4. ANALISA DAN PEMBAHASAN
4.1 Pendahuluan
Pada bab ini akan dibahas hasil analisa data yang diperoleh dari kuesioner yang telah disebarkan. Hasil tersebut akan diberikan dalam bentuk deskriptif maupun dalam bentuk uji statistik. Responden untuk kuesioner ini adalah pekerja dan mandor yang bekerja pada proyek-proyek tersebut. Jumlah dari proyek yang disurvei adalah enam proyek yang terdiri dari bangunan rekreasi, bangunan perkantoran, bangunan sekolah, bangunan asrama dan bangunan kampus. Sedangkan jumlah dari responden yang ada seluruhnya adalah 221 orang.
Pilot Study dilakukan selama kurang lebih satu minggu pada bulan September 2005 dengan melakukan wawancara pada pihak-pihak yang berhubungan dengan manajemen kualitas proyek dan cacat konstruksi, diantaranya adalah site manager, pengawas, pelaksana, mandor serta beberapa staff proyek lainnya. Pada saat pilot study dilakukan penyebaran pada responden dalam jumlah kecil, kurang lebih sepuluh orang. Perubahan yang dilakukan adalah memberi keterangan lebih jelas pada skala yang dipakai, memperbesar ukuran huruf yang digunakan, serta menyederhanakan kalimat yang digunakan pada kuesioner.
Penyebaran kuesioner dilakukan selama kurang lebih setengah bulan pada periode akhir September 2005 sampai Oktober 2005. Responden yang mengisi kuesioner sebanyak 221 orang. Kendala yang dihadapi oleh peneliti adalah kendala bahasa di mana responden mengalami kesulitan untuk memahami pertanyaan yang diberikan, oleh karena itu peneliti melakukan penyebaran kuesioner dengan memberi penjelasan dan membimbing responden dalam menjawab pertanyaan yang ada pada kuesioner.
4.2 Gambaran Umum Proyek
Proyek yang diteliti adalah proyek bangunan rekreasi, bangunan sekolah, bangunan perkantoran, bangunan asrama, bangunan kampus, dan bangunan medical centre. Proyek bangunan rekreasi, bangunan kampus, dan
bangunan perkantoran dikerjakan oleh kontraktor A, bangunan asrama dikerjakan oleh kontraktor B, bangunan sekolah dikerjakan oleh kontraktor C, dan bangunan medical centre dikerjakan oleh kontraktor D.
Pada saat penyebaran kuesioner, pekerjaan pada bangunan rekreasi mencapai tahap pekerjaan finishing, sedangkan pekerjaan pada proyek bangunan kampus berada dalam tahap pembesian, pengecoran, dan pemasangan bata. Pekerjaan pada proyek bangunan perkantoran dan bangunan asrama mencapai tahap pekerjaan pasangan bata, plesteran, dan finishing, sedangkan pekerjaan pada proyek medical centre baru mencapai tahap pondasi.
Pada proyek sekolah tahap pekerjaan yang sedang dilakukan adalah pembesian (lantai, balok dan kolom struktural). Secara umum pekerja yang terlibat adalah pembantu tukang, tukang batu, tukang kayu, tukang besi, tukang finishing, tukang cor dan mandor.
Pemilik proyek bangunan perkantoran adalah Adhibaladika Agung, pemilik proyek bangunan rekreasi adalah PT. Citra Raya, pemilik proyek medical centre dan proyek bangunan kampus adalah Departemen Pendidikan Nasional, pemilik proyek bangunan sekolah adalah Yayasan Ursulin, sedangkan pemilik proyek bangunan asrama adalah TNI Angkatan Laut.
Sistem kontrak yang digunakan untuk setiap proyek adalah lump sum dengan pembayaran termen untuk setiap periode.
4.3 Gambaran Umum Responden
Responden yang mengisi kuesioner sebanyak 221 orang. Semua responden berjenis kelamin laki-laki. Responden terbanyak berasal dari proyek bangunan perkantoran (36,2%), sisanya dari proyek gedung kuliah (23,98%), bangunan rekreasi (13,12%), medical centre (9,95%), bangunan sekolah (8,6%), dan bangunan asrama (8,14%). Distribusi jumlah responden dari setiap proyek dapat dilihat pada Gambar 4.1.
Bangunan Perkantoran;
36,2%
Gedung Kuliah;
23,98%
Bangunan Rekreasi;
13,12%
Medical Centre; 9,95%
Bangunan Sekolah;
8,60%
Bangunan Asrama; 8,14%
Gambar 4.1. Distribusi jumlah responden tiap proyek
Usia Responden bervariasi, sebagian besar reponden berusia 25-30 tahun (38.01%), sisanya adalah responden berusia kurang dari 20 tahun (2,71%), berusia 20-25 tahun (23.08 %), berusia 30-35 tahun (20,36%) dan di atas 40 tahun (3,62%). Distribusi usia responden dapat dilihat pada Garnbar 4.2.
Gambar 4.2. Distribusi usia responden
< 20 tahun;
2,71%
20-25 tahun;
23,08%
25-30 tahun;
38,01%
30-35 tahun;
20,36%
35-40 tahun;
12,22%
> 40 tahun;
3,62%
Gambar 4.2. Distribusi Usia Responden
Sebagian besar responden mengikuti pendidikan sampai jenjang SD (37,56%), sisanya tidak sekolah (11,31%), SMP (35,29%), SMA (14,48%), dan Perguruan Tinggi (1,36%). Distribusi jenjang pendidikan responden dapat dilihat pada Gambar 4.3.
Tidak Sekolah;
11,31%
SD; 37,56%
SMP; 35,29%
SMA; 14,48%
PT; 1,36%
Gambar 4.3. Distribusi jenjang pendidikan responden
Responden yang mengisi kuesioner adalah pembantu tukang, tukang batu, tukang kayu, tukang besi, tukang finishing, mandor, dan lainnya. Sebagian besar responden adalah pembantu tukang (27,15%) dan tukang batu (22,62%), sisanya adalah tukang kayu (15,38%), tukang besi (16,29%), tukang finishing (7,69%), mandor (5,88%), operator (2,49%), lainnya yaitu tukang ME dan tukang cor (2,50%). Komposisi responden dapat dilihat pada Gambar 4.4.
Pembantu Tukang; 27%
Tukang Batu;
Tukang 23%
Kayu; 15%
Tukang Besi;
16%
Tukang Finishing; 8%
Mandor; 6%
Operator; 2%
Lainnya; 3%
Gambar 4.4. Distribusi jenis pekerjaan responden
Pekerja yang bekerja pada proyek konstruksi sebagian besar adalah pekerja borongan atau pekerja musiman, bekerja hanya pada periode dan jenis pekerjaan tertentu. Dapat dilihat pada Gambar 4.5 pekerja pada proyek konstruksi sebagian besar bekerja pada proyek antara 1 sampai 6 bulan (55,2%).
< 1 bulan;
11,31%
1-6 bulan;
55,20%
6-12 bulan;
28,96%
> 12 bulan;
4,53%
Gambar 4.5. Distribusi lama bekerja responden pada proyek
Pada Gambar 4.6 juga membuktikan keberadaan pekerja musiman, terlihat dari lama pekerja tersebut bekerja pada perusahaan.
< 6 bulan;
14,03%
6-12 bulan;
38,01%
1-5 tahun;
38,91%
> 5 tahun;
9,05%
Gambar 4.6. Distribusi lama bekerja responden pada perusahaan
Data jumlah responden untuk tiap jenis pekerjaan pada tiap proyek dapat dilihat pada Tabel 4.1. Responden yang mengisi kuesioner pada semua proyek adalah mandor, pembantu tukang, tukang kayu dan tukang besi.
Tabel 4.1. Tabel jumlah pekerja setiap proyek
Medical Bangunan Bangunan Bangunan Asrama Kampus Total Centre Rekreasi Sekolah Perkantoran
Operator 2 1 0 1 0 1 5
Mandor 3 2 1 4 2 1 13
Tukang finishing 0 3 0 8 2 4 17
Tukang Besi 9 2 10 5 2 8 36
Tukang Kayu 4 5 2 13 3 7 34
Tukang Batu 0 6 2 22 7 13 50
Lainnya 0 2 0 1 0 3 6
Pembantu Tukang 4 8 4 26 2 16 60
Total 22 29 19 80 18 53
4.4 Perbedaan Mean untuk Setiap Variabel Berdasarkan Jenis Proyek Sebelum melakukan pengujian Anova berdasarkan jenis proyek, mula- mula dilakukan pengujian Anova berdasarkan perusahaan kontraktor (Lampiran 11) dan pengujian Anova berdasarkan jenis proyek untuk kontraktor B yang mempunyai tiga proyek (Lampiran 12). Dari hasil pengujian Anova berdasarkan perusahaan kontraktor tersebut dapat disimpulkan bahwa proyek yang berada pada satu perusahaan kontraktor mempunyai jawaban yang berbeda secara signifikan, hal tersebut disebabkan karena setiap proyek mempunyai kontraktor, pemilik proyek, atau system kontrak yang berbeda.
Oleh karena itu Anova pada pembahasan selanjutnya dibedakan berdasarkan jenis proyek yaitu bangunan medical centre, bangunan rekreasi, bangunan sekolah, bangunan perkantoran, bangunan asrama, dan bangunan gedung kuliah. Langkah pertama dengan melihat nilai rata-rata (mean) jawaban responden pada tiap proyek, kedua dengan melihat besarnya nilai p-value yang menyatakan ada atau tidaknya perbedaan yang signifikan pada jawaban variabel-variabel yang ditanyakan terhadap jenis proyek.
4.4.1 Faktor Komitmen Top Manajemen (B1)
Berdasarkan hasil anova pada Tabel 4.3 dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap variabel faktor Komitmen Top Manajemen (B1) yaitu variabel pekerja merasa pihak manajemen lebih mengutamakan kualitas (b11) dan pemilihan dan penempatan pekerja, alat, dan material yang memadai (b13) pada keenam jenis proyek. Hasil Anova selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 3. Secara umum pekerja pada proyek gedung kuliah
memberikan nilai rata-rata yang lebih tinggi, hal ini secara eksplisit juga menunjukkan bahwa komitmen pihak manajemen lebih dapat dirasakan oleh pekerja pada proyek gedung kuliah (Gambar 4.7).
Tabel 4.2. Tabel Nilai Rata-Rata Faktor Komitmen Top Manajemen
Variabel Medical Centre Bangunan Rekreasi Sekolah Perkantoran Asrama Gedung Kuliah Total
b11 4,36 3,55 4,05 4,51 3,94 4,79 4,35
b12 4,50 4,90 4,32 4,63 4,28 4,85 4,65
b13 4,77 5,41 4,47 5,16 4,39 5,21 5,05
Tabel 4.3. Anova faktor Komitmen Top Manajemen
Variabel Kode p-value
Perusahaan mengutamakan kualitas, bukan biaya konstruksi b11 0,000
Perusahaan mengutamakan kepuasan klien b12 0,068
Pemilihan dan penempatan pekerja, alat, dan material yang memadai b13 0,000
Pada Tabel 4.2. dan Gambar 4.7 dapat dilihat bahwa secara umum rata- rata jawaban responden pada faktor komitmen top manajemen menyatakan bahwa pihak manajemen menunjukkan komitmen pada masalah kualitas konstruksi, terutama pada masalah pemilihan dan penempatan pekerja, alat, dan material yang memadai (b13). Hasil perhitungan rata-rata selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4.
Pekerja pada proyek bangunan kampus/gedung kuliah, pekerja merasa pihak manajemen lebih mengutamakan kualitas (b11), di mana berdasarkan hasil wawancara pihak manajemen pada proyek gedung kuliah mempunyai kebijakan mutu dan rencana mutu yang jelas dan disosialisasikan kepada semua pekerja. Salah satu penyebab tingginya komitmen terhadap kualitas pada proyek gedung kuliah ini adalah karena adanya kerjasama dengan pihak asing sebagai konsultan pengawas di mana sangat mengutamakan kualitas proyek.
Pada proyek tersebut pihak manajemen menyatakan bahwa perusahaan memiliki unit khusus yang menangani mutu dalam struktur organisasi perusahaan. Demikian pula pada setiap meeting, para staff manajemen selalu mendiskusikan dan menekankan pentingnya mutu proyek. Hal tersebut berbeda
dengan proyek bangunan rekreasi di mana kebijakan mutu dan rencana mutu yang kurang disosialisasikan kepada semua pekerja.
1 2 3 4 5 6
Perusahaan mengutamakan kualitas, bukan biaya
konstruksi
Perusahaan mengutamakan
kepuasan klien
Pemilihan dan penempatan pekerja, alat, dan material yang
memadai Variabel
Nilai Rata-Rata
Medical Centre Bangunan Rekreasi Sekolah
Perkantoran Asrama Gedung Kuliah
Gambar 4.7. Grafik Nilai Rata-Rata Komitmen Top Manajemen
Pekerja pada proyek bangunan rekreasi berpendapat bahwa pihak manajemen menunjukkan komitmen terhadap kualitas, dengan pemilihan dan penempatan pekerja, alat, dan material yang memadai (b13). Di mana berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan pihak manajemen mengalokasikan jumlah pekerja yang memadai untuk setiap jenis aktivitas (Gambar 4.10), dan melakukan pemilihan pekerja dengan cara mengadakan masa uji coba pada setiap pekerja yang baru masuk selama kurang lebih tiga hari untuk melihat apakah hasil pekerjaannya cukup memadai untuk diterima sebagai pekerja proyek tersebut.
Demikian pula menurut hasil wawancara, peralatan yang disediakan oleh pihak manajemen cukup memadai untuk melaksanakan pekerjaan, baik
peralatan berat seperti mesin-mesin dan kendaraan maupun peralatan pertukangan (Gambar 4.8). Pekerja juga hampir tidak pernah mengalami hambatan tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya atau harus menunggu karena keterlambatan atau ketidakadaan material. Menurut pekerja, selama ini material yang tersedia cukup memadai untuk melaksanakan pekerjaan dan jarang mengalami keterlambatan (Gambar 4.9).
Gambar 4.8. Alokasi peralatan dan mesin yang memadai
Gambar 4.9. Alokasi Material yang memadai
Gambar 4.10. Alokasi Pekerja yang memadai
Pada proyek bangunan asrama, pihak manajemen kurang memperhatikan masalah pemilihan dan penempatan pekerja, alat dan material yang memadai (b13) di mana menurut pekerja material yang disediakan oleh pihak perusahaan seringkali lebih rendah mutunya dari spesifikasi yang seharusnya sehingga hasil pekerjaan tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Sedangkan untuk variabel perusahaan mengutamakan kepuasan klien (b12) tidak ada perbedaan yang signifikan antara keenam proyek tersebut.
Tampak bahwa hampir semua proyek menjawab pada skala antara 4 (agak setuju) dan 5 (setuju) di mana menunjukkan bahwa pihak manajemen pada semua proyek tersebut cukup mengutamakan kepuasan klien. Keluhan klien selalu ditanggapi dan secepatnya diambil tindakan untuk mencari jalan keluarnya.
Pada Gambar 4.11, secara umum proyek gedung kuliah, gedung perkantoran, dan bangunan rekreasi yang dikerjakan oleh kontraktor A mempunyai nilai rata-rata total faktor komitmen top manajemen (B1) yang lebih tinggi daripada proyek yang dikerjakan oleh kontraktor yang lain menunjukkan bahwa pihak perusahaan menunjukkan komitmen yang cukup terhadap kualitas.
4,545 4,621
4,281
4,767
4,204
4,950
1 2 3 4 5 6
Medical Centre
Bangunan Rekreasi
Sekolah Perkantoran Asrama Gedung Kuliah Proyek
Nilai Rata-Rata
Gambar 4.11 . Grafik Nilai Rata-Rata Komitmen Top Manajemen
4.4.2 Faktor Quality Management (B2)
Dari nilai rata-rata variabel (Table 4.4 dan Gambar 4.12) dapat dilihat bahwa perusahaan melaksanakan quality assurance terutama dalam hal perusahaan menjalin kerjasama dengan pihak luar yang mengutamakan kualitas (b23) dan penjadwalan pekerjaan di lapangan yang realistis (b29).
Hasil analisa rata-rata selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4.
Tabel 4.4. Nilai Rata-Rata Faktor Quality Management (b21 sd b30)
Variabel Medical Centre Bangunan Rekreasi Sekolah Perkantoran Asrama Gedung Kuliah Total
b21 4,36 3,86 4,47 4,51 3,94 4,79 4,43
b22 4,50 5,21 4,74 4,63 4,28 4,85 4,72
b23 4,77 5,48 4,84 5,16 4,39 5,36 5,12
b24 4,36 3,55 4,89 4,51 3,94 4,81 4,43
b25 4,50 4,90 4,47 4,63 4,28 5,11 4,72
b26 4,50 4,90 4,74 4,63 4,28 5,02 4,72
b27 4,36 3,55 4,47 4,51 3,94 4,96 4,43
b28 4,50 4,90 4,32 4,63 4,67 5,04 4,72
b29 4,77 5,41 4,47 5,16 4,39 5,51 5,12
b30 4,36 3,55 4,42 4,51 3,94 4,81 4,39
Pada proyek gedung kuliah, pihak manajemen melakukan usaha peningkatan kinerja secara terus-menerus untuk mengurangi cacat konstruksi (b21).
1 2 3 4 5 6
Ada Usaha peningkatan kinerja secara terus- menerus untuk mengurangi cacat konstruksi Ada pengawasan dan pengecekan pada tiap tahap pekerjaan Perusahaan menjalin kerjasama dengan pihak luar yang mengutamakan kualitas Perusahaan memberikan insentif terhadap kualitas kerja Saya mengetahui adanya standard kualitas Standard kualitas mudah diterapkan pada pekerjaan saya Standard kualitas ditingkatkan secara berkala Adanya standard kualitas sangat diperlukan untuk pengukuran kinerja Penjadwalan pekerjaan di lapangan realistis Perusahaan mendelegasikan wewenang pengambilan keputusan
Variabel
Nilai Rata-Rata
Medical Centre Bangunan Rekreasi Sekolah
Perkantoran Asrama Gedung Kuliah
Gambar 4.12. Grafik Nilai Rata-Rata Quality Management Systems
Menurut pihak manajemen, pada proyek gedung kuliah usaha peningkatan kinerja ini dilakukan dalam segala bidang, baik dalam peningkatan waktu, kualitas, maupun produktivitas. Dalam hal meningkatkan disiplin waktu, semua pekerja maupun staff manajemen diharuskan datang tepat waktu ke lokasi pekerjaan dan melaksanakan pekerjaan sesuai jadwal yang telah direncanakan. Dalam hal peningkatan kualitas, pihak manajemen berusaha terus memperkecil jumlah kecacatan dengan cara mencatat setiap
data kecacatan dan apabila jumlah kecacatan melampaui batas-batas yang telah ditentukan maka mereka mencari penyebabnya untuk kemudian dilakukan usaha perbaikan. Data meliputi data/informasi tentang cacat, data mengenai pengerjaan ulang, dan data biaya mutu yang dikeluarkan oleh perusahaan.
Penggunaan checklist, pengujian laboratorium, peta kendali, dan histogram merupakan alat mutu yang banyak digunakan. Dengan demikian persentase kecacatan dalam proyek dapat diperkecil menuju ke zero defect. Demikian pula untuk waste material dan waste activities, dilakukan usaha untuk meminimalkan waste tersebut dengan perencanaan dan pengawasan yang tepat.
Perencanaan dan pengawasan tersebut juga menunjang usaha peningkatan produktivas pekerja dalam proyek.
Hal tersebut berbeda dengan proyek bangunan rekreasi di mana usaha peningkatan kinerja kurang dilakukan, khusunya dalam hal usaha perbaikan dan penurunan kecacatan.
Dari hasil Anova (Table 4.5) terlihat bahwa terdapat perbedaan yang signifikan untuk kesepuluh variabel (b21 sd b30) pada keenam proyek. Hasil Anova selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 3.
Tabel 4.5. Anova Faktor Quality Management
Variabel Kode p-value
Ada Usaha peningkatan kinerja secara terus-menerus untuk mengurangi cacat konstruksi b21 0,000 Ada pengawasan dan pengecekan pada tiap tahap pekerjaan b22 0,011 Perusahaan menjalin kerjasama dengan pihak luar yang mengutamakan kualitas b23 0,000 Perusahaan memberikan insentif terhadap kualitas kerja b24 0,000
Saya mengetahui adanya standard kualitas b25 0,006
Standard kualitas mudah diterapkan pada pekerjaan saya b26 0,037
Standard kualitas ditingkatkan secara berkala b27 0,000
Adanya standard kualitas sangat diperlukan untuk pengukuran kinerja b28 0,032
Penjadwalan pekerjaan di lapangan realistis b29 0,000
Perusahaan mendelegasikan wewenang pengambilan keputusan b30 0,000
Pada bangunan rekreasi, pihak manajemen melaksanakan pengawasan dan pengecekan pada tiap tahap pekerjaan secara memadai (b22). Menurut pihak manajemen pengawasan dilakukan secara terus-menerus untuk setiap aktivitas, dan dilakukan pengecekan untuk setiap hasil aktivitas yang dilaksanakan. Pengawasan dilakukan oleh mandor maupun oleh pengawas (Gambar 4.13). Pengecekan dapat berupa checklist untuk menentukan apakah
hasil pekerjaan pada tahap tersebut dapat diterima dan telah sesuai dengan spesifikasi atau ditolak dan harus dikerjakan kembali/diperbaiki. Pekerja juga sependapat dengan pihak manajemen bahwa ada pengawasan dan pengecekan dari pihak manajemen terhadap aktivitas dan hasil pekerjaan mereka.
Checklist meliputi kondisi lapangan (cuaca dan keadaan lokasi kerja), perlatan dan bahan, tenaga kerja (jumlah personil : supervisor, mandor, tukang, buruh, operator, teknisi dan perlengkapan P3K yang digunakan masing-masing personil), pekerjaan (permohonan ijin, pengukuran lapangan, pekerjaan persiapan, pelaksanaan : kebersihan lokasi, kondisi awal material, maintenance saat pelaksanaan, dll). Misalnya untuk pelaksanaan pekerjaan pondasi meliputi pemasukan casing (sesuai/tidak), pemasukan besi beton (sesuai/tidak), kerja pompa (berfungsi/tidak), pemakaian tremi (sesuai/tidak), kondisi tulangan (sesuai/tidak), pemadatan (sesuai/tidak), diameter dan kedalaman cor (sesuai/tidak), kebersihan lokasi (bersih/tidak).
Gambar 4.13. Ada pengawasan dan pengecekan pada setiap tahap pekerjaan
Pada proyek bangunan rekreasi ini manajemen juga menjalin kerjasama yang baik dengan pihak luar yang mengutamakan kualitas (b23). Menurut pihak manajemen, pihak owner yang diwakili oleh pimpro sangat mengutamakan kualitas, dan menuntut diterapkannya rencana mutu dan standard mutu di dalam proyek. Bahkan pihak pimpro sebenarnya juga menuntut diberikannya pelatihan kepada pekerja proyek, namun dalam hal ini program pelatihan ini belum dapat dilaksanakan secara memadai karena biaya yang dibutuhkan sangat besar. Demikian pula pihak luar yang lain, yaitu
konsultan perencana dan konsultan pengawas yang ditunjuk oleh owner merupakan perusahaan yang mempunyai kebijakan dan sasaran mutu yang jelas. Sedangkan menurut pekerja, selama ini hampir tidak pernah terjadi pelaksanaan pekerjaan di lapangan yang berubah-ubah, dan menurut mereka hal itu disebabkan karena desain dari pihak konsultan perencana sudah cukup jelas. Selain itu menurut pekerja, pihak supplier yang bekerjasama dengan perusahaan juga merupakan pihak yang mengutamakan kualitas, terlihat dari ketepatan waktu pengiriman material, jumlah material selalu sesuai yang dipesan, dan hasil dari pekerjaan misalnya hasil pengecoran ready mix mutunya cukup bagus .Pemilihan supplier ini berdasarkan kriteria mutu, di mana hubungan yang terjalin merupakan hubungan yang telah terjalin dalam jangka waktu yang lama, dan tidak sekedar menawar/mengurangi harga.
Pada bangunan sekolah, perusahaan memberikan insentif terhadap kualitas kerja (b24) dengan nilai rata-rata lebih tinggi dibanding proyek lainnya. Menurut pekerja, mereka biasanya mendapatkan bonus apabila pekerjaan mereka memuaskan dan sesuai jadwal yang direncanakan, dan mendapatkan insentif negatif (pemotongan gaji) apabila mereka bekerja sangat tidak sesuai harapan. Hal ini berbeda dengan proyek bangunan rekreasi di mana perusahaan kurang memberikan insentif terhadap kualitas kerja.
Pada proyek gedung kuliah, pekerja merasa bahwa mereka mengetahui adanya standard kualitas (b25). Pekerja proyek tersebut menyatakan sering mendapatkan pengarahan mengenai rencana mutu perusahaan, sasaran mutu, spesifikasi pekerjaan, spesifikasi produk, kriteria penerimaan produk, prosedur pelaksanaan konstruksi, standard-standard produk yang lain misalnya SNI, peraturan beton bertulang, dan lain-lain. Pihak manajemen menyatakan bahwa ada panduan kerja yang jelas untuk setiap pekerjaan, berupa pedoman mutu (Quality Control) dan prosedur sistem mutu. Menurut pihak manajemen dalam rencana mutu perusahaan telah diadopsi beberapa pasal-pasal dari ISO 9001:2000 yang kemudian dikembangkan sesuai kebutuhan perusahaan, di mana dalam rencana mutu tersebut juga dicantumkan metode pengerjaan untuk setiap proses untuk dijadikan sebagai acuan pengawasan dan pengecekan, dan instruksi kerja, serta tercantum pula sasaran mutu misalnya berapa persen
jumlah cacat maksimal dalam 1 bulan. Pada proyek ini pekerja juga merasa bahwa standard kualitas yang mereka ketahui mudah diterapkan pada pekerjaan mereka (b26) dan standard tersebut selalu ditingkatkan dari waktu ke waktu (b27). Menurut pihak manajemen rencana mutu selalu diperbarui secara berkala, karena pada saat awal dibentuknya rencana mutu tersebut hampir tidak mungkin untuk mempertimbangkan semua hal yang ada pada proyek sampai proyek tersebut berakhir, oleh karena itu hal-hal yang ditemukan pada saat proyek berjalan akan ditambahkan secara berkala untuk melengkapinya.
Standard yang ada diaudit secara internal untuk mengevaluasi hasil dan keefektifannya. Hal ini berbeda dengan proyek bangunan rekreasi di mana peningkatan standard secara berkala kurang dilakukan, atau cenderung menggunakan standard yang sama secara terus-menerus.
Menurut pekerja pada proyek gedung kuliah tersebut adanya standard sangat diperlukan untuk pengukuran kinerja (b28), di mana jika tidak ada standard maka sangat sulit untuk mengetahui apakah hasil pekerjaannya sudah sesuai atau tidak sesuai. Menurut pihak manajemen, standard sangat diperlukan untuk menilai apakah proses yang dilaksanakan telah sesuai sehingga produk yang dihasilkan terjamin kualitasnya dan untuk membuat peta kontrol kualitas untuk mengetahui apakah produk yang dihasilkan sesuai sasaran atau tidak. Menurut pihak manajemen, dalam rencana mutu terdapat spesifikasi pekerjaan, persyaratan peralatan, dan bagan alir proses penyelenggaraan proyek. Bagan alir proses penyelenggaran proyek ini dibedakan berdasarkan setiap aktivitas, dimulai dari ijin memulai pekerjaan, check spesifikasi material awal, pengontrolan di lapangan (toleransi yang diijinkan dari spesifikasi, misalnya jarak dan jumlah tulangan, diameter tulangan, panjang penyambungan, bentuk, dan lain-lain , serta tempat penyimpanan material dan kebersihan lokasi kerja).
Proyek ini juga menunjukkan adanya perhatian yang besar terhadap manajemen kualitas dengan merencanakan jadwal yang realistis untuk pekerjaan di lapangan (b29) yaitu dengan penggunaan Ms. Project dan dengan adanya pendelegasian wewenang pengambilan keputusan (b30).
Pada bangunan rekreasi pendelegasian wewenang pengambilan keputusan (b30) mengalami hambatan karena pihak manajemen berpendapat bahwa untuk masalah pendelegasian ini, pihak manajemen cukup mendelegasikan sampai dengan mandor, sedangkan mandor bertugas untuk mendelegasikan pekerja. Namun mandor seringkali tidak melibatkan pekerja karena dikejar oleh jadwal pekerjaan yang padat, sementara untuk melibatkan pekerja diperlukan waktu dan biaya tambahan.
Secara umum proyek bangunan kampus yang dikerjakan oleh kontraktor A mempunyai nilai rata-rata total untuk faktor quality management lebih tinggi disbanding proyek yang lainnya (Gambar 4.14). Sedangkan dari jawaban keseluruhan keenam proyek menunjukkan bahwa semua perusahaan tersebut mengadakan manajemen kualitas yang cukup memadai.
4,500 4,531 4,584 4,687
4,206
5,026
1 2 3 4 5 6
Medical Centre
Bangunan Rekreasi
Sekolah Perkantoran Asrama Gedung Kuliah Proyek
Nilai Rata-Rata
Gambar 4.14. Grafik Nilai Rata-rata Quality Management
4.4.3 Faktor Training (B3)
Faktor training menunjukkan nilai rata-rata yang cukup rendah untuk semua variabelnya (Tabel 4.6 dan Gambar 4.15). Di mana nilai rata-rata untuk faktor ini berkisar pada angka 3 (agak tidak setuju). Hasil perhitungan rata-rata selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4.
Tabel 4.6. Tabel Nilai Rata-Rata Faktor Training
Variabel Medical Centre Bangunan Rekreasi Sekolah Perkantoran Asrama Gedung Kuliah Total
b31 2,95 3,10 2,89 3,09 2,72 3,11 3,04
b32 3,00 3,14 2,95 3,09 3,06 3,17 3,09
b33 3,00 3,10 3,00 3,10 2,89 3,21 3,09
2 3 4
Saya mendapat Pelatihan pengetahuan konstruksi
dan kecakapan kerja
Saya mendapat pelatihan aplikasi teknologi baru
Saya mendapat pelatihan untuk meningkatkan
kualitas kerja
Variabel
Nilai Rata-Rata
Medical Centre Bangunan Rekreasi Sekolah
Perkantoran Asrama Gedung Kuliah
Gambar 4.15. Grafik Nilai Rata-Rata Faktor Training
Pada faktor training terdapal dua variabel yang tidak signifikan terhadap jenis proyek (Tabel 4.7 dan Lampiran 3) yaitu saya mendapat pelatihan aplikasi teknologi baru (b32) dan saya mendapat pelatihan untuk meningkatkan kualitas kerja (b33). Perbedaan yang tidak signifikan ini dapat disebabkan karena pekerja merasa bahwa hampir semua pekerja pada semua proyek berpendapat behwa mereka belum mendapatkan pelatihan yang memadai.
Ada satu variabel faktor training, saya mendapat pelatihan pengetahuan konstruksi dan kecakapan kerja (b11) yang perbedaannya signiflkan pada jenis proyek. Di mana bangunan kampus mempunyai nilai rata-rata lebih tinggi dari yang lain (mean = 3,11). Menurut pihak manajemen pelatihan pada proyek ini sudah mulai diberikan meskipun masih dalam tahap pengarahan secara berkala.
Pengarahan dilakukan secara berkala sesuai dengan tahap pekerjaan yang akan dilakukan (dilakukan setiap akan memulai tahap pekerjaan) dan biasanya
dilakukan paling lambat 1 bulan sekali. Lama pengarahan sekitar dua jam, diberikan oleh site manager. Materi dari pengarahan misalnya dalam bentuk memberi tahu cara kerja, di antaranya cara mengecat yang benar, campuran yang tepat, kertas gosok no berapa yang sesuai, dan lain-lain. Peserta pengarahan adalah pekerja dan mandor yang berhubungan dengan tahap pekerjaan/aktivitas yang akan dilakukan, misalnya untuk tahap pekerjaan pondasi, pesertanya adalah tukang batu. Di proyek ini pengarahan ini merupakan suatu bentuk untuk memulai program pelatihan kerja sedangkan program pelatihan untuk setiap pekerja pada proyek secara memadai belum dapat dilaksanakan karena membutuhkan anggaran yang sangat besar.
Tabel 4.7. Anova Faktor Training
Variabel Kode p-value
Saya mendapat Pelatihan pengetahuan konstruksi dan kecakapan kerja b31 0,010
Saya mendapat pelatihan aplikasi teknologi baru b32 0,305
Saya mendapat pelatihan untuk meningkatkan kualitas kerja b33 0,160
2,985 3,115 2,947 3,100 2,889 3,170
1 2 3 4 5 6
Medical Centre
Bangunan Rekreasi
Sekolah Perkantoran Asrama Gedung Kuliah Proyek
Nilai Rata-Rata
Gambar 4.16. Grafik Nilai Rata-Rata Faktor Training
Secara umum proyek bangunan kampus yang dikerjakan oleh kontraktor A mempunyai nilai rata-rata total faktor training lebih tinggi dari proyek lainnya (Gambar 4.16). Sedangkan nilai rata-rata keenam proyek menunjukkan bahwa keenam proyek belum menunjukkan adanya pemberian pelatihan bagi para pekerjanya secara memadai.
4.4.4 Faktor Komunikasi (B4)
Faktor komunikasi menunjukkan nilai rata-rata cukup tinggi pada semua proyek (Tabel 4.8 dan Gambar 4.17), di mana untuk variable pekerja selalu mendapat informasi yang memadai untuk pekerjaan (b41) mempunyai nilai rata-rata lebih tinggi dibanding variable komunikasi lainnya. Hasil perhitungan rata-rata selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4.
Dari hasil anova menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan untuk semua variable pada faktor komunikasi berdasarkan jenis proyek (Tabel 4.9).
Hasil Anova selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 3.
Pada proyek bangunan rekreasi, pekerja selalu mendapat informasi yang memadai untuk pekerjaan (b41) di mana berdasarkan pengamatan pada proyek, setiap pekerja akan memulai pekerjaan, mereka mendapatkan pengarahan tentang pekerjaan dan tanggung jawab terhadap pekerjaan, serta masalah kualitas kerja dari mandor atau dari pihak manajemen. Pekerja juga berpendapat bahwa komunikasi antara kontraktor dan pihak luar cukup baik (b44), di mana menurut hasil wawancara dengan pihak manajemen pihak kontraktor selalu menjalin komunikasi yang baik dengan owner maupun dengan konsultan.
Tabel 4.8. Nilai Rata-Rata Faktor Komunikasi
Variabel Medical Centre Bangunan Rekreasi Sekolah Perkantoran Asrama Gedung Kuliah Total
b41 4,77 5,41 4,47 5,16 4,39 5,23 5,05
b42 4,36 3,55 4,05 4,51 3,94 4,94 4,39
b43 4,36 3,55 4,05 4,51 3,94 5 4,40
b44 4,5 4,9 4,32 4,63 4,28 4,94 4,67
1 2 3 4 5 6
Saya selalu mendapat informasi yang memadai untuk
pekerjaan saya
Informasi Perubahan desain selalu diberikan kepada
saya sebelum pekerjaan dimulai
Terjalin komunikasi yang baik antar staff
internal kontraktor
Terjalin komunikasi yang baik antara kontraktor dan pihak
luar
Variabel
Nilai Rata-Rata
Medical Centre Bangunan Rekreasi Sekolah
Perkantoran Asrama Gedung Kuliah
Gambar 4.17. Grafik Nilai Rata-Rata Komunikasi
Tabel 4.9. Anova Faktor Komunikasi
Variabel Variabel p-value
Saya selalu mendapat informasi yang memadai untuk pekerjaan saya b41 0,000 Informasi Perubahan desain selalu diberikan kepada saya sebelum pekerjaan dimulai b42 0,000 Terjalin komunikasi yang baik antar staff internal kontraktor b43 0,000 Terjalin komunikasi yang baik antara kontraktor dan pihak luar b44 0,027
Namun pada proyek bangunan rekreasi ini informasi perubahan desain tidak selalu diberikan kepada pekerja sebelum pekerjaan dimulai (b42) dan komunikasi antar staff internal kontraktor tidak terlalu baik (b43). Hal tersebut
disebabkan karena dalam satu proyek terdapat beberapa mandor yang mengepalai beberapa pekerja tertentu, sehingga bila terjadi perubahan pekerjaan pada satu kelompok mandor, kelompok yang lain belum tentu mengetahui atau mendapat informasi karena lokasi pekerjaan yang tidak saling berdekatan. Selain itu jumlah pekerja yang sangat banyak dan proyek yang sangat kompleks membutuhkan dokumentasi dalam jumlah yang besar dan rumit, termasuk dokumentasi terhadap perubahan pekerjaan. Faktor penyebab yang lain adalah kurangnya komunikasi antara pekerja dan staff manajemen sehingga penyampaian informasi menjadi kurang lancar.
Menurut pihak manajemen, komunikasi dalam proyek diwujudkan dalam bentuk laporan harian (laporan pelaksanaan pekerjaan dan tenaga, laporan alat dan bahan), laporan mingguan/progress, persetujuan srtifikat pembayaran, rencana kerja mingguan, rencana tindak site, dan instruksi lapangan. Rapat koordinasi yang dilakukan berupa rapat mingguan dan rapat teknis lapangan. Ada tugas, wewenang, dan tanggungjawab yang jelas, khususnya untuk staff manajemen sehingga pekerja dan mandor mengetahui otoritas yang dimiliki oleh setiap staff manajemen di lapangan.
Dilihat dari rata-rata nilai total faktor komunikasi pada proyek, bangunan kampus mempunyai nilai rata-rata lebih tinggi dibanding proyek lainnya (Gambar 4.18). Secara umum pada keenam proyek yang diteliti nilai rata-rata faktor komunikasi berada pada nilai 4 dan 5, hal ini menggambarkan bahwa pihak pekerja masih cukup puas dengan sistem komunikasi pada perusahaan.
4,500 4,353 4,224
4,703
4,139
5,028
1 2 3 4 5 6
Medical Centre
Bangunan Rekreasi
Sekolah Perkantoran Asrama Gedung Kuliah Proyek
Nilai Rata-Rata
Gambar 4.18. Grafik Rata-rata Faktor Komunikasi
4.4.5 Faktor Skill level and knowledge (B5)
Faktor skill level and knowledge mempunyai nilai rata-rata cukup tinggi (Tabel 4.10 dan Gambar 4.19) di mana pekerja mempunyai kecekapan kerja yang cukup memadai (b51) dilihat dari variable pengetahuan konstruksi yang cukup memadai (b52), tanggungjawab pekerja terhadap pekerjaan (b53), kemampuan pekerja untuk mengambil keputusan di lapangan (b54) dan pekerja mengerti sepenuhnya instruksi pekerjaan (b55). Hasil perhitungan rata-rata selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4.
Variabel pekerja mampu mangambil keputusan di lapangan (b54) mempunyai nilai rata-rata tertinggi di antara variable-variabel lainnya. Hal tersebut disebabkan karena sebagian besar pekerja merasa mempunyai pengalaman yang cukup memadai sebelumnya sebagai pekerja konstruksi sehingga mereka dapat mengambil keputusan dengan cepat di lapangan untuk situasi yang mereka hadapi di lokasi pekerjaan. Meskipun mereka tidak mendapatkan pelatihan yang memadai untuk meningkatkan kecakapan kerja mereka, pekerja berpendapat bahwa mereka dapat mempelajari hal tersebut melalui pengalaman kerja.
Tabel 4.10. Nilai Rata-rata Faktor Skill Level and Knowledge
Variabel Medical Centre Bangunan Rekreasi Sekolah Perkantoran Asrama Gedung Kuliah Total
b51 4,32 3,66 4 4,48 3,94 4,75 4,33
b52 4,45 4,9 4,47 4,63 4,28 4,92 4,67
b53 4,41 3,79 4 4,48 3,83 4,7 4,34
b54 4,82 5,55 4,68 5,06 4,33 5,13 5,03
b55 4,82 5,31 4,37 5,14 4,39 5,17 5,01
Pada Tabel Anova (Tabel 4.11) dapat dilihat perbedaan yang signifikan terhadap semua variabel faktor skill level and knowledge (B5) pada jenis proyek. Hasil Anova selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 3.
1 2 3 4 5 6
Kecakapan kerja saya cukup memadai Pengetahuan konstruksi yang saya miliki cukup memadai Saya mengerti tanggungjawab saya terhadap pekerjaan Pelatihan memberi saya kemampuan mengambil keputusan di lapangan Saya mengerti sepenuhnya instruksi pekerjaan
Variabel
Nilai Rata-Rata
Medical Centre Bangunan Rekreasi Sekolah
Perkantoran Asrama Gedung Kuliah
Gambar 4.19. Grafik Nilai Rata-Rata Skill Level and Knowledge
Tabel 4.11. Anova Faktor Skill Level and Knowledge
Variabel Kode p-value
Kecakapan kerja saya cukup memadai b51 0,000
Pengetahuan konstruksi yang saya miliki cukup memadai b52 0,030 Saya mengerti tanggungjawab saya terhadap pekerjaan b53 0,000 Pelatihan memberi saya kemampuan mengambil keputusan di lapangan b54 0,000
Saya mengerti sepenuhnya instruksi pekerjaan b55 0,000
Pada grafik rata-rata nilai pekerja, terlihat bahwa proyek bangunan kampus memiliki pekerja yang lebih kompeten terhadap pekerjaan ditinjau dari nilai rata-rata jawaban pekerja. Pada proyek bangunan kampus sebagian besar pekerja mempunyai kecakapan kerja yang cukup memadai (b51), memiliki pengetahuan konstruksi yang cukup memadai (b52) (Gambar 4.20), mengerti tanggung jawab tehadap pekerjaan (b53). Tanggungjawab terhadap pekerjaan
ditunjukkan dengan pekerja selalu memeriksa hasil pekerjaan mereka sendiri.
Dari hasil pengamatan, pengarahan dan informasi yang diberikan pihak manajemen mengenai pekerjaan mempunyai pengaruh yang cukup besar untuk meningkatkan kompetensi pekerja di lapangan, contohnya pengarahan mengenai prosedur pemasangan dan pelepasan bekisting serta perancah akan meningkatkan kecakapan pekerja di lapangan. Demikian pula dorongan dari pihak manajemen bagi setiap pekerja untuk menyelesaikan dan mengatasi masalah yang terjadi di lapangan akan meningkatkan kecakapan kerja. Hal ini berbeda dengan proyek bangunan rekreasi di mana pekerja kurang memeriksa hasil pekerjaan mereka sendiri karena beranggapan bahwa hasil pekerjaan mereka akan diperiksa oleh orang lain.
Gambar 4.20. Pengetahuan konstruksi pekerja cukup memadai
Pada proyek bangunan rekreasi, pekerja lebih mempunyai kemampuan untuk mengambil keputusan di lapangan (b54) dan pekerja mengerti sepenuhnya instruksi pekerjaan (b55). Menurut pekerja, instruksi pekerjaan yang disampaikan cukup jelas dan dapat dimengerti.
4,555 4,662
4,295
4,765
4,178
4,947
1 2 3 4 5 6
Medical Centre
Bangunan Rekreasi
Sekolah Perkantoran Asrama Gedung Kuliah Proyek
Nilai Rata-Rata
Gambar 4.21. Grafik Nilai Rata-rata Skill level and Knowledge
Untuk nilai total rata-rata skill level and knowledge (Gambar 4.21), proyek bangunan kampus mempunyai nilai lebih tinggi dari proyek lainnya.
Sedangkan dilihat dari nilai rata-rata yang berkisar pada nilai 4 dan 5 dapat disimpulkan bahwa pekerja pada semua proyek mempunyai kecakapan konstruksi yang cukup memadai.
4.4.6 Faktor Motivasi (B6)
Pada Tabel 4.12 dan Gambar 4.22 faktor motivasi mempunyai nilai rata-rata cukup tinggi, terutama pada variabel pekerja tidak merasa pekerjaannya membosankan dan berulang-ulang (b63). Hasil perhitungan rata-rata selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4.
Dari hasil Anova (Table 4.13) terlihat bahwa ada satu variable yang tidak berbeda secara signifikan untuk setiap proyek yaitu pekerja termotivasi dalam melaksanakan pekerjaan (b62). Hal tersebut karena jawaban setiap pekerja pada setiap proyek cukup bervariasi sehingga tidak ada perbedaan antara proyek yang satu dengan yang lain.
Tabel 4.12. Nilai Rata-rata Faktor Motivasi
Variabel Medical Centre Bangunan Rekreasi Sekolah Perkantoran Asrama Gedung Kuliah Total
b61 4,41 3,76 4 4,53 3,94 4,94 4,42
b62 4,45 4,97 4,47 4,64 4,39 4,89 4,69
b63 4,82 5,52 4,74 5,18 4,39 5,19 5,09
1 2 3 4 5 6
Saya tidak merasa stress atau kelelahan
Saya termotivasi dalam melaksanakan pekerjaan
Saya tidak merasa pekerjaan saya membosankan dan
berulang-ulang
Variabel
Nilai Rata-Rata
Medical Centre Bangunan Rekreasi Sekolah
Perkantoran Asrama Gedung Kuliah
Gambar 4.22. Grafik Nilai Rata-Rata Motivasi
Tabel 4.13. Anova Faktor Motivasi
Variabel Kode p-value
Saya tidak merasa stress atau kelelahan b61 0,000
Saya termotivasi dalam melaksanakan pekerjaan b62 0,065
Saya tidak merasa pekerjaan saya membosankan dan berulang-ulang b63 0,000
Gambar 4.23. Pekerja tidak termotivasi dalam melaksanakan pekerjaan
Pekerja pada proyek bangunan rekreasi mempunyai lebih banyak pekerja yang merasa stress dan kelelahan (b61) lebih tinggi daripada proyek
lainnya. Hal ini disebabkan karena pekerja pada proyek tersebut merasa bahwa tuntutan pekerjaan yang diharapkan dari mereka cukup tinggi dan waktu pekerjaan cukup mendesak karena proyek tersebut akan segera dioperasionalkan secara penuh dalam waktu dekat. Namun pekerja pada proyek ini mempunyai lebih sedikit pekerja yang merasa pekerjaannya membosankan dan berulang-ulang (b63). Menurut pekerja hal tersebut disebabkan karena proyek yang dibangun sangat menarik sebagai sarana rekreasi baik dari segi desain maupun permainan yang ada.
4,561 4,759
4,421 4,775
4,222
5,013
1 2 3 4 5 6
Medical Centre
Bangunan Rekreasi
Sekolah Perkantoran Asrama Gedung Kuliah Proyek
Nilai Rata-Rata
Gambar 4.24. Grafik Nilai Rata-rata Faktor Motivasi
Dari nilai rata-rata total faktor motivasi (Gambar 4.24), pekerja pada bangunan kampus mempunyai motivasi lebih tinggi dibanding pekerja pada proyek lainnya, sedangkan dilihat dari nilai rata-rata jawaban responden untuk faktor motivasi pada keenam proyek yang berkisar antara 4 dan 5 dapat disimpulkan bahwa pekerja pada semua proyek mempunyai motivasi yang cukup tinggi terhadap pekerjaan.
4.4.7 Faktor Lingkungan Kerja (B7)
Pada faktor lingkungan kerja (B7) pekerja menilai lingkungan kerjanya cukup memadai, hal ini terlihat dari jawaban rata-rata responden (Tabel 4.14 dan Gambar 4.25) yang berkisar antara nilai 4 (agak setuju) dan 5 (setuju). Hasil perhitungan rata-rata selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4.
1 2 3 4 5 6
Tempat saya bekerja penuh
dengan tekanan
Interaksi dan kerjasama antar aktivitas
konstruksi cukup memadai
Saya selalu menyadari
adanya perubahan
pekerjaan
Saya selalu menyadari
adanya perubahan
standard
Peralatan, material, dan
pekerja di lapangan memadai untuk pekerjaan
Saya merasa nyaman dengan lokasi
pekerjaan
Variabel
Nilai Rata-Rata
MedicalCentre Bangunan Rekreasi Sekolah
Perkantoran Asrama Gedung Kuliah
Gambar 4.25. Grafik Nilai Rata-Rata Lingkungan Kerja
Tabel 4.14. Nilai Rata-Rata Faktor Lingkungan Kerja
Variabel MedicalCentre Bangunan Rekreasi Sekolah Perkantoran Asrama Gedung Kuliah Total
b71 2,64 3,24 2,95 2,46 3,28 2,23 2,63
b72 4,55 5,14 4,53 4,61 4,44 4,83 4,71
b73 4,73 5,07 4,42 5,18 4,06 5,17 4,96
b74 4,36 4,07 4,16 4,53 3,89 4,74 4,42
b75 4,45 4,79 4,32 4,61 4,28 4,98 4,66
b76 4,82 5,14 4,68 5,16 4,39 5,13 5,01
Tabel 4.15. Anova faktor Lingkungan Kerja
Variabel Kode p-value
Tempat saya bekerja penuh dengan tekanan b71 0,000
Interaksi dan kerjasama antar aktivitas konstruksi cukup memadai b72 0,082 Saya selalu menyadari adanya perubahan pekerjaan b73 0,000 Saya selalu menyadari adanya perubahan standard b74 0,002 Peralatan, material, dan pekerja di lapangan memadai untuk pekerjaan b75 0,015
Saya merasa nyaman dengan lokasi pekerjaan b76 0,002
Pada Tabel 4.15 terdapat satu variabel yang tidak berbeda secara signifikan berdasarkan jenis proyek yaitu interaksi dan kerjasama antar aktivitas konstruksi cukup memadai (b72). Sedangkan kelima variable yang lain menunjukkan perbedaan yang signifikan terhadap jenis proyek. Nilai rata-rata interaksi dan kerjasama antar aktivitas konstruksi (b72) pada bangunan rekreasi adalah 5,14 (Gambar 4.26).
Gambar 4.26. Interaksi dan kerjasama yang memadai antar aktivitas konstruksi
Pekerja pada proyek bangunan asrama merasa bahwa lingkungan kerjanya kurang sesuai dengan harapan pekerja, seperti tempat kerja yang penuh dengan tekanan (b71), kurangnya kesadaran pekerja terhadap adanya perubahan pekerjaan (b73), kurangnya kesadaran pekerja terhadap perubahan standard (b74), dan peralatan, material, dan pekerja di lapangan yang kurang memadai untuk pekerjaan (b75) sehingga pekerja merasa tidak nyaman dengan lokasi pekerjaan. Hal ini juga disebabkan karena lokasi pekerjaan yang tidak teratur sehingga kurang nyaman untuk bekerja.
Hal ini berbeda dengan pekerja pada proyek gedung kuliah di mana secara umum pekerja cukup puas dengan kondisi lingkungan kerja (B7).
4,545 4,661
4,360 4,771
4,204
4,950
1 2 3 4 5 6
Medical Centre
Bangunan Rekreasi
Sekolah Perkantoran Asrama Gedung Kuliah Proyek
Nilai Rata-Rata
Gambar 4.27. Grafik Faktor Lingkungan Kerja
4.4.8 Faktor Perilaku pekerja (C)
Secara keseluruhan terdapat perbedaan yang signifikan (Tabel 4.16) terhadap variable-variabel perilaku pekerja pada keenam jenis proyek. Secara umum dari keenam proyek, nilai rata-rata jawaban pekerja memberikan hasil yang sedang (Tabel 4.17, Tabel 4.18, Gambar 4.28). Hasil perhitungan rata- rata selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4.
Tabel 4.16. Anova Faktor Perilaku pekerja
Variabel Kode p-value Regression Weights
Saya bekerja dengan tergesa-gesa C1 0,000 0,987
Saya bingung terhadap pekerjaan yang saya kerjakan C2 0,003 0,201
Saya bertindak sendiri dalam mengerjakan pekerjaan C3 0,007 0,178
Saya lupa terhadap pekerjaan yang dilakukan C4 0,000 0,986
Saya tidak menggunakan peralatan konstruksi sesuai prosedur C5 0,000 0,963
Saya bekerja tanpa mengikuti prosedur pelaksanaan konstruksi C6 0,045 0,135
Saya melakukan kecerobohan pada saat melakukan pekerjaan C7 0,016 0,161
Saya tidak mengikuti instruksi dari atasan saya C8 0,000 0,980
Tabel 4.17. Nilai Rata-rata Faktor Perilaku pekerja
Variabel MedicalCentre Bangunan Rekreasi Sekolah Perkantoran Asrama Gedung Kuliah Total
c1 2,64 3,45 2,95 2,49 3,06 2,11 2,62
c2 2,5 2,1 2,68 2,38 2,72 2,06 2,33
c3 2,23 1,59 2,53 1,84 2,61 1,75 1,95
c4 2,64 3,45 2,95 2,49 3,06 2,11 2,62
c5 2,64 3,28 2,95 2,49 2,67 2,19 2,59
c6 2,5 1,9 2,68 2,38 2,44 2,15 2,3
c7 2,23 1,45 2,21 1,84 2,61 1,79 1,91
c8 2,64 3,45 2,58 2,49 3,06 2,21 2,62
1 2 3 4 5 6
Saya bekerja dengan tergesa-gesa Saya bingung terhadap pekerjaan yang saya kerjakan Saya bertindak sendiri dalam mengerjakan pekerjaan Saya lupa terhadap pekerjaan yang dilakukan Saya tidak menggunakan peralatan konstruksi sesuai prosedur Saya bekerja tanpa mengikuti prosedur pelaksanaan konstruksi Saya melakukan kecerobohan pada saat melakukan pekerjaan Saya tidak mengikuti instruksi dari atasan saya
Variabel
Nilai Rata-Rata
MedicalCentre Bangunan Rekreasi Sekolah
Perkantoran Asrama Gedung Kuliah
Gambar 4.28. Grafik Nilai Rata-Rata Perilaku pekerja
Pekerja pada proyek bangunan rekreasi cukup sering bekerja dengan tergesa-gesa (c1) dibandingkan dengan pekerja pada proyek bangunan kampus.
Hal ini disebabkan karena mereka ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya karena masih banyak pekerjaan lain yang harus dilakukan. Salah satu contoh pekerja bekerja dengan tergesa-gesa adalah pada saat terjadi keretakan pada tangga teraso, di mana pekerja memperlebar retakan yang terjadi untuk diisi dengan campuran semen, namun campuran yang dihasilkan warnanya sangat berbeda dengan bahan teraso, akibatnya harus dilakukan pengecatan ulang.
Pekerja pada bangunan asrama cukup sering merasa bingung terhadap pekerjaan yang dikerjakan (c2) dibandingkan dengan pekerja pada proyek bangunan kampus. Contohnya adalah pada saat pemasangan paving stone, di mana instruksi untuk pola akhiran paving stone yang berbatasan dengan aspal tidak diberikan dengan jelas akibatnya pola pada akhiran paving tersebut membentuk pola yang tidak sesuai dan harus dikerjakan ulang. Demikian pula instruksi yang kurang memadai untuk pemasangan wiremesh menyebabkan pekerja bingung dan terjadi kesalahan koneksi antara wiremesh dan tumpuan.
Pekerja pada proyek asrama cukup sering bertindak sendiri dalam mengerjakan pekerjaan (c3) dan melakukan kecerobohan pada saat melakukan pekerjaan (c7). Pekerja pada proyek bangunan rekreasi cukup sering lupa terhadap pekerjaan yang harus dilakukan (c4), tidak menggunakan peralatan konstruksi sesuai prosedur (c5) dan tidak mengikuti instruksi dari atasan (c8).
Salah satu contoh pekerja melanggar instruksi adalah pekerja tidak memasang besi tulangan sengkang paling atas (tulangan sengkang dikurangi satu buah) dan baru dipasang setelah ditemukan oleh pengawas. Hal ini merupakan pelanggaran yang dilakukan oleh pekerja. Contoh pelanggaran lainnya adalah pekerja memasang jarak reng pada atap tidak sesuai instruksi yang diberikan sehingga pada akhirnya terjadi kebocoran pada atap.
Pekerja pada proyek sekolah lebih sering bekerja tanpa mengikuti prosedur pelaksanaan konstruksi (c6) dibanding proyek yang lain di mana pekerja merasa peraturan prosedur tidak diperlukan dan mengikuti prosedur akan memperlambat pekerjaan. Salah satu contoh pekerja tidak mengikuti prosedur pelaksanaan konstruksi adalah pekerja menambahkan terlalu banyak air pada campuran beton, pekerja tidak menggunakan air bersih untuk campuran beton. Hal ini juga dapat disebabkan karena pengetahuan konstruksi pekerja kurang memadai. Sedangkan pekerja pada proyek bangunan rekreasi bekerja dengan mengikuti prosedur pelaksanaan konstruksi, misalnya dengan melakukan test slump pada beton sebelum pengecoran beton (Gambar 4.29).
Gambar 4.29. Bekerja mengikuti prosedur pelaksanaan konstruksi
Dari grafik nilai rata-rata total perilaku pekerja proyek keseluruhan dapat dilihat bahwa perilaku pekerja yang salah yang sering dilakukan adalah bekerja dengan tergesa-gesa (c1), lupa terhadap pekerjaan (c4) dan tidak mengikuti instruksi atasan (c8). Pada Gambar 4.30 dapat dilihat bahwa bangunan asrama mempunyai nilai perilaku pekerja yang salah lebih tinggi daripada proyek lainnya.
2,500 2,582 2,691
2,297 2,778
2,047
1 2 3 4 5 6
Medical Centre
Bangunan Rekreasi
Sekolah Perkantoran Asrama Gedung Kuliah Proyek
Nilai Rata-Rata
Gambar 4.30. Grafik Nilai Rata-rata Faktor Perilaku pekerja 4.4.9. Nilai Rata-Rata Keseluruhan
Secara umum dari keenam proyek, nilai rata-rata jawaban pekerja untuk faktor organisasi memberikan hasil yang cukup tinggi (4 sd 5), kecuali untuk faktor training (Gambar 4.31). Nilai rata-rata jawaban pekerja untuk faktor tempat kerja memberikan hasil yang cukup tinggi (4 sd 5) untuk semua faktor (Gambar 4.32). Grafik perhitungan rata-rata keseluruhan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 5.