekurangan cairan atau dehidrasi karena adanya gangguan absorpsi air dan elektrolit sehingga pemasukan cairan lebih sedikit dibandingkan dengan pengeluaran cairan. Akibat dehidrasi inilah yang membuat penyakit diare dapat mengakibatkan kematian.
Sawo manila (Achras zapota L.) merupakan tanaman yang banyak ditanam di pekarangan dan di kebun. Sawo manila merupakan tanaman yang telah secara luas digunakan sebagai obat mencret oleh masyarakat secara turun-tumurun. Bagian tanaman yang dimanfaatkan sebagai obat antidiare adalah bagian buah yang masih muda (Soedibyo, 1998).
Adanya keterangan empiris dari masyarakat tentang penggunaan buah sawo manila muda sebagai obat mencret dan tingginya kasus diare yang terjadi di dunia khususnya di Indonesia maka perlu dilakukan penelitian tentang efek antidiare dari infusa buah sawo manila yang masih muda dengan pengujian menggunakan metode proteksi terhadap diare oleh oleum ricini. Oleum ricini ini merupakan agen pembuat diare yang akan bekerja mengurangi absorpsi neto cairan dan elektrolit serta menstimulasi peristalsis usus (Anonim, 1991). Obat yang berkhasiat antidiare akan dapat melindungi hewan percobaan mencit terhadap diare yang diinduksi dengan oleum ricini tersebut (Anonim, 1991). Dalam metode ini akan dilihat parameter dari frekuensi diare, waktu terjadinya diare, jangka waktu berlangsungnya diare, konsistensi dan bobot feses yang cair.
Dengan adanya penelitian ini maka diharapkan buah sawo manila (Achras zapota L.) mempunyai efek antidiare pada mencit putih betina sehingga dapat menambah data penelitian dalam usaha pemakaian buah sawo manila (Achras zapota L.) sebagai obat antidiare pada manusia.
1. Permasalahan
a. apakah infusa buah sawo Manila (Achras zapota L.) segar mempunyai efek antidiare pada mencit putih betina dengan metode proteksi terhadap diare oleh oleum ricini?
b. berapakah dosis efektif antidiare infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar pada mencit putih betina?
Penelitian ini dibatasi hanya untuk menjawab apakah infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar mempunyai efek antidiare dan berapakah dosis efektif antidiare infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar pada mencit putih betina.
2. Keaslian penelitian
Sepengetahuan peneliti melalui penelusuran pustaka di Universitas Sanata Dharma, sampai saat ini belum ada penelitian tentang efek antidiare infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) muda pada mencit putih betina.
3. Manfaat penelitian
Dengan adanya penelitian tentang efek antidiare infusa buah Sawo Manila (Achras zapota L.) muda pada mencit putih betina ini, diharapkan akan memperoleh manfaat sebagai berikut :
a. manfaat teoritis : memberikan informasi tentang buah sawo manila (Achras zapota L.) muda sebagai alternatif pengobatan terhadap diare.
B. Tujuan
Penelitian tentang efek antidiare infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) muda ini mempunyai tujuan sebagai berikut :
1. Tujuan umum
Tujuan umum yang ingin dicapai penulis adalah membuktikan khasiat buah sawo manila (Achras zapota L.) sebagai antidiare sehingga dapat digunakan sebagai terapi efektif yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Tujuan khusus
5
BAB II
PENELAAHAN PUSTAKA
A. Obat Tradisional
Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, hewan dan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan (Anonim, 2000).
Pada dasarnya pemakaian obat tradisional mempunyai beberapa tujuan yang secara garis besarnya dapat dibagi dalam empat kelompok :
1. Untuk memelihara kesehatan dan menjaga kebugaran jasmani (promotif) 2. Untuk mencegah penyakit (preventif)
3. Sebagai upaya pengobatan penyakit baik untuk pengobatan sendiri maupun untuk mengobati orang lain sebagai upaya mengganti atau mendampingi penggunaan obat jadi (kuratif)
4. Untuk memulihkan kesehatan (rehabilitatif) (Anonim, 2000)
Penggunaan obat tradisional atau jamu di masyarakat merupakan suatu kenyataan yang empirik, untuk mencapai kesembuhan atau pemeliharaan dan meningkatkan taraf kesehatan serta diwariskan turun-temurun, bertahan lestari, dan tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat tanpa dibuktikan secara ilmiah (Anonim, 2000).
dapat pula dilakukan pengkajian dan pengujian manfaat dan keamanan, yang hasilnya dapat diinformasikan kembali kepada masyarakat (Anonim, 2000).
B. Sawo Manila (Achras zapota L.)
1 . Sist e m a t ik a t a n a m a n
Tanaman Achras zapota (L.) mempunyai urutan determinasi sebagai berikut :
Divisi : Spermatophyta. Sub divisi : Angiosperrnae Kelas : Dicotyledonae Bangsa : Ebenales Suku : Sapotaceae Marga : Achras
Jenis : Achras zapota L (Anonim, 2008a).
2. Nama latin :
Buah sawo mempunyai beberapa nama dalam bahasa latin yaitu Achras zapota L., Manilkara achras Mill. Fasberg., Manilkara zapota (L.) van Roy (Soedibyo, 1998).
3. Nama daerah :
Tanaman sawo ini mempunyai nama umum sawo manila namun Achras zapota L. ini juga mempunyai nama yang berbeda-beda di beberapa daerah. Berikut adalah nama Achras zapota di beberapa daerah di Indonesia :
Sumatera : Sawo manila (Melayu)
(Madeira)
Bali : Sabo jawa (Anonim, 2008a)
4. Nama Simplisia
Nama simplisia dari Achras zapota L. adalah buah sawo manila atau
Sapotae Fructus (Soedibyo, 1998).
5. Morfologi
Morfologi tanaman sawo adalah berupa pohon berbatang sedang, tinggi sampai 20 meter (Soedibyo, 1998). Batangnya keras, berkayu, bulat, bercabang, coklat kotor (Anonim, 2008a). Daun berbentuk bulat telur, tunggal, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, panjang 3-14 cm, lebar 3-5 cm. tangkai panjang ± 1,5 cm, hijau mengkilat. Bunga berwarna merah agak cokelat (Soedibyo, 1998), majemuk, di ketiak daun, menggantung, berkelamin dua, karangan bunga tiga sampai delapan, daun kelopak bulat, benang sari enam, putik menjulang ke luar, mahkota bentuk tabung, bertaju, kuning muda. Buah berbentuk bulat berkulit tipis, berdaging tebal, berair, dan berwarna coklat. Biji berbentuk pipih, keras, hitam atau coklat. Akarnya tunggang dan berwarna coklat (Anonim, 2008a). 6. Kandungan kimia
7. Khasiat dan kegunaan
Khasiat Achras zapota L adalah sebagai astringen. Buah sawo digunakan sebagai obat mencret, daunnya digunakan sebagai obat batu ginjal sedangkan kulit kayunya dapat digunakan sebagai obat malaria dan mencret (Soedibyo, 1998).
C. USUS
Gambar 1. Gambar usus halus dan usus besar (Anonim, 2009)
Usus halus merupakan tabung yang kira-kira dua setengah meter panjangnya dalam keadaan hidup. Usus halus dibagi dalam beberapa bagian, yaitu:
1. Duodenum adalah bagian pertama usus yang panjangnya 25 cm dari pilorus. 2. Jejunum merupakan 40% atas usus halus di bawah duodenum
Fungsi usus halus adalah untuk mencerna dan mengabsorpsi chyme dari lambung (Pearce, 1987).
Kontraksi usus halus dikoordinasi oleh gelombang lambat usus halus. Frekuensi gelombang lambat menurun dari sekitar 12 per menit di dalam jejunum ke sekitar 9 per menit dalam ileum (Ganong, 1995). Gerakan usus halus mencampur dan mengaduk isi usus (chyme) dan mendorongnya ke arah usus besar. Ada 2 jenis gerakan, yaitu:
1. Kontraksi segmentasi yang kontraksinya seperti cincin yang tampak pada interval cukup teratur sepanjang usus, kemudian hilang dan digantikan oleh kelompok kontraksi cincin lain dalam segmen di antara kontraksi sebelumnya. Kontraksi ini menggerakkan chyme maju mundur dan meningkatkan pemaparannya ke permukaan mukosa usus (Ganong, 1995).
2. Gelombang peristaltik menggerakkan chyme sepanjang usus. Bila dinding usus diregangkan maka gelombang peristaltik terbentuk di belakang titik rangsang dan bergerak sepanjang usus ke arah rektum pada kecepatan bervariasi dari 2 sampai 25 cm per detik. Respon terhadap regangan ini dinamakan refleks myentericus. Gelombang peristaltik berbeda dalam intensitas dan jarak yang dijalani (Ganong, 1995).
D. Diare
1. Definisi
disebabkan oleh infeksi dengan bakteri seperti Escherichia coli, Shigella sp.,
Salmonella sp., Vibrio cholera, virus, amoeba seperti Entamoeba histolytica,
Giardia lamblia, dapat pula disebabkan oleh toksin bakteri seperti Staphylococcus aureus, Clostridium welchii yang mencemari makanan. Sedang diare kronik mungkin berkaitan dengan berbagai gangguan gastrointestinal. Ada pula diare yang berlatar belakang kelainan psikosomatik, alergi oleh makanan atau obat-obat tertentu, kelainan pada sistem endokrin dan metabolisme, kekurangan vitamin dan sebagai akibat radiasi (Anonim, 1991).
Menurut WHO Guidelines on Treatment of Diarrhea (2005), tipe diare dibedakan menjadi 4 jenis, yaitu:
a. Diare akut berair (termasuk kolera) b. Diare akut berdarah (disentri)
c. Persistent diarrhea (berlangsung 14 hari atau lebih)
d. Diare dengan malnutrisi yang berat (Marasmus atau Kwashiorkor) (Anonim, 2005)
WGO Practice Guideline: Acute Diarrhea (2008c) mengklasifikasikan diare menjadi 3 kategori berdasarkan peristiwa diare yang terjadi, yaitu sebagai berikut:
a. Diare akut : suatu keadaan defekasi 3 kali atau lebih dengan feses yang berair atau encer dalam waktu 24 jam.
b. Disentri : diare dengan disertai adanya darah dan terdapat lendir.
2. Epidemiologi
Penyakit diare akut lebih sering terjadi pada bayi daripada pada anak yang lebih besar. Kejadian diare akut pada anak laki-laki hampir sama dengan anak perempuan. Penyakit ini ditularkan lewat fecal-oral melalui makanan dan minuman yang tercemar. Di negara yang sedang berkembang, prevalensi yang tinggi dari penyakit diare merupakan kombinasi dari sumber air yang tercemar, kekurangan protein dan kalori yang menyebabkan turunnya daya tahan badan (Suharyono, 1991).
Angka kejadian diare nasional pada tahun 2006 sebesar 423 per 1.000 penduduk pada semua umur (hasil survei Subdit Diare, Ditjen PP dan PL Depkes). SKRT (Survei Kesehatan Rumah Tangga) tahun 2001 menyebutkan angka kematian diare pada balita sebesar 75,3 per 100.000 balita, sementara angka kematian diare untuk semua umur sebesar 23,2 per 100.000 penduduk (Anonim, 2008b).
3. Patofisiologi
Empat mekanisme umum patofisiologi yang mengganggu keseimbangan air dan elektrolit, yang menyebabkan diare dan merupakan dasar diagnosis dan terapi adalah
a. Perubahan transpor aktif ion baik karena menurunnya absorpsi natrium dan meningkatnya sekresi klorida
b. Perubahan pada motilitas usus c. Meningkatnya osmolaritas luminal
Mekanisme ini yang kemudian dihubungkan pada empat kelompok klinis diare secara luas, yaitu sekretorik, osmotik, eksudatif dan perubahan transit intestinal (DiPiro, 2005).
Diare sekretorik terjadi ketika terdapat senyawa yang merangsang peningkatan sekresi atau penurunan absorpsi sejumlah besar air dan elektrolit. Senyawa-senyawa yang dapat menyebabkan sekresi yang berlebihan meliputi
vasoactive intestinal peptide (VIP), lemak makanan yang tidak dapat diabsorpsi, laksatif, hormon (seperti sekretin), toksin bakteri dan kelebihan garam empedu. Secara klinis, diare sekretorik dikenali dengan volume feses yang besar (>1 L per hari). Berpuasa tidak mengubah volume feses yang dihasilkan oleh penderita (DiPiro, 2005).
Senyawa-senyawa yang diabsorpsi dengan buruk akan menahan cairan intestinal dan akan menyebabkan diare osmotik. Hal ini terjadi karena adanya sindrom malabsorpsi, lactose intolerance, pemberian ion-ion divalen (magnesium pada antasida) atau konsumsi karbohidrat yang sukar larut (laktulosa). Secara klinis, diare osmotik berbeda dari diare tipe lain karena diare osmotik akan berhenti bila penderita dalam keadaan berpuasa (DiPiro, 2005).
Perubahan motilitas intestinal menghasilkan diare dengan tiga mekanisme, yaitu mengurangi waktu kontak dalam usus kecil, pengosongan kolon sebelum waktunya dan pertumbuhan bakteri yang berlebihan. Chyme harus dipaparkan pada epitel usus selama periode waktu yang cukup agar proses absorpsi dan sekresi yang normal dapat terjadi. Jika waktu kontak dikurangi, terjadi diare. Di sisi lain bila waktu pemaparan meningkat menyebabkan pertumbuhan bakteri yang berlebihan (DiPiro, 2005).
4. Gejala dan tanda
Mula-mula bayi atau anak menjadi cengeng, gelisah, suhu badan mungkin meningkat, napsu makan bisa berkurang atau tidak kemudian timbul diare. Tinja makin cair, mungkin mengandung darah dan lendir, warna tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena tercampur empedu. Karena seringnya defekasi, anus dan sekitarnya lecet karena itu tinja makin lama makin menjadi asam akibat banyaknya asam laktat, yang terjadi dari pemecahan laktosa yang tidak dapat diabsorpsi oleh usus (Suharyono, 1991).
Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare. Bila penderita telah banyak kehilangan air dan elektrolit terjadilah gejala dehidrasi. Berat badan turun, pada bayi ubun-ubun besar cekung, tonus dan turgor kulit berkurang, selaput lendir mulut dan bibir terlihat kering (Suharyono, 1991).
disebutkan bahwa gejala yang dialami oleh penderita dapat dihubungkan untuk mengetahui penyebab terjadinya diare.
Tabel I. Hubungan antara gejala yang timbul dan penyebab diare (Anonim, 2008c)
Gejala Penyebab Diare
Demam • Umumnya dihubungkan dengan invansi patogen Feses terdapat
darah
• Invansi patogen dan sitotoksin yang dilepaskan patogen
• Penderita infeksi Enterohemorrhagic Escherichia (E.)
coli (EHEC)
• Tidak dengan agen virus dan enterotoksin yang melepaskan bakteri
Muntah • Sering kali pada diare karena virus dan rasa sakit disebabkan karena proses pencernaan dari toksin bakteri (contoh Staphylococcus aureus)
5. Penatalaksanaan Terapi
Diare yang berkepanjangan sangat melemahkan penderitanya karena tubuhnya kehilangan banyak energi, cairan dan elektrolit tubuh, sehingga memerlukan terapi pengganti dengan cairan dan elektrolit serta kalori, obat antibakteri atau antiamoeba tergantung dari penyebab diare, maupun obat-obat lain yang bekerja memperlambat peristaltik usus, menghilangkan spasme dan nyeri, atau menenangkan (Anonim, 1991).
Penatalaksanaan diare akut (tanpa darah) dalam pengobatannya mempunyai sasaran sebagai berikut:
a. Mencegah dehidrasi
b. Mengobati dehidrasi jika terjadi c. Mencegah malnutrisi
Dengan demikian, maka secara umum pengobatan untuk penyakit diare bertujuan untuk memberikan cairan dan makanan. Sedangkan pemberian medikamentosa hanya untuk kasus-kasus tertentu yang telah jelas penyebabnya (Anonim, 1988).
Terapi rumahan untuk mencegah dehidrasi dan malnutrisi adalah pada anak yang tidak memberikan tanda-tanda dehidrasi diperlukan tambahan cairan dan garam untuk mengganti kehilangan air dan elektrolit akibat diare. Cairan-cairan yang diberikan adalah
a. ORS (Oral Rehydration Solution)
b. Minuman-minuman bergaram seperti air beras bergaram atau minuman yogurt bergaram
c. Sup sayur atau sup ayam dengan garam
d. ORS buatan sendiri : 3 gram garam dan 18 gram gula dalam 1 liter air
Air putih harus juga tetap diberikan. Minuman berkarbonasi, jus buah, teh manis, kopi, teh obat harus dihindari (Anonim, 2005).
tanda-tanda klinik spesifik seperti misalnya feses disertai lendir, darah atau panas. Untuk diare-diare jenis ini jelas dibutuhkan pengobatan spesifik (antimikroba) selain pemberian cairan dan makanan (Anonim, 1991).
Sebenarnya diare akut non-spesifik dapat diatasi hanya dengan pemasukan air dan elektrolit untuk mencegah dehidrasi. Namun apabila diare tersebut dirasakan mengganggu, misalnya menghalangi aktivitas, maka obat-obat tertentu kadang-kadang dianggap perlu. Salah satu obat yang mungkin dapat menolong keadaan ini adalah senyawa-senyawa yang dapat menghentikan atau mengurangi diare (antidiare). Jenis obat ini beragam mekanisme kerjanya, antara lain untuk mengurangi motilitas misalnya spasmolitika, obat-obat yang bekerja intra-lumen misalnya dengan menyerap air, adsorben, bahan berserat, bahan pembentuk massa, dan lain-lain (Anonim, 1991).
E. Antidiare
Kelompok obat yang sering kali digunakan pada diare adalah :
1. Kemoterapeutika untuk terapi kausal yaitu memberantas bakteri penyebab diare seperti antibiotik, sulfonamida, kinolon, dan furazolidon (Tjay dan Rahardja, 2002).
2. Obstipansia untuk terapi simtomatis, yang dapat menghentikan diare dengan cara:
a. Zat-zat penekan peristaltik sehingga memberikan lebih banyak waktu untuk resorpsi air dan elektrolit oleh mukosa usus. Contohnya candu dan alkaloidnya, derivat-derivat petidin (difenoksilat dan loperamid) dan antikolinergika (atropin, ekstrak belladona) (Tjay dan Rahardja, 2002).
b. Adstringensia yang mengecilkan selaput lendir usus, misalnya asam samak (tanin) dan tannalbumin, garam-garam bismut dan aluminium (Tjay dan Rahardja, 2002).
c. Adsorbensia, misalnya carbo adsorbens yang pada permukaannya dapat menyerap zat-zat beracun (toksin) yang dihasilkan bakteri atau kadangkala dari makanan (udang, ikan), mucilagines yang merupakan zat-zat lendir yang menutupi selaput lendir usus dan luka-lukanya dengan suatu lapisan pelindung misalnya kaolin, pektin dan garam-garam bismut serta aluminium (Tjay dan Rahardja, 2002).
Antidiare tidak mempunyai keuntungan yang berguna untuk anak-anak yang menderita diare akut dan kronis. Antiemetik biasanya tidak diperlukan untuk pengobatan diare akut. Pengobatan diare nonspesifik menggunakan obat-obat sebagai berikut:
1. Antimotility
a. Loperamid merupakan pilihan sebagai antimotility untuk orang dewasa (4-6mg/hari untuk dewasa, 2-4mg/hari untuk anak-anak di atas 8 tahun, tidak direkomendasikan untuk anak-anak di bawah 2 tahun)
b. Menghambat peristaltik usus dan mempunyai sifat antisekresi yang rendah c. Dihindari untuk diare dengan feses terdapat darah (Anonim, 2008c) 2. Agen antisekresi
a. Bismuth subsalisilat dapat mengurangi pengeluaran feses pada anak-anak atau gejala-gejala diare seperti mual, sakit perut pada diare traveller.
b. Racecadotril, sekarang diijinkan beredar di dunia untuk digunakan pada anak-anak, karena racecadotril telah ditemukan berguna untuk anak-anak yang diare namun tidak untuk orang dewasa yang terkena kolera (Anonim, 2008c). 3. Absorben
a. Kaolin-pektin, karbon aktif, attapulgite
b. Tak cukup membuktikan efikasi pada orang dewasa yang terkena diare akut (Anonim, 2008c)
4. Antimikroba
darah, penderita kolera dengan dehidrasi yang parah dan infeksi serius nonintestinal (contohnya radang paru-paru). Obat-obat antiprotozoa dapat lebih efektif untuk diare pada anak-anak, khususnya Giardia, Entamoeba histolytica
dan Cryptosporidium dengan nitazoxanid (Anonim, 2008c).
Untuk orang dewasa, keuntungan klinis dipertimbangkan terhadap harga, resiko efek samping, bahaya terhadap flora normal usus yang ikut terbasmi, induksi produksi toksin Shiga, dan peningkatan resistensi antimikroba. Antimikroba dianggap sebagai obat-obat pilihan untuk pengobatan empiris diare
traveller dan diare yang disebabkan oleh patogen yang telah diketahui (Anonim, 2008c).
E. Metode Uji Antidiare
1. Metode transit intestinal
Metode transit intestinal dapat digunakan untuk mengevaluasi aktivitas obat diare, laksansia, antispasmodik, berdasarkan pengaruhnya pada rasio jarak usus yang ditempuh oleh marker dalam waktu tertentu terhadap panjang usus keseluruhan pada hewan percobaan mencit atau tikus. Obat antidiare akan memperkecil rasio sedangkan obat laksansia dan obat antispasmodik akan memperbesar rasio ini dibandingkan rasio pada hewan tanpa perlakuan (Anonim, 1991).
2. Metode proteksi terhadap diare oleh oleum ricini
absorpsi neto cairan dan elektrolit serta menstimulasi peristaltik usus, sehingga berkhasiat sebagai laksansia berdasarkan kerja ini. Obat yang berkhasiat antidiare akan dapat melindungi hewan percobaan mencit terhadap diare yang diinduksi dengan oleum ricini (Anonim, 1991).
F. Tanin
1. Pengertian
Tanin terdiri dari kelompok besar senyawa kompleks yang secara luas terdistribusi di berbagai tanaman. Ketika tanin terdapat dalam jumlah yang cukup besar, biasanya akan terlokalisasi pada bagian tertentu pada tanaman seperti daun, buah, kulit kayu dan batang. Secara kimia, tanin adalah senyawa komplek yang terdapat sebagai campuran polifenol yang sulit dipisahkan karena tidak mengkristal (Robbers, 1996).
Tanin mengendapkan protein membentuk larutan dan dapat berkombinasi dengan protein, membuat menjadi resisten terhadap enzim proteolitik. Ketika diaplikasikan pada jaringan hidup, aksi ini diketahui sebagai astringen (Robbers, 1996).
Secara kimia, tanin tumbuhan dibagi menjadi dua golongan, yaitu tanin yang dapat dihidrolisis dan tanin terkondensasi.
cokelat kuning yang larut dalam air (terutama air panas) membentuk larutan koloid. Tanin ini larut pula dalam pelarut organik yang polar sampai batas tertentu, tetapi tidak larut dalam pelarut organik nonpolar seperti benzen atau kloroform (Robinson, 1995).
b. Tanin terkondensasi atau sering disebut proantosianidin karena bila diberi perlakuan dengan asam panas beberapa ikatan karbon terputus dan menghasilkan monomer antosianidin. Pada dasarnya, tanin ini hanya terdiri dari inti fenolik tapi seringkali berikatan dengan karbohidrat atau protein (Robbers, 1996).
2. Indikasi untuk tanin
a. inflamasi pada saluran pencernaan atas
b. diare yang diikuti dengan inflamasi pada gastrointestinal
c. secara topikal : luka terbuka, hemorrhoid (Mills and Kerry, 2000) 3. Kontraindikasi untuk tanin
a. konstipasi
b. anemia kekurangan zat besi c. malnutrisi (Mills and Kerry, 2000) 4. Aplikasi
G. Infusa
Infusa adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia dengan air pada suhu 90 ºC selama 15 menit. Infundasi adalah proses penyarian yang umumnya digunakan untuk menyari zat kandungan aktif yang larut dalam air dari bahan-bahan nabati. Penyarian dengan cara ini menghasilkan sari yang tidak stabil dan mudah tercemar oleh kuman dan kapang. Oleh sebab itu sari yang diperoleh dengan cara ini tidak boleh disimpan lebih dari 24 jam (Anonim, 1986).
Pembuatan infusa dilakukan dengan mencampurkan simplisia dengan derajad halus yang sesuai dalam panci dengan air secukupnya, panaskan di atas tangas air selama 15 menit terhitung mulai suhu mencapai 90 ºC sambil sekali-sekali diaduk. Serkai selagi panas melalui kain flanel, tambahkan air panas secukupnya melalui ampas sehingga diperoleh volume infus yang dikehendaki (Anonim, 1995).
H. Loperamid HCl
Loperamid adalah suatu antidiare sintetis yang mempunyai struktur mirip haloperidol, tetapi tidak menimbulkan aktivitas opiat. Loperamid bekerja dengan beraksi langsung pada otot-otot usus menghambat peristaltik dan memperpanjang waktu transit, mempengaruhi perpindahan air dan elektrolit melalui mukosa usus, mengurangi volume fecal, menaikkan viskositas dan mencegah kehilangan air dan elektrolit (Anonim, 2006).
1. Kimia
Nama kimia : 4-(4-Chlorophenyl)-4-hydroxy-N,N-dimethyl-α,α
diphenyl-1-piperidinebutanamide hydrochloride.
Rumus kimia : C29H33ClN2O2.HCl
Bobot molekul : 513,5
pKa : 8,7
Koefisien partisi : tinggi
Kelarutan : Loperamid mudah larut dalam metanol, dalam isopropil alkohol dan dalam kloroform; sukar larut dalam air dan dalam asam encer (Anonim,1995), kelarutan dalam alkohol (1:10) dan kelarutan dalam air (1:50.000) (Dollery, 1999)
2. Farmakologi
Loperamid menghambat aktivitas peristaltik otot pada usus dengan mekanisme kolinergik dan non-kolinergik neuronal yang bertanggungjawab untuk menghasilkan peristaltik secara refleks. Loperamid berikatan pada reseptor opiat µ dalam dinding usus, mengurangi dorongan peristaltik, meningkatkan waktu transit dalam usus, menghambat sekresi elektrolit dan cairan dalam usus. Loperamid tidak mempengaruhi flora usus dan tidak mempunyai efek analgesik. Efek loperamid cepat, bertahan lama dan lebih selektif untuk usus (Dollery, 1999).
neuronal myenteric plexus sehingga kontraksi otot polos yang diinduksi oleh tekanan, prostaglandin, derivat asam lemak dan stimulan yang lain dihambat (Dollery, 1999).
3. Farmakokinetik
Loperamid mempunyai onset aksi pada menit ke-30 sampai menit ke- 60 dan mempunyai waktu durasi 4 sampai 6 jam. Absorpsi oleh gastrointestinal ± 40% dengan ikatan protein 97%. Sedangkan waktu yang diperlukan loperamid untuk mencapai kadar puncak adalah 5 jam apabila dalam bentuk sediaan kapsul, dan 2,5 jam apabila dalam bentuk sediaan cair. Loperamid mempunyai waktu paro 7 – 14 jam (Anonim, 2006b).
Metabolisme loperamid di hepar, sebanyak lebih dari 50% menjadi komponen inaktif. Sedangkan proses eliminasi loperamid melalui feses dan urin (ekskresi metabolit 1% dan obat tidak berubah 30 – 40%) (Anonim, 2006b).
4. Penggunaan
a. Indikasi :
Loperamid merupakan obat untuk diare akut dan kronik yang berhubungan dengan penyakit inflamasi usus, diare fungsional kronik (idiopatik), diare traveller.
b. Dosis :
Dosis dewasa dan geriatrik :
2). Untuk diare kronik : dosis inisial 4 mg kemudian 2 mg setiap kali setelah berak sampai maksimal 16mg/hari, kemudian dilanjutkan dosis individual, dosis pemeliharaan umum 4 – 8 mg/hari dalam dosis tunggal atau terbagi. Jika tidak terdapat kemajuan klinik setelah terapi dengan 16 mg/hari selama sedikitnya 10 hari, maka gejala harus dikontrol untuk penggunaan lebih lanjut.
Dosis pediatrik :
1). Usia 2 tahun : keamanan dan efikasi belum dipastikan
2). Untuk diare akut : dosis inisial untuk 24 jam pertama (2-6 tahun) 1 mg 3 kali sehari, (6-8 tahun) 2 mg 2 kali sehari, (8-12 tahun) 2 mg 3 kali sehari; dosis pemeliharaan 0,1 mg/kg setiap kali setelah berak, tetapi tidak boleh melebihi dosis inisial.
3). Untuk diare traveller akut : untuk 2-5 tahun tidak direkomendasikan, 6-8 tahun dosis inisial 1 mg dilanjutkan 1 mg setiap kali setelah berak sampai dengan maksimal 4 mg/hari selama 2 hari, 9-11 tahun dosis inisial 2 mg dilanjutkan 2 mg setiap kali setelah berak sampai maksimal 6 mg/hari selama 2 hari.
4). Untuk diare kronik : 0,08-0,24 mg/kg/hari terbagi dalam 2-3 kali pemberian per hari, maksimal 2 mg per dosis.
c. Kontraindikasi :
I. Landasan Teori
Diare merupakan suatu keadaan buang air besar dengan konsistensi feses cair atau lembek sedikitnya 3 kali dalam waktu 24 jam. Secara umum diare dapat terjadi karena meningkatnya motilitas usus dan gangguan absorpsi sehingga menyebabkan feses menjadi cair atau lembek.
Tanin merupakan salah satu senyawa yang terdapat dalam tumbuhan yang berfungsi sebagai adstringen yang dapat mengecilkan selaput lendir usus sehingga dapat membantu meringankan diare. Tanin dibedakan menjadi 2 yaitu tanin yang dapat dihidrolisis dan tanin terkondensasi. Kedua jenis tanin tersebut secara luas terdistribusi di alam. Semua kelompok tanin yang dapat dihidrolisis dan sebagian besar kelompok tanin terkondensasi dapat larut dalam air.
Buah sawo manila (Achras zapota L.) yang masih muda mempunyai kandungan tanin. Dengan adanya kandungan tanin dalam buah sawo manila yang masih muda diduga bahwa infusa buah sawo manila yang masih muda mempunyai aktivitas sebagai antidiare.
J. Hipotesis
27
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Rancangan Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental murni. Jenis penelitian yang akan dilakukan adalah eksperimental karena prosedur penelitian yang akan dilakukan bertujuan untuk mengetahui hubungan sebab akibat dua variabel atau lebih dengan cara mengendalikan pengaruh variabel yang lain. Jenis penelitian eksperimental ini dilakukan dengan memberikan variabel bebas secara sengaja (bersifat induce) kepada obyek penelitian untuk diketahui akibatnya di dalam variabel terkait. Berdasarkan cara pelaksanaannya, penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental murni karena di dalam penelitian ini perlakuannya sengaja dibuat untuk dikenakan pada subyek penelitian. Dengan kata lain kondisi subyek penelitian sengaja diubah dengan memberi perlakuan tertentu dan mengkontrol variabel lainnya secara cermat selama jangka waktu tertentu (Nawawi, 2007).
B. Variabel dan Definisi Operasional
1. Variabel utama
Penelitian ini mempunyai variabel utama sebagai berikut :
a. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kadar infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar.
b. Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah aktivitas antidiare yang ditunjukkan oleh buah sawo manila (Achras zapota L.) dengan parameter yang diamati meliputi waktu pertama kali terjadinya diare, frekuensi diare, konsistensi feses dan jumlah atau bobot feses serta jangka waktu berlangsungnya diare.
2. Variabel pengacau terkendali
a. Jenis sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar.
b. Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah hewan uji mencit dengan ketentuan sebagai berikut :
Jenis kelamin : betina
Berat badan : kurang lebih 20 – 30 gram Umur : 2 – 3 bulan
c. Total lama perlakuan terhadap hewan uji dalam penelitian ini adalah 5 jam. d. Cara pemberian dalam penelitian ini adalah cara pemberian per oral. Dipilih
e. Volume pemberian yang berikan dalam penelitian ini maksimal 1,0 ml dalam setiap pemberian.
3. Variabel pengacau tak terkendali
Variabel pengacau tak terkendali dalam penelitian ini adalah keadaan patologi subyek uji. Diharapkan dalam penelitian ini keadaan patologi subyek uji dalam keadaan sehat, namun keadaan sehat subyek uji tidak dapat diamati sepenuhnya oleh peneliti.
4. Definisi operasional
a. Waktu pertama kali terjadinya diare adalah waktu yang dicatat ketika feses yang mempunyai konsistensi lembek atau encer dihasilkan mencit untuk pertama kalinya selama selang waktu pengamatan, satuannya dalam menit. b. Frekuensi terjadinya diare adalah jumlah defekasi yang menghasilkan feses
dengan konsistensi lembek atau encer yang dihitung selama selang waktu pengamatan.
c. Konsistensi feses adalah kondisi atau wujud feses yang dihasilkan, dalam penelitian ini konsistensi feses dibedakan menjadi 3 kategori yaitu normal/padat, lembek dan cair.
d. Jumlah atau bobot feses adalah jumlah kumulatif bobot atau massa feses yang dihasilkan oleh mencit selama selang waktu pengamatan, satuan dalam gram. e. Jangka waktu terjadinya diare adalah waktu dari pertama kali mencit
C. Bahan Penelitian
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu :
1. Bahan utama
a. Bahan uji yang digunakan adalah buah sawo manila (Achras zapota L.) muda segar. Sampel diambil di Bambanglipuro, Bantul Yogyakarta. Buah sawo manila (Achras zapota L.) yang diambil adalah buah yang masih muda dengan berukuran diameter 3-5 cm, berumur lebih kurang 2-4 minggu setelah berbuah.
b. Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah mencit putih betina dewasa sehat, berumur 2-3 bulan dengan berat badan 20 – 30 gram sebanyak 10 ekor setiap kelompok uji.
2. Bahan kimia
a. Loperamid diperoleh dari Apotek Master dengan merek dagang Imodium® produksi PT Jassen-Cilag
b. Oleum ricini diperoleh dari Laboratorium Farmakologi-Toksikologi Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
c. Aquades diperoleh dari Laboratorium Farmakologi-Toksikologi Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
D. Instrumen atau Alat Penelitian
Instrumen atau alat yang digunakan meliputi : 1. Kandang mencit
2. Kotak kaca 3. Stopwatch
4. Timbangan mencit merk Metller PM 600 5. Kertas HVS
6. Timbangan analitik merk Metller AE 200 7. Spuit per oral
8. Peralatan pembuat infus 9. Kompor listrik
10. Termometer 11. Kain flanel 12. Parut
13. Alat-alat gelas, meliputi : labu ukur, beaker glass, pengaduk
E. Tata Cara Penelitian
1. Pengumpulan sampel
2. Determinasi tumbuhan obat
Determinasi tanaman sawo manila (Achras zapota L.) dilakukan dengan mencocokkan deskripsi tanaman sawo manila (Achras zapota L.) yang terdapat dalam buku Flora (Steenis, 1992).
3. Percobaan pendahuluan
a. Penentuan dosis infusa buah sawo manila.
Berdasarkan penggunaan secara empiris di masyarakat, apabila digunakan sebagai obat mencret buah sawo manila (Achras zapota L.) yang masih muda, diperlukan 1 buah sawo manila yang masih muda dengan bobot lebih kurang 55,3358 gram buah segar. Sehingga sekali minum untuk digunakan sebagai obat mencret menggunakan 55,3358 gram buah sawo manila (Achras zapota L.) muda untuk orang Indonesia yang mempunyai berat badan rata-rata 50 kilogram. Untuk dosis konversi menggunakan pedoman orang dewasa Eropa yang mempunyai berat badan rata-rata 70 kilogram untuk sekali minum berlaku perhitungan sebagai berikut:
70 kg
50 kg 55,3358 gram 7,4701gram 70kgBB
Faktor konversi dosis dari manusia 70 kilogram ke mencit 20 gram adalah 0,0026 (Laurence dan Bacarach, 1964), sehingga untuk sekali minum untuk mencit 20 gram adalah:
0,0026 x 77,47012 gram = 0,2014 g/20kgBB
Sehingga dosis infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar pada mencit:
1000
Dosis hasil konversi yang didapat tersebut dijadikan sebagai dosis tengah yang kemudian dibuat peringkat dosis dengan dosis tinggi yaitu 2 kali dosis tengah dan dosis rendah yang merupakan setengah dosis tengah. Sehingga dosis infusa buah sawo manila segar yang digunakan adalah 5,035 g/kgBB, 10,07 g/kgBB dan 20,14 g/kgBB.
b. Pembuatan infusa buah sawo manila muda.
Sejumlah buah sawo manila segar diparut kemudian ditimbang untuk 3 peringkat dosis. Perhitungan berat buah sawo manila yang ditimbang dan konsentrasi larutan infusa yang akan dibuat ada pada lampiran.Buah sawo manila (Achras zapota L.) segar yang telah diparut dan telah ditimbang sesuai dengan dosis dan konsentrasi yang akan dibuat kemudian dibuat infusa dengan cara mencampur dengan aquades secukupnya dalam panci infusa, panaskan di atas tangas air selama 15 menit terhitung mulai suhu mencapai 90˚C sambil sekali-sekali diaduk. Serkai selagi panas melalui kain flanel, tambahkan air panas secukupnya melalui ampas hingga memperoleh volume infus yang dikehendaki (Anonim, 1979).
c. Penentuan dosis loperamid.
Dosis terapi loperamid untuk orang dewasa Indonesia dengan berat badan rata-rata 50 kilogram adalah 2 tablet untuk sekali minum, dimana dalam 1 tablet mengandung 2 mg loperamid. Sehingga dalam sekali minum menggunakan 4 mg loperamid. Untuk orang dewasa Eropa dengan berat badan rata-rata 70 kilogram, loperamid yang digunakan sebesar:
70 kg
Faktor konversi dosis dari manusia 70 kilogram ke mencit 20 gram adalah 0,0026, maka loperamid yang diperlukan untuk mencit 20 gram sebesar:
0,0026 x 5,6 mg = 0,01456 mg/20 gBB
Dosis loperamid yang diberikan pada mencit sebesar:
1000
20 0,01456 mg 20g BB 0,728 mg/kgBB
d. Pembuatan larutan CMC Na 1%.
Pembuatan larutan CMC Na dilakukan dengan menimbang 1 gram serbuk CMC Na, kemudian campurkan serbuk ke dalam 50 ml aquades dalam beker, karena serbuk CMC Na tidak dapat larut dengan cepat dalam aquades maka campuran serbuk dan aquades tersebut didiamkan hingga seluruh serbuk CMC Na telah terbasahi aquades dengan sempurna. Kemudian masukkan campuran tersebut dalam labu ukur 100 ml, tambahkan aquades hingga tanda.
e. Pembuatan suspensi loperamid.
Untuk pembuatan suspensi loperamid dilakukan terlebih dahulu perhitungan konsentrasi suspensi loperamid yang akan dibuat. Dosis loperamid yang diberikan ke mencit 20 gram sebesar 0,728mg/kgBB. Maka loperamid dibuat dengan konsentrasi :
C 0,728 mg kgBB 0,020 kg0,5 ml 0,02912 mg ml 1,456mg 50 ml
Dalam 1 tablet mengandung 2 mg loperamid, maka bobot tablet loperamid yang digunakan sebesar :
1,456 mg
Bobot penimbangan 10 tablet loperamid adalah 1,0222 gram. Sepuluh tablet loperamid tersebut digerus dalam mortir, kemudian timbang sebanyak 0,0744 gram dan dilarutkan dengan larutan CMC Na 1% dalam labu ukur 50 ml.
3. Penentuan efek antidiare
Mencit dikelompokkan secara acak menjadi 6 kelompok, yaitu kelompok kontrol yang diberi aquades, 3 kelompok yang diberi infusa buah sawo manila dengan 3 peringkat dosis dan kelompok yang diberi pembanding loperamid HCI serta kelompok perlakuan CMC Na. Masing-masing kelompok terdiri atas 10 ekor mencit. Satu jam sebelum percobaan dimulai mencit dipuasakan.
Sesuai dengan alokasi perlakuan, tiap mencit diberi secara per oral 0,5 ml per 20 gBB infusa buah sawo manila dengan 3 peringkat dosis, loperamid HCI untuk kelompok pembanding dan aquades untuk kontrol negatif, setiap mencit kemudian ditempatkan dalam bejana individual beralaskan kertas HVS untuk pengamatan. Satu jam setelah perlakuan di atas, semua mencit diberi per oral 0,5 ml per 20 gBB oleum Ricini.
4
4. Skema K
Data ber konsiste statistik Paramet konsistens Respons jam, kem Set Masing-m Kontol positif : loperamid 0,728mg/kg BB Mencit s Kerja
rupa waktu t ensi dan bobo k dengan met
diare er yang diam si dan jumlah s yang terjad mudian selang telah 1 jam. masing menc
Perlakuan CMC Na
1% secara acak d
mas M
Gambar 2. S terjadinya di
ot feses kem tode anova d dapat diuji d mati meliput
h/bobot fese di pada tiap m
g 1 jam samp semua menc cit ditempatk kerta Kontol negatif : aquades 0,5ml/20gB dikelompokn sing kelompo Mencit dipu Skema kerja are, jangka w mudian dieva
dan uji t seda dengan uji no i waktu terja s serta jangk mencit diama
pai 4 jam set cit diberi ole kan pada bej as HVS putih
BB Pelaku infusa b sawo ma dosis 5,035g/k nya menjadi ok terdiri da asakan selam a penelitian waktu berlan aluasi masin angkan untu on-parametr adinya diare, ka waktu ber ati selang 30 telah pember um ricini 0,5 ana terpisah h uan uah anila s kgBB Pelak infusa sawo m do 10,07g 6 kelompok ari 10 mencit
ma 1 jam
ngsungnya d ng-masing se uk data freku
rik
, frekuensi d rlangsungny 0 menit samp
rian oleurn R 5ml/20gBB h yang dialas
kuan a buah manila sis g/kgBB Pel infu sawo d 20,14
sing-F. Tata cara Analisis Hasil
Data yang dihasilkan dari pengamatan berupa waktu terjadinya diare, jangka waktu berlangsungnya diare, konsistensi dan bobot feses serta frekuensi diare. Data berupa waktu terjadinya diare, jangka waktu berlangsungnya diare, konsistensi feses dan frekuensi diare kemudian dievaluasi masing-masing secara statistik dengan metode Kruskal Wallis dilanjutkan dengan uji Mann Whitney
38
BAB IV
HASIL DAN DAN PEMBAHASAN
A. Determinasi
Determinasi merupakan suatu proses membandingkan suatu tumbuhan dengan satu tumbuhan lain yang sudah dikenal sebelumnya (dicocokkan atau dipersamakan). Karena di dunia ini tidak ada dua benda yang identik atau persis sama, maka istilah determinasi (Inggris to determine = menentukan, memastikan) dianggap lebih tepat daripada istilah identifikasi (Inggris to identify = mempersamakan) (Rifai, 1976). Sehingga tujuan dilakukannya determinasi dalam penelitian ini adalah agar tidak terjadi kesalahan dalam pengambilan sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini.
Determinasi dilakukan di laboratorium Farmakognosi-Fitokimia Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dengan cara melihat ciri-ciri morfologis tanaman sawo manila dan kemudian determinasi dilakukan dengan menggunakan buku Flora (Steenis, 1992). Kunci determinasi tanaman sawo manila adalah sebagai berikut:
1b – 2b – 3b – 4b – 6b – 7b – 9b – 10b – 11b – 12b – 13b – 14a – 15a – 109b – 119b – 120a – 121b – 124b – 125a – 126b – 127a
102………Sapotaceae 1a……….………....Achras
1………..Achras zapota L.
B. Penetapan Efek Antidiare
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode proteksi terhadap diare oleh oleum ricini. Penetapan efek antidiare dalam penelitian ini menggunakan metode proteksi terhadap diare oleh oleum ricini karena dalam metode ini parameter pengamatan yang dilakukan lebih beragam dan lebih spesifik dalam menentukan apakah senyawa uji yang sedang diteliti mempunyai kemampuan sebagai antidiare atau tidak. Oleum ricini dalam penelitian ini merupakan agen penginduksi diare karena kandungan utama dari oleum ricini ini merupakan trigliserida dari asam risinoleat yang akan mengalami reaksi hidrolisis di dalam usus halus oleh adanya enzim lipase pankreas menjadi gliserin dan asam risinoleat. Sebagai surfaktan anionik, zat ini bekerja mengurangi absorpsi neto cairan dan elektrolit serta menstimulasi peristaltik usus. Obat yang berkhasiat sebagai antidiare akan dapat melindungi hewan percobaan (mencit) terhadap diare yang diinduksi dengan oleum ricini.
memperbaiki motilitas usus sehingga mencegah terjadinya penyerapan air berlebih ke usus. Hal ini juga menunjukkan bahwa senyawa uji mempunyai aktivitas sebagai antidiare.
1. Penentuan kontrol positif
Kontrol positif yang digunakan dalam penelitian ini adalah loperamid HCl. Kontrol positif merupakan pembanding berupa obat yang penggunaannya sebagai obat antidiare telah terbukti secara luas di masyarakat. Digunakannya loperamid HCl sebagai kontrol positif dalam penelitian ini karena loperamid HCl mempunyai mekanisme kerja dengan cara beraksi langsung pada otot-otot usus menghambat peristaltik dan memperpanjang waktu transit, mempengaruhi perpindahan air dan elektrolit melalui mukosa usus, mengurangi volume fecal, menaikkan viskositas dan mencegah kehilangan air dan elektrolit (Anonim, 2006), sehingga mekanisme kerja loperamid HCl ini sesuai dengan metode yang digunakan dalam penelitian ini. Penentuan dosis kontrol positif loperamid yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan pada dosis terapi loperamid dari pustaka.
2. Pengujian efek antidiare
makin singkat jangka waktu terjadinya diare bila dibandingkan dengan kontrol negatif maka suatu senyawa uji dapat dinyatakan mempunyai kemampuan sebagai antidiare.
Kontrol positif yang digunakan pada penelitian ini adalah loperamid HCl karena loperamid HCl merupakan obat antidiare yang telah digunakan secara luas oleh masyarakat, selain itu loperamid HCl juga mempunyai mekanisme kerja yang sesuai dengan prinsip kerja metode yang digunakan dalam penelitian ini. Sedangkan untuk kontrol negatif digunakan aquades karena aquades merupakan pelarut untuk sampel yang diujikan dalam penelitian ini. Diharapkan sebagai kontrol negatif, aquades tidak mempunyai kemampuan sebagai antidiare. Terdapat kelompok perlakuan mencit yang diberi larutan CMC Na 1% karena CMC Na 1% merupakan pelarut yang digunakan dalam pembuatan suspensi loperamid HCl.
Tabel II. Hasil pengamatan parameter frekuensi terjadinya diare (kali) Kelompok
x frekuensi diare (kali) ±
SE
Perbandingan dengan kontrol negatif (%)
Perbandingan dengan kontrol positif (%) I 7,8 ± 1,1624 -27,87
II 6,4 ± 0,5207 -17,95
III 6,1 ± 1,3452 -21,79
IV 3,6 ± 0,7775 40,98 -53,85
V 6,3 ± 0,9074 -3,28 -19,23
VI 0,56 ± 0,2940 90,98 - 92,94
Keterangan :
I :Kelompok kontrol positif dengan pemberian suspensi loperamid HCl dalam CMC Na 1%
II : Kelompok perlakuan CMC Na 1%
III : Kelompok kontrol negatif dengan pemberian aquades
IV : Kelompok perlakuan I dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 5,035 g/kgBB
V : Kelompok perlakuan II dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 10,07 g/kgBB
Dalam penelitian ini, parameter frekuensi diare diamati dengan cara menghitung jumlah defekasi mencit yang mengeluarkan feses cair dan lembek selama waktu pengamatan.
Gambar 3. Diagram batang rata-rata frekuensi diare
Dari diagram batang tersebut dapat dilihat bahwa kelompok yang diberi infusa buah sawo dengan dosis 5,035 g/kgBB dan dosis 20,14g/kgBB mempunyai rata-rata frekuensi diare yang lebih kecil dibandingkan dengan kelompok lainnya, sedangkan kelompok kontrol positif, kelompok perlakuan CMC Na 1%, kelompok kontrol negatif dan kelompok yang diberi infusa buah sawo dengan dosis 10,07 g/kgBB mempunyai rata-rata frekuensi diare yang relatif sama. Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan terhadap frekuensi terjadinya diare antar kelompok tersebut dilakukan uji statistika non parametrik
Kruskal-Wallis dengan taraf kepercayaan 95%.
Tabel III. Hasil uji statistika Kruskal-Wallis untuk parameter frekuensi diare
Parameter Derajad bebas Signifikan
Hasil uji statistika Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa nilai signifikan 0,000. Dari nilai signifikan tersebut terlihat bahwa nilainya kurang dari 0,05 (p<0,05). Angka signifikan yang menunjukkan kurang dari 0,05 (p<0,05) berarti bahwa terdapat perbedaan antar kelompok (kelompok kontrol positif, kelompok kontrol negatif, kelompok perlakuan I, II dan III). Untuk mengetahui kelompok mana yang mempunyai perbedaan secara signifikan maka dilakukan analisis post hoc menggunakan uji Mann-Whitney.
Tabel IV. Rangkuman hasil analisis uji Mann-Whitney untuk parameter frekuensi terjadinya diare
Kelompok I II III IV V VI
I tb tb bb tb bb
II tb
III tb tb tb bb
IV bb tb tb bb
V tb tb tb bb
VI bb bb bb bb
Keterangan:
tb : berbeda tidak bermakna (p > 0,025) bb : berbeda bermakna (p < 0,025)
I : Kelompok kontrol positif dengan pemberian suspensi loperamid HCl dalam CMC Na 1%
II : Kelompok perlakuan CMC Na 1%
III : Kelompok kontrol negatif dengan pemberian aquades
IV : Kelompok perlakuan I dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 5,035 g/kgBB
V : Kelompok perlakuan II dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 10,07 g/kgBB
VI : Kelompok perlakuan III dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 20,14 g/kgBB
manila segar dengan dosis 20,14 g/kgBB mempunyai frekuensi diare yang berbeda bermakna dengan kelompok lainnya.
Dari hasil pengamatan frekuensi diare tersebut, kelompok kontrol positif menunjukkan rata-rata frekuensi terjadinya diare yang paling besar. Hal ini tidak sesuai dengan teori bahwa seharusnya kontrol positif yang diberi loperamid mempunyai aktivitas sebagai antidiare dan menunjukkan frekuensi terjadinya diare yang lebih sedikit dibandingkan dengan kontrol negatif yang diberi aquades.
Dapat disimpulkan dari hasil analisis tersebut bahwa kelompok VI yang diberi infusa buah sawo manila segar dengan dosis 20,14 g/kgBB mempunyai aktivitas sebagai antidiare dilihat dari parameter frekuensi terjadinya diare karena bila dibandingkan dengan kontrol negatif, kontrol positif, kelompok perlakuan I dan perlakuan II frekuensi terjadinya diare secara signifikan lebih berkurang.
Tabel V. Hasil pengamatan parameter onset diare (menit ke-) Kelompok
x onset diare (menit ke-) ± SE
Perbandingan dengan kontrol negatif (%)
Perbandingan dengan kontrol positif (%)
I 95,8 ± 8,473 29,92 -
II 96,6 ± 7,391 - 0,83
III 136,7 ± 21,706 - 42,69
IV 132,4 ± 19,043 3,14 38,20
V 101,1 ± 10,940 26,04 5,53
VI 220,33 ± 12,202 -61,18 129,99
Keterangan :
I : Kelompok kontrol positif dengan pemberian suspensi loperamid HCl dalam CMC Na 1%
II : Kelompok perlakuan CMC Na 1%
III : Kelompok kontrol negatif dengan pemberian aquades
IV : Kelompok perlakuan I dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 5,035 g/kgBB
V : Kelompok perlakuan II dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 10,07 g/kgBB
Selain parameter frekuensi terjadinya diare dilakukan juga pengamatan terhadap waktu pertama kali terjadinya diare atau onset diare. Waktu pertama kali terjadinya diare atau waktu onset diare ini dinyatakan dalam satuan menit.
Dari hasil pengamatan waktu onset diare pada tabel V dapat diketahui bahwa pada kelompok VI mempunyai rata-rata waktu onset diare yang paling besar dibandingkan dengan kelompok lainnya, sedangkan kelompok kontrol positif mempunyai rata-rata waktu onset diare yang paling kecil bila dibandingkan dengan kelompok lainnya. Untuk kelompok III dan IV mempunyai nilai rata-rata waktu onset yang relatif sama, namun nilai tersebut relatif masih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol positif dan kelompok V serta relatif lebih kecil dibandingkan dengan kelompok VI. Pada kelompok dengan nilai rata-rata waktu onset yang lebih besar menunjukkan bahwa waktu pertama kali terjadinya diare lebih lama dibandingkan dengan kelompok yang mempunyai nilai rata-rata waktu onset yang lebih kecil. Nilai negatif pada persen perbandingan dengan kontrol negatif menunjukkan kenaikan waktu onset diare dibandingkan dengan kontrol negatif. Oleh karena itu nilai persen perbandingan dengan kontrol negatif pada kelompok VI bernilai negatif karena nilai rata-rata waktu onset diarenya jauh lebih besar dibandingkan dengan kontrol negatif, sedangkan nilai positif pada persen perbandingan dengan kontrol positif menunjukkan bahwa terdapat kenaikan waktu onset diare dibandingkan dengan kontrol positif.
manila segar dengan dosis 20,14 g/kgBB mempunyai rata-rata yang paling besar dibandingkan dengan kelompok lainnya. Sedangkan pada kelompok lainnya relatif mempunyai nilai rata-rata onset diare yang sama.
Gambar 4. Diagram batang rata-rata waktu pertama kali terjadinya diare/waktu onset diare (menit)
Untuk melihat apakah terdapat perbedaan rata-rata waktu pertama kali terjadinya diare (waktu onset diare) yang signifikan antar kelompok maka dilakukan analisis statistika menggunakan uji non parametrik Kruskal-Wallis
dengan taraf kepercayaan 95%.
Tabel VI. Hasil analisis statistika uji Kruskal-Wallis untuk parameter waktu pertama kali terjadinya diare
Parameter Derajad bebas Signifikan
Waktu pertama kali terjadinya diare
Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa nilai signifikan sebesar 0,001 (p<0,05). Hal ini berarti bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antar kelompok baik kelompok kontrol positif, kontrol negatif, kelompok perlakuan I ,kelompok perlakuan II serta kelompok perlakuan III. Namun dari uji Kruskal-Wallis tidak dapat diketahui kelompok mana yang berbeda secara signifikan sehingga dilakukan uji Mann-Whitney.
Tabel VII.Hasil rangkuman analisis Mann-Whitney untuk parameter waktu pertama kali terjadinya diare (menit ke-)
Kelompok I II III IV V VI
I tb tb tb tb bb
II tb
III tb tb tb bb
IV tb tb tb bb
V tb tb tb bb
VI bb bb bb bb
Keterangan:
tb : berbeda tidak bermakna (p > 0,025) bb : berbeda bermakna (p < 0,025)
I : Kelompok kontrol positif dengan pemberian suspensi loperamid HCl dalam CMC Na 1%
II : Kelompok perlakuan CMC Na 1%
III : Kelompok kontrol negatif dengan pemberian aquades
IV : Kelompok perlakuan I dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 5,035 g/kgBB
V : Kelompok perlakuan II dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 10,07 g/kgBB
VI : Kelompok perlakuan III dengan pemberian infusa buah sawo manila (Achras zapota L.) segar dosis 20,14 g/kgBB
Parameter selanjutnya yang