• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengujian Toleransi Salinitas Padi pada Stadia Bibit di Ru-

Percobaan ini dilakukan dengan menanam bibit padi yang telah berumur dua minggu pada bak plastik dengan ukuran 35 cm x 30 cm x 10 cm dan berisi tanah 5 kg kering angin per bak yang telah diberi 4 liter larutan garam berkonsentrasi 4000 ppm. Tinggi genangan pada bak plastik tetap dipertahankan setiap hari. Tanah yang digunakan dalam percobaan ini berasal dari kebun percobaan Sawah Baru yang belum pernah dipupuk. Pengamatan dilakukan setelah tanaman berumur enam minggu dimana perbedaan antara varietas peka dan toleran sudah jelas terlihat secara visual, bahkan tanaman peka sudah mati (Sulaiman, 1980).

Pengamatan

Pengamatan pada Stadia Perkecambahan di Laboratorium :

Pengamatan yang dilakukan pada percobaan pendahuluan adalah banyaknya tanaman mati dan panjang tanaman. Pengamatan yang dilakukan pada percobaan pengujian toleransi padi pada empat metode yang berpotensi adalah :

1. Panjang Akar (PA)

Panjang akar merupakan panjang dari ujung akar sampai pangkal akar dengan satuan centimeter.

2. Panjang Tajuk (PT)

Panjang tajuk diukur mulai dari pangkal tajuk sampai ujung tajuk dengan satuan centimeter.

3. Panjang Bibit (PB)

Panjang bibit diperoleh dari penjumlahan panjang tajuk dengan panjang akar dengan satuan centimeter.

4. Berat Kering Bibit (BKB)

Merupakan penjumlahan dari berat kering tajuk dan berat kering akar yang telah dioven pada suhu 600C selama 3x24 jam dengan satuan miligram.

Merupakan berat kering akar tanaman padi yang telah dioven pada suhu 600C selama 3x24 jam dengan satuan miligram.

6. Berat Kering Tajuk (BKT)

Merupakan kering tajuk tanaman padi yang telah dioven pada suhu 600C selama 3x24 jam dengan satuan miligram.

7. Jumlah Tanaman Mati (JTM)

Merupakan jumlah tanaman yang mati pada akhir pengamatan.

Analisis data yang digunakan pada percobaan ini adalah menggunakan Model Rancangan Kelompok Lengkap Teracak untuk melihat pengaruh masing faktor tunggal serta interaksinya terhadap masing- masing peubah yang diamati. Kriteria pemilihan metode yang digunakan berdasarkan hasil analisis statistik dan dilanjutkan dengan selisih nilai rataan antara varietas toleran dan peka terhadap salinitas dengan memperhitungkan efisiensi dari segi ekonomi maupun kemudahan dalam aplikasinya.

Pengamatan pada Stadia Bibit di Rumah kaca :

1. Panjang Tanaman (Ptan)

Merupakan penjumlahan panjang tajuk dengan panjang akar dari tanaman padi dengan satuan centimeter.

2. Gejala Salinitas (Jumlah Tanaman Mati dan Jumlah Daun yang Rusak) Gejala yang ditimbulkan akibat pengaruh cekaman garam pada tanaman

padi diantaranya adalah 1) berkurangnya kecepatan perkecambahan; 2)

berkurangnya tinggi tanaman dan jumlah anakan; 3) pertumbuhan akar jelek; 4) sterilitas biji meningkat; 5) kurangnya bobot 1000 gabah dan kandungan protein total dalam biji karena penyerapan Na yang berlebihan; dan 6) berkurangnya penambatan N2secara biologi dan lambatnya mineralisasi tanah. Selain itu,secara morfologi daun akan menjadi kuning (klorosis) dan tepi daun mati atau mengering (terbakar).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengujian Toleransi Salinitas di Laboratorium

Pengujian Toleransi Padi pada Berbagai Media Tanam dan Konsentrasi Garam

Hasil pengamatan secara visual pada pengujian pendahuluan menunjukkan bahwa dari 26 metode yang diujikan terdapat 4 metode yang dapat memperlihatkan perbedaan antara varietas yang toleran dengan varietas yang peka terhadap salinitas. Metode-metode yang dapat memperlihatkan perbedaan antara varietas yang toleran dan varietas yang peka salinitas adalah metode menggunakan humus daun bambu dengan konsentrasi NaCl 4000 ppm, metode menggunakan cocopit dengan konsentrasi NaCl 6000 ppm, metode menggunakan pasir dengan konsentrasi NaCl 4000 ppm, dan metode menggunakan tanah dengan konsentrasi NaCl 8000 ppm.

Var. Toleran Var. Peka Var. Peka Var. Toleran

Var. Toleran Var. Peka Var. Peka Var.Toleran

Keterangan : M1 = Humus daun bambu dengan 4000 ppm NaCl; M2 = Cocopit dengan 6000 ppm NaCl; M3 = Pasir dengan 4000 ppm NaCl; M4 = Tanah 8000 dengan ppm NaCl

Gambar 1. Hasil Pengujian Pendahuluan pada Berbagai Media Tanam dan Konsentrasi Garam

M1 M2

Perbedaan antara varietas toleran dan peka terhadap salinitas pada masing-masing metode berbeda-beda. Pada media humus daun bambu dengan 4000 ppm NaCl (M1) varietas toleran terlihat lebih tinggi dibandingkan varietas peka. Pada media cocopit dengan 6000 ppm NaCl (M2) perbedaannya terlihat pada jumlah tanaman, dimana varietas yang peka lebih banyak mati dibandingkan varietas yang toleran. Metode-metode yang telah diuji dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Metode pada Pengujian Pendahuluan dan Respon Genotipe Toleran dan Peka terhadap Salinitas

No Metode Hasil

1 Arang Sekam + 2 gram NaCl/1 L air (2000 ppm)

-2 Arang Sekam + 3 gram NaCl/1 L air (3000 ppm)

-3 Arang Sekam + 4 gram NaCl/1 L air (4000 ppm)

-4 Humus Daun Bambu + 2 gram NaCl/1 L air (2000 ppm)

-5 Humus Daun Bambu + 4 gram NaCl/1 L air (4000 ppm) √(M1)

6 Zeolit + 1 gram NaCl/1 L air (1000 ppm)

-7 Zeolit + 2 gram NaCl/1 L air (2000 ppm)

-8 Zeolit + 3 gram NaCl/1 L air (3000 ppm)

-9 Zeolit + 4 gram NaCl/1 L air (4000 ppm)

-10 Zeolit + 5 gram NaCl/1 L air (5000 ppm)

-11 Cocopit+ 2 gram NaCl/1 L air (2000 ppm)

-12 Cocopit+ 4 gram NaCl/1 L air (4000 ppm) √(M2)

13 Cocopit+ 6 gram NaCl/1 L air (6000 ppm)

-14 Serbuk Gergaji+ 2 gram NaCl/1 L air (2000 ppm)

-15 Serbuk Gergaji+ 4 gram NaCl/1 L air (4000 ppm)

-16 Serbuk Gergaji+ 6 gram NaCl/1 L air (6000 ppm)

-17 Kompos+ 2 gram NaCl/1 L air (2000 ppm)

-18 Kompos+ 4 gram NaCl/1 L air (4000 ppm)

-19 Kompos+ 6 gram NaCl/1 L air (6000 ppm)

-20 Kompos+ 8 gram NaCl/1 L air (8000 ppm)

-21 Pasir+ 2 gram NaCl/1 L air (2000 ppm)

-22 Pasir+ 4 gram NaCl/1 L air (4000 ppm) √(M3)

23 Tanah+ 2 gram NaCl/1 L air (2000 ppm)

-24 Tanah+ 4 gram NaCl/1 L air (4000 ppm)

-25 Tanah+ 6 gram NaCl/1 L air (6000 ppm)

-26 Tanah+ 8 gram NaCl/1 L air (8000 ppm) √(M4)

Keterangan :√= dapat membedakan genotipe toleran dan peka terhadap salinitas, - = tidak dapat membedakan genotipe toleran dan peka terhadap salinitas

Tinggi tanaman dan ujung daun yang mengeriting merupakan perbedaan antara varietas toleran dan peka pada media pasir dengan 4000 ppm NaCl (M3), sedangkan pada media tanah dengan 8000 ppm NaCl (M4) perbedaan antara varietas toleran dan peka terlihat pada tinggi tanaman, dimana varietas peka lebih rendah dibandingkan varietas toleran dan jumlah tanaman yang mati pada varietas peka lebih banyak dibandingkan varietas toleran. Perbedaan konsentrasi garam yang digunakan dalam penelitian ini disebabkan karena perbedaan respon varietas toleran dan peka dalam menghadapi cekaman salinitas pada media tumbuh yang berbeda. Pada awal percobaan, semua media tumbuh diberikan konsentrasi garam dengan kisaran yang sama yaitu 0 ppm sampai 4000 ppm. Beberapa media pada konsentrasi garam 4000 ppm, belum terlihat perbedaan antara varietas toleran dan peka, sehingga dilakukan penambahan konsentrasi garam sampai pada 8000 ppm.

Pada media arang sekam dan serbuk gergaji, bibit yang dihasilkan berwarna putih kekuningan. Hal ini diduga pada media arang sekam mengandung unsur silikat dan kalium tinggi yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Selain itu, ketika akan digunakan sebagai media perkecambahan, serbuk gergaji tidak disterilkan terlebih dahulu sehingga diduga banyak terdapat mikroorganisme maupun zat-zat beracun bagi tanaman. Pada media zeolit, dihasilkan bibit yang tinggi dan abnormal (berwarna kuning). Benih yang ditanam pada media kompos terlihat banyak yang mati pada varietas toleran maupun peka.

Pengujian Toleransi Salinitas Varietas Toleran dan Varietas Peka Padi pada Empat Metode yang Berpotensi

Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa faktor tunggal metode berpengaruh sangat nyata pada peubah panjang akar, panjang tajuk, panjang bibit, serta berat kering akar, dan berpengaruh nyata pada jumlah tanaman mati sedangkan untuk berat kering tajuk dan berat kering bibit menunjukkan pengaruh yang tidak nyata (Tabel 3). Faktor tunggal grup varietas hanya berpengaruh nyata pada peubah panjang tajuk, sedangkan untuk peubah lainnya menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata. Interaksi antara kedua faktor tunggal menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata pada semua peubah pengamatan.

Tabel 3. Rekapitulasi Sidik Ragam Pengaruh Varietas Padi (2 varietas) dan Metode (4 metode) terhadap Masing-masing Peubah yang Diamati Sumber db KT (F) PA PT PB BKA BKT BKB JTM U 2 0.1379938 6.49 2.28 0.0000347 0.10069238 0.158 14.12 (1.1tn) (2.71tn) (0.43tn) (1.09tn) (1.74tn) (2.29tn) (2.02tn) M 3 4.691 84.19 189.65 0.00067 0.101049 0.141 25.971 (37.55**) (35.12**) (35.5**) (21.17**) (1.75tn) (2.05tn) (3.72*) V 1 0.00445 10.72 11.02 0.00001504 0.026339 0.0001 12.127 (0.04tn) (4.47*) (2.06tn) (0.47tn) (0.46tn) (0tn) (1.74tn) MxV 3 0.13526 2.69 3.86 0.0238 0.0238 0.000032 17.967 (1.08tn) (1.12tn) (0.72tn) (0.82tn) (0.41tn) (0tn) (2.57tn) Galat 14 0.12492 2.39 5.34 0.00032 0.057877 0.069 6.983

Keterangan : U = Ulangan, M = Metode, V = Varietas, MxV = Interaksi antara Metode dan Varietas, PA = Panjang Akar, PT = Panjang Tajuk, PB = Panjang Bibit, BKA = Berat Kering Akar, BKT = Berat Kering Tajuk, BKB = Berat Kering Bibit, JTM = Jumlah Tanaman Mati, nilai dalam ( ) adalah nilai Fhitung 0.05 I 0.01, ** = berbeda nyata pada taraf 1%, * = berbeda nyata pada taraf 5%

Hasil Uji Lanjut dari Tabel 3 dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4 menunjukkan bahwa peubah jumlah tanaman mati pada M4 berbeda nyata dengan M1, M2 dan M3. Pada peubah berat kering akar terlihat bahwa M1 tidak berbeda nyata dengan M2 dan M4, sedangkan M2 berbeda nyata dengan M3 dan M4, meskipun demikian M4 memiliki selisih nilai terbesar antara varietas toleran dan peka dibandingkan M1 dan M2 yaitu 6.81 mg.

Pada peubah panjang akar terlihat bahwa M3 berbeda nyata dengan M1, M2, dan M4. M1 tidak berbeda nyata dengan M2 dan M4, namun M4 memiliki selisih nilai terbesar antara varietas toleran dan peka dibandingkan M1 dan M2 yaitu 0.34 cm. Pada peubah panjang tajuk, keempat metode menunjukkan hasil yang berbeda nyata dan M4 memiliki selisih nilai terbesar antara varietas toleran dan peka dibandingkan ketiga metode yang lainnya yaitu 1.06 cm. Faktor tunggal grup varietas menunjukkan hasil yang berbeda nyata hanya pada peubah panjang tajuk. Diduga pada peubah lainnya belum dapat membedakan grup varietas toleran dan grup varietas peka pada metode yang digunakan. Pada peubah panjang bibit M4 menunjukkan hasil yang berbeda nyata dibandingkan ketiga metode lainnya.

Tabel 4. Pengaruh Metode Uji terhadap Semua Peubah yang Diamati pada Rataan Masing-masing Kelompok Varietas

Metode

(M) Varietas Toleran Varietas Peka Rataan

M

T1 T2 T3 Rataan P1 P2 P3 Rataan

Jumlah Tanaman Mati

M1 11.33 2.67 2 5.33 3.67 5.33 4.33 4.44 4.89a

M2 9.33 2.33 3.33 5 4.67 5.33 4.33 4.78 4.89a

M3 7.67 7 2 5.56 7.33 18 2.33 9.22 7.39a

M4 6.33 6 5.33 5.89 12.7 10.3 11 11.33 8.61b

Berat Kering Akar

M1 4.63 36.13 7.7 16.1 12.5 11 23.67 15.17 15.635bc M2 19.4 38.37 6.27 21.3 23.2 26.7 23.73 24.5 22.9b M3 43.4 33.37 29.5 35.4 27.9 20.2 51.2 33.1 34.25a

M4 17.6 17.63 3.5 12.9 9.03 4.1 5.13 6.09 9.5c

Berat Kering Tajuk

M1 61.13 134.03 72.7 89.3 34.1 100 130.7 88.3

-M2 54.9 103.97 24.5 61.1 41.4 59.3 85.47 62

-M3 123 275.13 117 172 122 209 169.2 167

-M4 32.9 42.53 28.3 34.57 6.6 27.7 34.6 23

-Berat Kering Bibit

M1 65.8 170.2 80.4 105.4 46.57 111.07 154.4 104 -M2 74.3 142.3 30.8 82.4 64.54 85.97 109.2 87 -M3 166 308.5 146 207.4 150.1 228.9 220.4 200 -M4 50.5 60.16 31.8 47.78 15.63 31.77 39.73 29 -Panjang Akar M1 5.99 2.96 3.81 4.26 3.83 3.47 4.69 4 4.13b M2 1.89 3.72 6 3.87 2.82 3.23 5.23 3.8 3.81b M3 5.84 8.45 4.58 6.29 6.6 11.03 4.81 7.5 6.89a M4 0.94 3.88 1.18 2 2.56 0.41 2.02 1.7 1.83b Panjang Tajuka) M1 8.62 11.48 14.5 11.54 11.34 9.81 13.31 11 11.52a M2 6.43 9.75 7.44 7.87 6.84 5.88 9.88 7.5 7.7b M3 11 11.38 10.9 11.1 9.52 10.15 11.62 10 10.77c M4 4.51 6.36 4.27 5.05 3.59 3.28 3.1 4 4.52d

Rataan Varietas 8.89a 8.4b

Panjang Bibit

M1 14.6 14.43 18.3 15.79 15.18 13.28 18 15 15.64ab M2 8.31 13.47 13.5 11.74 9.67 9.11 15.11 11 11.52b M3 16.8 19.83 15.5 17.39 14.12 19.17 16.43 18 17.65a

Keterangan : MI = media humus daun bambu (4000 ppm), M2 = media cocopit (6000ppm),M3 = media pasir (4000 ppm), M4 = media tanah (8000 ppm), angka-angka pada kolom dan baris yang sama yang diikuti huruf sama menunjukkan perlakuan yang tidak berbeda nyata menurut Uji DMRT pada taraf 5%, a) = grup varietas toleran dan grup varietas peka

Secara umum peubah jumlah tanaman mati pada rataan varietas peka memiliki nilai yang lebih besar dibanding varietas toleran namun pada M1 (humus daun bambu dengan konsentrasi garam 4000 ppm) dan M2 (cocopit dengan konsentrasi garam 6000 ppm) terlihat bahwa kelompok varietas yang toleran memiliki nilai rataan yang lebih besar dibandingkan dengan kelompok varietas yang peka. Hal ini diduga karena penurunan daya berkecambah (DB) benih dari varietas Pokkali (varietas toleran) dan media yang terlalu lembab sehingga benih dan tanaman mengalami kematian. Metode M4 memiliki selisih nilai perbedaan terbesar antara varietas peka dan toleran dibanding metode lainnya yaitu untuk varietas peka sebesar 11.33 sedangkan varietas toleran sebesar 5.89 (Tabel 4). Selisih rataan yang besar pada M4 ini memperlihatkan perbedaan antara varietas peka dan toleran salinitas, dimana varietas peka tidak mampu mengatasi cekaman salinitas yang diberikan seperti pada varietas toleran. Suwarno dan Solahuddin (1983) menyatakan bahwa penyerapan air oleh benih menurun dengan meningkatnya tekanan osmosis pada larutan tanah akibat

pemberian garam. Menurut Hayward dan Wadleigh dalam Suwarno (1983),

kerusakan tanaman padi pada fase perkecambahan mencakup dua mekanisme yaitu : (1) tekanan osmotik media yang tinggi sehingga benih sulit menyerap air, dan (2) pengaruh racun dari ion-ion yang menyusun garam itu sendiri.

Berbeda dengan peubah jumlah tanaman mati, secara umum peubah berat kering akar, berat kering tajuk, berat kering bibit, panjang akar, panjang tajuk dan panjang bibit pada varietas yang toleran memiliki nilai rataan yang lebih besar dibandingkan dengan varietas yang peka. Hal ini sesuai dengan penelitian Yahya dan Adib (1992) yang menyatakan bahwa peningkatan taraf salinitas pada media secara nyata akan menekan pertumbuhan vegetatif pada tanaman seperti tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, bobot kering tajuk dan akar, luas daun, bobot kering daun, dan jumlah akar primer serta menyebabkan terjadinya abnormalitas pada daun seperti perubahan warna daun dan nekrosis terutama pada ujung daun. Sunarto (2001) menambahkan penyiraman dengan larutan garam 0.2% sangat menurunkan semua variable minimal 15%, bahkan untuk variabel

bobot kering akar dan tajuk kedelai sampai 50%. Penurunan pertumbuhan vegetatif pada varietas peka ini disebabkan akibat bekurangnya air yang tersedia dan peningkatan daya racun NaCl. Ion-ion Na+ dan Cl- akan tertimbun dalam jaringan tanaman dalam jumlah besar sehingga meracuni tanaman.

Pada peubah berat kering akar, rataan genotipe toleran dan peka pada metode M4 memiliki rataan yang paling kecil dibandingkan metode lainnya, yaitu 12.9 mg pada varietas toleran dan 6.09 mg pada varietas peka (Tabel 4). Hal ini diduga pada M4 cekaman salinitas yang diberikan berdampak lebih besar pada kedua varietas tersebut. Metode M4 memperlihatkan perbedaan antara varietas toleran dan peka pada berat kering akar, dimana selisih rataannya lebih besar antara kedua kelompok varietas tersebut dibandingkan metode lainnya yaitu sebesar 6.81 mg (Tabel 5). Begitu juga pada bobot kering tajuk dan bibit, terlihat selisih rataan yang lebih besar antara kelompok varietas toleran dan peka pada metode tanah dengan 8000 ppm NaCl dibanding metode lainnya yaitu 11.57 mg pada peubah bobot kering tajuk dan 18.38 mg pada peubah bobot kering bibit (Tabel 5).

Tabel 5. Selisih antara Varietas Toleran dan Peka pada Masing-masing Peubah yang Diamati di Laboratorium

Keterangan : PA = Panjang Akar, PT = Panjang Tajuk, PB = Panjang Bibit, BKA = Berat Kering Akar, BKB = Berat Kering Bibit, BKT = Berat Kering Tajuk,

JTM = Jumlah Tanaman Mati, MI = media humus daun bambu (4000 ppm), M2 = media cocopit (6000 ppm), M3 = media pasir (4000 ppm), M4 = media tanah (8000 ppm).

Metode M4 juga memperlihatkan perbedaan selisih yang lebih besar antara varietas toleran dan peka pada peubah panjang tajuk, panjang akar dan

Peubah yang Diamati M1 M2 M3 M4 PA (cm) 0.26 0.11 -1.2 0.34 PT (cm) 0.05 0.34 0.67 1.06 PB (cm) 0.31 0.45 -0.53 1.4 BKA (mg) 0.4 -3.2 2.3 6.81 BKT (mg) 1 -0.9 5 11.57 BKB (mg) 1.4 -4.17 7.3 18.38 JTM 0.89 0.22 -3.66 -5.44

panjang bibit. Dibandingkan dengan peubah panjang tajuk dan panjang bibit, perbedaan panjang akar varietas toleran dan peka pada M4 lebih kecil nilainya yaitu 0.34 mg (Tabel 5). Perbedaan yang kecil ini diduga karena M4 mempunyai struktur media yang lebih rapat dan padat dibandingkan metode lainnya. Menurut Yahya dan Adib (1992), kondisi fisik media akan mempengaruhi pertumbuhan akar pada tanaman karena sifak fisik ini berkenaan dengan ketersediaan air dan kelancaran sirkulasi udara dalam media yang dibutuhkan dalam proses pembentukan akar.

Metode M4 lebih dapat memperlihatkan perbedaan antara varietas yang toleran dan peka terhadap salinitas diduga karena media tanah mempunyai struktur kerapatan dan kepadatan yang cukup tinggi dibandingkan dengan media lainnya. Struktur fisik yang seperti ini akan menyebabkan larutan garam yang berada didalam media tanah dapat diikat oleh tanah sehingga varietas yang toleran dan peka lebih dapat memperlihatkan kemampuannya dalam menghadapi cekaman garam.

Secara visual, perbedaan antara varietas toleran dan peka salinitas juga terlihat. Benih varietas yang peka terlihat lebih banyak yang mati dibandingkan benih yang toleran. Selain itu, tinggi tanaman varietas yang peka juga lebih rendah dibanding genotipe yang toleran (Gambar 2).

Media tanam merupakan media yang digunakan untuk menumbuhkan tanaman/bahan tanaman, tempat akar atau bakal akar akan tumbuh dan berkembang. Disamping itu media tanam juga digunakan tanaman sebagai tempat berpegangnya akar, agar tajuk tanaman dapat tegak kokoh berdiri di atas media tersebut dan sebagai sarana untuk menghidupi tanaman. Tanaman mendapatkan makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangannya dengan cara menyerap unsur-unsur hara yang terkandung dalam media tanam. Menurut Soepardi (1983), media merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman sebagai tempat tumbuh, media perakaran dan sumber unsure hara. Karakteristik media tanam sebagai tempat tumbuh yang terpenting

menurut Acquaah dalam Susilawati (2007) adalah mempunyai kemampuan

memegang air yang baik, mempunyai aerasi dan drainase yang baik, mempunyia pH yang sesuai dengan jenis tanaman dan mengandung unsure hara untuk

mendukung tanaman. Media tanam yang digunakan harus disesuaikan dengan jenis tanaman yang akan ditanam. Setiap komoditas tanaman mempunyai kesesuaian media tumbuh yang berbeda. Bahkan dalam satu komoditas yang sama, terkadang setiap fase pertumbuhan juga mempunyai kesesuaian terhadap media tanam yang berbeda pula.

Media humus daun bambu sebagai media pertama (M1) merupakan media yang mudah lapuk dan lembab sehingga dapat memacu pertumbuhan cendawan maupun penyakit. Pada media humus, banyak diperoleh akar-akar bibit padi yang busuk. Media humus daun bambu juga memiliki tingkat porositas yang rendah sehingga akar tanaman tidak mampu menyerap air dengan kuat. Pada media cocopit (M2), sebelum digunakan dioven terlebih dahulu dengan tujuan sterilisasi (membunuh cendawan-cendawan yang ada dalam media). Pada saat digunakan untuk penelitian, diduga media terlalu lembab sehingga menyebabkan akar tanaman banyak yang menjadi busuk dan beberapa benih juga terlihat ditumbuhi cendawan. Pada saat digunakan sebagai media perkecambahan padi, secara visual bibit terlihat berwarna kuning. Hal ini diduga cocopit mengandung zat tanin yang diketahui sebagai zat yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Cocopit dapat menyimpan air yang banyak, sehingga apabila digunakan sebagai media tanam harus dicampur dengan media lain agar kelebihan air tersebut dapat dibuang.

Berbeda dengan M1 dan M2, media pasir (M3) sangat sedikit menyerap air (kemampuan memegang airnya sangat kecil, sehingga akan berpengaruh pada frekuensi pemberian air). Pori-pori yang berukuran besar (pori-pori makro) pada pasir menyebabkan pasir menjadi mudah basah dan cepat kering oleh proses penguapan. Kohesi dan konsistensi (ketahanan terhadap proses pemisahan) pasir sangat kecil sehingga mudah terkikis oleh air, dan apabila digunakan sebagai media perkecambahan benih padi diduga akan membutuhkan pasir dalam jumlah yang banyak. Hal inilah yang menyebabkan pasir jarang digunakan sebagai media tanam secara tunggal. Pasir biasa dicampur dengan media tanam yang lain pada penggunaannya, karena sifat pasir yang tidak dapat mengikat air.

Dibandingkan dengan metode yang lain, metode dengan menggunakan tanah (M4) diduga akan lebih mudah digunakan sebagai media perkecambahan

padi dan dapat menggambarkan kondisi yang mirip dengan kondisi salinitas di lapang. Media cocopit, pasir, dan humus lebih cocok digunakan sebagai campuran media tanah karena media-media tersebut mempunyai kelemahan masing-masing, sehingga dalam penggunaanya perlu dicampur dengan media tanam yang laian agar kelemahan-kelemahan tersebut dapat dikurangi. Menurut penelitian-penelitian tentang media tanam, media cocopit, humus daun bambu maupun pasir banyak digunakan sebagai media tanam untuk tanaman hias. Jika dilihat dari segi ekonomi, media tanah diduga lebih mudah diperoleh dengan biaya yang cukup murah dibandingkan media yang lain.

Korelasi antara Peubah Rumah Kaca dan Laboratorium

Korelasi menunjukkan keeratan hubungan peubah (Gomez dan Gomez, 1995). Teknik korelasi merupakan teknik analisis yang melihat kecenderungan pola dalam satu variabel berdasarkan kecenderungan pola dalam variabel yang lain. Hal ini berarti ketika satu variabel memiliki kecenderungan untuk naik maka kita akan melihat kecenderungan dalam variabel yang lain apakah juga naik atau turun atau tidak menentu. Jika kecenderungan dalam satu variabel selalu diikuti oleh kecenderungan dalam variabel lain, dapat dikatakan bahwa kedua variabel ini memiliki hubungan atau korelasi. Penelitian ini menggunakan peubah persentase daun mati dari pengujian di rumah kaca sebagai peubah pembanding karena peubah ini secara nyata dapat membedakan varietas toleran dan peka terhadap salinitas dan sudah biasa digunakan pada proses seleksi tanaman padi terhadap salinitas, sedangkan dari pengujian di laboratorium digunakan peubah jumlah tanaman mati. Tabel 6 menunjukkan bahwa peubah panjang bibit, panjang akar, berat kering akar, berat kering tajuk dan berat kering bibit dari pengujian laboratorium tidak berkorelasi dengan persentase daun mati dari pengujian rumah kaca, seharusnya peubah-peubah ini mempunyai korelasi negatif dengan persentase daun mati dari pengujian di rumah kaca, dimana semakin banyak persentase daun mati di rumah kaca, peubah-peubah tersebut akan semakin kecil. Peubah jumlah tanaman mati di laboratorium mempunyai korelasi positif dan sangat nyata dengan peubah persentase daun mati di rumah kaca dengan nilai koefisien korelasinya sebesar 0.43394. Peubah panjang tajuk dari pengujian di

laboratorium berkorelasi negatif dan nyata dengan peubah persentase daun mati dari pengujian di rumah kaca dengan nilai koefisien korelasinya sebesar 0.28473.

Keterangan : A = Varietas yang Toleran; B = Varietas yang Peka; C = Varietas yang Toleran; D = Varietas yang Peka

Gambar 2. Pertumbuhan Genotipe Toleran dan Peka pada Media Tanah dengan Konsentrasi NaCl 8000 ppm dibandingkan dengan Kontrol;

Peubah di laboratorium tersebut mempunyai hubungan yang erat dengan peubah di rumah kaca. Diduga semakin banyak tanaman yang mati dan semakin rendah tinggi tanaman pada pengujian di laboratorium akan menunjukkan semakin banyak persentase daun matinya pada pengujian rumah kaca.

Tabel 6. Rekapitulasi Korelasi antara Peubah Pengujian di Laboratorium dengan Peubah di Rumah Kaca

Peubah di Laboratorium Peubah di Rumah kaca

PDM Ptan JTM 0.43394** -0.21251tn PA -0.00645tn 0.00768tn PT -0.28473* 0.32929* PB 0.00432tn -0.13257tn BKA 0.0675tn 0.0098tn BKT 0.00357tn 0.00765tn BKB -0.0098tn 0.0458tn A B C D

Keterangan : PDM = Persentase Daun Mati, PTan = Panjang Tanaman, JTM = Jumlah Tanaman Mati, PA = Panjang Akar, PT = Panjang Tajuk, PB = Panjang Bibit, BKA = Berat Kering Akar, BKT = Berat Kering Tajuk, BKB = Berat Kering Bibit, ** = berbeda nyata pada taraf 1%, tn = tidak nyata

Korelasi antara peubah dari kedua pengujian ini menunjukkan bahwa ada hubungan keeratan hubungan antara peubah-peubah tersebut, dimana peubah yang ada di laboratorium secara tidak langsung dapat menggambarkan keadaan peubah yang ada pada pengujian rumah kaca.

Simulasi Seleksi Padi Toleran Salinitas

Seleksi merupakan cara cepat untuk mendapatkan genotipe yang mempunyai adaptasi terhadap lingkungan ekstrim seperti salinitas (Hermiati, 2001). Hasanah (2006) menambahkan bahwa seleksi berkaitan erat dengan

Dokumen terkait