4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Karakteristik Responden
Karakteristik responden berdasarkan data sebanyak 100 kuesioner yang telah disebar pada responden dan memenuhi syarat untuk diteliti adalah sebagai berikut:
Tabel 4.1.
Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
Usia Frekuensi Persentase
17-25 tahun 68 68.0
26-34 tahun 16 16.0
35-43 tahun 7 7.0
>43 tahun 9 9.0
Total 100 100.0
Sumber: Lampiran 3
Berdasarkan Tabel 4.1. diketahui bahwa responden yang ada 68% dengan usia 17-25 tahun, Jadi dapat diketahui bahwa konsumen Blackberry Gemini di Surabaya sebagian besar berusia 17-25 tahun. Karena di usia rasa ingin tahu akan teknologi sangat tinggi. Anak muda jaman sekarang lebih cepet menerima informasi mengenai gedget – gedget terbaru . Rasa ingin tahu ini menjadikan anak muda tersebut ingin memiliki gadget baru tersebut dan Desain Blackberry Gemini terlihat premium dengan warna hitam.
Tabel 4.2.
Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir
Pendidikan Frekuensi Persentase
SMU 45 45.0
Diploma 11 11.0
S1 42 42.0
S2/S3 2 2.0
Total 100 100.0
Berdasarkan Tabel 4.2. diketahui bahwa responden yang ada 45% dengan pendidikan terakhir SMU. Jadi dapat diketahui bahwa konsumen Blackberry Gemini di Surabaya sebagian besar pendidikan terakhir SMU. Dikarena harga yang murah dan juga kebanyakan anak muda hanya mementingkan fitur Blackberry massanger dan aplikasi jejaring sosial seperti : Facebook atau Tweeter. Kemudian model Blackberry Gemini kecil sehingga ringgan dibawa atau disimpan dikantong.
Tabel 4.3.
Karakteristik Responden Berdasarkan Penghasilan Per Bulan
Penghasilan Frekuensi Persentase
Rp. 2.000.000 – Rp. 4.000.000 44 44.0
Rp. 4.000.001 – Rp. 6.000.000 33 33.0
>Rp. 6.000.001 23 23.0
Total 100 100.0
Sumber: Lampiran 3
Berdasarkan Tabel 4.3. konsumen Blackberry Gemini di Surabaya sebagian besar mempunyai penghasilan per bulan Rp. 2.000.000 – Rp. 4.000.000. Dengan penghasilan tersebut Blackberry Gemini diposisikan sebagai produk “low end”
sehingga bukan orang-orang yang memiliki pendapatan yang berlebih dapat memiliki Blackberry tetapi dengan Blackberry Gemini orang yang berpenghasilan sekitar Rp.2.000.000,00 - Rp.4.000.000,00 dapat memiliki produk Blackberry juga
Tabel 4.4.
Karakteristik Responden Berdasarkan Usia dibanding Pendidikan terakhir
Keterangan Pendidikan terakhir
USIA SMU Diploma S1 S2/S3 Total
17-25 tahun 35 - 33 - 68
26-34 tahun - 8 8 - 16
35-43 tahun 3 3 1 - 7
>43 tahun 7 - - 2 9
Total 45 11 42 2
Dari tabel 4.4 diketahui pada usia 17 – 25 tahun dengan pendidikan terakhir SMU dan S1 adalah jumlah terbanyak sekitar 35 responden SMU dan 33 responden S1 dengan ini diketahui usia dan pendidikan terakhir sangat cocok untuk digunakan dan mudah dimengerti penggunaan fitur – fitur dari produk Blackberry. Selain itu jika di hubungkan perilaku pelanggan dengan repurchase pada usia 17 - 25 tahun ada 2 perbedaan dalam pengambilan keputusan dalam pembelian produk Blackberry.
a. Pada pendidikan SMA, Sebagian besar pengambil keputusan akhir dalam pembelian di tentukan oleh orang tua. Tentunya sebagai orang tua kebanyakan akan mencari dan memberikan gadget dengan harga yang murah tetapi fitur yang disediakan lengkap. Sehingga Blackberry Gemini sebagai pilihan.
b. Pada pendidikan S1 , sebagian besar pengambil keputusan akhir dalam pembelian ditentukan oleh dirinya sendiri atau disesuaikan dengan budget yang dimilikinya. Apalagi bagi New Customer yang ingin melakukan transisi ke gadget Smartphone akan mencoba produk Blackberry dari harga yang termurah terlebih dahulu. Jika sudah mendapat kepuasan dan manfaat dari produk Blackberry Gemini. Ini dapat menarik emosional customer untuk melakukan pembelian ulang atau mengupgrade Blcakberrynya dengan type yang berbeda dan juga dapat mempengaruhi orang-orang sekitarnya untuk membeli Blackberry.
Tabel 4.5. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia dibanding Penghasilan Per Bulan
Keterangan Usia
Penghasilan (Ribu) 17-25 26-34 35-43 >43
Rp. 2.000 –4.000. 43 1 - - 44
Rp. 4.000 – Rp. 6.000 20 10 3 - 33
> Rp. 6.000 5 5 4 9 23
68 16 7 9
Dari Tabel 4.5 diketahui rata-rata pada usia 17-25 tahun memiliki penghasil sekitar Rp 2.000.000,00 – Rp 4.000.000, 00 . Dengan dilihat dari sisi penghasilan, konsumen memiliki daya beli untuk produk Blackberry Gemini dengan harga kurang dari Rp.2.000.000,00. Seperti yang diketahui produk Blackberry bukanlah barang yang murah untuk dimiliki namun Blackberry mampu menjawabnya dengan blackberry Gemini. Positioning Blackberry Gemini adalah orang – orang yang memiliki penghasilan rata – rata Rp.2.000.000,00 – Rp. 4.000.000,00 dapat memiliki produk Blackberry dan rata-rata Di usia 17 – 25 tahun hal ini dikarena orang – orang dengan usia 17- 25 tahun ini membeli Blackberry dengan uang sakunya bagi yang masih bersekolah atau berkuliah dan juga disesuai dengan budget yang dimilikinya.
Tabel 4.6.
Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan
Pekerjaan Frekuensi Persentase
Pegawai negeri 27 27.0
Pegawai swasta 42 42.0
Wiraswasta 13 13.0
Profesional 18 18.0
Total 100 100.0
Sumber: Lampiran 3
Berdasarkan Tabel 4.6. Konsumen Blackberry Gemini di Surabaya sebagian besar bekerja sebagai pegawai swasta sebesar 42%. Dikarena Blackberry Gemini ini sangat menunjang aktivitas para pegawai swasta dalam bekerja dan cepat dalam mendapatkan informasi, misal : email dan browsing. Di saat ini
4.2. Deskripsi Variabel Penelitian
Penilaian pelanggan terhadap masing-masing variabel penelitian dapat dilihat dari nilai rata-ratanya. Nilai rata-rata hasil jawaban responden terhadap kuesioner pada item-item pertanyaan yang menggambarkan 4 variabel adalah sebagai berikut:
Tabel 4.7 Descriptive Statistics
Keterangan N Mean Std. Deviation
Brand satisfaction 100 3,458 0,417
Affective commitment 100 3,688 0,403
Continuance commitment
100 3,651 0,365
Repurchase intention 100 3,730 0,605
Sumber: Lampiran 4
Bila dilihat dari penilaian rata-rata responden secara keseluruhan mengenai pernyataan brand satisfaction pada Tabel 4.7 yaitu sebesar 3,458. Hal ini menunjukkan rata-rata penilaian responden untuk brand satisfaction pada Blackberry Gemini adalah baik. Sedangkan nilai deviasi standar sebesar 0,417 yang berarti bahwa responden rata-rata memberikan tanggapan yang bervariasi atas pernyataan yang diberikan pada responden mengenai brand satisfaction. Bila dilihat dari penilaian rata-rata responden secara keseluruhan mengenai pernyataan affective commitment pada Tabel 4.5 yaitu sebesar 3,688. Hal ini menunjukkan rata-rata penilaian responden untuk affective commitment pada Blackberry Gemini di Surabaya sudah baik. Sedangkan nilai deviasi standar sebesar 0,403 yang berarti bahwa responden rata-rata memberikan tanggapan yang bervariasi atas pernyataan yang diberikan pada responden mengenai affective commitment.
Bila dilihat dari penilaian rata-rata responden secara keseluruhan mengenai pernyataan continuance commitment pada Tabel 4.5 yaitu sebesar 3,651. Hal ini menunjukkan rata-rata penilaian responden untuk continuance commitment pada Blackberry Gemini di Surabaya baik. Sedangkan nilai deviasi standar sebesar 0,365 yang berarti bahwa responden rata-rata memberikan tanggapan yang bervariasi atas pernyataan yang diberikan pada responden mengenai continuance commitment. Bila dilihat dari penilaian rata-rata responden
secara keseluruhan mengenai pernyataan repurchase intention pada Tabel 4.7 yaitu sebesar 3,730. Hal ini menunjukkan rata-rata penilaian responden untuk repurchase intention pada Blackberry Gemini di Surabaya sudah baik.
Sedangkan nilai deviasi standar sebesar 0,605 yang berarti bahwa responden rata- rata memberikan tanggapan yang bervariasi atas pernyataan yang diberikan pada responden mengenai repurchase intention.
4.3. Uji Validitas dan Reliabilitas 4.3.1. Uji Validitas
Uji validitas dilakukan dengan cara melihat nilai signifikansi, dikatakan valid apabila tingkat signifikansi 0,05 (5%) atau kurang (Ghozali, 2005, p.45).
Tabel 4.8 Uji Validitas Alat Ukur
No. Item Koefisien Korelasi Sig. Keterangan Brand satisfaction
1 .757 .000 Valid
2 .714 .000 Valid
3 .688 .000 Valid
4 .771 .000 Valid
5 .597 .000 Valid
6 .644 .000 Valid
Affective commitment
1 .685 .000 Valid
2 .766 .000 Valid
3 .685 .000 Valid
4 .514 .000 Valid
5 .630 .000 Valid
6 .632 .000 Valid
Continuance commitment
1 .717 .000 Valid
2 .635 .000 Valid
3 .669 .000 Valid
4 .758 .000 Valid
5 .696 .000 Valid
6 .632 .000 Valid
Repurchase
1 .781 .000 Valid
2 .849 .000 Valid
3 .935 .000 Valid
4 .897 .000 Valid
Sumber: Kuesioner yang diolah.
Tabel 4.8 menunjukkan bahwa nilai signifikansi untuk semua item pernyataan lebih kecil dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa semua item kuesioner valid.
5. Uji Reliabilitas
Hasil uji reliabilitas ditunjukkan pada Lampiran, sedangkan ringkasan hasil uji ditunjukkan pada Tabel 4.9.
Tabel 4.9. Uji Reliabilitas dengan Cronbach’s Alpha
Variabel Nilai Cronbach’s
Alpha
Simpulan
Brand satisfaction .673 Reliabel
Affective commitment .764 Reliabel
Continuance commitment .609 Reliabel
Repurchase .738 Reliabel
Sumber: Kuesioner yang diolah
Berdasarkan Tabel 4.9, terlihat nilai cronbach’s alpha dari semua variabel lebih besar dari 0,6 (Ghozali, 2005, p.41). Hal ini menunjukkan bahwa instrumen reliabel dan layak digunakan untuk analisis lebih lanjut.
4.3. Analisis Data 4.3.1. Path Analysis
Path analysis didasarkan pada perhitungan kuatnya hubungan kausal yaitu korelasi atau kovarians dari beberapa konstruk juga hubungan antara variabel eksogen dan variabel endogen digambarkan dalam path model sebagai berikut:
X11 X12 X13
Brand satis
Z13
Affective
e1 1
e2 1 e3 1
e91
e13
Y1 Y2 Y3 Repurchase
e25 1
1
1 e21 1
e22
e23 1
Z14e101
Z23 Z24 Z25
Continuance
e161 e171 e181
Z12e81
e20 1 1
1
1
e4 1 X14 e5 1 X15 e6 1 X16
Z15e111
Z11e71 Z16e121Z26e191
Z22
1
Z21 e151
e141
Y4 1 e24
Gambar 4.1
Full Path Structural Diagram
Dari gambar 4.1 menunjukkan adanya hubungan kausalitas antara variabel eksogen dan variabel endogen yang dirumuskan dalam struktur model sebagai berikut:
Affective commitment = ß Brand Satisfaction Continuance commitment = ß Brand Satisfaction
Repurchase intention = ß1 Affective commitment + ß2 Continuance commitment + §1
4.3.2. Uji Kecocokan Model Pengukuran
Reliabilitas adalah ukuran konsistensi internal dari indikator-indikator sebuah variable bentukan yang menunjukkan derajad sampai di mana masing- masing indikator itu mengindikasikan sebuah variable bentukan yang umum.
Terdapat dua cara yang digunakan yaitu construct reliability dan variance extraxted. Cut off value dari contruct reliability adalah minimal 0,7 sedangkan cut off value untuk variance extracted minimal 0,5. Construct Reliability dan variance extracted didapat dengan rumus:
Construct Reliability =
2 Σεj loading) ed
standardiz (Σ
loading)2 ed
standardiz (Σ
(4.1)
Variance extracted =
j
2 2
loading ed
standardiz Σ
loading ed
standardiz Σ
Keterangan:
1. Standardized loading diperoleh langsung dari standardized loading untuk tiap-tiap indikator
2. j adalah measurement error = 1 – (Σ standardized loading)2 Perhitungan Construct Reliability dan Variance Extracted:
Brand Satisfaction =
762 , 2 2 ) 406 , 4 (
)2 406 , 4 (
= 0,875
Brand Satisfaction =
762 , 2 238 , 3
238 , 3
= 0,540
Affective commitment =
643 , 2 2 ) 486 , 4 (
)2 486 , 4 (
= 0,884
Affective commitment =
643 , 2 357 , 3
357 , 3
= 0,560
Continuance commitment =
465 , 2 2 ) 603 , 4 (
)2 603 , 4 (
= 0,896
Continuance commitment =
465 , 2 535 , 3
535 , 3
= 0,589
Repurchase intention =
151 , 2 1 ) 366 , 3 (
)2 366 , 3 (
= 0,908
Repurchase intention =
151 , 1 849 , 2
849 , 2
= 0,712
Hasil perhitungan construct reliability dan variance extracted masing variabel dapat dapat dilihat pada Tabel 4.10.
Tabel 4.10 Uji Reliabilitas N
o
Item Pernyataa
n
Standardize d loading
Measureme nt Error
(Standardize d loading)2
Construc t Reliabilit
y
Varianc e Extracte
d
1 X11 0.725 0.474 0.526 0.875 0.540
2 X12 0.758 0.425 0.575
3 X13 0.718 0.484 0.516
4 X14 0.76 0.422 0.578
5 X15 0.745 0.445 0.555
6 X16 0.7 0.510 0.490
Jumlah 4.406 2.762 3.238
1 Z11 0.749 0.439 0.561 0.884 0.560
2 Z12 0.717 0.486 0.514
3 Z13 0.776 0.398 0.602
4 Z14 0.724 0.476 0.524
5 Z15 0.778 0.395 0.605
6 Z16 0.742 0.449 0.551
Jumlah 4.486 2.643 3.357
1 Z21 0.786 0.382 0.618 0.896 0.589
2 Z22 0.75 0.438 0.563
3 Z23 0.778 0.395 0.605
4 Z24 0.781 0.390 0.610
5 Z25 0.722 0.479 0.521
6 Z26 0.786 0.382 0.618
Jumlah 4.603 2.465 3.535
1 Y1 0.752 0.434 0.566 0.908 0.712
2 Y2 0.829 0.313 0.687
3 Y3 0.931 0.133 0.867
4 Y4 0.854 0.271 0.729
Jumlah 3.366 1.151 2.849
Sumber: Lampiran 7
Berdasarkan Tabel 4.10 menunjukkan reliabilitas untuk masing-masing konstruk ternyata memenuhi standar nilai reliabilitas semua nilai yang diperoleh di atas cut-off value 0.70 dan variance extracted menunjukkan bahwa semua konstruk memenuhi syarat cut-off value minimal 0.5. Berdasarkan hasil tersebut menunjukkan bahwa item-item yang digunakan untuk mengukur masing-masing variabel memenuhi syarat cut off value, dalam arti secara akurat dan reliabel mengukur masing-masing variabel. Ini berarti bahwa data yang diperoleh sudah dapat digunakan untuk analisis lebih lanjut.
a. Normalitas Sebaran Data
Normalitas data dalam analisis jalur memegang peranan penting, karena analisis jalur sangat peka terhadap penyebaran data. (Ferdinand, 2002:52). Selain itu normalitas data perlu diketahui karena dengan normalitas data tersebut dapat ditentukan metode estimasi yang akan digunakan dalam tahap analisis selanjutnya. Jika asumsi distribusi normal terpenuhi, metode estimasi akan menggunakan Maximum Likelihood (ML), dan jika tidak, maka dapat menerapkan Unweighted Least Square (ULS). Teknik untuk menguji normalitas data pada penelitian ini digunakan kriteria nilai critical ratio (c.r.) dari kemencengan distribusi data (skewness). Nilai C.R tersebut dibandingkan dengan α-0,05 (±1,96). Setelah dibandingkan tidak ada variabel yang tidak memenuhi asumsi kenormalan karena keseluruhan variabel mempunyai Z value<Z tabel (1,96), sehingga dapat dikatakan, data tersebut normal baik secara univariate maupun multivariate.
Tabel 4.11 Hasil uji Normality
Variable min max skew c.r. Zscore
z11 2.000 5.000 .161 .659 ±1.96
z16 3.000 5.000 -.002 -.008 ±1.96
z15 2.000 5.000 -.107 -.438 ±1.96
y4 3.000 5.000 .245 1.000 ±1.96
z26 3.000 5.000 -.069 -.282 ±1.96
z22 3.000 5.000 -.144 -.587 ±1.96
z21 3.000 5.000 -.302 -1.231 ±1.96
x16 2.000 5.000 .117 .478 ±1.96
x15 2.000 5.000 -.086 -.351 ±1.96
Variable min max skew c.r. Zscore
x14 2.000 4.000 -.254 -1.036 ±1.96
y3 2.000 5.000 .292 1.192 ±1.96
z25 2.000 4.000 -.375 -1.655 ±1.96
z23 3.000 5.000 .345 1.407 ±1.96
z24 2.000 5.000 .017 .070 ±1.96
x13 2.000 4.000 -.219 -.894 ±1.96
y1 2.000 5.000 .152 .619 ±1.96
y2 2.000 5.000 .110 .449 ±1.96
z12 2.000 4.000 -.237 -.967 ±1.96
z14 2.000 5.000 -.256 -1.044 ±1.96
z13 2.000 5.000 -.180 -.736 ±1.96
x11 2.000 5.000 -.245 -1.001 ±1.96
x12 2.000 5.000 .239 .974 ±1.96
Sumber: Lampiran 4
b. Evaluasi atas outliers
Outliers adalah observasi atau data yang memiliki karakteristik unik yang terlihat sangat jauh berbeda dari observasi-observasi lainnya dan muncul dalam bentuk nilai ekstrim baik untuk sebuah variabel tunggal atau variabel kombinasi (Hair et al., dalam Ferdinand, 2002:97). Analisa outliers dapat dilakukan terhadap univariate outliers maupun multivariate outliers. Analisis terhadap outliers dari penelitian ini dapat dilihat dari nilai z.
1. Univariate outliers
Tabel 4.12
Z Score Untuk Evaluasi Univariate Outliers
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation Zscore: brand satisfaction 100 -2.29533 1.70509 .0000000 1.00000000 Zscore: komitmen afektif 100 -2.52373 2.01214 .0000000 1.00000000 Zscore: komitmen continu 100 -1.78271 2.32365 .0000000 1.00000000 Zscore: repurchase 100 -2.03380 2.09994 .0000000 1.00000000
Valid N (listwise) 100
Sumber: Lampiran 4
Pada Tabel 4.12 menunjukkan data yang telah distandarisir dalam bentuk z score mempunyai rata-rata (mean) adalah nol (0) dengan standard deviasi sebesar 1. Dari hasil ini, terlihat bahwa tidak ada nilai minimum maupun maksimun tidak ada yang lebih tinggi dari ± 3 karena itu disimpulkan bahwa tidak ada univariate outlier dalam data yang dianalisis ini.
2. Multivariate outliers
Uji terhadap multivariate outlier dilakukan dengan menggunakan kriteria jarak Mahalanobis pada tingkat p < 0,05. Kriteria yang digunakan adalah nilai chi square pada derajat bebas (degree of freedom) sebesar 50 yaitu jumlah variabel yang digunakan dalam penelitian ini pada tingkat signifikansi <0,05. Nilai Mahalanobis Distance 2 (50,0.05) = 67,505. Hal ini berarti semua kasus yang mempunyai Mahalanobis Distance yang lebih besar dari 67,505 adalah multivariate outliers. (Hair, et al, dalam Ferdinand, 2002:103).
Tabel 4.13
Evaluasi Multivariate Outliers
Minimum Maximum Mean Std. Deviation N
Predicted Value 44.53 60.89 50.50 2.570 100
Std. Predicted Value -2.321 4.043 .000 1.000 100
Standard Error of Predicted Value
3.195 13.566 6.369 1.725 100
Adjusted Predicted Value 42.94 60.59 50.52 3.052 100
Residual -50.359 49.452 .000 28.897 100
Std. Residual -1.707 1.676 .000 .980 100
Stud. Residual -1.751 1.723 .000 1.004 100
Deleted Residual -52.961 52.491 -.017 30.348 100
Stud. Deleted Residual -1.770 1.742 .000 1.008 100
Mahal. Distance .171 19.947 3.960 2.909 100
Cook's Distance .000 .055 .010 .011 100
Centered Leverage Value .002 .201 .040 .029 100
a. Dependent Variable: no
Sumber: Lampiran 4
Hasil output pada Tabel 4.10 tidak ada satupun kasus yang memiliki Mahalanobis Distance di atas 67,505, maka dapat disimpulkan tidak ada multivariate outlier dalam data.
c. Evaluasi Multikolinearitas
Peneliti perlu mengamati matriks kovarians untuk mengetahui apakah terdapat multikolinieritas atau singularitas dalam sebuah kombinasi variabel. Determinan dari matriks kovarians sampel adalah sebesar 2,693 yang masih lebih besar dari nol. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat multikolinieritas ataupun singularitas pada semua konstruk yang digunakan dalam penelitian ini.
4.3.3. Model Struktural dan Analisis Persamaan Struktural
Setelah melakukan analisis terhadap karakteristik responden dan melakukan pengolahan data berdasarkan isian responden terhadap kuesioner yang dibagikan dengan menggunakan program AMOS 5. Adapun hasil path diagram adalah sebagai berikut:
X11 X12 X13
Brand satis
Z13
.72 6
Affective
e1 1
e2 1 e3 1
e91
e13
Y1 Y2 Y3 Repurchase
e25 1
1 1.176 1 1.414
e21 1
e22
e23 1
Z14e101.5
84
Z23 Z24 Z25
Continuance
e161 e171 e181
Z12e81
e20 1 0.797
1.096 1
1
1.215
.01
66 1
1
.673
.164
.491
.613 e4 1 X14
e5 1 X15 e6 1 X16
24 0.5 0.9
4 9 0
.75
5
Z15e111
Z11e71 Z16e121
76 0.
3
.581 .598
Z26
20 .8
e191
Z22
.937
Z21
1.109
e151
e141
Y4 1.228
e24 1 Chi-square = 55,397 Probability = .278 CMIN/DF = 0,270 GFI = .974 TLI = .902 CFI = .924 RMSEA = .074
.430
Gambar 4.2
Koefisien Regresi Estimate
Setelah estimasi dari koefisien path analysis dilakukan, maka model struktural berdasarkan koefisien regresi dan konstruk model teoritis dapat dibangun adalah sebagai berikut:
Affective commitment = 0,673 Brand Satisfaction Continuance commitment = 0,164 Brand Satisfaction
Repurchase intention = 0,491 Affective commitment + 0,613 Continuance commitment + 0,439 brand satisfaction
Koefisien regresi brand satisfaction (b) sebesar 0,673 menunjukkan bahwa brand satisfaction mempunyai pengaruh positif terhadap affective commitment dan koefisien regresi brand satisfaction (b) sebesar 0,164 menunjukkan bahwa brand satisfaction mempunyai pengaruh positif terhadap continuance commitment. Koefisien regresi affective commitment (b1) sebesar 0,491 menunjukkan bahwa affective commitment mempunyai pengaruh positif terhadap repurchase intention. Koefisien regresi continuance commitment (b2) sebesar 0,613 menunjukkan bahwa continuance commitment mempunyai pengaruh positif terhadap repurchase intention dan koefisien regresi brand satisfaction (b3) sebesar 0,439 menunjukkan bahwa brand satisfaction mempunyai pengaruh positif terhadap repurchase intention
Brand satis
Affective
e13
Repurchase
e25 1
Continuance 1 1
.552
.225
.561
.420
Chi-square = 55,397 Probability = .278 CMIN/DF = 0,270 GFI = .974 TLI = .902 CFI = .924 RMSEA = .074
.404
Gambar 4.3
Koefisien Regresi Standardized
Koefisien regresi dari persamaan standart menunjukkan korelasi antar variabel bebas terhadap variabel terikat. Dari koefisien-koefisien tersebut dapat dilihat bahwa nilai standardized affective commitment lebih besar dibandingkan dengan variabel continuace commitment, hal ini berarti bahwa affective commitment mempunyai pengaruh dominan terhadap repurchase intention.
4.3.4. Analisis Kesesuaian Model dan Pengujian Hipotesis a. Analisis Kesesuaian Model (Goodness of Fit Test)
Melalui tahapan pencarian dan pengembangan sebuah model dengan justifikasi yang kuat sebagai model yang dipakai untuk membuktikan kausalitas teoritis melalui uji coba data empirik untuk menunjukkan bagaimana pengaruh brand satisfaction, affective commitment, continuance commitment terhadap repurchase intention.
Sebagai perbandingan, dilakukan pemeriksaan terhadap indeks-indeks goodness of fit yang lain (Lampiran 6). Hasil pemeriksaan indeks-indeks goodness of fit tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.12.
Tabel 4.14 Goodness of Fit Index Derajat bebas (DF) = 205
Goodness Of Fit Index
Cut-off value Hasil model Keterangan
Chi-square < 67,505 55.397 Fit
Probability level > 0,05 0,278 Fit
RMSEA ≤ 0,08 0,074 Fit
GFI ≥ 0,9 0,974 Fit
CMIN/DF ≤ 3 0,2702 Fit
TLI ≥ 0,9 0,902 Fit
CFI ≥ 0,9 0,924 Fit
Sumber: Lampiran 7
Dari informasi pada Tabel 4.14 diketahui indeks kesesuaian model dan interpretasinya sebagai berikut:
1. Chi Square
Chi Square merupakan ukuran over all fit yang menjelaskan kesesuaian model teoritis dengan data, diharapkan adalah nilai Chi Square yang kecil dibandingkan Ztabel = 55,397 atau tidak signifikan, mencerminkan tidak ada perbedaan antara model teoritis yang dikembangkan dengan data yang observasi. Jika Chi Square tidak signifikan, jadi ada kesesuaian (fit) antara model teoritis dengan data empirisnya (Ferdinand, 2001:56). Tabel 4.12
diketahui nilai probability level lebih besar dari 5%. Nilai probability level tersebut dapat menunjukkan bahwa ada kesesuaian data dengan model teoritis yang diestimasi, sehingga dapat dikatakan model fit.
2. RMSEA
RMSEA adalah sebuah indeks yang dapat digunakan untuk mengkompensasi chi square statistik dalam sampel besar. Nilai RMSEA 0,08 menunjukkan model yang baik (Ferdinand, 2001:56). Nilai RMSEA pada Tabel 4.14 sebesar 0,074, yang berarti model fit.
3. Goodness of Fit Index (GFI)
GFI adalah sebuah ukuran non statistikal yang mempunyai rentang nilai antara 0 sampai dengan 1. Nilai yang tinggi dalam indeks menunjukkan sebuah better fit (Ferdinand, 2001:56). Nilai GFI pada Tabel 4.14 sebesar 0,974, yang berarti memenuhi criteria uji kesesuaian model, sehingga dapat dikatakan model fit. Hasil ini juga menunjukkan bahwa data sampel mampu mewakili data populasi yang diestimasi.
4. CMIN/DF
The Minimum Sample Discrepancy Function (CMIN) dibagi dengan degree of freedom-nya akan menghasilkan indeks CMIN/DF, yang umumnya dilaporkan oleh peneliti sebagai salah satu indikator untuk mengukur tingkat fitnya sebuah model. Dalam hal ini CMIN/DF, tidak lain adalah statistik chi-square, x2 dibagi DF-nya sehingga disebut x2-relatif. Nilai x2 relatif kurang dari 2,0 atau bahkan kurang dari 3,0 adalah indikasi dari acceptable fit antara model dan data (Ferdinand, 2001:56). Nilai CMIN/DF pada Tabel 4.14 sebesar 0,2702, yang berarti model fit.
5. Tucker Lewis Index (TLI)
TLI adalah sebuah alternatif incremental fit index yang membandingkan sebuah model yang diuji terhadap sebuah baseline model, model dikatakan baik bila nilai TLI-nya mendekati 0,90 mengindikasikan model yang baik (Ferdinand, 2001:56). Nilai TLI pada Tabel 4.12 sebesar 0,902, yang berarti model fit.
6. Comparative Fit Index (CFI)
Menunjukkan perbandingan antara model yang diuji dengan model null, dengan rentang nilai 0 hingga 1, model dikatakan baik bila nilai mendekati 0,90 (Ferdinand, 2001:56). Nilai CFI pada Tabel 4.12 sebesar 0,924, yang berarti model fit.
Dari hasil indeks goodness of fit menunujukkan bahwa model yang digunakan dalam penelitian ini adalah good fit (ketepatan baik) sehingga model ini dapat digunakan dalam melihat hubungan antar variabel penelitian. Dengan demikian analisis SEM bermanfaat sebagai analisis faktor determinan, yaitu menentukan variabel mana yang memberikan pengaruh lebih dominan.
b. Pengujian Hipotesis
Nilai-nilai koefisien path dan thitungnya (CR) yang telah diestimasikan oleh AMOS dapat dilihat pada Tabel 4.15 di bawah ini:
Tabel 4.15 Estimasi Parameter
Variabel terikat
Variabel bebas
Estimate Standardized p
Affective Brand Satis .673 .552 .000
Continuance Brand Satis .164 .225 .000
Repurchase Continuance .613 .420 .002
Repurchase Affective .491 .561 .000
Repurchase
Brand
Satisfaction .430 .404 .000
Sumber: Lampiran 7
Berdasarkan Tabel 4.15 hasil pengujian hipotesis dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Hipotesis 1 yaitu brand satisfaction berpengaruh terhadap affective commitment produk Blackberry Gemini di Surabaya adalah terbukti kebenarannya. Hal ini ditunjukkan dengan nilai standardized (0,552) yang positif dengan nilai p = 0,000 yang lebih kecil dari 0,05.
2. Hipotesis 2 yaitu brand satisfaction berpengaruh terhadap continuance commitment produk Blackberry Gemini di Surabaya adalah terbukti kebenarannya. Hal ini ditunjukkan dengan nilai standardized (0,225) yang positif dengan nilai p = 0,000 yang lebih kecil dari 0,05.
3. Hipotesis 3 yaitu brand satisfaction berpengaruh terhadap repurchase intention produk Blackberry Gemini di Surabaya adalah terbukti kebenarannya. Hal ini ditunjukkan dengan nilai standardized (0,404) yang positif dengan nilai p = 0,000 yang lebih kecil dari 0,05.
4. Hipotesis 4 yaitu affective comitment berpengaruh terhadap repurchase intention adalah terbukti kebenarannya. Hal ini ditunjukkan dengan nilai standardized (0,225) yang positif dengan nilai p = 0,000 yang lebih kecil dari 0,05 adalah terbukti kebenarannya. Hal ini ditunjukkan dengan nilai standardized (0,561) yang positif dengan nilai p = 0,000 yang lebih kecil dari 0,05.
5. Hipotesis 5 yaitu continuance comitment berpengaruh terhadap repurchase intention adalah terbukti kebenarannya. Hal ini ditunjukkan dengan nilai standardized (0,420) yang positif dengan nilai p = 0,002 yang lebih kecil dari 0,05. adalah terbukti kebenarannya.
Tabel 4.15 dapat dijelaskan besar pengaruh langsung (direct effects) dari variabel laten eksogen terhadap variabel laten endogen adalah sebagai berikut:
1. Pengaruh langsung brand satisfaction terhadap affective commitment dengan standardized coefficient sebesar 0,552, yang berarti bahwa brand satisfaction berpengaruh positif terhadap affective commitment sebesar 0,552.
2. Pengaruh langsung brand satisfaction terhadap continuance commitment dengan standardized coefficient sebesar 0,225, yang berarti bahwa brand satisfaction berpengaruh positif terhadap continuance commitment sebesar 0,225.
3. Pengaruh langsung affective commitment terhadap repurchase intention dengan standardized coefficient sebesar 0,561, yang berarti bahwa affective commitment berpengaruh positif terhadap repurchase intention sebesar 0,561.
4. Pengaruh langsung continuance commitment terhadap repurchase intention dengan standardized coefficient sebesar 0,420, yang berarti bahwa
continuance commitment berpengaruh positif terhadap repurchase intention sebesar 0,420.
Efek langsung terbesar terjadi antara variabel affective commitment dengan repurchase intention.
Efek total dari masing-masing konstruk dapat dilihat dari tabel dibawah ini:
Tabel 4.16 Total Effect Brand
Satis Continuance Affective Repurchase
Continuance .225 .000 .000 .000
Affective .552 .000 .000 .000
Repurchase .404 .420 .561 .000
Sumber Lampiran 6
Berdasarkan penjabaran di atas diketahui bahwa total effect antara variabel brand satisfaction terhadap variabel affective commitment dengan parameter regresi sebesar 0,552, yang berarti brand satisfaction berpengaruh langsung positif terhadap affective commitment. Total effect antara variabel brand satisfaction terhadap variabel continuance commitment dengan parameter regresi sebesar 0,225 yang berarti brand satisfaction berpengaruh langsung positif terhadap continuance commitment. Total effect antara variabel affective commitment terhadap variabel repurchase intention dengan parameter regresi sebesar 0,561 yang berarti affective commitment berpengaruh langsung positif terhadap repurchase intention. Total effect antara variabel continuance commitment terhadap variabel repurchase intention dengan parameter regresi sebesar 0,420, yang berarti continuance commitment berpengaruh langsung positif terhadap repurchase intention. Dan Total effect antara variabel brand satisfaction terhadap variabel repurchase intention, dengan parameter regresi sebesar 0,404, yang berarti brand satisfaction berpengaruh tidak langsung positif terhadap repurchase intention.
4.4. Pembahasan
Brand satisfaction berpengaruh terhadap affective commitment produk Blackberry Gemini di Surabaya. Hasil analisis menunjukkan bahwa brand satisfaction berpengaruh positif terhadap affective commitment pada konsumen produk Blackberry Gemini di Surabaya, artinya bahwa semakin tinggi brand satisfaction pada konsumen produk Blackberry Gemini di Surabaya, semakin tinggi affective commitment pada produk Blackberry Gemini di Surabaya. Hal ini menunjukkan brand satisfaction menunjukkan sebuah respon pelanggan atas kualitas sebuah produk secara aktual dan harapan yang diinginkan pelanggan sebelumnya setelah pelanggan mengkonsumsinya. Kepuasan juga merupakan pengukuran secara langsung bagaimana pelanggan tetap loyal kepada suatu merek. Kepuasan terutama menjadi pengukuran di bisnis (seperti perusahaan penyewaan mobil, hotel atau bank). Pelanggan yang puas akan suatu merek akan menyebabkan pelanggan tersebut akan memiliki komitment afektif (keterlibatan emosi pelanggan terhadap merek). Temuan ini sejalan dengan Fullerton (2005) yang menyatakan komitmen afektif berakar pada identifikasi, nilai-nilai bersama dan kepercayaan. Karena itu merupakan pusat pengembangan suatu hubungan, komitmen membutuhkan waktu untuk mengembangkan dan itu tidak mungkin bahwa konsumsi satu pengalaman yang memuaskan akan membangun komitmen dengan sendirinya. Sampai-sampai konsumen menemukan bahwa organisasi ritel terus memberikan nilai dari waktu ke waktu, terutama dalam produk dan jasa inti, ini akan membuat dampak yang positif pada komitmen afektif. Evaluasi terhadap pengalaman konsumsi itu merupakan anteseden dari komitmen dalam sebuah hubungan pemasaran. Secara sunstansial operasionalisasi membangun komitmen sebagai berakar pada identifikasi, walaupun merek tidak secara khusus menggunakan istilah “komitmen afektif”. Konsumen mempunyai hubungan emosional postif dengan merek yang mereka konsumsi itu didorong oleh serangkaian dari pengalaman yang memuaskan.
Brand satisfaction berpengaruh terhadap continuance commitment produk Blackberry Gemini di Surabaya. Hasil analisis menunjukkan bahwa brand satisfaction positif berpengaruh terhadap continuance commitment pada
konsumen produk Blackberry Gemini di Surabaya, artinya bahwa semakin tinggi brand satisfaction pada konsumen produk Blackberry Gemini di Surabaya, semakin tinggi continuance commitment pada produk Blackberry Gemini di Surabaya. Hal ini menunjukkan brand satisfaction menunjukkan respon pelanggan untuk mengevaluasi antara ketidaksesuaian yang dirasakan antara harapan sebelumnya dan kinerja aktual produk yang dirasakan setelah konsumsi dan sebagai evaluasi kognitif dari iya atau tidak hubungan pertukaran dengan merek saling menghargai. Pelanggan yang puas akan suatu merek akan menyebabkan pelanggan tersebut akan memiliki komitment continuance (keterlibatan komitmen berdasarkan biaya yang dikeluarkan akibat keluarnya pelanggan dari perusahaan). Temuan ini sejalan dengan Fullerton (2005) yang menyatakan komitmen continuance berakar pada ekonomi dan psikologis biaya switching dan kelangkaan alternatif. Merek layanan rotel menawarkan beberapa kesempatan untuk menciptakan kelanjutan komitmen karena kepribadian merek ritel dapat menjadi saling terkait dengan kepribadian konsumen. Dengan demikian, konsumen dapat menjadi tergantung pada merek karena hal tersebut sangat penting bagi mereka. Hal ini terutama terjadi jika konsumen merasa bahwa manfaat yang diterima dari merek tidak mudah puas dengan merek mereka saat ini. Dalam kasus ini, kepuasan merek telah menciptakan ketergantungan.
Affective commitment berpengaruh terhadap repurchase intention pada konsumen produk Blackberry Gemini di Surabaya. Hasil analisis menunjukkan bahwa affective commitment berpengaruh positif terhadap repurchase intention pada konsumen produk Blackberry Gemini di Surabaya, artinya bahwa semakin tinggi affective commitment pada konsumen produk Blackberry Gemini di Surabaya, semakin tinggi pula repurchase intention pada pada konsumen produk Blackberry Gemini di Surabaya. Hal ini mengindikasikan affective commitment merupakan keterikatan emosional atau psikologis kepada perusahaan. Semakin kuat kedekatan identitas seseorang dengan identitas sosialnya, maka semakin sulit identitas orang tersebut untuk berubah, dengan kata lain semakin sulit orang tersebut untuk keluar dari perusahaan, hal ini akan mencerminkan suatu asosiasi hal positif antara komitmen afektif terhadap repurchase intention. Temuan ini
sejalan dengan Fullerton (2005) yang menyatakan retensi pelanggan sering dioperasionalkan sebagai niat pembelian kembali. Mungkin adalah variabel yang paling penting dalam hubungan penelitian pemasaran. Dalam beberapa tahun terakhir sejumlah studi telah meneliti hubungan antara komitmen afektif dan retensi pelanggan dan studi-studi ini telah menunjukkan seragam dampak positif dan kuat komitmen afektif terhadap retensi pelanggan. Pemikiran konseptual untuk ini adalah bahwa konsumen cenderung menggurui edintitas dengan yang mereka mengidentifikasi dan yang mereka merasa terikat. Dalam konteks konsumen-hubungan merek layanan, konsumen akan terus membeli merek ketika mereka mengidentifikasikan diri dengan merek ritel dan afektif berkomitmen untuk entitas ritel.
Continuance commitment berpengaruh terhadap repurchase intention pada konsumen produk Blackberry Gemini di Surabaya. Hasil analisis menunjukkan bahwa continuance commitment berpengaruh positif terhadap repurchase intention pada konsumen produk Blackberry Gemini di Surabaya, artinya bahwa semakin tinggi continuance commitment pada konsumen produk Blackberry Gemini di Surabaya, semakin tinggi pula repurchase intention pada pada konsumen produk Blackberry Gemini di Surabaya. Hal ini mengindikasikan continuance commitment sebagai keinginan untuk tetap menjalin hubungan dengan peyedia jasa yang merupakan kebutuhan bagi pelanggan, dilandasi pertimbangan bahwa pelanggan sudah terlalu besar menginvestasikan sumber daya, kapasitas pribadi (pengetahuan dan keterampilan) pada penyedia jasa, sehingga sangat berisiko jika pelanggan harus keluar dari penyedia jasa.
Komitmen ini berhubungan dengan pendekatan orientasi sisi pertaruhan yang menunjukkan kuatnya tendensi kebutuhan seseorang untuk terus menjalin hubungan dengan suatu penyedia jasa, hal ini akan mencerminkan suatu asosiasi hal positif antara komitmen continuance terhadap repurchase intention. Temuan ini sejalan dengan Fullerton (2005) yang menyatakan continuance commitment yang lemah tetapi membuat dampak positif pada retensi konsumen. Argumen konseptual untuk temuan ini adalah ketergantungan terwujud dalam kelanjutan komitmen akan mengikat pelanggan untuk mitra relasional. Perasaan
ketergantungan psikologis dapat dipandang sebagai jenis taruhan samping di sekolah dasar, mempengaruhi konsumen berdasarkan hubungan merek. Sejauh merek layanan telah membuat psikologis, switching berbasis biaya, kelanjutan komitmen dalam sebuah hubungan merek akan mengarah ke perilaku pembelian terus.