ANALISIS PENENTUAN WAKTU ISTIRAHAT PENDEK BERDASARKAN BEBAN KERJA FISIK DAN ASUPAN ENERGI
PADA BAGIAN BALLING PRESS DI PT. BRIDGESTONE SUMATERA RUBBER ESTATE
TUGAS SARJANA
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat-syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik
Oleh
YUDHA WIBOWO NIM. 080403226
D E P A R T E M E N T E K N I K I N D U S T R I F A K U L T A S T E K N I K
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis sampaikan ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat
dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir ini.
Tugas Akhir merupakan salah satu syarat akademis yang harus dipenuhi oleh
mahasiswa Teknik Industri untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik.
Penulis melaksanakan Tugas Akhir di PT. Bridgestone Sumatera Rubber
Estate yang bergerak dibidang pembuatan crumb rubber. Tugas Akhir ini berjudul
“Analisis Penentuan Waktu Istirahat Pendek Berdasarkan Beban Kerja Fisik dan
Asupan Energi pada Bagian Balling Press di PT. Bridgestone Sumatera Rubber
Estate.”
Penulis menyadari bahwa laporan Tugas Akhir ini masih jauh dari
kesempurnaan, penulis selalu terbuka untuk saran dan kritik yang bersifat
membangun dari semua pihak untuk kesempurnaan tulisan ini ke depan.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Medan, Desember 2010
UCAPAN TERIMAKASIH
Dalam penulisan Tugas Akhir ini penulis telah mendapatkan bimbingan
dan dukungan dari berbagai pihak, baik berupa materil, spiritual, informasi
maupun administrasi. Oleh karena itu sudah selayaknya penulis mengucapkan
terima kasih kepada:
1. Ibu Ir. Rosnani Ginting, MT. selaku Ketua Departemen Teknik Industri
Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Aulia Ishak, S.T., M.T. dan Bapak Ir. Sugih Arto Pujangkoro, M.M.
selaku koordinator Tugas Akhir Departemen Teknik Industri USU.
3. Ir. Poerwanto, M.Sc, selaku Dosen Pembimbing I dan Ibu Ir. Anizar, M.Kes,
selaku Dosen Pembimbing II dalam pelaksanaan Tugas Akhir yang telah
memberikan banyak pengajaran baru bagi penulis dan memberikan motivasi
yang sangat berharga.
4. Kedua orang tuaku yang tercinta yang telah memberikan motivasi dan
dorongan dengan penuh cinta serta ketiga saudaraku Wisnu Wardhana, Erna
Wati dan Yuana Widianing Serta, karena berkat doa restu serta dukungan
material kepada penulis hingga terselesainya Tugas Sarjana ini.
5. Bapak Didi Syahputra ST dan Bapak Fernando Gultom ST selaku
pembimbing perusahaan, serta Bapak Jaman SH yang telah memberikan kami
izin untuk melakukan penelitian di PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate.
6. Bang Mijo, Kak Dina, Buk Ani, Bang Ridho atas bantuan dan tenaga yang
7. Seluruh staff dan karyawan PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate yang
telah memberikan bantuan baik berupa informasi dan dukungan moril dalam
melakukan penelitian
8. Teman-teman terbaikku Randy Cardo, Riza, Ade, Yudha Aditya, Febrian,
Tiwi, Dwi, Arma, Daud, Benedict, Margaret dan Ivan yang selalu
memberikan semangat, canda dan tawa, serta berbagi dalam keadaan susah
dan senang.
9. Semua teman-teman seperjuangan stambuk 2005, dan seluruh senior dan
junior yang mendukung dan memberi semangat kepada penulis.
10.Seluruh yang pernah memberikan spesial semangat kepada penulis Irene
Anastasya SKg, Utami Sartika SST, Briptu Ulpa Rizki, Yana Septi Wahani,
Damayanti semoga di kemudian hari tuhan membalas kebaikan anda.
Kepada semua pihak yang telah banyak membantu dalam penyelesaian
laporan ini dan tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, penulis
mengucapkan terimakasih. Semoga laporan ini bermanfaat bagi kita semua.
Medan, Desember 2010
DAFTAR ISI
BAB HALAMAN
LEMBAR JUDUL... i
LEMBAR PENGESAHAN... ii
KATA PENGANTAR... iii
UCAPAN TERIMA KASIH... iii
DAFTAR ISI... iv
DAFTAR TABEL... v
DAFTAR GAMBAR ... vi
DAFTAR LAMPIRAN... vii
ABSTRAK... iii
I PENDAHULUAN... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1
1.2. Perumusan Masalah... I-3
1.3. Tujuan Penelitian... I-3
1.4. Batasan Masalah dan Asumsi... I-3
1.5. Manfaat Penelitian... I-4
DAFTAR ISI (LANJUTAN)
BAB HALAMAN
II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN... II-1
2.1. Sejarah Perusahaan... II-1
2.2. Ruang Lingkup Bidang Usaha... II-4
2.3. Lokasi Perusahaan... II-5
2.4. Daerah Pemasaran... II-6
2.5. Dampak Sosial Ekonomi Terhadap Lingkungan Sekitar... II-6
2.6. Organisasi dan Manajemen... II-8
2.7. Tenaga Kerja dan Jam Kerja... II-10
2.7.1. Tenaga Kerja... II-10
2.7.2. Jam Kerja... II-12
2.8. Sistem Pengupahan dan Fasilitas Lainnya... II-13
2.8.1. Sistem Pengupahan... II-13
2.8.2. Fasilitas Lainnya... II-14
III TINJAUAN PUSTAKA... III-1
3.1. Definisi Ergonomi... III-1
3.2. Tujuan Ergonomi... III-2
3.3. Konsep Keseimbangan dalam Ergonomi... III-2
3.4. Fisiologi... III-5
DAFTAR ISI (LANJUTAN)
BAB HALAMAN
3.5.1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Beban Kerja... III-6
3.5.2. Penilaian Beban Kerja Fisik... III-8
3.6. Kelelahan Kerja... III-12
3.6.1. Proses Terjadinya Kelelahan... III-15
3.6.2. Langkah-langkah Mengatasi Kelelahan... III-16
3.7. Konsumsi Oksigen... III-17
3.8. Total Metabolisme... III-17
3.9. Energi... III-19
3.9.1. Sejarah Energi... III-19
3.9.2. Bentuk Energi... III-20
3.9.3. Satuan Energi... III-21
3.9.4. Kebutuhan Energi... III-22
3.10. Basal Metabolisme... III-23
3.10.1. Pengertian... III-23
3.10.2. Pengukuran Basal Metabolisme... III-23
3.11. Pemulihan Energi Saat Istirahat... III-25
3.12. Waktu Istirahat... III-26
DAFTAR ISI (LANJUTAN)
BAB HALAMAN
3.14. Penentuan Waktu Istirahat dengan Menggunakan
Pendekatan Fisiologis... III-29
3.15. Dasar-dasar Sampling... III-30
3.15.1. Populasi... III-30
3.15.2. Unit Sampel... III-31
3.15.3. Teknik Penarikan Sampel... III-31
3.15.4. Ukuran Sampel... III-35
IV METODOLOGI PENELITIAN... IV-1
4.1. Jenis Penelitian... IV-1
4.2. Tempat dan Waktu Penelitian... IV-1
4.3. Kerangka Konsep... IV-1
4.4. Identifikasi Variabel Penelitian... IV-2
4.5. Objek Penelitian……….. IV-5
4.6. Populasi... IV-5
4.7. Sumber Data... IV-5
4.8. Instrumen Penelitian... IV-7
4.9. Pelaksanaan Penelitian... IV-7
4.10.Metode Pengolahan Data... IV-8
4.11.Analisis Pemecahan Masalah……… IV-10
DAFTAR ISI (LANJUTAN)
BAB HALAMAN
V PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA... V-1
5.1. Pengumpulan Data... V-1
5.1.1. Tahapan Prosedur Kerja... V-1
5.1.2. Data Jam Kerja... V-2
5.1.3. Data Umur dan Berat Badan... V-2
5.1.4. Data Denyut Nadi... V-3
5.2. Pengolahan Data... V-15
5.2.1. Perhitungan Jumlah Energi dalam Menu Makanan... V-15
5.2.2. Uji Keseragaman Data... V-18
5.2.3. Uji Kecukupan Data... V-25
5.2.4. Penilaian Beban Kerja... V-28
5.2.5. Perhitungan Konsumsi Energi Pekerja... V-32
5.2.6. Perhitungan Konsumsi Oksigen... V-36
5.2.7. Perhitungan Energi Metabolisme Basal... V-38
5.2.8. Perhitungan Lamanya Waktu Istirahat... V-39
VI ANALISA PEMECAHAN MASALAH... VI-1
6.1. Jumlah Masukan dan Keluaran Energi pada Kondisi Saat Ini VI-1
6.2. Jumlah Konsumsi Oksigen pada Saat Ini... VI-7
DAFTAR ISI (LANJUTAN)
BAB HALAMAN
6.4. Penilaian Beban Kerja Metode Tidak Langsung... VI-8
6.5. Pemecahan Masalah... VI-9
6.5.1. Penentuan Waktu Istirahat... VI-10
6.6. Perbandingan Metode Kerja Aktual dengan Metode
Kerja Usulan... VI-13
VII KESIMPULAN DAN SARAN... VII-1
7.1. Kesimpulan dan Saran... VII-1
7.2. Saran... VII-2
DAFTAR TABEL
TABEL HALAMAN
2.1. Lokasi Divisi Perkebunan PT. BSRE... II-3
2.2. Jumlah Karyawan PT. BSRE Bulan Januari 2010... II-11
2.3. Jumlah Karyawan PT. BSRE Bulan Februari 2010... II-12
3.1. Kategori Beban Kerja Berdasarkan Metabolisme, Respirasi
Suhu Tubuh dan Denyut Jantung... III-8
3.2. Konsumsi Oksigen Maksimum (VO2 max) mL/(Kg-min)... III-9
3.3. Klasifikasi Berat Ringan Beban Kerja Berdasarkan % CVL... III-11
3.4. Rumus untuk Menaksir Nilai Angka Metabolisme Basal... III-25
5.1. Data Umur dan Berat Badan Pekerja... V-3
5.2. Data Denyut Nadi Pekerja 1
(Senin - Sabtu Tanggal 25 s/d Oktober 2010)... V-4
5.3. Data Denyut Nadi Pekerja 2
(Senin - Sabtu Tanggal 25 s/d Oktober 2010)... V-4
5.4. Data Denyut Nadi Pekerja 3
(Senin - Sabtu Tanggal 25 s/d Oktober 2010)... V-4
5.5. Data Denyut Nadi Pekerja 4
(Senin - Sabtu Tanggal 25 s/d Oktober 2010)... V-5
5.6. Menu Makanan Pekerja 1... V-7
5.7. Menu Makanan Pekerja 2... V-9
DAFTAR TABEL (LANJUTAN)
TABEL HALAMAN
5.9. Menu Makanan Pekerja 4... V-13
5.10. Perhitungan Jumlah Energi Pekerja 1 yang Masuk dari Makanan V-15
5.11. Hasil Perhitungan Jumlah Energi yang Masuk dari Makanan
Pekerja 1... V-17
5.12. Hasil Perhitungan Jumlah Energi yang Masuk dari Makanan
Pekerja 2... V-17
5.13. Hasil Perhitungan Jumlah Energi yang Masuk dari Makanan
Pekerja 3... V-17
5.14. Hasil Perhitungan Jumlah Energi yang Masuk dari Makanan
Pekerja 4... V-18
5.15. Uji Keseragaman Data Denyut Nadi Pekerja 1
(Senin - Sabtu Tanggal 25 s/d Oktober 2010)... V-20
5.16. Uji Keseragaman Data Denyut Nadi Pekerja 2
(Senin - Sabtu Tanggal 25 s/d Oktober 2010)... V-21
5.17. Uji Keseragaman Data Denyut Nadi Pekerja 3
(Senin - Sabtu Tanggal 25 s/d Oktober 2010)... V-22
5.18. Uji Keseragaman Data Denyut Nadi Pekerja 4
DAFTAR TABEL (LANJUTAN)
TABEL HALAMAN
5.19. Hasil Uji Kecukupan Data Denyut Nadi Pekerja 1
(Senin - Sabtu Tanggal 25 s/d Oktober 2010)... V-26
5.20. Hasil Uji Kecukupan Data Denyut Nadi Pekerja 2
(Senin - Sabtu Tanggal 25 s/d Oktober 2010)... V-26
5.21. Hasil Uji Kecukupan Data Denyut Nadi Pekerja 3
(Senin - Sabtu Tanggal 25 s/d Oktober 2010)... V-27
5.22. Hasil Uji Kecukupan Data Denyut Nadi Pekerja 4
(Senin - Sabtu Tanggal 25 s/d Oktober 2010)... V-28
5.23. Rekapitulasi Denyut Nadi Pekerja 1
(Senin - Sabtu Tanggal 25 s/d Oktober 2010)... V-29
5.24. Rekapitulasi Denyut Nadi Pekerja 2
(Senin - Sabtu Tanggal 25 s/d Oktober 2010)... V-29
5.25. Rekapitulasi Denyut Nadi Pekerja 3
(Senin - Sabtu Tanggal 25 s/d Oktober 2010)... V-30
5.26. Rekapitulasi Denyut Nadi Pekerja 4
(Senin - Sabtu Tanggal 25 s/d Oktober 2010)... V-31
DAFTAR TABEL (LANJUTAN)
TABEL HALAMAN
5.28. Konsumsi Energi Pekerja 1
(Senin - Sabtu Tanggal 25 s/d Oktober 2010)... V-33
5.29. Konsumsi Energi Pekerja 2
(Senin - Sabtu Tanggal 25 s/d Oktober 2010)... V-33
5.30. Konsumsi Energi Pekerja 3
(Senin - Sabtu Tanggal 25 s/d Oktober 2010)... V-34
5.31. Konsumsi Energi Pekerja 4
(Senin - Sabtu Tanggal 25 s/d Oktober 2010)... V-34
5.32. Konsumsi Energi Pekerja 1 Tiap jam Waktu Pengamatan... V-35
5.33. Konsumsi Energi Pekerja 2 Tiap jam Waktu Pengamatan... V-35
5.34. Konsumsi Energi Pekerja 3 Tiap jam Waktu Pengamatan... V-35
5.35. Konsumsi Energi Pekerja 4 Tiap jam Waktu Pengamatan... V-36
5.36. Jumlah Konsumsi Oksigen Pekerja 1 per harinya... V-37
5.37. Jumlah Konsumsi Oksigen Pekerja 2 per harinya... V-37
5.38. Jumlah Konsumsi Oksigen Pekerja 3 per harinya... V-38
5.39. Jumlah Konsumsi Oksigen Pekerja 4 per harinya... V-38
5.40. Waktu Istirahat yang dibutuhkan Pekerja 1... V-40
DAFTAR TABEL (LANJUTAN)
TABEL HALAMAN
5.42. Waktu Istirahat yang dibutuhkan Pekerja 3... V-41
5.43. Waktu Istirahat yang dibutuhkan Pekerja 4... V-42
6.1. Jumlah Energi yang dikeluarkan Pekerja 1 pada Saat Bekerja... VI-1
6.2. Jumlah Energi yang dikeluarkan Pekerja 2 pada Saat Bekerja... VI-2
6.3. Jumlah Energi yang dikeluarkan Pekerja 3 pada Saat Bekerja... VI-2
6.4. Jumlah Energi yang dikeluarkan Pekerja 4 pada Saat Bekerja... VI-3
6.5. Perbandingan Jumlah Energi yang dikeluarkan dengan Jumlah
Energi yang Terkandung dalam Makanan per harinya Pekerja 1.. VI-3
6.6. Perbandingan Jumlah Energi yang dikeluarkan dengan Jumlah
Energi yang Terkandung dalam Makanan per harinya Pekerja 2.. VI-4
6.7. Perbandingan Jumlah Energi yang dikeluarkan dengan Jumlah
Energi yang Terkandung dalam Makanan per harinya Pekerja 3.. VI-4
6.8. Perbandingan Jumlah Energi yang dikeluarkan dengan Jumlah
Energi yang Terkandung dalam Makanan per harinya Pekerja 4.. VI-5
6.9. Perbandingan Total Kebutuhan Energi dengan Jumlah Energi
DAFTAR TABEL (LANJUTAN)
TABEL HALAMAN
6.10. Perbandingan Total Kebutuhan Energi dengan Jumlah Energi
yang Terkandung dalam Makanan per harinya untuk Pekerja 2.. VI-6
6.11. Perbandingan Total Kebutuhan Energi dengan Jumlah Energi
yang Terkandung dalam Makanan per harinya untuk Pekerja 3.. VI-6
6.12. Perbandingan Total Kebutuhan Energi dengan Jumlah Energi
yang Terkandung dalam Makanan per harinya untuk Pekerja 4.. VI-7
6.13. Hasil Penilaian Beban Kerja Metode Tidak Langsung... VI-8
6.14. Waktu Istirahat yang dibutuhkan Pekerja 1... VI-9
6.15. Waktu Istirahat yang dibutuhkan Pekerja 2... VI-10
6.16. Waktu Istirahat yang dibutuhkan Pekerja 3... VI-10
6.17. Waktu Istirahat yang dibutuhkan Pekerja 4... VI-11
6.18. Total Waktu Istirahat yang diusulkan... VI-11
6.19. Perbandingan Metode Kerja Aktual dengan
DAFTAR GAMBAR
GAMBAR HALAMAN
2.1. Struktur Organisasi PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate... II-9
3.1. Konsep Dasar Keseimbangan dalam Ergonomi... III-3
3.2. Proses Metabolisme Tubuh………... III-18
4.1. Block Diagram Prosedur Penelitian... IV-7
5.1. Layout Area Kerja Operator Bagian Balling Press……….. V-6
5.2. Peta Kontrol Denyut Nadi 07.00 Senin s/d Sabtu Pekerja 1... V-20
5.3. Peta Kontrol Denyut Nadi 07.00 Senin s/d Sabtu Pekerja 2... V-22
5.4. Peta Kontrol Denyut Nadi 07.00 Senin s/d Sabtu Pekerja 3... V-23
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN HALAMAN
1. Pembagan Tugas dan Tanggung Jawab ... L-1
2. Poto Kegiatan Pekerja ... L-2
3. Menu Makanan Pekerja ... L-3
4. Peta Kontrol Denyut Nadi Pekerja ... L-4
5. Komposisi Zat Gizi Makanan ... L-5
6. Form TA ... L-6
7. Surat Penjajakan ... L-7
8. Surat Balasan ... L-8
9. SK Tugas Sarjana ... L-9
ABSTRAK
PT Bridgestone Sumatra Rubber Estate merupakan suatu perusahaan yang bergerak dalam bidang perkebunan dan pengolahan karet. Hasil perkebunan berupa getah karet akan diolah menjadi crumb rubber. Istirahat yang diberikan oleh operator PT Bridgestone Sumatra Rubber Estate kepada pekerjanya adalah dari jam 12.00 – 13.30, walaupun istirahat yang diberikan 11/2 jam tetapi dengan
beban kerja yang begitu berat secara terus-menerus maka akan lebih baik lagi diselingi dengan pemberian istirahat pendek serta asupan energi yang sesuai sehingga pekerja akan tidak mudah mengalami kelelahan dini.
Pemulihan energi sangat penting diperhatikan karena selama proses kerja terjadi kelelahan. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pemulihan energi adalah istirahat. Pekerja dengan beban kerja berat membutuhkan periode dan frekuensi istirahat yang berbeda dengan pekerja dengan beban kerja yang ringan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lamanya waktu istirahat berdasar beban kerja pada bagian balling press. Penelitian ini dilakukan pada 4 orang pekerja. Data yang digunakan adalah data denyut nadi dan asupan energi pekerja selama bekerja, data berat badan dan umur. Perbedaan beban kerja dapat berdasarkan denyut nadi dan konsumsi oksigen. Dari hasil perhitungan bahwa rerata tertinggi dari denyut nadi kerja (DNK) ada pada pekerja 1 dengan nilai 120,9 denyut per menit, sedangkan beban kardiovaskuler (% CVL) ada pada pekerja 3 dengan nilai 39,6 % yang tergolong dalam kategori beban kerja sedang, karena 100-125 denyut per menit dan 30 % - 60 % CVL. Maka dari pengolahan data didapat kesimpulan waktu timbulnya kelelahan dini pekerja sekitar pukul 10.00 – 11.00 dan 15.00 WIB. Hal ini berarti perlu diberikan istirahat pendek pada jam - jam tersebut selama 10 menit.
Dengan adanya waktu istirahat pendek pada jam tersebut, maka pekerja dapat menghilangkan kelelahan dini dan rasa bosan yang timbul dengan cara makan makanan ringan atau melakukan peregangan pada bagian - bagian tubuh.
ABSTRAK
PT Bridgestone Sumatra Rubber Estate merupakan suatu perusahaan yang bergerak dalam bidang perkebunan dan pengolahan karet. Hasil perkebunan berupa getah karet akan diolah menjadi crumb rubber. Istirahat yang diberikan oleh operator PT Bridgestone Sumatra Rubber Estate kepada pekerjanya adalah dari jam 12.00 – 13.30, walaupun istirahat yang diberikan 11/2 jam tetapi dengan
beban kerja yang begitu berat secara terus-menerus maka akan lebih baik lagi diselingi dengan pemberian istirahat pendek serta asupan energi yang sesuai sehingga pekerja akan tidak mudah mengalami kelelahan dini.
Pemulihan energi sangat penting diperhatikan karena selama proses kerja terjadi kelelahan. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pemulihan energi adalah istirahat. Pekerja dengan beban kerja berat membutuhkan periode dan frekuensi istirahat yang berbeda dengan pekerja dengan beban kerja yang ringan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lamanya waktu istirahat berdasar beban kerja pada bagian balling press. Penelitian ini dilakukan pada 4 orang pekerja. Data yang digunakan adalah data denyut nadi dan asupan energi pekerja selama bekerja, data berat badan dan umur. Perbedaan beban kerja dapat berdasarkan denyut nadi dan konsumsi oksigen. Dari hasil perhitungan bahwa rerata tertinggi dari denyut nadi kerja (DNK) ada pada pekerja 1 dengan nilai 120,9 denyut per menit, sedangkan beban kardiovaskuler (% CVL) ada pada pekerja 3 dengan nilai 39,6 % yang tergolong dalam kategori beban kerja sedang, karena 100-125 denyut per menit dan 30 % - 60 % CVL. Maka dari pengolahan data didapat kesimpulan waktu timbulnya kelelahan dini pekerja sekitar pukul 10.00 – 11.00 dan 15.00 WIB. Hal ini berarti perlu diberikan istirahat pendek pada jam - jam tersebut selama 10 menit.
Dengan adanya waktu istirahat pendek pada jam tersebut, maka pekerja dapat menghilangkan kelelahan dini dan rasa bosan yang timbul dengan cara makan makanan ringan atau melakukan peregangan pada bagian - bagian tubuh.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
PT Bridgestone Sumatra Rubber Estate merupakan suatu perusahaan yang
bergerak dalam bidang perkebunan dan pengolahan karet. Hasil perkebunan
berupa getah karet akan diolah menjadi crumb rubber. Bagian Balling Press ini
terdiri dari beberapa proses, diantaranya karet dikeringkan dari mesin dryer,
kemudian crumb biscuit dibongkar dari trolley lalu diangkat menuju meja dengan
jarak 2 meter lalu meletakkan crumb biscuit di atas meja (sebanyak 28 kali)
dengan frekuensi 5-6 kali permenit lalu ditimbang dengan berat 35 kg, kemudian
crumb biscuit diangkat ke mesin press, sehingga dari penelitian ini dapat
mengetahui tingkat beban kerja dari masing-masing pekerja yang bekerja dengan
posisi berdiri. Istirahat yang diberikan oleh operator PT Bridgestone Sumatra
Rubber Estate kepada pekerjanya adalah dari jam 12.00 – 13.30, walaupun
istirahat yang diberikan 11/2 jam tetapi dengan beban kerja yang begitu berat
secara terus-menerus maka akan lebih baik lagi diselingi dengan pemberian
istirahat pendek serta asupan energi yang sesuai sehingga pekerja akan tidak
mudah mengalami kelelahan dini.
Hubungan antara waktu bekerja dan istirahat menentukan efisiensi dan
produktivitas kerja. Menurut Suma’mur (1998), pada suatu penelitian terhadap
pekerjaan yang biasa, tidak terlalu ringan atau berat, produktivitas mulai menurun
di dalam darah, untuk hal ini istirahat setengah jam sesudah 4 jam kerja
terus-menerus sangat penting artinya. Istirahat pendek sering dilakukan juga lebih baik
daripada melakukan istirahat satu kali dalam waktu yang panjang (Sedamayanti,
1996).
Faktor pemulihan energi sangat penting diperhatikan karena selama proses
kerja terjadi kelelahan, hal ini diakibatkan oleh dua hal yaitu kelelahan fisiologis
dan kelelahan psikologis. Kelelahan fisiologis adalah kelelahan yang timbul
karena adanya perubahan faal tubuh. Perubahan faal tubuh dari kondisi segar
menjadi letih akan mempengaruhi keoptimalan kinerja pekerja. Pemulihan kondisi
faal tubuh untuk kembali pada kondisi segar selama beraktivitas merupakan hal
penting yang perlu diperhatikan. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
pemulihan energi adalah istirahat. Pekerja yang bekerja dengan beban kerja berat
tentunya membutuhkan periode dan frekuensi yang berbeda dengan pekerja yang
bekerja dengan beban kerja ringan. Apabila lamanya waktu istirahat tidak sesuai
dengan beban kerja yang diberikan akan menyebabkan pekerja berada dalam
kondisi yang tidak optimal. Kondisi yang demikian dapat menyebabkan dampak
yang negatif, seperti waktu pengerjaan yang lebih lama, terjadinya produk cacat,
timbulnya kecelakaan kerja dan sebagainya. Oleh karena itu, perlu dilakukan
penelitian mengenai kesesuaian jam kerja dengan waktu istirahat berdasarkan
beban kerja fisik maupun asupan energi pada PT Bridgestone Sumatra Rubber
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka rumusan
permasalahan yang dapat ditentukan adalah :
1. Mencari alternatif jam istirahat untuk memulihkan kondisi pekerja dengan
melibatkan beberapa fungsi fisiologis.
2. Melihat energi yang dikeluarkan oleh pekerja per harinya
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan umum dari penelitian yang akan dilakukan adalah merancang
waktu istirahat pendek berdasarkan beban kerja fisik sehingga dapat mengurangi
kelelahan yang dirasakan oleh pekerja pada PT Bridgestone Sumatra Rubber
Estate.
Tujuan khusus yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut :
1. Menilai beban kerja pekerja dan mengklasifikasikan beban kerja
2. Mengetahui tingkat konsumsi energi bagi pekerja pada bagian balling press
dan menilai asupan makanan.
3. Menentukan lama waktu istirahat pendek bagi pekerja pada bagian balling
press.
1.4. Batasan Masalah dan Asumsi
Pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
2. Penilaian beban kerja dilakukan berdasarkan metabolisme tubuh yang meliputi
denyut nadi atau denyut jantung.
3. Penentuan lama waktu istirahat pendek menggunakan pendekatan fisiologis
berdasarkan persamaan Murrel.
4. Asupan makanan pekerja sesuai yang dikonsumsi dan hanya selama 6 hari
waktu pengamatan.
Asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Pekerja yang diamati adalah pekerja yang bekerja dalam kondisi normal serta
sehat secara jasmani dan rohani.
2. Mekanisme dan aktivitas setiap stasiun pada perusahaan berjalan normal.
3. Proses produksi tidak mengalami perubahan.
4. Tidak ada perubahan metode kerja selama penelitian berlangsung.
5. Pekerja dengan jujur mengisi lembar pengamatan mengenai asupan makanan
sehari-hari.
6. Takaran makanan yang telah dibakukan beratnya yang sesuai dari daftar
komposisi bahan makanan.
1.5. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Memberikan informasi bagi perusahaan untuk menentukan lama waktu
2. Memberikan masukan bagi tenaga kerja mengenai manfaat waktu istirahat
bagi kesehatannya maupun dalam menjaga ketahanan serta kapasitas
kerjanya.
3. Masukan bagi instansi terkait yaitu Departemen Tenaga Kerja dan
Departemen Kesehatan tentang pentingnya penerapan waktu istirahat pendek
di samping waktu istirahat yang telah ditentukan, dalam upaya peningkatan
kesehatan kerja dan peningkatan produktivitas.
4. Sebagai bahan informasi dan pengembangan bagi penelitian sejenis serta
berkelanjutan.
5. Bagi peneliti sebagai bahan penambah wawasan aplikasi keilmuan.
1.6. Sistematika Penulisan Laporan
Sistematika penulisan bertujuan untuk memberikan gambaran umum
tentang penelitian yang dilakukan. Pada Bab I diuraikan tentang latar belakang
masalah, perumusan masalah, batasan masalah, tujuan, manfaat, dan sistematika
laporan. Di dalam Bab II berisi gambaran ringkas dan padat tentang objek studi
meliputi sejarah perusahaan, bidang usaha, struktur organisasi, proses produksi,
pemasaran dan ringkasan lain. Dalam Bab III Memuat penjelasan tentang konsep
dan dasar untuk memecahkan masalah penelitian dan pedoman untuk pembahasan
masalah, antara lain konsep ergonomi, beban kerja, perhitungan konsumsi energi,
pemulihan waktu istirahat dan penentuan waktu istirahat dengan menggunakan
metode pendekatan fisiologis. Pada Bab IV berisi metodologi yang digunakan
penjelasan tiap tahapan secara ringkas. Pada Bab V diuraikan tentang
pengumpulan dan pengolahan data untuk mendapatkan hasil yang akan dipakai
untuk membahas dan menyajikan hasil-hasil analisa dari hasil pengolahan
data-data.
Adapun data yang dikumpulkan pada bab ini meliputi:
1. Denyut nadi
2. Berat badan dan umur
3. Konsumsi oksigen .
4. Sedangkan pengolahan data dilakukan dengan menggunakan metode
Fisiologis.
Pada Bab VI akan diuraikan tentang hasil yang diperoleh dari analisa
data dan pemecahan yang dilakukan pada bab sebelumnya. Dalam Bab VII berisi
kesimpulan yang dapat diambil oleh penulis dari hasil penelitian serta saran yang
BAB II
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
2.1. Sejarah Perusahaan
PT Bridgestone Sumatra Rubber Estate merupakan suatu perusahaan yang
bergerak dalam bidang perkebunan dan pengolahan karet. Hasil perkebunan
berupa getah karet akan diolah menjadi crumb rubber. Crumb rubber yang diolah
oleh PT Bridgestone Sumatra Rubber Estate akan diekspor ke Jepang sebagai
bahan baku pembuatan ban. Ban Bridgestone akan dipasarkan ke berbagai negara
Asia, Afrika dan Amerika.
PT Bridgestone Sumatra Rubber Estate yang terletak di Dolok Merangir,
Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara dibeli oleh perusahaan Goodyear pada
tahun 1916. Perusahaan ini dibeli dari Vrenide Indice Coltounderneeming
(VICO). Vrenide Indice Coltounderneeming merupakan perusahaan Belanda yang
dipimpin oleh J.J. Blandeing. Pada Tahun 1917 didirikan pabrik dan kemudian,
pada tahun 1927 didirikan Planing Research dan Chemical Research.
PT Bridgestone Sumatra Rubber Estate mengalami beberapa perubahan
dan diantaranya adalah perubahan perluasan perusahaan, peralihan kepemilikan
dan perubahan nama. Berikut sejarah terhadap perubahan perluasan perusahaan
maupun peralihan kepemilikan, serta nama perusahaan.
a. Perluasan Perusahaan dan Perpanjangan HGU
1. Pada Tahun 1967 Kebun Naga Raja dan Dolok Hulu yang sebelumnya
2. Pada tanggal 1 Oktober 1977, Perkebunan PT. Haboko Tea Coy, yang
sebelumnya dikuasai oleh oleh PT. Lonsum diurus atau diusahai oleh
Goodyear , dan pada tanggal 1 Januari 1982 PT. Haboko Tea Coy resmi
berubah nama menjadi NV. Goodyear Sumatra Plantations, LTD.
3. Kebun Naga Raja diusahai berdasarkan SK Ditjen Agraria No.SK.2/
HGU/80 tanggal 2 Januari 1980 dan sertifikat HGU. No 1 Tanggal 15
Oktober 1082 dan telah memperoleh perpanjangan selama 25 tahun
sesuai dengan SK. Menteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan
Nasional Nomor : 114/HGU/BPN/1997 tanggal 16 September 1997
seluas 2.846,73 Hektar.
4. Kebun Dolok Merangir dan Dolok Hulu dikuasai berdasarkan SK.
Menteri Dalam Negeri Nomor : 3/HGU/DA/80 dan telah memperoleh
perpanjangan selama 25 tahun seluas 11.226,38 Hektar. Namun setelah
diukur secara kadasteral dengan mengeluarkan seluas 202,87 Hektar
untuk Kawasan Industri Simalungun (KIS) dan perluasan wilayah
Ibukota Kecamatan Tapian Dolok, kantor imigrasi P.Siantar serta
peruntukan jalan, maka luas area HGU PT. Bridgestone Sumatra Rubber
Estate di Kabupaten Simalungun menjadi seluas 11.023,553 Hektar.
5. Kebun Aek Tarum diusahai berdasarkan Hak Guna Usaha No. 1/Perk. A.
Tarum Haboko dan telah memperoleh perpanjangan selama 25 Tahun
sesuai dengan SK. Menteri Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional
b. Peralihan Kepemilikan dan Perubahan Nama Perusahaan
Kepemilikan saham perusahaan PT. Goodyear Sumatra Plantations sebanyak
1.900.000 saham beralih kepada Bridgestone Corporation (Jepang) dengan nama
perusahaan PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate yang merupakan badan
hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia sejak tanggal 9 Agustus 2005.
Peralihan kepemilikan dan perubahan nama perusahaan tersebut tercantum
dalam keputusan sekuler pada Akte Notaris No. 80, persetujuan Menteri Hukum
dan Hak Asasi Manusia R.I. No. C-02853 HT.01.04.TH.2005 tanggal 2 Pebruari
2005 dan persetujuan Badan Koordinasi penanaman modal R.I. No.
236/B.2/A6/2005 tanggal 4 Oktober 2005. Peralihan kepemilikan perusahaan dan
nama perusahaan telah diumumkan melalui Harian Media Indonesia dan Suara
Pembaharuan tanggal 1 September 2005.
Saat ini PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate mempunya 5 divisi
perkebunan. Divisi perkebunan tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.1
Tabel 2.1. Lokasi Divisi Perkebunan PT. BSRE
No Divisi Lokasi
1. Divisi I Naga Raja
2. Divisi II Dolok Meragir
3. Divisi III Dolok Ulu
4. Divisi IV Dolok Ulu
5. Divisi V Aek Tarum
PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate saat ini memiliki pabrik pengolahan
crumb rubber seluas 106.537,58 m2. Pabrik pengolahan crumb rubber terbagi atas
5 factory, yaitu :
1. DM Factory (Dolok Merangir Factory)
2. DX Factory (Dolok Merangir Expansion Factory)
3. FOOM Factory
4. NB1 (New Bridgestone 1)
5. NB2 (New Bridgestone 2)
DM factory, DX factory serta Foom factory merupakan factory yang
didirikan oleh PT. Goodyear Sumatra Plantations. Factory NB1 dan NB2
merupakan factory yang didirikan oleh PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate.
2.2. Ruang Lingkup Bidang Usaha
PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate menghasilkan crumb rubber
yang merupakan bahan baku pembuatan ban. Peningkatan produksi yang
dilakukan oleh PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate membuat masyarakat
sekitar terpacu untuk menanam karet. Harga jual karet pada PT. Bridgestone
Sumatera Rubber Estate sangat tinggi, oleh karena itu masyarakat sekitar lebih
tertarik menjual kepada PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate dari pada
perusahaan sejenis yang ada di lingkungan sekitar. Harga Jual karet yang tinggi
dikarenakan perusahaan sangat bergantung pada penjualan karet dari masyarakat.
Sekitar 65% bahan baku untuk proses produksi berasal dari karet masyarakat.
Selain bergerak dalam bidang penjualan dan pengolahan karet, PT.
Hasil perkebunan karet dari PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate hanya
memenuhi 35% dari kebutuhan bahan baku. Saat ini PT. Bridgestone meiliki 5
Divisi perkebunan yaitu di daerah Naga Raja, Dolok Ulu, Dolok Merangir dan
Aek Tarum. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku saat ini PT. Bridgestone
Sumatera Rubber Estate berupaya menambah divisi perkebunannya.
2.3. Lokasi perusahaan
Letak pabrik pengolahan crumb rubber PT. Bridgestone Sumatra Rubber
Estate adalah sebagai berikut :
Desa : Dolok Merangir
Kecamatan : Dolok Batu Nanggar
Kabupaten : Simalungun
Provinsi : Sumatera Utara
Adapun Batas-batas pabrik pengolahan crumb rubber PT. Bridgestone
Sumatra Rubber Estate adalah sebagai berikut :
Sebelah timur : Kebun karet PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate
Sebelah barat : Pemukiman penduduk
Sebelah utara : Kebun karet PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate
2.4. Daerah Pemasaran
Crumb Rubber yang dihasilkan oleh PT. Bridgestone Sumatra Rubber
Estate, merupakan bahan baku pembuatan ban. Sebelum crumb rubber dikirim ke
Jepang, terlebih dahulu akan dikirim ke Singapura. Bridgestone corporation
Singapura menentukan kuantitas bahan baku yang diperlukan oleh Bridgestone
Corporation di Yokohama, Jepang. Daerah pemasaran ban Bridgestone meliputi
wilayah Asia, negara-negara di Amerika seperti Amerika Serikat, Kanada dan
Brazil serta beberapa negara di kawasan Afrika. Untuk pasar kawasan Eropa ban
Bridgestone masih bersaing dengan ban sejenis.
Kawasan Asia merupakan pasar yang paling potensial bagi ban
Bridgestone, hal ini dikarenakan harga ban Ban bridgestone dapat dijangkau oleh
konsumen di Asia selain kualitas produk yang baik. Pemesanan bagi pasar Asia
dilakukan pada Bridgestone Corporation Singapura, sedangkan bagi pasar
Indonesia dilakukan di Kantor cabang Bridgestone Corporation di Jakarta dan
Medan.
Saat ini Bridgstone merupakan satu-satunya pabrikan ban yang dipakai
pada Formula 1 (F1) dan Moto GP, kedepannya Bridgestone Corporation dapat
bersaing di pasar Eropa dengan ban sejenis.
2.5. Dampak Sosial Ekonomi Terhadap Lingkungan Sekitar
Keberadaan PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate di lingkungan sekitar
memberikan dampak ekonomi serta dampak sosial dan budaya. Dampak ekonomi
lapangan pekerjaan bagi masyarkat sekitar. Jenis pekerjaan tersebut diantaranya,
tenaga kerja keamanan, tenaga kerja di pabrik maupun tenaga kerja
diperkebunan. Dampak ekonomi lainnya adalah, adanya kegiatan jual beli karet
antara PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate dengan masyarakat sekitar.
Tingginya harga karet pada PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate membuat
masyarakat lebih tertarik menjualnya pada perusahaan ini ketimbang perusahaan
sejenis.
Dampak sosial budaya diantaranya, perbaikan jalan disekitar areal PT.
Bridgestone Sumatra Rubber Estate. Adanya kerjasama perusahaan dengan
masyarakat sekitar dengan adanya kegiatan bakti sosial. Kerja sama juga
dilakukan oleh perusahaan dengan perusahaan sekitar mengenai pelatihan
karyawan tentang keselamatan kerja.
Mengenai dampak lingkungan PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate
telah menerapkan sistem ISO 14000 mengenai manajemen lingkungan. Untuk
penaganan bau akibat pengolahan crumb rubber PT. Bridgestone memakai Air
Scrubber. Air Scrubber merupakan peralatan yang digunakan untuk menyerap
kadar bau yang terkandung dalam gas buang, sehingga bau-bauan dapat di
minimalisir. Limbah hasil proses produksi crumb rubber berbentuk limbah cair
yaitu air pencucian crumb rubber. Sebelum dibuang dan dialirkan ke sungai air
pencucian akan diolah terlebih dahulu dengan sistem lagoon dan sistem active
2.6. Organisasi dan Manajemen 2.6.1. Struktur Organisasi Perusahaan
Struktur organisasi adalah susunan komponen-komponen (unit-unit) kerja
dalam organisasi. Struktur organisasi menunjukkan adanya pembagian kerja dan
menunjukkan bagaimana fungsi-fungsi atau kegiatan-kegiatan yang berbeda-beda
tersebut dikoordinasikan. Selain daripada itu, struktur organisasi juga
menunjukkan spesialiasi-spesialisasi pekerjaan, saluran perintah, dan
penyampaian laporan.
Suatu sistem pengorganisasian pada unit yang berbeda-beda memerlukan
struktur organisasi yang dapat mempersatukan seluruh sumberdaya dengan cara
yang teratur. Dengan struktur organisasi tersebut diharapkan setiap personil yang
ada didalam organisasi dapat diarahkan sehingga mendorong mereka
melaksanakan aktifitas masing-masing dengan baik dan mendukung tercapainya
sasaran perusahaan dengan efektif dan efisien.
Struktur organisasi dari PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate berbentuk
struktur organisasi campuran lini, fungsional dan staff. Sruktur lini merupakan
struktur dimana didalamnya terdapat pembagian kerja berdasarkan wilayah /divisi
kebun dan kantor Medan dan Jakarta. Struktur fungsional merupakan struktur
organisasi dimana wewenang dari pimpinan tertinggi dilimpahkan kepada
bawahan berdasarkan fungsi-fungsi kerja dengan keahlian khusus, dan hubungan
staff merupakan hubungan atasan dengan staff khusus. Struktur Organisasi PT.
2.7. Tenaga Kerja dan Jam Kerja 2.7.1. Tenaga Kerja
Tenaga kerja pada PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate terdiri atas
beberapa bagian. Bagian tersebut diantaranya, bagian Factory meliputi
processing, engineering, QC (Quality Control), transportasi dan head office.
Bagian lain diantaranya, bagian lapangan, rumah sakit dan keamanan. Perekrutan
tenaga kerja diatur oleh perusahaan, demikian juga penempatannya (tenaga kerja
tetap atau dikontrak sesuai dengan kebutuhan). Tenaga kerja kontrak biasanya
berasal dari tenaga kerja lokal dan pada level karyawan, upahnya dibayar
berdasarkan hari kerja (Daily Paid).
Tenaga kerja asing ditempatkan pada level Top Management, yaitu pada
posisi President Director, Director serta Factory Manager. Pada saat ini
President Director dijabat oleh G.L. Igot, Production Director oleh Joji
Yatsunami, Finance Director oleh Seiji Inoue dan Factory Manager dijabat oleh
Hajime Kondo. Proses perekrutan tenaga kerja asing dilakukan oleh pimpinan
perusahaan Bridgestone di Tokyo Jepang. Pada saat ini pimpinan perusahaan
Bridgestone di Jepang dipimpin oleh Shigeo Watanabe sebagai Chairman Of The
Board.
Tenaga kerja pada PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate dikelompokkan
berdasarkan Pimpinan, staff serta karyawan. Berdasarkan sistem pembayaran
karyawan dikelompokkan menjadi 3, yaitu karyawan tetap, karyawan lepas dan
free labor. Karyawan tetap biasanya digaji setiap bulannya (monthly paid),
setiap 2 minggu sekali atau pada periode pembayaran yang telah ditentukan. Jenis
pekerja free labor tidak memiliki keterkaitan dengan perusahaan apabila periode
pekerjaannya telah selesai.
Jumlah karyawan pada PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate setiap
bulannya berubah, hal ini diakibatkan perubahan jumlah karyawan tidak tetap
yang berubah setiap bulannya. Jumlah tenaga kerja pada PT. Bridgestone Sumatra
Rubber Estate pada akhir Januari 2010 dapat dilihat pada Tabel 2.2. dan jumlah
karyawan pada akhir Februari 2010 pada Tabel 2.3.
Tabel 2.2. Jumlah Karyawan PT. BSRE Bulan Januari 2010
No Bagian Jumlah (Orang)
1 Exprative 5
2 Full Staff 84
3 Staff Contract 5
4 GRD Training 1
5 Apprentice 75
6 MP Contract 5
7 Karyawan
a. Monthly Paid (MP) 4122
b. Daily Paid (DP) 1266
Jumlah 5.563
Tabel 2.3. Jumlah Karyawan PT. BSRE Bulan Februari 2010
No Bagian Jumlah (Orang)
1 Exprative 5
2 Full Staff 84
3 Staff Contract 5
4 GRD Training 1
5 Apprentice 75
6 MP Contract 5
7 Karyawan
a. Monthly Paid (MP) 4149
b. Daily Paid (DP) 1263
Jumlah 5.587
Sumber : PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate Dolok Merangir
2.7.2. Jam Kerja
Pembagian jam kerja pada PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate dibagi
menjadi 2, yaitu berdasarkan shift dan tidak berdasarkan shift. Shift dibagi menjadi
3, yaitu shift I, shift II dan shift III. Berdasarkan Syarat Kerja Umum (SKU)
setiap pekerja mempunyai syarat maksimum 7-8 jam kerja/ hari dan bekerja 6
hari/ minggu. Apabila waktu kerja lebih dari 8 jam kerja, maka jam kerja
berikutnya terhitung sebagai lembur.
Ketentuan kerja pada PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate adalah
a. Tidak Berdasarkan shift
Senin-jumat
• Waktu Kerja Pukul 07.00-12.00
• Waktu Istirahat Pukul 12.00-13.30
• Waktu Kerja Pukul 13.30-16.00
Sabtu
• Waktu Kerja Pukul 07.00-12.00
b. Berdasarkan Shift
• Shift I Pukul 07.00 - 15.00
• Shift II Pukul 15.00 - 23.00
• Shift III Pukul 23.00 - 07.00
Bagi karyawan shift yang bekerja dibagian produksi, karyawan diberi izin
beristirahat setiap 11/2 selama periode 8 jam bekerja. Penggantian shift dilakukan
setiap seminggu, hal ini dilakukan agar pekerja tidak terlalu letih dan jenuh
terhadap jam kerja.
2.8. Sistem Pengupahan dan Fasilitas Lainnya 2.8.1. Sistem Pengupahan
Sistem pengupahan pada PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate
dibedakan berdasarkan golongan, jabatan serta latar belakang pendidikan. Bagi
para karyawan sistem pengupahan dibagi menjadi yaitu monthly paid, daily paid
dan free labor. Pengaturan sistem pengupahan untuk monthly paid, daily paid
1. Sistem pembayaran Daily Paid, karyawan pada kategori ini dibayar
berdasarkan hari kerja dan upahnya dibayarkan setiap 2 minggu sekali.
Besarnya upah harian berdasarkan kesepakatan yang dibuat oleh PT.
Bridgestone dengan pekerja mengenai upah harian lepas.
2. Sistem pembayaran Monthly Paid, karyawan pada kategori ini upah
dibayarkan setiap bulannya berdasarkan Upah Minimum Regional (UMR).
Karyawan. Monthly Paid merupakan karyawan tetap yang mendapat
fasilitas kesehatan maupun perumahan.
3. Free Labor
Pekerja dengan jenis ini memiliki masa periode kerja yang telah
ditentukan. Apabila periode kerja telah habis, maka perusahaan tidak
memiliki keterkaitan dengan pekerja tersebut. Untuk jenis pekerja free
labor upah yang dibayarkan sebesar Rp. 625.000,00/ bulan.
Selain upah regular, upah lembur juga diberikan apabila kerja lembur
dilakukan atas permintaan perusahaan. Kerja lembur biasa dilakukan apabila
target produksi belum terpenuhi.
2.8.2. Fasilitas Lainnya
Fasilitas-fasilitas yang diperoleh karyawan dibedakan menurut golongan
dan jabatan masing-masing. Adapun fasilitas-fasilitas yang diberikan oleh PT.
Bridgestone Sumatra Rubber Estate secara umum adalah :
1. PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate memberikan perumahan bagi
2. Jaminan terhadap keamanan rumah karyawan dengan disediakannya
penjaga keamanan di sekitar kompleks perumahan.
3. Penyediaan sarana kesehatan berupa fasilitas rumah sakit bagi karyawan
dan keluarga.
4. Setiap karyawan diikut sertakan dalam keanggotaan Jamsostek (Jaminan
Sosial Tenaga Kerja)
5. Sarana pendidikan bagi anak karyawan berupa transportasi sekolah
maupun beasiswa bagi anak yang berprestasi.
6. Pemberian beras kepada karyawan yang dilakukan setiap 1 bulan sekali.
7. Pemberian Tunjangan Hari Raya (THR), sebesar 2 bulan gaji ditambah
dengan uang bonus
8. Pemberian uang extra fooding pada karyawan setiap 1 bulan sekali
9. Pemberian uang bahan bakar kendaraan setiap 1 bulan sekali, dan untuk
karyawan yang bekerja di lapangan diberikan kendaraan
10.Pemberian Bonus kepada staff berupa PIN setiap 5 tahun sekali. PIN dapat
berupa uang ataupun barang berharga.
11.Setiap karyawan diikutsertakan dalam keanggotaan koperasi.
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1. Definisi Ergonomi
Ergonomi adalah ilmu, seni dan penerapan teknologi untuk menyerasikan
atau menyeimbangkan antara segala aktivitas yang digunakan baik dalam
beraktivitas maupun istirahat dengan kemampuan dan keterbatasan manusia baik
fisik maupun mental sehingga kualitas hidup secara keseluruhan menjadi lebih
baik (Tarwaka, dkk, 2004 : 6).
Menurut Eko Nurmianto (1996 : 1), definisi ergonomi adalah studi tentang
aspek-aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anantomi,
fisiologi, psikologi, engineering, manajemen dan desain/perancangan serta
evaluasi dari sebuah produk.
Peranan ergonomi pada umumnya merupakan aktivitas rancang bangun
(desain) ataupun rancang ulang (re-desain). Ergonomi dapat berperan pula sebagai
desain pekerjaan pekerjaan pada suatu organisasi, misalnya penentuan jumlah jam
istirahat, pemilihan jadwal pergantian waktu kerja (shift kerja), meningkatkan
variasi pekerjaan, dan lain-lain. Disamping itu ergonomi juga memberikan
peranan penting dalam meningkatkan faktor keselamatan dan kesehatan kerja,
misalnya desain suatu sistem kerja untuk mengurangi rasa nyeri dan ngilu pada
sistem rangka dan otot manusia, desain stasiun kerja untuk peragaan visual (visual
3.2. Tujuan Ergonomi
Secara umum tujuan dari penerapan ergonomi menurut Tarwaka, dkk
(2004 : 7) adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan
cidera dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental,
mengupayakan promosi dan kepuasan kerja.
2. Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontak sosial,
mengelola dan mengkoordinir kerja secara tepat guna dan meningkatkan
jaminan sosial baik selama kurun waktu usia produktif maupun setelah tidak
produktif.
3. Menciptakan keseimbangan rasional antara berbagai aspek yaitu aspek teknis,
ekonomis, antropologis dan budaya dari setiap sistem kerja yang dilakukan
sehingga tercipta kualitas hidup yang tinggi.
Konsep Keseimbangan Dalam Ergonomi
Ergonomi merupakan suatu ilmu, seni dan teknologi yang berupaya untuk
menyerasikan alat, cara dan lingkungan kerja terhadap kemampuan, kebolehan
dan segala keterbatasan manusia, sehingga manusia dapat berkarya secara optimal
tanpa pengaruh buruk dari pekerjaannya. Dari sudut pandang ergonomi, antara
tuntutan tugas dengan kapasitas kerja harus selalu dalam garis keseimbangan
sehingga dicapai performansi kerja yang tinggi. Dalam kata lain, tuntutan tugas
tidak boleh terlalu rendah (underload) dan juga tidak boleh terlalu berlebihan
menyebabkan stress. Konsep keseimbangan antara kapasitas kerja dengan
[image:45.595.115.509.169.378.2]tuntutan tugas tersebut dapat diilustrasikan pada Gambar 3.1 berikut.
Gambar 3.1 Konsep Dasar Keseimbangan dalam Ergonomi
(Sumber: Manuaba, 2000 dalam Tarwaka, dkk 2004 : 8)
a. Kemampuan Kerja (Work Capacity) Kemampuan seseorang sangat ditentukan
oleh:
1. Personal Capacity (Karakteristik Pribadi); meliputi faktor usia, jenis
kelamin, antropometri, pendidikan, pengalaman, status sosial, agama dan
kepercayaan.
2. Physicological Capacity (Kemampuan Fisiologis); meliputi kemampuan
dan daya tahan cardio-vaskuler, syaraf otot, panca indera.
3. Biomechanical Capacity (Kemampuan Biomekanik) berkaitan dengan
kemampuan dan daya tahan sendi dan persendian, tendon dan jalinan
b. Tuntutan Tugas (Task Demand) Tuntutan tugas pekerjaan /aktivitas tergantung
pada:
1. Task and Material Characteristic (Karakteristik tugas dan Material):
ditentukan oleh karakteristik peralatan dan mesin, tipe, kecepatan dan
irama kerja.
2. Organization Characteristic: berhubungan dengan jam kerja dan jam
istirahat, shift kerja, cuti dan libur, manajemen.
3. Environmental Characteristic: berkaitan dengan teman setugas, kondisi
lingkungan kerja fisik, norma, adat kebiasaan dan sosial-budaya.
c. Performansi (Performance) Permormansi atau tampilan seseorang sangat
tergantung kepada rasio besarnya tuntutan tugas dengan besarnya kemampuan
yang bersangkutan. Dengan demikian, apabila:
1. Bila rasio tuntutan tugas (Task Demand) lebih besar dari pada Kapasitas
kerja (Work Capacity), maka hasil akhirnya berupa: ketidaknyamanan
overstress, kelelahan, kecelakaan, cidera, rasa sakit dan tidak produktif.
2. Bila rasio tuntutan tugas (Task Demand) lebih rendah dari pada Kapasitas
kerja (Work Capacity), maka hasil akhirnya berupa: undertress, kebosanan,
kejemuan, kelesuan, sakit dan tidak produktif.
3. Agar penampilan menjadi optimal maka perlu adanya keseimbangan
dinamis (Task Demand = Work Capacity) sehingga tercapai kondisi
3.4. Fisiologi
Kriteria fisiologis dari kegiatan manusia biasanya ditentukan berdasarkan
kecepatan denyut jantung dan pernafasan. Usaha untuk menentukan besarnya
tenaga yang setepat-tepatnya berdasarkan kriteria ini agak sulit karena perubahan
fisik dari keadaan normal menjadi keadaan fisik yang aktif akan melibatkan
beberapa fungsi fisiologis yang lain, seperti tekanan darah, peredaran udara dalam
paru-paru, jumlah oksigen yang digunakan, jumlah karbondioksida yang
digunakan, temperatur badan, banyaknya keringat dan komposisi kimia dalam
urine darah. Secara lebih luas dapat dikatakan bahwa kecepatan jantung dan
kecepatan pernafasan dipengaruhi oleh tekanan fisiologis, tekanan oleh
lingkungan, atau oleh tekanan akibat kerja keras, dimana ketiga tekanan tersebut
sama pengaruhnya. Sehingga apabila kecepatan denyut jantung seseorang
meningkat, akan sulit ditentukan apakah akibat kerja, akibat rasa takut atau akibat
temperatur ruangan yang terlalu panas. Dengan demikian pengukuran berdasarkan
kriteria Fisiologis dapat digunakan apabila faktor-faktor yang berpengaruh
tersebut kecil, atau situasi kerjanya harus dalam keadaan normal.
Pengukuran berdasarkan kecepatan denyut jantung akan mudah dilakukan
tetapi pengukuran ini kurang tepat dibandingkan dengan konsumsi oksigen karena
lebih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor individu, seperti emosi, kondisi fisik,
kelamin, dan lain-lain. Sehubungan dengan pekerjaannya sendiri, terdapat banyak
faktor yang mempengaruhi besarnya pengeluaran tenaga selama bekerja,
diantaranya cara melaksanakan kerjanya, kecepatan kerjanya, sikap pekerja,
3.5. Beban Kerja
Tubuh manusia dirancang untuk dapat melakukan aktivitas pekerjaan
sehari-hari. Adanya massa otot yang bobotnya hampir lebih dari separuh beban
tubuh, memungkinkan kita untuk dapat menggerakkan dan melakukan pekerjaan.
Pekerjaan disatu pihak mempunyai arti penting bagi kemajuan dan peningkatan
prestasi, sehingga mencapai kehidupan yang produktif sebagai satu tujuan hidup.
Dipihak lain, bekerja berarti tubuh akan menerima beban dari luar tubuhnya.
Dengan kata lain bahwa setiap pekerjaan merupakan beban bagi yang
bersangkutan. Beban tersebut dapat berupa beban fisik maupun mental.
Dari sudut pandang ergonomi, setiap beban kerja yang diterima oleh
seseorang harus sesuai atau seimbang baik dalam kemampuan fisik, maupun
kognitif, maupun keterbatasan manusia yang menerima beban tersebut.
Kemampuan kerja seorang tenaga kerja berbeda dari satu kepada yang lainnya dan
sangat tergantung dari tingkat ketrampilan, kesegaran jasmani, usia dan ukuran
tubuh dari pekerja yang bersangkutan.
3.5.1. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Beban Kerja
Menurut Rodhal (1989), Adiputra (1998) dan Manuaba (2000) dalam
Tarwaka, dkk (2004 : 95), bahwa secara umum hubungan antara beban kerja dan
kapsitas kerja dipengaruhi oleh berbagai faktor yang sangat kompleks, baik faktor
a. Beban Kerja Oleh Karena Faktor Eksternal
Faktor eksternal beban kerja adalah beban kerja yang berasal dari luar
tubuh pekerja, meliputi:
1. Tugas-tugas (task) Meliputi tugas bersifat fisik seperti, stasiun kerja, tata
ruang tempat kerja, kondisi lingkungan kerja, sikap kerja, cara angkut, beban
yang diangkat. Sedangkan tugas yang bersifat mental meliputi, tanggung
jawab, kompleksitas pekerjaan, emosi pekerja dan sebagainya.
2. Organisasi Kerja Organisasi kerja meliputi lamanya waku kerja, waktu
istirahat, shift kerja, sistem kerja dan sebagainya.
3. Lingkungan Kerja Lingkungan kerja ini dapat memberikan beban tambahan
yang meliputi, lingkungan kerja fisik, lingkungan kerja kimiawi, lingkungan
kerja biologis dan lingkungan kerja psikologis.
b. Beban Kerja Oleh Karena Faktor Internal
Faktor internal beban kerja adalah faktor yang berasal dari dalam tubuh
akibat adanya reaksi dari beban kerja eksternal yang berpotensi sebagai stressor,
meliputi:
1. Faktor somatis (jenis kelamin, umur, ukuran tubuh, status gizi, kondisi
kesehatan, dan sebagainya).
2. Faktor psikis (motivasi, persepsi, kepercayaan, keinginan, kepuasan, dan
3.5.2. Penilaian Beban Kerja Fisik
Menurut Astrand and Rodhal (1977) dalam Tarwaka, dkk bahwa penilaian
beban kerja dapat dilakukan dengan dua metode secara objektif, yaitu metode
penilaian langsung dan metode penilaian tidak langsung.
a. Metode Penilaian Langsung
Metode pengukuran langsung yaitu dengan mengukur energi yang
dikeluarkan (energy expenditure) melalui asupan oksigen selama bekerja.
Semakin berat beban kerja akan semakin banyak energi yang diperlukan untuk
dikonsumsi. Meskipun metode pengukuran asupan oksigen lebih akurat, namun
hanya dapat mengukur untuk waktu kerja yang singkat dan diperlukan peralatan
yang mahal.
Berikut adalah kategori beban kerja yang didasarkan pada metabolisme,
respirasi suhu tubuh dan denyut jantung menurut Christensen (1991) pada tabel
3.1 berikut:
Tabel 3.1. Kategori Beban Kerja Berdasarkan Metabolisme, respirasi, Suhu Tubuh dan denyut Jantung
Kategori Beban Kerja
Konsumsi Oksigen
(l/min)
Ventilasi Paru (l/min)
Suhu Rektal (0C)
Denyut Jantung (denyut/min)
Ringan 0,5 – 1,0 11 - 20 37,5 75 -100
Sedang 1,0 – 1,5 20 - 30 37,5 – 38,0 100 - 125
Berat 1,5 – 2,0 31 - 43 38,0 – 38,5 125 - 150
Sangat Berat 2,0 – 2,5 43 - 56 38,5 – 39,0 150 - 175
Sangat Berat
Sekali 2,5 – 4,0 60 -100 >39 >175
Tabel 3.2. Konsumsi Oksigen Maksimum (VO2 max) mL/(Kg-min)
Kategori Umur (Tahun)
< 30 30 - 39 40 - 49 > 50
Sangat Buruk < 25,0 < 25 < 25,0 -
Buruk 25,0 – 33,7 25,0 – 30,1 25,0 – 26,4 25,0 Biasa 33,8 – 42,5 30,2 – 39,1 26,5 – 35,4 25,0 – 33,7 Baik 42,6 – 51,5 39,2 – 48,0 35,5 – 45,5 33,8 – 43,0 Sangat Baik > 51,6 > 48,1 > 45,1 > 43,1 Sumber: Konz (1996). Phsyiology of Body Movement. Kansas State University
Dalam penentuan konsumsi energi biasanya digunakan suatu bentuk
hubungan energi dengan kecepatan denyut jantung yaitu sebuah persamaan regresi
kuadratis sebagai berikut:
E = 1.80411 – 0.0229038 X + 4,71733 x 10−4 X2
Dimana:
E = Energi (Kkal/menit)
X = Kecepatan denyut jantung/nadi (denyut/menit)
Sumber: Jurnal Teknologi ACADEMIA ISTA (vol 12 Agusstus 2007)
b. Metode Penilaian Tidak Langsung
Metode penilaian tidak langsung adalah dengan menghitung denyut nadi
selama bekerja. Pengukuran denyut jantung selama bekerja merupakan suatu
metode untuk menilai cardiovasculair strain dengan metode 10 denyut (Kilbon,
1992) dimana dengan metode ini dapat dihitung denyut nadi kerja sebagai berikut:
Denyut Nadi (Denyut/Menit) = 10 x60
n Perhitunga Waktu
Denyut
Penggunaan nadi kerja untuk menilai berat ringannya beban kerja
tidak diperlukan peralatan yang mahal serta hasilnya pun cukup reliabel dan tidak
menganggu ataupun menyakiti orang yang diperiksa.
Denyut nadi untuk mengestimasi indek beban kerja fisik terdiri dari
beberapa jenis yaitu:
1. Denyut Nadi Initial (DNI) adalah rerata denyut nadi sebelum pekerjaan
dimulai.
2. Denyut Nadi Kerja (DNK) adalah rerata denyut nadi selama bekerja.
3. Nadi Kerja (NK) adalah selisih antara denyut nadi initial dengan denyut nadi
kerja.
Peningkatan denyut nadi mempunyai peranan yang sangat penting didalam
peningkatan cardiat output dari istirahat sampai kerja maksimum. Peningkatan
yang potensial dalam denyut nadi dari istirahat sampai kerja maksimum oleh
Rodahl (1989) dalam Tarwaka, dkk (2004:101) didefinisikan sebagai Heart Rate
Reverse (HR Reverse) yang diekspresikan dalam presentase yang dapat dihitung
menggunakan rumus sebagai berikut.
% HR Reverse = x100
DNI DN
DNI DNK
Max− −
Denyut Nadi Maksimum (DNMax) adalah:
(220 – umur) untuk laki-laki dan (200 – umur) untuk perempuan
Lebih lanjut untuk menentukan klasifikasi beban kerja bedasarkan
peningkatan denyut nadi kerja yang dibandingkan dengan denyut nadi maksimum
karena beban kardiovaskuler (cardiovasculair load = % CVL) dapat dihitung
% CVL =
DNI DN
DNI DNK x
Max− − 100
Dari hasil perhitungan % CVL tersebut kemudian di bandingkan dengan
klasifikasi yang telah ditetapkan sebagai berikut:
Tabel 3.3. Klasifikasi Berat Ringan Beban Kerja Berdasar % CVL
% CVL % CVL
< 30 % Tidak terjadi kelelahan
30 % - 30 % Diperlukan Perbaikan
30 % - 30 % Kerja dalam waktu singkat
30 % - 30 % Diperlukan tindakan segera
> 100 % Tidak diperbolehkan beraktivitas
Selain cara tersebut diatas cardivasculair strain dapat diestimasi
menguunakan denyut nadi pemulihan (heart rate recovery) atau dikenal dengan
Metode Brouha. Keuntungan metode ini adalah sama sekali tidak menganggu atau
menghentikan pekerjaan, karena pengukuran dilakukan setelah subjek berhenti
bekerja. Denyut nadi pemulihan (P) dihitung pada akhir 30 detik menit pertama,
kedua dan ketiga (P1, P2, P3). Rerata dari ketiga nilai tersebut dihubungkan
dengan total cardiac cost dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Jika P1 – P3 ≥ 10 atau P1, P2, P3 seluruhnya < 90, nadi pemulihan normal.
2. Jika rerata P1 yang tercatat ≤ 110, dan P1 – P3 ≥ 10, maka beban kerja tidak
berlebihan (not excessive).
3. Jika P1 – P3 < 10 dan Jika P3 > 90, perlu redesaian pekerjaan.
Laju pemulihan denyut nadi dipengaruhi oleh nilai absolute denyut nadi
pada ketergantungan pekerjaan (the interruption of work), tingkat kebugaran
(individual fitness) dan pemaparan lingkungan panas. Jika pemulihan nadi tidak
fisik. Redesain tersebut dapat berupa variabel tunggal maupun variabel
keseluruhan dari variabel bebas task (tugas), organisasi kerja dan lingkungan kerja
yang menyebabkan beban kerja tambahan.
3.6. Kelelahan Kerja
Kelelahan adalah suatu mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh
terhindar dari kerusakan lebih lanjut sehingga terjadi pemulihan setelah istirahat.
Istilah kelelahan biasanya menunjukkan kondisi yang berbeda-beda dari setiap
individu, tetapi semuanya bermuara kepada kehilangan efisiensi dan penurunan
kapasitas kerja serta ketahanan tubuh.
Terdapat dua jenis kelelahan, yaitu kelelahan otot dan kelelahan umum.
Kelelahan otot merupakan tremor pada otot atau perasaan nyeri pada otot,
sedangkan kelelahan umum ditandai dengan berkurangnya kemauan untuk bekerja
yang disebabkan oleh monotoni (pekerjaan yang sifatnya monoton), intensitas dan
lamanya kerja fisik, keadaan lingkungan, kondisi mental dan psikologis, status
kesehatan, dan gizi. Pengaruh-pengaruh tersebut terakumulasi di dalam tubuh
manusia dan menimbulkan perasaan lelah yang dapat menyebabkan seseorang
berhenti bekerja (beraktivitas). Kelelahan dapat diatasi dengan beristirahat untuk
menyegarkan tubuh. Apabila kelelahan tidak segera diatasi dan pekerja dipaksa
untuk terus bekerja, maka kelelahan akan semakin parah dan dapat mengurangi
produktivitas pekerja. Kelelahan sama halnya dengan keadaan lapar dan haus
Di samping kelelahan otot dan kelelahan umum, Grandjean (1988) juga
mengklasifikasikan kelelahan ke dalam 7 bagian yaitu:
1. Kelelahan visual, yaitu meningkatnya kelelahan mata
2. Kelelahan tubuh secara umum, yaitu kelelahan akibat beban fisik yang
berlebihan
3. Kelelahan mental, yaitu kelelahan yang disebabkan oleh pekerjaan mental atau
intelektual
4. Kelelahan syaraf, yaitu kelelahan yang disebabkan oleh tekanan berlebihan
pada salah satu bagian sistem psikomotor, seperti pada pekerjaan yang
membutuhkan keterampilan
5. Kelelahan karena pekerjaan yang bersifat monoton
6. Kelelahan kronis, yaitu kelelahan akibat akumulasi efek jangka panjang
7. Kelelahan sirkadian, yaitu bagian dari ritme siang-malam, dan memulai
periode tidur yang baru
Sampai saat ini masih berlaku dua teroi tentang kelelahan otot, yaitu teori
kimia dan teori syaraf pusat. Teori kimia menjelaskan bahwa terjadinya kelelahan
adalah akibat berkurangnya cadangan energi dan meningkatnya sisa metabolisme
sebagai penyebab hilangnya efisiensi otot. Suma’mur menyatakan bahwa
produktivitas mulai menurun setelah empat jam bekerja terus menerus (apapun
jenis pekerjaannya) yang disebabkan oleh menurunnya kadar gula di dalam darah.
Itulah sebabnya istirahat sangat diperlukan minimal setengah jam setelah empat
jam bekerja terus menerus agar pekerja memperoleh kesempatan untuk makan dan
Teori syaraf pusat menjelaskan bahwa bahwa perubahan kimia hanya
merupakan penunjang proses. Perubahan kimia yang terjadi menyebabkan
dihantarkannya rangsangan syaraf melalui syaraf sensoris ke otak yang disadari
sebagai kelelahan otot. Rangsangan ini menghambat pusat-pusat otak dalam
mengendalikan gerakan sehingga frekuensi potensial kegiatan pada sel syaraf
menjadi berkurang dan menyebabkan menurunnya kekuatan dan kecepatan
kontraksi otot serta gerakan atas perintah menjadi lambat. Sehingga semakin
lambat gerakan seseorang menunjukkan semakin lelah kondisi seseorang.
Berikut ini merupakan gejala-gejala atau perasaan-perasaan yang menjadi
patokan datangnya kelelahan.
1. Perasaan berat di kepala, menjadi lelah seluruh badan, kaki terasa berat,
menguap, pikiran terasa kacau, mengantuk, mata terasa “berat”, kaku dan
canggung dalam gerakan, tidak seimbang dalam berdiri, dan merasa ingin
berbaring.
2. Merasa susah berpikir, lelah berbicara, menjadi gugup, tidak dapat
berkonsentrasi, tidak dapat memperhatikan sesuatu, cenderung lupa, kurang
kepercayaan diri, cemas terhadap sesuatu, tidak dapat mengontrol sikap, dan
tidak dapat tekun dalam pekerjaan.
3. Sakit kepala, kekakuan bahu, merasa nyeri di punggung, pernapasan tertekan,
haus, suara serak, merasa pusing, spasme dari kelopak mata, tremor pada
Gejala-gejala yang termasuk kelompok 1 menunjukkan pelemahan
kegiatan, kelompok 2 menunjukkan pelemahan motivasi dan kelompok 3
menunjukkan kelelahan fisik akibat psikologis.
Untuk mengurangi tingkat kelelahan maka harus sikap kerja statis harus
dihindari dan diupayakan sikap kerja yang lebih dinamis. Hal ini dapat dilakukan
dengan merubah sikap kerja yang statis menjadi sikap kerja yang lebih bervariasi
atau dinamis, sehingga sirkulasi darah dan oksigen dapat berjalan normal ke
seluruh anggota tubuh. Sedangkan untuk menilai tingkat kelelahan seseorang
dapat dilakukan pengukuran kelelahan secara tidak langsung baik secara objektif
maupun subjektif.
3.6.1. Proses Terjadinya Kelelahan
Selama tubuh melakukan pekerjaan yang berat maka tubuh akan
berkompetisi dengan melakukan proses yang berlangsung amat cepat, akibatnya
tubuh dapat kekurangan oksigen.
Pada saat inin glikogen akan dirombak atau dipergunakan sebagai energi
melalui proses yang bersifat anaeorobic/glikolisis yang berakhir dengan
pembentukkan asam laktat. Akan tetapi bila telah cukup istirahat berarti juga
tubuh mendapat cukup oksigen, maka hati dapat mengubah kembali asam laktat
menjadi glikogen (glikogen hati), peristiwa ini disebut proses glikoneogenesis dan
selanjutnya bila perlu dapat terjdi proses glikogenolisis yaitu glikogen dapat
diubah menjadi glukosa bebas yang beredar dalam darah. Keseluruhan proses
perubahan yang sifatnya reversible ini terhambat karena tubuh tidak menerima
cukup oksigen, maka akan terjadi penumpukkan asam laktat dalam otot yang
menyebabkan terjadinya kelelahan otot, keadaan ini disebut fatique (rigor otot)
karena terjadinya proses aksidifikasi (keasaman) oleh asam laktat.
3.6.2. Langkah-langkah Mengatasi Kelelahan
Adapun beberapa langkah untuk mengatasi kelelahan adalah sebagai
berikut :
1. Sediakan kalori secukupnya sebagai input untuk tubuh.
2. Bekerja dengan menggunakan metode kerja yang baik, misalnya bekerja
dengan menggunakan prinsip ekonomi gerakan.
3. Memperhatikan kemampuan tubuh, artinya pengeluaran tenaga tidak melebihi
pemasukannya dengan memperhatikan batasan-batasan.
4. Memperhatikan waktu kerja yang teratur. Berarti harus dilakukan pengaturan
terhadap jam kerja, waktu istirahat dan sarana-sarananya, masa libur, rekreasi,
dan lain-lain.
5. Mengatur lingkungan fisik sebaik-baiknya, seperti temperatur, kelembaban,
warna, sirkulasi udara, kebisingan, dan lain-lain.
6. Berusaha mengurangi monotoni dan ketegangan akibat kerja, misalnya dengan
menggunakan warna dan dekorasi ruangan kerja, menyediakan musik,
Konsumsi Oksigen
Jika 1 liter oksigen dikonsumsikan oleh tubuh, maka tubuh akan
mendapatkan energi dari oksigen sebesar 4,8 Kkal. Pengertian 1 Kkal adalah
jumlah panas yang dibutuhkan untuk menaikkan 1 liter air dari tubuh 14,5 0C.
Pada orang yang bekerja berat menurut Astrand yang dikutip Eko Nurmianto
(1998) bahwa kerja berat akan menyebabkan kekurangan oksigen (oxygen debt)
setelah 5 menit aktivitas berlangsung. Jika bekerja terus –menerus, maka terjadi
akumulasi oxygen debt yang selanjutnya terjadi metabolisme aneorobik.
Akumulasi kekurangan oksigen karena digunakan selama kerja akan diterima
(dipulihkan kembali) ketika beristirahat yang selanjutnya tubuh akan menjadi
segar kembali.
Selain denyut nadi dan kebutuhan energi dalam perancangan sistem kerja
juga perlu diperkirakan jumlah kebutuhan oksigen yang dapat dihitung dengan
rumus:
Konsumsi Oksigen =
+