BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
C. Pengujian Hipotesis
Model regresi yang sudah memenuhi syarat asumsi klasik tersebut akan digunakan untuk dianalisis melalui pengujian hipotesis sebagai berikut:
1. Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F)
Uji Statistik F dilakukan untuk mengetahui apakah semua variabel bebas secara serentak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat.
Bentuk pengujian : H0 : bi = 0
Artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-sama dari ROA, ROE, DER dan PBV terhadap Pandapatan Saham.
H1 : minimal satu dari bi ≠0
Artinya terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-sama dari ROA, ROE, DER dan PBV terhadap pendapatan saham.
Pada penelitian ini nilai F hitung akan dibandingkan dengan F tabel pada tingkat signifikan (α) = 5%. Kriteria penilaian hipotesis pada uji-F ini adalah : Terima H0 bila F hitung ≤ F tabel
Tolak H0 (terima H1) bila F hitung > F tabel
2. Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik t)
Uji Statistik t dilakukan untuk menguji apakah setiap variabel bebas mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat.
Bentuk pengujian :
H0 : bi = 0, artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari ROA, ROE, DER dan PBV secara parsial terhadap pendapatan saham.
Rahmadani Safitri Nasution : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Saham Pada Sektor Telekomunikasi Di Bursa Efek Indonesia (BEI), 2009.
USU Repository © 2009
H1 : bi ≠0, artinya terdapat pengaruh yang signifikan dari ROA, ROE, DER dan PBV secara parsial terhadap Pendapatan Saham.
Pada penelitian ini nilai t hitung akan dibandingkan dengan t tabel pada tingkat signifikan (α) = 5%. Kriteria pengambilan keputusan pada uji-t ini adalah : H0 diterima jika : -t tabel ≤ t hitung ≤ t tabel
H1 diterima jika : t hitung > t tabel t hitung ≤ - t tabel
Rahmadani Safitri Nasution : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Saham Pada Sektor Telekomunikasi Di Bursa Efek Indonesia (BEI), 2009.
USU Repository © 2009
BAB II
URAIAN TEORITIS
A. Penelitian Terdahulu
Rebecca (2008) meneliti pengaruh faktor Beta, DER ( Debt to Equity Ratio), EPR (Earning to Price Ratio), PBV (Price to Book Value) dan Sales terhadap Pendapatan Saham sektor telekomunikasi di Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini menunjukkan bahwa faktor Beta, DER (Debt to Equity Ratio), EPR (Earning to Price Ratio), PBV (Price to Book Value) dan Sales secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Pendapatan Saham. Namun secara parsial, hanya faktor DER ( Debt to Equity Ratio) dan PBV ( Price to Book Value) yang mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Pendapatan Saham.
Penelitian yang dilakukan oleh Edi Subiyantoro (2003) tentang analisis faktor-faktor yang mempengaruhi return saham pada perusahaan jasa perhotelan yang terdaftar di pasar modal Indonesia. Hasil analisis menunjukan bahwa dari faktor ROA, BVS, DER, stock return, market risk dan return on the market, hanya faktor ROE dan BVS yang berpengaruh secara parsial terhadap return saham. Sedangkan secara bersama-sama, variabel ROA, BVS, DER, stock return, market risk dan return on the market berpengaruh signifikan terhadap harga saham sebesar 43,2%.
Rahmadani Safitri Nasution : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Saham Pada Sektor Telekomunikasi Di Bursa Efek Indonesia (BEI), 2009.
USU Repository © 2009
Penelitian Jauhari dan Wibowo (2004) yang meneliti Analisis Fundamental Terhadap Return Saham pada Periode Bullish dan Bearish Index Harga Saham Gabungan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa secara parsial pada periode Bullish yang berpengaruh signifikan terhadap return saham adalah faktor PBV dan ROE masing-masing menunjukkan kontribusi terhadap return saham sebesar 15,4% dan 15%. Sementara dalam keadaan Bearish faktor yang signifikan secara parsial terhadap return saham juga PBV dan ROE masing-masing memberikan kontribusi terhadap return saham sebesar 18,6% dan 41,6%.
Penelitian yang dilakukan Ulupui (2007) yang meneliti analisis pengaruh rasio likuiditas, leverage, aktivitas dan profitabilitas terhadap return saham ( studi pada perusahaan makanan dan minuman dengan kategori industri barang konsumsi di BEJ). Penelitian ini menghasilkan bahwa secara parsial ROA dan current ratio mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham. Sementara itu, secara bersama-sama ROA, current ratio, assets turn over dan debt to equity berpengaruh signifikan terhadap return saham sebesar 44,6%.
Sunarto (2001) yang berjudul “Pengaruh Rasio Profitabilitas Dan Leverage Terhadap Return Saham Perusahaan Manufaktur Di BEJ“, hasil penelitian menyatakan bahwa Return on Assets (ROA) dan Return on Equity (ROE) secara parsial berpengaruh signifikan terhadap Return Saham, sedangkan Debt to Total Assets (DTA) berpengaruh tidak signifikan terhadap Return Saham pada periode 1998-1999. Kemudian pada periode 1999-2000 hanya varibel ROA secara parsial berpengaruh signifikan terhadap Return Saham, sedangkan ROE dan DTA berpengaruh tidak signifikan. Selama periode penelitian tersebut, variabel yang paling dominan mempengaruhi Return Saham adalah ROA.
Rahmadani Safitri Nasution : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Saham Pada Sektor Telekomunikasi Di Bursa Efek Indonesia (BEI), 2009.
USU Repository © 2009
Triyani (2005) yang berjudul ”Pengaruh Rasio Profitabilitas dan Leverage Terhadap Return Saham Perusahaan Non Manufaktur yang terdaftar Di BEJ”, menunjukkan bahwa variabel EPS dan ROA secara parsial berpengaruh terhadap return saham perusahaan non manufaktur, sedangkan variabel DTA, GPM, NPM, dan ROE tidak berpengaruh terhadap Return Saham perusahaan non manufaktur.
B. Saham
1. Pengertian Saham
Saham dapat didefinisikan sebagai surat berharga sebagai bukti penyertaan atau pemilikan individu maupun institusi dalam suatu perusahaan (Anoraga, 2006:58). Saham berwujud selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut. Porsi kepemilikan ditentukan oleh seberapa besar penyertaan yang ditanamkan di perusahaan tersebut.
Saham yang diperdagangkan di bursa ada dua jenis yaitu saham biasa (common stock) dan saham preferen (prefered stock) (Anoraga, 2006:54). Saham biasa (common stock) adalah saham yang menempatkan pemiliknya pada posisi yang paling junior dalam pembagian dividen dan hak atas harta kekayaan perusahaan apabila perusahaan tersebut dilikuidasi. Saham preferen (prefered stock) adalah saham yang memiliki karakteristik gabungan antara obligasi dan saham biasa, karena bisa menghasilkan pendapatan yang tetap, tetapi juga bisa tidak mendatangkan hasil seperti yang dikehendaki investor (Darmadji, 2006:7). Saham biasa (common stock) adalah saham yang paling banyak diperdagangkan di pasar modal.
Rahmadani Safitri Nasution : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Saham Pada Sektor Telekomunikasi Di Bursa Efek Indonesia (BEI), 2009.
USU Repository © 2009
Pendapatan merupakan hasil yang diperoleh dari investasi. Pendapatan dapat berupa pendapatan realisasi yang sudah terjadi atau pendapatan ekspektasi yang belum terjadi tetapi yang diharapkan akan terjadi di masa mendatang (Jogiyanto, 2003:109).
Pendapatan realisasi (actual return) merupakan pendapatan yang telah terjadi. Pendapatan realisasi dihitung berdasarkan data histori. Pendapatan realisasi penting karena digunakan sebagai salah satu pengukur kinerja dari perusahaan. Pendapatan histori ini juga berguna sebagai dasar penentuan pendapatan ekspektasi (expected return) dan risiko di masa mendatang.
Pendapatan ekspektasi (expected return) adalah pendapatan yang diharapkan akan diperoleh oleh investor di masa mendatang. Berbeda dengan pendapatan realisasi yang sifatnya sudah terjadi, pendapatan ekspektasi sifatnya belum terjadi.
Pendapatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendapatan realisasi (actual return) yang merupakan capital gain/capital loss yaitu selisih antara harga saham periode saat ini (Pt) dengan harga saham pada periode sebelumnya (Pt-1). Secara matematis pendapatan realisasi (actual return) dapat diformulasikan sebagai berikut (Jogiyanto, 2003:110) :
( )
1 1 . Re . − − − = t t t P P P t Act Dimana:Pt = harga saham pada periode ke-t Pt-1= harga saham pada periode ke t-1
Rahmadani Safitri Nasution : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Saham Pada Sektor Telekomunikasi Di Bursa Efek Indonesia (BEI), 2009.
USU Repository © 2009
Apabila harga saham sekarang (Pt) lebih tinggi dari harga saham periode lalu (Pt-1) maka terjadi keuntungan modal (capital gain), dan sebaliknya apabila harga saham sekarang (Pt) lebih rendah dari harga saham periode lalu (Pt-1) maka terjadi kerugian modal (capital loss).
3. Manfaat Kepemilikan Saham
Investor yang melakukan pembelian saham, otomatis akan memiliki hak kepemilikan di dalam perusahaan yang menerbitkannya. Banyak sedikitnya jumlah saham yang dibeli akan menentukan persentase kepemilikan dari investor tersebut. Semakin besar jumlah saham yang dimiliki investor maka semakin besar juga haknya atas perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut.
Ada dua manfaat yang bisa diperoleh pembeli saham yaitu manfaat ekonomis dan manfaat non ekonomis (Anoraga, 2006:60).
a. Manfaat ekonomis meliputi : 1) Dividen
Dividen (dividend) adalah pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan penerbit saham atas keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Dividen yang dibagikan perusahaan dapat berupa dividen tunai (cash dividend), yaitu kepada setiap pemegang saham diberikan dividen berupa uang tunai dalam jumlah rupiah tertentu untuk setiap saham, atau dapat pula berupa dividen saham (stock dividend), yaitu kepada setiap pemegang saham diberikan dividen dalam bentuk saham sehingga jumlah
Rahmadani Safitri Nasution : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Saham Pada Sektor Telekomunikasi Di Bursa Efek Indonesia (BEI), 2009.
USU Repository © 2009
saham yang dimiliki investor akan bertambah dengan adanya pembagian dividen saham tersebut (Darmadji, 2006:12).
2).Capital Gain
Capital gain adalah keuntungan yang diperoleh investor dari hasil jual beli saham, berupa selisih antara nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan nilai beli yang lebih rendah (Anoraga, 2006:60).
b. Manfaat Non-ekonomis
Manfaat non-ekonomis yang bisa diperoleh oleh pemegang saham adalah kepemilikan hak suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk menentukan jalannya perusahaan. Semakin besar jumlah saham yang dimiliki oleh investor, maka semakin besar pula hak suaranya dalam RUPS.
4. Risiko Kepemilikan Saham
Saham dikenal dengan karakteristik “imbal hasil tinggi, risiko tinggi” (high risk, high return). Artinya, saham merupakan surat berharga yang memberikan peluang keuntungan dan potensi risiko yang tinggi. Saham memungkinkan investor untuk mendapatkan imbal hasil atau capital gain yang besar dalam waktu singkat. Namun, seiring berfluktuasinya harga saham, maka saham juga dapat membuat investor mengalami kerugian besar dalam waktu singkat. Risiko yang dihadapi oleh investor atas kepemilikan sahamnya, antara lain (Darmadji, 2006:13-15) :
Rahmadani Safitri Nasution : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Saham Pada Sektor Telekomunikasi Di Bursa Efek Indonesia (BEI), 2009.
USU Repository © 2009
Perusahaan akan membagikan dividen jika operasinya menghasilkan keuntungan. Oleh karena itu, perusahaan tidak dapat membagikan dividen jika mengalami kerugian.
b. Capital Loss
Dalam aktivitas perdagangan saham, investor tidak selalu mendapatkan capital gain atau keuntungan atas saham yang dijualnya. Investor juga dihadapkan pada risiko capital loss apabila ia menjual sahamnya dengan harga jual lebih rendah dari harga belinya.
c. Perusahaan Bangkrut atau Dilikuidasi
Dalam kondisi perusahaan dilikuidasi, maka pemegang saham akan menempati posisi lebih rendah dibanding kreditor atau pemegang obligasi. Ini berarti setelah semua aset perusahaan tersebut dijual, hasil penjualan terlebih dahulu dibagikan kepada para kreditor atau pemegang obligasi, dan jika masih terdapat sisa, baru dibagikan kepada para pemegang saham.
d. Saham Dikeluarkan dari Bursa (Delisting)
Saham perusahaan di-delist dari bursa karena kinerja yang buruk, misalnya dalam kurun waktu tertentu tidak pernah diperdagangkan, mengalami kerugian beberapa tahun, tidak membagikan deviden secara berturut-turut selama beberapa tahun, dan berbagai kondisi lainnya sesuai Peraturan Pencatatan Efek di Bursa.
Saham yang telah di-delist tentu saja tidak dapat lagi diperdagangkan di bursa, namun tetap dapat diperdagangkan di luar bursa dengan konsekuensi tidak terdapat patokan harga yang jelas dan jika terjual biasanya dengan harga yang jauh lebih rendah dari harga sebelumnya.
Rahmadani Safitri Nasution : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Saham Pada Sektor Telekomunikasi Di Bursa Efek Indonesia (BEI), 2009.
USU Repository © 2009
e. Saham Dihentikan Sementara (Suspensi)
Saham yang di-suspend atau dihentikan sementara perdagangannya oleh otoritas Bursa Efek, menyebabkan investor tidak dapat menjual sahamnya hingga suspensi tersebut dicabut. Suspensi dilakukan oleh otoritas Bursa jika suatu saham mengalami lonjakan harga yang luar biasa, suatu perusahaan dipailitkan oleh kreditornya, dan berbagai kondisi lain yang mengharuskan Otoritas Bursa men-suspend perdagangan saham tersebut sampai perusahaan yang bersangkutan memberikan konfirmasi atau kejelasan informasi lainnya, agar informasi yang belum jelas tersebut tidak menjadi ajang spekulasi. Jika telah didapatkan suatu informasi yang yang jelas, maka suspensi atas saham tersebut dapat dicabut oleh Bursa dan saham dapat diperdagangkan kembali seperti semula.
5. Harga Saham
Harga saham di bursa efek akan ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran. Pada saat permintaan saham meningkat, maka harga saham tersebut akan cenderung meningkat. Sebaliknya, pada saat banyak orang menjual saham, maka harga saham tersebut cenderung akan mengalami penurunan.
Market Price merupakan harga pada pasar riil dan merupakan harga yang paling mudah ditentukan karena merupakan harga dari suatu saham pada pasar yang sedang berlangsung atau jika pasar sudah tutup, maka harga pasar adalah harga penutupannya (closing price) (Anoraga, 2006:59).
Harga sebuah saham dapat berubah naik atau turun dalam hitungan yang begitu cepat. Harga tersebut dapat berubah dalam hitungan menit, bahkan dalam hitungan detik. Hal tersebut dimungkinkan karena banyaknya pesanan yang dimasukkan ke sistem JATS (Jakarta Automated Trading System). Pada lantai
Rahmadani Safitri Nasution : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Saham Pada Sektor Telekomunikasi Di Bursa Efek Indonesia (BEI), 2009.
USU Repository © 2009
perdagangan Bursa Efek Indonesia terdapat lebih 400 terminal komputer di mana para floor trader dapat memasukkan pesanan yang diterimanya dari nasabah. Pada monitor-monitor yang memantau perdagangan saham, tertera beberapa istilah harga saham yaitu (Darmadji, 2006:131) :
a. Previous Price menunjukkan harga pada penutupan hari sebelumnya.
b. Open atau Opening Price menunjukkan harga pertama kali pada saat pembukaan sesi I perdagangan, yaitu jam 09.30 pagi.
c. High atau Highest Price menunjukkan harga tertinggi atas suatu saham yang terjadi sepanjang perdagangan pada hari tersebut.
d. Low atau Lowest Price menunjukkan harga terendah atas suatu saham yang terjadi sepanjang perdagangan pada hari tersebut.
e. Last Price menunjukkan harga terakhir yang terjadi atas suatu saham.
f. Change menunjukkan selisih antara harga pembukaan dengan harga terakhir yang terjadi.
g. Close atau Closing Price menunjukkan harga penutupan suatu saham pada saat akhir sesi II yaitu jam 16.00 sore.
C. Teori Penilaian Investasi Saham
Penilaian investasi dalam bentuk saham terdiri dari dua pendekatan, yaitu The Firm Foundation Theory dan The Castle in The Air Theory (Anoraga, 2006:61). The Firm Foundation Theory menyatakan bahwa setiap instrument mempunyai landasan yang kuat yang disebut dengan nilai intrinsic yang dapat ditentukan melalui suatu analisis yang sangat hati-hati terhadap kondisi pada saat sekarang dan prospeknya di masa yang akan datang. Pada saat harga naik atau
Rahmadani Safitri Nasution : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Saham Pada Sektor Telekomunikasi Di Bursa Efek Indonesia (BEI), 2009.
USU Repository © 2009
turun dari nilai intrinsiknya yang bersifat pasti, maka kesempatan menjual atau membeli muncul karena perubahan harga pasar itu pada akhirnya akan dikoreksi.
Perubahan harga pasar tersebut mengakibatkan tindakan investasi menjadi tindakan yang kurang menarik karena sifatnya sederhana, semata-mata merupakan hal memperbandingkan pasar suatu asset terhadap nilai intrinsiknya. Teori ini selanjutnya lebih dikenal dengan sebutan Fundamental Analysis (Analisis Fundamental).
Penilaian kinerja suatu perusahaan/emiten memerlukan suatu analisis yang menyeluruh. Para investor dapat menggunakan suatu pendekatan yang dapat mencakup seluruh aspek yang mempengaruhi kinerja suatu perusahaan. Ada tiga aspek yang dapat dipakai sebagai rujukan untuk menganalisis secara fundamental, yaitu dengan analisis secara ekonomi makro, analisis secara industry, dan pada akhirnya investor menilai isi perut perusahaan yang bersangkutan yaitu melalui laporan keuangannya ( Putra, 2003:61).
Analisis perusahaan sangatlah penting bagi seorang investor, karena tidak selamanya perusahaan yang selama ini dianggap perusahaan besar, merupakan perusahaan yang layak untuk berinvestasi. Oleh sebab itu, sebelum investor memutuskan untuk membeli saham sebuah perusahaan ada baiknya investor melakukan analisis tentang kinerja, serta prospek perusahaan tersebut dimasa depan.
Salah satu alat investor untuk mengetahui kinerja suatu perusahaan adalah penilaian melalui laporan keuangan yang diterbitkan secara berkala oleh perusahaan-perusahaan yang tercatat di bursa. Perusahaan tersebut harus memberkan laporan keuangannya, karena perusahaan yang telah listing di bursa
Rahmadani Safitri Nasution : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Saham Pada Sektor Telekomunikasi Di Bursa Efek Indonesia (BEI), 2009.
USU Repository © 2009
wajib memberikan dan menyampaikan laporankeuangnanya kepada public. Laporan keuangan suatu perusahaan dapat menunjukkan informasi kekayaan, pendapatan, kinerja serta prospek ke depannya. Berdasarkan laporan keuangan tersebut investor dapat memutuskan apakah perusahaan tersebut layak sebagai tempat investor berinvestasi atau tidak.
Ada tiga jenis laporan keuangan yang dapat dijadikan patokan dalam menganalisis kinerja serta prospek suatu perusahaan, yaitu Neraca, Laporan Rugi Laba dan Laporan Aliran Kas Perusahaan. Neraca adalah laporan keuangna yang menggambarkan kondisi keuangan perusahaan pada periode tertentu. Laporan Laba Rugi adalah laporan pendapatan dan keuntungan suatu perusahaan pada periode tertentu. Laporan Rugi Laba memaparkan besarnya pendapatan dan biaya yang dikeluarkan perusahaan selama periode tertentu, sehingga terdapat keuntungan atau kerugian.
D. Indeks Harga Saham
Indeks harga saham merupakan indicator utama yang menggambarkan pergerakan harga sahamv(Fakhruddin, 2001:95). Indeks harga saham membandingkan perubahan harga saham dari waktu ke waktu, apakah suatu harga saham mengalami kenaikan atau penurunan dibandingkan suatu waktu tertentu.
Penentuan indeks harga saham dibedakan menjadi dua, yaitu indeks harga saham individu dan Indeks Harga Saham dan Gabungan (IHSG). Indeks individual merupakan indeks masing-masing saham terhadap harga dasarnya (Darmadji, 2001:95), indeks ini tidak dapat mengukur harga dari suatu saham perusahaan tertentu apakah mengalami perubahan kenaikan atau penurunan.
Rahmadani Safitri Nasution : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Saham Pada Sektor Telekomunikasi Di Bursa Efek Indonesia (BEI), 2009.
USU Repository © 2009
Indeks Harga Saham dan Gabungan (IHSG) disebut juga Indeks Pasar (market index) merupakan alat ukur kinerja sekuritas khususnya saham yang listing di bursa yang digunakan oleh bursa-bursa di dunia. Indeks pasar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan di Bursa Efek Surabaya (BES) diber nama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang merupakan suatu nilai yang digunakan untuk mengukur kinerja saham. Indeks di pasar modal mempunyai fungsi antara lain sebagai benchmark kinerja portofolio, indicator trend pasar, indicator tingkat keuntungan, dan sebagai fasilitas perkembangan produk inovatif. IHSG juga menunjukkan pergerakan harga saham secara umum yang tercatat di bursa efek (Anoraga, 2006:101). Indeks ini melibatkan seluruh harga saham yang terdaftar di bursa dan paling banyak digunakan sebagai acuan tentang perkembangan kegiatan di pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dapat digunakan untuk menilai situasi pasar secara umum atau mengukur apakah harga saham mengalami kenaikan atau penururnan.
Rahmadani Safitri Nasution : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Saham Pada Sektor Telekomunikasi Di Bursa Efek Indonesia (BEI), 2009.
USU Repository © 2009
BAB III
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
A. GAMBARAN UMUM BURSA EFEK INDONESIA
Bursa Efek Indonesia adalah salah satu bursa saham yang dapat memberikan peluang investasi dan sumber pembiayaan dalam upaya mendukung pembangunan Ekonomi Nasional. Bursa Efek Indonesia berperan juga dalam upaya mengembangkan pemodal lokal yang besar dan solid untuk menciptakan Pasar Modal Indonesia yang stabil.
Bursa Efek Indonesia berawal dari berdirinya Bursa Efek di Batavia, yang dikenal sebagai Jakarta pada saat ini, oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 14 Desember 1912. Sekuritas yang diperdagangkan adalah saham dan obligasi perusahaan-perusahaan Belanda yang beroperasi di Indonesia, obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah Hindia Belanda dan sekuritas lainnya.
Rahmadani Safitri Nasution : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Saham Pada Sektor Telekomunikasi Di Bursa Efek Indonesia (BEI), 2009.
USU Repository © 2009
Perkembangan Bursa Efek di Batavia sangat pesat sehingga mendorong pemerintah Belanda membuka Bursa Efek Surabaya pada tanggal 11 Januari 1925 dan Bursa Efek Semarang pada tanggal 1 Agustus 1925. Kedua bursa ini kemudian ditutup karena terjadinya gejolak politik di Eropa awal tahun 1939. Bursa Efek di Jakarta pun akhirnya ditutup juga akibat terjadinya perang dunia ke dua tahun 1942, sekaligus menandai berakhirnya aktivitas pasar modal di Indonesia.
Pasar modal di Indonesia kembali digiatkan dengan dibukanya kembali Bursa Efek di Jakarta pada tanggal 3 Juni 1952. Pada tahun 1958 kegiatan Bursa Efek di Jakarta kembali dihentikan karena adanya inflasi dan resesi ekonomi. Hal ini tak berlangsung lama sebab Bursa Efek di Jakarta dibuka kembali dan akhirnya mengalami kebangkitan pada tahun 1970. Kebangkitan ini disertai dengan dibentuknya Tim Uang dan Pasar Modal, disusul tahun 1976 berdirinya BAPEPAM (Badan Pelaksana Pasar Modal) serta berdirinya perusahaan dan investasi PT Danareksa. Kebangkitan ini didukung dengan diresmikannya aktivitas perdagangan di Bursa Efek Jakarta oleh Presiden Soeharto pada tahun 1977.
Pemerintah mengeluarkan kebijakan Paket Deregulasi Desember 1987 dan Desember 1988 tentang diperbolehkannya swastanisasi Bursa Efek. Paket Deregulasi ini kemudian mendorong Bursa Efek Jakarta berubah menjadi PT Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada tanggal 13 Juli 1992. Pada tahun itu juga BAPEPAM yang awalnya Badan Pelaksana Pasar Modal berubah menjadi Badan Pengawas Pasar Modal.
Rahmadani Safitri Nasution : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Saham Pada Sektor Telekomunikasi Di Bursa Efek Indonesia (BEI), 2009.
USU Repository © 2009
Bursa Efek Jakarta berkembang dengan pesat sehingga kegiatannya semakin ramai dan kompleks. Hal ini menyebabkan sistem perdagangan manual yang selama ini dilakukan di Bursa Efek Jakarta tidak lagi memadai. Pada tanggal 22 Mei 1995 diterapkanlah suatu sistem otomatis yang dinamakan JATS (Jakarta Automatic Trading System). Sistem yang baru ini dapat memfasilitasi perdagangan saham dengan frekuensi lebih besar dan lebih menjamin kegiatan pasar yang adil dan transparan dibanding dengan sistem perdagangan manual.
Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES) kemudian bergabung dan berubah nama menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2007. Penggabungan kedua bursa ini diharapkan dapat menciptakan kondisi