KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN
6.3.2. Saran Metodologis
Saran untuk penelitian selanjutnya adalah:
1. Untuk penelitian selanjutnya sebaiknya sebelum meneliti melakukan elisitasi terlebih dahulu tentang kebahagiaan dan kualitas hidup pada sasaran subjek penelitian.
2. Kebahagiaan dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan alat ukur yang melihat kebahagiaan secara global. Hal ini mungkin saja kurang dapat memberikan gambaran kebahagiaan yang lebih lengkap karena tidak melihat kebahagiaan dari komponen-komponennya, sehingga untuk penelitian selanjutnya akan lebih baik bila juga melakukan pengukuran pada komponen-komponen kebahagiaan. Hal ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang komponen mana yang lebih mempengaruhi kebahagiaan pada dewasa muda bekerja dan tidak bekerja.
3. Mengadministrasikan alat ukur SEIQOL-DW dengan melakukan wawancara langsung sehingga memperoleh hasil kualitas hidup yang benar-benar merepresentasikan subjek penelitian.
4. Melakukan perhitungan terhadap alat ukur SEIQoL-DW dengan memperhatikan variasi aspek-aspek kehidupan dan kesenjangan antara kenyataan dengan harapan.
5. Tidak hanya meneliti status pekerjaan tetapi juga melakukan pengukuran terhadap variabel kepuasan kerja, mengingat kuatnya hubungan antara kepuasan kerja dengan kebahagiaan. Dengan melibatkan variabel
Universitas Indonesia
kepuasan kerja diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang pengaruh pekerjaan terhadap kebahagiaan dan kualitas hidup. 6. Melakukan penelitian serupa dengan melibatkan faktor lamanya individu
tidak memiliki pekerjaan, karena hal tersebut mungkin dapat mempengaruhi pemaknaan individu terhadap kebahagiaan dan kualitas hidupnya.
7. Memperbanyak jumlah subjek khususnya pada kelompok dewasa muda yang tidak bekerja.
8. Melakukan penelitian sejenis pada kelas sosial yang lain
9. Melakukan penelitian sejenis dengan memfokuskan pada jenis-jenis pekerjaan tertentu, misalnya pegawai negeri, pegawai swasta, wiraswasta, atau profesional.
Universitas Indonesia DAFTAR REFERENSI
Afrinita, Z. (1997). Persepsi Terhadap Fungsi Sahabat dalam Menghadapi Stress
Kerja (Studi pada Dewasa Muda yang Bekerja). Skripsi. Depok: Fakultas
Psikologi Universitas Indonesia.
Aiken, L.R., dan Groth Marnat, G. (2006). Psychological Testing and Assessment
(12th ed). USA: Pearson Education Group, Inc.
Anastasi, A. dan Urbina, S. (1997). Psychological Testing (7th ed). New Jersey: Prentice Hall.
Argyle, M. Causes and Correlates of Happiness. Edited by Kahneman, D. Diener, E. Schwarz, N. (1999). Well- Being: The Foundations of Hedonic Psychology. New York: Russell Sage Foundation.
Atwater, E. (1983). Psychology of Adjusment: Personal Growth in a Changing
World 2nd ed. New Jersey: Prentice Hall, Inc.
Atwater, E., dan Duffy, K.G. (2004). Psychology For Living: Adjustment,
Growth, and Behavior Today (8th ed). New Jersey: Pearson Education, Inc.
Berlim, M.T., Mattevi, B.S., dan Fleck, M.D. (2003). Depression and Quality of
Life Among Depressed Brazilian Outpatients. Diunduh pada 23 Mei 2009
dari http://psychservices.psychiatryonline.org/cgi/content/full/54/2/254. Böckerman, P. dan Ilmakunnas, P. (2005). Elusive effects of unemployment on
happiness. Discussion Paper No. 47. Diunduh pada 4 Maret 2009 dari
http://www.springerlink.com/content/n6nn762m3w108232/fulltext.pdf Bohnke, P. (2005). First European Quality of Life Survey: Life Satisfaction,
Happiness, and Sense of Belonging. Ireland: European Foundation for the
Improvement of Living and Working Conditions. Diunduh pada 24
Februari 2009 dari www.eurofound.eu.int
Browne, John P., et al. (1997). Development of A Direct Weighting Procedure for
Quality of Life Domains. Quality of Life Research, 6, . 301-309.
http://www.springerlink.com/content/n5l5080x78l1gx81/fulltext.pdf Carr, A. (2004). Positive Psychology The Science of Happiness and Human
Universitas Indonesia
Carr, Alison, J., & Higginson, Irene, J. (2001). Measuring Quality of Life: Are
Quality of Life Measures Patient Centred?. , 322, p. 1357-1360. Diunduh
dari bmj.com, pada 6 Februari 2009.
Craig, G. (1986). Human Development (4th ed). Englewood Cliff: Prentice Hall. Dianasari, F. (1996). Sumber-sumber Stress pada Sarjana Penganggur di
Perkotaan. Skripsi. Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Diener, E. & Lucas, R.E. Personality and Subjective Well Being. Edited by Kahneman, D. Diener, E. Schwarz, N. (1999). Well- Being: The Foundations of Hedonic Psychology. New York: Russell Sage Foundation.
Diener, E., Scollon, C.N., dan Lucas, R.E. (2003). The evolving concept of
subjective well-being: the multifaceted nature of happiness. Advances in
Cell Aging and Gerontology, vol. 15, 187–219
Dockery, M.A. (2004). Happiness, life satisfaction and the role of work: Evidence
from two Australian surveys diunduh pada 4 Maret 2009 dari
http://business.curtin.edu.au/files/Dockery_happiness.pdf
Dowling, M. (2005). Homeostatis and Well Being. diunduh pada 24 Februari 2009 dari http://www.economics.smu.edu.sg
Eddington, N. dan Shuman, R. (2005). Subjective Well Being (Happiness) http://www.texcpe.com/cpe/PDF/ca- happiness.pdf.
Filep, S. (2004). Linking Tourist Satisfaction to Happiness and Quality of Life. http://www.besteducationnetwork.org/ttviii/pdf/Filep.pdf
Furnham, A.F. (1988). Unemployment. Edited by Veldhoven, G.M., dan Warneryd, K.E. Handbook of Economic Psychology. Netherland: Kluwer Academic Publisher.
Genda, Y. (2007). Jobless Youths and the NEET problem in Japan. Tokyo: Institute of Social Science University of Tokyo. Social Science Japan Journal Vol. 10, No. 1, pp 23–40 2007
Gravetter, F. J., dan Wallnau, L.B. (2007). Statistics for The Behavioral Science
(7th ed). Canada: Thompson Wadsworth.
Guven, C., Sorensen, B.E. (2007). Subjective Well-Being: Keeping up with the
Joneses. Real or Perceived? Incomplete and Preliminary Draf. diunduh
Universitas Indonesia
Guilford, J.P., dan Frutcher, B. (1981). Fundamental Statistic in Psychology and
Education. Tokyo: McGraw Hill.
Harinowo, S. (2008). Kebangkitan Kelas Menengah Indonesia. Ekonomi. Diunduh pada 13 Februari 2009 dari http://blog-suwardi.blogspot.com/2008/10/kebangkitan-kelas- menengah- indonesia.html Healy, Charles C. 1982. Career Development : Counseling through The Life
Stages. Massachusetts : Allyn and Bacon, Inc
Hickey, Anne M., et al. (1996). A New Short Form Individual Quality of Life
Measure (SEIQoL): Application in A Cohort of Individuals with HIV/AIDS.BMY, 313, p.29-33. Hodson, C. (2001). Psychology and Work.
New York: Routledge Taylor & Francis Group
Hultman, B., Hemlin, S., & Hornquist, J.O. (2006). Quality of life among
unemployed and employed people in northern Sweden. Are there any
differences?. Diunduh pada 4 Maret 2009 dari
http://iospress.metapress.com/content/f93wwmardv0ace8d/
Hurlock, E.B. (1990). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentang Kehidupan edisi kelima. (Istiwidyanti & Sudjarwo, Penerjemah).
Jakarta: Penerbit Erlangga
Izawa, N. (2004). An Exploration of Subjective Well Being: A Review of
Empirical Factors and Paths for The Future. University of Hartford.
Kaplan, R.M., dan Saccuzzo, D.P. (2005). Psychology Testing: Principles,
Applications, and Issues (7th ed). USA: Thomson Wadsworth.
Kumar, R. (1999). Research Methododlogy: A Step-By-Step Guide For Beginners. London: Sage Publication Ltd.
Kerlinger, Fred N., & Lee, Howard B. (2000). Fondation of Behavioral Research
(4th ed.). USA: Harcourt, inc.
Lemme, B.H. (1995). Development in Adulthood. USA: Allyn & Bacon
Lyubomirsky, S & Leppe, H.S. (1997). Measures of Subjective Happiness:
Preliminary Reliability and Construct Validation. Social Indicators
Research 46:1337-155. Diunduh dari
Universitas Indonesia
Lyubomirsky, S & Sousa, L. (2001). Life Satisfaction. In J. Worell (Ed.),Encylopedia of women and gender: Sex similarities and differences
and the impact of society on gender (Vol. 2, pp. 667-676). . Diego, CA:
Academic Press. diunduh pada 3 Maret 2009 dari http://www.faculty.ucr.edu/~so nja/papers/SL2001.pdf.
Neimeyer, R.A. (2000). Lessons of Loss: Guide to Coping. Australia: Australian Centre of Grief and Bereavement.
O’Connor, R. (1993). Issues in The Measurement of Health Related Quality of
Life. Centre for Health Program Evaluation: Working Paper 30 July 1993.
http://www.rodoconnorassoc.com/issues_in_the_measurement_of_qua.htm Ouweneel, P. (2002). Social Security and Well Being of The Unemployed in 42
Nations. Journal of Happiness Studies 3: 167–192.diunduh pada 3 Maret
2009 dari http://www.springerlink.com/content/njk36tk234425k47/
Papalia, D.E., Olds, S.W., dan Feldman, R.D. (2007). Human Development (10th
ed). New York: McGraw-Hill
Pavot, W et al. (2006). The Quality of Life (QOL) Research Movement: Past,
Present, and Future. Social Indicators Research 76:343–466.
http://www.springerlink.com/content/82782838127h5np0/
Power, Mick. (2003). EUROHIS: Developing a Common Instrument for Health
Survey. Anatoly Nosikov dan Claire Gudex. Development of A Common Instrument for Quality of Life (p. 145-159). IOS Press: Amsterdam.
Diunduh pada 26 Februari 2009 dari
http://www.euro.who.int/document/WA9502003EU.pdf#page=149
Shields, M. (2006). Stress and Depression in the Employed Population. Health Reports, Vol.17, No.4. www diunduh http://www.statcan.gc.ca/ads-annonces/82-003-x/pdf/4194128-eng.pdf
Shinta, E. (1995). Perilaku Coping dan Dukungan Sosial yang Dirasakan Pemuda
Penganggur Studi pada Pemuda Penganggur di Perkotaan. Skripsi. Depok:
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Smith, R. (1985). "Bitterness, shame, emptiness, waste": an introduction to
unemployment and health. British Medical Journal Volume 291.
Universitas Indonesia
Smolak, L. (1993). Adult Development. New Jersey: Prentice Hall, Inc. Totman, R. (1990). Mind, Stress, and Health. London: Souvenir Press, Ltd.
Turner, J.S., & Helms, D.B. (1995). Life Span Development 5th ed. USA: Holt, Rienhart, & Winston, Inc.
Ventegodt, S., Merrick, J., dan Andersen, N.J. (2003). Quality of Life Theory III
Masliw Revisited. The Scientific World Journal 3, 1050–1057 ISSN
1537-744X; DOI 10.1100/tsw.2003.84
Veenhoven, R. (2001). Quality of Life and Happiness. 'Salute e qualità dell vida,
pp 67-95 diunduh pada 19 Mei 2009 dari
www2.eur.nl/fsw/research/veenhoven/Pub2000s/2001e-full.pdf -
Wardhani, Vini. (2006). Gambaran Kualitas Hidup Dewasa Muda Berstatus
Lajang melalui Adaptasi Instrumen WHOQOL-BREF dan SRPB. Tugas
Akhir S2. Pascasarjana Fakultas Psikologi UI.
Warr, P. (1999). Well Being and The WorkPlace. Edited by Kahneman, D. Diener, E. Schwarz, N. (1999). Well- Being: The Foundations of Hedonic Psychology. New York: Russell Sage Foundation.
Zuriah, Nurul. 2006. Metode Penelitian Sosial dan Pendidikan, Teori-Aplikasi. Jakarta : PT Bumi aksara
www.swaberita.com/2008/12/23/news/sembilan-propinsi-paling-
berat-hadapi-krisis-phk.html - 30k. diunduh tanggal 29 januari 2009
www.endonesia.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=5&artid=24 43 - 54k -. diunduh tanggal 29 januari 2009
www.sirusa.bps.go.id diunduh tanggal 25 April 2009
www.antara.co.id/arc/2007/11/4/dki-targetkan-kurangi-angka-kemiskinan-dua-persen-per-tahun/ diunduh pada 15 Februari 2009.
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia Lampiran A. Alat Ukur
Lampran A.1. Subjective Happiness Scale
INSTRUKSI PENGISIAN: Pada setiap pernyataan dan/atau pertanyaan,
lingkarilah angka yang Anda rasa paling sesuai dalam menggambarkan diri Anda. Contoh:
1. Dibandingkan dengan teman-teman saya, saya menganggap diri saya sebagai orang yang:
1 2 3 4 5 6
kurang lebih
beruntung beruntung
Bila Anda melingkari angka yang lebih mendekati angka 1 menunjukkan bahwa Anda menganggap diri Anda sebagai orang yang kurang beruntung dibandingkan teman-teman Anda. Sedangkan, bila Anda melingkari angka yang lebih mendekati angka 6 menunjukkan bahwa Anda me– nganggap diri Anda sebagai orang yang lebih beruntung dibandingkan teman-teman Anda.
Bila Anda ingin mengganti jawaban, coretlah jawaban sebelumnya dan berikanlah lingkaran pada jawaban yang sesuai dengan keadaan Anda.
Contoh:
1. Dibandingkan dengan teman-teman saya, saya menganggap diri saya sebagai orang yang: 1 2 3 4 5 6 kurang lebih beruntung beruntung