• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "4. HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

4. HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS

4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

Objek dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang makanan dan minuman yang berada di Jawa Timur. Objek dari penelitian ini dibatasi oleh peneliti dimana perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang makanan dan minuman harus tergolong dalam kategori industri sedang dengan tenaga kerja berjumlah 20 sampai 99 orang dan tergolong industri besar dengan jumlah tenaga kerja diatas 100 orang.

Peneliti mencari target perusahaan melalui daftar perusahaan yang dimiliki Telkom (yellow pages) dan informasi dari internet. Peneliti kemudian meminta karyawan bagian purchasing dari perusahaan untuk menjadi responden melalui telepon, e-mail, atau kunjungan langsung. Selain itu peneliti menerima bantuan dari alumni akuntansi bisnis yang sebagian besar bekerja pada perusahaan atau memiliki perusahaan yang sesuai dengan kriteria objek dan memberikan kuesioner tersebut kepada karyawan bagian purchasing untuk mengisi kuesioner yang peneliti berikan selain itu peneliti juga menerima bantuan dari rekan kerja yang pernah bekerja di bank sehingga memiliki data-data perusahaan yang peneliti butuhkan dan rekan kerja tersebut memiliki hubungan dengan pihak-pihak yang bekerja di perusahaan atau memiliki perusahaan yang memenuhi kriteria objek. Peneliti menggunakan media elektronik (google form) dalam pengisian kuesioner.

Jumlah tanggapan awal yang peneliti terima sejumlah 88, dimana 67

tanggapan didapat langsung dari google form, 6 didapatkan dari pengisian tidak

langsung dari responden melalui telepon dan sisanya pengisian kuesioner secara

langsung sebesar 15 tanggapan. Total kuesioner yang disebarkan oleh peneliti

adalah sebanyak 125 kuesioner. Tidak semua responden yang peneliti temui

sesuai dengan kriteria, seperti jumlah karyawan dalam perusahaan dibawah 20

orang. Hasil dari keseluruhan tanggapan, 8 responden dari google form tidak

dapat digunakan karena pengisian kuesioner yang tidak lengkap.

(2)

4.1.1 Deskripsi Profil Perusahaan

Berikut adalah deskriptif profil perusahaan dari 80 perusahaan manufaktur yang bergerak dalam bidang makanan dan minuman yang berada di Jawa Timur yang menjadi sampel penelitian:

Tabel 4.1. Deskriptif Sifat Perusahaan Sifat Perusahaan Jumlah %

Terbuka 23 28.8

Tertutup 57 71.3

TOTAL 80 100.0

Sumber: Data olah (2016)

Tabel 4.2. Deskriptif Golongan Industri Golongan Industri Jumlah % Industri Sedang (20-99 0rang) 26 32.5 Industri Besar (>100 0rang) 54 67.5

TOTAL 80 100.0

Sumber: Data olah (2016)

Berdasarkan tabel 4.1. dari 80 perusahaan yang menjadi sampel dalam

penelitian ini didominasi oleh perusahaan tertutup yaitu sebanyak 57 perusahaan

(71,3%) dan 23 perusahaan (28,8%) lainnya bersifat terbuka. Selain itu dilihat

berdasarkan golongan industri dalam tabel 4.2. perusahaan yang tergolong

kedalam industri sedang dimana perusahaan tersebut memiliki tenaga kerja

sebanyak 20 sampai 99 orang sebanyak 26 perusahaan (32,5%) dan 54 perusahaan

lainnya (67,5%) tergolong kedalam industri besar dengan jumlah tenaga kerja

sebanyak 100 orang atau lebih sehingga sampel penelitian telah mewakili

perusahaan sesuai dengan kriteria yang peneliti tentukan. Dari data olah tersebut

dapat disimpulkan bahwa perusahaan yang sifatnya tertutup juga mampu bersaing

dengan perusahaan terbuka dilihat dengan banyaknya perusahaan tertutup yang

tergolong ke dalam industri besar atau mampu bersaing dalam skala besar dengan

kompetitor perusahaan yang bersifat terbuka seperti PT Santos Jaya Abadi, PT

Wings Surya dan PT Unilever.

(3)

Tabel 4.3. Deskriptif Jenis Industri Jenis Industri Jumlah %

Makanan 37 46.3

Minuman 27 33.8

Makanan & Minuman 16 20.0

TOTAL 80 100.0

Sumber: Data olah (2016)

Tabel 4.4. Deskriptif Lokasi Perusahaan Lokasi Perusahaan Jumlah %

Surabaya 44 55.0

Sidoarjo 8 10.0

Gresik 5 6.3

Pasuruan 6 7.5

Mojokerto 3 3.8

Pandaan 7 8.8

Malang 4 5.0

Lokasi Lainnya 3 3.8

TOTAL 80 100.0

Sumber: Data olah (2016)

Berdasarkan tabel 4.3. dari 80 perusahaan manufaktur yang dijadikan

sampel penelitian 37 perusahaan bergerak dalam industri makanan (46,3%), 27

perusahaan bergerak dalam industri minuman (33,8%) dan sebanyak 16

perusahaan yang bergerak dalam industri makanan dan minuman (16%) sehingga

hasil ini telah mewakili sampel penelitian perusahaan makanan dan minuman

yang peneliti inginkan. Dari tabel 4.4. perusahaan manufaktur yang bergerak

dalam bidang makanan dan minuman yang berada di Jawa Timur, 80 perusahaan

yang dijadikan sampel penelitian diantaranya didominasi oleh perusahaan yang

berlokasi di Surabaya sebanyak 44 perusahaan (55%) hal ini dikarenakan peneliti

yang berdominasi di Surabaya membuat lebih mudah dalam pengambilan sampel

serta mendapatkan jawaban dari responden, dan dikuti oleh Sidoarjo dan Pandaan

yang masing-masing sebanyak 8 perusahaan (10%) dan 7 perusahaan (8,8%),

sedangkan sisanya perusahaan yang berlokasi di Pasuruan sebanyak 6 perusahaan

(4)

(7,5%), Gresik sebanyak 5 perusahaan (6,3%), Malang sebanyak 4 perusahaa, dan Mojokerto serta lokasi lainnya masing-masing sebanyak 3 perusahaan (3,8%).

4.1.2 Deskripsi Profil Responden

Berikut adalah deskriptif profil responden dari 80 perusahaan manufaktur yang bergerak dalam bidang makanan dan minuman yang berada di Jawa Timur yang menjadi sampel penelitian:

Tabel 4.5. Deskriptif Profil Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah %

Laki-laki 53 66.3

Perempuan 27 33.8

TOTAL 80 100.0

Sumber: Data olah (2016)

Tabel 4.6. Deskriptif Profil Responden Berdasarkan Lama Bekerja Lama Bekerja Jumlah %

1-3 Tahun 45 56.3

3-5 Tahun 23 28.8

Diatas 5 Tahun 12 15.0

TOTAL 80 100.0

Sumber: Data olah (2016)

Berdasarkan tabel 4.5. dapat diketahui bahwa responden dengan jenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 53 orang (66,3%) dari total keseluruhan responden, sedangkan responden dengan jenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 27 orang (33,8%). Hasil ini memberikan informasi bahwa jumlah karyawan atau staf purchasing yang berjenis kelamin laki-laki yang menjadi responden memberikan kontribusi yang lebih besar dibandingkan dengan staf purchasing yang berjenis kelamin perempuan. Tabel 4.6. menunjukkan bahwa dari 80 responden terdapat 45 karyawan bagian purchasing yang telah bekerja selama 1 sampai 3 tahun (56,3%), 23 karyawan dengan masa kerja 3 sampai 5 tahun (28,8%), dan sisanya sebanyak 12 karyawan telah bekerja lebih dari 5 tahun (5%).

Dengan banyaknya responden yang telah menjadi pegawai tetap didalam divisi

(5)

purchasing diasumsikan telah mengetahui dan berpengalaman dalam bidangnya sehingga mampu dalam menjawab pertanyaan ataupun pernyataan yang diberikan oleh peneliti.

4.1.3 Deskripsi Variabel Penelitian

Pada analisis deskripsi ini akan dijelaskan jawaban responden pada masing-masing item pernyataan pada variabel penelitian yaitu Strategic Purchasing, Relationship between Buyer and Supplier, Negotiation Strategy dan Organization performance. Pengukuran diberikan dengan rentang skala satu sampai lima. Variabel-variabel utama diwakili oleh beberapa indikator yang akan dituangkan kedalam pernyataan. Responden diminta untuk memberikan penilaian pada pernyataan-pernyataan terhadap kesesuaian dengan kondisi yang terjadi.

Ukuran proporsional dari tiap variabel dituangkan dalam tabel indeks presepsi responden terhadap variabel-variabel yang telah ditentukan.

Untuk mendapatkan gambaran mengenai variabel penelitian, peneliti menggunakan bantuan software SPSS untuk menghasilkan nilai rata-rata, standar deviasi, Corrected Item-Total Correlation, dan Cronbach's Alpha. Corrected Item-Total Correlation menjelaskan korelasi masing-masing indikator terhadap keseluruhan indikator dalam variabel. Umumnya nilai minimum untuk Corrected Item-Total Correlation adalah lebih besar dari 0,3. Sedangkan, Cronbach's Alpha berfungsi untuk menguji konsitensi pernyataan-pernyataan yang digunakan dalam mengukur variabel. Nilai Cronbach's Alpha yang baik adalah lebih besar dari 0,6.

Deskripsi jawaban responden pada masing-masing variabel penelitian menggunakan nilai rata-rata (mean). Untuk mengkategorikan mean jawaban responden digunakan kategori sebagai berikut:

Tabel 4.7. Kategori Mean Jawaban Responden

Interval Kategori

4,20 – 5,00 Sangat Tinggi

3,41 – 4,20 Tinggi

2,61 – 3,40 Cukup

1,81 – 2,60 Rendah

1,00 – 1,80 Sangat Rendah

(6)

Berdasarkan tabel 4.7. setiap jawaban responden akan dihitung mean-nya untuk mengetahui kategori dari variabel yang diberikan dalam bentuk pernyataan.

Untuk jawaban responden dengan interval nilai mean sebesar 4,20 hingga 5,00 dikategorikan sangat tinggi, untuk nilai mean 3,41 hingga 4,20 dikategorikan tinggi, untuk nilai mean 2,61 hingga 3,40 dikategorkan cukup, untuk nilai mean 1,80 hingga 2,60 dikategorikan rendah dan untuk nilai mean 1,00 hingga 1,80 dikategorikan sangat rendah.

4.1.3.1 Strategic Purchasing

Variabel Strategic Purchasing (SP) didukung oleh 4 indikator. Indikator- indikator tersebut adalah rencana jangka panjang secara terarah, terlibat dalam perencanaan strategis, pelatihan pengembangan kompetensi dan dukungan terhadap fungsi purchasing.

Table 4.8. Indeks Presepsi Responden terhadap Variabel Strategic Purchasing  

Indikator 1 2 3 4 5

Jml % Jml % Jml % Jml % Jml %

Rencana jangka

panjang secara terarah 0 0% 6 7.5% 7 8.8% 44 55% 23 28.8%

BTB= 7.5% TTB = 83.8%

Terlibat dalam

perencanaan strategis 0 0% 4 5.0% 9 11.3% 48 60% 19 23.8%

BTB= 5% TTB = 83.8%

Pelatihan pengembangan kompetensi

0 0% 6 7.5% 14 17.5% 46 57.5% 14 17.5%

BTB= 7.5% TTB = 75%

Dukungan terhadap

fungsi purchasing 0 0% 6 7.5% 11 13.8% 51 63.8% 12 15%

BTB= 7.5% TTB = 78.8%

Sumber: Data olah (2016)

Melihat jawaban responden dalam mengisi kuesioner, indikator rencana jangka panjang yang terarah mendapat tanggapan yang sangat baik dimana 83,8%

setuju dan sangat setuju dengan pernyataan ini sehingga dapat disimpulkan bahwa

hampir semua divisi purchasing didalam perusahaan telah memiliki rencana

(7)

jangka panjang berkaitan dengan apa yang perlu mereka lakukan kedepannya sehingga setiap anggota atau staff purchasing mengetahui apa yang mereka akan capai dimasa yang akan datang. Untuk indikator terlibat dalam perencanaan strategis juga mendapat tanggapan yang sangat baik karena responden setuju dan sangat setuju sebanyak 83,8%, salah satu perencanaan strategis bisa berkaitan dengan rencana anggaran dalam divisi purchasing sehingga dalam membeli bahan baku sesuai dengan budget yang diberikan perusahaan sehingga membantu dalam efisiensi.

Indikator pelatihan pengembangan didalam perusahaan mendapat tanggapan dari responden setuju dan sangat setuju sebanyak 75% sehingga dapat disimpulkan bahwa perusahaan menganggap perlu adanya training untuk staff purchasing untuk mengembangkan kemampuan, pengetahuan hingga pengalaman sehingga dapat berkerja secara efektif untuk tujuan perusahaan, walaupun ada juga perusahaan yang belum menerapkan pelatihan untuk karyawan-karyawannya sebanyak 7,5% yang sangat tidak setuju dan tidak setuju serta netral sebanyak 17,5%. Indikator dukungan terhadap fungsi purchasing mendapat tanggapan setuju dan sangat setuju sebanyak 78,8% karena dukungan dari top level management perlu ada untuk mendukung kegiatan divisi purchasing, dukungan bisa berupa keuangan maupun non keuangan seperti top level management yang dapat membantu dalam penyelesaian masalah yang ada didalam divisi purchasing.

Tabel 4.9. Deskripsi Variabel Strategic Purchasing

Indikator Mean Std.

Deviation

Corrected Item-Total Correlation

Cronbach's Alpha Rencana jangka panjang secara terarah 4.00 0.925 0.394

0.762 Terlibat dalam perencanaan strategis 4.04 0.781 0.537

Pelatihan pengembangan kompetensi 3.74 0.876 0.737 Dukungan terhadap fungsi purchasing 3.86 0.857 0.605

Rata-rata nilai Mean 3.91

Sumber: Data olah (2016)

(8)

Tabel 4.9. menunjukkan mean jawaban responden pada indikator-indikator dari variabel strategic purchasing tergolong tinggi yaitu berada pada interval 3,41 sampai 4,20. Indikator rencana jangka panjang secara terarah dan terlibat dalam perencanaan strategis memberikan dukungan terbesar bagi variabel strategic purchasing bisa dilihat dari nilai rata-ratanya, yaitu 4,00 dan 4,04. Hal ini berarti bahwa divisi purchasing telah memiliki rencana jangka panjang didalam perusahaan serta telah terlibat dalam perencanaan strategis yang dimiliki oleh perusahaan. Sedangkan untuk indikator pelatihan pengembangan kompetensi memiliki mean sebesar 3,74 yang berarti bahwa divisi purchasing telah mengikuti pelatihan yang memadai dalam pengembangan kompetensi dan indikator dukungan terhadap fungsi purchasing memiliki mean sebesar 3,86 yang berarti fungsi purchasing didalam perusahaan telah mendapat dukungan penuh dari perusahaan.

Dari rata-rata nilai mean secara keseluruhan untuk variabel strategic purchasing tergolong kedalam interval tinggi yang berarti bahwa perusahaan makanan dan minuman yang dijadikan sampel penelitian telah memiliki dan menggunakan strategic purchasing didalam perusahaannya walaupun belum secara maksimal dalam prakteknya seperti pelatihan pengembangan kompetensi yang belum secara maksimal diterapkan di beberapa perusahaan sehingga karyawan atau staff purchasing tidak dapat mengembangkan kemampuan ataupun pengetahuannya yang dibutuhkan dan tidak dapat dipungkiri beberapa divisi purchasing dari perusahaan yang berbeda kurang didukung keberadaannya oleh top level management perusahaan sehingga membuat divisi purchasing tidak dapat bekerja secara maksimal dalam mencapai tujuannya.

Indikator terlibat dalam perencanaan strategis memiliki keseragaman

tanggapan tertinggi dari responden, dimana nilai penyimpangannya paling kecil

yaitu 0,781. Dilihat dari nilai korelasinya terhadap indikator maka indikator

pelatihan pengembangan kompetensi memiliki korelasi paling baik dengan nilai

indikator secara keseluruhan. Hal ini menunjukkan bahwa indikator ini lah yang

paling sesuai dengan variabel. Nilai cronbach’s alpha dari variabel ini cukup

yaitu 0,762, sehingga dapat dikatakan indikator-indikator dalam variabel ini

(9)

memiliki konsistensi yang cukup untuk dapat mengukur variabel strategic purchasing.

4.1.3.2 Relationship between Buyer and Supplier

Variabel Relationship between Buyer and Supplier (RbBnS) didukung oleh 4 indikator. Indikator-indikator tersebut adalah kepercayaan kepada supplier, hubungan yang kuat, pemenuhan permintaan dan spesifikasi bahan baku.

Table 4.10. Indeks Presepsi Responden terhadap Variabel Relationship between Buyer and Supplier

Indikator 1 2 3 4 5

Jml % Jml % Jml % Jml % Jml %

Kepercayaan

kepada supplier 0 0% 4 5% 17 21.3% 40 50% 19 23.8%

BTB= 5% TTB = 73.8%

Hubungan yang

kuat 0 0% 2 2.5% 20 25.0% 43 53.8% 15 18.8%

BTB= 2.5% TTB = 72.6%

Pemenuhan

permintaan 0 0% 2 2.5% 15 18.8% 47 58.8% 16 20%

BTB= 2.5% TTB = 78.8%

Spesifikasi bahan

baku 0 0% 2 2.5% 15 18.8% 48 60% 15 18.8%

BTB= 2.5% TTB = 78.8%

Sumber: Data olah (2016)

Melihat jawaban-jawaban dari responden, indikator kepercayaan terhadap

supplier mendapat tanggapan yang baik yaitu sebanyak 73,8% responden setuju

dan sangat setuju untuk pernyataan ini, yang dapat diartikan bahwa supplier yang

digunakan oleh perusahaan dapat dipercaya dan juga supplier yang ada telah

menepati janjinya sesuai dengan kesepakatan sehingga memperlancar kegiatan

produksi didalam perusahaan. Tetapi ada juga supplier yang tidak dapat dipercaya

oleh perusahaan dilihat dengan adanya tanggapan sangat tidak setuju dan tidak

setuju terhadap pernyataan ini sebesar 5% dan netral 21,3% sehingga perusahaan

(10)

akan mengalami kesulitan dalam melakukan kegiatan produksi karena supplier yang digunakan tidak dapat dipercaya dan tidak menepati janjinya.

Indikator hubungan yang kuat mendapat tanggapan yang baik dengan responden menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 72,6% sehingga dapat disimpulkan bahwa perusahaan dan supplier memiliki hubungan yang baik yang disebabkan karena kedua belah pihak saling mendapat keuntungan dengan adanya hubungan yang terjalin, tetapi tidak dapat dipungkiri perusahaan yang tergolong industri sedang dan industri besarpun juga bisa memiliki hubungan yang kurang kuat dengan supplier mereka dengan melihat tanggapan tidak setuju sebesar 2,5%

dan netral sebesar 25% sehingga perusahaan dan supplier bisa saja saling tidak bekerjasama didepannya karena ketika perusahaan mendapat supplier yang baru yang lebih memberikan keuntungan maka perusahaan akan mencari dan bekerjasama dengan supplier baru.

Indikator pemenuhan permintaan mendapat tanggapan setuju dan sangat setuju sebesar 78,8% sehingga perusahaan dapat beroperasional dengan baik karena permintaan mendadak dari perusahaan dipenuhi oleh supplier, selain itu ada juga perusahaan yang tidak mendapatkan tanggapan dari supplier ketika meminta permintaan yang mendadak karena ada tanggapan tidak setuju sebanyak 2,5% dan netral sebanyak 18,8% sehingga hal ini akan sangat menganggu kegiatan produksi didalam perusahaan karena ketika membutuhkan bahan baku tidak tersedia dalam waktu yang dibutuhkan oleh perusahaan.

Indikator spesifikasi bahan baku mendapat tanggapan setuju dan sangat

setuju sebanyak 78,8% yang berarti dalam membutuhkan bahan baku, perusahaan

memberikan spesifikasi yang jelas mengenai permintaan bahan yang dibutuhkan

kepada supplier mereka sehingga ketika bahan sampai ke perusahaan maka

perusahaan akan dapat melakukan produksi karena telah sesuai dengan apa yang

dibutuhkan dan mengantisipasi adanya kemunduran proses produksi karena alasan

bahan yang tidak sesuai dengan kebutuhan, selain itu ada juga yang tidak setuju

dengan pernyataan ini sebanyak 2,5% serta netral sebanyak 18,8% yang berarti

bahwa pada saat memintaa bahan baku kepada supplier, perusahaan tidak

memberikan spesifikasi yang jelas mengenai kebutuhan bahan yang mereka

butuhkan dan hal ini berpeluang mengakibatkan keterlambatan dalam produksi

(11)

karena supplier akan kebingungan dalam pengirimkan bahan baku yang dibutuhkan perusahaan dan akan membutuhkan waktu untuk menanyakan secara jelas kepada perusahaan mengenai permintaan atau order yang diberikan.

Tabel 4.11. Deskripsi Variabel Relationship between Buyer and Supplier

Indikator Mean Std.

Deviation

Corrected Item-Total Correlation

Cronbach's Alpha Kepercayaan kepada supplier 3.96 0.856 0.614

0.793

Hubungan yang kuat 3.88 0.798 0.674

Pemenuhan permintaan 4.02 0.742 0.476

Spesifikasi bahan baku 3.84 0.680 0.670

Rata-rata Nilai Mean 3.925

Sumber: Data olah (2016)

Tabel 4.11. menunjukkan mean jawaban responden pada indikator-indikator dari variabel relationship between buyer and supplier tergolong tinggi yaitu berada pada interval 3,41 sampai 4,20. Indikator pemenuhan permintaan dan kepercayaan kepada supplier memberikan dukungan terbesar bagi variabel relationship between buyer and supplier bisa dilihat dari nilai rata-ratanya, yaitu 4,02 dan 3,96. Hal ini berarti bahwa pemenuhan permintaan secara mendadak dari divisi purchasing telah dipenuhi atau direspon dengan baik oleh supplier dan juga divisi purchasing telah mempercayai supplier yang ada. Sedangkan untuk indikator spesifikasi bahan baku memiliki mean sebesar 3,84 yang berarti bahwa divisi purchasing telah memberikan spesifikasi bahan baku yang jelas kepada supplier, dan indikator hubungan yang kuat memiliki mean sebesar 3,88 yang dapat diartikan bahwa hubungan antara supplier dan perusahaan sudah cukup kuat.

Dari rata-rata nilai mean secara keseluruhan untuk variabel relationship

between buyer and supplier tergolong kedalam interval tinggi yang berarti bahwa

perusahaan makanan dan minuman yang dijadikan sampel penelitian telah

memiliki hubungan yang terjalin dengan supplier yang perusahaan percayai dalam

memasok bahan baku untuk proses produksi walaupun dalam prakteknya masih

ada perusahaan yang belum memiliki hubungan yang baik dengan supplier

(12)

dikarenakan berbagai alasan seperti supplier yang tidak menepati janjinya sehingga membuat perusahaan kurang dapat mempercayai supplier yang digunakan. Indikator spesifikasi bahan baku memiliki keseragaman tanggapan tertinggi dari responden, dimana nilai penyimpangannya paling kecil yaitu 0,680.

Dilihat dari nilai korelasinya terhadap indikator maka indikator hubungan yang kuat memiliki korelasi paling baik dengan nilai indikator secara keseluruhan. Hal ini menunjukkan bahwa indikator ini lah yang paling sesuai dengan variabel. Nilai cronbach’s alpha dari variabel ini cukup yaitu 0,793, sehingga dapat dikatakan indikator-indikator dalam variabel ini memiliki konsistensi yang cukup untuk dapat mengukur variabel relationship between buyer and supplier.

4.1.3.3 Negotiation Strategy

Variabel negotiation strategy (NS) didukung oleh 3 indikator. Indikator- indikator tersebut adalah berbagi informasi perencanaan bisnis, kerjasama pengembangan produk dan pengendalian bahan baku.

Table 4.12. Indeks Presepsi Responden terhadap Variabel Negotiation Strategy

Indikator 1 2 3 4 5

Jml % Jml % Jml % Jml % Jml %

Berbagi informasi

perencanaan bisnis 0 0% 8 10% 23 28.8% 42 52.5% 7 8.8%

BTB= 10% TTB = 61.3%

Kerjasama

pengembangan produk 0 0% 8 10% 30 37.5% 32 40% 10 12.5%

BTB= 10% TTB = 52.5%

Pengendalian bahan

baku 0 0% 4 5% 29 36.3% 39 48.8% 8 10%

BTB= 5% TTB = 58.8%

Sumber: Data olah (2016)

Berdasarkan data olah oleh peneliti yang berkaitan dengan persepsi

responden terhadap variabel negotiation strategy, indikator berbagi informasi

perencanaan bisnis mendapat tanggapan setuju dan sangat setuju sebanyak 61,3%,

(13)

walaupun jika dibandikan dengan indikator-indikator dari variabel lainnya, indikator berbagi informasi mengenai perencanaan bisnis mendapat tanggapan yang lebih kecil. Tetapi dengan tanggapan setuju dan sangat setuju yang lebih dominan, maka perusahaan-perusahaan yang menjadi sampel penelitian telah melakukan sharing information mengenai perencanaan bisnis mereka sehingga supplier akan mengetahui mengenai apa yang akan dibutuhkan oleh perusahaan kedepannya dan membuat supplier lebih dapat mengantisipasi mengenai kebutuhan yang jumlahnya bertambah ataupun jika terjadi pergantian bahan baku yang dibutuhkan. Indikator ini juga mendapat tanggapan yang kurang baik dengan hasil jawaban responden sebesar 10% yang tidak setuju dan netral sebanyak 28,8% yang berarti bahwa perusahaan merasa tidak perlu dalam melakukan pertukaran informasi mengenai perencanaan bisnis mereka dengan supplier.

Dalam melibatkan supplier dalam pengembangan produk banyak dilakukan oleh perusahaan terlihat dengan indikator kerjasama pengembangan produk mendapat tanggapan setuju dan sangat setuju sebanyak 52,5%. Tetapi hasil ini hampir sama dengan perusahaan-perusahaan yang tidak atau belum melibatkan supplier mereka dalam pengembangan produk karena perusahaan merasa dalam mengembangkan produk baru dapat dilakukan sendiri tanpa melibatkan pihak luar. Begitu juga dalam pengendalian bahan baku, meskipun lebih dari 50% merasa perlu melibatkan supplier dalam pengendalian bahan baku (58,8%), ada juga perusahaan yang tidak melibatkan supplier mereka dalam proses ini walaupun golongan perusahaan termasuk kedalam industri besar sehingga proses pengendalian hanya dilakukan oleh perusahaan sendiri.

Tabel 4.13. Deskripsi Variabel Negotiation Strategy

Indikator Mean Std.

Deviation

Corrected Item-Total Correlation

Cronbach's Alpha Berbagi informasi perencanaan bisnis 3.56 0.812 0.715

0.815 Kerjasama pengembangan produk 3.48 0.838 0.661

Pengendalian bahan baku 3.60 0.755 0.627

Rata-rata Nilai Mean 3.54

Sumber: Data olah (2016)

(14)

Tabel 4.13. menunjukkan mean jawaban responden pada indikator-indikator dari variabel negotiation strategy tergolong tinggi yaitu berada pada interval 3,41 sampai 4,20. Indikator pengendalian bahan baku memberikan dukungan terbesar bagi variabel negotiation strategy bisa dilihat dari nilai rata-ratanya, yaitu 3,60.

Hal ini berarti bahwa perusahaan telah melibatkan supplier yang ada dalam pengendalian bahan baku yang dibutuhkan. Sedangkan untuk berbagi informasi perencanaan bisnis memiliki mean sebesar 3,56 yang berarti bahwa divisi purchasing dalam supplier telah saling berbagi informasi mengenai perencanaan bisnis yang ada dan untuk indikator kerjasama pengembangan produk memiliki mean sebesar 3,48 yang berarti bahwa perusahaan telah melibatkan supplier yang ada dalam pengembangan produk perusahaan.

Dari rata-rata nilai mean secara keseluruhan untuk variabel negotiation strategy tergolong kedalam interval tinggi yang berarti bahwa perusahaan makanan dan minuman yang dijadikan sampel penelitian telah melakukan strategi negosiasi dengan supplier dalam mendapatkan apa yang perusahaan inginkan.

Walaupun tergolong kedalam kategori tinggi, negotiation strategy belum secara maksimal digunakan, karena masih adanya perusahaan yang tidak melakukan pertukaran informasi yang dibutuhkan dengan supplier sehingga proses negosiasi tidak bisa dilakukan. Serta perusahaan masih menganggap dirinya mampu untuk bekerja sendiri dalam pengembangan produknya tanpa melibatkan supplier kedalam proses internal perusahaan, sehingga keberadaan supplier kurang dimaksimalkan.

Indikator pengendalian bahan baku memiliki keseragaman tanggapan tertinggi dari responden, dimana nilai penyimpangannya paling kecil yaitu 0,755.

Dilihat dari nilai korelasinya terhadap indikator maka indikator berbagi informasi

perencanaan bisnis memiliki korelasi paling baik dengan nilai indikator secara

keseluruhan. Hal ini menunjukkan bahwa indikator ini lah yang paling sesuai

dengan variabel. Nilai cronbach’s alpha dari variabel ini cukup yaitu 0,815,

sehingga dapat dikatakan indikator-indikator dalam variabel ini memiliki

konsistensi yang cukup untuk dapat mengukur variabel negotiation strategy.

(15)

4.1.3.4 Organization Performance

Variabel organization performance (OP) didukung oleh 5 indikator.

Indikator-indikator tersebut adalah efisiensi biaya, pengiriman tepat waktu, time to market, product quality dan fleksibilitas kepada customer.

Table 4.14. Indeks Presepsi Responden terhadap Variabel Organization Performance

Indikator 1 2 3 4 5

Jml % Jml % Jml % Jml % Jml %

Efisiensi biaya 5 6.3% 6 7.5% 25 31.3% 32 40% 12 15%

BTB= 13.8% TTB = 55%

Pengiriman tepat

waktu 1 1.3% 3 3.8% 29 36.3% 38 47.5% 9 11.3%

BTB= 5.1% TTB = 58.8%

Time to market

0 0% 3 3.8% 32 40% 35 43.8% 10 12.5%

BTB= 3.8% TTB = 56.3%

Product Quality

0 0% 2 2.5% 12 15% 51 63.8% 15 18.8%

BTB= 2.5% TTB = 82.6%

Fleksibilitas kepada

customer

1 1.3% 1 1.3% 28 35% 40 50% 10 12.5%

BTB= 2.6% TTB = 62.5%

Sumber: Data olah (2016)

Pada variabel organization performance, indikator efisiensi biaya

mendapat tanggapan yang baik karena lebih dari 50% menjawab setuju dan sangat

setuju bahwa perusahaan melakukan efisiensi biaya (55%), tetapi hampir

setengahnya juga menjawab perusahaan tidak melakukan efisiensi biaya sebanyak

13,8% yang sangat tidak setuju dan tidak setuju serta 31,3% perusahaan yang

masih belum melakukan efisiensi biaya dalam proses operasional mereka. Hal ini

menggambarkan bahwa perusahaan meskipun tergolong indutri besar yang

dimana industri besar yang harusnya mampu melakukan efisiensi biaya karena

pengalaman yang lebih banyak juga belum mampu melakukan efisiensi biaya

didalam perusahaan mereka sehingga hal ini membuat perusahaan-perusahaan

(16)

yang tergolong kedalam indutri sedang mampu bersaing dengan pesaingnya yang telah berskala besar.

Dalam melakukan pengiriman yang tepat waktu, 58,8% telah melakukannya, tetapi ada yang masih melakukan pengiriman yang terlambat sebanyak 5,1% dan 36,3% yang tergolong netral yang diasumsikan belum mampu melakukan pengiriman yang tepat waktu kepada customer mereka, hal ini dapat disebabkan karena adanya keterlambatan produksi jika dikaitkan dengan indikator dari variabel yang lain dimana ada perusahaan yang tidak memberikan spesifikasi bahan yang dibutuhkan kepada suppliernya secara jelas, sehingga membutuhkan waktu lebih panjang agar bahan atau barang yang dibutuhkan sampai ke perusahaan sehingga menganggu jadwal produksi yang ada.

Indikator time to market mendapat tanggapan setuju dan sangat setuju sebanyak 56,3% yang dapat disimpulkan bahwa lebih dari setengah telah mampu mengeluarkan produk lebih cepat ke pasar jika dibandingkan dengan pesaingnya untuk memenuhi keinginan customer hal ini dikarenakan perusahaan melibatkan supplier mereka dalam pengembangan produk baik melibatkan dalam hal bahan baku maupun ide-ide baru sehingga akan membantu dalam mempercepat produk baru, tetapi banyak juga perusahaan yang belum mampu mengeluarkan produk baru dengan cepat ke pasar yaitu sebanyak 3,8% tidak setuju dan 40% netral yang bisa disebabkan karena perusahaan tidak melibatkan supplier mereka dalam pengembangan produk karena belum dapat mempercayai supplier yang perusahaan gunakan dalam memasok barang.

Dalam hal kualitas produk, kebanyakan perusahaan yang menjadi sampel

penelitian sangat memperhatikan kualitas produk yang dimiliki, dilihat dari

tanggapan setuju dan sangat setuju mendapat hasil sebanyak 82,6% hal ini

dikarenakan produk yang dihasilkan merupakan produk makanan dan minuman

sehingga kualitas produk sangat diperhatikan. Indikator fleksibilitas terhadap

customer mendapat tanggapan setuju dan sangat setuju sebesar 62,5% yang berarti

perusahaan dapat menyesuaikan keinginan yang berbeda dari customer untuk

memuaskan customer dan berharap customer bisa loyal dengan produk

perusahaan. Tetapi ada perusahaan yang tidak mampu fleksibel terhadap customer

mereka sebanyak 2,6% yang sangat tidak setuju dan tidak setuju serta 35% netral

(17)

terhadap indikator ini, yang berartu bahwa perusahaan belum mampu memenuhi keinginan yang berbeda dari customer mereka.

Tabel 4.15. Deskripsi Variabel Organization Performance

Indikator Mean Std.

Deviation

Corrected Item-Total Correlation

Cronbach's Alpha

Efisiensi biaya 3.42 1.162 0.632

0.824 Pengiriman tepat waktu 3.56 0.860 0.707

Time to market 3.62 0.779 0.698

Product quality 4.00 0.699 0.475

Fleksibilitas kepada customer 3.68 0.683 0.686

Rata-rata Nilai Mean 3.656

Sumber: Data olah (2016)

Tabel 4.15. menunjukkan mean jawaban responden pada indikator-indikator dari variabel organization performance tergolong tinggi yaitu berada pada interval 3,41 sampai 4,20. Indikator product quality memberikan dukungan terbesar bagi variabel organization performance bisa dilihat dari nilai rata-ratanya, yaitu 4,00 yang diartikan bahwa perusahaan telah memperhatikan dan membuat produk yang berkualitas. Untuk indikator efisiensi biaya memiliki mean sebesar 3,42, yang berarti bahwa perusahaan telah melakukan efisiensi biaya. Indikator pengiriman tepat waktu memiliki mean sebesar 3,56, yang dapat diartikan bahwa perusahaan telah mampu melakukan pengiriman secara tepat waktu kepada customernya.

Indikator time to market memiliki mean sebesar 3,62, yang berarti bahwa perusahaan secara tepat waktu dalam mengeluarkan produk yang dimiliki dan untuk indikator fleksibilitas kepada customer memiliki mean sebesar 3,68 yang dapat disimpulkan bahwa perusahaan memiliki fleksibilitas dalam merespon permintaan atau keinginan dari customer.

Dari rata-rata nilai mean secara keseluruhan untuk variabel organization

performance tergolong kedalam interval tinggi yang berarti bahwa perusahaan

makanan dan minuman yang dijadikan sampel penelitian telah melakukan

berbagai cara untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Tetapi dalam upaya

(18)

peningkatan kinerja, perusahaan belum secara maksimal dalam prakteknya seperti dalam hal melakukan efisiensi biaya yang nilai meannya dalam batas bawah kategori tinggi yang berarti perusahaan belum mampu dalam meminimalisasi biaya yang digunakan dalam proses produksi ataupun dalam mendapatkan bahan baku yang lebih murah. Selain itu juga peningkatan kinerja perusahaan mengalami kendala dalam hal pengiriman yang tepat waktu kepada customer, hal ini disebabkan oleh adanya permintaan bahan baku yang tidak datang tepat waktu hingga spesifikasi yang datang tidak sesuai dengan permintaan yang membuat proses produksi mengalami keterlambatan hingga membuat perusahaan tidak dapat menjadi pioneer dalam mengeluarkan produk baru ke pasar.

Indikator fleksibilitas kepada customer memiliki keseragaman tanggapan tertinggi dari responden, dimana nilai penyimpangannya paling kecil yaitu 0,683.

Dilihat dari nilai korelasinya terhadap indikator maka indikator pengiriman tepat waktu memiliki korelasi paling baik dengan nilai indikator secara keseluruhan.

Hal ini menunjukkan bahwa indikator ini lah yang paling sesuai dengan variabel.

Nilai cronbach’s alpha dari variabel ini yaitu 0,824, sehingga dapat dikatakan indikator-indikator dalam variabel ini memiliki konsistensi yang cukup untuk dapat mengukur variabel organization performance.

4.2 Evaluasi Model

Evaluasi dilakukan dengan menggunakan bantuan software SmartPLS versi 3.0. Analisis jalur dalam PLS menggambarkan hubungan antar variabel laten dan indikator dalam outer model. Evaluasi model struktural (inner model) dilakukan untuk mengetahui hubungan antar variabel.

 

4.2.1 Evaluasi Outer Model

Model pengukuran atau outer model dilakukan untuk menilai validitas dan

reabilitas konstruk. Evaluasi outer model dapat dilakukan melalui content validity,

convergent validity dan discriminant validity dari indikator pembentuk konstruk

laten serta indicator reliability, composite reliability dan Cronbach alpha untuk

indikatornya. Uji convergent validity dapat dilihat dari nilai loading factor untuk

(19)

tiap indikator konstruk. Sedangkan untuk menguji discriminant validity dengan indikator reflektif yaitu dengan melihat nilai cross loading untuk setiap variabel.

4.2.1.1 Convergent Validity

Convergent validity digunakan untuk mengukur suatu konstruk, karena suatu konstruk haruslah berkorelasi tinggi. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, convergent validity diukur dengan indicator reliability (outer loading) dan hasil average variance extracted (AVE).

a. indicator reliability (outer loading)

Indicator reliabiltiy didasarkan pada outer loading. Indikator dianggap reliable bila nilai outer loading indikator lebih dari 0,7. Artinya, indikator ini dapat digunakan untuk penelitian. Namun, nilai loading 0,5 hingga 0,7 masih bisa diterima. Nilai loading yang semakin tinggi menunjukkan bahwa semakin penting peranan indikator dalam merefleksikan variabel. Nilai outer loading penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 4.16

Tabel 4.16. Nilai Outer loadings (measurement model)

SP RbBnS NS OP

SP1 0.796

SP2 0.890

SP3 0.763

SP4 0.676

R1 0.831

R2 0.810

R3 0.657

R4 0.793

NS1 0.850

NS2 0.832

NS3 0.814

OP1 0.789

OP2 0.769

OP3 0.841

OP4 0.697

OP5 0.816

Sumber: Data olah (2016)

(20)

Variabel pertama, yaitu Strategic Purchasing (SP), diukur dengan 4 indikator. Indikator pertama, rencana jangka panjang secara terarah (SP1) dengan bobot faktor 0,796. Indikator kedua, yaitu terlibat dalam perencanaan strategis (SP2) dengan bobot faktor 0,890. Indikator ketiga, yaitu pelatihan pengembangan kompetensi (SP3) dengan bobot faktor 0,763. Indikator keempat, yaitu dukungan terhadap fungsi purchasing (SP4) dengan bobot faktor 0,676. Hasil ini menunjukkan hasil korelasi antara indikator dengan variabelnya telah memenuhi convergent validity, karena semua loading factor berada diatas 0,5.

Variabel kedua, yaitu Relationship between Buyer and Supplier (RbBnS), diukur dengan 4 indikator. Indikator pertama, kepercayaan kepada supplier (R1) dengan bobot faktor 0,831. Indikator kedua, yaitu hubungan yang kuat (R2) dengan bobot faktor 0,810. Indikator ketiga, yaitu pemenuhan permintaan (R3) dengan bobot faktor 0,657. Indikator keempat, yaitu spesifikasi bahan baku (R4) dengan bobot faktor 0,793. Hasil ini menunjukkan hasil korelasi antara indikator dengan variabelnya telah memenuhi convergent validity, karena semua loading factor berada diatas 0,5.

Variabel ketiga, yaitu Negotiation Strategy (NS), diukur dengan 3 indikator. Indikator pertama, berbagi informasi perencanaan bisnis (NS1) dengan bobot faktor 0,850. Indikator kedua, yaitu kerjasama pengembangan produk (NS2) dengan bobot faktor 0,832. Indikator ketiga, yaitu pengendalian bahan baku (NS3) dengan bobot faktor 0,814. Hasil ini menunjukkan hasil korelasi antara indikator dengan variabelnya telah memenuhi convergent validity, karena semua loading factor berada diatas 0,5.

Variabel keempat, yaitu Organization Performance (OP), diukur dengan 5 indikator. Indikator pertama, efisiensi biaya (OP1) dengan bobot faktor 0,789.

Indikator kedua, yaitu pengiriman tepat waktu (OP2) dengan bobot faktor 0,769.

Indikator ketiga, yaitu time to market (OP3) dengan bobot faktor 0,841. Indikator keempat, yaitu product quality (OP4) dengan bobot faktor 0,697. Indikator kelima, yaitu fleksibilitas kepada customer (OP5) dengan bobot faktor 0,816.

Hasil ini menunjukkan hasil korelasi antara indikator dengan variabelnya telah

memenuhi convergent validity, karena semua loading factor berada diatas 0,5.

(21)

b. Average Variance Extracted (AVE)

Selain dari outer loading, convergent validity dapat dilihat dari nilai Average Variance Extracted (AVE). Average Variance Extracted (AVE) adalah rata-rata presentase nilai varian yang diekstraksi dari seperangkat variabel laten yang diestimasi melalui loading standardize indikatornya dalam proses iterasi algortima. Dimana nilai AVE ini sebaiknya lebih dari 0,5 (Latan & Ghozali, 2013).

Minimal 0,5 berarti baik karena variabel laten dapat menjelaskan rata-rata lebih dari setengah variance dari indikatornya. Semakin besar nilai AVE menunjukkan semakin tinggi kemampuannya dalam menjelaskan skor pada indikator-indikator yang mengukur variabel laten. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4.17. Dari nilai AVE maka dapat dilihat bahwa variabel strategic purchasing, relationship between buyer and supplier, negotiation strategy dan organization performance memiliki hubungan korelasi yang baik, yaitu nilainya lebih besar dari 0,5.

Tabel 4.17. Hasil dari Average Variance Extracted (AVE)

AVE

SP 0.617

RbBnS 0.601

NS 0.692

OP 0.614

Sumber: Data olah (2016)

4.2.1.2 Discriminant Validity

Discriminant validity berhubungan dengan prinsip bahwa pengukur-

pengukur (manifest variabel) konstruk yang berbeda seharusnya tidak berkorelasi

tinggi. Cara untuk menguji discriminant validity dengan indikator yaitu dengan

melihat cross loading untuk setiap variabel laten harus lebih besar dibandingkan

dengan indikator dari variabel lain. Tabel 4.18 menunjukkan nilai cross loading

yang didapat dari smartPLS.

(22)

Tabel 4.18. Nilai Cross Loading

SP RbBnS NS OP

SP1 0.676 0.459 0.241 0.457 SP2 0.763 0.524 0.348 0.484 SP3 0.890 0.608 0.456 0.674 SP4 0.796 0.577 0.355 0.525

R1 0.649 0.831 0.555 0.670

R2 0.514 0.810 0.388 0.500

R3 0.501 0.657 0.396 0.485

R4 0.468 0.793 0.562 0.578

NS1 0.364 0.510 0.850 0.591

NS2 0.396 0.544 0.832 0.589

NS3 0.373 0.497 0.814 0.556

OP1 0.559 0.542 0.521 0.789

OP2 0.504 0.475 0.607 0.769

OP3 0.496 0.595 0.595 0.841

OP4 0.584 0.638 0.443 0.697

OP5 0.557 0.603 0.559 0.816

Sumber: Data olah (2016)

Dari Tabel 4.18. diketahui masing-masing indikator memiliki nilai cross

loading terbesar pada variabel yang dibentuknya. Hal ini berarti indikator-

indikator yang digunakan dalam penelitian ini telah memenuhi discriminat

validity. Misalnya pada indikator rencana jangka panjang secara terarah (SP1)

memiliki nilai loading 0,676, indikator terlibat dalam perencanaan strategis (SP2)

memiliki nilai loading 0,763, indikator pelatihan pengembangan kompetensi

(SP3) memiliki nilai loading 0,890, indikator dukungan terhadap fungsi

purchasing (SP4) memiliki nilai loading 0,796 pada variabel strategic purchasing

dibandingkan dengan nilai cross loading dari indikator-indikator di variabel laten

yang lain sehingga keempat indikator ini dapat digunakan atau lebih sesuai untuk

mengukur variabel strategic purchasing.

(23)

4.2.1.3 Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas dilakukan untuk membuktikan akurasi, konsistensi dan ketepatan instrumen dalam membuktikan konstruk. Uji reliabilitas menggunakan dua metode yaitu chronbach’s alpha dan composite reliability atau sering disebut Dillon-Goldstein’s. Namun demikian penggunaan chronbach’s alpha untuk menguji reliabilitas konstruk akan memberikan nilai yang lebih rendah sehingga lebih disarankan untuk menggunakan composite reliability dalam menguji reliabilitas suatu konstruk. Rule of thumb yang biasanya digunakan untuk menilai reliabilitas konstruk yaitu nilai composite reliability dan chronbach’s alpha harus lebih besar dari 0,7 (Latan & Ghozali, 2013). Hasil dari yaitu chronbach’s alpha dan composite reliability pada masing-masing variabel dapat dilihat pada Tabel 4.19 dibawah ini.

Tabel 4.19. Hasil Chronbach’s Alpha dan Composite Reliability Composite Reliability Cronbach's Alpha

SP 0.864 0.790

RbBnS 0.857 0.777

NS 0.871 0.777

OP 0.888 0.841

Sumber: Data olah (2016)

Tabel 4.19 menunjukkan bahwa seluruh variabel memenuhi kriteria

composite reliability yaitu diatas 0,7. Variabel strategic purchasing memiliki

bobot 0,864, variabel relationship between buyer and supplier memiliki bobot

0,857, variabel negotiation strategy memiliki bobot 0,871, dan variabel

organization performance memiliki bobot 0,888. Nilai chronbach’s alpha dari

penelitian ini memenuhi kriteria, yaitu diatas 0,7. Hal ini menunjukkan setiap

variabel dapat dijadikan sebagai variabel penelitian dimana memiliki konsistensi

internal yang baik sehingga dapat digunakan untuk analisa selanjutnya.

(24)

4.2.2. Evaluasi Inner Model

Model struktural atau inner model bertujuan untuk memprediksi hubungan antar variabel laten yang dihipotesiskan. Model struktural dalam PLS dievaluasi dengan menggunakan koefisien determinasi untuk variabel independen.

Sedangkan signifikansi antar konstruk dinilai dengan koefisien path atau nilai t (t- values) (Latan & Ghozali, 2013).

4.2.2.1 Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi digunakan untuk mengukur seberapa besar variasi variabel dependen dijelaskan oleh variabel independen. Dalam mlihat model structural dengan PLS, mulai dengan melihat R-square untuk setiap variabel laten endogen sebagai kekuatan prediksi dari model structural. Perubahan nilai R- square dapat digunakan untuk menjelaskan pengaruh variabel laten eksogen tertentu terhadap variabel laten endogen apakah mempunyai pengaruh yang substantive. Hasil dari PLS R-square mempresentasi jumlah variance dari konstruk yang dijelaskan oleh model. Semakin besar nilai R-square semakin besar presentase variance yang dapat dujelaskan (Latan & Ghozali, 2013).

Disamping melihat besarnya nilai R-square, evaluasi model PLS dapat juga dilakukan dengan Q-square. Teknik ini dapat mempresentasi synthesis dari cross-validation dan fungsi fitting dengan prediksi dari observed variabel dan estimasi dari parameter konstruk. Nilai Q-square lebih besar dari 0 menunjukkan bahwa model mempunyai predictive relevance.

Tabel 4.20. Nilai R-Square

R-Square

SP

RbBnS 0.207

NS 0.687

OP 0.600

Sumber: Data olah (2016)

(25)

Dari Tabel 4.20 diketahui nilai R-Square untuk relationship between buyer and supplier sebesar 0,207 memiliki arti bahwa prosentase besarnya relationship between buyer and supplier yang dapat dijelaskan oleh strategic purchasing dan negotiation strategy adalah sebesar 20,7%. Nilai R-Square untuk negotiation strategy sebesar 0,687 memiliki arti bahwa prosentase besarnya negotiation strategy yang dapat dijelaskan oleh strategic purchasing adalah sebesar 68,7%.

Nilai R-Square untuk organization performance sebesar 0,600 memiliki arti bahwa prosentase besarnya organization performance yang dapat dijelaskan oleh strategic purchasing, relationship between buyer and supplier dan negotiation strategy adalah sebesar 60%.

Kesesuaian mode struktural dapat dilihat dari Q-square. Dengan adanya hasil R-square dari tabel diatas, maka dapat menunjukkan tingkat kesesuaian model ini melalui :

Q-Square = 1 – [(1 – 𝑟

!!

) x(1 – 𝑟

!!

) x(1 – 𝑟

!!

)]

= 1 – [(1 – 0,207) x (1 – 0,687) x (1 – 0,600)]

= 1 – [0,099]

= 0,901

Nilai Q-square yang diperoleh pada model ini adalah 0,901. Hasil angka tersebut lebih besar dari 0 sehingga menunjukkan model memiliki predictive relevance. Hal ini menunjukkan variabel laten eksogen mempunyai nilai predictive relevance yang cukup terhadap variabel laten endogen.

4.2.2.2 Signifikansi dan Pengaruh antar Variabel

Nilai koefisien path atau inner model menunjukkan tingkat signifikansi dalam pengujian hipotesis. Skor koefisien path ditunjukkan oleh nilai T-statistik.

Nilai T-statistik yang digunakan (two-tailed) t-value 1,96 dengan significance

level yaitu 5%. Selain T-statistik, hasil iterasi yang dilakukan PLS menghasilkan

original sample, sample mean, dan standart deviation. Original sampel adalah

skor beta unstandardize yang digunakan untuk melihat sifat prediksi variabel

independen terhadap variabel dependen. Sample mean adalah nilai rata-rata

sampel yang dihasilkan dari proses iterasi. Standard deviation adalah standar

(26)

error (Latan & Ghozali, 2013). Hasil bootstraping dengan iterasi sebanyak 500 untuk penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 4.21.

Tabel 4.21. Path Coefficient

   

Original Sample (O)

Sample Mean (M)

Standard Deviation (STDEV)

T Statistics

(|O/STERR|) P Values

SP -> RbBnS 0.518 0.523 0.081 6.368 0.000

SP -> NS 0.455 0.463 0.105 4.323 0.000

SP -> OP 0.337 0.341 0.078 4.328 0.000

NS -> RbBnS 0.387 0.375 0.078 4.944 0.000

RbBnS -> OP 0.258 0.257 0.085 3.018 0.003

NS -> OP 0.383 0.790 0.073 5.237 0.000

Sumber: Data olah (2016)

Koefisien path pengaruh strategic purchasing terhadap relationship between buyer and supplier sebesar 0,518 dengan t-statistic sebesar 6,368 > 1,96.

Hasil ini menyimpulkan terdapat pengaruh positif yang signifikan antara strategic purchasing terhadap relationship between buyer and supplier pada perusahaan manufaktur sampel penelitian. Hal ini berarti peningkatan strategic purchasing, akan meningkatkan secara signifikan relationship between buyer and supplier pada perusahaan manufaktur sampel penelitian dengan level signifikan 0,05.

Koefisien path pengaruh strategic purchasing terhadap negotiation strategy sebesar 0,455 dengan t-statistic sebesar 4,323 > 1,96. Hasil ini menyimpulkan terdapat pengaruh positif yang signifikan antara strategic purchasing terhadap negotiation strategy pada perusahaan manufaktur sampel penelitian. Hal ini berarti peningkatan strategic purchasing, akan meningkatkan secara signifikan negotiation strategy pada perusahaan manufaktur sampel penelitian dengan level signifikan 0,05.

Koefisien path pengaruh strategic purchasing terhadap organization

performance sebesar 0,337 dengan t-statistic sebesar 4,328 > 1,96. Hasil ini

menyimpulkan terdapat pengaruh positif yang signifikan antara strategic

(27)

purchasing terhadap organization performance pada perusahaan manufaktur sampel penelitian. Hal ini berarti peningkatan strategic purchasing, akan meningkatkan secara signifikan organization performance pada perusahaan manufaktur sampel penelitian dengan level signifikan 0,05.

Koefisien path pengaruh negotiation strategy terhadap relationship between buyer and supplier sebesar 0,387 dengan t-statistic sebesar 4,944 > 1,96.

Hasil ini menyimpulkan terdapat pengaruh positif yang signifikan antara negotiation strategy terhadap relationship between buyer and supplier pada perusahaan manufaktur sampel penelitian. Hal ini berarti peningkatan negotiation strategy, akan meningkatkan secara signifikan relationship between buyer and supplier pada perusahaan manufaktur sampel penelitian dengan level signifikan 0,05.

Koefisien path pengaruh relationship between buyer and supplier terhadap organization performance sebesar 0,258 dengan t-statistic sebesar 3,018 > 1,96.

Hasil ini menyimpulkan terdapat pengaruh positif yang signifikan antara relationship between buyer and supplier terhadap organization performance pada perusahaan manufaktur sampel penelitian. Hal ini berarti peningkatan relationship between buyer and supplier, akan meningkatkan secara signifikan organization performance pada perusahaan manufaktur sampel penelitian dengan level signifikan 0,05.

Koefisien path pengaruh negotiation strategy terhadap organization

performance sebesar 0,383 dengan t-statistic sebesar 5,237 > 1,96. Hasil ini

menyimpulkan terdapat pengaruh positif yang signifikan antara negotiation

strategy terhadap organization performance pada perusahaan manufaktur sampel

penelitian. Hal ini berarti peningkatan negotiation strategy, akan meningkatkan

secara signifikan organization performance pada perusahaan manufaktur sampel

penelitian dengan level signifikan 0,05.

(28)

Tabel 4.22. Pengaruh Langsung dan Tidak Langsung

Pengaruh Langsung

Tidak Langsung Melalui Relationship

between Buyer and Supplier  

Tidak Langsung Melalui Negotiation

Strategy Strategic Purchasing →

Organization Performance 0,337 0,518 x 0,258 = 0,134 0,455 x 0,383 = 0,174 Sumber: Data olah (2016)

Tabel 4.22. menunjukkan besarnya pengaruh langsung strategic

purchasing terhadap organization performance lebih besar yaitu 0,337

dibandingkan dengan pengaruh tidak langsung yang melalui relationship between

buyer and supplier maupun melalui negotiation strategy. Hal ini berarti

relationship between buyer and supplier dan negotiation strategy tidak memediasi

penuh (full mediation) pengaruh strategic purchasing terhadap organization

performance pada perusahaan manufaktur di bidang makanan dan minuman yang

dijadikan sampel penelitian. Walaupun strategic purchasing lebih berpengaruh

terhadap organization performance dibandingkan dengan menggunakan variabel

lainnya, tetapi perusahaan saat ini untuk dapat bertahan dalam jangka panjang

dalam persaingan yang ketat perlu adanya relationship dengan supplier dan juga

perlu menggunakan negotiation strategy.

(29)

4.3. Pengujian Hipotesis

Gambar 4.1. Hasil Model Struktural Sumber: Data olah (2016)

Dari hasil pengolahan smartPLS versi 3.0 dapat dilihat pada Gambar 4.1

diatas. Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa pada variabel strategic

purchasing memiliki nilai indikator tertinggi pada SP3 (pelatihan pengembangan

kompetensi) dengan nilai sebesar 0,890. Variabel kedua, relationship between

buyer and supplier memiliki nilai indikator tertinggi pada R1 (kepercayaan

kepada supplier) dengan nilai sebesar 0,831. Variabel ketiga, negotiation strategy

memiliki nilai indikator tertinggi pada NS1 (berbagi informasi perencanaan

bisnis) dengan nilai sebesar 0,850. Pada variabel keempat, organization

performance nilai indikator tertinggi pada OP3 (time to market) dengan nilai

sebesar 0,841. Nilai-nilai pada indikator-indikator yang tertinggi ini memiliki

pengaruh dan menentukan keberhasilan dari penelitian.

(30)

4.4 Pembahasan

Hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan model persamaan struktural (PLS) melalui program smartPLS menghasilkan bahwa keenam hipotesis dapat diterima.

4.4.1 Pengaruh Strategic Purchasing terhadap Relationship between Buyer and Supplier

Hasil pengolahan smartPLS pada penelitian ini menunjukkan nilai estimasi parameter pengaruh strategic purchasing terhadap relationship between buyer and supplier adalah sebesar 0.518 dengan nilai critical ratio sebesar 6.368.

Hal ini menunjukkan bahwa strategic purchasing memberikan pengaruh terhadap terbentuknya relationship between buyer and supplier. Indikator pelatihan pengembangan kompetensi memiliki Loading Factor terbesar yaitu 0,890 pada variabel strategic purchasing dan indikator kepercayaan kepada supplier memiliki Loading Factor terbesar sebesar 0,831 pada variabel relationship between buyer and supplier. Hal ini dapat diartikan bahwa pelatihan pengembangan kompetensi yang memiliki Loading Factor yang besar yang dimana memiliki nilai terbesar dalam faktor membangun kepercayaan kepada supplier sehingga kesadaran perusahaan untuk memberikan pelatihan kepada karyawan-karyawannya meningkat agar dapat menjalankan strategic purchasing dengan baik serta terciptanyaa relasi atas adanya kepercayaan yang dapat mendukung strategi perusahaan.

Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian-penelitian sebelumnya yang juga mengungkapkan bahwa strategic purchasing mengambil peranan dalam relationship between buyer and supplier. Strategic purchasing berpengaruh terhadap hubungan supplier dan buyer dalam berkoordinasi dan saling bekerja sama dalam mencapai tujuan perusahaan (Carr & Smetlzer, 1999), serta strategic purchasing berkontribusi dalam membangun dan mengelolah hubungan antara supplier dan buyer untuk keunggulan kompetitif perusahaan (Chen, Paulraja &

Lado, 2004) dan hasil penelitian yang dilakukan oleh Onyanggo et al (2015) juga

mendukung hasil penelitian sebelumnya yang mengatakan bahwa dengan adanya

hubungan yang baik antara supplier dan buyer yang timbul akibat strategic

(31)

purchasing mengakibatkan komunikasi dua arah akan berjalan dengan baik yang dapat meningkatkan kinerja operasional perusahaan. Sehingga hipotesa pertama yaitu strategic purchasing berpengaruh positif terhadap relationship between buyer and supplier dapat diterima.

4.4.2 Pengaruh Strategic Purchasing terhadap Negotiation Strategic

Dari hasil pengolahan smartPLS, didapatkan nilai estimasi parameter pengaruh strategic purchasing terhadap negotiation strategy adalah 0,455 dengan nilai critical ratio sebesar 4,323. Hal ini berarti strategic purchasing memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap negotiation strategy. Indikator pelatihan pengembangan kompetensi memiliki Loading Factor terbesar yaitu 0,890 pada variabel strategic purchasing dan indikator berbagi informasi perencanaan bisnis memiliki Loading Factor terbesar sebesar 0,850 pada variabel negotiation strategy. Hal ini dapat diartikan bahwa pelatihan pengembangan kompetensi yang memiliki Loading Factor yang besar yang dimana memiliki nilai terbesar dalam faktor meningkatkan information sharing berkaitan perencanaan bisnis antara perusahaan dengan supplier.

Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh

Thrulogachantar & Zailani (N.d) yang dalam penelitiannya pada 158 perusahaan

manufaktur yang berada di Malaysia bahwa strategic purchasing berdampak pada

strategi negosiasi karena negosiasi digunakan untuk mengurangi gap antara

supplier dan buyer untuk memenuhi kebutuhan kedua pihak yang terlibat. Selain

itu negosiasi juga sebagai alat komunikasi untuk mencapai kesepakatan antara

supplier dan buyer mengenai kepentingan masing-masing pihak yang terlibat,

yang bukan hanya mengenai data dan intuisi tetapi lebih kearah kedua pihak

saling mengerti mengenai apa yang diinginkan untuk mencapai kesepakatan

bersama untuk mencapai tujuan perusahaan. Strategic purchasing memiliki

dampak terhadap strategi negosiasi untuk mencapai kesepakatan bersama diantara

pihak-pihak yang terlibat (Haggen, Kedia & Oubre, N.d). Carr & Smeltzer (1999)

dalam penelitiannya mengatakan bahwa organisasi yang memiliki strategic

purchasing juga memiliki tingkatan kerjasama dengan supplier yang tinggi dalam

hal menciptakan negosiasi yang saling menguntungkan pihak-pihak yang terlibat.

(32)

Sehingga hipotesa kedua yaitu strategic purchasing berpengaruh positif terhadap negotiation strategy dapat diterima.

4.4.3 Pengaruh Strategic Purchasing terhadap Organization Performance Dari hasil pengolahan smartPLS, didapatkan nilai estimasi parameter pengaruh strategic purchasing terhadap organization performance adalah 0,337 dengan nilai critical ratio sebesar 4,328. Hal ini berarti strategic purchasing memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap organization performance.

Indikator pelatihan pengembangan kompetensi memiliki Loading Factor terbesar yaitu 0,890 pada variabel strategic purchasing dan indikator time to market memiliki Loading Factor terbesar sebesar 0,841 pada variabel organization performance. Hal ini dapat diartikan bahwa pelatihan pengembangan kompetensi yang memiliki Loading Factor yang besar yang dimana memiliki nilai terbesar dalam faktor meningkatkan waktu produk baru untuk masuk ke pasar sehingga dapat menarik minat dari customer dan dapat meningkatkan kinerja perusahaan.

Program training atau pelatihan didalam perusahaan memang sangat diperlukan karena pelatihan memiliki banyak manfaat seperti meningkatkan kemampuan yang diperlukan, mencegah kecelakaan melalui pelatihan keselamatan serta memberikan pendidikan professional dan teknis (Makabira & Waiganjo, 2014).

Dengan membandingkan nilai mean serta loadingnya, maka indikator pelatihan pengembangan kompetensi memberikan kontribusi tersebar atau paling menggambarkan variabel strategic purchasing tetapi dalam prakteknya masih kurang maksimal dilakukan di dalam perusahaan makanan dan minuman di Jawa Timur. Selain variabel strategic purchasing, indikator-indikator pada variabel organization performance seperti efisiensi biaya, time to market, dan fleksibiltas kepada customer memiliki kontribusi yang besar pada peningkatan kinerja perusahaan tetapi dalam prakteknya juga masih kurang dimaksimalkan yang dapat dilihat dengan besarnya nilai loading setiap indikator tetapi mean yang diperoleh belum maksimal.

Hasil penelitian ini di dukung oleh penelitian-penelitian sebelumnya yang

mengatakan bahwa kinerja organisasi dipengaruhi oleh strategic purchasing yang

dilakukan oleh Narasimhan & Das (2001) pada perusahaan manufaktur yang

(33)

mengatakan bahwa strategic purchasing dapat meningkatkan value yang dimiliki oleh perusahaan, serta strategic purchasing menjadi kunci bagi keberhasilan sebuah perusahaan karena proses strategic purchasing dapat membantu dalam meningkatkan profit, memperbesar market share dan peningkatan dalam bidang teknologi yang dimiliki (Maloni & Benton, 2000). Pemenuhan kebutuhan dari customer yaitu dengan memberikan produk yang berkualitas serta harga yang kompetitif sehingga perusahaan menyadari pentingnya fungsi purchasing yang merupakan bagian dari strategic planning untuk membantu dalam mencapai tujuan perusahaan baik dari segi finansial yaitu mendapatkan profit hingga operasional yang dicerminkan dengan produk yang berkualitas, dibuktikan dengan adanya penelitian yang dilakukan menggunakan sampel sebanyak 175 responden bagian purchasing di Amerika Serikat yang menyimpulkan bahwa kinerja perusahaan dipengaruhi oleh strategic purchasing yang dimiliki (Carr & Pearson, 2002).

Kinerja perusahaan yang baik juga akan tercapai ketika perusahaan memiliki kemampuan yang unik dibandingkan dengan kompetitornya, kemampuan yang unik ini dicerminkan dengan adanya kegiatan strategic purchasing yang unik pula dimana berorientasi pada tujuan perusahaan sehingga perusahaan dapat bertahan dalam jangka waktu yang panjang (Ramsey, 2001).

Dan penelitian ini juga bertolak belakang dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rossetti & Choi (2005) yang mengatakan bahwa strategic purcasing tidak membantu dalam mencapai kinerja perusahaan yang baik melainkan strategic purchasing membuat perusahaan dan supplier menjadi kompetitor di dalam pasar yang sama. Sehingga hipotesa ketiga yaitu strategic purchasing berpengaruh positif terhadap organization performance dapat diterima.

4.4.4 Pengaruh Negotiation Strategic terhadap Relationship between Buyer and Supplier

 Hasil pengolahan smartPLS pada penelitian ini menunjukkan nilai estimasi parameter pengaruh negotiation strategy terhadap relationship between buyer and supplier adalah sebesar 0,387 dengan nilai critical ratio sebesar 4,944.

Hal ini menunjukkan bahwa negotiation strategy memberikan pengaruh terhadap

Referensi

Dokumen terkait

Kajian Ditinjau dari kekerabatan bahasa Jawa tersebut membagi bunyi konsonan dalam Yogyakarta, bahasa Jawa dan bahasa Indonesia bahasa Indonesia menjadi 23 konsonan yaitu

Faktor keluarga yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pengaruh pihak-pihak yang memiliki hubungan darah secara langsung serta kerabat dekat terhadap status anak

Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang

Penelitian yang dilakukan memiliki tujuan untuk meninjau pengaruh pengaruh atribut supermarket terhadap motif belanja hedonik dan motif belanja utilitarian serta loyalitas

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan survey yang bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan motivasi ibu tentang pencegahan

Diharapkan dengan melakukan perebusan menggunakan daun mayana ( S. scutellarioides L), kandungan lemak yang dikandung fillet ayam broiler menjadi berkurang sehingga

Pelaksanaan karakter buku ajar kurikulum 2013 revisi 2016 kelas I semester 2 di SD Islam Moh Hatta secara umum dalam kegiatan pembelajaran sebenarnya siswa tidak hanya

Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa manfaat Customer Relationship Management dalam wujud membership yang meliputi financial benefits, social benefits dan structural