• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM

4.2. Pengujian Sistem

Ketika sistem sudah selesai dibangun maka akan dilakukan pengujian sistem.

Pengujian sistem ini bertujuan untuk mengetahui apakah sistem berfungsi dengan baik.

4.2.1. Pengujian Tahap Pertama

Pengujian tahap pertama dilakukan dengan mengambil data sampel dari buku Alwi, et.al. (1998). Tujuan uji coba tahap pertama ini adalah untuk memeriksa kebenaran aturan-aturan sintaks struktur kalimat yang telah di definisikan pada penelitian ini.

Oleh karena itu, masukan yang digunakan sebagai sampel pada pengujian ta hap pertama ini adalah kalimat-kalimat yang strukturnya sudah di definisikan dalam aturan–aturan sintaks pada penelitian ini.

Ada 11 rancangan struktur kalimat yang digunakan. Pada pengujian pertama dilakukan pengujian untuk mencocokkan kalimat masukan de ngan rancangan struktur kalimat tersebut. Rancangan struktur kalimat dan kalimat masukan untuk pengujian pertama dapat kita lihat pada tabel 4.1.

Tabel 4.1. Rancangan Struktur Kalimat Pengujian Pertama

No Rancangan Struktur Kalimat Bahasa

Indonesia Kalimat

1.

Kalimat berpredikat verba transitif dengan subkategori “ekatransitif”

KALIMAT = S + P + O + (K)

Saya harus membeli hadiah untuk Lisa.

2.

Kalimat berpredikat verba transitif dengan subkategori “dwitransitif”

KALIMAT = S + P + (O) + PEL + (K)

Wawan mencarikan pekerjaan yang bagus untuk adik.

3.

Kalimat berpredikat verba transitif dengan subkategori “semitransitif”

KALIMAT = S + P + (O) + (K)

Aku berlari kencang.

4.

Kalimat berpredikat verba intransitif dengan subkategori “berpelengkap”

KALIMAT = S + P + PEL + (K)

Ibu sudah terbiasa berjalan cepat ke kantor.

5.

Kalimat berpredikat verba intransitif dengan subkategori “tberpelengkap”

KALIMAT = S + P + (K)

Luna ingin tidur.

6

Kalimat berpredikat verba intransitif dengan subkategori “pasif” KALIMAT

= S + P + (PEL) + (K)

Mobil itu sudah dibawa ke Jakarta.

7. Kalimat berpredikat numeralia KALIMAT = S + P + (K)

Tabungannya hanya sedikit.

8. Kalimat berpredikat nomina KALIMAT = S + P + O + (K)

Paman adalah seorang koki di Surabaya.

9.

Kalimat berpredikat adjektiva dengan subkategori “warna” KALIMAT = S + P + (K)

Buku itu hitam.

40

10.

Kalimat berpredikat adjektiva dengan subkategori “bandingan” KALIMAT = S + P + PEL + (K)

Saya lebih putih dari kamu.

11.

Kalimat berpredikat adjektiva dengan subkategori “biasa” KALIMAT = S + P + (PEL) + (K)

Gadis itu cantik.

Kalimat masukan telah di input ke dalam sistem dan mengeluarkan hasil yang sesuai dengan struktur kalimat yang dibuat. Hasil dari POS Tagging dan SPOK dapat dilihat pada tabel 4.2

Tabel 4.2 Hasil POS Tagging dan SPOK Kalimat

Masukan

Hasil Pos Tagging Hasil SPOK Bedasarkan Buku

kencang. [Aku/nnp, berlari/vbi, kencang/jj]

K:ke kantor K:ke kantor Gadis itu cantik. [Gadis/nn, itu/dt,

cantik/jj] (Modal), kata membeli dengan label VBT (Transitive Verb), kata hadiah dengan label NN (Common Noun), kata untuk dengan label IN (Preposition), kata Siti dengan label NN (Common Noun). Keterangan mengenai label secara lengkap dapat dilihat pada bab 2 tabel 2.1.

Selanjutnya proses pemeriksaan struktur kalimat menggunakan algortima LALR Parser menghasilkan Saya sebagai S (subjek), harus membeli sebagai P (predikat), hadiah sebagai O (objek) dan untuk Siti sebagai K (keterangan). Proses diatas

42

diterapkan pada kalimat masukan nomor 2 dan seterusnya. Proses pengujian secara detail dijelaskan pada pengujian tahap kedua.

4.2.2 Pengujian Tahap Kedua

Pengujian tahap kedua ini menggunakan kalimat-kalimat masukan yang berasal dari media cetak Kompas edisi Januari 2018. Hasil dari pengujian dapat kita lihat pada proses pengujian sistem berikut.

1) Proses input data

Masukkan Kalimat:

Saya ingin makan pizza.

2) Proses Cleaning Text yang bertujuan untuk menghapus tanda baca seperti titik (.) yang ditemukan pada data. Hasil Cleaning Text dapat dilihat dibawah sebagai berikut.

Hasil Cleaning Text:

Saya ingin makan pizza

3) Proses Tokenizing dilakukan untuk memisahkan kata per kata yang akan berguna saat proses Part-Of-Speech Tagging selanjutnya. Hasil Tokenizing :

saya Ingin makan pizza

4) Selanjutnya masuk ke proses Part-Of-Speech Tagging. Proses ini membutuhkan data korpus sebagai data yang akan ditraining. Korpus pada sistem ini menggunakan korpus dari penelitian Wicaksono dan Purwarianti. Hasil dari proses Part-Of-Speech Tagging dari data masukan diatas dapat dilihat dibawah sebagai berikut.

Hasil Part-Of-Speech Tagging:

[Saya/prp, ingin/vbt, makan/vbt, pizza/nn]

5) Setelah melakukan proses Part-Of-Speech Tagging selanjutnya masuk ke pemeriksaan struktur kalimat dengan menggunakan algoritma LALR Parser. Untuk itu diperlukan action table, goto table, dan aturan produksi. Action table merupakan aksi yang akan diberikan terhadap kata yang akan diperiksa sedangkan goto table merupakan proses yang akan menentukan pola setiap kata. Berikut merupakan tabel aturan produksi yang dapat dilihat pada tabel 4.3.

Tabel 4.3 Aturan Produksi

K -> SPOK S P O Pel K

R1 R2 R3 R4 R5

Tabel aturan produksi merupakan aturan yang digunakan dalam proses pemeriksaan struktur kalimat Bahasa Indonesia. Bilamana subjek (S) merupakan R1 (Reduce 1), predikat (P) merupakan R2 (Reduce 2), objek (O) merupakan R3 (Reduce 3), Pelengkap (Pel) merupakan R4 (Reduce 4), dan keterangan (K) merupakan R5 (Reduce 5). Untuk proses action table dan goto table dapat dilihat pada tabel 4.4.

Tabel 4.4. Action Table dan Goto Table

state

44

5 6 7

8 R3

9

10 R2 R2

Berikut merupakan penjelasan dari tabel 4.4. dengan kalimat inputan “saya ingin makan pizza”.

1. Pada state 0, kata yang dibaca adalah “saya” yang jika diperiksa label katanya merupakan “personal pronouns” (prp). Kemudian aksi yang dilakukan adalah S2 (shift 2) yaitu letakkan “prp” dan “2” ke stack. Isi stack yaitu 0 dan prp 2.

Kemudian pindah ke state 2.

2. Pada state 2, aksi yang dilakukan adalah R1 (Reduce 1) yaitu mengambil isi stack dan mereduksinya dengan aturan R1, S => saya. Kemudian pindah ke state 1.

3. Pada state 1, kata yang dibaca adalah “ingin” yang merupakan ” transitive verb”

(vbt) aksi yang dilakukan adalah S10 (shift 10) yaitu letakkan “vbt” dan “10” ke stack. Isi stack yaitu 0,1, vbt 10. Kemudian pindah ke state 10.

4. Pada state 10, aksi yang dilakukan adalah R2 (Reduce 2) yaitu mengambil isi stack dan mereduksinya dengan aturan R2, P=>ingin. Kemuian pindah ke state 3.

5. Pada state 3, kata yang dibaca adalah “makan” yang marupakan “transitive verb ” (vbt). Aksi yang dilakukan adalah S10 (shift 10) yaitu letakkan “vbt” dan “10”

pada stack. Isi stak 0,1,3, vbt 10. Kemudian pindah ke state 10.

6. Pada state 10, aksi yang dilakukan adalah R2 (Reduce 2) yaitu mengambil isi stack dan mereduksinya dengan aturan R2, P=>makan. Kemudian pindah ke state 3.

Jadi, diperoleh P => Ingin makan.

7. Pada state 3, kata yang dibaca adalah “pizza” yang merupakan “common noun”

(nn). Aksi yang dilakukan adalah S8 (shift 8) yaitu letakkan “nn” dan “8” ke stack.

Isi stack yaitu 0,1,3, nn 8. Kemudian pindah ke state 8.

8. Pada state 8, aksi yang dilakukan adalah R3 (Reduce 3) yaitu mengambil isi stack dan mereduksinya dengan aturan R3, O => pizza. Kemudian pindah ke state 4.

9. Pada state 4, kolom $ menunjukkan accept berarti kalimat diterima tata bahasa, dan menghasilkan informasi bahwa kalimat memp unyai struktur SPO.

Melalui proses pemeriksaan struktur kalimat, diperoleh hasil persentasi untuk pengujian sistem penguraian kalimat tunggal menggunakan Part-Of-Speech Tagging dan LALR Parser dari 150 kalimat tunggal dapat dilihat pada Tabel 4.5.

Tabel 4.5 Hasil Pengujian Sistem

Dapat Diuraikan Tidak Dapat Diuraikan Struktur Salah

Utama 45 4 1

Olahraga 40 7 3

Gaya Hidup 45 4 1

Jumlah 130 15 5

Persentase 86.7 % 10% 3.3%

Dengan melakukan pengujian terhadap kalimat tunggal yang diperoleh dari media cetak Kompas dengan jumlah total 150 kalimat. Diperoleh 130 kalimat dengan nilai persentasi 86.7 % yang berhasil diuraikan. 15 kalimat dengan nilai persentasi 10%

tidak dapat diuraikan karena ada kata yang tidak dapat dikenali. Dan 5 kalimat dengan persentasi 3.3% tidak dapat di uraikan karena struktur salah.

Pada pengujian ini masih banyak kata yang tidak kenali oleh sistem karena tidak terdapat pada korpus yang digunakan. Oleh karena itu diperlukan pengembangan korpus untuk Bahasa Indonesia.

BAB 5

Dokumen terkait