HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
4) Pengujian Hipotesis Keempat
Berdasarkan hasil uji t pada tabel 4.7 diperoleh nilai thit 0,120
< ttab 1,992 yang artinya t hitung lebih kecil dari t tabel. Dan nilai signifikan variabel current ratio sebesar 0,285 > 0,05.
Nilai tersebut menunjukkan bahwa current ratio tidak berpengaruh terhadap perubahan laba, sehingga dapat dismpulkan bahwa H4 ditolak.
47
b. Uji Koefisien Determinasi (R2)
Dalam penelitian ini koefisien determinasi yang dipakai adalah nilai adjusted R square. Koefisien determinasi digunakan untuk menguji keterikatan antara variabel bebas dan variabel terikat dengan melihat nilai koefisien determinan determinasi. Nilai koefisien determinasi adalah antara 0 sampai dengan 1. Jika nilai R2 kecil artinya kemampuan variabel bebas sangat terbatas dalam menerangkan variabel terikat. Tabel berikut menyajikan nilai koefisien determinasi dari model penelitian.
Tabel 4.8
Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2)
Model R R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the
Estimate Durbin-Watson
1 ,289a ,084 ,035 5,42859 2,143
Sumber: data diolah tahun 2021
Pada tabel Coefficient menunjukkan bahwa nilai R square sebesar 0,084 yang memiliki makna bahwa variabel dependen mampu dijelaskan oleh variabel independen sebesar 8,4%.
Sedangkan sisanya (100% - 8,4% = 91,6%) dijelaskan atau dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diikutkan atau tidak diamati dalam penelitian ini.
48 B. Pembahasan
1. Pengaruh Receivable Turnover Ratio (RTO) terhadap perubahan laba Receivable turnover merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur berapa lama penagihan piutang selama satu periode atau berapa kali dana yang ditanam dalam piutang ini berputar dalam satu periode (Kasmir, 2010, p. 113). Semakin tinggi nilai rasio ini akan semakin baik bagi perusahaan karena berhasil menagih piutang selama periode tertentu (Hantono, 2018).
Penelitian ini sejalan dengan penelitian Solekhatun, et al (2019) yang menyatakan receivable turnover tidak berpengaruh signifikan terhadap perubahan laba. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rasio receivable turnover tidak berpengaruh terhadap perubahan laba. Hal ini berarti perusahaan tersebut tidak mampu menagih piutang untuk dijadikan aset perusahaan dikarenakan perusahaan memberikan fasilitas untuk pembelian kredit bagi para pelanggan atau konsumen agar menarik minat konsumen, sehingga menyebabkan meningkatnya piutang perusahaan.
2. Pengaruh Debt To Equity Ratio (DER) terhadap perubahan laba
Debt To Equity Ratio merupakan rasio yang menunjukkan sejauh mana modal sendiri menjamin seluruh utang (Hantono, 2018). Semakin tinggi nilai rasio ini berarti pembiayaan perusahaan diperoleh dari kreditur, bukan dari sumber keuangan perusahaan itu sendiri yang artinya semakin tinggi pula beban bunga yang harus dibayar oleh perusahaan sehingga laba perusahaan mengalami penurunan. Begitupun sebaliknya,
49
jika nilai Debt To Equity Ratio semakin rendah maka semakin tinggi tingkat pendanaan yang disediakan oleh pemilik dan semakin besar risiko bagi peminjam jika mengalami kerugian atau penyusutan terhadap nilai aktiva sehingga akan berpengaruh terhadap perubahan laba.
Hasil penelitian ini menunjukkan Debt To Equity Ratio berpengaruh positif terhadap perubahan laba. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Panjaitan (2018) yang menyatakan bahwa Debt To Equity Ratio berpengaruh positif terhadap perubahan laba. Hal ini berarti perusahaan diduga mempunyai struktur modal yang lebih didominasi oleh utang dibandingkan dengan modal, sehingga akan berisiko pada ketidakmampuan perusahaan untuk menutupi seluruh utang yang dimiliki.
Namun, Debt To Equity Ratio yang tinggi bukan sesuatu hal yang buruk, jika perusahaan tersebut dapat mengelola utang atau dana pinjaman yang berasal dari pihak luar secara efektif dan dipergunakan dengan baik untuk investasi sehingga dapat memaksimalkan kinerja keuangan perusahaan. Debt To Equity Ratio yang tinggi mengindikasikan bahwa perusahaan menanggung risiko kerugian yang tinggi, tetapi tidak menutup kemungkinan perusahaan juga berkesempatan untuk memperoleh tingkat laba yang tinggi. DER yang tinggi berdampak pada peningkatan perubahan laba, berarti memberikan efek keuntungan bagi perusahaan (Pangestuti, 2018).
50
3. Pengaruh Working Capital Turnover (WCTO) terhadap perubahan laba Rasio Working Capital Turnover merupakan rasio yang menunjukkan perusahaan telah efisien dalam penggunaan ekuitas atau modal perusahaan untuk menghasilkan penjualan dengan membandingkan antara penjualan bersih terhadap modal kerja (aset lancar dikurangi utang lancar) (Riana dan Diyani, 2016). Jika nilai Working Capital Turnover rendah berarti perusahaan sedang kelebihan modal kerja. Hal ini berarti disebabkan karena rendahnya piutang, perputaran persediaan, dan saldo kas yang terlalu besar. Begitupun sebaliknya.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian (Riana, dan Diyani, 2016) yang menyatakan bahwa Working Capital Turnover tidak berpengaruh terhadap perubahan laba. Hasil penelitian menjunjukkan bahwa ini rasio Working Capital Turnover tidak berpengaruh terhadap perubahan laba. Hal ini berarti, perusahaan tidak dapat memanfaatkan modal kerja dengan baik sehigga akan mempengaruhi perubahan laba.
4. Pengaruh Current Ratio (CR) terhadap perubahan laba
Current Ratio merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek atau utang lancar yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan (Panjaitan, 2018). Rasio ini berguna untuk memberi informasi bagi calon investor apakah perusahaan mampu membayar utang jangka pendek yang dijamin oleh aset lancar perusahaan atau tidak. Jika perusahaan memiliki tingkat aset lancar yang tinggi artinya dapat diasumsikan bahwa
51
semua aset lancar dapat digunakan untuk membayar utang jangka pendek.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa current ratio tidak berpengaruh terhadap perubahan laba. Hasil uji regresi yang diperoleh sejalan dengan penelitian Djannah (2017) dimana current ratio tidak berpengaruh terhadap perubahan laba. Hal ini berarti, perusahaan masih kurang efektif dalam memenuhi utang lancarnya karena secara umum aset lancar perusahaan terdiri dari kas, persediaan, dan piutang usaha yang berarti aset lancar yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan memiliki banyak sumber aset dimana dalam jangka pendek dapat diubah menjadi pendapatan perusahaan. Hal ini mengakibatkan adanya kelebihan aset lancar yang akan berpengaruh tidak baik terhadap perubahan laba pada perusahaan sehingga akan mengakibatkan penumpukan persediaan dan memerlukan waktu yang lebih lama untuk mengubah aset menjadi keuntungan bagi perusahaan. Hal ini dapat disimpulkan bahwa nilai current ratio yang tinggi tidak sepenunhya menunjukkan kondisi baik bagi perusahaan.
52 BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara Receivable Turnover, Debt to Equity Ratio, Working Capital Turonver, dan Current Ratio terhadap perubahan laba. Dan hasil penelitian yang telah dilakukan diuraikan mengenai “Analisis fundamental keuangan dalam mempengaruhi perubahan laba pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia”, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah Receivable Turnover, Working Capital Turnover, dan Current Ratio secara parsial tidak memiliki pengaruh terhadap perubahan laba. Sedangkan Debt To Equity Ratio memiliki pengaruh terhadap perubahan laba.
Receivable Turnover, Working Capital Turnover, dan Current Ratio tidak memiliki pengaruh terhadap perubahan laba. Hal ini berarti ketiga ratio tersebut tidak dapat menjadi bahan pertimbangan dalam mempengaruhi perubahan laba.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa debt to equity ratio berpengaruh positif terhadap perubahan laba yang artinya terdapat nilai debt to equity ratio yang tinggi dimana utang perusahaan lebih dominan dibandingkan dengan modal sendiri. Hal ini berarti perusahaan akan menanggung risiko kerugian yang tinggi untuk melunasi utang-utang yang dimiliki. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan perusahaan juga berkesempatan untuk memperoleh tingkat laba yang tinggi jika perusahaan mampu mengelola dana dari pihak luar dengan baik secara efektif dan efisien. Maka dapat simpulkan bahwa debt to equity ratio dapat dijadikan
53
sebagai pertimbangan untuk memprediksi perubahan laba suatu perusahaan di masa mendatang.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian maka saran yang diberikan adalah sebagai berikut:
1. Bagi perusahaan sebaiknya dapat mengelola aset-aset yang dimiliki untuk menunjang penjualan sehinggga meningkatkan profitabilitas perusahaan. Dan hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam membuat keputusan untuk memaksimalkan pertumbuhan laba perusahaan.
2. Untuk penelitian selanjutnya agar diharapkan mempertimbangkan dalam pengambilan objek penelitian untuk seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia agar dapat memperoleh hasil yang lebih valid, serta menambah sampel dan variabel (sinyal fundamental) yang akan digunakan dalam penelitian ini agar hasilnya lebih representatif dan dapat menjelaskna perubahan laba secara akurat.
3. Bagi investor sebaiknya lebih teliti dan mengamati informasi-informasi laporan keuangan perusahaan dan diharapkan dari hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi dalam mengambil keputusan sebelum melakukan investasi dan menanamkan modalnya pada suatu perusahaan.
54