HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Objek Penelitian
51. PT.Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM)
4.3.1 Pengujian Hipotesis I
Hipotesis pertama dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan rata-rata
abnormal return pada saham manufaktur sebelum dan sesudah pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia tahun 2014 di Bursa Efek Indonesia. Pengujian terhadap hipotesis pertama dengan menggunakan uji beda Paired-Sample t Test.
Tabel 4.8
Uji Beda Rata-Rata Abnormal Return 7 hari sebelum dan 7 hari sesudah pemilihan presiden 2014 di BEI
Rata-Rata Abnormal Return Sebelum Rata-Rata Abnormal Return Sesudah Mean ,002789469 ,001554080 Standar Deviasi ,0010083155 ,0008257470 t hitung ,944 Sig. (2-tailed) ,350
Keterangan Tidak Signifikan
Sumber: Output SPSS 20 (data diolah, 2015)
Tabel 4.9 di atas menunjukkan bahwa rata-rata abnormal return saham sebelum pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia tahun 2014 di BEI dari (t-7 sampai t-1) diperoleh sebesar 0,27% atau terjadi reaksi yang positif, sedangkan rata-rata abnormal return saham sesudah pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia tahun 2014 di BEI dari (t+1 sampai t+7) diperoleh sebesar 0,15% atau terjadi
82 reaksi yang positif. Secara matematis, rata-rata abnormal return saham 7 hari
sebelum pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia tahun 2014, lebih besar daripada rata-rata abnormal return saham 7 hari sesudah pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia tahun 2014.
Namun demikian, hasil pengujian perbedaan rata-rata abnormal return sebelum dan sesudah pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia tahun 2014 di BEI secara statistik diperoleh t hitung = 0,944 dengan signifikansi sebesar 0,350. Karena tingkat signifikansi 0,350 berada di atas 0,05 maka hal ini berarti, tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik rata-rata abnormal return saham sebelum dan sesudah pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia tahun 2014 di Bursa Efek Indonesia. Dengan demikian, hipotesis pertama dalam penelitian ini diterima.
4.3.2 Pengujian Hipotesis II
Hipotesis kedua dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan rata-rata trading volume activity pada saham manufaktur sebelum dan sesudah pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia tahun 2014 di Bursa Efek Indonesia.
Pengujian terhadap Hipotesis II dilakukan dengan menggunakan uji beda non-parametrik yaitu uji Wilcoxon Signed Ranks Test karena data rata-rata trading volume activity 7 hari sebelum dan 7 hari sesudah pemilihan presiden dan wakil presiden RI tahun 2014 terdistribusi tidak normal.
83 Tabel 4.9
Uji Beda Rata-Rata Trading Volume Activity
7 hari sebelum dan 7 hari sesudah pemilihan presiden 2014 di BEI
Ranks
N Mean Rank Sum of Ranks
TVAaft - TVAbef Negative Ranks 13a 13,92 181,00 Positive Ranks 36b 29,00 1044,00 Ties 2c Total 51 a. TVAaft < TVAbef b. TVAaft > TVAbef c. TVAaft = TVAbef Test Statisticsa TVAaft – TVAbef Z -4,293b
Asymp. Sig. (2-tailed) ,000
a. Wilcoxon Signed Ranks Test b. Based on negative ranks.
Sumber: Output SPSS 20 (data diolah, 2015)
Berdasarkan Tabel 4.9, selisih antara rata-rata trading volume activity sebelum dan sesudah yang bernilai negatif (negative difference) menunjukkan bahwa rata-rata
trading volume activity sesudah lebih kecil daripada rata-rata trading volume activity
sebelum pemilihan presiden. Terdapat sebanyak 13 sampel yang bernilai negatif. Berdasarkan Tabel 4.9, selisih antara rata-rata trading volume activity sebelum dan sesudah yang bernilai positif (positif difference) menunjukkan bahwa rata-rata
trading volume activity sesudah lebih besar daripada rata-rata trading volume activity
sebelum pemilihan presiden. Terdapat sebanyak 36 sampel yang bernilai positif. Adapun data rata-rata trading volume activity sebelum dan sesudah yang bernilai sama (ties) sebanyak 2 yang berarti terdapat 2 sampel perusahaan manufaktur yang
84 memiliki nilai rata-rata trading volume activity sebelum pemilihan presiden sama dengan sesudah pemilihan presiden RI tahun 2014.
Secara matematis, rata-rata trading volume activity saham 7 hari sesudah pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia tahun 2014 yaitu sebesar 0,0061209 atau sebesar 0,61%, lebih besar daripada rata-rata trading volume activity
saham 7 hari sebelum pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia tahun 2014 yaitu sebesar 0,0051269 atau sebesar 0,51%.
Berdasarkan hasil uji Wilcoxon Signed Ranks Test, nilai Z yang didapat sebesar -3,749 dengan p value (Asymp.Sig 2-tailed) sebesar 0,000 di mana lebih kecil dari batas kritis 0,05 sehingga keputusan hipotesis adalah menolak H0 yang berarti terdapat perbedaan rata-rata trading volume activity saham sebelum dan sesudah pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia tahun 2014. Dengan demikian, hipotesis pertama dalam penelitian ini ditolak.
85 4.4 Pembahasan Hasil Pengujian Hipotesis
Berdasarkan hasil pengujian pada hipotesis pertama menggunakan uji beda Paired-Sample t Test disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata abnormal return saham periode 7 hari sebelum pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia tahun 2014 dan rata-rata abnormal return
saham 7 hari sesudah pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia tahun 2014. Kesimpulan tersebut didasarkan pada nilai signifikansi yang lebih besar dari 0,05 yaitu 0,350.
Hasil pengujian pada hipotesis kedua menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks Test, menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata
trading volume activity saham periode 7 hari sebelum pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia tahun 2014 dan rata-rata trading volume activity saham 7 hari sesudah pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia tahun 2014. Kesimpulan tersebut didasarkan pada nilai nilai Z yang didapat sebesar -3,749 dengan p value (Asymp.Sig 2 tailed) sebesar 0,000 di mana lebih kecil dari batas kritis 0,05.
Berdasarkan pengujian pada hipotesis pertama, diketahui bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pada rata-rata abnormal return saham antara sebelum dan sesudah pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia tahun 2014. Tidak signifikannya perbedaan rata-rata abnormal return saham antara sebelum dan sesudah pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia tahun 2014 menunjukan bahwa investor belum memperoleh expected return atau keuntungan yang diharapkan yang bisa memberikan abnormal return yang signifikan akibat gejolak harga yang
86 tidak bisa diprediksi oleh para investor. Namun jika dilihat dari rata-rata abnormal return 7 hari sebelum dan 7 hari sesudah pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia tahun 2014, dapat disimpulkan terjadi penurunan rata-rata
abnormal return pada periode setelah peristiwa pemilihan presiden dan wakil
presiden Republik Indonesia tahun 2014 berlangsung.
Berdasarkan pengujian pada hipotesis kedua, diketahui bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada rata-rata trading volume activity saham antara sebelum dan sesudah pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia tahun 2014. Terdapatnya perbedaan rata-rata trading volume activity saham antara 7 hari sebelum dan 7 hari sesudah pemilihan presiden dan wakil presiden RI tahun 2014, menunjukan peristiwa pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia tahun 2014 memiliki kandungan informasi yang mempengaruhi para pelaku pasar untuk melakukan transaksi perdagangan saham di bursa. Jika dilihat dari rata-rata
trading volume activity saham 7 hari sebelum dan 7 hari sesudah pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia tahun 2014, dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan rata-rata trading volume activity pada periode sesudah peristiwa pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia tahun 2014 berlangsung.
Maka berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa peristiwa pemilihan presiden dan wakil presiden RI tahun 2014, mempengaruhi investor untuk meningkatkan volume transaksinya di bursa yang mengakibatkan perbedaan yang signifikan pada trading volume activity saham sebelum dan sesudah peristiwa, namun
87 investor belum bisa mendapatkan abnormal return yang signifikan pada peristiwa politik (peristiwa pemilihan presiden dan wakil presiden RI tahun 2014).
Meskipun demikian, secara matematis dapat diketahui bahwa rata-rata abnormal return saham sesudah peristiwa lebih kecil daripada rata-rata abnormal return saham sebelum peristiwa, namun rata-rata trading volume activity saham sesudah peristiwa lebih besar daripada rata-rata trading volume activity sebelum peristiwa. Ini mengindikasikan bahwa pemilihan presiden dan wakil presiden RI tahun 2014, mempengaruhi investor untuk meningkatkan transaksinya di bursa setelah peristiwa tersebut dilaksanakan, namun rata-rata abnormal return yang diperoleh lebih kecil setelah pemilihan presiden dan wakil presiden RI dilaksanakan bisa dipengaruhi oleh gejolak harga yang tidak dapat diprediksi oleh para investor.
Hal ini bisa dikarenakan adanya perbedaan hasil quick count pemenang pemilu oleh sejumlah lembaga survei. Hasil quick count sejumlah lembaga survei menghasilkan keputusan yang berbeda. Hasil quick qount sejumlah lembaga survei menyebutkan Jokowi-Jk unggul atas Prabowo-Hatta, tetapi sebagian lembaga survei lainnya menunjukkan data sebaliknya. Sebanyak 8 lembaga survei, yaitu KOMPAS, SMRC, CSIS-Cyrus, LSI, IPI, Poltracking, Populi, dan RRI mengunggulkan pasangan Jokowi-Jk. Namun empat lembaga survei lainnya, yaitu Puskaptis, JSI, LSN, dan IRC mengunggulkan pasangan Prabowo-Hatta. (sumber:www.kompas.com). Situasi seperti ini bisa mengakibatkan gejolak di pasar yang menimbulkan keraguan para investor akibat ketidakpastian pemenang pemilu sehingga investor harus menunggu kepastian resmi hasil akhir pemilihan presiden dan
88 wakil presiden Republik Indonesia dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada tanggal 22 Juli 2014.
Secara teoritikal, terdapat tiga bentuk pasar modal yang efisien, yaitu efisiensi bentuk lemah, efisiensi bentuk setengah kuat, dan efisiensi bentuk kuat. Efisiensi pasar dikatakan setengah kuat (semi-strong form) karena dalam proses pengambilan keputusan jual-beli saham investor menggunakan data harga masa lalu, volume masa lalu, dan semua informasi yang dipublikasikan seperti peristiwa politik. Jika pasar efisien dalam bentuk setengah kuat, maka tidak ada investor yang dapat menggunakan informasi yang dipublikasikan seperti peristiwa politik (pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia tahun 2014) untuk mendapatkan
abnormal return atau keuntungan tidak normal.
Berdasarkan hasil penelitian yang menyimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan rata-rata abnormal return yang signifikan sebelum dan sesudah pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia tahun 2014, maka disimpulkan bahwa pasar modal Indonesia merupakan pasar efisien bentuk setengah kuat. Meskipun hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata trading volume activity yang signifikan sebelum dan sesudah pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia tahun 2014, namun dikarenakan efisiensi pasar lebih menekankan pada abnormal return, maka disimpulkan pasar modal Indonesia digolongkan ke dalam efisiensi pasar bentuk setengah kuat (semi-strong form).
Dengan demikian, hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan peneliti sebelumnya yang dilakukan oleh Dedi Ananto (2014) dengan judul
89 “Pengaruh Pemilu Legislatif terhadap Abnormal Return dan Trading Volume Activity
Saham di Jakarta Islamic Index” (Studi Kasus pada Peristiwa Pemilu Legislatif 9 April 2014) yang menyimpulkan bahwa pemilu legislatif tidak berpengaruh signifikan terhadap abnormal return, namun pemilu legislatif berpengaruh signifikan terhadap trading volume activity.
Hasil penelitian ini juga mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya yang dilakukan oleh Maybina Puspa Fitriasti (2011) dengan judul “Analisa Abnormal Return dan Trading Volume Activity pada Peristiwa Pergantian Menteri Keuangan Kabinet Indonesia Bersatu II (Study pada Saham LQ-45 di Bursa Efek Indonesia” yang menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan rata-rata abnormal return sebelum dan sesudah pergantian menteri keuangan, namun terdapat perbedaan rata-rata trading volume activity yang signifikan sebelum dan sesudah pergantian menteri keuangan.
90 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN