TINJAUAN PUSTAKA
3.6. Kelelahan Kerja
3.10.2. Pengukuran Basal Metabolisme
Pengukuran energi basal metabolisme dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu :
Cara ini menggunakan Kalorimater. Untuk mengukur secara langsung oran g dimasukkan ke dalamnya setelah orang tersebut memenuhi ketentuan-ketentuan seperti di atas dapat diukur basal metabolismenya.
Panas dihasilkan oleh tubuh orang yang diukur ditangkap oleh air yang jumlahnya telah diketahui dan berada dalam pipa saluran yang melingkar sekeliling dinding ruang kalorimeter yang diisolasi rapat. Dengan alat-alat yang diciptakan secara teliti dapat diukur kenaikan suhu air dalam pipa yang diakibatkan oleh panas yang dikeluarkan oleh tubuh orang terukur.
2. Pengukuran tak langsung
Cara ini dilakukan dengan menggunakan persyaratan seperti yang disebutkan diatas dan ditambah dengan penggunaan alat untuk mengukur jumlah gas oksigen (O2) dan gas karbondioksida (CO2) dari pernafasan (respirasi) orang
yang bersangkutan. Dengan alat ini dapat dihitung banyaknya energi yang dihasilkan oleh proses oksidasi dalam tubuh orang yang diukur menggunakan data jumlah oksigen yang tercatat.
Dengan cara ini dapat pula ditentukan rasio antara jumlah produksi CO2
dengan O2 yang dikonsumsi pada pernafasan. Rasio ini biasa disebut “Respiratory
Quotient” (RQ). Secara empiris dapat pula ditentukan korelasi antara RQ dengan jumlah energi yang dihasilkan, sehingga apabila RQ diketahui maka jumlah energi dapat pula ditentukan.
Dari banyak penelitian yang dilakukan ternyata indeks paling berpengaruh terhadap Angka Metabolisme Basal (AMB) adalah berat badan dan umur. Dengan
menggunakan rumus regresi linier, FAO/WHO/UNU/1985 telah mengeluarkan rumus untuk menaksir nilai AMB dari berat badan, dapat dilihat pada Tabel 3.4
Tabel 3.4. Rumus untuk Menaksir Nilai Angka Metabolisme Basal (AMB) Kelompok Umur (Tahun) BMR (kkal/hari) Pria Wanita 0-3 60,9 B + 54 61,0 B + 51 3-10 22,7 B + 495 22,5 B + 499 10-18 17,5 B + 651 12,2 B + 746 18-30 15,3 B + 679 14,7 B + 496 30-60 11,6 B + 879 8,7 B + 829 ≥ 60 13,5 B + 487 10,5 B + 596
Keterangan : B = Berat Badan (kg)
Sumber : FAO / WHO/ UNU, Energi and protein Requirements 1985.
Pemulihan Energi Saat Istirahat
Irama antara konsumsi energi dan pembayaran kembalinya, atau pergantian antara bekerja dan pemulihannya berlaku sama bagi semua fungsi tubuh. Ia diperlukan bagi keseluruhan orang maupun jantung atau otot. Waktu istirahat merupakan kebutuhan Fisiologis yang tidak dapat ditawar demi untuk mempertahankan kapasitas kerja.
Waktu istirahat dibutuhkan tidak hanya bagi kerja fisik, tetapi juga oleh jabatan yang menimbulkan tegangan mental dan saraf. Istirahat juga dibutuhkan untuk mempertahankan ketangkasan digital, ketajaman indera serta ketekunan konsentrasi mental.
Menurut Suma’mur (1982) bahwa bekerja adalah anabolisme yakni mengurangi atau menggunakan bagian-bagian yang telah dibangun sebelumnya.
Dalam keadaan demikian, sistem syaraf utama yang berfungsi adalah komponen simpatis. Maka pada kondisi seperti itu, aktivitas tidak dapat dilakukan terus- menerus, melainkan harus diselingi istirahat untuk memberi kesempatan tubuh melakukan pemulihan. Pada saat istirahat tersebut, maka tubuh mempunyai kesempatan membangun kembali tenaga yang telah digunakan (katabolisme).
Grandjean (1993) menjelaskan bahwa setiap fungsi tubuh manusia dapat dilihat sebagai keseimbangan ritmis antara kebutuhan energi (kerja) dengan penggantian kembali sejumlah energi yang telah digunakan (istirahat). Kedua proses tersebut merupakan bagian integral dari kerja otot, kerja jantung dan keseluruhan fungsi biologis tubuh. Dengan demikian jelas bahwa untuk memelihara performansi dan efisiensi kerja, waktu istirahat harus diberikan secukupnya, baik antara waktu kerja maupun di luar jam kerja (istirahat pada malam hari).
Waktu Istirahat
Pada waktu bekerja terjadi pengerahan tenaga dan penggunaan organ tubuh secara terkoordinasi. Pengerahan ini berbeda menurut sifat-sifat pekerjaan, fisik, mental dan sosial. Namun kualitatifnya bekerja adalah sama yaitu bertambahnya aktivitas persarafan, menegangnya otot-otot, bebasnya adrenalin, meningkatnya perdarahan ke dalam organ-organ yang perlu untuk bekerja, lebih dalamnya pernafasan, lebih cepatnya jantung dan nadi, bertambah tingginya tekanan darah, meningkatnya kebutuhan akan tenaga, pembebasan lemak dan gula ke dalam aliran darah. Kualitatif, kegiatan-kegiatan organ berbeda menurut jenis
pekerjaan dan beban kerja. Pada kerja otot, tentu saja peranan otot yang lebih menonjol.
Dalam buku Sastrowinoto (1985), menyebutkan bahwa dengan studi kerja kita mengetahui bahwa orang yang bekerja diselipi oleh istirahat dengan berbagai jalan. Ada 4 tipe istirahat yang dapat dibedakan :
1. Istirahat spontan
Istirahat spontan jelas merupakan istirahat yang diselipkan oleh pekerja sendiri untuk istirahat. Meski tidak akan memakan waktu lama meskipun sering dilakukan, terutama pada pekerjaan yang berat.
2. Istirahat tersembunyi
Ialah melakukan pekerjaan yang tidak perlu bagi tugas yang sedang Ia tangani. Banyak juga tempat-tempat yang memungkinkan waktu istirahat jenis itu, misalnya membersihkan komponen mesin, membenahi bangku kerja, duduk yang enak dan lain-lain.
3. Istirahat kondisi pekerja
Istirahat kondisi kerja terdiri atas segala tipe waktu tunggu, tergantung pada pengaturan pekerja atau gerakan dari mesin. Seringkali waktu tunggu semacam itu terjadi ketika operasi mesin telah selesai, perkakas harus didinginkan, menanti datangnya komponen, atau operasi perawatan mesin. 4. Istirahat telah ditentukan
Istirahat telah ditentukan dibuat berdasarkan studi kerja. Kalau ditentukan banyaknya waktu istirahat pendek yang diselipkan selama bekerja, maka
ternyata bahwa istirahat tersembunyi dan istirahat spontan akan berkurang jumlahnya.
5. Istirahat Pendek
Waktu istirahat tambahan yang diberikan kepada pekerja selain waktu istirahat yang telah ditentukan.
Kelima jenis istirahat tersebut di atas memperlihatkan saling ketergantungan. Dengan pengaturan istirahat yang memadai, istirahat-istirahat spontan dan curian akan semakin berkurang. Istirahat curian meningkat sejalan dengan bertambahnya kelelahan. Istirahat spontan atau curian sekurang-kurangya 15% dari seluruh waktu kerja.
Pengaturan waktu istirahat yang baik terutama bagi pekerjaan berat mengurangi terjadinya penyakit dan absensi. Pengalaman menunjukkan bahwa isitirahat yang pendek adalah lebih baik daripada satu istirahat yang panjang. Penelitian-penelitian menunjukkan bahwa pengaturan waktu istirahat yang tepat berakibat positif bagi produktivitas.
Istirahat-istirahat dalam pekerjaan harus disertai penambahan kalori dalam kerangka perbaikan gizi. Disamping itu sikap tubuh dalam kerja harus dengan ergonomik, misalnya agar selalu diusahakan bahwa semua pekerjaan dilaksanakan dengan sikap duduk dan sikap berdiri secara bergantian. Waktu kerja pendek yang segera diikuti waktu istirahat pendek adalah lebih baik daripada waktu kerja panjang dan waktu istirahat panjang. Sebagaimana lamanya waktu kerja, dan waktu isitirahat juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang nyaman.