II. METODE PENELITIAN
3) Pengujian Instrumen
Ketepatan pengujian suatu hipotesis tentang hubungan dari variabel penelitian sangat tergantung pada kualitas data yang digunakan dalam pengujian tersebut. Data penelitian yang digunakan serta proses pengumpulannya terkadang memerlukan pembiayaan yang besar, adanya alokasi waktu yang cukup lama, serta kesulitan untuk mendapatkan informasi yang sebenarnya dari responden sering menjadi kendala untuk mendapatkan data yang valid. Untuk itu maka dalam melakukan pengumpulan data hendaknya mampu meminimalisasi tingkat kesalahan (error) dengan cara pengujian validitas dan pengujian reliabilitas data.
(1) Uji Validitas Data
Pengujian validitas dilakukan untuk menguji kevalidan setiap item pertanyaan atau pernyataan untuk setiap item pada setiap variabel. Teknik uji yang digunakan adalah teknik korelasi melalui Koefisien Korelasi Product Moment dari Pearson (Sugiyono,1999;115) yaitu dengan cara mengkorelasikan skor setiap item pertanyaan/pernyataan dengan rumus sebagai berikut :
2 2 2 N Y Y X N Y X XY N r Dimana :r = Koefisien Validitas item yang dicari
X = Jumlah skor dalam distribusi X Y = Jumlah skor dalam distribusi Y
X2 = Jumlah kuadrat pada masing-masing X Y2 = Jumlah kuadrat pada masing-masing Y XY = Jumlah skor total dalam distribusi X dan Y N = Jumlah Responden
Bila koefisien korelasi untuk seluruh item telah dihitung, perlu ditentukan angka terkecil yang dapat dianggap cukup tinggi sebagai indikator adanya konsistensi antara skor item dan skor keseluruhan. Dalam hal ini tidak ada batasan yang tegas. Prinsip utama pemilihan item dengan melihat koefisien korelasi adalah mencari harga koefisien yang setinggi mungkin dengan melihat koefisien korelasi yang mendekati nol. Menurut Kaplan dan Saccuso (1993;102), item yang baik adalah item yang biasanya memiliki nilai koefisien korelasi antara 0,30 - 0,70. Sedangkan menurut Aswar (1993;23) biasanya dalam pengembangan dan penyusunan skala-skala psikologi digunakan harga koefisien yang minimal sama dengan 0,30 dapat disisihkan dan item-item yang akan dimasukkan dalam alat test adalah item-item yang memiliki korelasi di atas 0,30 dengan pengertian semakin tinggi korelasi itu mendekati angka sempurna yaitu 1,00 semakin baik pula konsistensinya.
Disamping itu besarnya koefisien korelasi yang diperoleh dapat ditentukan pula berdasarkan kriteria Guilford (1956) dengan ketentuan sebagai berikut :
Tabel 3.3. Kriteria Penentuan Tingkat Korelasi Item Menurut Guilford
Koefisien Korelasi Ketentuan
Kurang dari 0,20 0,20 - 0,40 0,40 - 0,70 0,70 - 0,90
Tidak ada korelasi Korelasi rendah Korelasi sedang Korelasi tinggi
0,90 - 1,00 1,00
Korelasi tinggi sekali Korelasi sempurna Sumber : Guilford (1956)
Berdasarkan kriteria Guilford (1956;64) di atas terlihat bahwa item yang cukup baik adalah item yang mempunyai koefisien korelasi di atas 0,20. Berdasarkan harga korelasi tersebut akan ditemukan item-item pernyataan yang mana saja yan harus dikeluarkan, diperbaiki atau diganti dalam alat ukur tersebut.
(2) Pengujian Reliabilitas Data
Reliabilitas adalah tingkat kepercayaan hasil suatu pengukuran sejauh mana suatu pengukuran dapat dipercaya dan sejauhmana skor hasil pengukuran terbebas dari galat ukur (Measurement error). Berarti, reliabilitas adalah tingkat kepercayaan hasil suatu pengukuran. Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi mampu memberikan hasil ukur yang konsisten (reliabel), serta dapat memberikan hasil yang relatif sama jika dilakukan pengukuran pada waktu yang berbeda. Reliabilitas merupakan salah satu ciri atau karakter utama instrumen pengukuran yang baik.
Tinggi rendahnya reliabilitas, secara empiris ditunjukkan oleh suatu angka yang disebut koefisien reliabilitas. Secara teoritis besarnya koefisien korelasi reliabilitas berkisar antara 0,00 - 1,00, namun kenyataannya koefisien 1,00 tidak pernah tercapai dalam pengukuran. Hal ini disebabkan karena manusia sebagai obyek pengukuran psikologis merupakan sumber ketidakkonsistenan yang potensial. Menurut Kaplan dan Saccuso (1993;57), besarnya koefisien reliabilitas minimal yang harus dipenuhi oleh suatu alat ukur adalah 0,60. Disamping itu, walaupun koefisien korelasi dapat bertanda positif (+) atau negatif (-) tetapi dalam reliabilitas mengacu pada koefisien yang positif (+).
metode Plit Half method (Spearman Brown Correlation). Skor interval item-item berurutan ganjil dijumlahkan sehingga diperoleh skor total belahan ganjil. Demikian pula skor interval item-item berurutan genap dijumlahkan sehingga diperoleh skor total belahan genap. Selanjutnya, skor total belahan ganjil dan belahan genap dikorelasikan melalui Koefisien Korelasi Product-Moment dari Pearson. Langkah kerja ini dilakukan setelah prosedur penaikan skala dari ordinal ke interval dilakukan. Nilai korelasi yang diperoleh kemudian digunakan untuk mengukur reliabilitas variabel dengan terlebih dahulu mentransformasikannya ke dalam formula Spearman-Brown sebagai berikut :
tt tt tot r r r 1 . 2 Sumber : Singarimbun (1995;143)
Variabel yang diuji reliabel bila nilai koefisien reliabilitas Spearman-Brown yang diperoleh positif dan signifikan. Jika nilai koefisien reliabilitas negatif atau non-signifikan berarti variabel yang bersangkutan tidak reliabel sehingga kuesioner perlu diperbaiki. Setelah di uji dengan menggunakan metode Produk Moment dan Spearman Brown, item-item pertanyaan dari kuesioner menunjukkan valid dan reliabel seperti tampak dalam lampiran 12.
3.5. Rancangan Analisis dan Uji Hipotesis
Sebelum dilakukan analisis data terlebih dahulu data ordinal hasil kuesioner dinaikkan menjadi skala interval melalui metode interval berurutan (Method Of Successive Interval) dari Thurstone (Al-Rasyid,1993;45).
Wright dengan tujuan menerangkan akibat langsung dan tidak langsung seperangkat variabel penyebab terhadap variabel lainnya yang merupakan variabel akibat.
Penggunaan analisis jalur (Path Analysis) diperlukan syarat data yang mempunyai tingkat pengukuran sekurang-kurangnya interval. Karena beberapa variabel dalam penelitian ini berskala ordinal, maka perlu ditingkatkan menjadi interval terlebih dahulu melalui Methode of Succesive Interval (Harun Al-Rasyid, 1994;131).
Penaikan skala dari ordinal ke interval ini dilakukan untuk setiap item per variabel. Tahapan-tahapan Method Of Successive Interval adalah sebagai berikut : 1). Menentukan frekuensi setiap respon
2). Menentukan proporsi setiap respon dengan membagi frekuensi dengan jumlah sampel.
3). Menjumlah proporsi secara berurutan untuk setiap respon sehingga diperoleh proporsi kumulatif.
4). Menentukan nilai Z untuk masing-masing proporsi kumulatif yang dianggap menyebar mengikuti sebaran normal baku.
5). Menentukan nilai density
6). Menghitung scale value (SV) untuk masing-masing respon dengan rumus :
SVi AreaUnderUDensityatLowerLimitpperLimit DensityatUAreaUnderLpperLimitowerLimit
Dimana :
Density at Lower Limit : Kepadatan Batas Bawah Densiti at Upper Limit : Kepadatan Batas Atas Area Under Upper Limit : Daerah di Bawah Batas Atas Area Ubder Lower Limit : Daerah di bawah Batas Bawah
7). Mengubah Scale Value (SV) terkecil menjadi sama dengan 1(satu) dan mentransformasikan masing-masing skala menurut perubahan skala terkecil
sehingga diperoleh transformed scala value (TSV).
Transformasi nilai skala menggunakan rumus sebagai berikut (Transformed Scale Value) :
Y SV Sv 1 Sumber : Harun Al-Rasyid (1993)
Gambar 3.1 Struktur Hubungan Antara Variabel Penelitian
Model penelitian di atas pada hakekatnya memperlihatkan bahwa kompetensi manajer (X1) dan internal organisasi (X2) merupakan anteseden atau di anggap variabel bebas (presumed independent variabel) yang secara langsung mempengaruhi penentuan posisi (Y1), dan hasil penjualan (Y2) sebagai konsekuensi atau di anggap variabel terikat (presumed dependent variabel).
Adapun langkah-langkah dalam analisis jalur untuk rancangan uji hipotesis adalah sebagai berikut :