4. HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS
4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian
Objek dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang makanan dan minuman yang berada di Jawa Timur. Objek dari penelitian ini dibatasi oleh peneliti dimana perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang makanan dan minuman harus tergolong dalam kategori industri sedang dengan tenaga kerja berjumlah 20 sampai 99 orang dan tergolong industri besar dengan jumlah tenaga kerja diatas 100 orang.
Peneliti mencari target perusahaan melalui daftar perusahaan yang dimiliki Telkom (yellow pages) dan informasi dari internet. Peneliti kemudian meminta karyawan bagian purchasing dari perusahaan untuk menjadi responden melalui telepon, e-mail, atau kunjungan langsung. Selain itu peneliti menerima bantuan dari alumni akuntansi bisnis yang sebagian besar bekerja pada perusahaan atau memiliki perusahaan yang sesuai dengan kriteria objek dan memberikan kuesioner tersebut kepada karyawan bagian purchasing untuk mengisi kuesioner yang peneliti berikan selain itu peneliti juga menerima bantuan dari rekan kerja yang pernah bekerja di bank sehingga memiliki data-data perusahaan yang peneliti butuhkan dan rekan kerja tersebut memiliki hubungan dengan pihak-pihak yang bekerja di perusahaan atau memiliki perusahaan yang memenuhi kriteria objek. Peneliti menggunakan media elektronik (google form) dalam pengisian kuesioner.
Jumlah tanggapan awal yang peneliti terima sejumlah 88, dimana 67
tanggapan didapat langsung dari google form, 6 didapatkan dari pengisian tidak
langsung dari responden melalui telepon dan sisanya pengisian kuesioner secara
langsung sebesar 15 tanggapan. Total kuesioner yang disebarkan oleh peneliti
adalah sebanyak 125 kuesioner. Tidak semua responden yang peneliti temui
sesuai dengan kriteria, seperti jumlah karyawan dalam perusahaan dibawah 20
orang. Hasil dari keseluruhan tanggapan, 8 responden dari google form tidak
dapat digunakan karena pengisian kuesioner yang tidak lengkap.
4.1.1 Deskripsi Profil Perusahaan
Berikut adalah deskriptif profil perusahaan dari 80 perusahaan manufaktur yang bergerak dalam bidang makanan dan minuman yang berada di Jawa Timur yang menjadi sampel penelitian:
Tabel 4.1. Deskriptif Sifat Perusahaan Sifat Perusahaan Jumlah %
Terbuka 23 28.8
Tertutup 57 71.3
TOTAL 80 100.0
Sumber: Data olah (2016)
Tabel 4.2. Deskriptif Golongan Industri Golongan Industri Jumlah % Industri Sedang (20-99 0rang) 26 32.5 Industri Besar (>100 0rang) 54 67.5
TOTAL 80 100.0
Sumber: Data olah (2016)
Berdasarkan tabel 4.1. dari 80 perusahaan yang menjadi sampel dalam
penelitian ini didominasi oleh perusahaan tertutup yaitu sebanyak 57 perusahaan
(71,3%) dan 23 perusahaan (28,8%) lainnya bersifat terbuka. Selain itu dilihat
berdasarkan golongan industri dalam tabel 4.2. perusahaan yang tergolong
kedalam industri sedang dimana perusahaan tersebut memiliki tenaga kerja
sebanyak 20 sampai 99 orang sebanyak 26 perusahaan (32,5%) dan 54 perusahaan
lainnya (67,5%) tergolong kedalam industri besar dengan jumlah tenaga kerja
sebanyak 100 orang atau lebih sehingga sampel penelitian telah mewakili
perusahaan sesuai dengan kriteria yang peneliti tentukan. Dari data olah tersebut
dapat disimpulkan bahwa perusahaan yang sifatnya tertutup juga mampu bersaing
dengan perusahaan terbuka dilihat dengan banyaknya perusahaan tertutup yang
tergolong ke dalam industri besar atau mampu bersaing dalam skala besar dengan
kompetitor perusahaan yang bersifat terbuka seperti PT Santos Jaya Abadi, PT
Wings Surya dan PT Unilever.
Tabel 4.3. Deskriptif Jenis Industri Jenis Industri Jumlah %
Makanan 37 46.3
Minuman 27 33.8
Makanan & Minuman 16 20.0
TOTAL 80 100.0
Sumber: Data olah (2016)
Tabel 4.4. Deskriptif Lokasi Perusahaan Lokasi Perusahaan Jumlah %
Surabaya 44 55.0
Sidoarjo 8 10.0
Gresik 5 6.3
Pasuruan 6 7.5
Mojokerto 3 3.8
Pandaan 7 8.8
Malang 4 5.0
Lokasi Lainnya 3 3.8
TOTAL 80 100.0
Sumber: Data olah (2016)
Berdasarkan tabel 4.3. dari 80 perusahaan manufaktur yang dijadikan
sampel penelitian 37 perusahaan bergerak dalam industri makanan (46,3%), 27
perusahaan bergerak dalam industri minuman (33,8%) dan sebanyak 16
perusahaan yang bergerak dalam industri makanan dan minuman (16%) sehingga
hasil ini telah mewakili sampel penelitian perusahaan makanan dan minuman
yang peneliti inginkan. Dari tabel 4.4. perusahaan manufaktur yang bergerak
dalam bidang makanan dan minuman yang berada di Jawa Timur, 80 perusahaan
yang dijadikan sampel penelitian diantaranya didominasi oleh perusahaan yang
berlokasi di Surabaya sebanyak 44 perusahaan (55%) hal ini dikarenakan peneliti
yang berdominasi di Surabaya membuat lebih mudah dalam pengambilan sampel
serta mendapatkan jawaban dari responden, dan dikuti oleh Sidoarjo dan Pandaan
yang masing-masing sebanyak 8 perusahaan (10%) dan 7 perusahaan (8,8%),
sedangkan sisanya perusahaan yang berlokasi di Pasuruan sebanyak 6 perusahaan
(7,5%), Gresik sebanyak 5 perusahaan (6,3%), Malang sebanyak 4 perusahaa, dan Mojokerto serta lokasi lainnya masing-masing sebanyak 3 perusahaan (3,8%).
4.1.2 Deskripsi Profil Responden
Berikut adalah deskriptif profil responden dari 80 perusahaan manufaktur yang bergerak dalam bidang makanan dan minuman yang berada di Jawa Timur yang menjadi sampel penelitian:
Tabel 4.5. Deskriptif Profil Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah %
Laki-laki 53 66.3
Perempuan 27 33.8
TOTAL 80 100.0
Sumber: Data olah (2016)
Tabel 4.6. Deskriptif Profil Responden Berdasarkan Lama Bekerja Lama Bekerja Jumlah %
1-3 Tahun 45 56.3
3-5 Tahun 23 28.8
Diatas 5 Tahun 12 15.0
TOTAL 80 100.0
Sumber: Data olah (2016)
Berdasarkan tabel 4.5. dapat diketahui bahwa responden dengan jenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 53 orang (66,3%) dari total keseluruhan responden, sedangkan responden dengan jenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 27 orang (33,8%). Hasil ini memberikan informasi bahwa jumlah karyawan atau staf purchasing yang berjenis kelamin laki-laki yang menjadi responden memberikan kontribusi yang lebih besar dibandingkan dengan staf purchasing yang berjenis kelamin perempuan. Tabel 4.6. menunjukkan bahwa dari 80 responden terdapat 45 karyawan bagian purchasing yang telah bekerja selama 1 sampai 3 tahun (56,3%), 23 karyawan dengan masa kerja 3 sampai 5 tahun (28,8%), dan sisanya sebanyak 12 karyawan telah bekerja lebih dari 5 tahun (5%).
Dengan banyaknya responden yang telah menjadi pegawai tetap didalam divisi
purchasing diasumsikan telah mengetahui dan berpengalaman dalam bidangnya sehingga mampu dalam menjawab pertanyaan ataupun pernyataan yang diberikan oleh peneliti.
4.1.3 Deskripsi Variabel Penelitian
Pada analisis deskripsi ini akan dijelaskan jawaban responden pada masing-masing item pernyataan pada variabel penelitian yaitu Strategic Purchasing, Relationship between Buyer and Supplier, Negotiation Strategy dan Organization performance. Pengukuran diberikan dengan rentang skala satu sampai lima. Variabel-variabel utama diwakili oleh beberapa indikator yang akan dituangkan kedalam pernyataan. Responden diminta untuk memberikan penilaian pada pernyataan-pernyataan terhadap kesesuaian dengan kondisi yang terjadi.
Ukuran proporsional dari tiap variabel dituangkan dalam tabel indeks presepsi responden terhadap variabel-variabel yang telah ditentukan.
Untuk mendapatkan gambaran mengenai variabel penelitian, peneliti menggunakan bantuan software SPSS untuk menghasilkan nilai rata-rata, standar deviasi, Corrected Item-Total Correlation, dan Cronbach's Alpha. Corrected Item-Total Correlation menjelaskan korelasi masing-masing indikator terhadap keseluruhan indikator dalam variabel. Umumnya nilai minimum untuk Corrected Item-Total Correlation adalah lebih besar dari 0,3. Sedangkan, Cronbach's Alpha berfungsi untuk menguji konsitensi pernyataan-pernyataan yang digunakan dalam mengukur variabel. Nilai Cronbach's Alpha yang baik adalah lebih besar dari 0,6.
Deskripsi jawaban responden pada masing-masing variabel penelitian menggunakan nilai rata-rata (mean). Untuk mengkategorikan mean jawaban responden digunakan kategori sebagai berikut:
Tabel 4.7. Kategori Mean Jawaban Responden
Interval Kategori
4,20 – 5,00 Sangat Tinggi
3,41 – 4,20 Tinggi
2,61 – 3,40 Cukup
1,81 – 2,60 Rendah
1,00 – 1,80 Sangat Rendah
Berdasarkan tabel 4.7. setiap jawaban responden akan dihitung mean-nya untuk mengetahui kategori dari variabel yang diberikan dalam bentuk pernyataan.
Untuk jawaban responden dengan interval nilai mean sebesar 4,20 hingga 5,00 dikategorikan sangat tinggi, untuk nilai mean 3,41 hingga 4,20 dikategorikan tinggi, untuk nilai mean 2,61 hingga 3,40 dikategorkan cukup, untuk nilai mean 1,80 hingga 2,60 dikategorikan rendah dan untuk nilai mean 1,00 hingga 1,80 dikategorikan sangat rendah.
4.1.3.1 Strategic Purchasing
Variabel Strategic Purchasing (SP) didukung oleh 4 indikator. Indikator- indikator tersebut adalah rencana jangka panjang secara terarah, terlibat dalam perencanaan strategis, pelatihan pengembangan kompetensi dan dukungan terhadap fungsi purchasing.
Table 4.8. Indeks Presepsi Responden terhadap Variabel Strategic Purchasing
Indikator 1 2 3 4 5
Jml % Jml % Jml % Jml % Jml %
Rencana jangka
panjang secara terarah 0 0% 6 7.5% 7 8.8% 44 55% 23 28.8%
BTB= 7.5% TTB = 83.8%
Terlibat dalam
perencanaan strategis 0 0% 4 5.0% 9 11.3% 48 60% 19 23.8%
BTB= 5% TTB = 83.8%
Pelatihan pengembangan kompetensi
0 0% 6 7.5% 14 17.5% 46 57.5% 14 17.5%
BTB= 7.5% TTB = 75%
Dukungan terhadap
fungsi purchasing 0 0% 6 7.5% 11 13.8% 51 63.8% 12 15%
BTB= 7.5% TTB = 78.8%
Sumber: Data olah (2016)
Melihat jawaban responden dalam mengisi kuesioner, indikator rencana jangka panjang yang terarah mendapat tanggapan yang sangat baik dimana 83,8%
setuju dan sangat setuju dengan pernyataan ini sehingga dapat disimpulkan bahwa
hampir semua divisi purchasing didalam perusahaan telah memiliki rencana
jangka panjang berkaitan dengan apa yang perlu mereka lakukan kedepannya sehingga setiap anggota atau staff purchasing mengetahui apa yang mereka akan capai dimasa yang akan datang. Untuk indikator terlibat dalam perencanaan strategis juga mendapat tanggapan yang sangat baik karena responden setuju dan sangat setuju sebanyak 83,8%, salah satu perencanaan strategis bisa berkaitan dengan rencana anggaran dalam divisi purchasing sehingga dalam membeli bahan baku sesuai dengan budget yang diberikan perusahaan sehingga membantu dalam efisiensi.
Indikator pelatihan pengembangan didalam perusahaan mendapat tanggapan dari responden setuju dan sangat setuju sebanyak 75% sehingga dapat disimpulkan bahwa perusahaan menganggap perlu adanya training untuk staff purchasing untuk mengembangkan kemampuan, pengetahuan hingga pengalaman sehingga dapat berkerja secara efektif untuk tujuan perusahaan, walaupun ada juga perusahaan yang belum menerapkan pelatihan untuk karyawan-karyawannya sebanyak 7,5% yang sangat tidak setuju dan tidak setuju serta netral sebanyak 17,5%. Indikator dukungan terhadap fungsi purchasing mendapat tanggapan setuju dan sangat setuju sebanyak 78,8% karena dukungan dari top level management perlu ada untuk mendukung kegiatan divisi purchasing, dukungan bisa berupa keuangan maupun non keuangan seperti top level management yang dapat membantu dalam penyelesaian masalah yang ada didalam divisi purchasing.
Tabel 4.9. Deskripsi Variabel Strategic Purchasing
Indikator Mean Std.
Deviation
Corrected Item-Total Correlation
Cronbach's Alpha Rencana jangka panjang secara terarah 4.00 0.925 0.394
0.762 Terlibat dalam perencanaan strategis 4.04 0.781 0.537
Pelatihan pengembangan kompetensi 3.74 0.876 0.737 Dukungan terhadap fungsi purchasing 3.86 0.857 0.605
Rata-rata nilai Mean 3.91
Sumber: Data olah (2016)
Tabel 4.9. menunjukkan mean jawaban responden pada indikator-indikator dari variabel strategic purchasing tergolong tinggi yaitu berada pada interval 3,41 sampai 4,20. Indikator rencana jangka panjang secara terarah dan terlibat dalam perencanaan strategis memberikan dukungan terbesar bagi variabel strategic purchasing bisa dilihat dari nilai rata-ratanya, yaitu 4,00 dan 4,04. Hal ini berarti bahwa divisi purchasing telah memiliki rencana jangka panjang didalam perusahaan serta telah terlibat dalam perencanaan strategis yang dimiliki oleh perusahaan. Sedangkan untuk indikator pelatihan pengembangan kompetensi memiliki mean sebesar 3,74 yang berarti bahwa divisi purchasing telah mengikuti pelatihan yang memadai dalam pengembangan kompetensi dan indikator dukungan terhadap fungsi purchasing memiliki mean sebesar 3,86 yang berarti fungsi purchasing didalam perusahaan telah mendapat dukungan penuh dari perusahaan.
Dari rata-rata nilai mean secara keseluruhan untuk variabel strategic purchasing tergolong kedalam interval tinggi yang berarti bahwa perusahaan makanan dan minuman yang dijadikan sampel penelitian telah memiliki dan menggunakan strategic purchasing didalam perusahaannya walaupun belum secara maksimal dalam prakteknya seperti pelatihan pengembangan kompetensi yang belum secara maksimal diterapkan di beberapa perusahaan sehingga karyawan atau staff purchasing tidak dapat mengembangkan kemampuan ataupun pengetahuannya yang dibutuhkan dan tidak dapat dipungkiri beberapa divisi purchasing dari perusahaan yang berbeda kurang didukung keberadaannya oleh top level management perusahaan sehingga membuat divisi purchasing tidak dapat bekerja secara maksimal dalam mencapai tujuannya.
Indikator terlibat dalam perencanaan strategis memiliki keseragaman
tanggapan tertinggi dari responden, dimana nilai penyimpangannya paling kecil
yaitu 0,781. Dilihat dari nilai korelasinya terhadap indikator maka indikator
pelatihan pengembangan kompetensi memiliki korelasi paling baik dengan nilai
indikator secara keseluruhan. Hal ini menunjukkan bahwa indikator ini lah yang
paling sesuai dengan variabel. Nilai cronbach’s alpha dari variabel ini cukup
yaitu 0,762, sehingga dapat dikatakan indikator-indikator dalam variabel ini
memiliki konsistensi yang cukup untuk dapat mengukur variabel strategic purchasing.
4.1.3.2 Relationship between Buyer and Supplier
Variabel Relationship between Buyer and Supplier (RbBnS) didukung oleh 4 indikator. Indikator-indikator tersebut adalah kepercayaan kepada supplier, hubungan yang kuat, pemenuhan permintaan dan spesifikasi bahan baku.
Table 4.10. Indeks Presepsi Responden terhadap Variabel Relationship between Buyer and Supplier
Indikator 1 2 3 4 5
Jml % Jml % Jml % Jml % Jml %
Kepercayaan
kepada supplier 0 0% 4 5% 17 21.3% 40 50% 19 23.8%
BTB= 5% TTB = 73.8%
Hubungan yang
kuat 0 0% 2 2.5% 20 25.0% 43 53.8% 15 18.8%
BTB= 2.5% TTB = 72.6%
Pemenuhan
permintaan 0 0% 2 2.5% 15 18.8% 47 58.8% 16 20%
BTB= 2.5% TTB = 78.8%
Spesifikasi bahan
baku 0 0% 2 2.5% 15 18.8% 48 60% 15 18.8%
BTB= 2.5% TTB = 78.8%
Sumber: Data olah (2016)
Melihat jawaban-jawaban dari responden, indikator kepercayaan terhadap
supplier mendapat tanggapan yang baik yaitu sebanyak 73,8% responden setuju
dan sangat setuju untuk pernyataan ini, yang dapat diartikan bahwa supplier yang
digunakan oleh perusahaan dapat dipercaya dan juga supplier yang ada telah
menepati janjinya sesuai dengan kesepakatan sehingga memperlancar kegiatan
produksi didalam perusahaan. Tetapi ada juga supplier yang tidak dapat dipercaya
oleh perusahaan dilihat dengan adanya tanggapan sangat tidak setuju dan tidak
setuju terhadap pernyataan ini sebesar 5% dan netral 21,3% sehingga perusahaan
akan mengalami kesulitan dalam melakukan kegiatan produksi karena supplier yang digunakan tidak dapat dipercaya dan tidak menepati janjinya.
Indikator hubungan yang kuat mendapat tanggapan yang baik dengan responden menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 72,6% sehingga dapat disimpulkan bahwa perusahaan dan supplier memiliki hubungan yang baik yang disebabkan karena kedua belah pihak saling mendapat keuntungan dengan adanya hubungan yang terjalin, tetapi tidak dapat dipungkiri perusahaan yang tergolong industri sedang dan industri besarpun juga bisa memiliki hubungan yang kurang kuat dengan supplier mereka dengan melihat tanggapan tidak setuju sebesar 2,5%
dan netral sebesar 25% sehingga perusahaan dan supplier bisa saja saling tidak bekerjasama didepannya karena ketika perusahaan mendapat supplier yang baru yang lebih memberikan keuntungan maka perusahaan akan mencari dan bekerjasama dengan supplier baru.
Indikator pemenuhan permintaan mendapat tanggapan setuju dan sangat setuju sebesar 78,8% sehingga perusahaan dapat beroperasional dengan baik karena permintaan mendadak dari perusahaan dipenuhi oleh supplier, selain itu ada juga perusahaan yang tidak mendapatkan tanggapan dari supplier ketika meminta permintaan yang mendadak karena ada tanggapan tidak setuju sebanyak 2,5% dan netral sebanyak 18,8% sehingga hal ini akan sangat menganggu kegiatan produksi didalam perusahaan karena ketika membutuhkan bahan baku tidak tersedia dalam waktu yang dibutuhkan oleh perusahaan.
Indikator spesifikasi bahan baku mendapat tanggapan setuju dan sangat
setuju sebanyak 78,8% yang berarti dalam membutuhkan bahan baku, perusahaan
memberikan spesifikasi yang jelas mengenai permintaan bahan yang dibutuhkan
kepada supplier mereka sehingga ketika bahan sampai ke perusahaan maka
perusahaan akan dapat melakukan produksi karena telah sesuai dengan apa yang
dibutuhkan dan mengantisipasi adanya kemunduran proses produksi karena alasan
bahan yang tidak sesuai dengan kebutuhan, selain itu ada juga yang tidak setuju
dengan pernyataan ini sebanyak 2,5% serta netral sebanyak 18,8% yang berarti
bahwa pada saat memintaa bahan baku kepada supplier, perusahaan tidak
memberikan spesifikasi yang jelas mengenai kebutuhan bahan yang mereka
butuhkan dan hal ini berpeluang mengakibatkan keterlambatan dalam produksi
karena supplier akan kebingungan dalam pengirimkan bahan baku yang dibutuhkan perusahaan dan akan membutuhkan waktu untuk menanyakan secara jelas kepada perusahaan mengenai permintaan atau order yang diberikan.
Tabel 4.11. Deskripsi Variabel Relationship between Buyer and Supplier
Indikator Mean Std.
Deviation
Corrected Item-Total Correlation
Cronbach's Alpha Kepercayaan kepada supplier 3.96 0.856 0.614
0.793
Hubungan yang kuat 3.88 0.798 0.674
Pemenuhan permintaan 4.02 0.742 0.476
Spesifikasi bahan baku 3.84 0.680 0.670
Rata-rata Nilai Mean 3.925
Sumber: Data olah (2016)
Tabel 4.11. menunjukkan mean jawaban responden pada indikator-indikator dari variabel relationship between buyer and supplier tergolong tinggi yaitu berada pada interval 3,41 sampai 4,20. Indikator pemenuhan permintaan dan kepercayaan kepada supplier memberikan dukungan terbesar bagi variabel relationship between buyer and supplier bisa dilihat dari nilai rata-ratanya, yaitu 4,02 dan 3,96. Hal ini berarti bahwa pemenuhan permintaan secara mendadak dari divisi purchasing telah dipenuhi atau direspon dengan baik oleh supplier dan juga divisi purchasing telah mempercayai supplier yang ada. Sedangkan untuk indikator spesifikasi bahan baku memiliki mean sebesar 3,84 yang berarti bahwa divisi purchasing telah memberikan spesifikasi bahan baku yang jelas kepada supplier, dan indikator hubungan yang kuat memiliki mean sebesar 3,88 yang dapat diartikan bahwa hubungan antara supplier dan perusahaan sudah cukup kuat.
Dari rata-rata nilai mean secara keseluruhan untuk variabel relationship
between buyer and supplier tergolong kedalam interval tinggi yang berarti bahwa
perusahaan makanan dan minuman yang dijadikan sampel penelitian telah
memiliki hubungan yang terjalin dengan supplier yang perusahaan percayai dalam
memasok bahan baku untuk proses produksi walaupun dalam prakteknya masih
ada perusahaan yang belum memiliki hubungan yang baik dengan supplier
dikarenakan berbagai alasan seperti supplier yang tidak menepati janjinya sehingga membuat perusahaan kurang dapat mempercayai supplier yang digunakan. Indikator spesifikasi bahan baku memiliki keseragaman tanggapan tertinggi dari responden, dimana nilai penyimpangannya paling kecil yaitu 0,680.
Dilihat dari nilai korelasinya terhadap indikator maka indikator hubungan yang kuat memiliki korelasi paling baik dengan nilai indikator secara keseluruhan. Hal ini menunjukkan bahwa indikator ini lah yang paling sesuai dengan variabel. Nilai cronbach’s alpha dari variabel ini cukup yaitu 0,793, sehingga dapat dikatakan indikator-indikator dalam variabel ini memiliki konsistensi yang cukup untuk dapat mengukur variabel relationship between buyer and supplier.
4.1.3.3 Negotiation Strategy
Variabel negotiation strategy (NS) didukung oleh 3 indikator. Indikator- indikator tersebut adalah berbagi informasi perencanaan bisnis, kerjasama pengembangan produk dan pengendalian bahan baku.
Table 4.12. Indeks Presepsi Responden terhadap Variabel Negotiation Strategy
Indikator 1 2 3 4 5
Jml % Jml % Jml % Jml % Jml %
Berbagi informasi
perencanaan bisnis 0 0% 8 10% 23 28.8% 42 52.5% 7 8.8%
BTB= 10% TTB = 61.3%
Kerjasama
pengembangan produk 0 0% 8 10% 30 37.5% 32 40% 10 12.5%
BTB= 10% TTB = 52.5%
Pengendalian bahan
baku 0 0% 4 5% 29 36.3% 39 48.8% 8 10%
BTB= 5% TTB = 58.8%
Sumber: Data olah (2016)
Berdasarkan data olah oleh peneliti yang berkaitan dengan persepsi
responden terhadap variabel negotiation strategy, indikator berbagi informasi
perencanaan bisnis mendapat tanggapan setuju dan sangat setuju sebanyak 61,3%,
walaupun jika dibandikan dengan indikator-indikator dari variabel lainnya, indikator berbagi informasi mengenai perencanaan bisnis mendapat tanggapan yang lebih kecil. Tetapi dengan tanggapan setuju dan sangat setuju yang lebih dominan, maka perusahaan-perusahaan yang menjadi sampel penelitian telah melakukan sharing information mengenai perencanaan bisnis mereka sehingga supplier akan mengetahui mengenai apa yang akan dibutuhkan oleh perusahaan kedepannya dan membuat supplier lebih dapat mengantisipasi mengenai kebutuhan yang jumlahnya bertambah ataupun jika terjadi pergantian bahan baku yang dibutuhkan. Indikator ini juga mendapat tanggapan yang kurang baik dengan hasil jawaban responden sebesar 10% yang tidak setuju dan netral sebanyak 28,8% yang berarti bahwa perusahaan merasa tidak perlu dalam melakukan pertukaran informasi mengenai perencanaan bisnis mereka dengan supplier.
Dalam melibatkan supplier dalam pengembangan produk banyak dilakukan oleh perusahaan terlihat dengan indikator kerjasama pengembangan produk mendapat tanggapan setuju dan sangat setuju sebanyak 52,5%. Tetapi hasil ini hampir sama dengan perusahaan-perusahaan yang tidak atau belum melibatkan supplier mereka dalam pengembangan produk karena perusahaan merasa dalam mengembangkan produk baru dapat dilakukan sendiri tanpa melibatkan pihak luar. Begitu juga dalam pengendalian bahan baku, meskipun lebih dari 50% merasa perlu melibatkan supplier dalam pengendalian bahan baku (58,8%), ada juga perusahaan yang tidak melibatkan supplier mereka dalam proses ini walaupun golongan perusahaan termasuk kedalam industri besar sehingga proses pengendalian hanya dilakukan oleh perusahaan sendiri.
Tabel 4.13. Deskripsi Variabel Negotiation Strategy
Indikator Mean Std.
Deviation
Corrected Item-Total Correlation
Cronbach's Alpha Berbagi informasi perencanaan bisnis 3.56 0.812 0.715
0.815 Kerjasama pengembangan produk 3.48 0.838 0.661
Pengendalian bahan baku 3.60 0.755 0.627
Rata-rata Nilai Mean 3.54
Sumber: Data olah (2016)
Tabel 4.13. menunjukkan mean jawaban responden pada indikator-indikator dari variabel negotiation strategy tergolong tinggi yaitu berada pada interval 3,41 sampai 4,20. Indikator pengendalian bahan baku memberikan dukungan terbesar bagi variabel negotiation strategy bisa dilihat dari nilai rata-ratanya, yaitu 3,60.
Hal ini berarti bahwa perusahaan telah melibatkan supplier yang ada dalam pengendalian bahan baku yang dibutuhkan. Sedangkan untuk berbagi informasi perencanaan bisnis memiliki mean sebesar 3,56 yang berarti bahwa divisi purchasing dalam supplier telah saling berbagi informasi mengenai perencanaan bisnis yang ada dan untuk indikator kerjasama pengembangan produk memiliki mean sebesar 3,48 yang berarti bahwa perusahaan telah melibatkan supplier yang ada dalam pengembangan produk perusahaan.
Dari rata-rata nilai mean secara keseluruhan untuk variabel negotiation strategy tergolong kedalam interval tinggi yang berarti bahwa perusahaan makanan dan minuman yang dijadikan sampel penelitian telah melakukan strategi negosiasi dengan supplier dalam mendapatkan apa yang perusahaan inginkan.
Walaupun tergolong kedalam kategori tinggi, negotiation strategy belum secara maksimal digunakan, karena masih adanya perusahaan yang tidak melakukan pertukaran informasi yang dibutuhkan dengan supplier sehingga proses negosiasi tidak bisa dilakukan. Serta perusahaan masih menganggap dirinya mampu untuk bekerja sendiri dalam pengembangan produknya tanpa melibatkan supplier kedalam proses internal perusahaan, sehingga keberadaan supplier kurang dimaksimalkan.
Indikator pengendalian bahan baku memiliki keseragaman tanggapan tertinggi dari responden, dimana nilai penyimpangannya paling kecil yaitu 0,755.
Dilihat dari nilai korelasinya terhadap indikator maka indikator berbagi informasi
perencanaan bisnis memiliki korelasi paling baik dengan nilai indikator secara
keseluruhan. Hal ini menunjukkan bahwa indikator ini lah yang paling sesuai
dengan variabel. Nilai cronbach’s alpha dari variabel ini cukup yaitu 0,815,
sehingga dapat dikatakan indikator-indikator dalam variabel ini memiliki
konsistensi yang cukup untuk dapat mengukur variabel negotiation strategy.
4.1.3.4 Organization Performance
Variabel organization performance (OP) didukung oleh 5 indikator.
Indikator-indikator tersebut adalah efisiensi biaya, pengiriman tepat waktu, time to market, product quality dan fleksibilitas kepada customer.
Table 4.14. Indeks Presepsi Responden terhadap Variabel Organization Performance
Indikator 1 2 3 4 5
Jml % Jml % Jml % Jml % Jml %
Efisiensi biaya 5 6.3% 6 7.5% 25 31.3% 32 40% 12 15%
BTB= 13.8% TTB = 55%
Pengiriman tepat
waktu 1 1.3% 3 3.8% 29 36.3% 38 47.5% 9 11.3%
BTB= 5.1% TTB = 58.8%
Time to market
0 0% 3 3.8% 32 40% 35 43.8% 10 12.5%
BTB= 3.8% TTB = 56.3%
Product Quality
0 0% 2 2.5% 12 15% 51 63.8% 15 18.8%
BTB= 2.5% TTB = 82.6%
Fleksibilitas kepada
customer
1 1.3% 1 1.3% 28 35% 40 50% 10 12.5%
BTB= 2.6% TTB = 62.5%