• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Pengujian Prasyarat Analisis Data

a. Uji Normalitas Pretest

Dalam penelitian ini, uji normalitas dilakukan dengan menggunakan rumus

Liliefors. Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak, dengan ketentuan data berdistribusi normal jika memenuhi kriteria Lo<Ltabel diukur pada taraf signifikansi tertentu.

Hasil uji normalitas pretest kedua sampel penelitian dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.4

Hasil Uji Normalitas Pretest

Statistik Pretest

Eksperimen Kontrol

n 28 28

Lhitung 0,1509 0,1577

Ltabel 0,161 0,161

Kesimpulan Berdistribusi Normal

Berdasarkan tabel 4.4, hasil uji normalitas untuk data pretest dan posttest

dilakukan pada taraf signifikansi 95% (α = 0,05) dengan menggunakan tabel nilai

kritis uji liliefors, yaitu nilai Ltabel dengan n = 28 adalah 0,161 untuk kedua sampel penelitian.

Nilai pretest pada kelas eksperimen Lhitung adalah 0,1509, sedangkan nilai Ltabeladalah 0,161. Jadi berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa hasilpretest kelompok eksperimen dan kontrol berdistribusi normal karena memenuhi kriteria Lhitung < Ltabel. = 0,1509 < 0,161.

b. Uji Homogenitas Pretest

Setelah sampel dinyatakan berdistribusi normal, selanjutnya adalah menghitung nilai homogenitas. Dalam penelitian ini homogenitas didapat dengan

51

menggunakan uji Fisher. Kriteria pengujian yang digunakan yaitu kedua kelompok dinyatakan homogen apabila Fhitung < Ftabel diukur pada taraf signifikansi 95%.

Hasil uji homogenitas pretest kedua sampel penelitian dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.5

Hasil Uji Homogenitas Pretest

Statistik Pretest Eksperimen Kontrol S2 46,65 41,86 Fhitung 1,05 Ftabel 1,77 Kesimpulan Homogen

Berdasarkan tabel 4.5, diketahui hasil uji homogenitas untuk data pretest

didapat Fhitung = 1,05 dan data posttest didapat Fhitung = 1,12. Dengan taraf signifikan 95% (α = 0,05) dengan derajat kebebasan (dk1) = 28 dan (dk2) = 28 didapat Ftabel = 1,77.

Dari kedua data tersebut dapat disimpulkan bahwa data hasil belajar dari kedua sampel tersebut mempunyai varians yang sama atau homogen karena memenuhi kriteria Fhitung < Ftabel= 1,12 < 1,77.

c. Uji T

Setelah dilakukan uji prasyarat analisis data, diketahui bahwa data hasil belajar kedua kelompok pada penelitian ini berdistribusi normal dan homogen, sehingga pengujian data hasil belajar kedua kelompok dilanjutkan pada analisis data berikutnya, yaitu uji hipotesis menggunakan uji T dengan kriteria pengujian yaitu jika thitung< ttabel maka H0 diterima, Ha ditolak. Jika thitung > ttabel maka H0 ditolak, Ha diterima. Berikut adalah tabel pengujian hipotesis penelitian data pretest:

52

Tabel 4.6

Hasil Perhitungan Uji T

Statistik Pretest Eksperimen Kontrol N 28 28 Mean 43,14 41,86 � 6,75 thitung 1,01 ttabel 1,706

Kesimpulan thitung < ttabel = H0 diterima

Dari tabel 4.6 hasil perhitungan uji T di atas, nilai pretest kelas eksperimen dan kelas kontrol pada taraf signifikansi α = 0,05 diperoleh thitung pretest sebesar 1,01 dengan ttabel 0,684, maka dapat dilihat bahwa hasil thitung pretest lebih kecil dibandingkan dengan ttabel. Berdasarkan kriteria pengujian yang telah ditetapkan, yaitu: jika thitung < ttabel, maka Ho diterima dan dapat dinyatakan bahwa terdapat tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil pretest kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dengan demikian, kedua kelas tersebut layak dijadikan sampel penelitian.

2. Uji Prasyarat Hipotesis a. Uji Normalitas Postest

Dalam penelitian ini, uji normalitas dilakukan dengan menggunakan rumus

Liliefors. Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak, dengan ketentuan data berdistribusi normal jika memenuhi kriteria Lo<Ltabel diukur pada taraf signifikansi tertentu.

Hasil uji normalitas postest kedua sampel penelitian dapat dilihat pada tabel berikut:

53

Tabel 4.7

Hasil Uji Normalitas Postest

Statistik Posttest

Eksperimen Kontrol

n 28 28

Lhitung 0,0935 0,0909

Ltabel 0,161 0,161

Kesimpulan Berdistribusi Normal

Berdasarkan tabel 4.7, hasil uji normalitas untuk data pretest dan posttest

dilakukan pada taraf signifikansi 95% (α = 0,05) dengan menggunakan tabel nilai

kritis uji liliefors, yaitu nilai Ltabel dengan n = 28 adalah 0,161 untuk kedua sampel penelitian.

Nilai posttest pada kelas eksperimen memiliki Lhitung 0,0935, nilai Lhitung pada kelas kontrol adalah 0,0909 sedangkan nilai Ltabel adalah 0,161. Jadi berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil posttest kelompok eksperimen dan kontrol berdistribusi normal karena memenuhi kriteria Lhitung< Ltabel. = 0,1509<0,161.

b. Uji Homogenitas Postest

Setelah kedua kelompok sampel penelitian dinyatakan berdistribusi normal, selanjutnya dicari nilai homogenitas.Dalam penelitian ini homogenitas didapat dengan menggunakan uji Fisher. Kriteria pengujian yang digunakan yaitu kedua kelompok dinyatakan homogen apabila Fhitung < Ftabel diukur pada taraf signifikansi 95%, hasil uji homogenitas kedua kelompok sampel penelitian dapat dilihat deperti pada tabel berikut:

Tabel 4.8

Hasil Uji Homogenitas Posttest

Statistik Posttest Eksperimen Kontrol S2 82,88 74,05 Fhitung 1,12 Ftabel 1,77 Kesimpulan Homogen

54

Berdasarkan tabel 4.8, diketahui hasil uji homogenitas untuk data postest

didapat Fhitung = 1,12. Dengan taraf signifikan 95% (α = 0,05) dengan derajat kebebasan (dk1) = 28 dan (dk2) = 28 didapat Ftabel = 1,77.

Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa data hasil belajar dari kedua sampel tersebut mempunyai varians yang sama atau homogen karena memenuhi kriteria Fhitung < Ftabel = 1,12< 1,77.

C. Pengujian Hipotesis

Setelah dilakukan uji prasyarat sampel dan hipotesis, diketahui bahwa data hasil belajar kedua kelompok pada penelitian ini berdistribusi normal dan homogen, sehingga pengujian data hasil belajar kedua kelompok dilanjutkan pada analisis data berikutnya, yaitu uji hipotesis menggunakan uji T dengan kriteria pengujian yaitu jika thitung< ttabel maka H0 diterima, Ha ditolak. Jika thitung> ttabel maka H0 ditolak, Ha diterima.

Perhitungan lengkap hasil pengujian hipotesis data postest kelas eksperimen maupun kelas kontrol dapat dilihat pada lampiran. Berikut adalah tabel pengujian hipotesis penelitian dataposttest.

Tabel 4.9

Hasil Perhitungan Uji Hipotesis

Statistik Posttest Eksperimen Kontrol N 28 28 Mean 79,71 76,14 � 8,86 thitung 2,12 ttabel 1,706

Kesimpulan thitung >ttabel = H0 ditolak

Dari tabel 4.9, rata-rata hasil belajar nilai posttest siswa kelompok eksperimen lebih tinggi daripada rata-rata hasil belajar kelas kontrol. Untuk nilai posttest kelas

55

eksperimen dan kelas kontrol pada taraf signifikansi α = 0,05 diperoleh thitung posttest sebesar 2,12 dengan ttabel 0,684, maka dapat dilihat bahwa hasil thitung posttest lebih besar dibandingkan dengan ttabel.

Berdasarkan kriteria pengujian yang telah ditetapkan, yaitu: jika thitung > ttabel, maka Ho diterima, dan dapat dinyatakan bahwa terdapat pengaruh pembelajaran kooperatif metode make a match terhadap hasil belajar siswa.

D. Pembahasan Hasil Penelitian

Belajar berarti proses perubahan tingkah laku pada peserta didik akibat adanya interaksi antara individu dan lingkungannya melalui pengalaman dan latihan.1 Slameto mengatakan bahwa belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.2 Hasil belajar merupakan kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.3

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, kelas eksperimen dan kelas kontrol sebelum dilakukan perlakuan pada kedua kelas tersebut, maka peneliti mengambil data pretest untuk mengetahui kecocokan kelas tersebut untuk dijadikan sampel penelitian. Hasil pretest yang sudah didapat digunakan sebagai data untuk dihitung normalitasnya dan homogenitasnya, selanjutnya diujikan pada uji hipotesis pengambilan sampel.

Data tersebut berdistribusi normal, terbukti pada hasil uji prasyarat menyatakan bahwa hasil uji pretest Lhit< Ltabdengan Lhit kelas ekperimen 0,1509, Lhit kelas kontrol 0,1577 dengan Ltab 0,161 dan pada taraf signifikan 95%.

1

Iskandarwassid dan Dadang Sunendar, Strategi Pembelajaran Bahasa, (Bandung: Rosda, 2011), h. 5.

2

Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohamad, Belajar dengan Pendekatan Pailkem: Pembelajaran Aktif, Inovatif, Lingkungan, Kreatif, Efektif, Menarik, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), h. 139-140.

3

Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1989), h. 22.

56

Selain itu, data bersifat homogen karena Fhit< Ftab, terbukti berdasarkan hasil uji pretest bahwa pada Fhit1,05 sedangkan Ftab1,77 pada taraf signifikan 95%. Setelah berdistribusi normal dan homogen, dilanjutkan uji hipotesis pengambilan sampel dengan menggunakan Uji-T, pada taraf signifikan 95%.

Tabel 4.3 menunjukkan adanya perbedaan pencapaian hasil belajar pretest dan

posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol. Berdasarkan tabel di atas, persentase nilai posttest tertinggi pada kelas eksperimen ialah pada indikator dua, yakni sebesar 92,9%, sedangkan nilai posttest terendah pada kelas eksperimen ialah pada indikator empat, yakni sebesar 62,5%. Persentase nilai posttest tertinggi kelas kontrol ialah pada indikator enam, yakni sebesar 80,4%, sedangkan nilai posttest terendah kelas kontrol ialah pada indikator tujuh, yakni sebesar 50,1%.

Persentase nilai pretest tertinggi pada kelas eksperimen ialah pada indikator dua, yakni sebesar 78,6%, sedangkan nilai pretest terendah pada kelas eksperimen ialah pada indikator tiga, yakni sebesar 35,7%. Persentase nilai pretest tertinggi pada kelas kontrol ialah sebesar 64,3%, sedangkan nilai pretest terendah kelas kontrol ialah 39,3%.

Dalam penelitian ini, peneliti menghitung persentase nilai berdasarkan indikator pembelajaran. Tujuannya ialah untuk mengetahui persentase pencapaian siswa setiap indikatornya. Persentase nilai pretest tertinggi pada kelas eksperimen ialah pada indikator dua yang berisi pengertian habitat, yakni sebesar 78,6%, sedangkan nilai pretest terendah pada kelas eksperimen ialah pada indikator tiga yang

berbunyi siswa harus mampu menyebutkan macam-macam adaptasi, yakni sebesar 35,7%. Persentase nilai pretest tertinggi pada kelas kontrol ialah sebesar 64,3%, sedangkan nilai pretest terendah kelas kontrol ialah sebesar 39,3%.

Nilai posttest tertinggi pada kelas eksperimen ialah pada indikator dua yang berisi tentang menjelaskan pengertian habitat, yakni sebesar 92,9%, sedangkan nilai

posttest terendah pada kelas eksperimen ialah pada indikator tiga yang berisi tentang menyebutkan macam-macam adaptasi, yakni sebesar 60,7%. Persentase nilai posttest

57

tertinggi kelas kontrol ialah pada indikator enam, yakni sebesar 80,4%, sedangkan nilai posttest terendah kelas kontrol ialah pada indikator tujuh, yakni sebesar 50,1%.

Setelah mengetahui bahwa data hasil belajar kedua kelompok pada penelitian ini berdistribusi normal dan homogen, selanjutnya data dihitung menggunakan uji hipotesis menggunakan uji T. Dari hasil perhitungan pretest yang dilakukan, diperoleh nilai thit = 1,01 dan ttab = 1,706. Menunjukkan thit< ttab atau 1,01<1,706 dengan demikian bahwa Ho diterima danHa ditolak dapat disimpulkan kedua kelas tersebut tidak berbeda nyata. Dari kedua sampel yang sudah dihitung baik normalitas, homogenitas dan uji hipotesisi atau uji-T, bahwa sampel tersebut dapat digunakan sebagai sampel penelitian dan dapat diberi perlakuan, karena kedua sampel memiliki kemampuan yang sama dan mewakili populasi sampel.

Setelah dilakukan perlakuan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol, kelas eksperimen diberi perlakuan dengan model pembelajaran kooperatif tipe make a match sedangkan kelas kontrol diberi perlakuan dengan menggunakan pembelajaran konvensional. Kedua kelas diujikan dengan posttest, data posttest yang sudah ada dihitung normalitasnya dan homogenitasnya, barulah pada uji hipotesis.

Data posttest yang didapat pada kedua kelas baik kelas eksperimen dan kontrol berdistribusi normal, karena memenuhi Lhit< Ltab pada taraf signifikan 95%, setelah data tersebut bersifat normalitas dan homogenitas, maka data tersebut dapat dilanjutkan pada uji hipotesis dengan uji-T. Data postest yang diperoleh pada kedua kelas tersebut yaitu thit = 2,12 dan ttab = 1,706 menunjukkan bahwa thit> ttab atau 2,12 > 1,706. Dengan demikian Ho ditolak dan menerima Ha, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada kelas eksperimen dibanding kelas kontrol dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe make a match

terhadap hasil belajar IPA siswa pada materi adaptasi makhluk hidup.

Kelas eksperimen ialah kelas yang diberikan perlakuan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dan kelas kontrol ialah kelas yang diajarkan dengan menggunakan metode konvensional yang biasa guru lakukan dalam kegiatan pembelajaran. Setelah diberi

58

perlakuan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dilakukan tes keterampilan hasil belajar.

Pembelajaran dilakukan dalam lima pertemuan yaitu tiga pertemuan untuk melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dan dua pertemuan untuk melakukan pretest dan

posttest.

Pembelajaran kooperatif tipe make a matchyang telah dilakukan dapat dijadikan pengalaman belajar yang baru bagi siswa dengan tidak hanya datang, duduk, mencatat materi, dan mengerjakan soal saja, melainkan belajar dilakukan dengan permainan memasangkan kartu yang dimilikinya kemudian dipasangkan dengan kartu yang dimiliki oleh temannya yang lain. Permainan dalam pembelajaran seperti ini tentu saja tujuan awalnya ialah menyampaikan materi yang sedang diajarkan.

Dalam penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe make a match ini siswa juga dilatih untuk dapat menguasai materi secara cepat, berkomunikasi dan bekerjasama dengan baik, misalnya ketika masing-masing siswa mendapat kartu soal atau jawaban yang diberikan oleh guru, siswa akan mengingat-ingat materi yang dimaksud dalam kartu tersebut, sehingga ketika berkomunikasi dengan teman lainnya untuk mencari pasangan atas soal atau jawaban dari kartu yang dimilikinya akan lebih mudah dan cepat. Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe make a match

dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan semangat belajar dengan menerapkan model pembelajaran yang baru, siswa tidak merasa jenuh sehingga dapat memotivasi dan melibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran.

Model pembelajaran tipe make a match atau mencari pasangan ini dapat menjadi salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang dapat digunakan dalam mata pelajaran IPA materi adaptasi makhluk hidup.

Pada pembelajaran model kooperatif tipe make a match ini, peneliti menggunakan media kartu yang dibuat dari kertas karton. Kartu-kartu ini digunakan

59

untuk menuliskan soal dan jawaban terkait materi yang kemudianakan diberikan ke siswa saat kegiatan pembelajaran berlangsung.

Dalam pembelajaran tipe make a match menuntut keaktifan siswa. Keaktifan siswa tidak saja dalam menerima informasi tetapi juga dalam memproses informasi tersebut secara efektif, mulai mencari pasangan, berdiskusi, menyajikan, bertanya dan menjawab pertanyaan. Make a match biasanya digunakan untuk menjelaskan konsep yang memiliki bahasan yang banyak.

Secara umum dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe make a match memberikan peningkatan hasil belajar siswa. Selain itu, menjadikan siswa untuk dapat saling menghargai pendapat orang lain, bergotong royong dalam menyelesaikan masalah. Hal tersebut dapat terbentuk karena adanya kooperatif atau kerja sama antar siswa selama proses pembelajaran.

60

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe make a match terhadap hasil belajar siswa pada materi adaptasi makhluk hidup di kelas V MI Raudlatul Jannah, peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa model pembelajaran kooperatif memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar IPA siswa pada materi adaptasi makhluk hidup. Hal ini ditunjukkan oleh hasil perhitungan uji-T diperoleh nilai thitung > ttabel yaitu sebesar 2,12 > 1,706.

Jadi dapat dinyatakan bahwa hipotesis Ha diterima dan Ho ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe

make a match berpengaruh terhadap hasil belajar siswa pada materi adaptasi makhluk hidup kelas V MI Raudlatul Jannah.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh, saran yang dapat diajukan untuk penelitian selanjutnya adalah:

1. Sebelum melakukan kegiatan pembelajaran kooperatif tipe make a match, ada baiknya guru mempersiapkan dan mengelola waktu selama KBM berlangsung agar dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin.

2. Ciptakan suasana yang menyenangkan dengan menghindari suasana yang tidak membosankan.

3. Sebelum mengakhiri kegiatan pembelajaran, ada baiknya guru dan siswa melakukan evaluasi bersama tentang jalannya pembelajaran model kooperatif tipe make a match untuk perbaikan selanjutnya.

61

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu dan Joko Tri Prasetya. 2005. SBM Strategi Belajar Mengajar.

Bandung: Pustaka Setia.

Azmiyawati, Choiril, dkk, 2008. IPA Salingtemas untuk kelas V SD/MI. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Azmiyawati, Choiril, dkk. 2008. IPA Salingtemas untuk Kelas V SD/MI. Jakarta: Pusat Perbukuan. Departemen Pendidikan Nasional.

B. Uno, Hamzah dan Nurdin Mohamad. 2011. Belajar dengan Pendekatan Pailkem: Pembelajaran Aktif, Inovatif, Lingkungan, Kreatif, Efektif, Menarik. Jakarta: Bumi Aksara.

Darmadi, Hamid. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

E. Slavin, Robert. 2005. Cooperative Learning: Teori, Riset dan Praktik.

Bandung: Nusa Media.

Hadeli. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Ciputat: Quantum Teaching.

Iskandar. 2012. Psikologi Pendidikan: Sebuah Orientasi Baru. Jakarta: Referensi. Iskandarwassid dan Dadang Sunendar, 2011. Strategi Pembelajaran Bahasa.

Bandung: Rosda.

Lie, Anita. 2002. Cooperative Learning: Mempraktikkan Cooperative Learning Di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: PT Grasindo.

Masitoh dan Laksmi Dewi. 2009. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Dirjen Pendidikan Islam Depag RI.

Nofijanti, Lilik, dkk. 2008. Evaluasi Pembelajaran Edisi Pertama Paket 8-14. Bandung: LAPIS PGMI.

Nuraida dan Halid Alkaf. 2009. Metodologi Penelitian Pendidikan. Ciputat: Islamic Research Publishing.

Priyono, dkk. 2010. Ilmu Pengetahuan Alam 5. Jakarta: Pusat Perbukuan, Kementerian Pendidikan Nasional.

62

Rusman. 2012. Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru, Edisi Kedua. Jakarta: Grafindo.

Sanjaya, Wina. 2007. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.

SCP, Indriati, dkk. 2010. Ilmu Pengetahuan Alam 5. Jakarta: Pusat Perbukuan, Kementerian Pendidikan Nasional.

Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sukardi. 2011. Evaluasi Pendidikan: Prinsip dan Operasionalnya Edisi 1 Cetakan 5. Jakarta: Bumi Aksara.

Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi Paikem. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Syah, Muhibbin. 2010. Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Taniredja, Tukiran, dkk. 2011. Model-model Pembelajaran Inovatif. Bandung: Alfabeta.

Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana.

Triyanto. 2010. Model Pembelajaran Terpadu: Konsep, Strategi, Implementasinya dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Bumi Aksara.

W. Johnson, David, dkk. 2010. Colaborative Learning: Strategi Pembelajaran untuk Sukses Bersama. Diterjemahkan oleh Narulita Yusron dengan judul

The Ne Circle of Learning. Bandung: Nusa Media.

Wena, Made. 2011. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer: Suatu Tinjauan Konseptual Operasional. Jakarta: Bumi Aksara.

63

Dokumen terkait