• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengujian Hipotesis

Dalam dokumen 4 HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS (Halaman 30-39)

Gambar 4.2 Hasil Pengolahan

Dari hasil pengolahan dapat dilihat pada Gambar 4.2 diatas. Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa pada variabel Quality Management Practices In Purchasing (QMPP) memiliki nilai indikator tertinggi pada Q5 (Perusahaan melakukan perbaikan melalui benchmarking) dengan nilai sebesar 0,797. Variabel

kedua, Information System Purchasing (IS) memiliki nilai indikator tertinggi pada IS5 (Penggunaan electronic data interchange (EDI) dengan customers/clients) dengan nilai sebesar 0,832. Variabel ketiga, Purchasing Performance (PP) memiliki nilai indikator tertinggi pada PP2 (Kesesuaian bahan baku material dengan spesifikasi ) dengan nilai 0,881. Variabel terakhir yaitu Internal Customer Satisfaction (ICS) memiliki nilai indikator tertinggi pada item ICS 3 dengan nilai 0,841 yaitu Divisi pembelian handal dalam melengkapi kebutuhan peralatan kerja karyawan. Nilai-nilai pada indikator-indikator yang tertinggi ini memiliki pengaruh dan menentukan keberhasilan dari penelitian.

Sehingga Melalui gambar 4.2. Dapat dilihat bahwa Quality Management Practices In Purchasing (QMPP) memiliki pengaruh paling besar terhadap terbentuknya information system begitu juga dalam terciptanya internal customer satisfaction yang artinya dengan adanya perbaikan pada QMPP yang didukung oleh adanya perbaikan menggunakan benchmarking akan dapat meningkatkan akurasi information system yang terbentuk sehingga akan mampu meningkatkan kinerja bagian pembelian dalam melengkapi kebutuhan karyawan agar kepuasan pelanggan internal tercapai.

4.4 Pembahasan

Hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan model persamaan struktural (PLS) melalui program smartPLS menghasilkan bahwa ketujuh hipotesis dapat diterima.

4.4.1 Terdapat pengaruh signifikan antara Quality Management Practices In Purchasing terhadap Internal Customer Satisfaction.

Hasil pengolahan smartPLS pada penelitian ini menunjukkan nilai estimasi parameter pengaruh Quality Management Practices In Purchasing terhadap Internal Customer Satisfaction adalah sebesar 0,391 dengan critical ratio sebesar 3,157. Hal ini menunjukkan bahwa Quality Management Practices In Purchasing memberikan pengaruh terhadap Internal Customer Satisfaction. Hal ini berarti bahwa dengan adanya perbaikan manajemen mutu dengan menggunakan benchmarking dan adanya

komitmen manajemen dalam penerapan manajemen mutu akan mampu meningkatkan kehandalan purchasing dalam pembelian dan ketepatan waktu dalam melengkapi kebutuhan karyawan sehingga dapat meningkatkan internal customer satisfaction.

Hasil ini mendukung penelitian dari Stanley & Wisner (2001) serta (Rodriguez,et al., 2004). Pelaksanaan QMPP memainkan peran penting dalam kemampuan pembelian ini untuk memberikan kualitas layanan kepada pelanggan internal. Oleh karena itu, perusahaan yang menggunakan dengan baik investasi dalam pelaksanaan praktek manajemen mutu dalam pembelian bisa mendapatkan tidak hanya kesempatan untuk memperoleh keuntungan dalam kinerja operasional pembelian, tetapi juga kemungkinan peningkatan tingkat kepuasan pelanggan internal dengan memberikan layanan yang lebih baik untuk departemen pelanggan internal. Kepuasan pelanggan internal merupakan salah satu faktor kunci dalam pemasaran modern dan analisis perilaku pelanggan. Jika pelanggan internal puas, mereka tetap berkomitmen untuk menyediakan barang organisasi atau layanan dan meningkatkan probabilitas bahwa mereka menggunakan jasa mereka lagi. Sehingga, dengan adanya Quality Management Practices In Purchasing jelas dapat memiliki hubungan dengan kepuasan karyawan secara internal terutama pada perusahaan manufaktur. Martínez-Lorente (2004) bahwa terdapat hubungan positif antara kepuasan pelanggan internal yang dipengaruhi kinerja pembelian melalui praktek manajemen mutu dalam pembelian. Sehingga hipotesa Pertama yaitu Quality Management Practices In Purchasing berpengaruh positif terhadap Internal Customer Satisfaction dapat diterima.

4.4.2 Terdapat pengaruh signifikan antara Quality Management Practices In Purchasing terhadap Purchasing Performance.

Hasil pengolahan smartPLS pada penelitian ini menunjukkan nilai estimasi parameter pengaruh Quality Management Practices In Purchasing terhadap Purchasing Performance adalah sebesar 0,356 dengan critical ratio sebesar 2,371.

Hal ini berarti bahwa dengan adanya perbaikan manajemen mutu dengan menggunakan benchmarking dan adanya komitmen manajemen dalam penerapan manajemen mutu akan menghasilkan bahan baku material yang standar sesuai dengan

spesifikasi dengan harga yang sesuai sehingga dapat meningkatkan kinerja bagian pembelian. Hasil ini mendukung penelitian dari (Rodriguez, 2004). Purchasing performance dalam mengedepankan adanya efisiensi dalam proses pembelian bahan baku termasuk di dalamnya adalah kualitas bahan yang baik, ketepatan pengiriman dan biaya yang sebanding dengan kualitas. Sehingga dalam hal ini dengan adanya pelaksanaan praktek manajemen mutu dalam pembelian (QMPP) secara langsung dapat meningkatkan operasional dari kinerja pembelian pada suatu perusahaan.

Stanley & Wisner (2001) bahwa implikasi QMPP secara signifikan dapat meningkatnya level kinerja operasional bagian purchasing. Hemsworth, et al (2005) bahwa penerapan manajemen mutu dalam pembelian memiliki pengaruh secara langsung dan signifikan dengan praktek sistem informasi serta purchasing performance. Sehingga hipotesa Kedua yaitu Quality Management Practices In Purchasing berpengaruh positif terhadap Purchasing Performance dapat diterima.

4.4.3 Terdapat pengaruh signifikan antara Quality Management Practices In Purchasing terhadap Information System.

Hasil pengolahan smartPLS pada penelitian ini menunjukkan nilai estimasi parameter pengaruh Quality Management Practices In Purchasing terhadap Information System adalah sebesar 0,787 dengan critical ratio sebesar 15,213. Hal ini berarti bahwa dengan adanya perbaikan manajemen mutu dengan menggunakan benchmarking dan adanya komitmen manajemen dalam penerapan manajemen mutu akan mampu meningkatkan efektifitas penggunaan dan penerapan information system dalam perusahaan seperti penggunaan EDI (Electronic data interchange) dengan supplier maupun user. Hasil ini mendukung penelitian dari (Hemswort et al., 2008) bahwa praktek sistem informasi dalam kegiatan pembelian dapat dipergunakan mendukung Total Quality Management seperti meningkatkan koordinasi lintas fungsional. Keberhasilan pelaksanaan manajemen mutu terhadap pemasok selalu disertai dengan manajemen mutu yang efektif dalam sistem informasi (Krause, 1999;

Lascelles & Dale, 1989). Dewhurst et al. (2003) yang menemukan bukti bahwa perusahaan dengan QMPP juga memiliki dampak langsung positif dan signifikan terkait penggunaan information system. Sehingga hipotesa Ketiga yaitu Quality

Management Practices In Purchasing berpengaruh positif terhadap Information System dapat diterima.

4.4.4 Terdapat pengaruh signifikan antara Information System terhadap Purchasing Peformance.

Hasil pengolahan smartPLS pada penelitian ini menunjukkan nilai estimasi parameter pengaruh Information System terhadap Purchasing Performance adalah sebesar 0,401 dengan critical ratio sebesar 3,177. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan dan penerapan information system dalam perusahaan seperti penggunaan EDI (Electronic data interchange) untuk penerimaan barang dengan supplier dan penggunaan EDI (Electronic data interchange) untuk pengeluaran barang dengan user akan menghasilkan sistem informasi yang standar sehingga akan mempermudah dalam mencocokan bahan baku material yang datang dengan spesifikasi yang diminta dan mampu menekan biaya yang dikeluarkan sehingga dihasilkan kesesuaian harga bahan yang dibeli, dengan demikian adanya information system akan mampu meningkatkan kinerja bagian pembelian. Hasil ini mendukung penelitian dari Lim dan Palvia (2001) Penerapan sistem EDI meningkatkan efisiensi pemasok-pembeli dan kehandalan, menurunkan biaya dan waktu siklus ketertiban, dan meningkatkan kepuasan pelanggan. Lancioni et al (2000) Perusahaan yang mempergunakan internet dalam manajemen supply chain juga menyimpulkan bahwa penggunaan internet juga dapat dipergunakan untuk meningkatkan pemrosesan order dan penjadwalan produksi dan secara langsung dapat meningkatkan efisiensi fungsi pembelian. Handfield et al.

(2000) Bahwa informasi yang tepat waktu dan akurat juga penting untuk pengambilan keputusan pembeli dan pemasok dan akhirnya akan memperbaiki kinerja pemasok. Sehingga hipotesa Keempat yaitu Information System berpengaruh positif terhadap Purchasing Performance dapat diterima.

4.4.5 Terdapat pengaruh signifikan antara Purchasing Peformance terhadap Internal Customer Satisfaction.

Hasil pengolahan smartPLS pada penelitian ini menunjukkan nilai estimasi parameter pengaruh Purchasing Performance terhadap Internal Customer

Satisfaction adalah sebesar 0,203 dengan critical ratio sebesar 2,149. Hal ini menunjukkan bahwa dengan adanya peningkatan kinerja pembelian seperti adanya standarisasi spesifikasi pembelian bahan dan kesesuaian harga bahan yang dibeli akan dapat mengoptimalkan kehandalan bagian pembelian dalam pengadaan bahan serta meningkatkan ketepatan waktu bagian pembelian dalam melengkapi kebutuhan karyawan dalam perusahaan. Dengan adanya hal tersebut maka akan mampu untuk meningkatkan Internal Customer Satisfaction. Hasil ini mendukung penelitian dari Stanley & Wisner (2001) Purchasing performance yang terlaksana dengan baik akan menghasilkan efisiensi dan efektifitas dalam proses pembelian bahan baku perusahaan sehingga kepuasan karyawan sebagai pelanggan internal dapat tercapai.

Dimana dengan adanya peningkatan kinerja pembelian maka akan berpengaruh langsung secara positif dan signifikan terhadap Internal Customer Satisfaction (ICS).

Martínez-Lorente (2004) Bahwa terdapat hubungan positif antara kepuasan pelanggan internal yang dipengaruhi kinerja pembelian melalui praktek manajemen mutu dalam pembelian. Kepuasan pelanggan internal (internal customers satisfaction) didefinisikan kepuasan karyawan dengan layanan yang diterima dari penyedia layanan secara internal (Biraori et al, 2014). Purchasing performance yang terlaksana dengan baik akan menghasilkan efisiensi dan efektifitas dalam proses pembelian bahan baku perusahaan sehingga kepuasan karyawan sebagai pelanggan internal dapat tercapai. Sehingga hipotesa Kelima yaitu Purchasing Performance berpengaruh positif terhadap Internal Customer Satisfaction dapat diterima.

4.4.6 Terdapat pengaruh signifikan antara Information system terhadap Internal Customer satisfaction.

Hasil pengolahan smartPLS pada penelitian ini menunjukkan nilai estimasi parameter pengaruh Information system terhadap Internal Customer Satisfaction adalah sebesar 0,340 dengan critical ratio sebesar 2,594. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan dan penerapan information system dalam perusahaan seperti penggunaan EDI (Electronic data interchange) untuk penerimaan barang dengan supplier dan penggunaan EDI (Electronic data interchange) untuk pengeluaran barang dengan user akan dapat mengoptimalkan kehandalan bagian pembelian dalam pengadaan

bahan serta meningkatkan ketepatan waktu bagian pembelian dalam melengkapi kebutuhan karyawan dalam perusahaan, sehingga mampu untuk meningkatkan Internal Customer Satisfaction. Hasil ini mendukung penelitian dari Stanley &

Wisner (1998) Bahwa kepuasan konsumen internal dipengaruhi dengan kemauan departemen pembelian perusahaan dalam mengimplementasikan system informasi dalam proses pembelian. (Livari, 2005) Penggunaan sistem informasi yang berkualitas akan sangat berpengaruh signifikan terhadap tingkat kepuasan pelanggan.

Serta dikatakan bahwa kepuasan pelanggan merupakan hasil output dari penggunaan sistem informasi (De Lone & McLean, 1992). Sehingga hipotesa Keenam yaitu Information system berpengaruh positif terhadap Internal Customer Satisfaction dapat diterima.

4.4.7 Pengaruh Tidak Langsung antara Quality Management Practices In Purchasing terhadap Internal Customer Satisfaction melalui Information System

Hasil pengolahan smartPLS pada penelitian ini menunjukkan nilai estimasi parameter pengaruh langsung Quality Management Practices In Purchasing terhadap Information System adalah sebesar 0,787 dengan critical ratio sebesar 15,213 lebih besar dari T tabel dengan nilai 1,96 Dan pengaruh langsung Information system terhadap Internal Customer Satisfaction adalah sebesar 0,340 dengan critical ratio sebesar 2,594 lebih besar dari T tabel dengan nilai 1,96. Pengaruh tidak langsung Quality Management Practices In Purchasing terhadap Internal Customer Satisfaction melalui Information system memiliki hasil kali nilai path coefficient sebesar 0.268. Hal ini menunjukkan bahwa Quality Management Practices In Purchasing melalui Information System lebih besar pengaruhnya dari pada melalui variable lain. Dimana information system merupakan cara atau langkah yang dapat memudahkan dalam proses pembelian bahan baku karena bagian purchasing suatu perusahaan akan dapat dengan intens dan efektif berkomunikasi dengan pihak supplier untuk mendapatkan kualitas bahan baku yang sesuai dengan spesifikasi.

Hal tersebut juga diungkapkan dalam jurnal (Rodriguez, et al., 2004) yang mengatakan bahwa penggunaan sistem informasi dalam proses penerapan manajemen mutu pembelian seperti pelaporan data pembelian akan menghasilkan kinerja pembelian yang berkualitas sehingga akan memberikan tingkat kepuasan pelanggan internal yang baik dan juga akan memperbaiki kualitas produk yang dihasilkan. Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa dengan adanya Quality Management Practices In Purchasing seperti penggunaan benchmarking dan adanya komitmen manajemen dalam penerapan manajemen mutu akan mampu meningkatkan efektifitas penggunaan dan penerapan information system dalam perusahaan seperti penggunaan EDI (Electronic data interchange) dengan supplier maupun user akan mampu mengoptimalkan kehandalan bagian pembelian dalam pengadaan bahan serta meningkatkan ketepatan waktu bagian pembelian dalam melengkapi kebutuhan karyawan dalam perusahaan, sehingga mampu untuk meningkatkan Internal Customer Satisfaction.

4.4.8 Pengaruh Tidak Langsung antara Quality Management Practices In Purchasing terhadap Internal Customer Satisfaction melalui Purchasing performance.

Hasil pengolahan smartPLS pada penelitian ini menunjukkan nilai estimasi parameter pengaruh langsung Quality Management Practices In Purchasing terhadap Purchasing Performance adalah sebesar 0,356 dengan critical ratio sebesar 2,371 lebih besar dari T tabel dengan nilai 1,96 dan pengaruh langsung Purchasing Performance terhadap Internal Customer Satisfaction adalah sebesar 0,203 dengan critical ratio sebesar 2,149 lebih besar dari T tabel dengan nilai 1,96. Pengaruh tidak langsung Quality Management Practices In Purchasing terhadap Internal Customer Satisfaction melalui Purchasing Performance memiliki hasil kali nilai path coefficient sebesar 0.072.

Stanley & Wisner (2001) mengatakan bahwa implikasi QMPP secara signifikan dapat meningkatkan kemampuan kinerja fungsi pembelian dalam memberikan pelayanan yang optimal kepada pelanggan internal dalam perusahaan

sehingga dapat meningkatnya internal customer satisfaction baik secara langsung maupun tidak langsung. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa dengan adanya perbaikan manajemen mutu dengan menggunakan benchmarking dan adanya komitmen manajemen dalam penerapan manajemen mutu akan menghasilkan bahan baku material yang standar sesuai dengan spesifikasi dengan harga yang sesuai sehingga dapat meningkatkan kinerja bagian pembelian yang akan dapat mengoptimalkan kehandalan bagian pembelian dalam pengadaan bahan serta meningkatkan ketepatan waktu bagian pembelian dalam melengkapi kebutuhan karyawan dalam perusahaan. Dengan adanya hal tersebut maka akan mampu untuk meningkatkan Internal Customer Satisfaction.

4.4.9 Pengaruh Tidak Langsung antara Quality Management Practices In Purchasing terhadap Internal Customer Satisfaction melalui Purchasing Performance dengan Information System.

Hasil pengolahan smartPLS pada penelitian ini menunjukkan nilai estimasi parameter pengaruh langsung Quality Management Practices In Purchasing terhadap Information System adalah sebesar 0,787 dengan critical ratio sebesar 15,213 lebih besar dari T tabel dengan nilai 1,96 dan pengaruh langsung Information System terhadap Purchasing Performance adalah sebesar 0,401 dengan critical ratio sebesar 3,177 lebih besar dari T tabel dengan nilai 1,96 serta pengaruh langsung Purchasing Performance terhadap Internal Customer Satisfaction adalah sebesar 0,203 dengan critical ratio sebesar 2,149 lebih besar dari T tabel dengan nilai 1,96. Dengan Pengaruh tidak langsung Quality Management Practices In Purchasing terhadap Internal Customer Satisfaction melalui Information System dan Purchasing Performance memiliki hasil kali nilai path coefficient sebesar 0.064.

(Stanley & Wisner, 2001) dan Lancioni et al (2000) mengatakan bahwa adanya manajemen mutu supplier yang baik dan penerapan sistem informasi dalam manajemen supply chain dapat dipergunakan untuk meningkatkan pemrosesan order dan penjadwalan produksi dan secara langsung dapat meningkatkan efisiensi fungsi pembelian sehingga kepuasan konsumen secara internal akan dapat terpenuhi. Hal ini

berarti bahwa dengan adanya perbaikan manajemen mutu dengan menggunakan benchmarking dan adanya komitmen manajemen dalam penerapan manajemen mutu yang didukung dengan penggunaan dan penerapan information system dalam perusahaan seperti penggunaan EDI (Electronic data interchange) untuk penerimaan barang dengan supplier dan penggunaan EDI (Electronic data interchange) untuk pengeluaran barang dengan user akan dapat mengoptimalkan kehandalan bagian pembelian dalam pengadaan bahan serta meningkatkan ketepatan waktu bagian pembelian dalam melengkapi kebutuhan karyawan dalam perusahaan, sehingga lebih besar pengaruh Information System daripada Purchasing Performance dalam meningkatkan Internal Customer Satisfaction.

Dalam dokumen 4 HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS (Halaman 30-39)

Dokumen terkait