• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengujian Hipotesis 1. Hipotesis Pertama 1.Hipotesis Pertama

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

B. Pengujian Hipotesis 1. Hipotesis Pertama 1.Hipotesis Pertama

2 3 57 – 73 41 – 56 25 – 40 13 11 11 37,142% 31,429% 31,429% Tinggi Sedang Rendah Jumlah 35 100%

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa pengusaha yang mempunyai skor kesulitan pemasaran antara 57-73 ada 13 atau 37,142%, antara 41-56 ada 11 atau 31,429% dan antara 25-40 ada 11 atau 31,429%. Jadi berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa tingkat kesulitan pemasaran yang tinggi antara 57-73 ada 13 orang atau sebesar 37,142%.

B. Pengujian Hipotesis 1. Hipotesis Pertama

Untuk menguji hipotesis pertama yang menyatakan bahwa ada hubungan yang positif antara besarnya modal usaha dengan tingkat pendapatan pengusaha, digunakan teknik korelasi Spearman Rank dengan dibantu program SPSS. Dari hasil analisis data (lampiran 7), pada output

antara modal usaha dengan tingkat pendapatan diperoleh koefisien korelasi + 0,903. Untuk dapat memberikan penafsiran terhadap koefisien korelasi (ρ) yang diperoleh tersebut dikonsultasikan menggunakan interprestasi (tabel III. 5) Besarnya koefisien korelasi yang diperoleh yaitu +0,903 terletak antara 0,80 – 1,000 dengan interprestasi atau tingkat hubungan sangat kuat. Sehingga dari hasil analisa tersebut dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang sangat kuat dan positif antara besarnya modal usaha dengan tingkat pendapatan pengusaha.

Untuk uji signifikansi berdasarkan pada probabilitas :

Jika probabilitas > 0,05, Ho diterima dan sebaliknya jika probabilitas < 0,05, Ho ditolak dan Hi diterima. Pengujiannya secara dua sisi. Berdasarkan hasil perhitungan pada bagian output (kolom sig. (2-tailed), untuk korelasi variabel modal usaha dengan tingkat pendapatan didapat nilai probabilitas 0,000. oleh karena nilai tersebut dibawah 0,05, maka Hi diterima atau ada hubungan yang signifikan antara besarnya modal usaha dengan tingkat pendapatan pengusaha.

2. Hipotesis Kedua

Untuk menguji hipotesis kedua yang menyatakan bahwa ada hubungan yang negatif antara kesulitan pemasaran dengan tingkat pendapatan pengusaha, digunakan teknik korelasi Spearman Rank dengan dibantu program SPSS. Dari hasil analisis data, pada output antara kesulitan

pemasaran dengan tingkat pendapatan diperoleh koefisien korelasi -0,987 (lampiran 7). Untuk dapat memberikan penafsiran terhadap koefisien korelasi (ρ) yang diperoleh tersebut dikonsultasikan menggunakan interprestasi (tabel III. 5) Besarnya koefisien korelasi yang diperoleh yaitu -0,987 menunjukkan tanda negatif berarti korelasinya negatif. Sehingga dari hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang negatif antara kesulitan pemasaran dengan tingkat pendapatan pengusaha.

Untuk uji signifikansi berdasarkan pada probabilitas :

Jika probabilitas > 0,05, Ho diterima dan sebaliknya jika probabilitas < 0,05, Ho ditolak dan Hi diterima. Pengujiannya secara dua sisi. Berdasarkan hasil perhitungan pada bagian output (kolom sig. (2 tailed), untuk korelasi kesulitan pemasaran dengan tingkat pendapatan didapat angka probabilitas 0,000. Oleh karena nilai tersebut dibawah 0,05, maka Hi diterima atau ada hubungan yang signifikan antara kesulitan pemasaran dengan tingkat pendapatan pengusaha.

C. Pembahasan

Berdasarkan analisa di atas untuk mengetahui adanya hubungan positif antara besarnya modal usaha dengan tingkat pendapatan pengusaha dan untuk mengetahui adanya hubungan yang negatif antara kesulitan pemasaran dengan

tingkat pendapatan pengusaha maka di bawah ini akan diuraikan mengenai pembahasannya:

1. Hubungan yang positif antara besarnya modal usaha dengan tingkat pendapatan pengusaha.

Dari hasil analisa diketahui bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara modal usaha dengan tingkat pendapatan pengusaha. Hal ini ditunjukkan dari koefisien korelasi (ρ) dengan SPSS sebesar 0,903 dan nilai probabilitas sebesar 0,000. Berdasarkan pada deskripsi data dari hasil penelitian yang telah diuraikan pada bab V, nilai modal usaha yang terbanyak antara 300.000-10.199.999 ada 30 orang dari 35 total responden atau sebesar 85,714% termasuk kriteria bermodal rendah.

Peranan modal usaha pada suatu aktivitas industri sangat menentukan maju tidaknya suatu usaha, karena dengan modal yang cukup maka pengusaha dapat pengoperasikan kegiatan usahanya dan bisa meningkatkan hasil produksi baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Meningkatnya hasil produksi mendorong pengusaha untuk meningkatkan volume penjualannya juga, dengan volume penjualan yang semakin meningkat tentu akan memperbesar tingkat pendapatan yang diperolah pengusaha.

Untuk itu para pengusaha kerajinan bambu yang sebagian bermodal rendah perlu meningkatkan atau menambah modalnya. Para pengusaha bisa mengajukan pinjaman ke koperasi atau mengajukan pinjaman ke bank.

2. Hubungan yang negatif antara kesulitan pemasaran dengan tingkat pendapatan pengusaha.

Dari hasil analisa diketahui bahwa ada hubungan negatif antara kesulitan pemasaran dengan tingkat pendapatan pengusaha. Hal ini ditunjukkan dari koefisien korelasi (ρ) pada variabel pemasaran dengan SPSS sebesar -0,987 dan nilai probabilitas sebesar 0,000.

Dari hasil penelitian kepada para pengusaha kerajinan bambu di Dusun Brajan, Sendangagung, Minggir, Sleman masih ada yang mengalami kesulitan pemasaran yaitu ada 13 pengusaha dari 35 yang masuk kriteria tinggi atau sebesar 37,142%.

Pemasaran merupakan kegiatan yang penting agar suatu usaha tetap berdiri. Suatu usaha akan sulit untuk berkembang manakala perusahaan tersebut masih mengalami kesulitan-kesulitan dalam memasarkan produknya. Apabila pengusaha industri kecil belum mampu mengatasi kesulitan-kesulitan pemasaran diduga produknya sulit menerobos pasar dan akibat selanjutnya produktivitas industri menurun yang berarti juga pendapatan menurun atau rendah.

Hal-hal yang perlu dilakukan oleh para pengusaha kerajinan bambu ini dalam bidang pemasaran:

1. Perlu lebih banyak belajar tentang kegiatan-kegiatan pemasaran yang telah dilakukan oleh pengusaha lain yang lebih sukses.

2. Mengembangkan marketing mix. Pengembangan marketing mix ini mencakup keputusan tentang produk, harga, promosi dan distribusi.

a. Keputusan tentang produk, pengusaha harus memperhatikan tentang bentuk fisik (desain) yang bagaimana agar menarik konsumen dan selalu berusaha mencari jalan bagaimana caranya dapat menghasilkan produk yang lebih baik lagi.

b. Keputusan tentang harga, pengusaha harus menetapkan harga yang dapat dijangkau oleh konsumen tetapi produksen tidak mengalami kerugian bahkan mendapat keuntungan, dengan jalan menekan biaya produksinya.

c. Agar masyarakat atau konsumen tahu tentang produk yang dihasilkan perusahaan dan berniat untuk membelinya, perlu upaya untuk mempromosikannya. Misalnya dengan membuat brosur dan membuat iklan lewat radio atau surat kabar.

d. Setelah konsumen mengetahui suatu produk dan berkeinginan menjadikan produk tersebut sebagai pemenuh kebutuhannya maka produksen perlu mendistribusikan produk agar konsumen lebih mudah dan dekat untuk menjangkaunya. Misalnya sebagian produknya dijual ke toko-toko dan menyediakan jasa untuk mengantar produk pesanan.

BAB VI

Dokumen terkait