METODE PENELITIAN
4.3. Metode Pengumpulan Data
4.4.3. Adaptasi dan Ujicoba Alat Ukur
4.4.3.1. Pengujian Subjective Happiness Scale Reliabilitas Reliabilitas
Uji reliabilitas dilakukan dengan metode single trial reliability, yaitu
coefficient alpha. Uji reliabilitas ini dipilih karena konstruk subjective happiness
merupakan konstruk unidimensional sehingga item- item di dalam Subjective
happiness scale merupakan item- item yang sifatnya homogen, di mana item- item
tersebut mengukur suatu konstruk yang sama. Dengan demikian, diharapkan item-item yang ada di dalam alat ukur ini dapat benar-benar secara konsisten mengukur suatu konstruk yang sama. Metode single trial reliability dianggap tepat karena
Universitas Indonesia
dapat melihat konsistensi antar item dalam mengukur konstruk. Alat ukur dikatakan reliabel apabila memiliki konsistensi internal yang tinggi. Teknik
coefficient alpha dipilih karena respon jawaban pada alat ukur berupa respon
jawaban politomi.
Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan SPSS 17.0 didapatkan nilai koefisien Cronbach Alpha untuk Subjective happiness scale sebesar 0.640. Hal ini berarti 64 % varians merupakan varians true score dan 36 % varians merupakan varians error. Menurut (Aiken dan Groth-Marnat, 2006), nilai minimum reliabilitas adalah sebesar 0,6 yang berarti, nilai di atas 0,6 merupakan nilai reliabilitas yang baik. Dengan demikian, Subjective happiness scale merupakan alat ukur yang reliabel.
Analisis Item
Untuk typical performance test, analisis item dapat dilakukan dengan melihat daya beda item secara kuantitatif. Item yang baik adalah item yang dapat membedakan individu dengan atribut yang tinggi dengan individu dengan atribut yang rendah. Pengujian dilakukan dengan metode corrected item-total
correlation, di mana dilakukan korelasi antara item dengan skor total alat ukur
tanpa memasukkan skor item yang diperiksa. Menurut Kaplan dan Saccuzzo (2005) item dikatakan memiliki daya beda yang baik bila koefisien korelasi skor item dan skor total memiliki nilai 0,3 atau lebih. Item yang memiliki koefisien
corrected item-total correlation kurang dari 0,3 adalah item yang perlu
dieliminasi atau direvisi karena item tersebut tidak dapat membedakan individu dengan atribut yang tinggi dengan individu dengan atribut yang rendah dalam hal konstruk yang hendak diukur. Berikut merupakan hasil perhitungan corrected
item-total correlation dengan menggunakan SPSS 17.0:
Tabel 4.1. Analisis Diskriminasi Item Subjective happiness scale
Subjective happiness
scale (α = 0.640)
Corrected Item- Total Correlation
Alpha Coef. If Item Deleted
Item No. 1 0.601 0.481
Item No. 2 0.554 0.490
Item No. 3 0.459 0.547
Universitas Indonesia
Dari tabel di atas, terlihat bahwa 3 item pada alat ukur ini telah memenuhi persyaratan item yang baik, dimana seluruh item memperoleh koefisien corrected
item-total correlation lebih dari 0,3. Untuk item 4 perlu dilakukan revisi, karena
memperoleh koefisien corrected item-total correlation kurang dari 0,3.
Validitas
Uji validitas yang dilakukan adalah uji validitas menggunakan kriteria eksternal. Pada penelitian ini alat ukur BDI dan IKAD digunakan sebagai kriteria eksternal untuk uji validitas. IKAD adalah inventori yang mengukur karakteristik aktualisasi diri, sedangkan BDI mengukur gangguan depresi. Kedua alat ukur ini dipilih karena aktualisasi diri dan depresi berkaitan secara teoritis dengan konstruk subjective happiness. Sebuah konstruk dikatakan valid apabila hasil yang didapatkan dari alat ukur tertentu berkorelasi dengan variabel lain yang secara teoritis berkorelasi dengan konstruk tersebut (Anastasi dan Urbina, 1997). Secara teoritis, konstruk subjective happiness berhubungan dengan teori hirarki kebutuhan dari Maslow (Izawa, 2004). Individu akan merasa lebih bahagia terhadap hidupnya bila kebutuhan-kebutuhannya terpenuhi (Izawa, 2004). Inventori Karakteristik Aktualisasi Diri ingin melihat karakteristik aktualisasi diri dari individu. Berdasarkan pemikiran tersebut, seseorang yang memiliki karakteristik aktualisasi diri merupakan individu yang dapat memenuhi kebutuhan aktualisasi dirinya. Selain itu, ketika seseorang telah memiliki karakteristik aktualisasi diri, berarti kebutuhan-kebutuhan yang lebih rendah dari aktualisasi diri pun lebih terpenuhi, sehingga dapat dikatakan bahwa seseorang yang memiliki karakteristik aktualisasi diri memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi.
Lebih lanjut, gangguan depresi merupakan kelainan mengenai perasaan dasar (mood). Penilaian subjective happiness dipengaruhi oleh mood sesuai dengan mekanisme subjective well-being, sehingga terdapat hubungan secara teoritis antara subjective happiness dengan gangguan depresi. Hal ini berarti, semakin tinggi tingkat subjective happiness seharusnya diikuti dengan semakin rendahnya tingkat depresi.
Universitas Indonesia Tabel 4.2. Korelasi Subjective happiness scale dengan BDI dan IKAD
Alat Ukur Beck Depression Inventory Inventori Karakteristik Aktualisasi Diri Subjective happiness scale r = -0.318 Sig = 0.002 r2 = 0.10 r = 0.310 Sig = 0.003 r2 = 0.09
Dari tabel 4.2 terlihat bahwa koefisien korelasi antara skor Subjective
happiness scale dengan skor BDI adalah -0,318 dengan signifikansi sebesar
0,002. Hal ini berarti bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara Subjective
happiness scale dengan skor BDI (pada los 0.05). Dengan kata lain, semakin
tinggi tingkat subjective happiness diikuti dengan semakin rendahnya tingkat depresi.
Selanjutnya, didapatkan koefisien korelasi antara skor Subjective
happiness scale dengan skor IKAD sebesar 0.310 dengan signifikansi sebesar
0.003. Hal ini berarti terdapat korelasi yang signifikan antara subjective happiness dengan karakteristik aktualisasi diri (pada los 0.05). Dengan kata lain, semakin tinggi tingkat subjective happiness diikuti dengan semakin tingginya karakteristik aktualisasi diri. Hasil kedua korelasi tersebut menunjukkan bahwa Subjective
happiness scale dapat secara tepat mengukur konstruk Subjective Happiness.
Norma
Alat ukur Subjective happiness scale memiliki respon jawaban yang merupakan pilihan berupa skala interval dengan kontinum dari unfavorable sampai dengan favorable, yaitu dari Sangat Tidak Bahagia sampai dengan Sangat Bahagia. Menurut Edwards (1957) pada respon jawaban interval, terdapat sebuah kontinum, di mana kontinum tersebut mengarah pada dua kutub. Dengan salah satu kutub didefinisikan sebagai unfavorable dan kutub lainnya didefinisikan sebagai favorable, serta nilai tengah yang didefinisikan sebagai netral. Pada skala dengan pilihan jawaban berupa skala equal-appearing interval ini, skor yang didapatkan oleh individu memiliki arti interpretasi absolut dengan dasar nilai kontinum pada respon jawaban dalam alat ukur itu sendiri. Interpretasi dari alat tes dengan equal-appearing interval dapat dibuat secara independen tanpa melihat distribusi skor dari sebuah kelompok tertentu (Edwards, 1957). Dengan demikian,
Universitas Indonesia
norma yang dipilih sebagai dasar interpretasi alat ukur pun diambil dari kontinum yang terkandung dari respon jawaban. Hal ini dilakukan karena Subjective
happiness scale merupakan alat ukur dengan subjektivitas yang nyata. Dengan
demikian, membandingkan skor individu dengan performa kelompok dianggap kurang pantas untuk dilakukan sebagai dasar interpretasi karena arti kebahagiaan yang berbeda pada masing- masing individu.
Pembuatan norma dapat dilakukan dengan cara melihat skor total dari individu dan membandingkannya pada kontinum respon jawaban. Kontinum respon jawaban pada Subjective happiness scale terentang dari: (1) Sangat Tidak Bahagia (2) Tidak Bahagia (3) Agak Tidak Bahagia (4) Agak Bahagia (5) Bahagia (6) Sangat Bahagia. Dengan demikian, rentang kontinum norma ya ng diperoleh dapat dilihat pada table di bawah ini:
Tabel 4.3. Norma Subjective happiness scale Skor Total Subjective happiness scale Inte rpretasi
1 s/d 2 Sangat Tidak Bahagia
2.1 s/d 3 Tidak Bahagia
3.1 s/d 4 Netral
4.1 s/d 5 Bahagia
5.1 s/d 6 Sangat Bahagia