• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "4. HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

25

Universitas Kristen Petra

4. HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Gambaran Umum Sampel

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh kinerja CSR terhadap persistensi laba pada perusahaan yang bergerak di industri dasar dan kimia sub sektor kimia; kayu dan penggilingan; keramik, porselen dan kaca; pulp dan kertas serta pakan ternak yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 88 dimana terdiri dari 22 perusahaan pada rentang waktu pengamatan 4 tahun sesuai dengan kriteria sampel dalam pengujian data. Proses pengelompokkan data pengujian adalah sebagai berikut :

Tabel 4.1 Rangkuman Hasil Penentuan Sampel

Syarat Sampel Jumlah Sampel

Terdaftar di BEI pada periode tahun 2006-2014 pada sektor industri dasar dan kimia sub sektor kimia; kayu dan penggilingan; keramik, porselen dan kaca; pulp dan kertas serta pakan ternak

120

Jumlah laporan tahunan perusahaan pada periode tahun 2006-2014 yang tidak tersedia

(28)

Tidak mengungkapkan aktivitas CSR pada laporan tahunan perusahaan

(4)

Jumlah Sampel 88

4.1.2 Corporate Social Responsibility Index (CSRI)

Dalam perhitungan CSRI, data yang digunakan adalah laporan tahunan perusahaan mulai tahun 2010 sampai tahun 2013 yang didasarkan pada kriteria yang terdapat pada GRI Index versi 3.1. Contoh perhitungan CSRI perusahaan INCI pada tahun 2013 adalah sebagai berikut :

(2)

26

Universitas Kristen Petra

Tabel 4.2 Hasil CSRI INCI 2013

Jenis Aspek Nilai

Perusahaan

Jumlah Kriteria GRI Index

3.1

Ekonomi 6 9

Lingkungan 6 30

Sosial: Tenaga Kerja 0 15

Sosial: Hak Asasi Manusia 4 11

Sosial: Masyarakat 1 10

Sosial: Tanggung Jawab Produk 3 9

Jumlah 20 84

𝐶𝑆𝑅𝐼𝑖,𝑡−1 = 20

84 = 23,81%

Hasil CSR sebesar 23,81% pada laporan tahunan UNIC tahun 2011 menyatakan bahwa UNIC telah mengungkapkan aktivitas CSR sesuai dengan kriteria GRI Index versi 3.1 sebesar 23,81%, atau sekitar 20 kriteria terpenuhi dari 84 kriteria GRI Index versi 3.1. Angka 23,81% ini terbilang cukup baik karena hampir sebesar nilai mean atau rata-rata CSR pada tabel 4.7 atau tabel statistik deskriptif yaitu sebesar 28,91%. Akan tetapi, bila didasarkan pada seberapa perusahaan melaksanakan aktivitas CSR sesuai kriteria yang terdapat pada GRI Index versi 3.1, INCI terbilang masih sangat kurang dalam mengikuti pedoman aktivitas CSR GRI Index versi 3.1 karena baru melaksanakan 23,81% dari 84 kriteria GRI Index versi 3.1, yaitu sekitar 20 kriteria. Makin tinggi nilai CSRI menunjukkan bahwa perusahaan makin menerapkan aktivitas CSR sesuai dengan pedoman pada GRI Index versi 3.1. Perhitungan lengkap CSRI dapat dilihat pada Lampiran.

4.1.3 Persistensi Laba

Perhitungan persistensi laba didapatkan dari meregresikan laba per lembar saham atau earning per share (EPS) tahun sekarang dengan laba per lembar

(3)

27

Universitas Kristen Petra

saham atau earning per share (EPS) tahun-tahun sebelumnya, dimana pada penelitian ini dilakukan selama lima tahun. Contoh perhitungan persistensi laba dari perusahaan INCI tahun 2013 adalah sebagai berikut:

Tabel 4.3 Hasil PL INCI 2013

Tahun t EPSt (Rp/share) Tahun t-1 EPSt-1

(Rp/share)

ϕ 1,j

2013 57 2012 24,55 0,053

2012 24,55 2011 -94,84

2011 -94,84 2010 -16

2010 -16 2009 18

2009 18 2008 19

PLt = 0,053

Hasil PL INCI tahun 2013 sebesar 0,053 menyatakan bahwa 5,3%

proporsi laba per lembar saham INCI periode sekarang atau tahun 2013 dapat dipertahankan atau diperoleh kembali pada periode berkutnya. Angka 5,3% ini terbilang cukup baik karena lebih tinggi dari nilai mean atau rata-rata PL pada tabel 4.7 atau tabel statistik deskriptif yaitu sebesar -0,046 namun bila dibandingkan dengan 100% maka proporsi laba ini termasuk sangat kecil. Makin tinggi nilai persistensi makin baik, karena menunjukkan makin tinggi proporsi laba periode sekarang yang dapat dipertahankan di periode mendatang.

Perhitungan lengkap persistensi laba dapat dilihat pada Lampiran.

4.1.4 Siklus Operasi

Perhitungan siklus operasi menggunakan data penjualan, piutang awal, piutang akhir, rata-rata piutang, harga pokok penjualan, persediaan awal, persediaan akhir dan rata-rata persediaan perusahaan pada tahun 2010-2013.

Contoh perhitungan siklus operasi perusahaan INCI tahun 2013 adalah sebagai berikut:

Penjualan Rp 81.244.267.131 Piutang awal Rp 27.901.303.980 Piutang akhir Rp 15.676.727.800 Rata-rata piutang Rp 21.789.015.890

(4)

28

Universitas Kristen Petra

Harga pokok penjualan Rp 63.381.341.326 Persediaan awal Rp 12.059.989.982 Persediaan akhir Rp 5.784.499.923 Rata-rata persediaan Rp 8.922.244.953

Ln SIOP = 360

81.244.267.131 21.789.015.890

+ 360

63.381.341.326 8.922.244.953 = 4,992

Hasil Ln SIOP INCI tahun 2013 adalah 4,992 dan bila dibandingkan dengan nilai rata-rata atau mean yaitu 4,899 terbilang cukup tinggi karena tidak berbeda jauh dengan nilai rata-rata atau mean yang terdapat pada tabel 4.7 atau tabel statistik deskriptif. Nilai Ln SIOP sebesar 4,992 bila dijadikan ke satuan hari adalah kira-kira 147 hari, sedangkan nilai Ln SIOP 4,899 bila dijadikan satuan hari menjadi kira-kira 134 hari. Makna dari 147 hari tersebut adalah bahwa INCI pada tahun 2013 membutuhkan waktu sekitar 147 hari dari memegang inventory sampai menerima cash dari penjualan. Perhitungan lengkap SIOP dapat dilihat pada Lampiran.

4.1.5 Volatilitas Penjualan

Perhitungan volatilitas penjualan menggunakan data penjualan dan total aktiva perusahaan mulai tahun 2006 hingga 2013. Contoh perhitungan volatilitas penjualan perusahaan INCI tahun 2013 adalah sebagai berikut:

Tabel 4.4 Hasil VOLPEN INCI 2013 Tahun Penjualan

(Rp)

Total Aktiva (Rp)

Penjualan/Total Aktiva

VOLPEN tahun

2013 2013 81.244.267.131 136.142.063.219 0,597 0,219 2012 64.628.362.916 132.278.839.079 0,489

2011 50.278.008.437 125.184.677.577 0,402 2010 13.502.701.736 163.069.541.016 0,083 2009 26.861.052.804 175.867.523.797 0,153

VOLPENt-1 = 0,219

(5)

29

Universitas Kristen Petra

Hasil perhitungan VOLPEN INCI tahun 2013 adalah 0,219 dan bila dibandingkan dengan nilai rata-rata atau mean yaitu 0,196 terbilang cukup tinggi karena lebih tinggi dari nilai rata-rata atau mean yang terdapat pada tabel 4.7 atau tabel statistik deskriptif. Hasil perhitungan VOLPEN INCI tahun 2013 yang lebih besar dibandingkan nilai rata-rata atau mean menandakan bahwa penjualan UNIC tahun 2011 lebih berfluktuatif dan tidak stabil dibandingkan rata-rata data sampel, karena makin tinggi nilai VOLPEN menunjukkan bahwa makin berfluktuatif penjualan perusahan tersebut. Perhitungan lengkap VOLPEN dapat dilihat pada Lampiran.

4.1.6 Voltilitas Arus Kas

Perhitungan volatilitas arus kas menggunakan data arus kas operasi dan total aktiva perusahaan mulai tahun 2006 hingga 2013. Contoh perhitungan volatilitas arus kas perusahaan INCI tahun 2013 adalah sebagai berikut:

Tabel 4.5 Hasil VOLAK INCI 2013 Tahun Arus kas operasi

(Rp)

Total Aktiva (Rp)

Arus kas operasi/Total

Aktiva

VOLAK tahun

2013 2013 10.276.272.893 136.142.063.219 0,075 0,0489 2012 3.340.907.066 132.278.839.079 0,025

2011 (6.502.446.398) 125.184.677.577 -0,051 2010 4.928.221.913 163.069.541.016 0,030 2009 10.233.576.903 175.867.523.797 0,058

VOLAKt-1 = 0,0489

Hasil perhitungan VOLAK INCI tahun 2013 adalah 0,0489 dan bila dibandingkan dengan nilai rata-rata atau mean yaitu 0,093 terbilang cukup rendah karena lebih rendah dibandingkan nilai rata-rata atau mean yang terdapat pada tabel 4.7 atau tabel statistik deskriptif. Hasil perhitungan VOLAK INCI tahun 2013 yang lebih besar dibandingkan nilai rata-rata atau mean menandakan bahwa arus kas INCI tahun 2013 tidak terlalu berfluktuatif dan cenderung stabil dibandingkan rata-rata data sampel, karena makin tinggi nilai VOLAK

(6)

30

Universitas Kristen Petra

menunjukkan bahwa makin berfluktuatif arus kas perusahan tersebut. Perhitungan lengkap VOLAK dapat dilihat pada Lampiran.

4.1.7 Proporsi Laba Negatif

Perhitungan proporsi laba negatif menggunakan data frekuensi laba perusahaan yang negatif atau kerugian perusahaan mulai tahun 2006 hingga 2013.

Contoh perhitungan proporsi laba negatif perusahaan INCI tahun 2013 adalah sebagai berikut:

Tabel 4.6 Hasil PRONEG INCI 2013 Tahun Frekuensi Laba Negatif PRONEG

tahun 2013

2013 0 0,4

2012 0

2011 1

2010 1

2009 0

* Rentang waktu pengamatan penelitian ini adalah lima tahun.

PRONEG = 2 5 PRONEGt-1 = 0,4

Hasil perhitungan PRONEG INCI tahun 2013 adalah 0,4 artinya dalam lima tahun rentang waktu pengamatan, yaitu dari tahun 2009 hingga 2013 INCI mengalami kerugian di dua tahun yaitu tahun 2010 dan 2011. Angka 0,4 bila dibandingkan dengan nilai rata-rata atau mean yaitu 0,225 terbilang cukup tinggi.

Hasil perhitungan PRONEG UNIC tahun 2011 yang lebih kecil dibandingkan nilai rata-rata atau mean menandakan bahwa dalam 5 tahun rentang pengamatan, perusahaan mengalami kerugian selama dua tahun sehingga menandakan bahwa laba yang dihasilkan kurang persisten bila dibandingkan dengan rata-rata sampel.

Makin tinggi nilai proporsi laba negatif menandakan bahwa perusahaan tersebut makin sering mengalami kerugian. Perhitungan lengkap PRONEG dapat dilihat pada Lampiran.

(7)

31

Universitas Kristen Petra

4.1.8 Hasil Statistik Deskriptif

Hasil statistik deskriptif pada penelitian ini terdari dari nilai minimum, maksimum, rata-rata atau mean dan standar deviasi dari setiap variabel yang diuji.

Jumlah data sampel yang diuji pada variabel CSR, persistensi laba, siklus operasi, volatilitas penjualan, volatilitas arus kas, dan proporsi laba negatif yang berjumlah 88 data sampel sesuai sampel yang telah lolos kriteria sampling. Variabel-variabel dalam penelitian ini disimbolkan sebagai berikut :

a. CSR menjadi CSRI

b. Persistensi laba menjadi PL c. Siklus operasi menjadi SIOP

d. Volatilitas penjualan menjadi VOLPEN e. Volatilitas arus kas menjadi VOLAK f. Proporsi laba negatif menjadi PRONEG

Berdasarkan Tabel 4.7 dapat diketahui bahwa rata-rata CSRI memiliki angka 28,90% diikuti dengan standar deviasinya sebesar 6,49786. Hal ini disebabkan karena ada perusahaan yang telah menerapkan aktivitas CSR sesuai pedoman kriteria GRI Index versi 3.1 dengan signifikan dan ada perusahaan yang kurang menjalankan aktivitas CSR sesuai pedoman kriteria dalam GRI Index versi 3.1 sehingga terdapat perbedaan yang cukup signifikan. Variabel SIOP memiliki rata-rata sekitar 4,899 atau 134 hari bila dikonversikan kembali ke satuan hari, dengan memiliki standar deviasi 0,59774 ( sekitar 14 hari ). Persistensi laba memiliki rata-rata negatif 0,0462 karena mayoritas data perusahaan sub sektor kimia; kayu dan penggilingan; keramik, porselen dan kaca, pulp dan kertas serta pakan ternak memiliki laba yang negatif atau kerugian.

Tabel 4.7 Hasil Statistik Deskriptif

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

CSRI 88 17,86 40,48 28,9096 6,49786

SIOP 88 3,44 7,57 4,8998 ,61145

VOLPEN 88 ,00 2,60 ,1963 ,28820

VOLAK 88 ,00 ,85 ,0930 ,14733

PRONEG 88 ,00 ,80 ,1727 ,22526

PL 88 -1,98 1,67 -,0462 ,54852

Valid N (listwise) 88

(Sumber: Output SPSS)

(8)

32

Universitas Kristen Petra

4.1.9 Pengujian Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik terdiri dari uji normalitas, autokorelasi, heteroskedastisitas dan multikolinearitas dilakukan sebelum pengujian hipotesis untuk memastikan bahwa data layak digunakan. Variabel dependen adalah persistensi laba, sedangkan variabel independen adalah CSR serta variabel kontrol adalah siklus operasi, volatilitas penjualan, volatilitas arus kas dan proporsi laba negatif. Variabel-variabel dalam penelitian ini disimbolkan sebagai berikut :

a. CSR menjadi CSRI

b. Persistensi laba menjadi PL c. Siklus operasi menjadi SIOP

d. Volatilitas penjualan menjadi VOLPEN e. Volatilitas arus kas menjadi VOLAK f. Proporsi laba negatif menjadi PRONEG

Pengujian dilakukan sebanyak satu kali dimana dalam pengujian pertama dilakukan keempat uji asumsi klasik dan data memenuhi syarat uji normalitas, autokorelasi, heteroskedastisitas dan multikolinearitas.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas yang dilakukan untuk mengetahui apakan error dari persamaan regresi berdistribusi normal. Uji yang digunakan adalah dengan tes Kolmogorov-Smirnov. Hasil dari pengujian SPSS pada tabel 4.8 menunjukkan bahwa nilai signifikansi lebih dari 5% yaitu sebesar 0,200 sehingga terbukti bahwa error dari persamaan regresi berdistribusi normal dan lolos dari uji normalitas.

Tabel 4.8 Hasil Pengujian Asumsi Klasik –Normalitas

Unstandardized Residual

N 88

Normal Parametersa,b Mean ,0000000

Std. Deviation ,51069268 Most Extreme Differences Absolute ,074

Positive ,073

Negative -,074

Test Statistic ,074

Asymp. Sig. (2-tailed) ,200c,d

(Sumber: Output SPSS)

(9)

33

Universitas Kristen Petra

b. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi dilakukan untuk menguji apakah terdapat korelasi antara error pada suatu pengamatan dengan pengamatan lain. Uji autokorelasi yang digunakan adalah uji Durbin Watson (DW). Angka Durbin Watson pada tabel 4.9 sebesar 1,775 menunjukkan bahwa data memenuhi kriteria DW yang terletak di antara 0 hingga 2 sehingga menunjukkan bahwa tidak terjadi autokorelasi.

Tabel 4.9 Hasil Pengujian Asumsi Klasik – Autokorelasi

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

Durbin- Watson

1 ,365a ,133 ,080 ,52603 1,775

(Sumber: Output SPSS)

c. Uji Heteroskedastisitas

Uji ini dilakukan untuk mengetahui adanya ketidaksamaan varian dari error persamaan regresi satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Uji ini melihat nilai signifikansi dari masing-masing variabel, bila lebih besar dari 5% maka tidak terjadi heteroskedastisitas. Pada tabel 4.10 nilai signifikansi semua variabel lebih besar dari 5% kecuali volatilitas arus kas sehingga dapat disimpulkan bahwa pengujian ini tidak memenuhi kriteria uji heteroskedastisitas.

Tabel 4.10 Hasil Pengujian Asumsi Klasik-Heteroskedastisitas 1

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) ,599 ,419 1,429 ,157

CSR -,006 ,006 -,108 -,944 ,348

SIOP -,009 ,064 -,017 -,147 ,883

VOLPEN -,258 ,138 -,217 -1,873 ,065

VOLAK ,670 ,263 ,288 2,543 ,013

PRONEG -,134 ,161 -,088 -,832 ,408

(Sumber: Output SPSS)

(10)

34

Universitas Kristen Petra

Tabel 4.11 yaitu hasil pengujian asumsi klasik heteroskedastisitas kedua dengan menggunakan rumus lag pada variabel volatilitas arus kas untuk memperbaiki data yang sebelumnya terkena heteroskedastisitas.

Hasil pengujian kedua ini yaitu seluruh variabel telah memenuhi kriteria uji heteroskedastisitas yaitu nilai signifikansi lebih dari 0,05.

Tabel 4.11 Hasil Pengujian Asumsi Klasik-Heteroskedastisitas 2

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) ,542 ,285 1,900 ,061

CSRI -,006 ,004 -,172 -1,471 ,145

SIOP -,017 ,044 -,045 -,385 ,701

VOLPEN -,122 ,091 -,156 -1,337 ,185

PRONEG -,153 ,115 -,146 -1,332 ,187

LAG_VOLAK -,031 ,175 -,020 -,175 ,861

(Sumber: Output SPSS) d. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antar variabel independen dengan cara melihat nilai Variance Inflation Factor (VIF). Pada tabel 4.12, nilai VIF dari masing-masing variabel kurang dari 10 sehingga dapat disimpulkan bahwa antar variabel independen tidak saling berkorelasi.

Tabel 4.12 Hasil Pengujian Asumsi Klasik - Multikolinearitas

(Sumber: Output SPSS)

Model

Standardized

Coefficients Collinearity Statistics Beta Tolerance VIF 1 (Constant)

CSRI -,090 ,849 1,178

SIOP ,063 ,837 1,194

VOLPEN ,231 ,852 1,173

LAG_VOLAK ,174 ,882 1,134

PRONEG ,015 ,960 1,041

(11)

35

Universitas Kristen Petra

4.1.10 Pengujian Kelayakan Model Regresi a. Uji F

Uji ini dilakukan dengan tujuan untuk menguji apakah model regresi layak digunakan untuk menguji hipotesis atau untuk menguji apakah variabel independen secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Hasil signifikansi uji F pada tabel 4.13 menunjukkan angka di bawah 0,05 yaitu 0,036 sehingga membuktikan bahwa variabel- variabel independen secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen dan model persamaan regresi layak untuk digunakan.

Tabel 4.13 Hasil Uji F

Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

1 Regression 3,486 5 ,697 2,520 ,036b

Residual 22,690 82 ,277

Total 26,176 87

(Sumber: Output SPSS) b. Uji R-square

Uji ini dilakukan untuk mengetahui tingkat pengaruh variabel independen terhadap variabel independen. Dari tabel 4.14, dapat diketahui bahwa Adjusted R Square adalah sebesar 0,080. Arti dari angka tersebut adalah variabel independen secara keseluruhan yaitu CSR, SIOP, VOLPEN, VOLAK dan PRONEG mempengaruhi variabel dependen yaitu PL sebesar 8%.

Tabel 4.14 Hasil Uji R-square

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 ,365a ,133 ,080 ,52603

(Sumber: Output SPSS)

(12)

36

Universitas Kristen Petra

4.1.11 Pengujian Hipotesis a. Uji t

Tabel 4.15 Hasil Uji t

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) -,282 ,661 -,426 ,687

CSR -,008 ,009 -,093 -,831 ,407

SIOP ,063 ,101 ,071 ,628 ,549

VOLPEN ,379 ,218 ,199 1,743 ,085

LAG_VOLAK ,824 ,416 ,221 1,982 ,052

PRONEG ,013 ,254 ,005 ,050 ,964

(Sumber: Output SPSS)

Uji ini dilakukan untuk melihat signifikansi pengaruh variabel independen secara terpisah terhadap variabel dependen dengan tingkat signifikansi yang ditetapkan yaitu 0,05. Variabel independen akan dikatakan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel independen jika memiliki nilai signif1ikansi di bawah 0,05.

Berdasarkan hasil uji t pada tabel 4.15, nilai signifikansi dari masing- masing variabel independen berada di atas 0,05 sehingga masing-masing variabel- variabel independen tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

4.2 Analisis

Berdasarkan hasil pengujian yang dilaksanakan dengan menggunakan 88 sampel yaitu sekitar 22 perusahaan pada sektor industri dasar dan kimia sub sektor kimia; kayu dan penggilingan; keramik, porselen dan kaca; pulp dan kertas serta pakan ternak pada tahun 2010 hingga 2014, ditemukan beberapa temuan yang akan dijabarkan di bawah ini.

(13)

37

Universitas Kristen Petra

4.2.1 Temuan dan Interpretasi

Penelitian yang dilakukan untuk mengetahui apakah Corporate Social Responsibility (CSR) berpengaruh terhadap persistensi laba perusahaan pada sektor industri dasar dan kimia sub sektor kimia; kayu dan penggilingan; keramik, porselen dan kaca; pulp dan kertas serta pakan ternak yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dilakukan pada 22 perusahaan atau sebanyak 88 sampel penelitian pada tahun 2010 hingga 2014.

Pengujian asumsi klasik seluruhnya telah terpenuhi dalam penelitian ini.

Berdasarkan pengujian kelayakan model persamaan regresi, hasil adjusted R- square sebesar 8% dan nilai signifikansi uji F sebesar 0,036 sehingga berarti bahwa variabel-variabel independen yaitu CSR, siklus operasi, volatilitas penjualan, volatilitas arus kas dan proporsi laba negatif secara bersama-sama mempengaruhi variabel dependen yaitu persistensi laba.

Hasil dari uji hipotesis adalah sebagai berikut:

Tabel 4.16 Hasil Uji Hipotesis

Variabel Koefisien Signifikansi Keputusan

CSR -0,008 0,407 H1 ditolak

SIOP 0,063 0,549 H2 ditolak

VOLPEN 0,379 0,085 H3 ditolak

VOLAK 0,824 0,052 H4 ditolak

PRONEG 0,013 0,964 H5 ditolak

Berdasarkan hasil uji hipotesis (uji t), dapat disimpulkan bahwa hipotesis utama yaitu pengaruh CSR terhadap persistensi laba belum berhasil dibuktikan dan ditolak karena memiliki nilai signifikansi lebih dari 0,05. Sedangkan hipotesis-hipotesis yang berkaitan dengan variabel-variabel kontrol juga belum terbukti berpengaruh terhadap persistensi laba. Sehingga, berdasarkan uji t yang telah dilakukan, hipotesis pertama hingga kelima ditolak karena belum berhasil terbukti berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen yaitu persistensi laba.

CSR, siklus operasi, volatilitas penjualan, volatilitas arus kas dan proporsi laba negatif belum terbukti berpengaruh signifikan terhadap persistensi laba.

(14)

38

Universitas Kristen Petra

4.2.2 Kaitan Temuan dengan Pengetahuan atau Teori 4.2.2.1 Pengaruh CSRI terhadap Persistensi Laba

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis penelitian ini menyimpulkan bahwa CSR belum terbukti berpengaruh signifikan terhadap persistensi laba perusahaan yang bergerak di sektor industri dasar dan kimia sub sektor kimia; kayu dan penggilingan; keramik, porselen dan kaca; pulp dan kertas serta pakan ternak yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode tahun 2010 hingga 2014. Hal ini dapat disebabkan karena perusahaan-perusahaan belum serius dibuktikan dengan laporan tahunan sebagian besar perusahaan yang mengungkapkan kegiatan CSR dengan sangat terbatas yaitu hanya sebanyak 1 atau 2 halaman ataupun setengah halaman dan bahkan ada yang hanya 1 paragraf. Selain itu, rata-rata CSRI perusahaan di sub sektor kimia; kayu dan penggilingan; keramik, porselen dan kaca; pulp dan kertas serta pakan ternak masih terbilang rendah yaitu sekitar 28,9% atau baru memenuhi sebanyak 24 dari total 84 kriteria GRI Index. Perilaku perusahaan-perusahaan yang belum serius dalam mengungkapkan aktivitas CSR dalam laporan tahunan tersebut dapat diakibatkan karena belum adanya hukuman atau punishment yang jelas dan peraturan yang mengikat bagi perusahaan atas penilaian pengungkapan aktivitas CSR dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang bertugas mengawasi dan mengatur perusahaan-perusahaan go public di Indonesia.

Gambar 4.1 Pengaruh CSR terhadap Persistensi Laba

-5 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45

CSRI PL

CSR dan Persistensi Laba

(15)

39

Universitas Kristen Petra

Profil data penelitian dalam Gambar 4.1 di atas menunjukkan bahwa pengaruh CSR terhadap persistensi belum terbukti karena grafik tersebut tidak membentuk pola garis linear pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen karena persistensi laba cenderung stabil dan tidak terpengaruh oleh besarnya CSR. Oleh karena itu, penelitian ini belum berhasil membuktikan pengaruh CSR terhadap persistensi laba perusahaan pada sektor industri dasar dan kimia sub sektor kimia; kayu dan penggilingan; keramik, porselen dan kaca; pulp dan kertas serta pakan ternak yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dilakukan pada tahun 2010 hingga 2014. Dari Gambar 4.1, dapat dilihat bahwa dalam data persistensi laba pada perusahaan pada sektor industri dasar dan kimia sub sektor kimia; kayu dan penggilingan; keramik, porselen dan kaca; pulp dan kertas serta pakan ternak yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) banyak komponen persistensi laba yang negatif bahkan berdasarkan Tabel 4.7 persistensi laba memiliki nilai rata-rata negatif sehingga memperlemah pengaruh CSR terhadap persistensi laba.

Hasil pengujian hipotesis pertama mengenai pengaruh CSR terhadap persistensi laba didukung oleh penelitian-penelitian di Indonesia yang belum berhasil membuktikan CSR terhadap ukuran lain yaitu terhadap kinerja keuangan perusahaan (Syahnaz & Herawati, 2013; Yaparto et al., 2013; Kurnianto &

Prastiwi, 2010).

4.2.2.2 Pengaruh Siklus Operasi terhadap Persistensi Laba

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis penelitian ini, hipotesis kedua yang menyatakan bahwa siklus operasi berpengaruh negatif terhadap persistensi laba perusahaan yang bergerak di sektor industri dasar dan kimia sub sektor kimia;

kayu dan penggilingan; keramik, porselen dan kaca; pulp dan kertas serta pakan ternak yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode tahun 2010 hingga 2014 belum dapat diterima. Hal ini dapat disebabkan karena berdasarkan profil data penelitian yang dapat dilihat pada Gambar 4.2 menunjukkan bahwa grafik tersebut tidak membentuk pola hubungan linear antara siklus operasi sebagai variabel independen terhadap persistensi laba sebagai variabel dependen sehingga dapat disimpulkan bahwa siklus operasi tidak berpengaruh terhadap persistensi

(16)

40

Universitas Kristen Petra

laba perusahaan yang bergerak di sektor industri dasar dan kimia sub sektor kimia; kayu dan penggilingan; keramik, porselen dan kaca; pulp dan kertas serta pakan ternak yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode tahun 2010 hingga 2014. Pada grafik di bawah , terlihat bahwa ada kalanya saat siklus operasi meningkat maka persistensi laba juga meningkat, namun ada pula saat dimana siklus operasi menurun namun persistensi laba meningkat. Hal in mengakibatkan tidak adanya pola linear antara pengaruh siklus operasi terhadap persistensi laba.

Rata-rata siklus operasi penelitian ini adalah 147 hari sehingga terbilang cukup tinggi, namun persistensi laba tidak terpengaruh dan berfluktuatif.

Gambar 4.2 Pengaruh Siklus Operasi terhadap Persistensi Laba

Penelitian ini menunjukkan bahwa siklus operasi yang makin panjang tidak mengakibatkan ketidakpastian dalam memprediksi laba di masa mendatang seperti yang dibuktikan oleh Fanani (2010).

4.2.2.3 Pengaruh Volatilitas Penjualan terhadap Persistensi Laba

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis penelitian ini, hipotesis ketiga yang menyatakan bahwa volatilitas penjualan berpengaruh negatif terhadap persistensi laba perusahaan yang bergerak di sektor industri dasar dan kimia sub sektor kimia; kayu dan penggilingan; keramik, porselen dan kaca; pulp dan kertas serta

0%

10%

20%

30%

40%

50%

60%

70%

80%

90%

100%

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

PL SIOP

Siklus Operasi dan Persistensi Laba

(17)

41

Universitas Kristen Petra

pakan ternak yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode tahun 2010 hingga 2014 belum dapat diterima. Hal ini dapat disebabkan karena berdasarkan profil data penelitian yang dapat dilihat pada Gambar 4.3 menunjukkan bahwa grafik tersebut tidak membentuk pola hubungan linear antara volatilitas penjualan sebagai variabel independen terhadap persistensi laba sebagai variabel dependen karena di saat volatilitas penjualan cenderung stabil maka persistensi laba berfluktuatif. Berdasarkan Gambar 4.3 dapat disimpulkan bahwa volatilitas penjualan tidak berpengaruh terhadap persistensi laba perusahaan yang bergerak di sektor industri dasar dan kimia sub sektor kimia; kayu dan penggilingan;

keramik, porselen dan kaca; pulp dan kertas serta pakan ternak yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode tahun 2010 hingga 2014.

Gambar 4.3 Pengaruh Volatilitas Penjualan terhadap Persistensi Laba

4.2.2.4 Pengaruh Volatilitas Arus Kas terhadap Persistensi Laba

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis penelitian ini, hipotesis keempat yang menyatakan bahwa volatilitas arus kas berpengaruh negatif terhadap persistensi laba perusahaan yang bergerak di sektor industri dasar dan kimia sub sektor kimia; kayu dan penggilingan; keramik, porselen dan kaca; pulp dan kertas serta pakan ternak yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode tahun 2010 hingga 2014 belum dapat diterima. Hal ini dapat disebabkan karena berdasarkan profil data penelitian yang dapat dilihat pada Gambar 4.4

-1 -0,5 0 0,5 1 1,5 2

VOLPEN

PL (Persistensi Laba)

Volatilitas Penjualan dan Persistensi Laba

(18)

42

Universitas Kristen Petra

menunjukkan bahwa grafik tersebut tidak membentuk pola hubungan linear antara volatilitas arus kas sebagai variabel independen terhadap persistensi laba sebagai variabel dependen, yaitu di saat volatilitas arus kas cenderung stabil namun terlihat bahwa persistensi laba tidak terpengaruh dan berfluktuatif sehingga dapat disimpulkan bahwa volatilitas arus kas tidak berpengaruh terhadap persistensi laba perusahaan yang bergerak di sektor industri dasar dan kimia sub sektor kimia; kayu dan penggilingan; keramik, porselen dan kaca; pulp dan kertas serta pakan ternak yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode tahun 2010 hingga 2014. Hal ini tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Fanani (2010) dan Purwanti (2010).

Gambar 4.4 Pengaruh Volatilitas Arus Kas terhadap Persistensi Laba

4.2.2.5 Pengaruh Proporsi Laba Negatif terhadap Persistensi Laba

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis penelitian ini, hipotesis kelima yang menyatakan bahwa proporsi laba negatif berpengaruh negatif terhadap persistensi laba perusahaan yang bergerak di sektor industri dasar dan kimia sub sektor kimia; kayu dan penggilingan; keramik, porselen dan kaca; pulp dan kertas serta pakan ternak yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode tahun 2010 hingga 2014 belum dapat diterima. Hal ini dapat disebabkan karena berdasarkan

-2,5 -2 -1,5 -1 -0,5 0 0,5 1 1,5 2

VOLAK

PL (Persistensi Laba)

Volatilitas Arus Kas dan Persistensi Laba

(19)

43

Universitas Kristen Petra

profil data penelitian yang dapat dilihat pada Gambar 4.5 menunjukkan bahwa grafik tersebut tidak membentuk pola hubungan linear antara proporsi laba negatif sebagai variabel independen terhadap persistensi laba sebagai variabel dependen karena saat proporsi laba negatif turun persistensi laba naik dan ada kalanya turun juga, sehingga dapat disimpulkan bahwa proporsi laba negatif tidak berpengaruh terhadap persistensi laba perusahaan yang bergerak di sektor industri dasar dan kimia sub sektor kimia; kayu dan penggilingan; keramik, porselen dan kaca; pulp dan kertas serta pakan ternak yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode tahun 2010 hingga 2014.

Gambar 4.4 Pengaruh Proprsi Laba Negatif terhadap Persistensi Laba

-2,5 -2 -1,5 -1 -0,5 0 0,5 1 1,5 2

proneg pl

Proporsi Laba Negatif dan Persistensi Laba

Referensi

Dokumen terkait

Gambar 4 SIR LTE integrasi WiFi Gambar 5 Grafik PDF CDF SIR LTE integrasi WiFi Dari hasil simulasi SIR pada gambar (4) dan gambar (5) dapat dilihat bahwa parameter SIR

Pada tahap awal praproses, dilakukan perbaikan data citra pohon dengan memotong citra untuk mendapatkan objek tanaman dan memperkecil ukuran citra menjadi 270x210

Penerimaan (output) dalam usaha penangkapan ikan merupakan nilai penjualan hasil tangkapan. Besarnya pendapatan dipengaruhi oleh produktivitas alat tangkap, perubahan musim

JMLH SAT 1 Penetapan rasio dosen dan mahasiswa sesuai standar ideal Terealisasi rasio dosen dibanding mahasiswa 1 : 20 1:20 Rasio 2 Meningkatnya penyerapan

Pada pelaksanaan RPJMN 2015 – 2019 (periode ke-3), upaya peningkatan akses masyarakat terhadap perumahan merupakan salah satu amanat yang dilaksanakan oleh Kementerian PUPR

Pasien anak umur kurang dari 14 tahun yang memenuhi kriteria klinis demam dengue (DD), demam berdarah dengue (DBD), dan sindrom syok dengue (SSD) menurut WHO (1997) disertai

Arsitektur perangkat lunak SPETINDO dijelaskan pada Gambar 2. Sistem memiliki dua aktor yang memiliki peran masing-masing yakni pengguna dan admin. Administrator disini

Sedangkan konsumsi susu dan hasil olahnya sebagai sumber utama kalsium sangat rendah, begitu pula dengan konsumsi sayuran berdaun hijau yang merupakan sumber kalsium