• Tidak ada hasil yang ditemukan

4 HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "4 HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

4 HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS

4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

Objek dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang bergerak dibidang makanan dan minuman yang berada di Jawa Timur. Objek dari penelitian ini dibatasi oleh peneliti dimana perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang makanan dan minuman harus tergolong dalam kategori industri sedang dengan tenaga kerja berjumlah 20 sampai 99 orang dan tergolong industri besar dengan jumlah tenaga kerja diatas 100 orang.

Peneliti mencari target perusahaan melalui rekanan yang bekerja di perusahaan manufaktur bidang makanan dan minuman terutama pada bagian purchasing dari perusahaan untuk menjadi responden melalui telepon, e-mail, atau kunjungan langsung. Selain itu peneliti menerima bantuan dari rekan – rekan alumni yang bekerja pada perusahaan yang sesuai dengan kriteria objek untuk memberikan kuesioner tersebut kepada karyawan bagian purchasing untuk mengisi kuesioner yang dititipkan oleh peneliti. Peneliti menggunakan media elektronik (google form) dalam pengisian kuesioner ataupun kunjungan langsung ke perusahaan target. Jumlah tanggapan awal yang peneliti terima sejumlah 92 responden, dimana 78 tanggapan didapat langsung dari google form dan 14 tanggapan didapatkan dari pengisian tidak langsung dan secara langsung dari responden. Total kuesioner yang disebarkan oleh peneliti adalah sebanyak 120 kuesioner. Dimana tidak semua responden yang peneliti temui sesuai dengan kriteria, seperti lokasi perusahaan diluar jawa timur & jenis perusahaan yang bukan industri makanan & minuman. Hasil dari keseluruhan tanggapan, 12 responden dari google form tidak dapat digunakan karena pengisian kuesioner yang tidak lengkap.

4.1.1 Deskripsi Profil Perusahaan

Berikut adalah deskriptif profil perusahaan dari 80 perusahaan manufaktur

yang bergerak dalam bidang makanan dan minuman yang berada di Jawa Timur yang

menjadi sampel penelitian:

(2)

Tabel 4.1 Deskriptif Sifat Perusahaan Sifat Perusahaan Jumlah %

Terbuka 21 26.3 Tertutup 59 73.8 Total 80 100.0 Sumber : Data diolah

Berdasarkan tabel 4.1 dari 80 perusahaan yang menjadi sampel dalam penelitian ini didominasi oleh perusahaan tertutup yaitu sebanyak 59 perusahaan (73,8%) dan 21 perusahaan (26,3%) lainnya bersifat terbuka.

Tabel 4.2 Deskriptif Golongan Industri Golongan Industri Jumlah % Industri Sedang (20 – 99 orang) 25 31.3

Industri Besar (>100 orang) 55 68.8

Total 80 100.0

Sumber : Data diolah

Berdasarkan golongan industri dalam tabel 4.2 perusahaan yang tergolong kedalam industri sedang dimana perusahaan tersebut memiliki tenaga kerja sebanyak 20 sampai 99 orang sebanyak 25 perusahaan (31,3%) dan 55 perusahaan lainnya (68,8%) tergolong kedalam industri besar dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 100 orang atau lebih sehingga sampel penelitian telah mewakili perusahaan sesuai dengan kriteria yang peneliti tentukan.

Dari data olah tersebut dapat disimpulkan bahwa perusahaan yang sifatnya tertutup juga mampu bersaing dengan perusahaan terbuka dilihat dengan banyaknya perusahaan tertutup yang tergolong ke dalam industri besar atau mampu bersaing dalam skala besar dengan kompetitor perusahaan yang bersifat terbuka

Tabel.4.3 Lokasi Perusahaan

Lokasi Perusahaan Jumlah %

Surabaya 39 48.8

Sidoarjo 13 16.3

Pasuruan 7 8.8

(3)

Lokasi Perusahaan Jumlah %

Kediri 5 6.3

Gresik 4 5.0

Mojokerto 4 5.0

Malang 3 3.8

Lokasi Lain 2 2.5

Tulungagung 2 2.5

Probolinggo 1 1.3

Total 80 100

Sumber : Lampiran

Dari tabel 4.3 perusahaan manufaktur yang bergerak dalam bidang makanan dan minuman yang berada di Jawa Timur, 80 perusahaan yang dijadikan sampel penelitian diantaranya didominasi oleh perusahaan yang berlokasi di Surabaya sebanyak 39 perusahaan (48,8%) hal ini dikarenakan peneliti yang berdominasi di Surabaya membuat lebih mudah dalam pengambilan sampel serta mendapatkan jawaban dari responden, dan dikuti oleh Sidoarjo dan Pasuruan yang masing-masing sebanyak 13 perusahaan (16,3%) dan 7 perusahaan (8,8%), sedangkan sisanya perusahaan yang berlokasi di kediri sebanyak 5 perusahaan (6,3%), Gresik dan Mojokerto masing-masing sebanyak 4 perusahaan (5%), Malang sebanyak 3 perusahaan (3,8%), Tulungagung sebanyak 2 perusahaan (2,5%) dan Probolinggo sebanyak 1 perusahaan (1,3%) dan lokasi lain sebanyak 2 perusahaan (2,5%).

4.1.2 Deskripsi Profil Responden

Berikut adalah deskriptif profil responden dari 80 perusahaan manufaktur yang bergerak dalam bidang makanan dan minuman yang berada di Jawa Timur yang menjadi sampel penelitian:

Tabel 4.4 Deskriptif Profil Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelaman Jumlah %

Laki-Laki 47 58.8 Perempuan 33 41.3 Total 80 100.0

Sumber : Lampiran

(4)

Berdasarkan tabel 4.4. dapat diketahui bahwa responden dengan jenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 47 orang (58,8%) dari total keseluruhan responden, sedangkan responden dengan jenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 33 orang (41,3%). Hasil ini memberikan informasi bahwa jumlah karyawan atau staf purchasing yang berjenis kelamin laki-laki yang menjadi responden memberikan kontribusi yang lebih besar dibandingkan dengan staf purchasing yang berjenis kelamin perempuan.

Tabel 4.5 Deskriptif Profil Responden Berdasarkan Lama Bekerja Lama Bekerja Jumlah %

1 – 3 tahun 44 55.0 3 – 5 tahun 25 31.3 Diatas 5 Tahun 11 13.8 Total 80 100.0

Sumber : Lampiran

Tabel 4.5. menunjukkan bahwa dari 80 responden terdapat 44 karyawan bagian purchasing yang telah bekerja selama 1 sampai 3 tahun (55,0%), 25 karyawan dengan masa kerja 3 sampai 5 tahun (31,3%), dan sisanya sebanyak 11 karyawan telah bekerja lebih dari 5 tahun (13,8%). Dengan banyaknya responden yang telah menjadi pegawai tetap didalam divisi purchasing diasumsikan telah mengetahui dan berpengalaman dalam bidangnya sehingga mampu dalam menjawab pertanyaan ataupun pernyataan yang diberikan oleh peneliti.

4.1.3 Deskripsi Variabel Penelitian

Pada analisis deskripsi ini akan dijelaskan jawaban responden pada masing-

masing item pernyataan pada variabel penelitian yaitu Quality Management Practices

In Purchasing (QMPP), Information System Purchasing (IS), Purchasing

Performance (PP) dan Internal Customer Satisfaction (ICS). Pengukuran diberikan

dengan rentang skala satu sampai lima. Variabel-variabel utama diwakili oleh

beberapa indikator yang akan dituangkan kedalam pernyataan. Responden diminta

untuk memberikan penilaian pada pernyataan-pernyataan terhadap kesesuaian dengan

(5)

kondisi yang terjadi. Ukuran proporsional dari tiap variabel dituangkan dalam tabel indeks presepsi responden terhadap variabel-variabel yang telah ditentukan.

Penelitian pada studi ini dilakukan secara survei, yaitu dengan cara memberikan kuisioner kepada para responden. Besarnya sampel yang terkumpul adalah 80 perusahaan manufaktur makanan dan minuman. Selanjutnya dilakukan analisis Gambaran statistik deskriptif pada variabel, digunakan untuk mengetahui mean (rata - rata) dan deskriptif jawaban responden bila pilihan jawaban merupakan skala Likert . Nilai mean jawaban responden dikategorikan dengan interval kelas yang dicari dengan rumus sebagai berikut:

8 , 5 0

1 5 Kelas

Jumlah

Terendah Nilai

Tertinggi Nilai

Kelas

Interval − = − =

=

Dengan interval kelas 0,8 diperoleh kategori mean jawaban responden sebagai berikut:

Tabel 4.6 Kategori Mean Jawaban Responden

Interval Kategori

4,20 – 5,00 Sangat tinggi atau Sangat baik atau Sangat sesuai 3,41 – 4,20 Tinggi atau Baik atau Sesuai

2,61 – 3,40 Cukup tinggi atau Cukup baik atau Cukup Sesuai 1,81 – 2,60 Rendah atau Kurang baik atau Kurang sesuai 1,00 – 1,80 Sangat rendah atau Sangat kurang baik atau Sangat

kurang sesuai

Sumber : Lampiran

Berdasarkan data hasil survey lapangan, distribusi jawaban responden tentang indikator yang diajukan diuraikan dalam kuesioner akan dideskripsikan secara rinci dibawah ini. Berdasarkan tabel, setiap jawaban responden akan dihitung mean-nya untuk mengetahui kategori dari variabel yang diberikan dalam bentuk pernyataan.

Untuk jawaban responden dengan interval nilai mean sebesar 4,20 hingga 5,00

dikategorikan sangat tinggi, untuk nilai mean 3,41 hingga 4,20 dikategorikan tinggi,

untuk nilai mean 2,61 hingga 3,40 dikategorkan cukup, untuk nilai mean 1,80 hingga

(6)

2,60 dikategorikan rendah dan untuk nilai mean 1,00 hingga 1,80 dikategorikan sangat rendah.

4.1.3.1 Quality Management Practices In Purchasing (QMPP)

Variabel Quality Management Practices In Purchasing (QMPP) disusun oleh 5 indikator. Indikator indikator tersebut adalah Membangun hubungan dengan pemasok untuk memenuhi standar perusahaan, Melakukan pengaturan personal karyawan dengan baik, Adanya koordinasi antar divisi dalam perusahaan, Bagian pembelian berkomitmen menerapkan Total Quality dalam proses pembelian dan Perusahaan melakukan perbaikan melalui benchmarking.

Tabel 4.7 Deskripsi Jawaban Responden pada Variabel Quality Management Practices In Purchasing (QMPP)

Pernyataan Frekuensi Jawaban Rata-

Rata

STS TS N S SS

QMPP1. Membangun hubungan dengan pemasok untuk memenuhi standar perusahaan

1 0 7 50 22 4,15

QMPP2. Melakukan pengaturan

personal karyawan dengan baik 1 0 21 44 14 3,88 QMPP3. Adanya koordinasi antar

divisi dalam perusahaan 0 2 19 50 9 3,82

QMPP4. Bagian pembelian berkomitmen menerapkan Total Quality dalam proses pembelian.

1 4 29 36 10 3,63 QMPP5. Perusahaan melakukan

perbaikan melalui benchmarking 1 6 26 35 12 3,64

Mean Jawaban 3,82

Sumber : Lampiran

Table 4.8 Data Deskriptif Variabel Quality Management Practices In Purchasing (QMPP)

No Indikator BTB TTB

QMPP 1 Membangun hubungan

dengan pemasok untuk memenuhi standar perusahaan

1.25 % 90 %

(7)

No Indikator BTB TTB QMPP 2 Melakukan pengaturan

personal karyawan dengan baik

1.25 % 72.5 %

QMPP 3 Adanya koordinasi antar divisi dalam perusahaan

2.5 % 73.75 %

QMPP 4

Bagian pembelian berkomitmen menerapkan Total Quality dalam proses

pembelian.

6.25 % 57.5 %

QMPP 5 Perusahaan melakukan perbaikan melalui

benchmarking

8.75 % 58.75 %

Sumber : Lampiran

Dengan melihat jawaban responden dalam mengisi kuesioner, indikator Membangun hubungan dengan pemasok untuk memenuhi standar perusahaan mendapat tanggapan yang sangat baik dari responden dengan prosentase ketercapaian sebesar 90%, dimana hampir keseluruhan responden setuju dan sangat setuju dengan pernyataan tersebut, sehingga didapat rata - rata nilai dari pernyataan ini sebesar 4.15.

Hal ini menunjukan bahwa perusahaan telah mampu untuk membangun hubungan yang baik dengan pemasok untuk memenuhi kebutuhan perusahaan.

Indikator kedua yaitu melakukan pengaturan personal karyawan mendapat tanggapan baik dari responden dengan prosentase ketercapaian sebesar 72.5%, dimana hampir tiga perempat responden setuju dan sangat setuju dengan pernyataan ini, sehingga didapat rata - rata nilai dari pernyataan ini sebesar 3.88. Nilai rata–rata ini cukup tinggi untuk menunjukkan bahwa perusahaan telah mampu melakukan pengaturan personal karyawannya dengan baik.

Indikator ketiga yaitu adanya koordinasi antar divisi dalam perusahaan

mendapat tanggapan yang baik dari responden dengan prosentase ketercapaian

sebesar 73.75%, dimana hampir tiga perempat responden setuju dan sangat setuju

dengan pernyataan ini, sehingga didapat rata - rata nilai dari pernyataan ini sebesar

3.82. Nilai rata–rata ini cukup tinggi untuk menunjukkan bahwa koordinasi antar

divisi telah berjalan dengan baik di dalam perusahaan.

(8)

Indikator keempat yaitu bagian pembelian berkomitmen Dalam menerapkan total quality management dalam proses pembeliannya mendapat tanggapan yang baik dari responden dengan prosentase ketercapaian sebesar 57.5%, lebih dari setengah responden setuju dan sangat setuju dengan pernyataan ini, sehingga didapat rata - rata nilai dari pernyataan ini sebesar 3.63. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan telah berkomitmen dalam penerapan total quality management dalam setiap proses pembelian yang dilakukan

Indikator kelima yaitu perusahaan melakukan perbaikan melalui benchmarking mendapat tanggapan yang baik dari responden dengan prosentase ketercapaian sebesar 58.75%, lebih dari setengah responden setuju dan sangat setuju dengan pernyataan ini, sehingga didapat rata - rata nilai dari pernyataan ini sebesar 3.64. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan telah melakukan benchmarking untuk melakukan perbaikan perusahaan.

Dari nilai rata-rata yang didapat, dapat dilihat bahwa pada perusahaan- perusahaan makanan dan minuman di jawa timur telah mampu dalam pengimplementasian QMPP (Quality Management Practices in Purchasing). Dimana perusahaan telah melakukan pengaturan personal karyawan dengan baik, koordinasi antar divisi dalam perusahaan berjalan dengan baik, komitmen bagian pembelian yang cukup tinggi dalam menerapkan Total Quality dalam proses pembelian, serta perusahaan melakukan perbaikan melalui benchmarking, namun fokus utamanya adalah pada membangun hubungan dengan pemasok untuk memenuhi standar perusahaan. Indikator tersebut memberikan dukungan paling besar bagi variabel QMPP (Quality Management Practices in Purchasing) bila dilihat dari nilai rata – ratanya yaitu 4.15. Standar deviasi yang terendah terdapat pada indikator Q3 (0.65) yaitu adanya koordinasi antar divisi dalam perusahaan.

4.1.3.2 Information System Purchasing (IS)

Variabel Information System Purchasing (IS) disusun oleh 5 indikator yaitu

Adanya advertising company web page, Adanya Direct sales company web page,

Adanya Company intranet (internal web, Penggunaan electronic data interchange

(EDI) dengan suppliers dan Penggunaan electronic data interchange (EDI)

(9)

dengancustomers/clients. Berikut adalah hasil sebaran jawaban responden pada variabel nformation System Purchasing (IS)

Tabel 4.9 Deskripsi Jawaban Responden pada Variabel Information System Purchasing (IS)

Pernyataan Frekuensi Jawaban Rata-

Rata

STS TS N S SS

IS1. Adanya advertising company

web page 1 5 10 32 32 4,11

IS2. Adanya Direct sales company

web page 0 15 27 30 8 3,39

IS3. Adanya Company intranet

(internal web) 0 5 15 41 19 3,92

IS4. Penggunaan electronic data

interchange (EDI) dengan suppliers 1 4 16 40 19 3,90 IS5. Penggunaan electronic data

interchange (EDI) dengan customers/clients

2 3 18 40 17 3,84

Mean Jawaban 3,83

Sumber : Lampiran

Table 4.10 Data Deskriptif Variabel Information System Purchasing (IS)

No Indikator BTB TTB

IS1. Adanya advertising company

web page 7.5 % 80 %

IS2. Adanya Direct sales company web page

18.75 % 47.5 % IS3. Adanya Company intranet

(internal web)

6.25 % 75 %

IS4. Penggunaan electronic data interchange (EDI) dengan suppliers

6.25 % 73.75 %

IS5. Penggunaan electronic data interchange (EDI) dengan customers/clients

6.25 % 71.25 %

Sumber : Lampiran

Dengan melihat jawaban responden dalam mengisi kuesioner, indikator

adanya advertising company web page mendapat tanggapan yang baik dari responden

(10)

dengan prosentase ketercapaian sebesar 80%, dimana hampir tiga perempat dari keseluruhan responden setuju dan sangat setuju dengan pernyataan tersebut, sehingga didapat rata - rata nilai dari pernyataan ini sebesar 4.11. Hal ini menunjukan bahwa sebagian besar perusahaan telah memiliki company web advertising untuk mempromosikan produknya.

Indikator kedua yaitu adanya direct sales company web page mendapat tanggapan cukup baik dari responden dengan prosentase ketercapaian sebesar 47.5%, dimana hampir setengah dari total responden setuju dam sangat setuju dengan pernyataan ini, sehingga didapat rata - rata nilai dari pernyataan ini sebesar 3.39.

Nilai rata–rata ini cukup tinggi untuk menunjukkan bahwa perusahaan telah memiliki direct company web page untuk mempermudah dan mempercepat proses penjualan.

Indikator ketiga yaitu adanya company intranet (internal web) mendapat tanggapan yang baik dari responden dengan prosentase ketercapaian sebesar 75%, dimana tiga perempat responden setuju dan sangat setuju dengan pernyataan ini, sehingga didapat rata - rata nilai dari pernyataan ini sebesar 3.92. Nilai rata–rata yang tinggi untuk menunjukkan perusahaan telah mampu menerapkan information system dalam percepatan proses pembelian yang didukung dengan company intranet dalam setiap prosesnya.

Indikator keempat yaitu penggunaan electronic data interchange (EDI) dengan suppliers mendapat tanggapan yang baik dari responden dengan prosentase ketercapaian sebesar 73.75%, hampir tiga perempat responden setuju dan sangat setuju dengan pernyataan ini, sehingga didapat rata - rata nilai dari pernyataan ini sebesar 3.63. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan telah mampu menerapkan sistem informasi yang terintegrasi dengan supplier menggunaan electronic data interchange (EDI).

Indikator kelima yaitu penggunaan electronic data interchange (EDI) dengan customers/clients mendapat tanggapan yang baik dari responden dengan prosentase ketercapaian sebesar 71.25%, dengan rata - rata nilai dari pernyataan ini sebesar 3.84.

Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan telah mampu menerapkan sistem informasi

yang terintegrasi dengan user menggunaan electronic data interchange (EDI).

(11)

Dari nilai rata-rata yang didapat menunjukan bahwa information system yang ada dalam perusahaan masih cukup baik. Standar deviasi yang terendah terdapat pada indikator IS3 (0.82) yaitu adanya company intranet (internal web).

4.1.3.3 Purchasing Performance (PP)

Variabel Purchasing Performance (PP) disusun oleh 4 indikator pertanyaan meliputi Kesesuaian harga bahan baku, Kesesuaian bahan baku material dengan spesifikasi, Ketepatan waktu pengiriman bahan baku dan Jumlah bahan yang dibeli sesuai dengan kebutuhan perusahaan. berikut adalah sebaran data jawaban responden pada variabel Purchasing Performance (PP).

Tabel 4.11 Deskripsi Jawaban Responden pada Variabel Purchasing Performance (PP)

Pernyataan Frekuensi Jawaban Rata-

Rata

STS TS N S SS

PP1. Kesesuaian harga bahan baku 2 0 13 47 18 3,99 PP2. Kesesuaian bahan baku

material dengan spesifikasi 1 1 11 46 21 4,06 PP3. Ketepatan waktu pengiriman

bahan baku 0 3 25 34 18 3,84

PP4. Jumlah bahan yang dibeli sesuai dengan kebutuhan perusahaan

1 2 7 41 29 4,19

Mean Jawaban 4,02

Sumber : Lampiran

Table 4.12 Data Deskriptif Variabel

Purchasing Performance (PP)

No Indikator BTB TTB

PP1. Kesesuaian harga bahan baku

2.5 % 81.25 %

PP2. Kesesuaian bahan baku

material dengan spesifikasi 2.5 % 83.75 % PP3. Ketepatan waktu pengiriman

bahan baku

3.75 % 65 %

(12)

No Indikator BTB TTB

PP4. Jumlah bahan yang dibeli sesuai dengan kebutuhan perusahaan

3.75 % 87.5 %

Sumber : Lampiran

Indikator yang menyatakan kesesuaian harga bahan baku mendapat tanggapan yang baik dari responden dengan prosentase ketercapaian sebesar 81.25%, dimana lebih dari tiga perempat responden setuju dan sangat setuju dengan pernyataan tersebut, sehingga didapat rata - rata nilai dari pernyataan ini sebesar 3.99. Hal ini menunjukan bahwa harga bahan baku yang dibeli oleh perusahaan telah sesuai dengan standar dari perusahaan.

Indikator kedua yaitu kesesuaian bahan baku material dengan spesifikasi mendapat tanggapan baik dari responden dengan prosentase ketercapaian sebesar 83.75%, sehingga didapat rata - rata nilai dari pernyataan ini sebesar 4.06.

Menunjukkan bahwa bahan baku yang dibeli oleh perusahaan telah sesuai dengan standard dan spesifikasi yang ditentukan oleh perusahaan.

Indikator ketiga yaitu ketepatan waktu pengiriman bahan baku mendapat tanggapan yang baik dari responden dengan prosentase ketercapaian sebesar 65%, lebih dari setengah responden setuju dan sangat setuju dengan pernyataan ini, sehingga didapat rata - rata nilai dari pernyataan ini sebesar 3.84. Hal ini menunjukkan bahwa proses pengiriman bahan baku oleh pemasok kepada perusahaan telah sesuai dengan schedule yang ditetapkan oleh perusahaan.

Indikator keempat yaitu jumlah bahan yang dibeli sesuai dengan kebutuhan perusahaan mendapat tanggapan yang baik dari responden dengan prosentase ketercapaian sebesar 87.5%, lebih dari tiga perempat responden setuju dan sangat setuju dengan pernyataan ini, sehingga didapat rata - rata nilai dari pernyataan ini sebesar 4.19. Hal ini menunjukkan bahwa bahan baku yang dibeli oleh perusahaan telah sesusai dengan kebutuhan bagian produksi perusahaan.

Dari nilai rata-rata yang didapat, dapat dilihat bahwa bagian pembelian

mampu untuk melakukan improvement kinerja pembelian dengan ketepatan waktu

pengiriman bahan baku yang didukung dengan kesesuaian harga dan spesifikasi

(13)

bahan baku serta fokus utamanya pada jumlah bahan yang akan dibeli sesuai dengan kebutuhan bagian produksi perusahaan. Standar deviasi yang terendah terdapat pada indikator PP2 (0.75) yaitu kesesuaian bahan baku material dengan spesifikasi.

4.1.3.4 Internal Customer Satisfaction (ICS)

Variabel Internal Customer Satisfaction (ICS) disusun berdasarkan 5 indikator pertanyaan, meliputi : Karyawan puas dengan ketanggapan Divisi pembelian dalam mengobservasi kekurangan peralatan kerja karyawan, Karyawan puas dengan ketepatan waktu divisi pembelian dalam melengkapi kebutuhan karyawan, Karyawan Puas dengan kehandalan divisi pembelian dalam melengkapi kebutuhan peralatan kerja karyawan, Karyawan puas dengan empati divisi pembelian terhadap kebutuhan peralatan kerja karyawan dan Karyawan puas karena divisi pembelian selalu memberikan peralatan kerja terbaik untuk karyawan. Variabel ini merupakan penilaian departemen pembelian terhadap kinerjanya dalam memuaskan karyawan divisi yang lain. Berikut adalah jawaban responden menurut indikatornya.

Tabel 4.13 Deskripsi Jawaban Responden pada Variabel Internal Customer Satisfaction (ICS)

Pernyataan Frekuensi Jawaban Rata-

Rata

STS TS N S SS

ICS1. Karyawan puas dengan ketanggapan Divisi pembelian dalam mengobservasi kekurangan peralatan kerja karyawan

1 0 12 58 9 3,93

ICS2. Karyawan puas dengan ketepatan waktu divisi pembelian dalam melengkapi kebutuhan karyawan

1 0 22 46 11 3,82

ICS3. Karyawan Puas dengan kehandalan divisi pembelian dalam melengkapi kebutuhan peralatan kerja karyawan

1 1 26 42 10 3,74

ICS4. Karyawan puas dengan empati divisi pembelian terhadap kebutuhan peralatan kerja karyawan

2 2 27 39 10 3,66

(14)

Pernyataan Frekuensi Jawaban Rata- Rata

STS TS N S SS

ICS5. Karyawan puas karena divisi pembelian selalu memberikan peralatan kerja terbaik untuk karyawan

2 1 19 41 17 3,88

Mean Jawaban 3,81

Sumber : Lampiran

Table 4.14 Data Deskriptif Variabel Internal Customer Satisfaction (ICS)

No Indikator BTB TTB

ICS1. Karyawan puas dengan ketanggapan Divisi pembelian dalam mengobservasi kekurangan peralatan kerja karyawan

1.25 % 83.75 %

ICS2. Karyawan puas dengan ketepatan waktu divisi pembelian dalam melengkapi kebutuhan karyawan

1.25 % 71.25 %

ICS3. Karyawan Puas dengan kehandalan divisi pembelian dalam melengkapi kebutuhan peralatan kerja karyawan

2.5 % 65 %

ICS4. Karyawan puas dengan empati divisi pembelian terhadap kebutuhan peralatan kerja karyawan

5 % 61.25 %

ICS5. Karyawan puas karena divisi pembelian selalu memberikan peralatan kerja terbaik untuk karyawan

3.75 % 72.5 %

Sumber : Lampiran

Indikator yang menyatakan karyawan puas dengan ketanggapan divisi

pembelian dalam mengobservasi kekurangan peralatan kerja karyawan tanggapan

yang baik dari responden dengan prosentase ketercapaian sebesar 83.75%, dimana

lebih dari tiga perempat responden setuju dan sangat setuju dengan pernyataan

tersebut, sehingga didapat rata - rata nilai dari pernyataan ini sebesar 3.93. Hal ini

menunjukan bahwa karyawan / divisi lain telah puas dengan ketanggapan divisi

pembelian dalam mengobservasi kekurangan peralatan kerja karyawan.

(15)

Indikator kedua yaitu karyawan puas dengan ketepatan waktu divisi pembelian dalam melengkapi kebutuhan karyawan mendapat tanggapan baik dari responden dengan prosentase ketercapaian sebesar 71.25%, sehingga didapat rata - rata nilai dari pernyataan ini sebesar 3.82. Menunjukkan bahwa karyawan / divisi lain telah puas dengan ketepatan waktu divisi pembelian dalam melengkapi kebutuhan karyawan.

Indikator ketiga yaitu karyawan Puas dengan kehandalan divisi pembelian dalam melengkapi kebutuhan peralatan kerja karyawan mendapat tanggapan yang baik dari responden dengan prosentase ketercapaian sebesar 65%, lebih dari setengah responden setuju dan sangat setuju dengan pernyataan ini, sehingga didapat rata - rata nilai dari pernyataan ini sebesar 3.74. Hal ini menunjukkan bahwa karyawan / divisi lain telah puas dengan kehandalan divisi pembelian dalam melengkapi kebutuhan peralatan kerja karyawan.

Indikator keempat yaitu karyawan puas dengan empati divisi pembelian terhadap kebutuhan peralatan kerja karyawan mendapat tanggapan yang baik dari responden dengan prosentase ketercapaian sebesar 61.25%, sehingga didapat rata - rata nilai dari pernyataan ini sebesar 3.66. Hal ini menunjukkan bahwa karyawan / divisi lain telah puas dengan empati divisi pembelian terhadap kebutuhan peralatan kerja karyawan.

Indikator kelima yaitu karyawan puas karena divisi pembelian selalu memberikan peralatan kerja terbaik untuk karyawan mendapat tanggapan yang baik dari responden dengan prosentase ketercapaian sebesar 72.5%, sehingga didapat rata - rata nilai dari pernyataan ini sebesar 3.88. Hal ini menunjukkan bahwa karyawan / divisi lain telah puas dengan kinerja divisi pembelian yang selalu memberikan peralatan kerja terbaik untuk karyawan.

Dari nilai rata-rata yang didapat, dapat dilihat secara keseluruhan bahwa karyawan puas dengan kinerja bagian pembelian. Yang terlihat dari nilai rata rata dari keempat indikator tersebut sebesar 3.81 yang masuk dalam kategori tinggi atau baik.

Standar deviasi yang terendah terdapat pada indikator ICS1 (0.61) yaitu karyawan

(16)

puas dengan ketanggapan divisi pembelian dalam mengobservasi kekurangan peralatan kerja karyawan.

4.1.4 Validitas dan Reliabilitas Kuesioner

Penelitian ini diawali dengan melakukan pengujian validitas kuesioner, yaitu pengujian terhadap item-item pernyataan yang menyusun setiap indikator penelitian.

Pengujian validitas kuesioner dimasudkan untuk mengetahui kemampuan indicator dalam mengukur suatau variabel. Pengujian validitas digunakan metode korelasi product moment pearson, dimana indikator pertanyaan dinyatakan valid apabila nilai korelasi product moment pearson lebih besar dari 0,30 dan untuk pengujian

reliabilitas akan dipergunakan metode cronbach alpha untuk data interval. Pengujian validitas dan reliabilitas dilakukan pada 80 responden penelitian dengan skala data nominal dan interval sebagai pre test sebelum dilajutkan ke dalam analisis dengan Partial Least Square. Berikut adalah hasil uji validitas pada variabel penelitian:

4.1.4.1 Validitas dan Reliabilitas variabel QMPP

Tabel 4.15 Validitas dan Reliabilitas Quality Management Practices In Purchasing (QMPP)

Indikator Mean Std. Dev

Corrected Item-Total Correlation

Cronbach's Alpha

Q1

4,15 0,68 0,493

0,783

Q2

3,88 0,74 0,605

Q3

3,83 0,65 0,498

Q4

3,63 0,82 0,596

Q5

3,64 0,88 0,408

Rata-rata nilai Mean 3,82

Sumber : Lampiran

(17)

Tabel 4.15 menunjukkan mean jawaban responden pada indikator-indikator Quality Management Practices In Purchasing yang tergolong tinggi yaitu berada pada interval 3,41 sampai 4,20. Validitas dengan metode korelasi product moment pearson diketahui dari nilai corrected item total correlation untuk masing-masing indicator pertanyaan sudah lebih besar dari criteria r (0,300). Sehingga indikator- indikator pernyataan tersebut valid dan dapat digunakan untuk mengukur variabel Quality Management Practices In Purchasing (QMPP).

Hasil pengujian reliabilitas juga diketahui menghasilkan nilai cronbach’s alpha pada dimensi Quality Management Practices In Purchasing (QMPP) sebesar 0,783 sehingga dapat disimpulkan penyusunan item-item pernyataan kuesioner pada variabel Quality Management Practices In Purchasing (QMPP) dinyatakan reliabel dan dapat dipercaya sebagi alat ukur yang menghasilkan jawaban yang konsisten.

4.1.4.2 Validitas dan Reliabilitas variabel Information System

Tabel 4.16 Validitas dan Reliabilitas Information System (IS)

Indikator Mean Std. Dev

Corrected Item-Total Correlation

Cronbach's Alpha

IS1 4,11

0,94 0,550

0,762

IS2 3,39

0,91 0,380

IS3 3,92

0,82 0,450

IS4 3,90

0,87 0,644

IS5 3,84

0,89 0,642

Rata-rata nilai Mean

3,83

Sumber : Lampiran

Validitas dengan metode korelasi product moment pearson diketahui dari nilai

corrected item total correlation untuk masing-masing indicator pertanyaan sudah

(18)

lebih besar dari criteria r (0,300). Sehingga indikator-indikator pernyataan tersebut valid dan dapat digunakan untuk mengukur variabel Information System (IS).

Hasil pengujian reliabilitas juga diketahui menghasilkan nilai cronbach’s alpha pada dimensi Information System (IS) sebesar 0,762 sehingga dapat disimpulkan penyusunan item-item pernyataan kuesioner pada variabel Information System (IS) dinyatakan reliabel dan dapat dipercaya sebagi alat ukur yang menghasilkan jawaban yang konsisten.

4.1.4.3 Validitas dan Reliabilitas variabel Purchasing Performance Tabel 4.17 Validitas dan Reliabilitas Purchasing Performance (PP)

Indikator Mean Std. Dev

Corrected Item-Total Correlation

Cronbach's Alpha

PP1 3,99

0,79 0,687

0,804

PP2 4,06

0,75 0,746

PP3 3,84

0,82 0,506

PP4 4,19

0,80 0,552

Rata-rata nilai Mean

4,02

Sumber : Lampiran

Validitas dengan metode korelasi product moment pearson diketahui dari nilai corrected item total correlation untuk masing-masing indicator pertanyaan sudah lebih besar dari criteria r (0,300). Sehingga indikator-indikator pernyataan tersebut valid dan dapat digunakan untuk mengukur variabel Purchasing Performance (PP).

Hasil pengujian reliabilitas juga diketahui menghasilkan nilai cronbach’s

alpha pada dimensi Purchasing Performance (PP) sebesar 0,804 sehingga dapat

disimpulkan penyusunan item-item pernyataan kuesioner pada variabel Purchasing

Performance (PP) dinyatakan reliabel dan dapat dipercaya sebagi alat ukur yang

menghasilkan jawaban yang konsisten.

(19)

4.1.4.4 Validitas dan Reliabilitas variabel Internal Customer Satisfaction Tabel 4.18 Validitas dan Reliabilitas Internal Customer Satisfaction (ICS)

Indikator Mean Std. Dev

Corrected Item-Total Correlation

Cronbach's Alpha

ICS1 3,93

0,61 0,541

0,826

ICS2 3,82

0,71 0,654

ICS3 3,74

0,74 0,709

ICS4 3,66

0,83 0,651

ICS5 3,88

0,85 0,578

Rata-rata nilai Mean

3,81

Sumber : Lampiran

Validitas dengan metode korelasi product moment pearson diketahui dari nilai corrected item total correlation untuk masing-masing indicator pertanyaan sudah lebih besar dari criteria r (0,300). Sehingga indikator-indikator pernyataan tersebut valid dan dapat digunakan untuk mengukur variabel Internal Customer Satisfaction (ICS).

Hasil pengujian reliabilitas juga diketahui menghasilkan nilai cronbach’s alpha pada dimensi Internal Customer Satisfaction (ICS) sebesar 0,826 sehingga dapat disimpulkan penyusunan item-item pernyataan kuesioner pada variabel Internal Customer Satisfaction (ICS) dinyatakan reliabel dan dapat dipercaya sebagi alat ukur yang menghasilkan jawaban yang konsisten.

4.2 Analisa Partial Least Square

Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan metode Partial Least

Square (PLS) dengan bantuan software Smart PLS 2. Berdasarkan teori dirancang

model struktural PLS untuk pengaruh karateristik Quality Management Practices In

Purchasing (QMPP) terhadap Internal Customer Satisfaction (ICS) melalui

(20)

Information System Purchasing (IS) dan Purchasing Performance (PP). Berikut adalah hasil dari estimasi algorithm berdasarkan model yang telah disusun :

Gambar 4.1 Model Struktural SEM

Langkah-langkah dalam melakukan analisis dengan Partial Least Square (PLS) terdiri atas dua evaluasi yaitu evaluasi outer model dan inner model. Berikut ini adalah penjelasan pada tiap langkah evaluasi dalam analisis Partial Least Square:

4.2.1 Evaluasi Outer Model

Evaluasi outer model dalam analisa Partial Least Square dilakukan untuk melakukan pengukuran measurement model atas variabel-variabel penelitian.

Evaluasi outer model terdiri atas pengujian convergent validity, discriminant validity dan composite reliability.

a. Convergent Validity

Convergent validity digunakan untuk mengukur suatu konstruk, karena suatu

konstruk haruslah berkorelasi tinggi. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, convergent

validity diukur dengan indicator reliability (outer loading) dan hasil average

variance extracted (AVE).

(21)

i. Indicator Reliability (Outer Loading)

Pengukuran convergent validity menggunakan nilai outer loading dengan batas ketentuan nilai outer loading harus lebih besar dari 0,50. Indikator dianggap reliable bila nilai outer loading indikator lebih dari 0,7. Artinya, indikator ini dapat digunakan untuk penelitian. Namun, nilai loading 0,5 hingga 0,7 masih bisa diterima.

Nilai loading yang semakin tinggi menunjukkan bahwa semakin penting peranan indikator dalam merefleksikan variabel. Berikut adalah nilai outer loading masing- masing indikator pada variabel penelitian:

Tabel 4.19 Nilai Outer loadings (measurement model)

ICS IS PP QMPP

ICS1 0.70436 ICS2 0.79925 ICS3 0.84078 ICS4 0.78176 ICS5 0.72539

IS1 0.71226

IS2 0.58445

IS3 0.60804

IS4 0.83101

IS5 0.83217

PP1 0.84223

PP2 0.88061

PP3 0.69255

PP4 0.76363

Q1 0.67634

Q2 0.75157

Q3 0.6686

Q4 0.75894

Q5 0.79717

Sumber : Lampiran

Berdasarkan Tabel diketahui bahwa nilai outer loading pada pengukuran

variabel semua item pertanyaan pada tiap dimensi dihasilkan telah lebih besar dari

dari ketetapan 0,50 sehingga pengukuran untuk variabel karakteristik perusahaan

sudah memenuhi convergent validity.

(22)

ii. Average Variance Extracted (AVE)

Selain dari outer loading, convergent validity dapat dilihat dari nilai Average Variance Extracted (AVE). Average Variance Extracted (AVE) adalah rata-rata presentase nilai varian yang diekstraksi dari seperangkat variabel laten yang diestimasi melalui loading standardize indikatornya dalam proses iterasi algortima.

Dimana nilai AVE ini sebaiknya lebih dari 0,5 (Latan & Ghozali, 2013). Minimal 0,5 berarti baik karena variabel laten dapat menjelaskan rata-rata lebih dari setengah variance dari indikatornya. Semakin besar nilai AVE menunjukkan semakin tinggi kemampuannya dalam menjelaskan skor pada indikator-indikator yang mengukur variabel laten. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4.20

Tabel 4.20 Hasil dari Average Variance Extracted (AVE) AVE

ICS 0.59583 IS 0.52034 PP 0.6369 QMPP 0.53616

Dari nilai AVE maka dapat dilihat bahwa variabel Quality Management Practices In Purchasing (QMPP), Information System Purchasing (IS), Purchasing Performance(PP) dan Internal Customer Satisfaction (ICS) memiliki hubungan korelasi yang baik, yaitu nilainya lebih besar dari 0,5.

b. Composite Reliability

Composite reliability digunkan untuk mengukur internal consistency dan dapat dikatakan baik apabila memiliki nilai lebih dari 0,80. Composite reliability menguji nilai reliabilitas indikator-indikator pada suatu variabel. Suatu variabel dikatakan memenuhi composite reliability jika memiliki nilai composite reliability >

0,70. Berikut adalah nilai composite reliability masing-masing variabel:

(23)

Tabel 4.21 Nilai Composite Reliability

Variabel Composite

Reliability Internal Customer Satisfaction (ICS) 0.880

Information System Purchasing(IS) 0.841

Purchasing Performance(PP) 0.874

Quality Management Practices In Purchasing (QMPP) 0.852 Sumber : Lampiran 3

Tabel menunjukkan bahwa nilai composite reliability untuk variabel Quality Management Practices In Purchasing (QMPP), Information System Purchasing (IS), Purchasing Performance (PP) dan Internal Customer Satisfaction (ICS) semuanya sudah lebih besar dari 0,70. Dengan demikian dalam model penelitian, masing- masing variabel penelitian telah memenuhi composite reliability.

c. Discriminant Validity (Cross Loadings)

Evaluasi selanjutnya pada outer model adalah discriminant validity. Untuk mengukur discriminant validity digunakan perbandingan dengan mempergunakan nilai crossloading. Berikut adalah perbandingan nilai cross loading yang masing- masing indicator variabel penelitian:

Tabel 4.22 Nilai Cross Loading

ICS IS PP QMPP

ICS1 0.704355 0.528693 0.445098 0.589756

ICS2 0.799246 0.617024 0.607025 0.643249

ICS3 0.840782 0.674238 0.581826 0.707854

ICS4 0.781755 0.610028 0.514798 0.577002

ICS5 0.725391 0.596529 0.530188 0.539171

IS1 0.520235 0.712259 0.530735 0.569111

IS2 0.498687 0.584453 0.443245 0.558318

IS3 0.475622 0.608042 0.330686 0.466046

IS4 0.64713 0.831013 0.560589 0.625569

IS5 0.665507 0.832167 0.553195 0.604729

(24)

ICS IS PP QMPP PP1 0.590871 0.518613 0.842234 0.506852 PP2 0.608993 0.579551 0.88061 0.602593 PP3 0.469745 0.431888 0.69255 0.488994 PP4 0.54461 0.627667 0.763627 0.538201 Q1 0.626768 0.489632 0.443122 0.676343 Q2 0.495865 0.504818 0.496766 0.751568 Q3 0.49973 0.527816 0.423677 0.668599 Q4 0.627413 0.581237 0.425174 0.758944 Q5 0.643961 0.737584 0.636875 0.797166

Sumber : Lampiran

Berdasarkan Tabel diketahui bahwa nilai outerloading terbesar dari hasil crossloading pada masing-masing variabel dan dimensi didapatkan nilai tertinggi pada variabel yang memang diukurnya. Hasil ini menunjukkan bahwa indikator- indikator di dalam penelitian ini telah memiliki discriminant validity yang baik.

4.2.2 Evaluasi Inner Model

Model struktural atau inner model bertujuan untuk memprediksi hubungan antar variabel laten yang dihipotesiskan. Model struktural dalam PLS dievaluasi dengan menggunakan koefisien determinasi untuk variabel independen. Sedangkan signifikansi antar konstruk dinilai dengan koefisien path atau nilai t (tvalues) (Latan

& Ghozali, 2013).

4.2.2.1 Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi digunakan untuk mengukur seberapa besar variasi

variabel dependen dijelaskan oleh variabel independen. Dalam mlihat model

structural dengan PLS, mulai dengan melihat R-square untuk setiap variabel laten

endogen sebagai kekuatan prediksi dari model structural. Perubahan nilai Rsquare

dapat digunakan untuk menjelaskan pengaruh variabel laten eksogen tertentu

terhadap variabel laten endogen apakah mempunyai pengaruh yang substantive. Hasil

dari PLS R-square mempresentasi jumlah variance dari konstruk yang dijelaskan oleh

(25)

model. Semakin besar nilai R-square semakin besar presentase variance yang dapat dujelaskan (Latan & Ghozali, 2013).

Disamping melihat besarnya nilai R-square, evaluasi model PLS dapat juga dilakukan dengan Q-square. Teknik ini dapat mempresentasi synthesis dari cross- validation dan fungsi fitting dengan prediksi dari observed variabel dan estimasi dari parameter konstruk. Nilai Q-square lebih besar dari 0 menunjukkan bahwa model mempunyai predictive relevance.

Tabel 4.23 Nilai R-Square Variabel R-Square

ICS 0.72002 IS 0.61989 PP 0.51199 QMPP

Dari Tabel 4.23 diketahui nilai R-Square untuk Internal Customer Satisfaction (ICS) sebesar 0,720 memiliki arti bahwa prosentase besarnya Internal Customer Satisfaction (ICS) yang dapat dijelaskan oleh Quality Management Practices In Purchasing (QMPP), Information System Purchasing(IS) dan Purchasing Performance(PP) adalah sebesar 72,0%. sedangkan sisanya 28% dijelaskan oleh variabel lain selain Quality Management Practices In Purchasing (QMPP), Information System Purchasing(IS) dan Purchasing Performance(PP).

Besarnya nilai R-Square untuk variabel Information System Purchasing(IS) adalah sebesar 0,6198 artinya prosentase besarnya Information System Purchasing (IS) yang dapat dijelaskan oleh Quality Management Practices In Purchasing (QMPP) adalah sebesar 62%, sedangkan sisanya 38% dijelaskan oleh variabel lain selain Quality Management Practices In Purchasing (QMPP).

Besarnya nilai R-Square untuk variabel Purchasing Performance (PP) adalah

sebesar 0,5119 artinya variabel Purchasing Performance (PP) dapat dijelaskan oleh

variabel uality Management Practices In Purchasing (QMPP) dan Information

System Purchasing (IS) sebesar 51,2% sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel

lain.

(26)

Kesesuaian mode struktural dapat dilihat dari Q-square. Sementara nilai Q

2

dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Q

2

= 1 – (P

e12

x P

e22

x P

e32

) dimana:

Q

2

= Koefisien determinasi total

P

2ei

= Parameter error masing-masing persamaan P

ei

= = (1 – Ri

2

)

0.5

Dari hasil analisis regresi diperoleh nilai R

12

= 0,720 ; R

22

= 0,620 dan nilai R

32

= 0,512 sehingga diperoleh nilai Pe

1

, Pe

2

dan Pe

3

sebagai berikut:

P

e1

= (1 – 0,720)

0.5

= 0,529 P

e2

= (1 – 0,620)

0.5

= 0,616 P

e3

= (1 – 0,512)

0.5

= 0,699

Didapat nilai koefisien determinasi total sebagai berikut:

Q

2

= 1 – (P

e12

x P

e22

x P

e32

)

Q

2

= 1 – (0,529

2

x 0,616

2

x 0,699

2

) Q

2

= 0,948

Dari hasil perhitungan didapat nilai koefisien determinasi total sebesar 0,948, yang berarti model PLS yang dikembangkan dapat menjelaskan fenomena mengenai Quality Management Practices In Purchasing (QMPP), Information System Purchasing (IS), Purchasing Performance (PP) dan Internal Customer Satisfaction (ICS) di perusahaan manufaktur makanan dan minuman di Jawa Timur sebesar 94,8%. Sedangkan sisanya 5,2% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dipergunakan di dalam model.

Hasil angka tersebut juga lebih besar dari 0 sehingga menunjukkan model memiliki predictive relevance. Hal ini menunjukkan variabel laten eksogen mempunyai nilai predictive relevance yang cukup terhadap variabel laten endogen.

4.2.2.2 Signifikansi dan Pengaruh antar Variabel

Nilai koefisien path atau inner model menunjukkan tingkat signifikansi dalam pengujian hipotesis. Skor koefisien path ditunjukkan oleh nilai T-statistik. Nilai T-

1Ri2

(27)

statistik yang digunakan (two-tailed) t-value 1,96 dengan significance level yaitu 5%.

Selain T-statistik, hasil iterasi yang dilakukan PLS menghasilkan original sample, sample mean, dan standart deviation. Original sampel adalah skor beta unstandardize yang digunakan untuk melihat sifat prediksi variabel independen terhadap variabel dependen. Sample mean adalah nilai rata-rata sampel yang dihasilkan dari proses iterasi. Standard deviation adalah standar error (Latan & Ghozali, 2013). Hasil bootstraping dengan iterasi sebanyak 500 untuk penelitian ini dapat dilihat pada Tabel berikut.

Tabel 4.24 Path Coefficient Original

Sample (O)

Sample Mean

(M)

Standard Deviation (STDEV)

T Statistics (|O/STERR|) IS -> ICS 0.340095 0.352053 0.131102 2.594129

IS -> PP 0.401011 0.406041 0.126215 3.17721 PP -> ICS 0.202625 0.194894 0.094265 2.14952 QMPP -> ICS 0.391479 0.376601 0.12401 3.156835

QMPP -> IS 0.787332 0.782707 0.051755 15.21272 QMPP -> PP 0.355737 0.336498 0.150026 2.371159

Sumber: Data olah (2016)

Koefisien path pengaruh antara Information System Purchasing (IS) terhadap Internal Customer Satisfaction (ICS) sebesar 0,340 dengan t-statistic sebesar 2,594 >

1,96. Hasil ini menyimpulkan terdapat pengaruh positif yang signifikan antara

Information System Purchasing (IS) terhadap Internal Customer Satisfaction (ICS)

pada perusahaan manufaktur sampel penelitian. Hal ini berarti peningkatan

Information System Purchasing (IS) akan meningkatkan secara signifikan Internal

Customer Satisfaction (ICS) pada perusahaan manufaktur sampel penelitian dengan

level signifikan 0,05.

(28)

Koefisien path pengaruh antara Information System Purchasing (IS) terhadap Purchasing Performance (PP) sebesar 0,401 dengan t-statistic sebesar 3,177 > 1,96.

Hasil ini menyimpulkan terdapat pengaruh positif yang signifikan antara Information System Purchasing (IS) terhadap Purchasing Performance (PP) pada perusahaan manufaktur sampel penelitian. Hal ini berarti peningkatan Information System Purchasing (IS) akan meningkatkan secara signifikan Purchasing Performance (PP) pada perusahaan manufaktur sampel penelitian dengan level signifikan 0,05.

Koefisien path pengaruh antara Purchasing Performance (PP) terhadap Internal Customer Satisfaction (ICS) sebesar 0,203 dengan t-statistic sebesar 2,149 >

1,96. Hasil ini menyimpulkan terdapat pengaruh positif yang signifikan antara Purchasing Performance (PP) terhadap Internal Customer Satisfaction (ICS) pada perusahaan manufaktur sampel penelitian. Hal ini berarti peningkatan Purchasing Performance (PP) akan meningkatkan secara signifikan Internal Customer Satisfaction (ICS) pada perusahaan manufaktur sampel penelitian dengan level signifikan 0,05.

Koefisien path pengaruh antara Quality Management Practices In Purchasing (QMPP) terhadap Internal Customer Satisfaction (ICS) sebesar 0,391 dengan t- statistic sebesar 3,157 > 1,96. Hasil ini menyimpulkan terdapat pengaruh positif yang signifikan antara Quality Management Practices In Purchasing (QMPP) terhadap Internal Customer Satisfaction (ICS) pada perusahaan manufaktur sampel penelitian.

Hal ini berarti peningkatan Quality Management Practices In Purchasing (QMPP) akan meningkatkan secara signifikan Internal Customer Satisfaction (ICS) pada perusahaan manufaktur sampel penelitian dengan level signifikan 0,05.

Koefisien path pengaruh antara Quality Management Practices In Purchasing

(QMPP) terhadap Information System Purchasing (IS) sebesar 0,787 dengan t-

statistic sebesar 15,213 > 1,96. Hasil ini menyimpulkan terdapat pengaruh positif

yang signifikan antara Quality Management Practices In Purchasing (QMPP)

terhadap Information System Purchasing (IS) pada perusahaan manufaktur sampel

penelitian. Hal ini berarti peningkatan Quality Management Practices In Purchasing

(29)

(QMPP) akan meningkatkan secara signifikan Information System Purchasing(IS) pada perusahaan manufaktur sampel penelitian dengan level signifikan 0,05.

Koefisien path pengaruh antara Quality Management Practices In Purchasing (QMPP) terhadap Purchasing Performance (PP) sebesar 0,356 dengan t-statistic sebesar 2,371 > 1,96. Hasil ini menyimpulkan terdapat pengaruh positif yang signifikan antara Quality Management Practices In Purchasing (QMPP) terhadap Purchasing Performance (PP) pada perusahaan manufaktur sampel penelitian. Hal ini berarti peningkatan Quality Management Practices In Purchasing (QMPP) akan meningkatkan secara signifikan Purchasing Performance (PP) pada perusahaan manufaktur sampel penelitian dengan level signifikan 0,05.

Tabel 4.25 Pengaruh Langsung dan Tidak Langsung Pengaruh Langsung Tidak

Langsung Melalui IS

Tidak Langsung Melalui PP

Tidak Langsung dari PP melalui

IS QMPP -> ICS 0.391 0.787 x 0.340

= 0.268

0.356 x 0.203 = 0.072

0.787 x 0.401 x 0.203 = 0.064 Sumber : Lampiran

Tabel 4.25. menunjukkan besarnya pengaruh langsung antara Quality

Management Practices In Purchasing (QMPP) terhadap Internal Customer

Satisfaction (ICS) lebih besar yaitu 0,391 dibandingkan dengan pengaruh tidak

langsung yang melalui Information System Purchasing (IS), Purchasing performance

(PP) melalui Information System (IS) dan Purchasing Performance (PP). Hal ini

berarti Information System Purchasing (IS), Purchasing performance (PP) melalui

Information System (IS) dan Purchasing Performance (PP) tidak memediasi penuh

(full mediation) pengaruh Quality Management Practices In Purchasing (QMPP)

terhadap Internal Customer Satisfaction (ICS) pada perusahaan manufaktur di

bidang makanan dan minuman yang dijadikan sampel penelitian. Serta pengaruh total

dari Quality Management Practices In Purchasing (QMPP) terhadap Internal

Customer Satisfaction (ICS) sebesar 0.795 sehingga dapat dikatakan bahwa dengan

(30)

adanya Quality Management Practices In Purchasing (QMPP) yang diterapkan oleh bagian pembelian dan adanya dukungan Information System (IS) serta peningkatan dan perbaikan kinerja pembelian akan dapat mempengaruhi Internal Customer Satisfaction (ICS). Akan tetapi walaupun Quality Management Practices In Purchasing (QMPP) lebih besar pengaruhnya terhadap Internal Customer Satisfaction (ICS) dibandingkan dengan menggunakan variabel lainnya, perusahaan saat ini untuk dapat bertahan dalam jangka panjang dalam persaingan yang ketat perlu adanya sistem penggunaan dan penerapan Information System Purchasing (IS) dan peningkatan Purchasing Performance (PP) dalam perusahaan.

4.3 Pengujian Hipotesis

Gambar 4.2 Hasil Pengolahan

Dari hasil pengolahan dapat dilihat pada Gambar 4.2 diatas. Dari gambar

tersebut dapat dilihat bahwa pada variabel Quality Management Practices In

Purchasing (QMPP) memiliki nilai indikator tertinggi pada Q5 (Perusahaan

melakukan perbaikan melalui benchmarking) dengan nilai sebesar 0,797. Variabel

(31)

kedua, Information System Purchasing (IS) memiliki nilai indikator tertinggi pada IS5 (Penggunaan electronic data interchange (EDI) dengan customers/clients) dengan nilai sebesar 0,832. Variabel ketiga, Purchasing Performance (PP) memiliki nilai indikator tertinggi pada PP2 (Kesesuaian bahan baku material dengan spesifikasi ) dengan nilai 0,881. Variabel terakhir yaitu Internal Customer Satisfaction (ICS) memiliki nilai indikator tertinggi pada item ICS 3 dengan nilai 0,841 yaitu Divisi pembelian handal dalam melengkapi kebutuhan peralatan kerja karyawan. Nilai-nilai pada indikator-indikator yang tertinggi ini memiliki pengaruh dan menentukan keberhasilan dari penelitian.

Sehingga Melalui gambar 4.2. Dapat dilihat bahwa Quality Management Practices In Purchasing (QMPP) memiliki pengaruh paling besar terhadap terbentuknya information system begitu juga dalam terciptanya internal customer satisfaction yang artinya dengan adanya perbaikan pada QMPP yang didukung oleh adanya perbaikan menggunakan benchmarking akan dapat meningkatkan akurasi information system yang terbentuk sehingga akan mampu meningkatkan kinerja bagian pembelian dalam melengkapi kebutuhan karyawan agar kepuasan pelanggan internal tercapai.

4.4 Pembahasan

Hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan model persamaan struktural (PLS) melalui program smartPLS menghasilkan bahwa ketujuh hipotesis dapat diterima.

4.4.1 Terdapat pengaruh signifikan antara Quality Management Practices In Purchasing terhadap Internal Customer Satisfaction.

Hasil pengolahan smartPLS pada penelitian ini menunjukkan nilai estimasi

parameter pengaruh Quality Management Practices In Purchasing terhadap Internal

Customer Satisfaction adalah sebesar 0,391 dengan critical ratio sebesar 3,157. Hal

ini menunjukkan bahwa Quality Management Practices In Purchasing memberikan

pengaruh terhadap Internal Customer Satisfaction. Hal ini berarti bahwa dengan

adanya perbaikan manajemen mutu dengan menggunakan benchmarking dan adanya

(32)

komitmen manajemen dalam penerapan manajemen mutu akan mampu meningkatkan kehandalan purchasing dalam pembelian dan ketepatan waktu dalam melengkapi kebutuhan karyawan sehingga dapat meningkatkan internal customer satisfaction.

Hasil ini mendukung penelitian dari Stanley & Wisner (2001) serta (Rodriguez,et al., 2004). Pelaksanaan QMPP memainkan peran penting dalam kemampuan pembelian ini untuk memberikan kualitas layanan kepada pelanggan internal. Oleh karena itu, perusahaan yang menggunakan dengan baik investasi dalam pelaksanaan praktek manajemen mutu dalam pembelian bisa mendapatkan tidak hanya kesempatan untuk memperoleh keuntungan dalam kinerja operasional pembelian, tetapi juga kemungkinan peningkatan tingkat kepuasan pelanggan internal dengan memberikan layanan yang lebih baik untuk departemen pelanggan internal. Kepuasan pelanggan internal merupakan salah satu faktor kunci dalam pemasaran modern dan analisis perilaku pelanggan. Jika pelanggan internal puas, mereka tetap berkomitmen untuk menyediakan barang organisasi atau layanan dan meningkatkan probabilitas bahwa mereka menggunakan jasa mereka lagi. Sehingga, dengan adanya Quality Management Practices In Purchasing jelas dapat memiliki hubungan dengan kepuasan karyawan secara internal terutama pada perusahaan manufaktur. Martínez- Lorente (2004) bahwa terdapat hubungan positif antara kepuasan pelanggan internal yang dipengaruhi kinerja pembelian melalui praktek manajemen mutu dalam pembelian. Sehingga hipotesa Pertama yaitu Quality Management Practices In Purchasing berpengaruh positif terhadap Internal Customer Satisfaction dapat diterima.

4.4.2 Terdapat pengaruh signifikan antara Quality Management Practices In Purchasing terhadap Purchasing Performance.

Hasil pengolahan smartPLS pada penelitian ini menunjukkan nilai estimasi parameter pengaruh Quality Management Practices In Purchasing terhadap Purchasing Performance adalah sebesar 0,356 dengan critical ratio sebesar 2,371.

Hal ini berarti bahwa dengan adanya perbaikan manajemen mutu dengan

menggunakan benchmarking dan adanya komitmen manajemen dalam penerapan

manajemen mutu akan menghasilkan bahan baku material yang standar sesuai dengan

(33)

spesifikasi dengan harga yang sesuai sehingga dapat meningkatkan kinerja bagian pembelian. Hasil ini mendukung penelitian dari (Rodriguez, 2004). Purchasing performance dalam mengedepankan adanya efisiensi dalam proses pembelian bahan baku termasuk di dalamnya adalah kualitas bahan yang baik, ketepatan pengiriman dan biaya yang sebanding dengan kualitas. Sehingga dalam hal ini dengan adanya pelaksanaan praktek manajemen mutu dalam pembelian (QMPP) secara langsung dapat meningkatkan operasional dari kinerja pembelian pada suatu perusahaan.

Stanley & Wisner (2001) bahwa implikasi QMPP secara signifikan dapat meningkatnya level kinerja operasional bagian purchasing. Hemsworth, et al (2005) bahwa penerapan manajemen mutu dalam pembelian memiliki pengaruh secara langsung dan signifikan dengan praktek sistem informasi serta purchasing performance. Sehingga hipotesa Kedua yaitu Quality Management Practices In Purchasing berpengaruh positif terhadap Purchasing Performance dapat diterima.

4.4.3 Terdapat pengaruh signifikan antara Quality Management Practices In Purchasing terhadap Information System.

Hasil pengolahan smartPLS pada penelitian ini menunjukkan nilai estimasi parameter pengaruh Quality Management Practices In Purchasing terhadap Information System adalah sebesar 0,787 dengan critical ratio sebesar 15,213. Hal ini berarti bahwa dengan adanya perbaikan manajemen mutu dengan menggunakan benchmarking dan adanya komitmen manajemen dalam penerapan manajemen mutu akan mampu meningkatkan efektifitas penggunaan dan penerapan information system dalam perusahaan seperti penggunaan EDI (Electronic data interchange) dengan supplier maupun user. Hasil ini mendukung penelitian dari (Hemswort et al., 2008) bahwa praktek sistem informasi dalam kegiatan pembelian dapat dipergunakan mendukung Total Quality Management seperti meningkatkan koordinasi lintas fungsional. Keberhasilan pelaksanaan manajemen mutu terhadap pemasok selalu disertai dengan manajemen mutu yang efektif dalam sistem informasi (Krause, 1999;

Lascelles & Dale, 1989). Dewhurst et al. (2003) yang menemukan bukti bahwa

perusahaan dengan QMPP juga memiliki dampak langsung positif dan signifikan

terkait penggunaan information system. Sehingga hipotesa Ketiga yaitu Quality

(34)

Management Practices In Purchasing berpengaruh positif terhadap Information System dapat diterima.

4.4.4 Terdapat pengaruh signifikan antara Information System terhadap Purchasing Peformance.

Hasil pengolahan smartPLS pada penelitian ini menunjukkan nilai estimasi parameter pengaruh Information System terhadap Purchasing Performance adalah sebesar 0,401 dengan critical ratio sebesar 3,177. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan dan penerapan information system dalam perusahaan seperti penggunaan EDI (Electronic data interchange) untuk penerimaan barang dengan supplier dan penggunaan EDI (Electronic data interchange) untuk pengeluaran barang dengan user akan menghasilkan sistem informasi yang standar sehingga akan mempermudah dalam mencocokan bahan baku material yang datang dengan spesifikasi yang diminta dan mampu menekan biaya yang dikeluarkan sehingga dihasilkan kesesuaian harga bahan yang dibeli, dengan demikian adanya information system akan mampu meningkatkan kinerja bagian pembelian. Hasil ini mendukung penelitian dari Lim dan Palvia (2001) Penerapan sistem EDI meningkatkan efisiensi pemasok-pembeli dan kehandalan, menurunkan biaya dan waktu siklus ketertiban, dan meningkatkan kepuasan pelanggan. Lancioni et al (2000) Perusahaan yang mempergunakan internet dalam manajemen supply chain juga menyimpulkan bahwa penggunaan internet juga dapat dipergunakan untuk meningkatkan pemrosesan order dan penjadwalan produksi dan secara langsung dapat meningkatkan efisiensi fungsi pembelian. Handfield et al.

(2000) Bahwa informasi yang tepat waktu dan akurat juga penting untuk pengambilan keputusan pembeli dan pemasok dan akhirnya akan memperbaiki kinerja pemasok. Sehingga hipotesa Keempat yaitu Information System berpengaruh positif terhadap Purchasing Performance dapat diterima.

4.4.5 Terdapat pengaruh signifikan antara Purchasing Peformance terhadap Internal Customer Satisfaction.

Hasil pengolahan smartPLS pada penelitian ini menunjukkan nilai estimasi

parameter pengaruh Purchasing Performance terhadap Internal Customer

(35)

Satisfaction adalah sebesar 0,203 dengan critical ratio sebesar 2,149. Hal ini menunjukkan bahwa dengan adanya peningkatan kinerja pembelian seperti adanya standarisasi spesifikasi pembelian bahan dan kesesuaian harga bahan yang dibeli akan dapat mengoptimalkan kehandalan bagian pembelian dalam pengadaan bahan serta meningkatkan ketepatan waktu bagian pembelian dalam melengkapi kebutuhan karyawan dalam perusahaan. Dengan adanya hal tersebut maka akan mampu untuk meningkatkan Internal Customer Satisfaction. Hasil ini mendukung penelitian dari Stanley & Wisner (2001) Purchasing performance yang terlaksana dengan baik akan menghasilkan efisiensi dan efektifitas dalam proses pembelian bahan baku perusahaan sehingga kepuasan karyawan sebagai pelanggan internal dapat tercapai.

Dimana dengan adanya peningkatan kinerja pembelian maka akan berpengaruh langsung secara positif dan signifikan terhadap Internal Customer Satisfaction (ICS).

Martínez-Lorente (2004) Bahwa terdapat hubungan positif antara kepuasan pelanggan internal yang dipengaruhi kinerja pembelian melalui praktek manajemen mutu dalam pembelian. Kepuasan pelanggan internal (internal customers satisfaction) didefinisikan kepuasan karyawan dengan layanan yang diterima dari penyedia layanan secara internal (Biraori et al, 2014). Purchasing performance yang terlaksana dengan baik akan menghasilkan efisiensi dan efektifitas dalam proses pembelian bahan baku perusahaan sehingga kepuasan karyawan sebagai pelanggan internal dapat tercapai. Sehingga hipotesa Kelima yaitu Purchasing Performance berpengaruh positif terhadap Internal Customer Satisfaction dapat diterima.

4.4.6 Terdapat pengaruh signifikan antara Information system terhadap Internal Customer satisfaction.

Hasil pengolahan smartPLS pada penelitian ini menunjukkan nilai estimasi

parameter pengaruh Information system terhadap Internal Customer Satisfaction

adalah sebesar 0,340 dengan critical ratio sebesar 2,594. Hal ini menunjukkan bahwa

penggunaan dan penerapan information system dalam perusahaan seperti penggunaan

EDI (Electronic data interchange) untuk penerimaan barang dengan supplier dan

penggunaan EDI (Electronic data interchange) untuk pengeluaran barang dengan

user akan dapat mengoptimalkan kehandalan bagian pembelian dalam pengadaan

(36)

bahan serta meningkatkan ketepatan waktu bagian pembelian dalam melengkapi kebutuhan karyawan dalam perusahaan, sehingga mampu untuk meningkatkan Internal Customer Satisfaction. Hasil ini mendukung penelitian dari Stanley &

Wisner (1998) Bahwa kepuasan konsumen internal dipengaruhi dengan kemauan departemen pembelian perusahaan dalam mengimplementasikan system informasi dalam proses pembelian. (Livari, 2005) Penggunaan sistem informasi yang berkualitas akan sangat berpengaruh signifikan terhadap tingkat kepuasan pelanggan.

Serta dikatakan bahwa kepuasan pelanggan merupakan hasil output dari penggunaan sistem informasi (De Lone & McLean, 1992). Sehingga hipotesa Keenam yaitu Information system berpengaruh positif terhadap Internal Customer Satisfaction dapat diterima.

4.4.7 Pengaruh Tidak Langsung antara Quality Management Practices In Purchasing terhadap Internal Customer Satisfaction melalui Information System

Hasil pengolahan smartPLS pada penelitian ini menunjukkan nilai estimasi

parameter pengaruh langsung Quality Management Practices In Purchasing terhadap

Information System adalah sebesar 0,787 dengan critical ratio sebesar 15,213 lebih

besar dari T tabel dengan nilai 1,96 Dan pengaruh langsung Information system

terhadap Internal Customer Satisfaction adalah sebesar 0,340 dengan critical ratio

sebesar 2,594 lebih besar dari T tabel dengan nilai 1,96. Pengaruh tidak langsung

Quality Management Practices In Purchasing terhadap Internal Customer

Satisfaction melalui Information system memiliki hasil kali nilai path coefficient

sebesar 0.268. Hal ini menunjukkan bahwa Quality Management Practices In

Purchasing melalui Information System lebih besar pengaruhnya dari pada melalui

variable lain. Dimana information system merupakan cara atau langkah yang dapat

memudahkan dalam proses pembelian bahan baku karena bagian purchasing suatu

perusahaan akan dapat dengan intens dan efektif berkomunikasi dengan pihak

supplier untuk mendapatkan kualitas bahan baku yang sesuai dengan spesifikasi.

Gambar

Tabel 4.2 Deskriptif Golongan Industri  Golongan Industri  Jumlah  %  Industri Sedang (20 – 99 orang)  25  31.3
Tabel 4.4 Deskriptif Profil Responden Berdasarkan Jenis Kelamin  Jenis Kelaman  Jumlah  %
Tabel 4.5 Deskriptif Profil Responden Berdasarkan Lama Bekerja  Lama Bekerja  Jumlah  %
Tabel 4.6 Kategori Mean Jawaban Responden
+7

Referensi

Dokumen terkait

The Influence Implementation Internal Control, Information System Technology, Individual Culture To Quality Audit Internal With Quality Human Resource Moderating

The Influence Implementation Internal Control, Information System Technology, Individual Culture To Quality Audit Internal With Quality Human Resource Moderating

Dari tabel ini dapat dilihat bahwa dari kelima aspek kehidupan penting yang dinominasikan oleh sebagian besar responden penelitian, hanya tiga aspek di antaranya yang

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hipotesis pertama yang menyatakan variabel harga saham berpengaruh signifikan terhadap earning management tidak terbukti. Hasil ini

Pengaruh tak langsung corporate social responsibility terhadap market response melalui earning management mempunyai total path koefisien sebesar 0.086 dengan

profil data penelitian yang dapat dilihat pada Gambar 4.5 menunjukkan bahwa grafik tersebut tidak membentuk pola hubungan linear antara proporsi laba negatif sebagai

Pada tabel 4.12 dapat dilihat bahwa nilai F hitung adalah sebesar 36,535 dengan probabilitas signifikansi dibawah 0,05 yaitu 0,000 dan menunjukan model regresi dapat memprediksi

Namun karena kolom yang di sebelah kanan menyebutkan penyerahan yang dilakukan oleh perusahaan sampai dengan bulan ini (maksudnya sampai pada bulan Juni), sementara data yang