4.4 Uji Asumsi Klasik
4.4.4 Analisa Regresi Linier Berganda
4.4.4.3 Pengujian Hipotesis Secara Parsial (Uji t)
Untuk mengetahui apakah variabel bebas secara parsial (individual) berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat digunakan uji t. Jika t hitung >
t tabel atau nilai signifikansi t < 0.05 (α=5%), maka H0 ditolak dan H1 diterima, artinya variabel bebas secara parsial (individual) berpengaruh signifikan terhadap variable terikat. Sedangkan jika t hitung < t table atau nilai signifikansi t > 0.05 (α=5%), maka H0 diterima dan H1 ditolak, artinya variabel bebas secara parsial (individual) tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat.
Hasil uji t antara variabel faktor lingkungan (X1), faktor organisasi (X2) dan faktor individu (X3) terhadap variabel stres kerja (Y) adalah sebagai berikut:
Tabel 4.20. Hasil Uji t
Model
Unstandardized
Coefficients t Sig.
B Std. Error
Konstanta 0.232 0.730 0.318 0.752
Faktor Lingkungan 0.198 0.150 1.317 0.196 Faktor Organisasi 0.317 0.152 2.081 0.044 Faktor Individu 0.580 0.157 3.691 0.001
Sumber: Lampiran 8
Uji t antara variabel faktor lingkungan (X1) dengan variable stres kerja (Y) menghasilkan t hitung sebesar 1.317 < t table 2.023 (α/2=0.025; df residual=39). Dengan nilai signifikansi t sebesar 0.196 > 0.05, maka H0 diterima dan H1 ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa secara parsial (individual) faktor lingkungan tidak berpengaruh signifikan terhadap stres kerja karyawan Food & Beverage Hotel Novotel Surabaya, seperti terlihat pada gambar bawah ini.
Gambar 4.7. Kurva Distribusi Penolakan/Penerimaan Hipotesis Faktor Lingkungan Terhadap Stres Kerja
Uji t antara variabel faktor organisasi (X2) dengan variable stres kerja (Y) menghasilkan t hitung sebesar 2.081 > t table 2.023 (α/2=0.025; df residual=39). Dengan nilai signifikansi t sebesar 0.044 < 0.05, maka H0 ditolak dan H1 diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa secara parsial (individual) faktor organisasi berpengaruh signifikan terhadap stres kerja karyawan Food &
Beverage Hotel Novotel Surabaya, seperti terlihat pada gambar bawah ini.
Gambar 4.8. Kurva Distribusi Penolakan/Penerimaan Hipotesis Faktor Organisasi Terhadap Stres Kerja
Uji t antara variabel faktor individu (X3) dengan variable stres kerja (Y) menghasilkan t hitung sebesar 3.691 > t table 2.023 (α/2=0.025; df residual=39). Dengan nilai signifikansi t sebesar 0.001 < 0.05, maka H0 ditolak
Daerah penolakan Ho Daerah
penolakan Ho Daerah penerimaan Ho
t tabel =
penolakan Ho Daerah penerimaan Ho
t tabel =
dan H1 diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa secara parsial (individual) faktor individu berpengaruh signifikan terhadap stres kerja karyawan Food &
Beverage Hotel Novotel Surabaya, seperti terlihat pada gambar bawah ini.
Gambar 4.9. Kurva Distribusi Penolakan/Penerimaan Hipotesis Faktor Individu Terhadap Stres Kerja
Berdasarkan hasil uji t di atas, maka hipotesis kedua penelitian yang menduga bahwa faktor lingkungan, organisasi dan individu berpengaruh secara parsial terhadap stres kerja karyawan Food & Beverage Hotel Novotel Surabaya hanya terbukti pada faktor organisasi dan faktor individu, sedangkan pada faktor lingkungan tidak terbukti kebenarannya.
Untuk mengetahui manakah di antara faktor lingkungan, organisasi dan individu yang berpengaruh dominan terhadap stres kerja karyawan Food &
Beverage Hotel Novotel Surabaya, maka dilihat nilai koefisien determinasi parsial (r2). Variabel yang memiliki nilai r2 terbesar adalah variabel yang mempunyai pengaruh dominan. Berikut adalah nilai r2 masing-masing variabel bebas:
Daerah penolakan Ho Daerah
penolakan Ho Daerah penerimaan Ho
t tabel = -1.992
t tabel = 1.992
t hitung = 6.895
‐2.023 2.023 3.691
Tabel 4.21. Koefisien Determinasi Parsial Variabel Bebas
Faktor Lingkungan 0.206 0.0424
Faktor Organisasi 0.316 0.0999
Faktor Individu 0.509 0.2591
Sumber: Lampiran 8
Berdasarkan Tabel 4.21 dapat dilihat bahwa koefisien determinasi parsial (r2) variabel faktor individu paling besar yaitu sebesar 0.2591 atau 25.91%, sedangkan r2 variabel faktor organisasi sebesar 0.0999 atau 9.99%, dan r2 variabel faktor lingkungan sebesar 0.0424 atau 4.24%. Hasil ini menunjukkan bahwa variabel faktor individu paling dominan dalam mempengaruhi stres kerja karyawan Food & Beverage Hotel Novotel Surabaya. Karena selain memiliki nilai koefisien yang paling besar, yang menentukan bisa stres atau tidak stres seseorang berasal dari individu itu sendiri. Dan dari faktor individu, masalah keluarga yang dialami oleh karyawan itu sendiri yang menjadi penyebab paling besar. Dengan demikian hipotesis ketiga penelitian yang menduga bahwa faktor yang berpengaruh secara dominan terhadap stres kerja karyawan adalah faktor individu, terbukti kebenarannya.
4.5 Pembahasan
Berdasarkan hasil uji F dapat diketahui bahwa faktor lingkungan, faktor organisasi dan faktor individu secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap stres kerja karyawan departemen Food & Beverage Hotel Novotel Surabaya. Hal ini ditunjukkan dengan nilai F hitung sebesar 7.046 yang lebih besar daripada nilai F tabel sebesar 2.845. Dan nilai signifikasi sebesar 0.001.
Dengan demikian hipotesis pertama penelitian yang menduga bahwa faktor lingkungan, faktor organisasi dan faktor individu berpengaruh secara simultan terhadap stres kerja karyawan Food & Beverage Hotel Novotel Surabaya terbukti.
Dari hasil uji regresi di dapati bahwa Koefesien Determinasi (R²) sebesar 0.351 memiliki arti bahwa faktor lingkungan, faktor organisasi dan faktor individu memberikan kontribusi terhadap stres kerja karyawan departemen Food &
Beverage Hotel Novotel Surabaya sebesar 35.1% sedangkan sisanya 64.9%
merupakan kontribusi dari faktor lainnya.
Berdasarkan hasil uji t dapat diketahui bahwa faktor lingkungan (X1) mempunyai t hitung sebesar 1.317 yang nilainya lebih kecil daripada t tabel yang sebesar 2.023 dengan nilai signifikasi sebesar 0.196. Hal ini menandakan bahwa faktor lingkungan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap stres kerja karyawan Food & Beverage Hotel Novotel Surabaya. Sedangkan kedua faktor lainnya yaitu faktor organisasi (X2) dan faktor individu (X3) mempunyai nilai signifikasi masing-masing sebesar 0.044 dan 0.001 yang lebih kecil daripada nilai signifikasi sebesar 0.05. Ini berarti dua faktor ini secara parsial berpengaruh secara signifikan terhadap stres kerja (Y) karyawan departemen Food &
Beverage Hotel Novotel Surabaya yang ditunjukkan dengan t hitung masing-masing sebesar 2.081 dan 3.691. Dengan demikian hipotesis kedua penelitian yang menduga bahwa faktor lingkungan, faktor organisasi, dan faktor individu berpengaruh secara parsial terhadap stres kerja karyawan Food & Beverage Hotel Novotel Surabaya hanya terbukti di faktor organisasi dan faktor individu saja.
Sedangkan faktor lingkungan tidak terbukti mempengaruhi.
Berdasarkan nilai koefisien determinasi parsial, faktor individu berpengaruh paling dominan terhadap stres kerja karyawan departemen Food &
Beverage Hotel Novotel Surabaya yaitu sebesar 25.91% daripada dua faktor lainnya. Hasil ini menunjukkan bahwa variabel faktor individu paling dominan dalam mempengaruhi stres kerja karyawan Food & Beverage Hotel Novotel Surabaya. Dengan demikian hipotesis ketiga penelitian yang menduga bahwa faktor yang berpengaruh secara dominan terhadap stres kerja karyawan adalah faktor individu.