• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengujian Perbaikan Model

Dalam dokumen 4. ANALISA DAN PEMBAHASAN (Halaman 45-60)

Model yang telah diperbaiki memiliki jumlah jalur pengaruh yang lebih sedikit dari model awal. Selanjutnya dilakukan pengujian terhadap hipotesa jalur-jalur pengaruh yang telah dikurangi. Bila perbaikan model memenuhi seluruh hipotesa yang dibuat, selanjutnya dapat dilakukan pengujian kesesuaian model perbaikan. Bila perbaikan model memenuhi syarat kesesuaian, maka model perbaikan dapat dinyatakan sebagai model akhir. Pada model akhir dapat diketahui besarnya pengaruh secara langsung maupun pengaruh secara tidak langsung. Hasil pengujian perbaikan model selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 10.

4.8.1 Uji Hipotesa Perbaikan Model

Pada Tabel 4.23 seluruh nilai p-value hipotesa pengaruh faktor-faktor yang diuji < 0.05, maka model dinyatakan memenuhi hipotesa yang ditetapkan.

Hasil uji selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 10. Selanjutnya adalah menganalisa pengaruh diantara faktor yang terlibat terutama faktor-faktor laten terhadap perilaku pekerja pada cacat konstruksi.

Tabel 4.23. p-value Perbaikan Model

B1 B2 B3 B4 B5 B7 B6 C

B1 0,000 0,000 0,000 0,000 0,007 0,002

-B2 0,000 0,000 - 0,000 0,000 0,000

B3 - 0,000 0,000 -

-B4 0,000 - - 0,000

B5 0,000 0,000 0,000

B7 0,000

-B6

-C

4.8.2 Uji Kesesuaian Perbaikan Model

Melihat hasil pada Tabel 4.24, ketiga uji kesesuaian telah memenuhi syarat yaitu RMSEA 0.001 < 0.08, GF1 0.990 > 0.9 dan AGFI 0.960 > 0.9, dan CM1N/ DF 1,00 < 2.00. Secara keseluruhan model perbaikan dianggap telah memenuhi syarat, langkah selanjutnya adalah memeriksa analisa model perbaikan, bila memenuhi tingkat signifikansi maka model perbaikan dapat

diterima dan dapat dinyatakan menjadi model pengaruh faktor laten pada perilaku pekerja. Hasil lengkap uji kesesuaian dapat dilihat pada lampiran 10.

Tabel 4.24. Uji Kesesuaian Perbaikan Model

Goodness of fit index Syarat Keterangan RMSEA 0,001 ≤ 0,08 memenuhi syarat

GFI 0,990 ≥ 0,90 memenuhi syarat

AGFI 0,960 ≥ 0,90 memenuhi syarat

CMIN/DF 1,000 ≤ 2,00 memenuhi syarat

4.7.3 Analisa Pengaruh langsung

Pengaruh langsung adalah pengaruh suatu faktor terhadap faktor lain tanpa melalui faktor perantara. Contoh pengaruh langsung adalah pengaruh faktor komitmen top manajemen pada faktor quality management system, faktor training, faktor komunikasi, faktor skill level and knowledge, motivasi, dan faktor lingkungan kerja. Secara umum pada terdapat sembilan belas jalur pengaruh dan secara khusus terdapat dua faktor yang mempengaruhi faktor perilaku pekerja pada cacat konstruksi, yaitu faktor quality management system, faktor komunikasi, dan faktor skill level and knowledge (Tabel 4.25).

Tabel 4.25. Nilai Pengaruh Langsung

B1 B2 B3 B4 B5 B7 B6 C

B1 0,881 0,348 0,219 0,214 0,075 0,104

-B2 0,549 0,752 - 0,283 0,245 0,114

B3 - 0,202 0,125 -

-B4 0,602 - - 0,786

B5 0,535 0,228 0,102

B7 0,423

-B6

-C

0,075 (B2)

QUALITY MANAGEMENT

SYSTEMS 0,752 0,283

0,881 (B4) (B7) 0,114

KOMUNIKASI LINGKUNGAN

(B1) 0,219 0,245 KERJA

KOMITMEN 0,602 0,535 0,423 0,786 C

TOP 0,549 0,125 PERILAKU

MANAJEMEN 0,102 PEKERJA

0,348 0,214 (B5) 0,228 (B6)

SKILL LEVEL MOTIVASI

(B3) 0,202 & KNOWLEDGE TRAINING

0,104

Gambar 4.43. Model Pengaruh faktor-faktor laten terhadap Perilaku pekerja Pada Cacat Konstruksi

Nilai pengaruh langsung mempunyai arti sebagai berikut:

1. Nilai 0,881 artinya jika komitmen top manajemen meningkat sebesar satu angka maka quality management systems akan meningkat sebesar 0,881.

2. Nilai 0,348 artinya jika komitmen top manajemen meningkat sebesar satu angka maka training akan meningkat sebesar 0,348.

3. Nilai 0,752 artinya jika quality management systems meningkat sebesar satu angka maka komunikasi akan meningkat sebesar 0,752.

Angka yang dimaksud adalah angka pada skala kuesioner yaitu skala 1 sampai 6. Demikian pula untuk nilai-nilai pengaruh faktor-faktor lainnya mempunyai arti seperti dijelaskan di atas.

Terlihat bahwa besarnya pengaruh langsung yang terjadi ada yang cukup kuat dan ada yang relatif kurang kuat. Faktor-faktor laten yang mempengaruhi faktor perilaku pekerja pada cacat konstruksi adalah faktor quality management system yang memberikan pengaruh sebesar 0.114, dan faktor komunikasi memberikan pengaruh sebesar 0.786, sedangkan faktor skill level and knowledge memberikan pengaruh sebesar 0,102 (Gambar 4.43).

Faktor quality management system memberikan pengaruh pada perilaku pekerja di mana sesuai definisi Burati, Farrington, and Ledbeter (1992) quality management system berhubungan dengan optimalisasi dari aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan kualitas yang terlibat dalam memproduksi produk, proses, atau layanan yang meliputi aktivitas pencegahan dan penilaian. Quality management system dilakukan melalui pengecekan terhadap tiap proses, strategi kerjasama/partnering dengan pihak eksternal, insentif, dan reward dan proses peningkatan kinerja sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Love, Mandal, and Li (1999). Love, Mandal, dan Li berpendapat bahwa perusahaan konstruksi yang telah mendapat akreditasi ISO 9000 menghasilkan layanan dan produk yang lebih mendekati harapan pelanggan. Dengan adanya usaha peningkatan kinerja yang terus-menerus untuk mengurangi cacat konstruksi, maka dapat dipastikan sumber dan tipe-tipe dari ketidaksesuaian (Love, Mandal&Li, 1999) sehingga setelah sumber dan tipe-tipe ketidaksesuaian tersebut diketahui, ketidaksesuaian yang terjadi dapat dicari penyebabnya, dan dapat dilakukan tindakan pencegahan agar kesalahan tersebut tidak terulang kembali. Hal tersebut menjelaskan bahwa quality management system dapat mempengaruhi perilaku pekerja.

Selain itu dengan adanya pengecekan dan pengawasan sebagai tindakan yang direncanakan atau sistematis yang diperlukan untuk memberi keyakinan bahwa produk, proses, atau servis akan sesuai dengan persyaratan (Burati, Farrington, Ledbetter, 1992) maka perusahaan tersebut telah melaksanakan Quality assurance. Quality assurance merupakan inspeksi dan pengawasan, didapatkan melalui kontak secara langsung dengan secara terus-menerus mengamati pekerjaan fisik. (Chadwick, 1986; Love, Mandal&Li, 1999). Hal ini sangat berpengaruh pada terjadinya pelanggaran yang dilakukan oleh pekerja. Pentingnya pengawasan dinyatakan pula oleh Eldukair and Ayyub (1991) dan Rollings and Rollings (1991). Dengan adanya pengawasan, pelanggaran yang terjadi dapat langsung diketahui dan kesalahan yang dilakukan oleh pekerja dapat dikoreksi dengan segera. Pengawasan meliputi pengawasan tenaga kerja baru dan pengawasan pada personil yang belum berpengalaman (Atkinson, 1998).

Di samping pengawasan, peranan pengecekan sebagai salah satu variabel quality management system sangat penting untuk mencegah terjadinya perilaku pekerja yang salah (Rollings and Rollings, 1991).

Pengecekan terhadap informasi input/gambar/spesifikasi/metode yang tidak memadai, peninjauan ulang kegiatan operasional yang tidak memadai, kebiasaan penggunaan standard/prosedur yang jelek, dan kurangnya pengontrolan terhadap akses dan lalu lintas dalam site akan sangat mempengaruhi tindakan pekerja. Standard/prosedur yang tidak memadai mengakibatkan ketidaktahuan pekerja terhadap pekerjaan dan menyebabkan pekerja melakukan tindakan yang menyimpang dari standard yang seharusnya yang dapat menyebabkan cacat konstruksi. Karena itu pada pekerjaan yang besar, kompleks merupakan hal yang seharusnya untuk menyediakan prosedur untuk semua divisi pekerjaan, bersamaan dengan pemberian pekerjaan sehingga setiap pengawas dan pekerja dapat menggunakannya untuk melaksanakan pekerjaan (Chadwick, 1986).

Variable lain quality management system yang berpengaruh penting terhadap perilaku pekerja adalah adanya standard. Penurunan standard dalam kualitas/pengecekan (Andi and Minato, 2003) dapat disebabkan karena tidak memadainya atau tidak tersedianya standard/ prosedur/ manual/ panduan untuk konstruksi dan pengecekan. Penurunan standard dalam pengecekan berpengaruh terhadap terjadinya tindakan yang salah oleh pekerja, di mana pekerja mempunyai peluang untuk bekerja tanpa mengikuti prosedur. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Reason bahwa prosedur operasional konstruksi ditulis untuk membentuk tindakan pekerja dan meminimalkan kemungkinan bersentuhan dengan kondisi lingkungan kerja (Reason, 1990).

Salah satu contohnya adalah pekerja tidak menggunakan campuran bahan plasteran yang sesuai prosedur, di mana terlalu banyak semen yang digunakan dan menggunakan agregat yang berkualitas rendah sehingga plasteran dinding menjadi tidak sempurna dan terjadi keretakan.

Pihak manajemen yang menjalankan manajemen kualitas di lapangan, baik dalam hal pengawasan dan pengecekan, maupun dalam penerapan standard, spesifikasi, dan prosedur, misalnya bila mandor melanggar akan

didenda, akan mempengaruhi perilaku pekerja di lokasi pekerjaan, di mana pekerja akan bekerja mengikuti prosedur pelaksanaan konstruksi yang seharusnya.

Faktor skill level and knowledge memberikan pengaruh pada perilaku pekerja karena apabila kecakapan pekerja cukup memadai, pengetahuan konstruksi pekerja cukup memadai, tanggungjawab pekerja terhadap pekerjaan, kemampuan pekerja untuk mengambil keputusan di lapangan dan kemampuan pekerja untuk mengerti sepenuhnya instruksi pekerjaan cukup memadai akan menyebabkan pekerja dapat bekerja dengan sebaik-baiknya sesuai instruksi yang diberikan.

Hal ini sesuai dengan pendapat El-Shahhat, Rosowsky, and W.F. Chen (1995) bahwa untuk mengurangi terjadinya cacat konstruksi perlu dilakukan peningkatan pengetahuan, keahlian, dan kemampuan. Kecakapan kerja yang tidak memadai dan ketidaktahuan prosedur penggunaan material dan peralatan dapat mengakibatkan terjadinya kesalahan pekerja di lapangan yang dapat menyebabkan cacat (Eldukair and Ayyub, 1991). Salah satu contohnya adalah keramik yang retak/lepas atau bergelombang yang disebabkan karena pengukuran yang tidak tepat (di mana permukaan tidak benar-benar datar level kemiringannya) dan kurangnya bahan perekat. Contoh kesalahan lain yang disebabkan karena kecakapan kerja yang tidak memadai adalah pekerjaan batu bata yang tidak sempurna sehingga air dapat merembes masuk ke dalam lewat bagian bawah dinding di atas permukaan lantai. Demikian pula adanya problem elektrik, yaitu saklar tidak berfungsi disebabkan karena koneksi kabel yang tidak sempurna/salah. Selain itu ketidakjelasan tanggung jawab tiap personil/pembagian tugas yang jelas pada tiap personil menyebabkan kurangnya tanggungjawab pekerja terhadap pekerjaan (Atkinson, 1998;

Eldukair&Ayyub, 1991) sehingga pekerja melakukan pekerjaannya dengan tergesa-gesa dan tanpa mengerti sepenuhnya instruksi pekerjaan yang diberikan. Ketidakmampuan mengambil keputusan karena ketergantungan yang berlebihan pada pihak lain dan kurangnya otoritas untuk mengambil keputusan dapat mempengaruhi perilaku pekerja yang dapat menyebabkan cacat konstruksi (Eldukair and Ayyub, 1991).

Faktor komunikasi memberikan pengaruh relatif kuat pada perilaku pekerja karena adanya informasi yang jelas dari pihak manajemen mengenai pekerjaan yang akan dilaksanakan, informasi dan dokumentasi mengenai perubahan pekerjaan akan mempengaruhi perilaku pekerja di lapangan, misalnya dalam pekerja bingung terhadap pekerjaan yang dilakukan karena tidak tahu akan adanya perubahan. Perubahan pekerjaan yang tidak tertulis dapat mengekibatkan terjadinya kesalahan, contohnya adanya pergeseran letak dinding pada ruang aula mengakibatkan adanya perubahan pola plafon yang ada pada gambar rancangan semula. Ukuran pada pola plafon akan mengalami pengecilan akibat pergeseran dinding tersebut. Keterlambatan penyampaian informasi ini menyebabkan diaplikasikannya ukuran yang salah untuk plafon yang mengakibatkan pengerjaan ulang dan modifikasi.

Informasi perubahan pekerjaan yang tidak tersampaikan dengan baik menyebabkan terjadinya cacat, salah satu contohnya perubahan ukuran jendela karena permintaan klien akan berakibat pada perubahan ukuran kusen yang akan dipesan, dan perubahan lubang jendela berupa pekerjaan penambahan/pembongkaran bata. Contoh lainnya adalah perubahan fungsi ruang dari gudang dan garasi menjadi ruang tidur akan mempengaruhi diperlukannya penambahan jendela dan sistem penghawaan ruang. Apabila informasi perubahan tersebut baru sampai pada saat pekerjaan bata telah selesai dilakukan maka perlu dilakukan perubahan yang cukup besar. Problem komunikasi yang lain adalah dari desainer ke kontraktor di mana seringkali gambar desain tidak sesuai dengan keadaan di lapangan sehingga pada saat pelaksanaan sering terjadi modifikasi. Hal tersebut sangat mempengaruhi perilaku pekerja di lapangan.

Faktor komitmen top manajemen memberikan pengaruh yang cukup kuat terhadap faktor quality management system (0.881), dan memberikan pengaruh relative sedang pada faktor komunikasi pekerja (0.219), faktor training (0.348), faktor skill level and knowledge (0.214), faktor lingkungan kerja (0.075), dan faktor motivasi (0.104).

Hal ini sesuai dengan pernyataan Love, Holt, Shen & Irani (2002) bahwa pembuatan keputusan oleh top manajemen merupakan awal yang penting.

Tanpa dukungan dari pihak manajemen sangat sulit untuk mencapai keberhasilan dalam program kualitas dalam proyek.

Pihak manajemen secara umum lebih banyak mewujudkan komitmennya dalam bentuk adanya kebijakan mutu dan rencana mutu yang jelas dan disosialisasikan kepada semua pekerja, dan adanya pemilihan dan penempatan pekerja, alat, dan material yang memadai. Komitmen pihak manajemen ditunjukkan dengan mengalokasikan jumlah pekerja yang memadai untuk setiap jenis aktivitas, dan melakukan pemilihan pekerja. Dengan adanya komitmen tersebut pekerja tidak mengalami hambatan tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya atau harus menunggu karena keterlambatan atau ketidakadaan material. Komitmen top manajemen mengenai kualitas konstruksi merupakan pembuatan keputusan oleh top manajemen (Love, Holt, Shen, Irani, 2002) yang merupakan awal yang penting dan dibuat oleh sejumlah besar pihak yang terlibat dalam proses proyek. Pengambilan keputusan oleh top manajemen akan mempengaruhi tindakan yang dilakukan oleh pekerja di lapangan.

Menurut Reason (1997) program dalam organisasi hendaknya dimulai dari tingkat teratas organisasi. Untuk memulai program kualitas, top manajemen dapat merumuskan suatu kebijakan yang menunjukkan komitmen terhadap masalah kualitas kerja. Langkah awal ini selanjutnya akan menentukan kebijakan selanjutnya dalam hal kualitas proyek, di mana total manajemen kualitas dalam proyek akan dengan sendirinya menurunkan biaya proyek dan waktu proyek, misalnya biaya dan waktu yang dibutuhkan untuk pengerjan ulang.

Pengaruh yang cukup kuat dari komitmen top manajemen terhadap faktor quality management system disebabkan karena dengan adanya dukungan penuh dari perusahaan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas maka penerapan manajemen kualitas pada tingkat staff manajemen dan pekerja dalam proyek tersebut akan dapat dilakukan dengan baik.

Faktor quality manajemen system memberikan pengaruh yang cukup kuat terhadap faktor training (0.549), faktor komunikasi (0.752), dan memberikan

pengaruh relatif sedang pada faktor lingkungan kerja (0.283), dan faktor motivasi (0.245).

Pengaruh yang cukup kuat dari faktor quality management system terhadap faktor training dapat disebabkan karena dengan adanya standard dan spesifikasi yang jelas maka perusahaan mengetahui pelatihan apa yang dibutuhkan oleh pekerjanya. Selain itu dengan adanya pengawasan dan pengecekan terhadap setiap tahap pekerjaan maka perusahan akan mengetahui hasil dari pelatihan yang dilaksanakan, sejauh mana dampak pelatihan yang diberikan meningkatkan kualitas kerja pekerja jika dibandingkan dengan standard dan sasaran mutu yang ingin dicapai oleh perusahaan.

Faktor training memberikan pengaruh pada faktor skill level (0.202) dan faktor lingkungan kerja (0.125). Menurut Eldukair & Ayyub (1991) salah satu penyebab cacat bangunan berkaitan dengan kesalahan manusia adalah kurangnya pendidikan dan pelatihan, di mana merupakan faktor yang kritis, menempati 57.3% kasus kegagalan bangunan. Training akan mempengaruhi skill level & knowledge, motivasi, dan komunikasi (Love, Mandal & Li, 1999). Komunikasi merupakan keahlian. Komunikasi dapat dipelajari melalui pendidikan, baik selama pelatihan dasar engineering maupun melalui pendidikan yang berkelanjutan (Sowers, 1993). Kegagalan pembelajaran pada personil yang akan terjun dalam proyek (Atkinson, 1998) merupakan penyebab cacat konstruksi. Pelatihan yang memadai pada personil yang akan terjun dalam proyek ditujukan untuk peningkatan keahlian dan kemampuan.

Pelatihan dan pengembangan keahlian seringkali mengalami hambatan biaya. Munculnya kesalahan seringkali merupakan akibat dari kurangnya keahlian dan pengetahuan. Kode-kode baru dan spesifikasi bangunan terus berkembang, dan teknologi baru dalam material konstruksi dan peralatan terus diperkenalkan.

Pengetahuan dan keahlian pekerja tidak boleh berhenti pada level di mana pekerja masuk ke dalam perusahaan. Metode ini meliputi menyusun seminar yang dapat diberikan sesuai dengan kebutuhan dan munculnya teknologi baru. Beberapa perusahaan telah menjalin hubungan dengan organisasi lokal untuk menyusun dan menyediakan program-program khusus

untuk pekerja mereka. Program-program ini seringkali mengembalikan pekerja pada lingkungan pendikan yang membimbing kepada pemikiran kreatif dan ide-ide inovatif. (El-Shahhat, Rosowsky, and W.F. Chen, 1995).

Pelatihan harus dilakukan karena perusahaan mengharapkan karyawan agar memberi kontribusi untuk meningkatkan kualitas dan mengurangi waktu produksi, memecahkan masalah dan mempunyai inisiatif untuk meningkatkan kualitas di semua bagian perusahaan, menjalin komunikasi dengan pelanggan dan suplier baik internal maupun eksternal, mempunyai kemampuan lebih dalam berbagai area (kerjasama tim, pemecahan masalah, kepemimpinan, manajemen proses, dll (Besterfield, 2003).

Pekerja seringkali belum mendapatkan pelatihan yang memadai.

Pelatihan yang dilakukan cenderung pada pihak manajemen. Pengarahan dan informasi yang diberikan pihak manajemen mengenai pekerjaan akan mempunyai pengaruh yang cukup besar untuk mencegah terjadinya perilaku pekerja yang salah.

Faktor Komunikasi memberikan pengaruh pada faktor skill level and knowledge (0,602) di mana informasi perubahan desain yang tidak selalu diberikan kepada pekerja sebelum pekerjaan dimulai, komunikasi antar staff internal kontraktor yang tidak terlalu baik, sistem dokumentasi yang kurang memadai, dan kurangnya komunikasi antara pekerja dan staff manajemen dapat mengakibatkan pekerja tidak memahami pekerjaan dengan sepenuhnya sehingga tidak dapat melakukan pekerjaannya dengan kompeten. Kegagalan untuk berkomunikasi menimbulkan kesalahan informasi (Sowers, 1993).

Komunikasi yang akurat merupakan hal yang mendasar dalam konstruksi karena keanekaragaman pihak dan perusahaan yang terlibat dalam perencanaan, desain, konstruksi dan operasional proyek. Program kualitas kerja hendaknya didukung oleh sistem manajemen informasi yang baik dalam hal pengumpulan dan penyampaian informasi. Komunikasi akan mempengaruhi lingkungan kerja dan motivasi di mana menurut Besterfield (2003) yang meningkatkan motivasi karyawan adalah perbaikan cara komunikasi yang tepat di saat yang tepat. Komunikasi akan mempengaruhi

tanggungjawab individu, kinerja dan produktivitas dan kerjasama di lapangan (Love, 1999).

Kesalahan komunikasi dapat berupa tidak diterimanya informasi, penyimpangan informasi, keambiguan, dan terlalu banyaknya informasi, serta kurangnya peninjauan yang berhubungan dengan komunikasi (Atkinson, 1998), dokumentasi dan informasi yang buruk (Andi and Minato, 2003) meliputi sistem dokumentasi terhadap change order, sistem dokumentasi dan laporan, sistem informasi yang digunakan dalam perusahaan, dan informasi yang tidak memadai dari pemilik. Perubahan pekerjaan dapat terjadi karena perencanaan yang kurang matang, keinginan pemilik sering berubah-ubah, kesalahan memahami kondisi site sebelum pelaksanaan pekerjaan, atau persyaratan pihak lain (pemilik, pemerintah lokal, konsultan, dll) yang dapat menyebabkan pekerja bingung dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Komunikasi antar staff intern kontraktor (Atkinson,1998; Eldukair and Ayyub,1991) meliputi komunikasi yang tidak memadai antara semua pihak/divisi yang terlibat dalam konstruksi, interaksi yang tidak memadai antar pekerjaan staff, dan prosedur komunikasi yang jelek. Komunikasi yang buruk baik secara formal maupun informal merupakan penyebab kegagalan konstruksi (Atkinson, 1998). Dalam komunikasi formal, gambar dan spesifikasi yang buruk sering menjadi penyebab.

Faktor skill level and knowledge memberikan pengaruh pada faktor lingkungan kerja (0.535) dan motivasi (0.228) di mana pekerja yang mempunyai kompetensi lebih tidak merasa stress dan kelelahan dan lebih bersemangat dalam menyelesaikan pekerjaannya. Menurut Besterfield yang meningkatkan motivasi karyawan adalah perbaikan moral dan skill, cara komunikasi yang tepat di saat yang tepat, lingkungan kerja yang aman dan nyaman, manajemen yang baik, sistem komunikasi, pengakuan dan penghargaan, dan keleluasaan untuk mengambil keputusan. Motivasi akan mempengaruhi terjadinya tindakan yang salah oleh pekerja di lapangan di mana motivasi akan mempengaruhi incidences of rework.

Faktor lingkungan kerja memberikan pengaruh pada faktor motivasi (0.423) di mana dengan kondisi lingkungan kerja yang sesuai dengan harapan

pekerja, seperti tempat kerja yang tidak penuh dengan tekanan, lokasi pekerjaan yang nyaman, dan interaksi dan kerjasama antar aktivitas konstruksi yang cukup memadai antar pekerja, maka motivasi pekerja akan meningkat. Aspek psikologis pekerja di lingkungan kerja dapat berupa motivasi, moral, sikap, dan rasa bosan. Sedangkan aspek fisik dapat berupa kelelahan dan stress yang tinggi (Andi & Minato, 2003).

Setiap usaha untuk memotivasi pekerja harus dimulai dengan mendefinisikan harapan kerja. Sangat diharapkan bahwa tujuan pekerjaan sesuai dengan keinginan pekerja. Jika kondisi ini dapat dicapai, pekerja akan mempunyai motivasi pribadi, karena hasil yang akan terjadi memotivasi respons mereka, karena itu aplikasi program motivasi kerja untuk mendorong pekerja menuju peningkatan kinerja sangat dibutuhkan. Lingkungan kerja akan mempengaruhi motivasi pekerja. Motivasi dapat dipengaruhi oleh tempat, lokasi pekerjaan meliputi kebisingan, gangguan, tempat yang sempit, kotor, berantakan, atau tidak menyenangkan (Andi and Minato, 2003).

Lingkungan kerja yang baik hendaknya membuat pekerja merasa aman dan tidak merasa canggung dalam melakukan pekerjaaannya.

Hasil yang didapat pada model pengaruh faktor laten terhadap perilaku pekerja pada cacat konstruksi sependapat dengan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Penelitian yang dilakukan oleh Atkinson menemukan bahwa faktor utama yang mempengaruhi cacat konstruksi adalah faktor komunikasi. Sedangkan jika dibandingkan dengan hasil penelitian pengaruh budaya pada perilaku pekerja terhadap keselamatan kerja dengan pendekatan human error hasilnya sedikit berbeda di mana pada hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa perilaku pekerja dipengaruhi oleh empat faktor yaitu komitmen top manajemen (Mohamed, 2002), peraturan dan prosedur keselamatan kerja (Cheyne, 1998), komunikasi (Cheyne, 1998; Mohamed, 2002; Tony, 2004) dan keterlibatan pekerja (Cheyne, 1998, Mohammed, 2002).

Dilihat dari tiga faktor yang berpengaruh secara langsung terhadap perilaku pekerja, yaitu quality management systems, komunikasi, dan skill

level and knowledge (Gambar 4.44), terdapat tiga jalur pengaruh kritis yang mempunyai nilai pengaruh paling kuat terhadap perilaku pekerja yaitu :

1. Jalur Komitmen Top Manajemen – Quality Management Systems - Perilaku Pekerja (Gambar 4.45).

2. Jalur Komitmen Top Manajemen – Quality Management Systems - Komunikasi – Perilaku Pekerja (Gambar 4.46)

3. Jalur Komitmen Top Manajemen – Quality Management Systems - Komunikasi – Skill level and knowledge - Perilaku Pekerja (Gambar 4.47).

0,881 (B4) (B7) 0,114

0,786 0,102

KOMUNIKASI LINGKUNGAN

(B1) 0,219 0,245 KERJA

KOMITMEN 0,602 0,535 0,423 C

TOP 0,549 0,125 PERILAKU

MANAJEMEN PEKERJA

0,348 0,214 (B5) 0,228 (B6)

SKILL LEVEL MOTIVASI (B3) 0,202 & KNOWLEDGE

TRAINING

0,104

Gambar 4.44. Faktor-Faktor yang Berpengaruh Secara Langsung Pada Perilaku Pekerja

0,881 (B4) (B7) 0,114

KOMUNIKASI LINGKUNGAN

(B1) 0,219 0,245 KERJA

KOMITMEN 0,602 0,535 0,423 0,786 C

TOP 0,549 0,125 PERILAKU

MANAJEMEN 0,102 PEKERJA

0,348 0,214 (B5) 0,228 (B6)

SKILL LEVEL MOTIVASI (B3) 0,202 & KNOWLEDGE

TRAINING

0,104

Gambar 4.45. Jalur Pengaruh Kritis Faktor Quality Management Syatems Terhadap Perilaku Pekerja

0,075

(B1) 0,219 0,245 KERJA

KOMITMEN 0,602 0,535 0,423 C

TOP 0,549 0,125 PERILAKU

MANAJEMEN 0,102 PEKERJA

0,348 0,214 (B5) 0,228 (B6)

SKILL LEVEL MOTIVASI (B3) 0,202 & KNOWLEDGE

TRAINING

0,104

Gambar 4.46. Jalur Pengaruh Kritis Faktor Komunikasi Terhadap Perilaku Pekerja

(B1) 0,219 0,245 KERJA

KOMITMEN 0,535 0,423 0,786 C

TOP 0,549 0,125 PERILAKU

MANAJEMEN PEKERJA

0,348 0,214 (B5) 0,228 (B6)

SKILL LEVEL MOTIVASI (B3) 0,202 & KNOWLEDGE

TRAINING

Gambar 4.47. Jalur Pengaruh Kritis Faktor Skill level and knowledge Terhadap Perilaku Pekerja

4.7.4 Analisa Pengaruh Tidak Langsung

Terdapat empat faktor laten yang memberikan pengaruh tidak langsung pada faktor perilaku pekerja pada cacat konstruksi, yaitu faktor komitmen top management, faktor quality management system, faktor training, dan faktor komunikasi. Nilai pengaruh tidak langsung dapat dilihat pada Tabel 4.26.

Gambar 4.48 menunjukkan jalur pengaruh tidak langsung dari semua faktor laten terhadap perilaku pekerja.

Tabel 4.26. Nilai Pengaruh Tidak Langsung

B1 B2 B3 B4 B5 B7 B6 C

B1 0,000 0,484 0,663 0,699 0,842 0,812 0,888

B2 0,000 0,000 0,564 0,37 0,405 0,649

B3 0,000 0,000 0,108 0,145 0,021

B4 0,000 0,322 0,273 0,062

B5 0,000 0,226 0,000

B7 0,000 0,000

B6 0,000

C

Faktor Komitmen Top Manajemen memberikan pengaruh tidak langsung

Faktor Komitmen Top Manajemen memberikan pengaruh tidak langsung

Dalam dokumen 4. ANALISA DAN PEMBAHASAN (Halaman 45-60)

Dokumen terkait