• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : METODE PENELITIAN

G. Pengujian Keabsahan Data

Bentuk uji keabsahan terdiri atas empat, yaitu: 1. Derajat kepercayaan (credibility)

2. Keteralihan (transferability) 3. Kebergantungan (dependability) 4. Kepastian (confirmability)

Namun, dari keempat bentuk itu, uji kredibilitas datalah yang utama. Sehingga peneliti hanya menggunakan uji kredibilitas data atau derajat kepercayaan dalam menguji keabsahan data yang diambil peneliti.

Derajat kepercayaan (credibility)

Uji ini pada dasarnya merupakan pengganti konsep validitas internal dari penelitian nonkualitatif. Uji ini memiliki dua fungsi, yaitu (1) melaksanakan pemeriksaan sedemikan rupa sehingga tingkat kepercayaan penemuan kita dapat dicapai; (2) mempertunjukkan derajat kepercayaan hasil-hasil penemuan kita dengan jalan pembuktian terhadap kenyataan ganda yang sedang diteliti (Moleong, 2006: 324). Untuk menguji kredibilitas data, dapat dilakukan dengan tujuh teknik, yaitu perpanjangan pengamatan,

meningkatkan ketekunan, triangulasi, diskusi dengan teman sejawat, member check, analisis kasus negatif, dan menggunakan bahan referensi.

a. Perpanjangan Pengamatan

Sebagaimana sudah dikemukakan, peneliti dalam penelitian kualitatif adalah instrumen itu sendiri. Keikutsertaan tersebut tidak hanya dilakukan dalam waktu singkat, tetapi memerlukan perpanjangan pengamatan pada latar penelitian. Perpanjangan pengamatan berarti peneliti tinggal di lapangan penelitian sampai kejenuhan pengumpulan data tercapai. Jika hal itu dilakukan maka akan:

1) Membatasi gangguan dari dampak peneliti pada konteks 2) Membatasi kekeliruan (biasesi) peneliti

3) Mengompensasikan pengaruh kejadian-kejadian yang tidak biasa atau pengaruh sesaat

b. Ketekunan Pengamatan

Ketekunan pengamatan berarti mencari secara konsisten interpretasi dengan berbagai cara dalam kaitan dengan proses analisis yang konstan atau tentatif. Mencari suatu usaha membatasi berbagai pengaruh. Mencari apa yang dapat diperhitungkan dan apa yang tidak dapat. Melalui teknik ini, dimaksudkan untuk menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci.

Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Denzin (1978) membedakan lima macam triangulasi:

1) Triangulasi Sumber

Triangulasi sumber adalah suatu teknik pengecekan kredibilitas data yang dilakukan dengan memeriksa data yang didapatkan melalui beberapa sumber.

2) Triangulasi Teknik

Teknik ini digunakan untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Terdapat dua strategi dalam teknik ini. Pertama, pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknik pengumpulan data. Kedua, pengecekan derajat kepercayaan sumber data dengan teknik yang sama.

3) Triangulasi Waktu

Teknik ini dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi, atau teknik lain dalam waktu atau situasi berbeda.

4) Triangulasi Penyidik

Teknik ini adalah cara pemeriksaan kredibilitas data yang dilakukan dengan memanfaatkan pengamat lain untuk pengecekan derajat kepercayaan data peneliti.

5) Triangulasi Teori

Teknik ini merupakan cara pemeriksaan kredibilitas data yang dilakukan dengan menggunakan lebih dari satu teori untuk memeriksa data temuan penelitian.

d. Diskusi dengan Teman Sejawat

Teknik ini dilakukan dengan cara mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang kita dapatkan dalam bentuk diskusi dengan rekan-rekan sejawat. Teknik ini mengandung beberapa maksud dan tujuan. Pertama, untuk membuat agar peneliti tetap mempertahankan sikap terbuka dan kejujuran. Kedua, diskusi dengan sejawat ini memberikan suatu kesempatan awal yang baik untuk mulai menjajaki dan menguji hipotesis kerja yang muncul dari pemikiran peneliti.

e. Member Check

Member check adalah proses pengecekan data yang kita peroleh kepada pemberi data. Tujuannya, untuk mengetahui seberapa jauh data yang diperoleh sesuai dengan apa yang diberikan oleh pemberi data. Jika data yang kita temukan itu disepakati oleh para pemberi data, berarti data tersebut valid sehingga semakin kredibel (dipercaya). Namun sebaliknya, jika pemberi data tidak menyepakatinya secara tajam, peneliti harus mengubah temuannya dan menyesuaikan dengan apa yang diberikan oleh pemberi data.

Kasus negatif adalah kasus yang tidak sesuai atau berbeda dengan hasil penelitian hingga pada saat tertentu. Dasar pertimbangan bahwa analisis kasus negatif dapat meningkatkan derajat kredibilitas data adalah karena melakukan analisis kasus negatif berarti kita mencari data yang berbeda (kalau ada) atau bahkan bertentangan dengan kebanyakan data yang telah ditemukan. Data yang berbeda atau bahkan bertentangan ini perlu dilacak alasannya agar bisa dijelaskan. Inilah yang dimaksud dengan analisis kasus negatif.

g. Menggunakan Bahan Referensi

Bahan referensi di sini adalah adanya bahan pendukung untuk membuktikan data yang telah kita temukan. Sebagai contoh, data hasil wawancara perlu didukung dengan adanya rekaman wawancara. Data tentang interaksi manusia atau gambaran suatu keadaan perlu didukung oleh foto-foto. Semua alat bantu perekam data dalam penelitian kualitatif sangat dibutuhkan untuk mendukung kredibilitas data yang telah ditemukan.

H. TAHAPAN PROSES PENGEMBANGAN PRODUK

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan tahapan proses pengembangan dari Tjiptono (2008) untuk mengembangkan produk (pasar). Tahapan proses pengembangannya terdiri dari delapan tahap, yaitu:

Kebutuhan konsumen merupakan dasar dalam pengembangan Pasar Barter Wulandoni. Konsumen yang dimaksud dalam hal ini adalah orang-orang yang terlibat langsung dalam proses barter di Pasar Barter Wulandoni. Kebutuhan-kebutuhan tersebut menjadi pertimbangan untuk menentukan perencanaan pengembangan Pasar Barter Wulandoni selanjutnya.

2. Pemunculan Gagasan

Pada tahapan ini, peneliti mencari dan menggali informasi-informasi atau gagasan-gagasan dari sumber-sumber yang akan diwawancarai. Dari beragaram informasi maupun gagasan yang terkumpul akan menjadi produk baru yang dapat dikembangkan untuk Pasar Barter Wulandoni.

3. Penyaringan Ide dan Evaluasi

Salah satu bagian penting dalam pengembangan produk diperlukan adanya evaluasi terhadap gagasan-gagasan yang telah terkumpul tersebut. Dipilah mana yang akan dikembangkan dan mana yang tidak dapat dikembangkan untuk Pasar Barter Wulandoni.

4. Analisis Bisnis

Dalam pengembangan Pasar Barter Wulandoni akan melewati tahapan ini.

5. Pengembangan Strategi Pemasaran

Tujuan pengembangan strategi pemasaran adalah penyempurnaan rencana lebih lanjut pada tahap-tahap berikutnya, yaitu bagaimana

strategi pemasaran unutk mengenalkan produk baru tersebut kepada masyarakat Kecamatan Wulandoni.

6. Pengembangan Produk

Pengembangan produk ini berkenaan dengan pembuatan karakteristik fisik dari Pasar Barter Wulandoni baik dari segi barang maupun infrastruktur baru yang dapat diterima bagi masyarakat Kecamatan Wulandoni. Barang maupun infrastruktur yang dikembangkan bertujuan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat yang melakukan kegiatan di Pasar Barter Wulandoni.

7. Pengujian Produk dan Pasar

Pengembangan tersebut tidak diujikan pada Pasar Barter Wulandoni karena peneliti hanya sebatas ide untuk pengembangan Pasar Barter Wulandoni.

8. Komersialisasi

Tahapan ini juga tidak dilaksanakan karena peneliti hanya sebatas ide untuk pengembangan Pasar Barter Wulandoni.

I. MODEL PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN

Dalam penelitian ini digunakan model pengembangan Plomp untuk pengembangan perangkat pembelajaran. Model pengembangan menurut Plomp terdiri dari lima fase, yaitu:

Fase investigasi awal merupakan tahap persiapan untuk memperoleh informasi mengenai permasalahan yang terjadi pada pasar barter Wulandoni, serta mengumpulkan informasi-informasi mengenai kebutuhan dalam proses pembelajaran matematika, model pembelajaran yang akan digunakan, serta perangkat pembelajaran yang dapat diangkat dalam pembelajaran matematika. Dalam tahap ini, maka terlebih dahulu mengkaji etnomatematika yang terkait dengan pasar barter Wulandoni yang kemudian dilakukan pemilihan unsur-unsur yang tepat untuk digunakan dalam proses pembelajaran matematika.

2. Fase Desain

Setelah melalui tahap pencermatan terhadap analisis kebutuhan, serta kajian literatur maka disusun suatu rancangan paket pembelajaran yang akan dilakukan pengembangan. Pada tahap ini, maka akan dihasilkan paket pembelajaran yang dapat mengakomodasi proses pembelajaran matematika yang berbasis pada Pasar Barter Wulandoni. Paket pembelajaran tersebut dapat berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Lembar Kerja Siswa, buku atau modul, media pembelajaran, maupun instrumen penilaian.

3. Fase Realisasi

Dalam tahap ini, maka paket pembelajaran dibuat dalam bentuk yang lebih rinci dan lebih mengedepankan aspek pembelajaran matematika dengan didasarkan beberapa masukan dari hasil validasi oleh ahli terkait dengan paket pembelajaran yang telah disusun sebelumnya.

4. Fase Tes, Evaluasi, dan Revisi

Dalam tahap ini, maka dilakukan pencermatan kembali poin-poin penting yang tidak begitu memiliki makna penting dalam proses pembelajaran. Melalui tahap ini, maka akan dilakukan evaluasi secara mendalam mengenai paket pembelajaran tersebut, sehingga diharapkan akan diperoleh paket pembelajaran yang berbasis Pasar Barter Wulandoni.

Dalam tahap ini, maka dilakukan proses uji coba (dalam pelaksanaan tidak dimungkinkan) paket pembelajaran ke dalam pembelajaran matematika. Dalam tahap ini, maka akan dikaji aspek- aspek yang kurang begitu memiliki keterkaitan antara Pasar Barter Wulandoni dengan pembelajaran matematika. Melalui tahap tersebut, maka akan dilakukan proses revisi terhadap paket pembelajaran yang telah diujicobakan.

5. Fase Implementasi

Dalam fase ini, menurut Plomp (1997) paket pembelajaran yang telah disusun diimplentasikan dalam wilayah yang lebih luas.