A. Metode pembentukannya:
3. PENGUJIAN SISTEM
Pengujian sub sistem dan keseluruhan sistem Scoring
Machine dilakukan untuk menguji apakah sub sistem dan ke
seluruhan sistem berjalan dengan baik. Pengujian push button dan
power supply dilakukan dengan menggunakan multimeter.
Pengujian IC Regulator dilakukan dengan memberikan tegangan sebesar 9 Volt padamasukan, menggunakan resistor variabel dengan berbagai besar tahanan dan diukur multimeter (20V DC) pada keluaran untuk melihat besar tegangan yang keluar. Pengujian
mikrokontroler dilakukan dengan menggunakan program sederhana. Pengujian mikrokontroler juga digunakan untuk menguji kabel konektor serial danMAX 232. Hasil pengujian dapat dilihat pada hyperterminal. Pengujian keseluruhan sistem dilakukan dengan menjalankan seluruh sub sistem dan hasil pengujian dapat dilihat pada kerja dari perangkat keras dan perangkat lunak (Microsoft Visual Basic 6.0) sistem perwasitan.
2. Surakarta
Kota Surakarta juga disebut Solo atau Sala adalah wilayah otonom dengan status kota di bawah Provinsi Jawa Tengah, Indonesia, dengan penduduk 503.421 jiwa (2010) dan kepadatan 13.636/km2.
Kota dengan luas 44 km2, ini berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali di sebelah utara, Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah timur dan barat, dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah selatan. Sisi timur kota ini dilewati sungai yang terabadikan dalam salah satu lagu keroncong, Bengawan Solo. Bersama dengan Yogyakarta, Surakarta merupakan pewaris Kesultanan Mataram yang dipecah melalui Perjanjian Giyanti, pada tahun 1755.
Salah satu sensus paling awal yang dilakukan di wilayah Karesidenan Surakarta (Residentie Soerakarta) pada tahun 1885 mencatat terdapat 1.053.985 penduduk, termasuk 2.694 orang Eropa dan 7.543 orang Tionghoa. Wilayah seluas 5.677 km² tersebut memiliki kepadatan 186 penduduk/km².Ibukota karesidenan tersebut sendiri pada tahun 1880 memiliki 124.041 penduduk.
Jumlah penduduk kota Surakarta pada tahun 2010 adalah 503.421 jiwa, terdiri dari 270.721 laki-laki dan 281.821 wanita, yang tersebar di lima kecamatan yang meliputi 51 kelurahan dengan daerah seluas 44,1 km2. Perbandingan kelaminnya 96,06% yang berarti setiap 100 orang wanita terdapat 96 orang laki-laki. Angka ketergantungan penduduknya
sebesar 66%. Catatan dari tahun 1880 memberikan cacah penduduk 124.041 jiwa. Pertumbuhan penduduk dalam kurung 10 tahun terakhir berkisar 0,565 % per tahun. Tingkat kepadatan penduduk di Surakarta adalah 11.370 jiwa/km2, yang merupakan kepadatan tertinggi di Jawa Tengah (kepadatan Jawa Tengah hanya 992 jiwa/km2).
Jika dibandingkan dengan kota lain di Indonesia, kota Surakarta merupakan kota terpadat di Jawa Tengah dan ke-8 terpadat di Indonesia, dengan luas wilayah ke-13 terkecil, dan populasi terbanyak ke-22 dari 93 kota otonom dan 5 kota administratif di Indonesia.
Berhubungan dengan penududuk, Kota Surakarta memiliki sejarah olahraga yang cukup lama. Tahun 1923 di Surakarta telah terbentuk klub sepak bola, salah satu klub yang pertama di Indonesia yang kala itu masih bernama Hindia Belanda, yang bernama Persis Solo. Persis Solo adalah raksasa sepak bola di Hindia Belanda yang masih eksis hingga saat ini, Persis pernah menjuarai kompetisi Perserikatan sebanyak 7 kali dan saat ini bermain di Divisi Utama Liga Indonesia. Selain Persis Solo, tercatat beberapa klub sepak bola lain pernah hadir di Surakarta, antara lain Arseto Solo, Pelita Solo, Persijatim Solo FC, dan terakhir adalah kontestan Liga Primer Indonesia, Solo FC yang baru terbentuk pada tahun 2010. Kedua tim sepak bola yang masih eksis saat ini, yaitu Persis Solo dan Solo FC, bermarkas di Stadion Manahan, sebuah stadion tipe Stadion Madya Olimpiade kategori B+ dan salah satu stadion terbaik di Jawa Tengah yang pernah beberapa kali menjadi tempat penyelenggaraan even olahraga
tingkat nasional dan internasional. Di stadion yang memiliki kapasitas 25.000 penonton ini antara lain pernah menjadi tempat pertandingan Liga
Champions AFC 2007 karena Persik tidak punya stadion kandang
memadai, final Piala Indonesia 2010, pembukaan Liga Primer Indonesia musim pertama pada 15 Januari 2011, dan menjadi penyelenggara ASEAN
Paragames 2011. Jika awalnya Manahan merupakan tanah lapang tempat
olahraga memanah, stadion ini beberapa kali berubah fungsinya, mulai dari tempat balapan kuda (dengan kandang-kandang kuda di kampung Kestalan dan Setabelan, serta di kompleks keraton), hingga saat ini difungsikan sebagai lapangan sepak bola dan ketika malam hari dan hari Minggu berubah menjadi kawasan sosial bagi warga kota Surakarta. Kebudayaan serta olahraga memanah dan pacuan kuda sendiri saat ini sudah sangat jarang ditemukan di kota Surakarta.
Pada tahun 1948, Surakarta juga dipercaya untuk menyelenggarakan kejuaraan pertama, yang tanggal pembukaannya masih diperingati sebagai Hari Olahraga Nasional. Pada kejuaraan itu, Surakarta yang berlaga mewakili Karesidenan Surakarta berhasil merebut gelar juara umum.
Sedangkan hingga tahun 2009, Surakarta juga memiliki satu-satunya klub basket profesional di Jawa Tengah, yaitu Bhinneka Solo. Beberapa gelanggang olahraga di kota Surakarta antara lain Stadion Manahan dan Stadion Sriwedari untuk olahraga sepak bola dan GOR Bhinneka, yang kini berganti nama menjadi Stadion Sritex.
Dengan berbagai fasilitas olahraga yang ada di kotanya, Surakarta merupakan salah satu kota dengan perhatian terhadap bidang olahraga yang cukup tinggi. Tidak hanya sepak bola, berkuda, bulu tangkis, maupun basket, salah satu cabang olahraga bela diri dari Korea yaitu Taekwondo pun banyak diminati oleh masyarakat Surakarta pada khususnya. Seperti salah satu organisasi masyarakat yang ada di Solo, organisasi ini bernama Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS). PMS adalah organisasi sosial kemasyarakatan yang berdiri sejak 1932 dimana kegiatan utamanya adalah kegiatan sosial dan kegiatan lain yang dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Saat ini selain sosial kemasyarakatan, ada kegiatan di bidang seni, budaya, olah raga dan kepemudaan.
Dalam bidang olahraga, PMS sendiri telah sukses mendirikan sebuah pusat pelatihan bela diri Taekwondo yang diberi nama PMS Dragon Taekwondo. Dojang atau sebutan untuk tempat berlatih bela diri Taekwondo ini beralamat di jalan Ir. Juanda, Surakarta, Jawa Tengah. Tidak hanya mempelajari teknik dalam permainan Taekwondo, Dibawah pimpinan Master Tanu Kismanto, PMS Dragon juga sukses mengangkat nama Taekwondo dengan membentuk sebuah tim demonstrasi Taekwondo yang menyuguhkan seni bela diri Taekwondo melalui gerakan-gerakan yang lebih atraktif, dengan diselingi musik-musik yang mengiringi para pemainnya mempresentasikan gerakan Taekwondo kepada masyarakat yang dikemas secara lebih menarik.
Selain PMS Dragon Taekwondo, kota Solo juga memiliki pusat pelatihan bela diri Taekwondo yang terletak di daerah pusat olahraga Kota Solo ini yaitu Dojang Koguryo Manahan. Dojang Koguryo Manahan berdiri pada tahun 1997 didirikan oleh pelatih Taekwondo Solo Sabeum Pungky Kusuma Wardana dan Sabeum Bimo Hernowo. Sebelumnya kedua pelatih tersebut bergabung dalam berlatih pada Club Bengawan
Sport Center (BSC) kemudian pindah lokasi Golden Sport Center (1993),
Jebres, serta SMKI (1995) , dan seterusnya dojang SOLO TIMUR (1996) yang dilatih oleh Sabeum Try Prasetyo.
Pertengahan tahun 1996 Dojang Koguryo membuka tempat latihan di Kratonan serta di Panularan. Hingga akhirnya kolaborasi dengan Dojang SMA N 4 Surakarta, mendirikan Dojang Koguryo Manahan pada tahun 1997, yang berlokasi di Gedung serba guna Kelurahan Mahanan. Sekarang ini Dojang Koguryo mempunyai dua tempat latihan utama yaitu di Gedung serba guna Kelurahan manahan dan Stadion Manahan serta beberapa unit latihan yg tersebar di sekolah-sekolah.
Di awal berdiri sampai saat ini, banyak memberikan kontribusi Atlet bagi Tim Jawa Tengah dan Surakarta baik di event kejuaran daerah maupun nasional, peran serta Dojang Koguryo antara lain :
Membangun Tae Kwon do surakarta pada masa-masa sulit Tae kwon do di Solo (1996-1997).
Ikut terlibat dalam mengembalikan mental dan semangat warga solo dengan program bela diri paska kerusuhan mei 1998 (1998-1999).
Konsep Goresan Emas dan Kaki Emas, dimana Dojang koguryo memikirkan bagaimana Tae Kwon Doin koguryo mampu berprestasi Fomal/sekolah dan olah raga serta mengutamakan sisi peran sosial untuk bisa memajukan dunia olah raga (1997-sekarang)
Banyak mengirimkan atlet-atlet Tae Kwon Do berprestasi tingkat lokal dan nasional (1997-sekarang)
Pelatih Koguryo Sabum Nim Pungki Kusuma W. menjadi Ketua Tae Kwon Do Cabang Surakarta saat ini.
Menghasilkan pelatih-pelatih profesional yang tersebar di berbagai Dojang.
Ikut beperan aktif dalam proyek pembibitan atlet- atlet Tae Kwon Do Solo,
Dojang Koguryo selain sebagai Club Beladiri juga mendidik Taekwondoin dalam pengembangan diri / Self Development sehingga dapat menciptakan insan beladiri yang cakap baik secara mental, spiritual, emotional dan berprestasi disegala hal dan pada akhirnya akan membawa insan Indonesia yang tangguh, disiplin, berjiwa besar, mencintai dan bangga dengan Negara dan Bangsa Indonesia.
Metode Pelatihan di Dojang Koguryo diberikan sesuai dengan Minat dan Bakat Peserta, dimana nantinya akan di tempatkan pada class yang sesuai dengan kemampuan Peserta. Dojang Koguryo membuka beberapa Class yakni Seni / Poomse, Pertarungan / Kyorugi, dan juga masing - masing Class dibekali dengan Beladiri Praktis. Class dibuka untuk semua lapisan umur dari anak - anak sampai dewasa serta dikelompokkan Sendiri sesuai Umur masing - masing Peserta.
C. Tinjauan Khusus