Berdasarkan hasil pengamatan langsung, elver selalu mendekati kedua jenis pintu masuk dan mencoba untuk melewatinya. Ini dapat difahami karena elver
merupakan ikan lindung. Selama beruaya, elver selalu mencari benda-benda di sekitarnya sebagai tempat berlindung (Sasongko et al. 2007; Haryono 2008 dan Setianto 2012). Namun demikian, jumlah elver yang mencoba memasuki pintu masuk ijep lebih banyak dibandingkan dengan jaring. Ini diduga berkaitan dengan pintu material jaring memberikan efek lebih terang dibandingkan dengan pintu
ijep.
Hal yang menarik adalah jumlah elver yang mencoba memasuki ijep tidak sebanding dengan jumlah elver yang terperangkap. Elver selalu mengalami kesulitan ketika menerobos celah ijep untuk masuk ke dalam bubu. Selanjutnya,
elver berpindah ke bubu berpintu jaring dan langsung masuk ke dalamnya dengan mudah. Ini dibuktikan dengan jumlah hasil tangkapan bubu berpintu jaring sebanyak 1184 elver atau 90,87% dari jumlah total tangkapan, atau lebih banyak dibandingkan dengan bubu berpintu ijep 119 elver (9,13%). Komposisi jumlah
elver yang terperangkap oleh bubu yang menggunakan konstruksi pintu ijep dan jaring ditampilkan pada Gambar 12, adapun data pengujian secara keseluruhan dapat dilihat pada Lampiran 4.
Gambar 12 Jumlah elver yang masuk ke dalam model bubu berdasarkan konstruksi pintu masuk
6 13 3 4 2 3 13 9 5 6 3 2 9 1 5 10 11 11 0 3 69 66 40 89 67 56 52 48 63 66 53 55 76 41 73 48 62 47 64 49 0 30 60 90 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Ju m lah ( elv er ) Ulangan ke- ijep jaring
Gambar 12 menunjukkan bahwa elver jauh lebih banyak masuk ke dalam bubu berpintu jaring dibandingkan dengan pintu ijep. Hal yang menarik adalah bubu berpintu ijep sama sekali tidak dimasuki oleh elver pada ulangan ke-19.
Elver sulit melewati celah pintu ijep yang sangat sempit. Beberapa elver bahkan terjepit pada celah pintu ijep. Hampir semua elver yang berhasil masuk ke dalam bubu dalam kondisi terluka akibat terjepit dan tergores oleh ujung lidi yang tajam. Hal ini yang selalu dikeluhkan oleh nelayan. Elver yang terluka memiliki nilai jual yang rendah dan sulit dijual karena cepat mati (Gambar 13). Informasi dari pengepul juvenil sidat menyebutkan bahwa elver berkualitas rendah memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk mati ketika dibudidayakan. Setianto (2012) menginformasikan bahwa tingkat kematian elver ketika dibudidayakan berkisar antara 45-63%.
Penggantian pintu masuk ijep pada bubu elver sangat diperlukan untuk meningkatkan jumlah dan kualitas elver yang tertangkap. Hasil pengujian selama 5 hari menunjukkan bahwa elver yang terluka dan kemudian mati setelah melewati pintu ijep sebanyak 148 ekor atau 67,27% dari 220 elver yang terperangkap. Adapun elver yang mati setelah melalui pintu jaring hanya 7 ekor atau 5,38 %. Dengan demikian, perbaikan pintu masuk bubu elver mengunakan jaring berbentuk kerucut terpancung sangat tepat. Konstruksi pintu masuk ini sangat mudah dilalui dan tidak melukai tubuh elver.
Pengaruh pintu dalam pada bubu elver
Penggunaan pintu dalam pada beberapa perangkap telah banyak diaplikasikan sebagai upaya untuk meningkatkan jumlah hasil tangkapan. Konsep penggunaan perangkap dengan pintu lebih dari satu ini dapat ditemukan pada bubu bambu (Purwanto et al 2013), fyke net, bag stretch net dan pound net
(Tecsh 2003). Ruang terakhir dijadikan sebagai tempat penampungan ikan yang terjebak. Pada bubu elver, pemakaian pintu ini belum pernah dicoba. Padahal, penggunaannya pada bubu elver perlu diujicoba dalam upaya meningkatkan hasil tangkapan.
Berdasarkan hasil pengujian didapatkan bahwa model bubu dengan pintu dalam (selanjutnya disebut bubu dua pintu) dapat memerangkap lebih banyak
1. 2.
Gambar 13 Kondisi elver dalam bak karantina setelah melalui pintu ijep
1. Elver terluka pada bagian kepala, badan, dan ekor 2. Elver berjamur setelah terluka
elver dibandingkan dengan bubu satu pintu. Bubu dua pintu dapat memerangkap
elver sebanyak 663 elver atau 33,15 elver/ulangan. Adapun bubu satu pintu sejumlah 289 elver atau 14,25 elver/ulangan. Jumlah total elver yang terperangkap pada pengujian ini disajikan pada Gambar 14, adapun data secara lengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 5.
Gambar 14 Jumlah elver yang terperangkap pada model bubu satu pintu dan dua pintu
Data pada Gambar 14 menginformasikan bahwa model bubu dua pintu dapat memerangkap elver hingga 48 ekor dalam satu kali ulangan. Sementara model bubu satu pintu hanya menangkap antara 6-25 ekor per ulangan. Hal ini sangat berhubungan dengan jumlah ruang yang terbentuk di dalam model bubu. Penggunaan dua pintu menyebabkan bubu memiliki dua ruang terpisah. Masing-masing ruang berada di belakang pintu masuk dan pintu kedua. Ruang yang berada di belakang pintu kedua berubah fungsi menjadi semacam kantong penampung (Gambar 15).
Gambar 15 Ruang yang terbentuk pada bubu dua pintu
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkah laku elver dalam model bubu sangat aktif. Elver berenang bolak-balik di dalam model bubu mencari jalan ke luar. Pada akhirnya elver akan bergerombol di belakang pintu masuk dalam upaya untuk meloloskan diri.
17 25 23 14 12 16 12 14 12 12 6 15 12 13 16 13 8 14 14 17 36 36 32 25 48 45 31 34 29 20 29 39 35 40 40 28 27 15 37 37 0 25 50 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Ju m lah ( elve r ) Perlakuan ke-
Bubu satu pintu Bubu dua pintu
Elver yang terperangkap oleh model bubu satu pintu akan berenang bolak-balik di dalam bubu. Selanjutnya, elver bergerombol atau terkonsentrasi di belakang pintu masuk. Hal ini menyebabkan beberapa elver menutupi pintu masuk. Akibatnya, elver lain yang berada di luar model bubu mengalami kesulitan untuk melewati pintu masuk. Ini berbeda dengan hasil uji model bubu dua pintu. Elver yang telah melewati pintu masuk akan langsung melewati pintu kedua. Elver kemudian masuk ke dalam ruang kedua, terkonsentrasi di dalamnya dan bergerombol di belakang pintu kedua. Ini menyebabkan ruang pertama di belakang pintu masuk menjadi kosong. Kekosongan ruangan ini membuat elver
lebih mudah untuk masuk ke dalam bubu. Konstruski bubu dua pintu juga menyebabkan elver yang masuk ke dalam model bubu akan terperangkap dalam dua ruang yang berbeda, yaitu ruang satu dan ruang dua. Jumlah elver yang terperangkap menjadi lebih banyak dibandingkan dengan elver yang terperangkap pada model bubu yang hanya memiliki satu pintu.
.
Gambar 16 Elver bergerombol di mulut masuk model bubu
Penambahan pintu pada bubu model bubu ini ternyata berpengaruh terhadap peningkatan jumlah elver yang terperangkap oleh bubu. Hasil ini memiliki kemiripan dengan informasi Tupamahu et al. (2013) yang menyatakan bahwa desain dan jumlah pintu masuk bubu yang berbeda mempengaruhi hasil tangkapannya. Purwanti (2009) juga menambahkan bahwa penggunaan bubu dua pintu mendapatkan jumlah hasil tangkapan yang lebih banyak dibandingkan dengan satu pintu.
Hasil Rancangan Bubu elver Paralon
Desain bubu
Konstruksi bubu dirancang berdasarkan atas hasil penelitian terhadap bagian-bagian bubu. Konstruksi model bubu yang lebih mudah dan banyak dimasuki elver memiliki pintu masuk yang terbuat dari jaring, bagian belakang model bubu tidak tertutup rapat dan bubu dilengkapi dengan pintu dalam. Dua konstruksi bubu yang dirancang berdasarkan ketiga spesifikasi tersebut adalah bubu nelayan dengan pintu masuk terbuat dari jaring atau bubu modifikasi 1 dan bubu dua pintu (bubu modifikasi 2).
Pipa paralon