• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "4. HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

4. HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS

4.1 Analisis Deskriptif

Sampel dalam penelitian ini berjumlah 108 perusahaan-tahun. Jumlah tersebut berasal dari 32 perusahaan yang pernah menebitkan sustainability reporting dengan standar pedoman GRI, antara rentang tahun 2006 – 2015, dan persuahaan tersebut harus listing di indonesian stock exchange. Tabel 4.1 menunjukan hasil output statistik deskriptif atas data yang digunakan dalam penelitian.

Mean

Standard

Deviation Minimum Maximum N

CSR 0.573895044 0.278173491 0.140939597 1 108

Q (MRes) 1.382852825 1.668961668 0.104742064 15.61620775 108 MTBV (MRes) 4148.295737 11232.57129 0.140948321 63769.79167 108 FD -2.05026455 1.659355145 -7.002825564 0.578091869 108 EM 0.045904275 0.110442983 -0.228448217 0.358044878 108

Valid N (listwise) 108

Tabel 4.1 Statistik Deskriptif

Table 2 Tabel 4.1 Statistik Deskriptif

Nilai Valid N (listwise) pada tabel 4.1 menunjukan jumlah perusahan tahun yang tidak mempunyai kekosongan data variabel. Seluruh sample penelitian, yaitu sebanyak 108 data perusahan tahun dalam penelitian ini tidak ada yang mempunyai kekosongan data variabel, sehingga layak digunakan dalam penelitian.

Data variable CSR (Corporate Social Responsibility) mempunyai nilai terendah 0.140939597 dan nilai tertinggi 1. Sedangkan rata-rata variable CSR adalah 0.573895044 dengan standar deviasi 0.278173491. Data ini menunjukan bahwa variabel CSR termasuk stabil karena standar deviasi kurang lebih setengah dari rata-rata, yang artinya data secara relative tidak mempunyai simpangan yang terlalu besar dari rata-rata keseluruhan data.

Variabel market response (MRes) mempunyai 2 indikator yaitu TobinsQ (Q) dan Market to Book Value (MTBV). Data indikator TobinsQ mempunyai nilai terendah 0.104742064 dan tertinggi 15.61620775.

Sedangkan rata-rata indikator TobinsQ adalah 1.382852825 dengan standar

deviasi 1.668961668. Sedangkan data indikator MTBV mempunyai nilai

(2)

terendah 0.140948321 dan tertinggi 63769.79167. Sedangkan rata-rata indikator MTBV adalah 4148.295737 dengan standar deviasi 11232.57129.

Data dari indikator MTBV dan TobinsQ menunjukan terdapat simpangan yang relative lebar terhadap rata-rata keseluruhan data. Hal ini wajar dikarenakan sampel penelitian dilakukan lintas industri. Jika melihat lebih jauh, simpangan yang besar terjadi dikarenakan tingginya perbandingan nilai pasar ekuitas terhadap nilai buku ekuitas pada perusahaan yang berada dalam industry tambang. Namun hal ini tidak menjadi kendala karena penelitian ini menggunakan WarpPLS, dimana dalam proses pengolahan data, data akan terlebih dahulu di perbandingan dengan masing-masing rata-rata serta standar deviasinya.

Data variable FD (Financial Distress) mempunyai nilai terendah - 7.002825564 dan nilai tertinggi 0.578091869. Sedangkan rata-rata variable FD adalah -2.05026455 dengan standar deviasi 1.659355145. Data ini menunjukan bahwa variabel FD termasuk stabil karena standar deviasi mendekati setengah dari rata-rata, yang artinya data secara relative tidak mempunyai simpangan yang terlalu besar dari rata-rata keseluruhan data.

Data variable EM (Earning Management) mempunyai nilai terendah -0.228448217 dan nilai tertinggi 0.358044878. Sedangkan rata-rata variable EM adalah 0.045904275 dengan standar deviasi 0.110442983. Data variabel FD mempunyai simpangan yang paling besar relative terhadap rata-rata dibandingkan dengan data dari indikator / variabel lainnya. Hal ini menunjukan dari sisi transparansi pelaporan, perusahaan Indonesia mempunyai kebijakan yang beragam satu dibanding dengan yang lainnya.

4.2 Evaluasi Goodness of Fit Outer Model 4.2.1 Indicator Weights

Indicator weight evaluasi pertama pada outer model (indikator – variabel) yang digunakan untuk mengukur korelasi antara skor indikator dengan skor variabel. Untuk mengukur Indicator weights adalah dengan melihat probability, nilai variance inflation factor (VIF), dan effect size (ES).

Indikator dikatakan memenuhi indicator weights jika mempunyai nilai

(3)

probabilitas weight sama dengan lebih rendah 5%, mempunyai nilai variance inflation factor kurang dari 2.5, dan mempunyai effect size lebih besar dari 0.02. Tabel 4.2 menunjukan nilai dari oter loading masing-masing variabel.

Indicator P Value VIF Effect Size Corporate Social

Responsibility

0.000 0 1

Market Response (MTBV) 0.000 0 1

Market Response (TobinsQ) 0.000 0 1

Earning Management 0.000 1.02 0.5

Financial Distress 0.000 1.02 0.5

Tabel 4.2 Indicator Weights

Table 3 Tabel 4.2 Indicator Weights

Berdasarkan tabel 4.2 dapat dilihat bahwa nilai variance inflation factor masing – masing indikator pada variabel penelitian ini kurang dari 2.5, nilai effect size lebih dari 0.02, serta nilai probabilitas dari outer loading lebih rendah dari 1%. Dengan demikian seluruh indikator dalam variabel penelitian ini layak untuk digunakan.

4.2.2 Discriminant Validity

Discriminant Validity merupakan evaluasi outer model kedua yang digunakan untuk mengukur kualitas instrument terhadap variable penelitian.

Suatu indikator dikatakan memenuhi discriminant validity jika cross loading indikator terhadap variabelnya terbesar jika dibandingkan dengan variabel lainnya. Tabel 4.3 menunjukan hasil dari evaluasi Discriminat Validity.

CSR MRes EM FD

SRI (1.000) 0.000 0.000 0.000 MTBV 0.183 (0.755) 0.178 0.599 Q -0.183 (0.755) -0.178 -0.599 EM 0.000 0.000 (1.000) 0.000 FD 0.000 0.000 0.000 (1.000)

Tabel 4.3 Discriminant Validity

Table 4 Tabel 4.3 Discriminant Validity

Berdasarkan tabel 4.3 yang menyajikan nilai cross loading,

membuktikan bahwa semua indikator pada variabel dalam penelitian ini telah

memenuhi discriminant validity karena memiliki nilai loading terbesar untuk

variabel yang dibentuknya. Untuk variabel MRes (market response)

(4)

mempunyai dua indicator yaitu Q (tobins’Q) dan MTBV (market to book value). Masing – masing indicator mempunyai loading factor yang sama besar yaitu 0.755.

4.2.3 Composite reliability

Evaluasi ketiga pada outer model adalah composite reliability, digunakan untuk menguji nilai reliabilitas indikator – indikator suatu variabel dalam penelitian. Suatu indikator dikatakan memenuhi composite reliability jika nilai Dillon–Goldstein rho coefficients lebih besar sama dengan 0.7. Tabel 4.4 menunjukan nilai dari Dillon–Goldstein rho coefficients

Dillon–Goldstein rho coefficients

CSR 1.000

MRes 0.726

EM 1.000

FD 1.000

Tabel 4.4 Composite Reliability

Table 5 Tabel 4.4 Composite Reliability

Dari tabel 4.4 dapat kita lihat, seluruh variable mempunyai Dillon–

Goldstein rho coefficients yang lebih besar dari 0.7. Sehingga dapat dikatakan seluruh variable memenuhi composite reliability.

4.3 Evaluasi Goodness of Fit Inner Model

Evaluasi Goodness of fit inner model dilakukan dengan melihat dua nilai yaitu R-square dan Q-square. R-square menunjukan seberapa besar variable independen secara bersama-sama dapat menjelaskan variable dependen. R-square dinyatakan baik jika memiliki nilai lebih dari 0.02.

Sedangkan Q-square menujukan seberapa besar suatu model dapat menjelaskan variable dependen akhir. Q-square yang mempunyai nilai lebih besar dari nol, dianggap mempunyai kemampuan prediktif yang relevan sehingga layak dilakukan penelitian. Tabel 4.5 menunjukan hasil dari R- square.

R-Square

EM 0.141

FD 0.164

MRes 0.252

Tabel 4.5 R-square

Table 6 Tabel 4.5 R-square

(5)

Nilai R-square untuk earning management adalah sebesar 0.141 yang artinya corporate social responsibility dan financial distress secara bersama- sama dapat menjelaskan earning management sebanyak 14.1%. Sedangkan sisanya yaitu 85.9% dijelaskan oleh variable – variable lain yang tidak terdapat dalam penelitian.

Nilai R-square untuk financial distress adalah sebesar 0.164 yang artinya corporate social responsibility dapat menjelaskan financial distress sebanyak 16.4%. Sedangkan sisanya 83.6% dijelaskan oleh variable – variable lain yang tida terdapat dalam penelitian.

Nilai R-square untuk market response adalah sebesar 0.252 yang artinya corporate social responsibility, financial distress, dan earning management secara bersama-sama dapat menjelaskan market response sebesar 25.2%. Sedangkan sisanya yaitu sebanyak 74.8% dijelaskan oleh variable- variabel lain yang tidak terdapat dalam penelitian.

Seluruh nilai R-squre pada variable penelitian mempunyai nilai yang lebih besar dari 0.02, hal ini menunjukan bahwa secara bersama-sama variable independen mampu menjelaskan masing-masing variable dependen.

Kelayakan suatu model penelitian dapat dilihat dengan melakukan perhitungan Q-square nya. Q-square dihitung dengan menggunakan persamaan 9 dengan nilai R-square yang tertera pada tabel 4.5, sehingga dapat menghasilkan nilai:

Q

2

= 1 – (1 –

0.141

) x (1 – 0,

164

) x (1 – 0,

252

) Q

2

= 0.462843248

Nilai Q-square model penelitian ini adalah 0.462843248, karena lebih besar dari nol sehingga dapat dikatakan model ini layak digunakan karena memiliki predictive relevance.

4.4 Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji t, dengan

tingkat signifikasi terendah yang digunakan adalah 10%. Sehingga suatu

variabel independen dapat dikatakan mempengaruhi variabel dependen jika

memiliki nilai probability atau signifikansi dari uji t lebih rendah sama dengan

(6)

10%. Gambar 4.1 menunjukan hasil dari pengolahan structural equation modeling.

Gambar 4.1 Hasil Structural Equation Modeling

Figure 4 Gambar 4.1 Hasil Structural Equation Modeling

Dari hasil structural equation modeling pada gambar 4.1, dapat diketahui bahwa model penelitian mempunyai koefisien pengaruh untuk masing-masing variable terkait dengan melihat nilai pada β. Sedangkan p adalah nilai probability atau tingkat signifikansi antar variable terkait.

4.4.1 Temuan dan Interpretasi

Variable CSR mempunyai koefisien pengaruh sebesar 0.16 terhadap MRes, serta mempunyai tingkat signifikansi sebesar 5%. Artinya setiap CSR mengalami kenaikan sebesar 1, maka MRes akan mengalami kenaikan sebesar 0.16. Demikian pula sebaliknya setiap CSR mengalami penurunan sebesar 1, maka MRes akan mengalami penurunan sebesar 0.16. Sehingga dapat dikatakan corporate social responsibility mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap market response.

Variable CSR mempunyai koefisien pengaruh sebesar -0.24 terhadap EM, serta mempunyai tingkat signifikansi lebih kecil dari 1%. Artinya setiap CSR mengalami kenaikan sebesar 1, maka EM akan mengalami penurunan sebesar 0.24. Demikian pula sebaliknya setiap CSR mengalami penurunan sebesar 1, maka EM akan mengalami kenaikan sebesar 0.24. Sehingga dapat dikatakan corporate social responsibility mempunyai pengaruh negatif signifikan terhadap earning management.

Variable EM mempunyai koefisien pengaruh sebesar -0.35 terhadap

MRes, serta mempunyai tingkat signifikansi lebih kecil dari 1%. Artinya setiap

(7)

EM mengalami kenaikan sebesar 1, maka MRes akan mengalami penurunan sebesar 0.35 Demikian pula sebaliknya setiap EM mengalami penurunan sebesar 1, maka MRes akan mengalami kenaikan sebesar 0.35. Sehingga dapat dikatakan earning management mempunyai pengaruh negatif signifikan terhadap market response.

Variable CSR mempunyai koefisien pengaruh sebesar -0.41 terhadap FD, serta mempunyai tingkat signifikansi lebih kecil dari 1%. Artinya setiap CSR mengalami kenaikan sebesar 1, maka FD akan mengalami penurunan sebesar 0.41. Demikian pula sebaliknya setiap CSR mengalami penurunan sebesar 1, maka FD akan mengalami kenaikan sebesar 0.41. Sehingga dapat dikatakan corporate social responsibility mempunyai pengaruh negatif signifikan terhadap financial distress.

Variable FD mempunyai koefisien pengaruh sebesar -0.20 terhadap MRes, serta mempunyai tingkat signifikansi sebesar 1%. Artinya setiap FD mengalami kenaikan sebesar 1, maka MRes akan mengalami penurunan sebesar 0.20 Demikian pula sebaliknya setiap FD mengalami penurunan sebesar 1, maka MRes akan mengalami kenaikan sebesar 0.20. Sehingga dapat dikatakan financial distress mempunyai pengaruh negatif signifikan terhadap market response.

Variable FD mempunyai koefisien pengaruh sebesar 0.31 terhadap EM, serta mempunyai tingkat signifikansi lebih kecil dari 1%. Artinya setiap FD mengalami kenaikan sebesar 1, maka EM akan mengalami kenaikan sebesar 0.31. Demikian pula sebaliknya setiap FD mengalami penurunan sebesar 1, maka EM akan mengalami penurunan sebesar 0.31. Sehingga dapat dikatakan financial distress mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap earning management.

Dari hasil interpretasi diatas maka dapat disimpulkan seluruh hipotesa

penelitian yaitu H1, H2, H3, H4, H5, dan H6 diterima. Tabel 4.6 menunjukan

perbandingan hipotesa penelitian dengan hasil penelitian yang ditunjukan

dengan koefisien path dan tingkat signifikansinya.

(8)

Hipotesis Penelitian

Hasil penelitian Path

Coefficient P-Value H1 Corporate social responsibility berpengaruh

terhadap market response. 0.16 0.047

H2 Corporate social responsibility berpengaruh

terhadap earning management. -0.24 0.004 H3 Earning management berpengaruh terhadap

market response. -0.35 0.000

H4 Corporate social responsibility berpengaruh

terhadap financial distress. -0.41 0.000 H5 Financial distress berpengaruh terhadap

market response. -0.20 0.014

H6 Financial distress berpengaruh terhadap

earning management. 0.31 0.000

Tabel 4.6 Hipotesa & Hasil Penelitian

Table 7 Tabel 4.6 Hipotesa & Hasil Penelitian

Selain itu, penelitian ini juga menemukan adanya pengaruh tak langsung corporate social responsibility terhadap market response. Terdapat tiga pengaruh tak langsung corporate social responsibility terhadap market response, yang pertama adalah pengaruh tak langsung melalui earning management, kedua adalah pengaruh tak langsung melalui financial distress, dan yang ketiga adalah pengaruh tak langsung melalui financial distress dan earning management.

Pengaruh tak langsung corporate social responsibility terhadap market response melalui earning management mempunyai total path koefisien sebesar 0.086 dengan tingkat signifikansi lebih kecil dari 1%. Sehingga dapat dikatakan corporate social responsibility mempunyai pengaruh tidak langsung positif signifikan terhadap market response dengan melalui earning management.

Sedangkan pengaruh tidak langsung kedua, mempunyai total path koefisien sebesar 0.082 dengan tingkat signifikansi lebih kecil dari 1%.

Sehingga dapat dikatakan corporate social responsibility mempunyai

pengaruh tidak langsung positif signifikan terhadap market response dengan

melalui financial distress.

(9)

Pengaruh tidak langsung ketiga, mempunyai total path koefisien sebesar 0.044 dengan tingat singifikansi lebih kecil dari 1%. Sehingga menunjukan bahawa corporate social responsibility mempunyai pengaruh tidak langsung positif signifikan terhadap market response dengan melaui financial distress dan kemudian earning management. Tabel 4.7 menunjukan rangkuman nilai koefisien pengaruh tidak langsug beserta tingkat signifikansinya.

Pengaruh Tidak Langsung Path

Coefficient P-Value Corporate social responsibility melalui

earning management terhadap market response

0.086 0.000

Corporate social responsibility melalui financial distress terhadap market response

0.082 0.000

Corporate social responsibility melalui financial distress, dan melalui earning management terhadap market response

0.044 0.000

Tabel 4.7 Hasil Pengaruh Tidak Langsung

Table 8 Tabel 4.7 Hasil Pengaruh Tidak Langsung

4.4.2 Analisis Temuan Dengan Pengetahuan atau Teori

Temuan penelitian dari hipotesa pertama yang menunjukan terdapat pengaruh positif signifikan antara corporate social responsibility terhadap market response, konsisten dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Mio

& Fasan, 2012; Jones & Murrell, 2001; Hendarto & Purwanto, 2012;

Schnietz & Epstein, 2005; Luo & Bhattacharya, 2006; Wang, Qiu, & Kong,

2011; Thorne, 2015; Lin, Lee, & Lee, 2011; Caroline, 2012; dan Lourenco,

Branco, Curto, & Eugenio, 2012. Hal ini menunjukan semakin banyak

aktivitas corporate social responsibility perusahaan, investor sebagai pelaku

pasar akan memberikan penilaian lebih terhadap perusahaan tersebut. Hasil

penelitian ini juga mendukung pandangan dari stakeholder theory yang

menyatakan bahwa keberlanjutan perusahaan bergantung pada

kemampuannya untuk mengintegrasikan kepentingan para pemangku

kepentingan. Ketika perusahaan mempunyai kemampuan keberlanjutan

dimasa depan yang baik, dimana hal ini dicerminkan dari usaha dari

(10)

perusahaan untuk mengintegrasikan kepentingan dari stakeholdernya yaitu berupa aktivitas – aktivitas corporate social responsibility-nya. Maka investor yang dalam asumsi decision usefulness mempunyai sifat yang rasional, akan memberikan respon positif terhadap perusahaan yang dicerminkan dari harga sahamnya.

Hipotesa kedua diterima, menunjukan terdapat pengaruh positif corporate social responsibility terhadap earning management. Hasil ini tidak konsisten dengan penelitian yang dilkukan oleh Chih, Shen, & Kang, 2008, namun konsisten dengan Scholtens & Kang, 2012 ; Hong & Anderson, 2011;

Grass-Gil, Manzno, & Fernandez, 2016; dan Choi, Lee, & Park, 2013. Hasil ini mengkonfirmasi bahwa ketika perusahaan semakin banyak melakukan corporate social responsibility menunjukan perusahaan semakin beretika, sehingga memberikan laporan perusahaan secara lebih transparan. Makana transparan adalah perusahaan melaporakan kejadian atau kondisi perusahaan apa adanya, tanpa ada upaya untuk menciptakan presepsi tertentu bagi pengguna laporan tersebut. Salah satu penjelasan mengapa perusahaan dengan aktivitas corporate social responsibliity melaporkan laporan secara lebih transparan, karena menurut Carroll (1991) corporate social responsibility mempunyai empat level piramida responsibility yaitu economic responsible, legal responsible, ethics responsible, dan philanthropy responsible yang harus dilakukan secara bersama-sama sebagai bagian yang tak terpisahkan. Sehingga perusahaan yang melakukan corporate social responsibility secara otomatis akan mempunyai ethics responsible. Dengan adanya sikap etis ini, perusahaan akan memberikan informasi keadaan perusahaan, bagi para pemangku kepentingannya dengan sebenar-benarnya (Hong & Andersen, 2011). Keingnan untuk memberikan informasi yang sebear – benarnya akan mendorong perusahaan untuk minim melakukan earning management.

Hipotesa ketiga pada penelitian ini menemukan bahwa investor

sebagai pelaku pasar, menganggap transparansi pelaporan sebagai

informative value sehingga memberikan respon yang positif jika perusahaan

semakin transparan. Temuan ini sejalan dengan decsion usefullness theory

(11)

yang menyatakan bahwa investor akan bertindak rasional dan berusaha untuk mencari informasi yang infromatif. Dilain sisi jika suatu informasi yang tersedia (salah satunya laporan yang disediakan perusahaan) kurang transparan atau terdapat earning management yang relatif tinggi, maka investor akan memberikan respon negatif. Alasan investor memberikan respon negativ, disebabkan infromative value dalam informasi tersebut bisa berkurang karena terdapat usaha untuk minciptakan persepsi tertentu bagi investor. Dengan turunya informative value menyebabkan menurunya usefullness informasi tersebut bagi investor. Dengan diterimanya hipotesa ketiga, maka hasil penelitian ini konsisten dengan Chan, Chan, Jegadeesh, &

Josef (2006); dan Kwag & Stephens (2009).

Pengujian hipotesa keempat menunjukan kebijakan corporate social responsibility mampu mempengaruhi financial distress secara negative signifikan. Hasil ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Hsu &

Chen (2015) serta Sahut, Boulerene, & Mili (2012). Sejalan dengan stakeholder theory perusahaan yang berusahaa menyeimbangkan pemenuhan kepentingan bagi para stakeholdernya, yaitu melalui berbagai kegiatan dan kebijakan corporate social responsibility, mampu menjaga keberlanjutan usahanya. Semakin banyak kebijakan corporate social responsibility yang dijalanakan perusahaan, maka resiko kebangkrutan perusahaan akan semakin kecil. Rasionalisasi mengapa hal tersebut dapat terjadi karena, dengan perusahaan menerapkan corporate social responsibility yang baik, maka tekanan yang diperoleh perusahaan dari para stakeholdernya seperti masyarakat sekitar dan pemerintah akan menjadi lebih rendah (Neville, Bell, & Menguc, 2005; Post, Preston, & Sachs, 2002;

Polosky, 1996). Ketika tekanan tersebut lebih rendah maka perusahaan mampu untuk berfokus dan mengalokasikan sumber daya perusahaan secara lebih optimal kepada operasional utama perusahaan, sehingga mampu meningkatkan performa persuahaan dan akhirnya mempunyai kemampuan sustainability yang lebih baik.

Hipotesia kelima penelitian diterima yang artinya ditemukan bahwa

financial distress atau resiko kebangkruktan memiliki pengaruh negative

(12)

terhadap market response. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian oleh Zaretzky & Zumwalt (2007); Campbell, Hilscher, & Szilagyi (2008);

Simlai (2014); dan Agarwal & Taffler (2008). Decision usefulness theory menatakan, investor akan bertindak rasional dan merupakan risk-averse sehingga investor akan cenderung memilih pilihan yang mengandung resiko kecil. Demikian juga dengan resiko kebangkurtan, investor akan memilih mengalokasikan dananya kepada perusahaan yang mempunyai resiko kebangkurtan yang rendah dibandingkan perusahaan yang mempunyai resiko kebangkurtan yang tinggi. Selain itu dari sudut pandang yang lain resiko kebangkrutan yang kecil, juga dapat diartikan perusahaan mempunyai kemampuan yang baik dalam menghasilkan laba, mengelola pendanaan, dan mengoptimalkan penggunaan asset (Altman & Hotchkiss, 2005). Atau dapat dikatakan perusahaan mempunyai performa yang bagus, sehingga mendorong investor memberikan respon yang baik juga terhadap perusahaan.

Pengujian hipotesa keenam menujukan bahwa financial distress berpegaruh positif terhadap earning management. Hasil ini konsisten dengan penelitian Habib, Bhuiyan, & Islam (2013); Ke (2012); dan Lee (2000).

Perusahaan yang berada adalam posisi financial distress rendah, atau dengan kata lain perusahaan tersebut jauh dari resiko kebangkrutan cenderung akan melaporan kondisi perusahaan secara apa adanya / transparan. Demikian juga dengan sebaliknya ketika perusahaan mengalami financial distress yang tinggi, persuaahan akan bertindak oppurtinistic sehingga memberikan laporan secara lebih tidak transparan.

Secara keseluruhan hasil dari penelitian ini mendukung pandangan

dan penerapan stakeholder theory. Hal ini disebabkan terbukti bahwa

Investor sebagai pelaku pasar meresponi kebijakan corporate social

responsibility yang dilakukan oleh perusahaan. Investor memberikan

apresiasi lebih kepada perusahaan dengan kebijakan corporate social

responsibility yang lebih baik. Secara lebih lanjut, hasil penelitian juga

menemukan bahwa kebijakan corporate social responsibility mampu

mempegaruhi kebijakan financial distress perusahaan, serta kebijakan

(13)

earning management perusahaan. Dimana kebijakan financial distress dan earning management tersebut juga diapresiasi oleh investor.

Ketiga Indirect effect pengaruh corporate social responsibility terhadap market response memang lebih kecil dari direct effect pengaruh antara corporate social responsibility terhadap market response. Namun hal ini bukan berarti kebijakan financial distress dan earning management perlu untuk diminimalisir. Indirect effect yang signifikan dengan koefisien yang tidak nol dari hasil penelitian ini, menunjukan earning management dan financial distress mampu memberi kontribusi dalam mempengaruhi market response. Artinya perusahaan dalam menentukan kebijakan corporate social responsibility tidak boleh mengabaikan kebijakan earning management dan financial distress.

Selain itu hasil penelitian ini juga mendukung teori yang diungkapkan oleh Carroll (1991), dimana perusahaan yang menerapkan corporate social responisiblity akan secara bersama-sama memenuhi keempat layer dalam piramida responisiblity. Setidaknya penelitian ini mampu memberikan bukti bahwa ketika perusahaan berkomitmen untuk menerpakan kebijakan corporate social responsibility, perusahaan secara akan mempunyai economic responsibility dan ethics responisibility. Economic responsibility ditunjukan dengan ketika perusahaan membuat kebijakan corporate social responisblity, maka kebijakan financial distress akan terpengaruh, sehingga perusahaan dengan kebijakan corporate social responsibility yang tinggi akan mempunyai nilai resiko kebangrutan yang rendah. Sedangkan ethics responisblity ditunjukan perusahaan akan semakin melaporkan kondisi perusahaan secara lebih transparan melalui kebijakan eraning management- nya, ketika perusahaan tersebut menerpakan kebijakan corporate social responsibility yang baik.

Implikasi managerial dalam penelitian ini ditujukan terutama bagi

manager dan investor. Manager diharapkan menyadari bahwa corporate

social responsibility mempunyai peranan yang penting karena mampu

mempengaruhi investor baik secara langsung maupun tak langsung. Secara

langsung karena perusahaan dapat lebih meyakinkan investor mengenai

(14)

keberlanjutan perusahaan. Secara tidak langsung karena corporate social responsibility dapat meningkatkan performa perusahaan yang tercermin dari resiko kebangrutan yang kecil, dan karena dapat memperlihatkan ethics perusahaan yang tercermin dari transparansi laporan perusahaan. Sehingga jika perusahaan ingin mendapatkan market performance yang baik, corporate social responsibility dapat menjadi salah satu opsi kebijakan perusahaan.

Sedangkan dari sisi investor, penelitian ini membantu untuk

pengambilan keputusan. Perusahan dengan nilai corporate social

responsibility yang baik cenderung mempunyai kelebihan dibanding

perusahaan lain. Alasan pertama karena ketika perusahan tersebut

mempunyai corporate social responsibility yang baik, maka kemampuan

perusahaan tersebut untuk tetap eksis di masa depan akan lebih kuat. Baik

dari sisi financial dan juga dari sisi besarnya tekanan yang diberikan kepada

perusahaan oleh stakeholder lain. Alasan kedua karena dengan corporate

social responsibility perusahaan dapat lebih berfokus untuk dapat

mengoptimalkan sumberdaya kepada operational perusahaan, sehingga

kinerja operasional perusahaan menjadi lebih baik. Sedangkan alasan yang

ketika karena corporate social responsibility dapat menjadi salah satu acuan

bahwa perusahaan akan memberikan laporan kondisi perusahaan secara lebih

transparan. Hal ini disebabkan karena perusahaan mempunyai ethics

responsible dalam beroperasi. Selain itu juga karena performa finansial

perusahaan yang bagus sehingga perusahaan tidak perlu melaporan kondisi

perusahaan secara tidak transparan.

Referensi

Dokumen terkait

In the starter project, the objects are simple strings, but in your application, you’ll use more complex objects like those in figure 1.5.. Each default action returns the result

Penelitian ini memberikan kontribusi pada penggabungan Convolusion Neural Network (CNN) dan Kesebangunan Segitiga untuk memprediksi tinggi manusia dengan menggunakan

Bahwa dalam rangka pelaksanaan Penyelenggaraan Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional (UAMBN) MTs Kota Surabaya Tahun Pelajaran 2015/2016 perlu di tetapkan

Kondisi yang secara umum cukup sehat sehingga dinilai cukup mampu menghadapi pengaruh negatif yang signifikan dari perubahan kondisi bisnis dan faktor eksternal

DAFTAR LOKASI KERJA PRAKTIK EKSTENSI PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGUSTUS 2019 NO NPM NAMA MAHASISWA TEMPAT BERKERJA PEMBIMBING.. 1 1612110086 Ratih Sukma Primadani SUNLIFE FINANCIAL

Islam politik adalah sebuah istilah yang dapat digunakan untuk menggambarkan gejala politik keagamaan kontemporer di kalangan masyarakat Muslim yang

Permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: Apakah layanan bimbingan kelompok dapat meningkatkan kecintaan siswa terhadap budaya jawa pada

Simpulan peneliti ini adalah dengan penerapan media visual dapat meningkatkan hasil belajar gerak dasar manipulatif melempar dan menangkap bola pada siswa kelas