BAB IV Hasil dan Pembahasan
B. Analisis Data Penelitian
3. Pengujian Hipotesis Penelitian
Untuk engetahui apakah variabel independen dalam model regresi berpengaruh terhadap variabel dependen, maka dilakukan pengujian dengan menggunakan koefisien determinasi (R2), uji signifikansi simultan (F test), dan uji signifikansi parsial (t test).
a. Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi (R2) bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan variabel independen menjelaskan variabel dependen (Lubis, Akhmad, dan Syarif 2007: 48). Range nilai dari R2 adalah 0-1. Semakin mendekati nol berarti model tidak baik atau variasi model dalam menjelaskan amat terbatas, sebaliknya semakin mendekati satu model semakin baik.
Tabel 4.7 Koefisien Determinasi Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 ,353a ,125 ,077 1,3768834
a. Predictors: (Constant), Ln_OPM, Ln_TATO, Ln_DR, Ln_ROA, Ln_CR, Ln_ROE b. Dependent Variable: Ln_PL
Pada model summary di atas, dapat dilihat hasil analisis regresi secara keseluruhan, dimana nilai R sebesar 0,353 yang menunjukkan bahwa korelasi atau hubungan antara pertumbuhan laba (variabel dependen) dengan current ratio, debt ratio, total assets turnover, return
on asset, return on equity, dan operating profit margin (variabel
independen) mempunyai tingkat hubungan yang rendah yaitu sebesar 35,3%. Tingkat hubungan yang sedang ini dapat dilihat dari tabel pedoman untuk memberikan interpretasi koefisien korelasi.
Nilai Adjusted R Square adalah sebesar 0,077. Angka ini mengidentifikasikan bahwa pertumbuhan laba (variabel dependen) mampu dijelaskan oleh current ratio, debt ratio, total assets turnover,
return on asset, return on equity, dan operating profit margin (variabel
independen) sebesar 7,7% sedangkan selebihnya sebesar 92,3% dijelaskan oleh sebab-sebab lain. Kemudian standard error of the
estimate adalah sebesar 1,3768834 dimana semakin kecil angka ini akan
membuat model regresi semakin tepat dalam memprediksi pertumbuhan laba.
Tabel 4.8
Pedoman Untuk Memberikan Interpretasi Koefisien Korelasi Interval Koefisien Tingkat Hubungan
0,00 - 0,199 Sangat Rendah 0,2 - 0,399 Rendah 0,4 - 0,599 Sedang 0,6 - 0,799 Kuat 0,8 - 1 Sangat Kuat Sumber: Sugiyono, 2004:183
b. Uji Signifikansi Simultan
Secara simultan, pengujian hipotesis dilakukan dengan uji-F (F test). Uji-F dilakukan untuk menguji apakah variabel-variabel independen berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen. Dalam uji-F digunakan hipotesis sebagai berikut:
H0= variabel independen secara bersama-sama tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.
Ha= variabel independen secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.
Uji ini dilakukan dengan membandingkan signifikansi Fhitung dengan Ftabel dengan ketentuan:
1) jika Fhitung < Ftabel pada α 0.05, maka Ha ditolak dan H0 diterima,
2) jika Fhitung > Ftabel pada α 0.05, maka Ha diterima H0 ditolak. Berdasarkan hasil pengolahan data dengan program SPSS Versi 18, maka diperoleh hasil sebagai berikut.
Tabel 4.9 Hasil Uji-F
ANOVAb
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 7,027 6 1,171 ,618 ,714a
Residual 49,291 26 1,896
Total 56,318 32
a. Predictors: (Constant), Ln_OPM, Ln_TATO, Ln_DR, Ln_ROA, Ln_CR, Ln_ROE b. Dependent Variable: Ln_PL
Dari uji ANOVA (Analysis of Variance) didapat Fhitung sebesar 0,618 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,714. Sedangkan Ftabel diketahui sebesar 2,534. Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa Fhitung < Ftabel (0,618 < 2,534) maka H0 diterima dan Ha ditolak. Jadi dapat disimpulkan bahwa secara simultan current ratio, debt ratio, total assets
turnover, return on asset, return on equity, dan operating profit margin
tidak mempunyai pengaruh signifikan dalam memprediksi pertumbuhan laba pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
c. Uji Signifikansi Parsial
Secara parsial, pengujian hipotesis dilakukan dengan uji t-test. Uji-t dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh satu variabel independen terhadap variabel dependen secara parsial. Dalam uji-t digunakan hipotesis sebagai berikut:
H0= tidak semua variabel independen berpengaruh signifikan secara parsial terhadap variabel dependen.
Ha= semua variabel independen berpengaruh signifikan secara parsial terhadap variabel dependen.
Uji ini dilakukan dengan membandingkan signifikansi thitung dengan ttabel dengan ketentuan:
1) Jika thitung < ttabel, maka Ha ditolak dan H0 diterima, 2) Jika thitung > ttabel, maka Ha diterima dan H0 ditolak.
Tabel 4.10 Hasil Uji-t Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics B Std.
Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) ,179 ,791 ,226 ,823 Ln_CR -,157 ,463 -,080 -,338 ,738 ,602 1,662 Ln_DR -,143 ,565 -,059 -,253 ,802 ,609 1,642 Ln_TATO ,369 ,363 ,245 1,018 ,318 ,579 1,726 Ln_ROA -,127 ,182 -,209 -,696 ,492 ,373 2,678 Ln_ROE ,156 ,237 ,228 ,659 ,516 ,282 3,543 Ln_OPM ,138 ,376 ,086 ,367 ,717 ,609 1,641 a. Dependent Variable: Ln_PL
Sumber: data diolah penulis, 2010.
Berdasarkan tabel di atas, maka dapat diperoleh persamaan regresi sebagai berikut:
Y = 0,179 - 0,157X1 - 0,143X2 + 0,369X3 - 0,127X4 + 0,156X5 + 0,138X6
Keterangan:
1) α sebesar 0,179 menunjukkan bahwa apabila variabel independen bernilai 0 maka nilai pertumbuhan laba adalah sebesar 0,179,
2) β1 sebesar -0,157 menunjukkan bahwa setiap penambahan current
ratio sebesar 1% maka akan diikuti oleh penurunan pertumbuhan
laba sebesar 0,157 dengan asumsi variabel lain tetap,
3) β2 sebesar -0,143 menunjukkan bahwa setiap penambahan debt
ratio sebesar 1% maka akan diikuti oleh penurunan pertumbuhan
4) β3 sebesar 0,369 menunjukkan bahwa setiap penambahan total
assets turnover sebesar 1% maka akan diikuti oleh penambahan
pertumbuhan laba sebesar 0,369 dengan asumsi variabel lain tetap, 5) β4 sebesar -0,127 menunjukkan bahwa setiap penambahan return
on asset sebesar 1% maka akan diikuti oleh penurunan
pertumbuhan laba sebesar 0,127 dengan asumsi variabel lain tetap, 6) β5 sebesar 0,156 menunjukkan bahwa setiap penambahan return on
equity sebesar 1% maka akan diikuti oleh penambahan
pertumbuhan laba sebesar 0,156 dengan asumsi variabel lain tetap, dan
7) β6 sebesar 0,138 menunjukkan bahwa setiap penambahan operating
profit margin sebesar 1% maka akan diikuti oleh penambahan
pertumbuhan laba sebesar 0,138 dengan asumsi variabel lain tetap.
Dari hasil pengujian statistik t pada tabel 4.10 dapat dijelaskan sebagai berikut.
1) Pengaruh Current Ratio terhadap Pertumbuhan Laba
Nilai thitung untuk variabel current ratio adalah sebesar -0,338 dan ttabel untuk df = N-k (33-6) d an α = 5 % dik etah ui sebesar 2 ,035. Dengan demikian nilai thitung lebih kecil dari nilai ttabel (-0,338 < 2,035) dan nilai signifikansi sebesar 0,738 (lebih besar dari 0,05) artinya H0 diterima, bahwa secara parsial current ratio tidak mempunyai pengaruh yang signifikan dalam memprediksi
pertumbuhan laba pada perusahaan pertambangan pada tingkat kepercayaan 95%.
2) Pengaruh Debt Ratio terhadap Pertumbuhan Laba
Nilai thitung untuk variabel debt ratio adalah sebesar -0,253 dan ttabel
untuk df = N-k (33-6) dan α = 5% diketahui sebesar 2,035. Dengan demikian nilai thitung lebih kecil dari nilai ttabel (-0,253 < 2,035) dan nilai signifikansi sebesar 0,802 (lebih besar dari 0,05) artinya H0
diterima, bahwa secara parsial debt tidak mempunyai pengaruh yang signifikan dalam memprediksi pertumbuhan laba pada perusahaan pertambangan pada tingkat kepercayaan 95%.
3) Pengaruh Total Assets Turnover terhadap Pertumbuhan Laba
Nilai thitung untuk variabel total assets turnover adalah sebesar 1,018 dan ttabel untuk df = N-k (33-6) dan α = 5% diketahui sebesar
2,035. Dengan demikian nilai thitung lebih kecil dari nilai ttabel
(1,018 < 2,035) dan nilai signifikansi sebesar 0,318 (lebih besar dari 0,05) artinya H0 diterima, bahwa secara parsial tidak total
assets turnover tidak mempunyai pengaruh yang signifikan dalam
memprediksi pertumbuhan laba pada perusahaan pertambangan pada tingkat kepercayaan 95%.
4) Pengaruh Return On Asset terhadap Pertumbuhan Laba
Nilai thitung untuk variabel return on asset adalah sebesar -0,696 dan ttabel untuk df = N-k (33-6) d an α = 5 % dik etah ui sebesar 2 ,035. Dengan demikian nilai thitung lebih kecil dari nilai ttabel (-0,696 <
2,035) dan nilai signifikansi sebesar 0,492 (lebih besar dari 0,05) artinya H0 diterima, bahwa secara parsial return on asset tidak mempunyai pengaruh yang signifikan dalam memprediksi pertumbuhan laba pada perusahaan pertambangan pada tingkat kepercayaan 95%.
5) Pengaruh Return On Equity terhadap Pertumbuhan Laba
Nilai thitung untuk variabel return on equity adalah sebesar 0,659 dan ttabel untuk df = N-k (33-6) dan α = 5% diketahui sebesar 2,035. Dengan demikian nilai thitung lebih kecil dari nilai ttabel (0,659 < 2,035) dan nilai signifikansi sebesar 0,516 (lebih besar dari 0,05) artinya H0 diterima, bahwa secara parsial return on equity tidak mempunyai pengaruh yang signifikan dalam memprediksi pertumbuhan laba pada perusahaan pertambangan pada tingkat kepercayaan 95%.
6) Pengaruh Operating Profit Margin terhadap Pertumbuhan Laba Nilai thitung untuk variabel operating profit margin adalah sebesar 0,367 dan ttabel untuk df = N-k (33-6) dan α = 5% diketahui sebesar
2,035. Dengan demikian nilai thitung lebih kecil dari nilai ttabel
(0,367 < 2,035) dan nilai signifikansi sebesar 0,717 (lebih besar dari 0,05) artinya H0diterima, bahwa secara parsial operating profit
margin tidak mempunyai pengaruh yang signifikan dalam
memprediksi pertumbuhan laba pada perusahaan pertambangan pada tingkat kepercayaan 95%.