SISTEM MANAJEMEN K3
5.4 Pengukuran dan Evaluasi
Proyek harus mempunyai sistem pemantau kinerja sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja dan analisa hasilnya, untuk menentukan keberhasilan atau bilamana perlu untuk perbaikan seperti :
▪ Adanya perkembangan teknologi terutama peralatan kerja termasuk epidemiologi
▪ Pengalaman dari insiden keselamatan dan kesehatan kerja yang telah terjadi.
▪ Sistem pelaporan.
▪ Umpan balik terutama khususnya dari tenaga kerja.
▪ Pemantauan dilakukan secara berkala
▪ Tindakan perbaikan dari hasil pemantauan sistem manajemen K3.
5.5 Organisasi
Keselamatan dan kesehatan kerja adalah hak bagi tenaga kerja (UU RI No 13 Tahun 2003 Pasal 86 ayat (1). dalam usaha untuk mencapai tujuan pencegahan kecelakaan kerja, maka harus didukung oleh penugasan personel-personel yang bertanggung jawab atas keselamatan dan kesehatan kerja dan pengawas Ahli keselamatan kerja
Menurut Peraturan Menteri tenaga Kerja No PER/03/MEN/1978 Pasal 5 ayat (2) adalah:
▪ Mengadakan pemeriksaan di semua tempat kerja
▪ Menelaah dan meneliti segala perlengkapan K3
▪ Memberi petunjuk segala persyaratan K3, dan
▪ Membuat laporan kepada Pemimpin perusahaan.
Pemimpin proyek adalah penanggung jawab tertinggi atas keselamatan dan kesehatan kerja dalam organisasi dan manajemen konstruksi. Pejabat Superintendant dan mandor bertugas dan bertanggung jawab untuk melaksanakan kegiatan program keselamatan dan kesehatan kerja disamping tugas pokoknya.
Sebagai Koordinator dalam melaksanakan kegiatan program keselamatan dan kesehatan kerja, perlu ada penugasan kepada seorang ahli keselamatan kerja (Safety Engineer). Untuk mengatasi dan memberikan pertolongan pertama jika terjadi kecelakaan kerja atau ada yang sakit serius yang mendadak diperlukan tim kesehatan yang dilengkapi dengan fasilitas pengobatan yang memadai dan mobil ambulance.
Pada proyek yang memperkerjakan lebih dari 25 orang setiap hari harus mempunyai pelaksana keselamatan kerja (safety officer) yang bersertifikat tenaga ahli K3.
Dan bila jumlah pekerja lebih dari 250 pekerja maka petugas ahli keselamatan kerja (safety officer) bekerja secara full timer.
Organisasi K3 Kontraktor (Penyedia Jasa) terdiri dari satu orang atau lebih tenaga ahli K3 bidang konstruksi. Hal ini tergantung dari besar dan rumitnya pekerjaan sumber daya air. Ahli K3 Konstruksi yang ditugaskan oleh Kontraktor (penyedia jasa) disebut Pelaksana K3 ( Construction safety engineer )
Ahli K3 Konstruksi yang ditugaskan oleh Proyek Sumber Daya Air (pengguna jasa) disebut Pengawas K3 (Construction safety officer)
Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) dibentuk pada proyek tersebut apabila :
a. Pada proyek yang karena lingkungannya dan sifat pekerjaannya memerlukan P2K3;
b. Proyek bendungan yang memperkerjakan lebih dari 100 orang.
Tugas P2K3 adalah membuat evaluasi berkala (mingguan, bulanan) hasil kegiatan K3 dan memberikan saran-saran pelaksanaan K3 Konstruksi sumber daya air.
Pengguna Jasa/Pemilik Pekerjaan menugaskan stafnya selaku Pengawas K3 konstruksi sumber daya air dan bertugas mengawasi pelaksanaan K3 di proyek tersebut.
Susunan organisasi Panitya Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja terdiri dari :
a. Wakil Departemen atau Wakil Dinas Kimpraswil / Dinas Prasarana Sumber Daya Air setempat.
b. Pemimpin Proyek Sumber Daya Air c. Pengawas K3
d. Pelaksana K3
Pemimpin Proyek Sumber Daya Air selaku Ketua Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja sedangkan Pelaksana K3 selaku Sekretaris.
Pelaksana K3 dan Pengawas K3 adalah petugas yang bersertifikat K3 Konstruksi.
Apabila pada lokasi pembangunan Sumber Daya Air terdapat lebih dari satu penyedia jasa / kontraktor maka masing-masing penyedia jasa / kontraktor mempunyai pelaksana K3 sendiri untuk wilayah kerjanya.
Dalam hal terjadi kecelakaan kerja di lokasi pembangunan sumber daya air maka penyidikan perkara dilakukan oleh Dinas Tenaga Kerja yang bekerja sama dengan Kepolisian setempat.
Ahli K3 Konstruksi Sumber Daya Air terdiri dari :
a. Inspektur K3 Konstruksi (Construction Safety Inspector) adalah Ahli K-3 Konstruksi yang ditempatkan pada jajaran wilayah daerah kabupaten / kota pada institusi yang menerbitkan Ijin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK), dan ini merupakan kewenangan pemerintah untuk menjaga berjalannya ketentuan K-3.
b. Pengawas K3 Konstruksi (Construction Safety Officer) adalah Ahli K-3 Konstruksi yang berada pada proyek-proyek konstruksi yang mewakili pihak Pengguna Jasa, baik itu milik pemerintah maupun milik swasta, ini merupakan pihak yang mengawasi berjalannya pedoman atau aturan-aturan pada tempat penyelenggaraan konstruksi.
c. Petugas K3 Konstruksi (Construction Safety Engineer) adalah Ahli K3 Konstruksi Bendungan yang bernaung di bawah perusahaan pelaksana konstruksi yang berkewajiban menjalankan norma yang ditetapkan sebagai acuan kerja di bidang K-3.
Unit K3 atau P2K3 tersebut merupakan unit pelaksana dari manajemen proyek pelaksanaan sumber daya air. Petugas Keselamatan dan Kesehatan Kerja harus bekerja secara penuh waktu (full time) untuk mengurus dan menyelenggarakan program keselamatan dan kesehatan kerja yang ditetapkan;
Semua kegiatan penyelenggaraan K3 di tempat kegiatan kerja menjadi tanggung jawab Pemimpin Proyek Pembangunan Sumber Daya Air.
Pemimpin Proyek Sumber Daya Air harus :
a. Memberikan kepada P2K3 (Safety Committee) fasilitas – fasilitas dalam melaksanakan tugas mereka.
b. Mengambil langkah – langkah praktis untuk efektivitas realisasi tindakan perbaikan yang direkomendasikan oleh P2K3.
Jika dua atau lebih Kontraktor (Penyedia Jasa) bergabung dalam suatu proyek konstruksi sumber daya air maka para Kontraktor (Penyedia Jasa) tersebut harus bekerja sama membentuk program Keselamatan dan Kesehatan Kerja bersama;
Ketua P2K3 akibat penggabungan program K3 bersama tersebut pada ayat (2.2.12) di atas menjadi tanggung jawab bersama di bawah Pemimpin Proyek.
Kewajiban Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja :
a. Mengawasi/ atau pelaksanaan peraturan perundangan keselamatan dan kesehatan kerja sesuai dengan bidang yang ditentukan dalam keputusan penunjukannya;
b. Membuat laporan kepada Pembina K3 Konstruksi di daerah yaitu Dinas Kimpraswil dan Dinas Tenaga Kerja setempat dengan ketentuan sebagai berikut :
i. Untuk ahli keselamatan dan kesehatan kerja ditempat kerja konstruksi bendungan 1 (satu) kali dalam 3 ( tiga ) bulan, kecuali ditentukan lain;
ii. Untuk ahli keselamatan dan kesehatan kerja di perusahaan yang memberikan jasa dibidang keselamatan dan kesehatan kerja setiap saat setelah selesai melakukan kegiatannya;
c. Merahasiakan segala keterangan tentang rahasia perusahaan / instansi yang didapat berhubungan dengan jabatannya.
Wewenang Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja :
a. Memasuki tempat kerja sesuai dengan keputusan penunjukan;
b. Meminta keterangan dan atau informasi mengenai pelaksanaan syarat – syarat keselamatan dan kesehatan kerja ditempat kerja sesuai dengan keputusan penunjukannya ;
c. Memonitor, memeriksa, menguji, menganalisa, mengevaluasi dan memberikan persyaratan serta pembinaan keselamatan dan kesehatan kerja yang meliputi : i. Keadaan dan fasilitas tenaga kerja;
ii. Keadaan mesin – mesin, pesawat, alat – alat kerja, instalasi, serta peralatan lainnya;
iii. Penanganan bahan – bahan;
iv. Proses pelaksanaan pekerjaan / produksi;
v. Sifat pekerjaan;
vi. Cara kerja; dan vii. Lingkungan kerja.
Struktur organisasi K3 dapat diintregrasikan kedalam sistem manajemen proyek, seperti gambar berikut.
BAB 6
KOMITMEN DAN KEBIJAKSANAAN