• Tidak ada hasil yang ditemukan

4 HASIL. Kabupaten Bangka Selatan dapat dilihat pada Gambar. 1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "4 HASIL. Kabupaten Bangka Selatan dapat dilihat pada Gambar. 1)"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

4.1 Keadaan Umum Lokasi Penelitian

4.1.1 Keadaan daerah

Kabupaten Bangka Selatan merupakan bagian dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yang resmi menjadi daerah otonom sejak tanggal 25 Februari 2003 dengan Ibukota kabupaten Toboali yang memiliki luas Wilayah ± 3.607,08 km2

Posisi geografis Kabupaten Bangka Selatan terletak pada 02

. Kabupaten ini memiliki 7 kecamatan, 3 kelurahan, 45 desa, dan 165 dusun. Kecamatan meliputi Kecamatan Simpang Rimba, Payung, Air Gegas, Toboali, Lepar Pongok, Tukak Sadai (pecahan dari Kecamatan Toboali), dan Kecamatan Pulau Besar (pecahan dari Kecamatan Payung). Untuk batas-batas 7 kecamatan ini belum diperoleh literatur yang dituangkan ke dalam peta tata ruang wilayah kabupaten.

030’ 50” – 030 15’ 50” LS dan 1050 59’ 10” – 1070

Batas fisik wilayah dapat digambarkan sebagai berikut :

8’ 10” BT. (Peta administratif wilayah Kabupaten Bangka Selatan dapat dilihat pada Gambar. 1)

• Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Sungai Selan dan Kecamatan Koba Kabupaten Bangka Tengah

• Sebelah selatan berbatasan dengan Laut Jawa dan Selat Bangka • Sebelah barat berbatasan dengan Selat Bangka

• Sebelah timur berbatasan dengan Selat Gaspar.

Pulau-pulau yang ada di kabupaten Bangka Selatan sebanyak 52 pulau, 6 buah Kecamatan di Pulau Bangka sedangkan 1 satu kecamatan terpisah dari Pulau Bangka yaitu Kecamatan Lepar Pongok. Berdasarkan data, pulau-pulau kecil terdapat di beberapa kecamatan seperti Kecamatan Simpang Rimba (3 pulau), Kecamatan Payung (2 pulau), Kecamatan Toboali (12 pulau) dan Kecamatan Lepar Pongok (25 pulau), selebihnya dari kecamatan lainnya.

4.1.2 Keadaan perairan

Konfigurasi dasar perairan Kabupaten Bangka Selatan relatif datar dengan sedikit cekungan. Kedalaman rata-rata pada rataan terumbu di sekeliling pulau bervariasi antara 1 sampai dengan 5 m. Kedalaman laut di luar rataan terumbu bervariasi antara 20 sampai dengan 40 m. Rataan terumbu membentang di sekeliling pulau sampai dengan jarak 500 m dari garis pantai.

(2)

Sesuai dengan kondisi geografis, Kabupaten Bangka Selatan beriklim tropis dengan 2 musim, yaitu musim kemarau pada bulan April-September dan musim penghujan antara bulan Oktober-Maret. Curah hujan rata-rata 50,2 mm-292 mm, suhu udara berkisar antara 25,90C -280

Ada 3 (tiga) musim yang mempengaruhi kondisi perairan Kabupaten Bangka Selatan, yaitu musim angin barat, musim angin timur dan musim peralihan. Musim angin barat berlangsung dari bulan Desember sampai pertengahan bulan Maret. Pada musim ini angin bertiup kencang dari arah barat ke timur, dengan arus kuat disertai hujan cukup deras. Kondisi ini mengakibatkan perairan keruh. Kecepatan arus rata-rata pada musim barat di perairan Kabupaten Bangka Selatan adalah 0,13-0,17 m/s. Keadaan angin bervariasi dengan kecepatan antara 0,3-9,3 m/s (BOOST Centre DKP Provinsi Kep. Bangka Belitung 2009).

C, dengan kelembaban udara 55,70% 95,58% (BOOST Centre DKP Provinsi Kep. Bangka Belitung 2009).

Musim angin timur berlangsung dari bulan Juni hingga September. Angin bertiup kencang dari arah timur ke barat yang disertai dengan arus laut sedang. Pada musim timur hujan jarang turun sehingga air laut jernih. Kecepatan angin bervariasi antara 7-15 knot.

Musim peralihan berlangsung pada bulan Maret sampai dengan Mei dan bulan September sampai dengan November. Karakter angin dan gelombang relatif lemah dan kondisi perairan tidak keruh. Penelitian ini dilaksanakan dalam periode musim peralihan.

4.2 Unit Penangkapan Ikan

4.2.1 Kapal

Armada penangkapan yang digunakan dalam melakukan operasi penangkapan dengan menggunakan alat tangkap bubu dasar memiliki bahan yang terbuat dari kayu dimana kasko kapal bagian haluan berbentuk V (Gambar 6a dan 6b). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata panjang (L) kapal bubu kawat = 9,5 meter, lebar (B) = 2,5 meter, dan tinggi (H) = 1,2 meter (Gambar 6). Berdasarkan perhitungan nilai ukuran dimensi utama kapal L/B = 3,8; L/H = 7,92 dan B/H = 2,08. Rata-rata panjang (L) kapal bubu jaring = 13 meter, lebar (B) = 3 meter, dan tinggi (H) = 1,7 meter. Berdasarkan perhitungan nilai ukuran dimensi utama kapal L/B = 4,3; L/H = 4,8 dan B/H = 1,7.

(3)

(a) (b)

(c) Tampak samping

(d) Tampak atas Keterangan:

1. Palkah 3. Ruang mesin

2. Ruang kemudi 4. Ruang perlengkapan dan tempat beristirahat

(e) Tampak samping

(f) Tampak atas Keterangan:

1. Palkah 4. Ruang perlengkapan dan tempat beristirahat 2. Ruang kemudi 5. Dapur dan ruang akomodasi

3. Ruang mesin

Gambar 6 (a) Kapal bubu kawat (b) Kapal bubu jaring (c) Kontruksi kapal bubu kawat tampak samping (d) Kontruksi kapal bubu kawat tampak atas (e) Kontruksi kapal bubu jaring tampak samping (d) Kontruksi kapal bubu jaring

tampak atas

1

4 3 2

(4)

Pada umumnya nilai B yang tidak besar dapat memudahkan kapal dalam melakukan penangkapan dengan stabil, karena dengan bentuk kapal yang ramping dan panjang serta tinggi yang tidak terlalu besar, maka tidak membebani kapal saat penarikan alat tangkap. Nilai H tidak boleh terlalu besar, karena akan menghambat laju perahu. Menurut Zarochman (1996), untuk ukuran dimensi utama kapal tersebut sesuai dengan yang diisyaratkan untuk kapal yang memiliki panjang <18 meter harus memiliki syarat L/B < 4,5; L/H = <10,0; dan B/H = < 2,10. Berdasarkan perhitungan di atas, perahu dengan alat tangkap bubu dasar dengan material terbuat dari kawat dan jaring memenuhi syarat untuk operasi penangkapan.

Kapal yang digunakan untuk pengoperasian bubu dasar memiliki ruang di atas dek. Posisi ruang mesin berada di bawah dek di bagian tengah kapal. Kapal bubu dilengkapi dengan tiang-tiang penyangga disisi kanan kiri kapal yang digunakan untuk membentangkan atap apabila hujan datang yang terbuat kayu. Apabila kapal membawa bubu dasar, bubu tersebut diletakkan di atas atap atau di bagian haluan kapal. Palka pada kapal bubu dasar berada di bagian haluan kapal beserta dengan keranjang-keranjangnya. Perbekalan biasanya diletakkan di bagian buritan kapal didekat pengemudi, sedangkan solar minyak tanah dan oli diletakkan di bawah lantai dek dan beberapa perlengkapan lainnya.

Kapal penangkap ikan karang dengan alat tangkap bubu dasar menggunakan mesin inboard dengan bahan bakar solar. Sebagai mesin utama/ mesin penggerak umumnya menggunakan mesin PS 120 dan Dongfeng 20 HP yang berjumlah 1 buah yang berdaya 24 -60 PK. Gross ton yang digunakan < 10 GT.

4.2.2 Alat tangkap

Trend pengembangan teknologi penangkapan ikan ditekankan pada teknologi penangkapan ikan yang ramah lingkungan dengan harapan dapat memanfaatkan sumberdaya perikanan secara berkelanjutan (Arimoto et al. 1999). Sesuai dengan kondisi perairan yang relatif berkarang, kegiatan penangkapan ikan di Kabupaten Bangka Selatan didominasi oleh alat penangkapan ikan yang ditujukan untuk ikan karang dan pelagis. Jika dikaitkan dengan kegiatan penangkapan ikan di Kabupaten Bangka Selatan pada umumnya masih bersifat tradisional (artisanal fisheries) dan tergolong ramah lingkungan. Alat tangkap yang digunakan untuk usaha penangkapan ikan karang adalah bubu dasar yang terbuat dari material kawat dan jaring atau yang lebih

(5)

dikenal dengan istilah bubu kawat dan bubu jaring. Bubu tersebut memiliki beberapa kelebihan berikut kekurangannya. Bentuk bubu kawat dan jaring yang rata dibagian bawah memudahkan saat pemasangannya di dasar perairan dan di sela-sela gugusan karang. Bentuk mulut yang mengerucut dan posisi mulut dalam menghadap ke bawah menyulitkan ikan untuk lolos setelah masuk ke dalam bubu. Mulut bubu berbentuk bulat pada bagian luar dan mengecil terus ke dalam dengan bentuk lonjong atau oval menyerupai bentuk lingkar tubuh ikan (body girth).

Alat tangkap yang dominan di Kabupaten Bangka Selatan terdiri dari pukat pantai 154 unit, bubu 225 unit, payang 124 unit dan jaring insang 1148 unit (DKP Kabupaten Bangka Selatan 2007). Wilayah pengoperasian alat tangkap bubu berada di daerah karang yang berada di sekitar pulau-pulau kecil.

Bubu merupakan salah satu alat tangkap yang pengoperasian di perairan karang di Kabupaten Bangka Selatan. Berdasarkan hasil wawancara dengan nelayan, bubu yang berada di Kabupaten Bangka Selatan yaitu bubu dasar. Bahan pembuatan bubu biasanya menggunakan jaring dan kawat yang sangat berpengaruh terhadap ketahanan bubu. Jika bubu yang terbuat dari jaring ketahanannya 4 bulan, sedangkan yang dari kawat 6-7 bulan. Bubu yang digunakan selama penelitian dapat dilihat pada Gambar 7. Perbedaan antara kedua jenis bubu dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Perbedaan bubu kawat dengan bubu jaring di Kabupaten Bangka Selatan tahun 2009

No Uraian Bubu Kawat Bubu Jaring

1. Rangka Rotan (tebal 2,5 inch) Besi (tebal 0,75 inch) 2. Bentuk Silinder, bagian depan

dan belakang mengerucut

Empat persegi panjang

3. Panjang 0,9 m - 1,30 m 1,55 m

4. Lebar 0,7 m -1 m 1 m

5. Tinggi 0,3 m 0,6 m

6. Bahan funnel Kawat weldingmesh Kawat loket (tebal 1 mm, Ø 1 inch)

7. Lebar funnel 0,3 m - 0,5 m 0,5 m

8. Tinggi funnel 0,3 m 0,6 m

9. Panjang funnel 0,4 m - 0,6 m 0,7 m

10. Mesh size 2,5 inch 3 inch

11. Bahan Kawat PE

12. Rangka rotan Besi

13. Daya tahan 4 bulan 6-7 bulan

14 Pemberat Batu karang @ 5-10 kg Batu granit 1-4 bh @ 5-10 kg

(6)

1. Bubu kawat

Bubu kawat yang beroperasi di Kabupaten Bangka Selatan termasuk dalam klasifikasi bubu dasar. Dalam satu unit penangkapan bubu kawat, nelayan mengoperasikan 10-20 bubu. Bubu kawat yang beroperasi di Kabupaten Bangka Selatan termasuk sederhana, terdiri atas badan bubu, mulut dan rangka (Gambar 7).

(a)

Gambar 7 (a) Bubu kawat di Kabupaten Bangka Selatan (b) Rancang bangun mulut bubu (c) Rancang bangun alat tangkap bubu kawat

2,5 inch (c) 0,4-0,6 m 0,3-0,5 m m (b) 0,9-1,3 m 0,7-1 m 0,3 m

(7)

Badan bubu terdapat pintu untuk mengeluarkan hasil tangkapan. Pintu terbuat dari kawat yang berukuran 0,2 x 0,2 m, serta memakai rotan sebagai alat pengunci. Mulut bubu berfungsi sebagai tempat masuknya ikan, berbentuk mengerucut dengan ukuran lebar mulut bagian luar sebesar 0,3 - 0,5 m, dan tinggi mulut bagian luar 0,3 m, sedangkan lebar mulut bagian tengah adalah 0,2 m, dan tinggi 0,3 m, serta lebar mulut bagian dalam berukuran 0,15 m dan tinggi 0,2 m. Panjang bagian mulut bubu kawat ini 0,4 - 0,6 m, yaitu jarak dari mulut terluar sampai bagian dalam. Konstruksi utama dalam badan bubu terbentuk dari kawat berukuran mata 2,5 inch.

Konstruksi rangka bubu kawat bervariasi pada ukuran mulut dan badan bubu, disesuaikan dengan komoditas yang menjadi sasaran tangkap. Hal ini dimaksudkan agar mutu ikan bagus dan tidak mengalami luka akibat konstruksi bubu kawat.

Menurut nelayan bubu kawat di Kabupaten Bangka Selatan, pembuatan rangka bubu kawat biasanya membutuhkan rotan sepanjang 10 meter untuk membuat bubu kawat sebanyak 1 buah dengan harga Rp. 70.000,00 dengan pemakaian operasi empat bulan.

2. Bubu jaring

Bubu jaring yang beroperasi di Kabupaten Bangka Selatan termasuk dalam klasifikasi bubu dasar. Dalam satu unit penangkapan bubu jaring, nelayan mengoperasikan 5-10 bubu. Bubu jaring yang beroperasi di Kabupaten Bangka Selatan termasuk sederhana, terdiri atas badan bubu, mulut dan rangka. Konstruksi rangka bubu jaring bercvariasi pada ukuran mulut dan badan bubu, disesuaikan dengan komoditas yang menjadi sasaran tangkap agar mutu ikan baik dan tidak cacat.

Bentuk bubu jaring adalah empat persegi panjang, yang dilengkapi 1 mulut sebagai pintu untuk masuknya ikan. Rangka bubu jaring terbuat dari besi dengan diameter 0,8 cm. Panjang bubu jaring adalah 1,55 m dengan lebar 1,23 m dan tinggi 0,6 m. Funnel terbuat dari bahan kawat loket dengan ketebalan 1 mm dan diameter 1 inch lebar dan tinggi funnel 0,45 m dengan panjang 0,65 m. mesh size dari bubu jaring adalah 3 inch dengan bahan jaring terbuat dari PE (polyethilene). Konstruksi alat tangkap bubu jaring disajikan pada Gambar 8.

Alat tangkap bubu jaring yang beroperasi di Kabupaten Bangka Selatan, konstruksi rangka bubu kawat bervariasi pada ukuran mulut dan badan bubu, disesuaikan dengan komoditas yang menjadi sasaran tangkap agar mutu ikan

(8)

baik dan tidak cacat. Menurut nelayan bubu kawat di Kabupaten Bangka Selatan, pembuatan rangka bubu biasanya membutuhkan besi sepanjang 14 meter untuk membuat bubu jaring sebanyak 1 buah dengan harga Rp. 300.000,00 dengan pemakaian operasi 6 (enam)-7 (tujuh) bulan.

(a)

Gambar 8 (a) Bubu jaring di Kabupaten Bangka Selatan (b) Tampak atas bubu jaring (c) Tampak samping bubu jaring (d) Rancang bangun mulut bubu 4.2.3 Nelayan/Anak Buah Kapal (ABK)

Nelayan bubu dasar di Kabupaten Bangka Selatan pada umumnya hanya mengandalkan kemampuan fisik dan tingkat pendidikan bukan merupakan keharusan bagi nelayan, namun yang penting adalah keterampilan dan

(b) Tampak Atas (c) Tampak Samping

0,45 m 1,55 m 1 m 0,7 m (d) 3 inch 0,45 m 0,65 m

(9)

semangat kerja. Nelayan tersebut dikategorikan kedalam nelayan kecil, yaitu nelayan yang pendapatan dari hasil operasi penangkapan digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Nelayan merupakan faktor utama dalam penentuan keberhasilan suatu operasi penangkapan.

Jumlah nelayan yang beroperasi di Kabupaten Bangka Selatan sekitar 4881 orang, 103 orang diantaranya merupakan nelayan bubu (Kabupaten Bangka Selatan 2006). Nelayan bubu jaring dan bubu kawat dalam pengoperasiannaya melibatkan 2-4 orang nelayan. Tiap nelayan tidak mempunyai tugas khusus, dalam arti semua pekerjaan dikerjakan secara bersama-sama Sebagian besar nelayan bubu jaring berdomisili di kecamatan Tukak Sadai, Toboali, Simpang Rimba, dan Batu Betumpang, sedangkan untuk nelayan bubu kawat sebagian besar berdomisili di Kecamatan Tukak Sadai dan Lepar Pongok (Lampiran 3 dan Lampiran 4).

4.2.4 Metode pengoperasian bubu

1) Bubu kawat

Pengoperasian bubu kawat bersifat pasif berada di dasar perairan. Pengopersian bubu kawat di bagi menjadi 4 tahap, yaitu : persiapan, setting,

soaking dan hauling.

Tahapan pertama yaitu persiapan perlengkapan alat dan pembekalan. Persiapan yang dilakukan dimulai dari mempersiapkan bubu kawat yang akan digunakan, pembekalan bagi nelayan, mesin kompresor serta mesin kapal yang akan digunakan. Satu trip pengoperasian unit penangkapan bubu kawat biasanya dilakukan satu trip dalam 1-2 hari, yaitu pagi hari pada pukul 06.00 – 09.00 WIB. Setelah semua persiapan selesai, lalu nelayan segera menuju fishing

ground atau daerah penangkapan ikan (Lampiran 1). Jarak dari fishing ground

sekitar 1-2 mil, ditempuh selama kurang lebih 30 menit - 1 jam.

Setelah tiba di fishing ground mesin dimatikan dan jangkar diturunkan, kemudian segera mencari daerah pengoperasian. Nelayan memulai pencarian dengan cara menyelam atau snorkling. Penyelaman dilakukan nelayan bubu untuk melihat gerombolan ikan dan pencarian gorong-gorong karang atau biasa disebut gosong. Setelah menemukan daerah yang cocok, kemudian nelayan menurunkan selang kompresor sebagai alat bantu pernafasan serta bubu kawat yang akan dipasang sebanyak 4 buah untuk 1 kali proses penyelaman. Pengoperasian bubu kawat dimulai dengan pemasangan bubu di dasar perairan

(10)

dengan posisi mulut bubu menghadap kearah tempat ikan berlindung. Kemudian bubu kawat ditutupi dengan tumpukan batuan karang yang sudah mati, kecuali bagian mulut bubu. Peletakan bubu diletakkan di sekitar artificial coral reef. Peletakan harus diusahakan sedemikian rupa, agar bubu tersebut tidak terbalik.

Gelombang dan arus laut yang besar akan berpengaruh terhadap kestabilan bubu karena dapat menyebabkan posisi bubu bergeser dan akhirnya terbalik. Selanjutnya setelah pemasangan bubu I selesai diikuti pemasangan bubu kawat yang lainya, dengan jarak 15-100 m antar bubu. Waktu yang dibutuhkan dalam pemasangan bubu kawat sekitar 3-5 jam.

Umpan yang digunakan adalah jenis ikan hidup seperti ikan-ikan yang berukuran kecil yang telah disediakan yang tertangkap pada pemasangan sebelumnya ataupun hewan karang yang biasa melalui bagian dalam bubu kawat tersebut dan menjadi target ikan utama. Gambaran pengoperasian bubu kawat dan tahapan pengoperasian bubu kawat dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9 Tahap operasional alat tangkap bubu kawat

Setelah pemasangan bubu kawat selesai seluruhnya, nelayan mulai membereskan perlengkapan dan menaikkan jangkar, serta kembali ke fishing

base. Bubu kawat yang telah terpasang akan direndam selama 3-5 hari.

(c) ABK pada saat hauling (d) Hasil tangkapan bubu kawat (a) Kapal menuju fishing ground (b) ABK bersiap melakukan setting

(11)

Hauling dilakukan di atas perahu pada pada pagi hari. Hasil tangkapan dimasukan ke dalam bak penampung ikan. Biasanya setelah proses pengangkatan, nelayan akan mencari dan memasang bubu kawat kembali jika kondisinya masih baik dan masih ada waktu untuk beropersi. Apabila bubu kawat mengalami kerusakan, maka nelayan akan kembali ke fishing base untuk memperbaiki bubu tersebut.

2 ) Bubu jaring

Pengoperasian bubu jaring bersifat pasif berada di dasar perairan. Setelah kapal berlayar selama 1,5-3 jam dan tiba di fishing ground (Lampiran 2) yang berjarak antara 7-14 mil, maka setting dimulai dengan menununggu aba-aba dari nahkoda kapal (sambil merekam posisi bubu pada GPS), setelah aba-aba diberikan, maka ABK siap menjatuhkan bubu pertama diawali dengan mengulurkan tali utama dilanjutkan dengan tali cabang kemudian bubu I tanpa perlu melakukan penyelaman ke dasar perairan guna membantu proses peletakannya, kemudian menjatuhkan bubu kedua juga setelah ada aba-aba dari nahkoda kapal (sambil merekam posisi bubu pada GPS juga), untuk satu rangkaian bubu. Tahapan pengoperasian bubu jaring dapat dilihat pada Gambar 10.

Gambar 10 Tahap operasional alat tangkap bubu jaring (c) ABK bersiap untuk menjatuhkan

pengait pada saat hauling

(d) Hasil tangkapan bubu jaring (a) Kapal menuju fishing ground (b) Penurunan bubu kawat

(12)

Umpan yang digunakan pada bubu jaring adalah jenis ikan hidup yang telah tertangkap pada pemasangan sebelumnya seperti ikan-ikan yang menjadi target ikan utama ikan karang. Selain itu juga, hewan karang dan tumbuhan laut seperti alga yang biasa melalui bagian dalam bubu jaring tersebut juga bisa menjadi umpan pada penangkapan dengan menggunakan alat tangkap bubu jaring.

Pada proses peletakan bubu ini diusahakan agar funnel saling berhadapan. Hal ini dilakukan pada semua rangkaian bubu pada semua perlakuan (dua, tiga, empat dan lima hari).

Proses setting untuk satu rangkaian bubu berlangsung selama 5-10 menit. Setelah semua bubu diletakkan, bubu direndam selama 3-5 hari. Proses

hauling sama untuk semua perlakuan bubu, yaitu mula-mula dengan

mempersiapkan gancu, yang digunakan untuk mengait tali antara bubu bambu dengan bubu jaring di dasar perairan.

Setelah tiba di lokasi peletakan bubu, maka nahkoda kapal memberikan aba-aba kepada ABK untuk menjatuhkan gancu. Alat bantu ini dijatuhkan antara bubu bambu dan bubu jaring, kemudian nahkoda kapal menjalankan kapal secara perlahan diantara bubu, sambil sesekali melihat ke GPS dan ABK. Apabila dirasa gancu telah tersangkut tali bubu, maka ABK memberikan aba-aba kepada nahkoda untuk menghentikan kapal (mesin kapal tetap hidup) dan proses

hauling pun dilakukan dengan menarik tali gancu tersebut.

Tarikan demi tarikan dilakukan oleh ABK hingga gancu sampai di atas kapal, setelah itu maka giliran tali bubu (main line) diangkat dan diletakkan melintang pada kapal. Kemudian kapal menyisir main line pada salah satu sisi kapal untuk memperpendek jarak bubu.

Apabila diperkirakan jarak bubu hampir dekat dengan kapal, maka ABK mulai menarik main line hingga bubu naik ke kapal. Apabila bubu jaring telah terlihat, maka seluruh ABK membantu menaikkan bubu ke atas kapal secara bersamaan. Pada saat pengangkatan bubu, kapal mengalami ketidakstabilan dikarenakan beban yang ditimbulkan akibat proses pengangkatan bubu.

Setelah bubu naik ke kapal maka dilakukan proses pengeluaran hasil tangkapan. Proses hauling ini dapat berlangsung selama 20-30 menit. Hauling dilakukan sebanyak 5 (lima) kali dan dinyatakan sebagai 5 (lima) kali ulangan. Masing-masing perlakuan (lama perendaman tiga hari, empat hari dan lima hari) melakukan 5 (lima) kali ulangan.

(13)

Setelah proses hauling selesai dilakukan, maka kapal kembali menuju

fishing base. Hasil tangkapan tersebut diusahakan agar tetap hidup karena

memiliki nilai ekonomis lebih tinggi dibandingkan dengan ikan hasil tangkapan yang telah mati. Hasil tangkapan langsung dimasukkan ke dalam palkah yang telah diisi air laut. Pencatatan semua hasil tangkapan dilakukan setelah kapal tiba di fishing base (pukul 16.00 WIB - 18.00 WIB), yang meliputi jenis, jumlah (ekor), berat (kg) hasil tangkapan.

4.3 Hasil Tangkapan

Hasil tangkapan bubu dasar dari material kawat dan bubu dasar dari material jaring yang diletakkan dalam air dengan lama perendaman 3 (tiga) hari, 4 (empat) hari, dan 5 (lima) hari menunjukkan perbedaan, baik dalam jumlah berat (kg) maupun jenis. Berat jenis ikan hasil tangkapan kedua jenis bubu dasar dapat dilihat pada Lampiran 5.

4.3.1 Jenis hasil tangkapan

Pengoperasian alat tangkap bubu jaring dan kawat yang berada didasar laut, maka ikan target tangkapan merupakan ikan-ikan dasar. Semua hasil tangkapan berada dalam kedaan hidup dan diketahui jenisnya adalah ikan ekonomis penting.

Di antara sekian banyak jenis yang tertangkap, 8 (delapan) jenis diantara ikan yang tertangkap selama penelitian merupakan kelompok ikan target yang umumnya dikonsumsi masyarakat (ikan ekonomis). Oleh karena itu hanya kedelapan jenis ini yang dianalisis beratnya. Jenis-jenis ikan yang tertangkap dengan bubu dasar yang dioperasikan selama penelitian di perairan sekitar Kabupaten Bangka Selatan dapat dilihat dalam Tabel 4 dan Gambar 11 .

Tabel 4 Jenis-jenis ikan yang tertangkap dengan bubu dasar

No. Nama Indonesia Nama Latin

1. Kerapu sunu Plectopomus leopardus

2. Kerapu macan Epinephelus fuscoguttatus

3. Kerapu malabar Epinephelus malabaricu

4. Kakap merah Lutjanus sanguineus

5. Baronang Siganus javus

6. Ekor kuning Caesio cuning

7. Swanggi Holocentridae

(14)

Plectopomus leopardus Lutjanus johni

Holocentridae Epinephelus malabaricus

Siganus javus Caesio cunning

Lutjanus sanguineus Epinephelus fuscoguttatus

(15)

4.3.1.1 Komposisi hasil tangkapan bubu dasar berdasarkan lama perendaman 3 hari

Total hasil tangkapan terbanyak bubu dasar dengan lama perendaman selama 3 hari yang dioperasikan di perairan sekitar Bangka Selatan adalah ikan tambangan (Lutjanus sp) yaitu sebesar 39,18 % dan yang paling sedikit adalah ikan swanggi (Holocentridae) yaitu sebesar 5,39 % (Gambar 12).

Gambar 12 Komposisi hasil tangkapan bubu dasar dengan lama perendaman 3 hari

4.3.1.2 Komposisi hasil tangkapan bubu dasar berdasarkan lama perendaman 4 hari

Total hasil tangkapan terbanyak bubu dasar dengan lama perendaman selama 4 hari yang dioperasikan di perairan sekitar Bangka Selatan adalah ikan ikan swanggi (Holocentridae) yaitu sebesar 5,14 % (Gambar 13).

Gambar 13 Komposisi hasil tangkapan bubu dasar dengan lama perendaman 4 hari

(16)

4.3.1.3 Komposisi hasil tangkapan bubu dasar berdasarkan lama perendaman 5 hari

Total hasil tangkapan terbanyak bubu dasar dengan lama perendaman selama 5 hari yang dioperasikan di perairan sekitar Bangka Selatan adalah ikan tambangan (Lutjanus sp) yaitu sebesar 33,85 % dan yang paling sedikit adalah ikan swanggi (Holocentridae) yaitu sebesar 5,89 % (Gambar 14).

Gambar 14 Komposisi hasil tangkapan bubu dasar dengan lama perendaman 5 hari

4.3.2 Pengaruh lama perendaman bubu dasar terhadap hasil tangkapan Bubu dasar dari material kawat dan jaring yang dioperasikan dengan lama perendaman 3 (tiga) hari, 4 (empat) hari dan 5 (lima) hari memberikan pengaruh yang berbeda terhadap hasil tangkapan. Perbedaan ini disebabkan karena perbedaan material yang digunakan dan perbedaan lamanya perendaman di dalam air. Pengaruh ini dapat dilihat dari berat total ikan tangkapan (Gambar 15).

Selama penelitian ini telah berhasil ditangkap 24 ekor kerapu sunu (berat rata rata-rata 0,83 kg); 21 ekor kerapu macan (berat rata-rata 0,68 kg); 30 ekor kerapu malabar (berat rata 0,66 kg); dan 28 ekor kakap merah (berat rata-rata 0,64 kg), dan 35 ekor beronang (berat rata-rata 0,47 kg), dan 45 ekor ekor kuning (dengan rata-rata berat 0,38 Kg), dan 20 ekor swanggi (dengan rata-rata berat 0,64 kg), dan 24 ekor tambangan (dengan rata-rata berat 2,3 kg). Diantara kedelapan jenis ikan hasil tangkapan, Tambangan (Lutjanus johni) yang memilki berat hingga 2,01 Kg per ekor, jenis lainnya umumnya hanya kurang dari 2,01 kg per ekor.

(17)
(18)

Gambar 15 Komposisi berat jenis ikan yang tertangkap menggunakan bubu dasar di Kabupaten Bangka Selatan 2009

4.3.2.1 Perbandingan berat tangkapan berdasarkan jenis bubu dasar

Analisis ragam yang dilakukan hanya terhadap data primer yang diperoleh dari hasil pengamatan berupa berat (kg) hasil tangkapan pada kedua material bubu dasar. Data primer berupa berat (kg) hasil tangkapan yang diperoleh menyebar tidak normal. Hal ini disebabkan karena banyak terdapat pencilan.

(19)

82,58 90,05 78,00 80,00 82,00 84,00 86,00 88,00 90,00 92,00

Bubu Kawat Bubu Jaring

To ta l T an gk ap an ( kg ) Jenis Bubu

Selanjutnya untuk dapat dilakukan analisis sidik ragam, maka data primer tersebut ditransformasi terlebih dahulu sebelum dianalisis. Berat total tangkapan ikan terbanyak pada pengoperasian bubu dasar dari material jaring yaitu sebesar 90,05 kg. Sedangkan berat total tangkapan yang paling sedikit adalah bubu dasar dari material kawat yaitu sebesar 82,58 kg. Perbandingan total berat tangkapan dapat dilihat pada Gambar 16.

Gambar 16 Perbandingan total berat tangkapan berdasarkan jenis bubu dasar Gambar 16 menunjukkan bahwa pengoperasian bubu dasar dari material jaring menangkap ikan lebih banyak daripada bubu dasar dari material kawat. Berdasarkan uji statistika, Fhitung < Ftabel dengan nilai Fhitung = 4,49 dan Ftabel

Uji hipotesis menunjukkan bahwa pada selang kepercayaan 95% jenis material yang digunakan dalam pembuatan bubu dasar tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap berat total hasil tangkapan. Ini berarti bahwa alat tangkap bubu kawat dan jaring dapat digunakan untuk menangkap ikan karang. Hasil tangkapan bubu dasar yang optimal dengan menggunakan bahan material jaring. Pengolahan data sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 9.

= 18.51, maka Ho diterima.

4.3.2.2 Perbandingan berat tangkapan berdasarkan lamanya perendaman bubu dasar

Analisis ragam digunakan untuk mengetahui pengaruh perlakuan dengan perbedaan lama perendaman dari kedua bubu dasar yang digunakan terhadap hasil tangkapan. Berat total tangkapan ikan terbanyak pada pengoperasian bubu dasar yang direndam selama 5 hari yaitu sebesar 71,59 kg. Berat total hasil tangkapan bubu dasar paling sedikit adalah bubu dasar yang direndam selama 4 hari yaitu sebesar 47,08 kg. Perbandingan total hasil tangkapan dapat dilihat pada Gambar 17.

(20)

53.96 47.08 71.59 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 Perendaman 3 hari Perendaman 4 hari Perendaman 5 hari To ta l T an gk ap an ( kg )

Lamanya perendaman (hari)

Gambar 17 Perbandingan berat total tangkapan bubu dasar berdasarkan lama perendaman

Gambar 17 menunjukkan bahwa pengoperasian bubu dasar dengan lama perendaman 5 (lima) hari menangkap ikan lebih banyak daripada bubu dasar yang direndam selama 3 (tiga) hari dan 4 (empat) hari. Berdasarkan uji statistika,

Fhitung > Ftabel dengan nilai Fhitung = 38,59 dan Ftabel = 19,00, maka Ho ditolak. Uji hipotesis menunjukkan bahwa pada selang kepercayaan 95 % lama perendaman bubu dasar dalam air memberikan pengaruh yang berbeda pada total hasil tangkapan (Gambar 18). Hal ini menunjukkan bahwa lama perendaman berbeda nyata terhasil tangkapan ikan karang. Hasil tangkapan ikan karang yang optimal terjadi pada lama perendaman 5 (lima) hari. Pengolahan data sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 9.

Gambar 18 Berat ikan pada kedua jenis bubu dasar dengan perbedaaan lama perendaman

(21)

4.4 Analisis Finansial

4.4.1 Analisis usaha

Analisis usaha perikanan bubu dasar dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan usaha yang akan dicapai secara finansial. Analisis usaha yang dilakukan dalam usaha pengembangan perikanan bubu dasar di Kabupaten Bangka Selatan meliputi biaya, penerimaan usaha, keuntungan, kriteria analisis usaha terhadap 2 (dua) jenis alat tangkap bubu dasar yaitu bubu kawat dan bubu jaring. Hasil analisis usaha dari alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring dilakukan sebagai ukuran keberhasilan pengembangan usaha tersebut pada saat ini dan untuk mengetahui kelayakan pengembangan usaha perikanan bubu dasar.

4.4.1.1 Biaya

Biaya dalam usaha perikanan bubu dasar terdiri atas biaya investasi, biaya tetap dan biaya variabel. Biaya investasi merupakan nilai investasi yang ditanamkan pada usaha perikanan bubu dasar (Lampiran 10 dan Lampiran 14).

Total investasi yang dibutuhkan untuk penangkapan ikan dengan bubu kawat sebesar Rp 36.765.394,00 dan bubu jaring sebesar Rp 96.820.851 (Tabel 5). Besarnya biaya investasi merupakan nilai investasi rata-rata responden yang ditanamkan pada unit usaha penangkapan bubu kawat dan bubu jaring di Kabupaten Bangka Selatan.

Tabel 5 Komponen investasi unit usaha perikanan bubu dasar di Kabupaten Bangka Selatan tahun 2009

No. Jenis investasi Nilai investasi (Rp.)

Bubu kawat Bubu jaring

1. Kapal 17.079.000,00 50.098.400 2. Mesin 5.693.000,00 28.465.000 3. Alat tangkap 956.424,00 4.098.960 4. Peti fiber 0 910.880 5. GPS 7.400.900,00 7.400.900 6. Peralatan elektrik 569.300,00 853.950 7. Kompresor 4.326.680,00 4.326.680 8. Masker 170.790,00 125.246 9. Selang 170.790,00 170.790 10. Jangkar+tali 113.860,00 85.395 Jerigen solar dan air 284.650,00 284.650 Total 36.765.394,00 96.820.851 Sumber : Data diolah dari data primer, November-Desember 2009.

Biaya tetap (fixed cost) didefinisikan sebagai biaya yang relatif tetap jumlahnya, dan terus dikeluarkan walau pun produksi yang diperoleh banyak

(22)

atau sedikit. Jadi besarnya biaya tetap ini tidak tergantung pada besar kecilnya produksi yang diperoleh (Soekartawi 1995). Biaya tetap dalam usaha perikanan bubu dasar dengan menggunakan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring terdiri atas biaya penyusutan dan perawatan. Biaya penyusutan pada bubu kawat meliputi penyusutan kapal, mesin, alat tangkap, GPS, peralatan elektrik, kompresor, masker, selang, jangkar dan tali, serta jerigen solar dan air. Sedangkan pada bubu jaring terdapat biaya penyusutan peti fiber. Biaya perawatan pada bubu kawat dan bubu jaring meliputi perawatan kapal, mesin dan alat tangkap.

Biaya tetap pada unit usaha bubu jaring lebih besar dibandingkan dengan unit usaha bubu kawat yaitu sebesar Rp 21.462.527 dan Rp 8.771.619 (Tabel 6). Biaya untuk penyusutan unit usaha perikanan bubu dasar dengan alat tangkap bubu jaring lebih besar dibandingkan dengan alat tangkap bubu kawat. Hal ini disebabkan modal yang dikeluarkan untuk membeli bubu jaring lebih besar yaitu Rp 300.000,00 daripada modal untuk membeli bubu kawat yaitu Rp 70.000, sedangkan umur teknis dari bubu jaring yaitu 6-7 bulan lebih lama dibandingkan bubu kawat yaitu 4 bulan (Lampiran 10 dan Lampiran 14).

Tabel 6 Komponen biaya tetap unit usaha perikanan bubu dasar di Kabupaten Bangka Selatan tahun 2009

No. Uraian Nilai (Rp.)

Bubu Kawat Bubu Jaring 1. Penyusutan kapal 1.707.900,00 5.009.840,00 2. Penyusutan mesin 1.897.666,67 9.488.333,33 3. Penyusutan alat tangkap 956.424,00 4.098.960,00

4. Penyusutan peti fiber 0 182.176,00

5. Penyusutan GPS 740.090,00 740.090,00 6. Penyusutan geralatan elektrik 113.860,00 170.790,00 7. Penyusutan kompresor 865.336,00 865.336,00 8. Penyusutan masker 34.158,00 25.049,20 9. Penyusutan selang 56.930,00 56.930,00 10. Penyusutan jangkar+tali 56.930,00 42.697,50 11. Penyusutan jerigen solar dan air 142.325,00 142.325,00 12. Perawatan kapal 1.000.000,00 500.000,00 13. Perawatan mesin 800.000,00 140.000,00 14. Perawatan alat tangkap 0 500.000,00 15. Perawatan alat bantu 400.000,00 200.000,00

Total 8.771.619,67 21.462.527,03

Sumber : Data diolah dari data primer, November-Desember 2009.

Biaya variabel didefinisikan sebagai biaya yang besar kecilnya (variable

cost) dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh (Soekartawi 1995). Biaya tidak

(23)

bubu kawat dan bubu jaring terdiri atas biaya solar, oli, perbekalan (ransum) dan upah ABK. Komponen biaya tidak tetap unit usaha perikanan bubu dasar di Kabupaten Bangka Selatan dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7 Komponen biaya tidak tetap unit usaha perikanan bubu dasar di Kabupaten Bangka Selatan tahun 2009

No. Uraian Nilai (Rp)

Bubu Kawat Bubu Jaring

1. Solar 6.300.000,00 15.000.000,00

2. Oli 5.880.000,00 1.500.000,00

3. Perbekalan 3.600.000,00 1.320.000,00

4. Upah ABK 112.347.782,40 142.643.280,00

Total 128.127.782,40 160.463.280,00 Sumber : Data diolah dari data primer, November-Desember 2009.

Total biaya tidak tetap pada unit usaha perikanan bubu dasar dengan alat tangkap bubu kawat berbeda jauh dengan alat tangkap bubu jaring, yaitu Rp 128.127.782,40 dan Rp 160.463.280,00 Biaya tidak tetap yang paling besar pada unit usaha perikanan bubu dasar dengan material terbuat dari kawat dan jaring adalah upah ABK, yaitu sebesar Rp 112.347.782,40 dan 142.643.280,00 Hal ini dikarenakan besarnya biaya solar yang digunakan pada saat menuju daerah penangkapan dan operasi penangkapan dan ukuran GT kapal. Upah ABK juga menjadi salah satu biaya tidak tetap yang paling besar. Hal ini di karenakan sistem bagi hasil yang dilakukan usaha bubu kawat dan bubu jaring berbeda, yaitu Rp 112.347.782,40 dan Rp 142.643.280,00.

Total biaya merupakan keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produksi yaitu hasil penjumlahan dari biaya tetap dan biaya tidak tetap. Total biaya dalam usaha perikanan bubu dasar di Kabupaten Bangka Selatan dengan menggunakan alat tangkap bubu kawat sebesar Rp 136.899.402,07, sedangkan dengan mengunakan alat tangkap bubu jaring sebesar Rp 182.625.807,03.

Total biaya usaha bubu jaring di Kabupaten Bangka Selatan lebih besar daripada bubu kawat. Hal ini disebabkan oleh biaya bahan bakar solar dan upah ABK yang lebih besar (Tabel 8).

Tabel 8 Biaya total unit usaha perikanan bubu dasar di Kabupaten Bangka Selatan tahun 2009

No. Jenis biaya Nilai (Rp.)

Bubu Kawat Bubu Jaring

1. Biaya tetap 8.771.619,67 22.162.527,03

2. Biaya Tidak tetap 128.127.782,40 160.463.280,00 Total biaya 136.899.402,07 182.625.807,03 Sumber : Data diolah dari data primer, November-Desember 2009.

(24)

4.4.1.2 Penerimaan

Penerimaan (output) dalam usaha penangkapan ikan merupakan nilai penjualan hasil tangkapan. Besarnya pendapatan dipengaruhi oleh produktivitas alat tangkap, perubahan musim yang disebabkan perubahan cuaca dan iklim dan fluktuasi harga ikan baik perubahan harga dari waktu ke waktu yang disebabkan oleh produk hasil perikanan bersifat sangat mudah rusak dan akibat perubahan sementara dalam penawaran dan permintaan serta nilai ekonomis atau nilai jual hasil tangkapan.

Rata-rata penerimaan yang diperoleh selama satu trip penangkapan pada pengoperasian alat tangkap bubu kawat sebesar Rp 3.343.684, sedangkan untuk rata-rata biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 3.174.657,07 per trip. Keuntungan yang diperoleh unit usaha perikanan bubu dasar dengan menggunakan alat tangkap bubu kawat di Kabupaten Bangka Selatan sebesar Rp 169.027 per trip. Penerimaan yang diperoleh dari unit usaha perikanan bubu dasar dengan alat tangkap bubu kawat selama satu tahun penangkapan sebesar Rp 187.246.304,00, sedangkan total biaya yang dikeluarkan yaitu sebesar Rp

136.899.402,07. Keuntungan yang diperoleh selama satu tahun sebesar Rp 968.209,65.

Penerimaan rata-rata unit usaha perikanan bubu dasar dengan menggunakan alat tangkap bubu jaring di Kabupaten Bangka Selatan sebesar Rp 5.486.280 per trip. Rata-rata biaya yang dikeluarkan pada pengoperasian alat tangkap ini sebesar Rp 3.512.034,75. Keuntungan yang diperoleh usaha perikanan bubu dasar dengan menggunakan alat tangkap bubu jaring adalah sebesar Rp 1.974.245,25 per trip. Penerimaan yang diperoleh dari usaha perikanan bubu dasar dengan menggunakan alat tangkap bubu jaring selama satu tahun penangkapan sebesar Rp 285.286.560,00, sedangkan total biaya yang dikeluarkan yaitu sebesar Rp 182.625.807,03. Keuntungan yang diperoleh selama satu tahun sebesar Rp 102.660.752,97 (Lampiran 10 dan Lampiran 14). 4.4.1.3 Keuntungan

Keuntungan usaha yang diperoleh dari unit penangkapan dengan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring di Kabupaten Bangka Selatan merupakan hasil selisih antara total penerimaan dan total biaya. Total penerimaan ditentukan oleh nilai penjualan hasil tangkapan ikan, sedangkan total biaya ditentukan oleh biaya produksi, baik biaya tetap dan biaya variabel yang dikeluarkan untuk

(25)

operasi usaha unit penangkapan dengan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring. Pendapatan yang diperoleh juragan dan ABK melalui sistem bagi hasil pada alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring berbeda. Pada bubu kawat, pemilik mendapat bagian 40% dan nelayan mendapat bagian 60% dari setiap kali penjualan hasil tangkapan setelah dikurangi dengan biaya operasional yaitu Sedangkan pada bubu jaring, pemilik mendapat bagian 50% dan nelayan mendapat bagian 50%.

4.4.2 Kriteria analisis usaha

1) Rasio imbangan penerimaan dan biaya (R/C)

R/C merupakan perbandingan antara total penerimaan dengan total

biaya. Setiap pelaku usaha selalu mengharapkan keuntungan dari kegiatanusaha yang dilakukan, begitupun dengan nelayan. Rasio imbang penerimaan dan biaya digunakan untuk mengetahui seberapa besar biaya yang digunakan dalam kegiatan usaha sehingga dapat memberikan sejumlah keuntungan dari penerimaan yang diperoleh. Analisis R/C merupakan perbandingan antara nilai penerimaan per tahun dengan biaya yang telah dikeluarkan setiap tahun. Analisis R/C juga dapat digunakan untuk menilai efisiensi biaya yang telah dikeluarkan (Djamin 1984).

Analisis R/C dilakukan untuk melihat berapa penerimaan yang diperoleh dari setiap rupiah biaya yang dikeluarkan pada unit usaha penangkapan dengan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring di Kabupaten Bangka Selatan.

Hasil analisis unit penangkapan dengan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring di Kabupaten Bangka Selatan diperoleh nilai R/C sebesar 1,37 dan 1,56 yang artinya setiap satu rupiah total biaya yang dikeluarkan untuk usaha akan menghasilkan total penerimaan sebesar Rp 1,37 dan Rp 1,56 atau memberikan keuntungan sebesar Rp 0,13 dan Rp 0,15 (Lampiran 16 dan Lampiran 20).

Analisis imbangan penerimaan dan biaya merupakan perbandingan antara besarnya penerimaan dengan total biaya. Pada usaha penangkapan ikan dengan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring di Kabupaten Bangka Selatan ini diperoleh nilai R/C>1, sehingga dapat diartikan usaha tersebut mendapatkan keuntungan (Lampiran 10 dan Lampiran 24).

(26)

ROI bertujuan untuk mengetahui tingkat keuntungan yang diperoleh

dalam setiap rupiah investasi yang ditanamkan. ROI dari unit usaha penangkapan ikan dengan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring di Kabupaten Bangka Selatan sebesar 137% dan 106%. Hal ini berarti bahwa setiap seratus rupiah yang diinvestasikan akan memberikan keuntungan sebesar Rp 1,37 dan Rp 1,06 (Lampiran 10 dan Lampiran 24).

3) Payback period (PP)

PP dalam studi kelayakan usaha berfungsi untuk mengetahui berapa

lama usaha yang diusahakan dapat mengembalikan investasi. Semakin cepat dalam pengembalian biaya investasi sebuah usaha, semakin baik usaha tersebut karena semakin lancar perputaran modal.

Analisis PP digunakan untuk mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menutupi modal investasi dalam hitungan tahun atau bulan, jika seluruh pendapatan usaha yang dihasilkan digunakan untuk menutupi modal investasi (Umar 2003).

PP dari unit usaha penangkapan ikan dengan alat tangkap bubu kawat

dan bubu jaring di Kabupaten Bangka Selatan adalah 0,7 tahun dan 0,9 tahun. Hal ini berarti waktu yang dibutuhkan untuk pengembalian biaya investasi yang telah dikeluarkan akan kembali dengan keuntungan sebesar Rp 50.346.901,93 dan Rp 102.660.752,97 per tahun dalam waktu 0,7 tahun dan 0,9 tahun (Lampiran 10 dan Lampiran 24).

4.4.3 Analisis kriteria investasi

Analisis kriteria investasi digunakan untuk membuat keputusan suatu kegiatan bisa atau tidak untuk dijalankan serta menilai dan mengevaluasi kegiatan tersebut. Perhitungan analisis kriteria investasi tersebut menggunakan beberapa asumsi dasar untuk membatasi permasalahan yang ada. Asumsi yang digunakan adalah sebagai berikut:

1) Analisis yang dilakukan merupakan usaha baru yang akan dikembangkan terhadap unit usaha yang ada dengan umur kegiatan ditentukan 8 tahun, karena umur teknis untuk investasi kapal baru adalah 8 tahun. Investasi yang telah dihitung dengan penyesuaian IHK yang berlaku di Kabupaten Bangka Selatan untuk komoditas ikan segar, sehingga menunjukkan nilai saat penelitian;

(27)

2) Tahun pertama proyek dimulai tahun 2009 dengan penilaian investasi dinilai pada tahun tersebut, penggantian investasi berikutnya menggunakan barang baru dan harga baru;

3) Sumber modal yang digunakan adalah modal sendiri; 4) Populasi ikan berada di daerah penangkapan ikan karang;

5) Hasil tangkapan yang masuk ke dalam perhitungan adalah jenis ikan karang ekonomis;

6) Jumlah trip unit penangkapan dengan alat tangkap bubu kawat jumlah dalam setahun 56 trip atau selama 8 bulan dan jumlah trip unit penangkapan dengan alat tangkap bubu jaring dalam setahun 52 trip 7 bulan 3 minggu. 7) Harga ikan hasil tangkapan merupakan harga yang diperoleh dari hasil

wawancara dengan nelayan bubu kawat dan bubu jaring setempat dan harga ikan per satuan hasil tangkapan adalah konstan;

8) Biaya perawatan kapal, mesin dan alat tangkap meningkat 5% per tahun proyek. Hal ini disebabkan kapal, mesin dan alat tangkap meningkat 5% per tahun proyek;

9) Discount factor pada tahun 2009 didasarkan pada tingkat suku bunga 15% per tahun yang berlaku pada Bank Sumsel Babel Cabang Bangka Selatan; 10) Biaya operasional yang digunakan sepanjang umur proyek dianggap tetap. 11) Kebutuhan solar dan minyak tanah meningkat 5% per tahun proyek. Hal ini

disebabkan oleh umur teknis semakin, tua sehingga kebutuhan bahan bakar semakin bertambah; dan

12) Kebutuhan oli meningkat 5% per tahun proyek, hal ini disebabkan oleh umur teknis mesin semakin tua, sehingga kebutuhan bahan bakar semakin bertambah.

Analisis kriteria investasi usaha perikanan bubu dasar dengan material kawat dan jaring di Kabupaten Bangka Selatan terdiri dari Net Present Value (NPV), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) dan Internal Rate of Return (IRR).

1) Net Present Value (NPV)

Suatu usaha layak untuk dilanjutkan jika nilai NPV adalah selisih antara

benefit (pendapatan) dengan cost (pengeluaran) yang telah di present valuekan

lebih dari nol. Dalam metode ini discount rate yang digunakan adalah sebesar 12 % sesuai dengan tingkat bunga bank rata-rata yang berlaku saat ini.

Nilai NPV pada unit usaha penangkapan ikan dengan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring bernilai positif yaitu sebesar 314.926.267,14 dan Rp

(28)

132.093.915,15 yang berarti bahwa usaha penangkapan ikan dengan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring akan memperoleh net benefit sebesar Rp 314.926.267,14 dan Rp 132.093.915,15 selama umur proyek (10 tahun) pada

discount rate sebesar 15 % per tahun, apabila dinilai sekarang (Lampiran 11 dan

Lampiran 15).

Nilai NPV bubu jaring lebih besar dari nilai NPV bubu kawat dikarenakan jumlah aliran kas pada net cash flow yang merupakan selisih total inflow (pendapatan) dengan total outflow (investasi dan biaya total) yang besar. Hal ini disebabkan oleh biaya total unit usaha penangkapan ikan dengan alat tangkap bubu jaring lebih kecil dibandingkan dengan bubu kawat, sehingga berpengaruh pada nilai NPV nya.

Pada usaha perikanan bubu dasar dengan terbuat dari kawat dan jaring, maka nilai dari kriteria investasi (NPV>0, net B/C>1 dan IRR>interest rate) layak untuk dilanjutkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sobari et al. (2006), jika dilihat dari kriteria investasi NPV>0, net B/C>1 dan IRR>internal rate, maka dapat dikatakan bahwa usaha tersebut layak memenuhi persyaratan dan masih layak untuk dikembangkan.

2) Internal Rate of Return (IRR)

Perhitungan IRR dilakukan dengan cara mencari discount rate yang dapat menyamakan antara present value dari aliran kas dengan present value dari investasi (initial investment). Jika perhitungan IRR dari discount rate dikatakan usaha tersebut feasible (layak) dijalankan, bila sama dengan discount rate berarti pulang pokok dan di bawah discount rate usaha tersebut tidak feasible. Nilai IRR dari unit usaha penangkapan dengan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring di Kabupaten Bangka Selatan layak diusahakan sebab nilai IRR-nya memiliki nilai yang lebih tinggi dari nilai discount rate (15%) yaitu sebesar 148% dan 114%. Hal ini menunjukkan bahwa usaha tersebut akan memberikan manfaat baik internal dari nilai investasi yang ditanamkan untuk usaha penangkapan dengan menggunakan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring sebesar 148% dan 114% tiap tahunnya selama umur proyek (Lampiran 11 dan Lampiran 15).

Usaha penangkapan alat tangkap bubu jaring lebih layak diusahakan karena memiliki nilai IRR yang lebih besar dibandingkan dengan nilai IRR jaring. Hal ini disebabkan oleh besarnya NPV dan discount rate yang digunakan untuk membuat nilai NPV negatif.

(29)

3) Net B/C

Net B/C unit usaha penangkapan ikan dengan alat tangkap bubu kawat

dan bubu jaring yaitu sebesar 4,16 dan 4,25 (net B/C>1), artinya selama tahun proyek pada tingkat discount rate 15% per tahun setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan akan memberikan benefit bersih sebesar Rp 4,16 dan Rp 4,25, sehingga dapat dikatakan usaha tersebut layak untuk dikembangkan (Lampiran 11 dan Lampiran 15). Net B/C tidak menggambarkan besarnya keuntungan tetapi menggambarkan skala penerimaan atas biaya dan modal.

Pada usaha perikanan dengan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring, maka nilai dari kriteria investasi (NPV>0, net B/C>1 dan IRR>interest rate) layak untuk dilanjutkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sobari et al. (2006), jika dilihat dari kriteria investasi NPV>0, net B/C>1 dan IRR>internal rate, maka dapat dikatakan bahwa usaha tersebut layak memenuhi persyaratan dan masih layak untuk dikembangkan.

4) Analisis sensitivitas

Analisis sensitivitas dilakukan untuk melihat pengaruh apa yang akan terjadi akibat perubahan nilai input atau perubahan nilai output yang akan berdampak pada akhir perhitungan. Dalam penelitian ini faktor yang dianalisis adalah perubahan harga solar sebagai komponen variabel terbesar yaitu untuk kebutuhan solar pada bubu kawat sebesar 65,4 % sedangkan untuk bubu jaring sebesar 160,5% dari total biaya variabel. Metode yang digunakan adalah

switching value. Komponen tersebut merupakan komponen variabel utama yang

dianggap peka dalam proses penangkapan dengan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring.

Berdasarkan metode switching value diperoleh nilai untuk kenaikan harga solar pada bubu kawat dan bubu jaring sebesar 65,4% dan 160,5% menyebabkan usaha penangkapan menjadi tidak layak untuk dijalankan. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa apabila terjadi perubahan harga solar, maka nilai kriteria investasi juga akan mengalami perubahan.

Nilai kriteria investasi setelah dilakukan analisis sensitivitas pada usaha penangkapan dengan bubu kawat dan bubu jaring dapat dilihat pada Tabel 28 dan 29 dan untuk perhitungan secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 12 dan 16.

Pada Tabel 9 dapat dilihat perhitungan analisis sensitivitas terhadap kenaikan harga solar pada bubu kawat sebesar 65,4% dari harga solar Rp

(30)

5.000,00 menjadi Rp 8.270,00 pada unit penangkapan dengan bubu kawat menunjukkan bahwa nilai NPV yang diperoleh adalah negatif. Hal ini menunjukkan usaha penangkapan bubu kawat tidak layak untuk dijalankan dan dikembangkan. Net B/C yang dihasilkan dalam analisis kurang dari 1, yaitu 0.999. Berarti usaha ini tidak memberi manfaat bersih, sehingga tidak layak untuk dilanjutkan. Nilai IRR yang dihasilkan sebesar 14,8% merupakan nilai dibawah tingkat suku bunga yang berlaku, yaitu 15% berarti usaha ini mengalami kerugian. Berdasarkan dari hasil perhitungan tersebut, maka usaha penangkapan bubu kawat tidak layak untuk dikembangkan apabila terdapat kenaikan harga solar 65,4%.

Hasil perhitungan analisis sensitivitas terhadap kenaikan harga solar pada bubu jaring sebesar 160,5% menjadikan harga solar yang semula seharga Rp 5.000,00 berubah menjadi Rp 13.025,00, sedangkan unit penangkapan dengan bubu jaring menunjukkan bahwa nilai NPV yang diperoleh adalah negatif. Hal ini menunjukkan usaha penangkapan bubu jaring tidak layak untuk dijalankan dan dikembangkan. Net B/C yang dihasilkan dalam analisis kurang dari 1, yaitu 0.999. Berarti usaha ini tidak memberi manfaat bersih, sehingga tidak layak untuk dilanjutkan.

Nilai IRR yang dihasilkan sebesar 14,99% merupakan nilai dibawah tingkat suku bunga yang berlaku, yaitu 15% berarti usaha ini mengalami kerugian. Berdasarkan dari hasil perhitungan tersebut, maka usaha penangkapan bubu kawat tidak layak untuk dikembangkan apabila terdapat kenaikan harga solar 160,5%.

Tabel 9 Perbandingan nilai kriteria investasi akibat kenaikan harga solar sebesar 65,4% pada bubu kawat

No. Kriteria Investasi Sebelum kenaikan harga solar Sesudah kenaikan harga solar (65,4%) Perubahan 1. NPV (Rp) 132.093.915,15 (43.927) 132.137.841,98 2. Net B/C 4,16 0,999 3,16 3. IRR (%) 148% 14,8% 1,33%

Sumber : Data diolah dari data primer, November-Desember 2009.

Hasil perbandingan sebelum dan sesudah perubahan kenaikan harga solar menyebabkan nilai NPV, Net B/C dan IRR ikut berubah. Perubahan nilai

NPV sebesar Rp 132.137.841,98 dari Rp 132.093.915,15 setelah mengalami

(31)

diperoleh pada akhir tahun proyek yang dihitung berdasarkan nilai saat ini mengalami penurunan sebesar Rp 132.137.841,98.

Net B/C sebesar 0,99 menunjukkan bahwa manfaat bersih dalam usaha

ini berkurang sebesar Rp 0,99 dari biaya yang dikeluarkan oleh nelayan bubu kawat. Nilai IRR menjadi 14,8% menyebabkan keuntungan yang diperoleh dari usaha penangkapan dengan bubu kawat tersebut berkurang sebesar 1,33% dari investasi yang ditanamkan nelayan setelah terjadinya kenaikan harga solar.

Perbandingan nilai kriteria investasi akibat kenaikan harga solar sebesar 160,5% pada unit penangkapan bubu jaring. Harga solar sebelum terjadi kenaikan sebesar Rp 5.000,00 menjadi Rp 13.025,00. Hal ini menyebabkan nilai

NPV negatif (Tabel 10). Berarti usaha penangkapan dengan bubu jaring di

Kabupaten Bangka Selatan juga tidak layak untuk dijalankan dan dikembangkan.

Net B/C yang dihasilkan dalam analisis kurang dari 1, yaitu 0,999. Berarti usaha

ini tidak memberi manfaat bersih, sehingga akan mengalami kerugian.

Tabel 10 Perbandingan nilai kriteria investasi akibat kenaikan harga solar sebesar 160,5% pada bubu jaring

No. Kriteria Investasi Sebelum kenaikan harga solar Sesudah kenaikan harga solar (160,5%) Perubahan 1. NPV (Rp) 314.926.267,14 (62.800) 314.989.067 2. Net B/C 4,25 0,999 3,25 3. IRR (%) 114% 14,99% 0,99%

Sumber : Data diolah dari data primer, November-Desember 2009.

Nilai IRR yang dihasilkan, yaitu 14,99% sama atau dibawah tingkat suku bunga 15% yang berlaku. Hal ini menunjukkan bahwa usaha ini mengalami kerugian dan tidak layak dikembangkan apabila kenaikan harga solar mencapai 160,5%.

Hasil perbandingan sebelum dan sesudah kenaikan harga solar menyebabkan nilai NPV, Net B/C dan IRR mengalami perubahan. Nilai NPV berkurang sebesar Rp 314.989.067 dari Rp 314.926.267,14 menjadi Rp (62.800) setelah kenaikan harga solar, menunjukkan bahwa net benefit yang akan diperoleh pada akhir tahun proyek yang dihitung berdasarkan nilai saat ini mengalami penurunan sebesar Rp 314.989.067. Net B/C berkurang sebesar 3,25 yang menunjukkan bahwa manfaat bersih dalam usaha ini berkurang sebesar Rp 3,25 dari biaya yang dikeluarkan oleh nelayan dengan alat tangkap bubu kawat. Nilai IRR yang berkurang sebesar 0,99% menyebabkan keuntungan yang diperoleh dari usaha penangkapan bubu jaring tersebut menurun sebesar 0,99% dari investasi yang ditanamkan nelayan setelah terjadi kenaikan harga solar.

(32)

Pada penurunan harga ikan pada unit usaha penangkapan ikan dengan alat tangkap bubu kawat sebesar 29,5% dari Rp 54.250 per kg menjadi Rp 38.246,25 per kg dan unit usaha penangkapan ikan dengan alat tangkap bubu

jaring sebesar 25,82% dari harga rata-rata Rp 54.250 per kg menjadi Rp 40.242,65 per kg usaha menjadi tidak layak (Lampiran 13 dan Lampiran 17). Nilai

kriteria investasi sebagai akibat penurunan harga ikan dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11 Perbandingan nilai kriteria investasi akibat penurunan harga ikan sebesar 29,5% pada bubu kawat

No. Kriteria Investasi Sebelum penurunan harga ikan Sesudah penurunan harga ikan (29,5%) Perubahan 1. NPV (Rp) 132.093.915,15 (110.205) 132.204.121 2. Net B/C 4,16 0,99 3,11 3. IRR (%) 148% 0,166673929 1,32

Sumber : Data diolah dari data primer, November-Desember 2009.

Nilai NPV pada alat tangkap bubu jaring sesudah penurunan harga ikan sebesar 25,82% yaitu sebesar Rp (45.896). Hal ini berarti bahwa apabila terjadi penurunan harga ikan pada usaha penangkapan dengan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring sebesar 25,82%, maka manfaat sekarang yang akan diterima adalah sebesar Rp Rp (45.896). Nilai net B/C pada alat tangkap bubu jaring sebesar 0,99 sedangkan nilai IRR yaitu sebesar 12,57% (Tabel 12).

Hasil analisis menunjukkan bahwa usaha penangkapan ikan dengan bubu dengan adanya penurunan harga ikan tidak layak untuk dikembangkan. Hal ini dikarenakan nilai NPV<0, net B/C<1 dan IRR< tingkat suku bunga yang berlaku 15%. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa usaha tersebut mengalami sensitif apabila penurunan harga ikan hingga mencapai 25,82%. Tabel 12 Perbandingan nilai kriteria investasi akibat penurunan harga ikan

sebesar 25,82% pada bubu jaring No. Kriteria Investasi Sebelum penurunan harga ikan Sesudah penurunan harga ikan (25,82%) Perubahan 1. NPV (Rp) 132.093.915,15 (45.896) 314.972.163 2. Net B/C 4,16 0,9995 3,08 3. IRR (%) 148% 12,57% 1,01

(33)

5 PEMBAHASAN

5.1 Komposisi Jenis Hasil Tangkapan

Jumlah ikan yang tertangkap pada bubu sangat dipengaruhi oleh sifat ikan tersebut. Ikan-ikan yang biasa hidup berkelompok (schooling) cenderung untuk tertangkap dalam jumlah banyak; sedangkan ikan-ikan yang bersifat soliter cenderung tertangkap dalam jumlah sedikit. Hal ini terlihat jelas pada bubu dasar yang menangkap ikan-ikan dari famili Lutjanidae, Siganidae dan Caesionidae yang biasa hidup berkelompok, dimana ikan-ikan tersebut tertangkap dalam jumlah yang relatif banyak. Sebaliknya, pada bubu dasar yang menangkap ikan-ikan yang bersifat soliter, seperti family Holocentridae dan Epinephelus

fuscogutatus terlihat bahwa ikan-ikan tesebut tertangkap dalam jumlah yang

relatif sedikit.

Proses tertangkapnya ikan pada bubu dasar diduga juga mempengaruhi hasil tangkapan. Jika ikan yang tertangkap oleh bubu dasar di awal setting adalah jenis predator, maka ikan-ikan lainnya cenderung tidak mau memasuki bubu; sedangkan jika di awal setting bubu dasar yang tertangkap adalah jenis non predator, maka ikan ini berikutnya dapat menjadi umpan untuk menarik ikan-ikan lainnya termasuk predator. Karena bubu dasar yang dioperasikan-ikan tanpa umpan, maka kemungkinan besar ikan masuk ke dalam bubu dasar karena tingkah laku ikan tersebut.

Setiap jenis ikan dari populasi ikan karang memiliki kesempatan yang sama untuk mendiami suatu habitat sehingga ikan yang tertangkap diduga mencari tempat berlindung dari arus maupun ikan predator yang lebih besar dari populasi ikan karang pada habitat tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Saputro dan Isa (2008), bahwa setiap individu atau koloni dari populasi ikan karang memiliki kesempatan yang sama untuk mendiami suatu habitat terumbu karang.

Pengaturan alat tangkap tidak diiringi dengan adanya upaya restocking terhadap perairan yang ada akan menyebabkan terjadinya degredasi lingkungan. Hal ini sesuai dengan pendapat Hamdan et al. (2006), bahwa pengaturan alat tangkap tidak diiringi dengan adanya upaya restocking terhadap perairan yang ada akan menyebabkan terjadinya degredasi lingkungan yang berakibat buruk kepada produksi perikanan.

(34)

Beberapa famili ikan karang mendekati bubu dasar karena rasa keingintahuan dari ikan tersebut terhadap benda asing atau dikenal dengan sifat tigmotaksis. Beberapa famili menjadikan bubu dasar sebagai area mencari makan, seperti ikan dari famili Lutjanidae, Siganidae, Caesionidae, Holocentridae dan Serranidae. Selain itu bubu dasar diduga sebagai tempat beristirahat atau menunggu mangsa lewat, ikan karnivora masuk ke dalam bubu dasar karena tertarik oleh mangsa yang terperangkap di dalam bubu dasar. Hal ini sesuai dengan pendapat High dan Beardsley (1970) diacu oleh Furevik (1994), bahwa ada 6 (enam) alasan ikan tertarik pada bubu selain mengejar umpan, juga melakukan pergerakan secara acak/tidak beraturan, menggunakan bubu sebagai tempat tinggal atau berlindung, keingintahuan, tingkah laku sosial di dalam spesies ikan atau pemangsaan.

Hasil pengamatan High dan Beardsley (1970) pada bubu tanpa umpan menunjukkan bahwa jenis ikan squirefish dan goatfish (Mullidae) masuk ke dalam bubu secara bergerombol (schooling) sedangkan jenis parrotfish (Scaridae) dan big eye (Priacanthidae) masuk ke dalam bubu secara individu. High dan Ellis (1973) mengamati ikan four-eyed butterfly (Chaetodon sp) dan

spotted goat fish (Pseudupeneus maculatus) disekitar bubu berenang maju

mundur ketika melihat ikan lain terperangkap ke dalam bubu. Munro et al. (1971) mengamati spesies ikan di sekitar bubu berenang beriringan pada sisi lain mata jaring kawat. Riyanto et al. (2008) mengamati tentang perbandingan hasil tangkapan antara bubu dengan umpan dan bubu tanpa umpan yang menunjukkan bahwa bubu dengan umpan memiliki keragaman spesies dan famili lebih tinggi.

Lolosnya ikan-ikan yang terlihat pada waktu pengamatan awal lebih disebabkan oleh ukuran mesh size bubu dasar yang lebih besar dari ukuran ikan, sehingga ikan dengan mudah meloloskan diri. Selektivitas bubu dasar bergantung pada hubungan antara keliling tubuh maksimum ikan (body girth) dan keliling mata bubu (mesh perimeter) dan juga hubungan antara panjang tubuh ikan dan mesh size. Hal ini sesuai dengan pendapat Riyanto et al (2008), bahwa ukuran layak tangkap ikan diduga dipengaruhi oelh mesh size dan konstruksi bubu. Hal tersebut juga diperkuat oleh Tirtana (2003), bahwa ikan yang masuk ke dalam bubu bisa meloloskan diri sangat ditentukan oleh tinggi tubuh (body depth) atau lingkar tubuh (body girth) dan celah pelolosan. Jadi semakin besar tinggi tubuh dan lingkar tubuh, maka peluang untuk meloloskan diri semakin kecil dan

(35)

bila semakin tinggi tubuh atau lingkar tubuh, maka peluang untuk meloloskan diri semakin besar (Tirtana 2003).

FAO (1999) menyatakan bahwa selektivitas merupakan sifat alat tangkap tertentu untuk mengurangi atau mengeluarkan tangkapan yang tidak sesuai ukuran (unwanted catch) atau ikan-ikan tangkapan yang tidak diinginkan (incidental catch) dan selektivitas merupakan fungsi dari suatu alat penangkapan ikan dalam menangkap spesies ikan dalam jumlah dan selang ukuran tertentu pada suatu populasi di daerah penangkapan ikan. Selain itu, pengaturan alat tangkap tidak diiringi dengan adanya upaya restocking terhadap perairan akan menyebabkan terjadinya degredasi lingkungan. Hal ini sesuai dengan pendapat Hamdan et al. (2006), bahwa pengaturan alat tangkap tidak diiringi dengan adanya upaya restocking terhadap perairan yang ada akan menyebabkan terjadinya degredasi lingkungan yang berakibat buruk kepada produksi perikanan.

Bubu dasar dengan material kawat memiliki meshsize lebih kecil di bandingkan dengan bubu dasar dengan material jaring, sehingga ikan-ikan yang tertangkap oleh bubu dasar dengan material kawat lebih kecil dibandingkan dengan bubu dasar dengan material jaring. Hal ini sesuai dengan pendapat matsuoka (1995), dimana bubu dikatakan selektif ukuran apabila ukuran badan ikan pada bagian operculum (tutup insang) lebih kecil dari keliling mata bubu atau keliling maksimum badan ikan lebih besar dari keliling mata bubu. Sebaliknya jika ukuran badan ikan pada bagian operculum sangat besar atau keliling maksimum badan ikan sangat kecil dibandingkan dengan keliling mata bubu, ikan kemungkinan tidak tertangkap (lolos).

Dominasi ikan yang tertangkap pada bubu dasar yang dioperasikan di perairan sekitar Bangka Selatan berlaku untuk semua perlakuan baik untuk perlakuan lama perendaman bubu dasar 3 hari, 4 hari, dan 5 hari adalah ikan tambangan (Lutjanus johni). Hal tidak lepas dari pola penyebaran, struktur komunitas, dan musim penangkapan ikan di fishing ground.

Jika suatu spesies ikan mendominasi suatu komunitas ikan dimana bubu dasar dioperasikan, maka dapat diduga hasil tangkapannya akan didominasi oleh spesies tersebut. Komposisi hasil tangkapan juga dipengaruhi oleh struktur komunitas dan musim ikan yang ada di fishing ground. Dalam hal ini jumlah populasi dari suatu spesies pada daerah penangkapan merupakan faktor yang sangat berpengaruh. Dominasi ikan tambangan (Lutjanus johni) dikarenakan

(36)

kemungkinan merupakan spesies dengan populasi yang besar dibanding dengan spesies lainnya di perairan sekitar Bangka Selatan.

5.2 Pengaruh Posisi Perendaman Bubu Ikan Terhadap Hasil Tangkapan Berat total hasil tangkapan terbanyak pada pengoperasian bubu dasar baik bubu dasar dari material kawat maupun bubu dasar dari material jaring dengan lama perendaman 5 hari dibandingkan dengan lama perendaman 3 hari maupun 4 hari, hal ini diduga sangat berkaitan erat dengan adanya bau-bauan yang berasal dari material yang digunakan untuk membuat bubu dasar. Bau-bauan ini dapat memanipulasi ikan bahwa di tempat tersebut ada makanan. Selain itu dengan lamanya perendaman bubu dasar maka ikan memanfaatkan bubu tersebut untuk tempat berlindung maupun tempat untuk beristirahat pada saat bermigrasi. Menurut Martasuganda (2003), proses ikan, kepiting atau udang terperangkap ke dalam perangkap kemungkinan disebabkan oleh:

(1) tertarik bau umpan; (2) dipakai untuk berlindung;

(3)karena sifat thigmotaksis dari ikan itu sendiri; (4) tempat beristirahat sewaktu ikan bermigrasi.

Berdasarkan uji statistika untuk lama perendama bubu dasar dalam air,

Fhitung > Ftabel dengan nilai Fhitung = 38,59 dan Ftabel = 19.00. Uji hipotesis didapatkan tolak H0, maka pada selang kepercayaan 95 % lama perendaman bubu dasar dalam air memberikan pengaruh yang berbeda terhadap jumlah hasil tangkapan. Pada jenis bubu dasar Fhitung < Ftabel dengan nilai Fhitung = 4,49 dan Ftabel = 18,51. Uji hipotesis didapatkan tolak H0

5.3 Analisis Kelayakan Usaha

, maka pada selang kepercayaan 95 % jenis bubu dasar (material kawat dan jaring) tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap jumlah hasil tangkapan. Hal memberikan arti bahwa pengoperasian bubu dasar dari material kawat dan jaring menghasilkan tangkapan yang sama.

Pada usaha perikanan bubu dasar dengan material kawat dan jaring dengan analisis usaha, maka nilai ROI dan PP memiliki nilai yang layak untuk dikembangkan. Nilai imbangan penerimaan dan biaya (R/C) telah memberi manfaat yang positif, artinya usaha tersebut dapat dilaksanakan. Usaha tersebut akan lebih banyak memberikan keuntungan dan layak untuk dikembangkan, apabila modal usaha berasal dari bantuan. Usaha perikanan bubu dasar dengan

(37)

material kawat dan jaring dengan analisis kriteria investasi, maka nilai NPV>0,

net B/C>1 dan IRR> tingkat suku bunga yang berlaku 15%. Besarnya nilai Net B/C dan ROI dipengaruhi oleh hasil tangkapan dan biaya usaha yang

dikeluarkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sobari et al. (2006), bahwa besarnya nilai Net B/C, BEP dan ROI sangat dipengaruhi oleh hasil tangkapn yang diperoleh dan besarnya biaya usaha yang dikeluarkan. Hal ini menunjukkan usaha tersebut layak untuk dikembangkan (Lampiran 10 dan 14).

Kenaikan harga bahan bakar solar pada usaha perikanan bubu dasar dengan alat tangkap bubu kawat sebesar 65,4% dan dan bubu jaring sebesar 160,% dengan demikian dapat dikatakan bahwa usaha tersebut tidak sensitif terhadap kenaikan harga bahan bakar solar. Apabila sampai terjadi kenaikan harga bahan bakar solar, maka sebaiknya harga jual ikan per kg dinaikkan. Selain itu, perlu adanya bantuan subsidi solar dari pemerintah atau membentuk agen yang khusus untuk menjual alat dan bahan untuk perbekalan dan peralatan melaut seperti solar, sehingga harga beli solar akan sama dengan harga yang beredar di pasaran atau pemerintah memberikan subsidi solar, sehingga harga beli solar akan terjangkau oleh nelayan. Penurunan harga ikan pada usaha perikanan bubu dasar dengan alat tangkap bubu kawat sebesar 29,5% dari harga rata-rata Rp 54.250,00 per kg menjadi Rp 38.246,25 per kg dan pada alat tangkap bubu jaring sebesar 25,82% dari harga rata-rata Rp 54.250,00 per kg menjadi Rp 40.242,00 per kg usaha menjadi tidak layak dan menjadi sensitif terhadap pengembangan usaha. Hal ini harus diperhatikan oleh stakeholder (pelaku usaha) untuk tetap menjaga mutu ikan agar harga ikan tetap stabil di pasaran.

Gambar

Gambar 6 (a) Kapal bubu kawat (b) Kapal bubu jaring (c) Kontruksi kapal bubu  kawat tampak samping  (d) Kontruksi kapal bubu kawat tampak atas (e)  Kontruksi kapal bubu jaring tampak samping  (d) Kontruksi kapal bubu jaring
Gambar 7 (a) Bubu kawat di Kabupaten Bangka Selatan (b) Rancang bangun  mulut bubu (c) Rancang bangun alat tangkap bubu kawat
Gambar 9 Tahap operasional alat tangkap bubu kawat
Gambar 10 Tahap operasional alat tangkap bubu jaring (c) ABK bersiap untuk menjatuhkan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pada dasarnya, ide eurosceptic dipicu oleh kekhawatiran mereka pada hilangnya kedaulatan negara atau fokus mereka terhadap terkikisnya demokrasi di Uni Eropa,

Persentase hidup stek cabang bambu betung tertinggi ditemukan pada penggunaan media tanah dengan bahan stek yang telah memiliki akar adventif, yaitu sebesar

Dari Tabel 4 diketahui bahwa daya kecambah benih untuk semua perlakuan hampir tidak berbeda nyata walaupun benih sudah di simpan selama 3 bulan dalam suhu kamar,

Kualitas suatu bangsa tidak dapat dilepaskan dengan kualitas individual masing-masing warga negara (Tilaar,2000;32).. Keberhasilan dalam mencapai pembelajaran salah satunya

Investments in the capital of Banking, financial and insurance entities that are outside the scope of regulatory consolidation, net of eligible short positions, where the Bank

Namun, jika dilihat dari jumlah keseluruhan responden (pelanggan jasa perpustakaan dan ISSN) diketahui bahwa sejumlah 43 responden (71,7%) menyatakan puas dan 11 responden

Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran peta hubungan yang terjadi pada jaringan sosial, aktor-aktor yang berpengaruh dalam jaringan

Terdapat nilai negatif dilihat melalui adanya penjelasan nilai-nilai dalam masyarakat yang dilanggar dan tidak dijalankan.Hal tersebut dapat terlihat dari berita yang