METEDOLOGI PENELITIAN
3.9 Pengujian Hipotesis
Langkah terakhir dalam kegiatan analisis data adalah dengan melakukan uji hipotesis. Tujuan dari pengujian hipotesis ini yaitu untuk mengetahui apakah terdapat hubungan yang cukup jelas dan dipercaya antara variabel independen dan variabel dependen. Melalui pengujian hipotesis ini akan diambil kesimpulan menerima atau menolak hipotesis.
Menurut Sambas Ali Muhidin (2010:43), Prosedur pengujian hipotesis ini meliputi beberapa langkah, yaitu:
1. Menentukan rumusan hipotesis H0 dan H1
: Tidak ada pengaruh insentif terhadap disiplin kerja pegawai
di Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bandung
: Terdapat pengaruh insentif terhadap disiplin kerja
pegawai di Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bandung 2. Membuat Persamaan dan KoefisienRegresi Linier Sederhana
Langkah selanjutnya adalah dengan menghitungnya dengan menggunakan Analisis Linier Sederhana.Analisis regresi digunakan untuk menelaah hubungan antara dua variabel atau lebih, terutama untuk mengetahui bagaimana variasi dari beberapa variabel independen mempengaruhi variabel depanden dalam sebuah fenomena. Dalam Analisis Regresi Linier Sederhana ini terdapat satu variabel yang diramalkan (depedent variable) yaitu disiplin kerja pegawai (independent variable) insentif. Maka bentuk umum dari Analisis Regresi Linier Sederhana adalah:
Ŷ = a + bx
Dimana :
Ŷ = Insentif
X = Disiplin Kerja
a = Harga Y bila X = 0 (harga konstan)
b = Angka arah/koefisien regresi yang menunjukan angka peningkatan ataupun penurunan variabel dependen yang didasarkan pada
variabel independen. Bila b (+) maka naik, dan bila b (-) maka terjai penurunan.
Dengan nilai a dan b adalah sebagai berikut:
∑ ∑ ∑
∑ ∑
∑ ∑ ∑
∑ ∑
Sugiyono, 2007:206)
3. Menentukan uji statistik yang sesuai. Uji statistik yang digunakan adalah uji
F, yaitu
,
untuk melakukan uji F, dapat mengkuti langkah-langkahberikut:
a. Menghitung jumlah kuadrat regresi ( )
∑
b. Menghitung jumlah kuadrat regresi b│a (JK reg b│a)
∑ ∑ ∑
c. Menghitung residu (JKres)
∑
d. Menghitung rata-rata jumlah kuadrat regresi a (RJK reg (a)) dengan rumus:
e. Menghitung rata-rata jumlah kuadrat regresi b/a (RJK reg (b/a)) dengan rumus:
f. Menghitung rata-rata jumlah kuadrat residu (RJK res) dengan rumus:
g. Menghitung nilai uji F dengan rumus:
4. Menentukan nilai kritis dengan derajat kebebasan untuk dbreg = 1 dan dbreg = n -2
5. Membandingkan nilai uji F terhadap nilai Ftabel = F(1-a)(dbreg(b│a)(dbres)
Dengan kriteria pengujian: jika nilai uji F > , maka tolak yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh insentif terhadap disiplin kerja pegawai.
6. Membuat kesimpulan.
Untuk mengetahui hubungan antara variabel X dengan variabel Y dicari dengan menggunakan rumus koefisien korelasi. Koefisien korelasi dalam penelitian ini menggunakan Korelasi Product Moment yang dikembangkan oleh Karl Pearson (Sambas Ali Muhidin, 2010:26), seperti berikut:
= ∑ ∑ ∑ √[ ∑ ∑ ] [ ∑ ∑ ]
Koefisien korelasi (r) menunjukkan derajat korelasi antara variabel X dan variabel Y. Nilai koefisien korelasi harus terdapat dalam batas-batas: -1 < r < +1. Tanda positif menunjukkan adanya korelasi positif atau korelasi antara kedua variabel yang berarti. Setiap kenaikan nilai variabel X maka akan diikuti dengan penurunan nilai Y, dan berlaku sebaliknya.
Jika nilai r = +1 atau mendekati +1, maka korelasi antara kedua variabel sangat kuat dan positif
Jika nilai r = -1 atau mendekati -1, maka korelasi antara kedua variabel sangat kuat dan negatif.
Jika nilai r = 0, maka korelasi variabel yang diteliti tidak ada sama sekali atau sangat lemah.
Tabel 3.12
Batas-batas Nilai r (Korelasi)
Interval Koefisien Tingkat Hubungan
0,00 – 0,199 Sangat lemah 0,20 – 0,399 Lemah 0,40 – 0,599 Cukup Kuat 0,60 – 0,799 Kuat 0,80 – 1,00 Sangat kuat Sumber : Sugiyono (2011 : 183)
Selanjutnya untuk mengetahui besarnya pengaruh variabel X terhadap variabel Y, maka digunakan koefisien determinasi (KD) dengan rumus:
KD = x 100%
dimana:
KD = Koefisien Determinasi r = Koefisien Korelasi
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat diambil beberapa kesimpulkan sebagai berikut :
1. Berdasarkan hasil dari penelitian dan pengolahan data yang telah dilakukan maka diperoleh gambaran insentif di Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bandung berada pada kategori efektif. Berdasarkan indikator yang menjadi kajian dalam penelitian ini, diketahui bahwa indikator “kinerja” memiliki presentase tertinggi yaitu sebesar 78,95%. Sedangkan skor presentase terendah yaitu sebesar 35,59% pada dindikator “keadilan dan kelayakan”. 2. Berdasarkan hasil penelitian dan pengolahan angket yang telah dilakukan,
maka diperoleh gambaran disiplin kerja karyawan di Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bandung berada pada kategori tinggi. Berdasarkan indikator yang menjadi kajian dalam penelitian ini, diketahui bahwa indikator
“tingkat kehadiran” memiliki presentase tertinggi yaitu sebesar 85,83%.
Sedangkan skor presenatse terendah yaitu sebesar 76,54% pada dindikator “ketaatan pada peraturan kerja”.
3. Berdasarkan hasil dari uji hipotesis yang telah dilakukan, menujukkan bahwa insentif berpengaruh positif dan signifikan terhadap disiplin kerja pegawai di Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bandung. Hal ini dapat dilihat
dari perhitungan koefisien determinasi (KD) menujukkan bahwa disiplin kerja pegawai dipengaruhi oleh insentif sebesar 28,88%, dan untuk sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti oleh penulis dalam penelitian ini.
5.2 Saran
1. Indikator keadilan dan kelayakan didalam variabel insentif, berdasarkan hasil pengolahan data jawaban responden menujukkan bahwa indikator keadilan dan kelayakan memiliki rata-rata paling rendah jika dibandingkan dengan indikator lainnya. Perusahaan harus benar-benar memperhatikan pemberian insentif atau balas jasa yang sesuai dengan beban pekerjaan yang diberikan kepada karyawan, untuk itu perusahaan dituntut untuk dapat memberikan besaran nilai balas jasa yang sesuai dengan hak yang diinginkan sesuai dengan kewajibannya, karena insentif merupakan sarana untuk mensejahterakan karyawan agar karyawan dapat meningkatkan disiplin kerja karyawan. Maka ada baiknya jika indikator yang memiliki rata-rata rendah ditingkatkan kembali dan indikator yang memiliki rata-rata tinggi tetap dipertahankan.
2. Indikator ketaatan pada peraturan kerja didalam variabel disiplin kerja pegawai memang dinilai cukup tinggi, namun masih terdapat kelemahan oleh karena itu sebaiknya perusahaan meningkatkan pengawasan dalam hal pelaksanaan peraturan kerja. Upaya yang dapat dilakukan oleh perusahaan yaitu menerapkan sistem reward dan punishment. Agar karyawan dapat
memaksimlakan pekerjaan dan memeha mi pedoman-pedoman peraturan pekerjaan.
3. Insentif memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap disiplin kerja pegawai. Oleh karena itu, Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bandung sebaiknya lebih memperhatikan kualitas insentif yang diterapkan di instansi. Hal ini perlu diperhatikan agar disiplin kerja para pegawai benar-benar meningkat secara maksimal terutama dalam hal peningkatan kinerja dan produktivitas. Hal ini menjadi penting mengingat bahwa tujuan perusahaan akan tercapai apabila disiplin kerja pegawai dapat dipertahankan atau bahkan ditingkatkan.