4. HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS
4.1 Analisis Deskriptif
Sampel dalam penelitian ini berjumlah 108 perusahaan-tahun. Jumlah tersebut berasal dari 32 perusahaan yang pernah menebitkan sustainability reporting dengan standar pedoman GRI, antara rentang tahun 2006 – 2015, dan persuahaan tersebut harus listing di indonesian stock exchange. Tabel 4.1 menunjukan hasil output statistik deskriptif atas data yang digunakan dalam penelitian.
Mean
Standard
Deviation Minimum Maximum N
CSR 0.573895044 0.278173491 0.140939597 1 108
Q (MRes) 1.382852825 1.668961668 0.104742064 15.61620775 108 MTBV (MRes) 4148.295737 11232.57129 0.140948321 63769.79167 108 FD -2.05026455 1.659355145 -7.002825564 0.578091869 108 EM 0.045904275 0.110442983 -0.228448217 0.358044878 108
Valid N (listwise) 108
Tabel 4.1 Statistik Deskriptif
Table 2 Tabel 4.1 Statistik Deskriptif
Nilai Valid N (listwise) pada tabel 4.1 menunjukan jumlah perusahan tahun yang tidak mempunyai kekosongan data variabel. Seluruh sample penelitian, yaitu sebanyak 108 data perusahan tahun dalam penelitian ini tidak ada yang mempunyai kekosongan data variabel, sehingga layak digunakan dalam penelitian.
Data variable CSR (Corporate Social Responsibility) mempunyai nilai terendah 0.140939597 dan nilai tertinggi 1. Sedangkan rata-rata variable CSR adalah 0.573895044 dengan standar deviasi 0.278173491. Data ini menunjukan bahwa variabel CSR termasuk stabil karena standar deviasi kurang lebih setengah dari rata-rata, yang artinya data secara relative tidak mempunyai simpangan yang terlalu besar dari rata-rata keseluruhan data.
Variabel market response (MRes) mempunyai 2 indikator yaitu TobinsQ (Q) dan Market to Book Value (MTBV). Data indikator TobinsQ mempunyai nilai terendah 0.104742064 dan tertinggi 15.61620775.
Sedangkan rata-rata indikator TobinsQ adalah 1.382852825 dengan standar
deviasi 1.668961668. Sedangkan data indikator MTBV mempunyai nilai
terendah 0.140948321 dan tertinggi 63769.79167. Sedangkan rata-rata indikator MTBV adalah 4148.295737 dengan standar deviasi 11232.57129.
Data dari indikator MTBV dan TobinsQ menunjukan terdapat simpangan yang relative lebar terhadap rata-rata keseluruhan data. Hal ini wajar dikarenakan sampel penelitian dilakukan lintas industri. Jika melihat lebih jauh, simpangan yang besar terjadi dikarenakan tingginya perbandingan nilai pasar ekuitas terhadap nilai buku ekuitas pada perusahaan yang berada dalam industry tambang. Namun hal ini tidak menjadi kendala karena penelitian ini menggunakan WarpPLS, dimana dalam proses pengolahan data, data akan terlebih dahulu di perbandingan dengan masing-masing rata-rata serta standar deviasinya.
Data variable FD (Financial Distress) mempunyai nilai terendah - 7.002825564 dan nilai tertinggi 0.578091869. Sedangkan rata-rata variable FD adalah -2.05026455 dengan standar deviasi 1.659355145. Data ini menunjukan bahwa variabel FD termasuk stabil karena standar deviasi mendekati setengah dari rata-rata, yang artinya data secara relative tidak mempunyai simpangan yang terlalu besar dari rata-rata keseluruhan data.
Data variable EM (Earning Management) mempunyai nilai terendah -0.228448217 dan nilai tertinggi 0.358044878. Sedangkan rata-rata variable EM adalah 0.045904275 dengan standar deviasi 0.110442983. Data variabel FD mempunyai simpangan yang paling besar relative terhadap rata-rata dibandingkan dengan data dari indikator / variabel lainnya. Hal ini menunjukan dari sisi transparansi pelaporan, perusahaan Indonesia mempunyai kebijakan yang beragam satu dibanding dengan yang lainnya.
4.2 Evaluasi Goodness of Fit Outer Model 4.2.1 Indicator Weights
Indicator weight evaluasi pertama pada outer model (indikator – variabel) yang digunakan untuk mengukur korelasi antara skor indikator dengan skor variabel. Untuk mengukur Indicator weights adalah dengan melihat probability, nilai variance inflation factor (VIF), dan effect size (ES).
Indikator dikatakan memenuhi indicator weights jika mempunyai nilai
probabilitas weight sama dengan lebih rendah 5%, mempunyai nilai variance inflation factor kurang dari 2.5, dan mempunyai effect size lebih besar dari 0.02. Tabel 4.2 menunjukan nilai dari oter loading masing-masing variabel.
Indicator P Value VIF Effect Size Corporate Social
Responsibility
0.000 0 1
Market Response (MTBV) 0.000 0 1
Market Response (TobinsQ) 0.000 0 1
Earning Management 0.000 1.02 0.5
Financial Distress 0.000 1.02 0.5
Tabel 4.2 Indicator Weights
Table 3 Tabel 4.2 Indicator Weights
Berdasarkan tabel 4.2 dapat dilihat bahwa nilai variance inflation factor masing – masing indikator pada variabel penelitian ini kurang dari 2.5, nilai effect size lebih dari 0.02, serta nilai probabilitas dari outer loading lebih rendah dari 1%. Dengan demikian seluruh indikator dalam variabel penelitian ini layak untuk digunakan.
4.2.2 Discriminant Validity
Discriminant Validity merupakan evaluasi outer model kedua yang digunakan untuk mengukur kualitas instrument terhadap variable penelitian.
Suatu indikator dikatakan memenuhi discriminant validity jika cross loading indikator terhadap variabelnya terbesar jika dibandingkan dengan variabel lainnya. Tabel 4.3 menunjukan hasil dari evaluasi Discriminat Validity.
CSR MRes EM FD
SRI (1.000) 0.000 0.000 0.000 MTBV 0.183 (0.755) 0.178 0.599 Q -0.183 (0.755) -0.178 -0.599 EM 0.000 0.000 (1.000) 0.000 FD 0.000 0.000 0.000 (1.000)
Tabel 4.3 Discriminant Validity
Table 4 Tabel 4.3 Discriminant Validity
Berdasarkan tabel 4.3 yang menyajikan nilai cross loading,
membuktikan bahwa semua indikator pada variabel dalam penelitian ini telah
memenuhi discriminant validity karena memiliki nilai loading terbesar untuk
variabel yang dibentuknya. Untuk variabel MRes (market response)
mempunyai dua indicator yaitu Q (tobins’Q) dan MTBV (market to book value). Masing – masing indicator mempunyai loading factor yang sama besar yaitu 0.755.
4.2.3 Composite reliability
Evaluasi ketiga pada outer model adalah composite reliability, digunakan untuk menguji nilai reliabilitas indikator – indikator suatu variabel dalam penelitian. Suatu indikator dikatakan memenuhi composite reliability jika nilai Dillon–Goldstein rho coefficients lebih besar sama dengan 0.7. Tabel 4.4 menunjukan nilai dari Dillon–Goldstein rho coefficients
Dillon–Goldstein rho coefficients
CSR 1.000
MRes 0.726
EM 1.000
FD 1.000
Tabel 4.4 Composite Reliability
Table 5 Tabel 4.4 Composite Reliability
Dari tabel 4.4 dapat kita lihat, seluruh variable mempunyai Dillon–
Goldstein rho coefficients yang lebih besar dari 0.7. Sehingga dapat dikatakan seluruh variable memenuhi composite reliability.
4.3 Evaluasi Goodness of Fit Inner Model
Evaluasi Goodness of fit inner model dilakukan dengan melihat dua nilai yaitu R-square dan Q-square. R-square menunjukan seberapa besar variable independen secara bersama-sama dapat menjelaskan variable dependen. R-square dinyatakan baik jika memiliki nilai lebih dari 0.02.
Sedangkan Q-square menujukan seberapa besar suatu model dapat menjelaskan variable dependen akhir. Q-square yang mempunyai nilai lebih besar dari nol, dianggap mempunyai kemampuan prediktif yang relevan sehingga layak dilakukan penelitian. Tabel 4.5 menunjukan hasil dari R- square.
R-Square
EM 0.141
FD 0.164
MRes 0.252
Tabel 4.5 R-square
Table 6 Tabel 4.5 R-square
Nilai R-square untuk earning management adalah sebesar 0.141 yang artinya corporate social responsibility dan financial distress secara bersama- sama dapat menjelaskan earning management sebanyak 14.1%. Sedangkan sisanya yaitu 85.9% dijelaskan oleh variable – variable lain yang tidak terdapat dalam penelitian.
Nilai R-square untuk financial distress adalah sebesar 0.164 yang artinya corporate social responsibility dapat menjelaskan financial distress sebanyak 16.4%. Sedangkan sisanya 83.6% dijelaskan oleh variable – variable lain yang tida terdapat dalam penelitian.
Nilai R-square untuk market response adalah sebesar 0.252 yang artinya corporate social responsibility, financial distress, dan earning management secara bersama-sama dapat menjelaskan market response sebesar 25.2%. Sedangkan sisanya yaitu sebanyak 74.8% dijelaskan oleh variable- variabel lain yang tidak terdapat dalam penelitian.
Seluruh nilai R-squre pada variable penelitian mempunyai nilai yang lebih besar dari 0.02, hal ini menunjukan bahwa secara bersama-sama variable independen mampu menjelaskan masing-masing variable dependen.
Kelayakan suatu model penelitian dapat dilihat dengan melakukan perhitungan Q-square nya. Q-square dihitung dengan menggunakan persamaan 9 dengan nilai R-square yang tertera pada tabel 4.5, sehingga dapat menghasilkan nilai:
Q
2= 1 – (1 –
0.141) x (1 – 0,
164) x (1 – 0,
252) Q
2= 0.462843248
Nilai Q-square model penelitian ini adalah 0.462843248, karena lebih besar dari nol sehingga dapat dikatakan model ini layak digunakan karena memiliki predictive relevance.
4.4 Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji t, dengan
tingkat signifikasi terendah yang digunakan adalah 10%. Sehingga suatu
variabel independen dapat dikatakan mempengaruhi variabel dependen jika
memiliki nilai probability atau signifikansi dari uji t lebih rendah sama dengan
10%. Gambar 4.1 menunjukan hasil dari pengolahan structural equation modeling.
Gambar 4.1 Hasil Structural Equation Modeling
Figure 4 Gambar 4.1 Hasil Structural Equation Modeling
Dari hasil structural equation modeling pada gambar 4.1, dapat diketahui bahwa model penelitian mempunyai koefisien pengaruh untuk masing-masing variable terkait dengan melihat nilai pada β. Sedangkan p adalah nilai probability atau tingkat signifikansi antar variable terkait.
4.4.1 Temuan dan Interpretasi
Variable CSR mempunyai koefisien pengaruh sebesar 0.16 terhadap MRes, serta mempunyai tingkat signifikansi sebesar 5%. Artinya setiap CSR mengalami kenaikan sebesar 1, maka MRes akan mengalami kenaikan sebesar 0.16. Demikian pula sebaliknya setiap CSR mengalami penurunan sebesar 1, maka MRes akan mengalami penurunan sebesar 0.16. Sehingga dapat dikatakan corporate social responsibility mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap market response.
Variable CSR mempunyai koefisien pengaruh sebesar -0.24 terhadap EM, serta mempunyai tingkat signifikansi lebih kecil dari 1%. Artinya setiap CSR mengalami kenaikan sebesar 1, maka EM akan mengalami penurunan sebesar 0.24. Demikian pula sebaliknya setiap CSR mengalami penurunan sebesar 1, maka EM akan mengalami kenaikan sebesar 0.24. Sehingga dapat dikatakan corporate social responsibility mempunyai pengaruh negatif signifikan terhadap earning management.
Variable EM mempunyai koefisien pengaruh sebesar -0.35 terhadap
MRes, serta mempunyai tingkat signifikansi lebih kecil dari 1%. Artinya setiap
EM mengalami kenaikan sebesar 1, maka MRes akan mengalami penurunan sebesar 0.35 Demikian pula sebaliknya setiap EM mengalami penurunan sebesar 1, maka MRes akan mengalami kenaikan sebesar 0.35. Sehingga dapat dikatakan earning management mempunyai pengaruh negatif signifikan terhadap market response.
Variable CSR mempunyai koefisien pengaruh sebesar -0.41 terhadap FD, serta mempunyai tingkat signifikansi lebih kecil dari 1%. Artinya setiap CSR mengalami kenaikan sebesar 1, maka FD akan mengalami penurunan sebesar 0.41. Demikian pula sebaliknya setiap CSR mengalami penurunan sebesar 1, maka FD akan mengalami kenaikan sebesar 0.41. Sehingga dapat dikatakan corporate social responsibility mempunyai pengaruh negatif signifikan terhadap financial distress.
Variable FD mempunyai koefisien pengaruh sebesar -0.20 terhadap MRes, serta mempunyai tingkat signifikansi sebesar 1%. Artinya setiap FD mengalami kenaikan sebesar 1, maka MRes akan mengalami penurunan sebesar 0.20 Demikian pula sebaliknya setiap FD mengalami penurunan sebesar 1, maka MRes akan mengalami kenaikan sebesar 0.20. Sehingga dapat dikatakan financial distress mempunyai pengaruh negatif signifikan terhadap market response.
Variable FD mempunyai koefisien pengaruh sebesar 0.31 terhadap EM, serta mempunyai tingkat signifikansi lebih kecil dari 1%. Artinya setiap FD mengalami kenaikan sebesar 1, maka EM akan mengalami kenaikan sebesar 0.31. Demikian pula sebaliknya setiap FD mengalami penurunan sebesar 1, maka EM akan mengalami penurunan sebesar 0.31. Sehingga dapat dikatakan financial distress mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap earning management.
Dari hasil interpretasi diatas maka dapat disimpulkan seluruh hipotesa
penelitian yaitu H1, H2, H3, H4, H5, dan H6 diterima. Tabel 4.6 menunjukan
perbandingan hipotesa penelitian dengan hasil penelitian yang ditunjukan
dengan koefisien path dan tingkat signifikansinya.
Hipotesis Penelitian
Hasil penelitian Path
Coefficient P-Value H1 Corporate social responsibility berpengaruh
terhadap market response. 0.16 0.047
H2 Corporate social responsibility berpengaruh
terhadap earning management. -0.24 0.004 H3 Earning management berpengaruh terhadap
market response. -0.35 0.000
H4 Corporate social responsibility berpengaruh
terhadap financial distress. -0.41 0.000 H5 Financial distress berpengaruh terhadap
market response. -0.20 0.014
H6 Financial distress berpengaruh terhadap
earning management. 0.31 0.000
Tabel 4.6 Hipotesa & Hasil Penelitian
Table 7 Tabel 4.6 Hipotesa & Hasil Penelitian
Selain itu, penelitian ini juga menemukan adanya pengaruh tak langsung corporate social responsibility terhadap market response. Terdapat tiga pengaruh tak langsung corporate social responsibility terhadap market response, yang pertama adalah pengaruh tak langsung melalui earning management, kedua adalah pengaruh tak langsung melalui financial distress, dan yang ketiga adalah pengaruh tak langsung melalui financial distress dan earning management.
Pengaruh tak langsung corporate social responsibility terhadap market response melalui earning management mempunyai total path koefisien sebesar 0.086 dengan tingkat signifikansi lebih kecil dari 1%. Sehingga dapat dikatakan corporate social responsibility mempunyai pengaruh tidak langsung positif signifikan terhadap market response dengan melalui earning management.
Sedangkan pengaruh tidak langsung kedua, mempunyai total path koefisien sebesar 0.082 dengan tingkat signifikansi lebih kecil dari 1%.
Sehingga dapat dikatakan corporate social responsibility mempunyai
pengaruh tidak langsung positif signifikan terhadap market response dengan
melalui financial distress.
Pengaruh tidak langsung ketiga, mempunyai total path koefisien sebesar 0.044 dengan tingat singifikansi lebih kecil dari 1%. Sehingga menunjukan bahawa corporate social responsibility mempunyai pengaruh tidak langsung positif signifikan terhadap market response dengan melaui financial distress dan kemudian earning management. Tabel 4.7 menunjukan rangkuman nilai koefisien pengaruh tidak langsug beserta tingkat signifikansinya.
Pengaruh Tidak Langsung Path
Coefficient P-Value Corporate social responsibility melalui
earning management terhadap market response
0.086 0.000
Corporate social responsibility melalui financial distress terhadap market response
0.082 0.000
Corporate social responsibility melalui financial distress, dan melalui earning management terhadap market response
0.044 0.000
Tabel 4.7 Hasil Pengaruh Tidak Langsung
Table 8 Tabel 4.7 Hasil Pengaruh Tidak Langsung