• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELATIHAN AHLI SUPERVISI KONSTRUKSI JARINGAN IRIGASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PELATIHAN AHLI SUPERVISI KONSTRUKSI JARINGAN IRIGASI"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

(1)

PEDOMAN TEKNIS K3, RKL DAN RPL

PELATIHAN

AHLI SUPERVISI KONSTRUKSI JARINGAN IRIGASI

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA PUSAT PEMBINAAN KOMPETENSI DAN PELATIHAN KONSTRUKSI

(2)

KATA PENGANTAR

Usaha dibidang Jasa konstruksi merupakan salah satu bidang usaha yang telah berkembang pesat di Indonesia, baik dalam bentuk usaha perorangan maupun sebagai badan usaha skala kecil, menengah dan besar. Untuk itu perlu diimbangi dengan kualitas pelayanannya. Pada kenyataannya saat ini bahwa mutu produk, ketepatan waktu penyelesaian, dan efisiensi pemanfaatan sumber daya relatif masih rendah dari yang diharapkan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain adalah ketersediaan tenaga ahli/ terampil dan penguasaan manajemen yang efisien, kecukupan permodalan serta penguasaan teknologi.

Masyarakat sebagai pemakai produk jasa konstruksi semakin sadar akan kebutuhan terhadap produk dengan kualitas yang memenuhi standar mutu yang dipersyaratkan.

Untuk memenuhi kebutuhan terhadap produk sesuai kualitas standar tersebut, perlu dilakukan berbagai upaya, mulai dari peningkatan kualitas SDM, standar mutu, metode kerja dan lain-lain.

Salah satu upaya untuk memperoleh produk konstruksi dengan kualitas yang diinginkan adalah dengan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang menggeluti perencanaan baik untuk bidang pekerjaan jalan dan jembatan, pekerjaan sumber daya air maupun untuk pekerjaan dibidang bangunan gedung.

Kegiatan inventarisasi dan analisa jabatan kerja dibidang sumber daya air, telah menghasilkan sekitar 130 (seratus Tiga Puluh) Jabatan Kerja, dimana Jabatan Kerja Ahli Supervisi Konstruksi Jaringan Irigasi merupakan salah satu jabatan kerja yang diprioritaskan untuk disusun materi pelatihannya mengingat kebutuhan yang sangat mendesak dalam pembinaan tenaga kerja yang berkiprah dalam perencanaan konstruksi bidang sumber daya air.

Materi pelatihan pada Jabatan Kerja Ahli Supervisi Konstruksi Jaringan Irigasi ini terdiri dari 12 (duabelas) modul yang merupakan satu kesatuan yang utuh yang diperlukan dalam melatih tenaga kerja yang menggeluti Ahli Supervisi Konstruksi Jaringan Irigasi.

Namun penulis menyadari bahwa materi pelatihan ini masih banyak kekurangan khususnya untuk modul Sistem Manajemen K3, Pedoman Teknis K3, RPL dan RKL pekerjaan konstruksi Sumber Daya Air.

Untuk itu dengan segala kerendahan hati, kami mengharapkan kritik, saran dan masukan guna perbaikan dan penyempurnaan modul ini.

Jakarta, Desember 2005

Tim Penyusun

(3)

LEMBAR TUJUAN

JUDUL PELATIHAN : AHLI SUPERVISI KONSTRUKSI JARINGAN IRIGASI

TUJUAN PELATIHAN

A. Tujuan Umum Pelatihan

Mampu mengkoordinasi, mengarahkan pelaksanaan konstruksi jaringan irigasi oleh kontraktor dan melakukan pengawasan sesuai dengan gambar pelaksanaan, spesifikasi teknik, metode pelaksanaan, jangka waktu pelaksanaan yang tercantum dalam kontrak kontraktor dan jasa konsultan supervisi.

B. Tujuan Khusus Pelatihan

Setelah mengikuti pelatihan mampu:

1. Menguasai dokumen kontrak kontraktor dan kontrak konsultan supervisi.

2. Melakukan pertemuan awal pelaksanaan dengan kontraktor dan direksi pekerjaan.

3. Melakukan kunjungan lapangan diareal lokasi proyek, mengidentifikasi permasalahan teknis maupun non teknis.

4. Mengecek kesiapan kontraktor untuk mulai pelaksanaan pekerjaan, sesuai yang tercantum dalam RMK.

5. Melaksanakan pengawasan pelaksanaan konstruksi sesuai spesifikasi teknis, gambar pelaksanaan, metode pelaksanaan, K3 serta pencemaran lingkungan.

6 . Mengadakan pertemuan periodik dan khusus dengan kontraktor dan direksi pekerjaan.

7. Memberikan petunjuk, saran pelaksanaan, teguran langsung kepada kontraktor atau melalui direksi pekerajan, tergantung sistem kontraknya.

8. Mengecek laporan-laporan dari kontraktor dan usulan perubahan desain.

9. Melakukan opname hasil kemajuan pekerjaan bersama kontraktor dan atau direksi pekerjaan sesuai penugasan.

10. Mengawasi uji coba fungsi jarinan irigasi yang selesai dilaksanakan oleh kontraktor.

11. Membantu direksi dalam mengevaluasi kinerja kontraktor.

(4)

NOMOR MODUL : ICSE. 02

JUDUL MODUL : SISTEM MANAJEMEN K3 DAN PEDOMAN TEKNIS K3

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU)

Setelah selesai mempelajari modul ini, peserta mampu menjelaskan dan melaksanakan ketentuan-ketentuan mengenai sistem manajemen K3 pada pelaksanaan konstruksi sumber daya air.

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK) Setelah modul ini diajarkan, peserta mampu :

1. Menjelaskan dasar hukum dan peundang-undangan pelaksanaan K3 konstruksi 2. Menjelaskan K3 konstruksi

3. Menjelaskan analisa potensi bahaya K3 4. Menjelaskan sistem manajemen K3

5. Menjelaskan komitmen dan kebijaksanaan manajemen K3 6. Menjelaskan administrasi dan pelaporan pelaksanaan K3.

(5)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

LEMBAR TUJUAN ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DESKRIPSI SINGKAT ... vi

DAFTAR MODUL ... vii

PANDUAN PEMBELAJARAN ... viii

BAGIAN I : SISTEM MANAJEMEN K3 DAN PEDOMAN TEKNIS K3

BAB 1 PENDAHULUAN... 1 – 1

BAB 2 DASAR HUKUM DAN PERUNDANG-UNDANGAN ... 2 – 1

BAB 3 K3 KONSTRUKSI

3.1 Peraturan Per Undang-Undangan ... 3 – 1 3.2 Permasalahan ... 3 – 2

BAB 4 ANALISA POTENSI BAHAYA K3

4.1 Umum ... 4 – 1 4.2 Identifikasi Potensi Bahaya K3 ... 4 – 1 4.3 Jenis Pekerjaan ... 4 – 8 4.4 Identifikasi Potensi Bahya Kecelakaan dan Gangguan Kesehatan Akibat

Kerja dan Pola Konsep K3 ... 4 – 9 4.5 Pedoman Teknis dan Pelaksanaannya ... 4 – 13

BAB 5 SISTEM MANAJEMEN K3

5.1 Perncanaan ... 5 – 2 5.2 Penerapan ... 5 – 2 5.3 Tanggung Jawab ... 5 – 3 5.4 Pengukuran dan Evaluasi ... 5 – 4 5.5 Organisasi ... 5 – 4

(6)

BAB 6 KOMITMEN DANKEBIJAKSANAAN MANAJEMEN PROYEK ... 6 – 1

BAB 7 ADMINISTRASI DAN PELAPORAN K3

7.1 Administrasi K3 ... 7 – 1 7.2 Pelaporan K3 ... 7 – 5

BAGIAN II : RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) DAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) K3

BAB 1 UMUM ... 8 – 1

BAB 2 PROSEDUR ... 9 – 1

BAB 3 KETENTUAN PELAKSANAAN

3.1 Aliran Dokumen dan Batas Waktu ... 10 – 1 3.2 Lingkup Penilaian Amdal Oleh Komisi ... 10 – 2 3.3 Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan, Pemantauan Lingkungan dan

Pengawasan Lingkungan ... 10 – 3 3.4 Fungsi Pemrakarsa ... 10 – 3 3.5 Studi AMDAL Pada Tahap Studi Kelayakan ... 10 – 4 3.6 Penjabaran RKL dan RPL Pada Tahap Pelaksanaan Teknis ... 10 – 5 3.7 Pelaksanaan RKL dan RPL ... 10 – 5 3.8 Evaluasi Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Pada Tahap

Pasca Proyek ... 10 – 6

RANGKUMAN DAFTAR PUSTAKA

(7)

DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN MODUL

PELATIHAN AHLI SUPERVISI KONSTRUKSI JARINGAN IRIGASI

1. Kompetensi kerja yang disyaratkan untuk jabatan kerja Ahli Supervisi Konstruksi Jaringan Irigasi(Irrigation Construction Supervisor Engineer) dibakukan dalam Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang didalamnya telah ditetapkan unit-unit kompetensi, elemen kompetensi, dan kriteria unjuk kerja sehingga dalam Pelatihan Ahli Supervisi Konstruksi Jaringan Irigasi unit-unit tersebut menjadi Tujuan Khusus Pelatihan.

2. Standar Latihan Kerja (SLK) disusun berdasarkan analisis dari masing-masing Unit Kompetensi, Elemen Kompetensi dan Kriteria Unjuk Kerja yang menghasilkan kebutuhan pengetahuan, keterampilan dan sikap perilaku dari setiap Elemen Kompetensi yang dituangkan dalam bentuk suatu susunan kurikulum dan silabus pelatihan yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan kompetensi tersebut.

3. Untuk mendukung tercapainya tujuan khusus pelatihan tersebut, maka berdasarkan Kurikulum dan Silabus yang ditetapkan dalam SLK, disusun seperangkat modul pelatihan (seperti tercantum dalam Daftar Modul) yang harus menjadi bahan pengajaran dalam pelatihan Ahli Supervisi Konstruksi Jaringan Irigasi.

(8)

DAFTAR MODUL

MODUL NOMOR : ICSE. 02

JUDUL : SISTEM MANAJEMEN K3 DAN PEDOMAN TEKNIS K3

Merupakan salah satu modul dari :

NO. KODE JUDUL

1. ICSE. 01 Etika Profesi, Etos Kerja, UU Jasa Konstruksi Dan UU SDA 2. ICSE. 02 Sistem Manajemen K3, Pedoman Teknis K3, RKL dan RPL 3. ICSE. 03 Pengenalan Survai Dan Investigasi

4. ICSE. 04 Pengenalan Dokumen Tender Dan Dokumen Kontrak 5. ICSE. 05 Pengenalan Manual O & P

6. ICSE. 06 Kriteria Desain Irigasi 7. ICSE. 07 Perhitungan Desain Irigasi

8. ICSE. 08 Pengetahuan Gambar Konstruksi/Pelaksanaan 9. ICSE. 09 Manajemen Konstruksi

10. ICSE. 10 Manejemen Mutu

11. ICSE. 11 Metode Pelaksanaan ( Construction Method ) dan Perhitungan Biaya Konstruksi

12. ICSE.12 Admnistrasi Teknik

(9)

PANDUAN PEMBELAJARAN

PELATIHAN : AHLI SUPERVISI KONSTRUKSI JARINGAN IRIGASI JUDUL MODUL : SISTEM MANAJEMEN K3, RPL DAN RKL

KETERANGAN KODE MODUL : ICSE. 02

DESKRIPSI : Materi ini terutama membahas berbagai macam materi :

BAGIAN I SISTEM MANAJEMEN K3 a. Pendahuluan

b. Dasar hukum dan perundang-undangan c. K3 Konstruksi

d. Analisa potensi bahaya K3 e. Sistem manajemen K3

f. Komitmen dan kebijaksanaan manajemen proyek g. Administrasi dan pelaporan

BAGIAN II RENCANA PEMANTUAN LINGKUNGAN (RPL) DAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) a. Prosedur

b. Ketentuan pelaksanaan.

TEMPAT KEGIATAN : Dalam ruang kelas lengkap dengan fasilitasnya

WAKTU KEGIATAN : 2 jam pelajaran (1 JP = 45 menit)

(10)

KEGIATAN INSTRUKTUR KEGIATAN PESERTA PENDUKUNG

1. CERAMAH : PEMBUKAAN

 Menjelaskan Tujuan Instruksional (TIU & TIK)

 Memotivasi peserta bertanya atau menyampaikan pendapat atas pengalamannya dalam Sistem Manajemen K3, RPL dan RKL

Waktu : 5 menit Bahan : Lembar tujuan

BAGIAN I

2. CERAMAH : PENDAHULUAN Waktu : 5 menit

Bahan : Materi serahan (Bab 1 )

3. CERAMAH : DASAR HUKUM DAN PERUNDANG -

UNDANGAN.

Waktu : 10 menit

Bahan : Materi serahan (Bab 2)

Mengikuti penjelasan TIU dan TIK dengan tekun dan aktif

Mengajukan pertanyaan apabila kurang jelas

Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

Mencatat hal-hal yang perlu

Mengajukan pertanyaan bila perlu

Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

Mencatat hal-hal yang perlu

Mengajukan pertanyaan bila perlu

OHT No

OHT No

OHT No

4. CERAMAH : K3 KONSTRUKSI

 Peraturan perundang-undangan

 Permasalahan

Waktu : 10 menit

Bahan : Materi serahan (Bab 3 )

Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

Mencatat hal-hal yang perlu

Mengajukan pertanyaan bila perlu

OHT No

(11)

KEGIATAN INSTRUKTUR KEGIATAN PESERTA PENDUKUNG

5. CERAMAH : ANALISA POTENSI BAHAYA K3

 Identifikasi potensi bahaya K3

 Jenis pekerjaan

 Pedoman teknis dan pelaksanaannya Waktu : 10 menit

Bahan : Materi serahan (Bab 4 )

6. CERAMAH : SISTEM MANAJEMEN K3

 Perencanaan

 Penerapan

 Tanggung jawab

 Pengukuran dan evaluasi

 Organisasi

Waktu : 10 menit Bahan : Materi serahan (Bab 5 )

7. CERAMAH : KOMITMEN DAN KEBIJAKSANAAN MANAJEMEN PROYEK

Waktu : 10 menit

Bahan : Materi serahan (Bab 5 )

Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

Mencatat hal-hal yang perlu

Mengajukan pertanyaan bila perlu

Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

Mencatat hal-hal yang perlu

Mengajukan pertanyaan bila perlu

Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

Mencatat hal-hal yang perlu

Mengajukan pertanyaan bila perlu

OHT No

OHT No

OHT No

(12)

KEGIATAN INSTRUKTUR KEGIATAN PESERTA PENDUKUNG

8. CERAMAH : ADMINISTRASI DAN PELAPORAN K3

 Administrasi K3

▪ Internal

▪ Eksternal

 Pelaporan K3

Waktu : 10 menit

Bahan : Materi serahan (Bab 6 )

BAGIAN II

1. CERAMAH : PROSEDUR

 Prosedur Amdal

 RKL dan RPL

 KA Andal dan KA SEL

 Andal dan SEL

 RKL dan RPL

Waktu : 10 menit

Bahan : Materi serahan (Bab 1 )

Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

Mencatat hal-hal yang perlu

Mengajukan pertanyaan bila perlu

Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

Mencatat hal-hal yang perlu

Mengajukan pertanyaan bila perlu

OHT No

OHT No

(13)

KEGIATAN INSTRUKTUR KEGIATAN PESERTA PENDUKUNG

9. CERAMAH : KETENTUAN PELAKSANAAN

 Aliran dokumen dan batas waktu

 Lingkup penilaian Amdal oleh komisi

 Pelaksanaan Pengelolaan lingkungan, pemantuan lingkungan , pengawasan lingkungan

 Fungsi pemrakarsa

 Penjabaran RKL dan RPL pada Tahap Pelaksanaan Teknis

 Pelaksanaan RKL dan RPL

 Evaluasi pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan pada tahap Pasca Proyek.

Waktu : 10 menit

Bahan : Materi serahan (Bab 2 )

Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

Mencatat hal-hal yang perlu

Mengajukan pertanyaan bila perlu

OHT No

(14)

MATERI

SERAHAN

(15)

BAGIAN I SISTEM MANAJEMEN K3 DAN PEDOMAN TEKNIS K3

BAB 1 PENDAHULUAN

Latar Belakang

Manusia sebagai unsur tenaga kerja adalah memegang peranan penting dan merupakan aset dalam pelaksanaan konstruksi, khususnya untuk pekerjaan sumber daya air yang melibatkan cukup banyak tenaga kerja diberbagai bidang.

Berdasarkan dari pengumpulan data-data lapangan pekerjaan konstruksi sumber daya air, studi pustaka dan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja pada pelaksanaan konstruksi sumber daya air, maka dalam K3 faktor manusia sebagai tenaga kerja sangat dominan. Kecelakaan kerja yang terjadi banyak disebabkan oleh faktor manusia. Maka perlu dibina dan dijamin keselamatan dan kesehatan kerja para tenaga kerja, untuk tercapainya kelancaran pekerjaan dengan tingkat produktifitas yang tinggi tanpa terjadinya kecelakaan tenaga kerja.

Ada hubungan langsung antara pencegahan kecelakaan kerja dan biaya konstruksi.

Dengan pengendalian dan pencegahan kecelakaan kerja akan menghasilkan produktivitas yang tinggi dan efisiensi kerja, yang berarti akan menghasilkan keuntungan yang lebih besar dari segi keuangan maupun waktu pelaksanaan konstruksi. Jika terjadi kecelakaan yang berakibat luka, cacat atau sampai meniggalnya tenaga kerja dan dapat pula berakibat kerusakan alat-alat konstruksi, ini berarti ada kehilangan biaya langsung.

Alat-alat konstruksi sekarang banyak yang berteknologi tinggi, sehingga cukup mahal jika harus memperbaiki atau mengganti. Disamping itu ada yang paling nyata adalah kerugian tidak langsung akibat kecelakaan yaitu kehilangan tenaga kerja trampil yang berkontribusi pada suksesnya pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Dengan sifat kompleksitas dan kekhususan dalam pekerjaan sumber daya air, membutuhkan biaya tinggi untuk mentraining untuk mendapatkan tenaga terampil.

Disamping hal-hal diatas, terjadinya kecelakaan kerja akan berakibat kehilangan waktu kerja. Dengan demikian secara jelas terlihat ada hubungan langsung antara pencegahan

(16)

kecelakaan kerja dan biaya konstruksi. Namun, pada umumnya kenyataannya Kontraktor masih belum menganggap bahwa program K3 adalah merupakan kebutuhan.

Menyadari hal tersebut diatas, maka betapa pentingnya membina dan usaha pencegahan kecelakaan kerja. Faktor pencegahan kecelakaan kerja harus merupakan bagian dari manejemen dan organisasi dari Proyek Sumber Daya Air.

Sistem manejemen K3 yang diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.Per.05 / Men /1996, belum dilaksanakan sebagaimana mestinya, terutama unsur Pengawas Ahli K3 dan Ahli K3, yang diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.Per.03 / Men /1978, Pasal 5, ayat (2) ( kewajiban Ahli K3 ).

Penyelenggara pekerjaan konstruksi wajib memenuhi ketentuan keteknikan, keamanan, keselamatan dan kesehatan kerja serta tata lingkungan setempat untuk menjamin terwujudnya tertib penyelenggaraan pekerjaan konstruksi, sebagaimana ditetapkan dalam undang-undang No.18 tahaun 1999, tentang Jasa Konstruksi, Pasal 23, ayat (2).Penunjukan Pengawas Ahli K3 dan Ahli K3 dilakukan oleh Menteri Tenaga Kerja,seperti diatur dalam UU No,1 th.1970 tentang K3.

Terpenuhinya tertib penyelenggaraan pekerjaan konstruksi akan terwujud pula jaminan sosial tenaga kerja, disamping keselamatan dan kesehatan kerja. Untuk mewujudkan tercapainya hal tersebut diatas, Pemerintah perlu menerbitkan peraturan-peraturan dan standard teknis, menumbuh kembangkan akan hak, kewajiban dan peran tenaga kerja dalam pelaksanaan jasa konstruksi dan melakukan pengawasan aktualisasinya.

(17)

BAB 2

DASAR HUKUM DAN PERUNDANG-UNDANGAN

Sebagai dasar hukum untuk pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di bidang pekerjaan sungai adalah :

1) UUD 45 pasal 27 ayat (2), menyatakan bahwa tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.

Pekerjaan dinyatakan memenuhi kelayakan bagi kemanusiaan apabila keselamatan dan kesehatan kerja dalam pelaksanaannya dapat dijamin oleh penyelenggara pekerjaan.

2) Undang-undang No.1 tahun 1970, tentang Keselamatan Kerja.

3) Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.Per 03/Men/1978, tentang Penunjukan dan Wewenang Serta Kewajiban Pegawai Pengawas Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Ahli Keselamatan Kerja.

4) Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.Per..05 / Men / 1996, tentang sistem manajemen Keselamatan dan Kesehatan kerja.

5) Undang-undang No.18 tahun 1999, tentang Jasa Konstruksi.

Dalam pasal 23 ayat 2) menyatakan bahwa Penyelenggara pekerjaan konstruksi wajib memenuhi ketentuan tentang keteknikan, keamanan, keselamatan dan kesehatan kerja, perlindungan tenaga kerja, serta tata lingkungan setempat untuk menjamin terwujudnya tertib penyelenggaraan pekerjaan konstruksi.

6) Peraturan Pemerintah No.29 tahun 2000, pasal 30 ayat (1) tentang keselamatan umum konstruksi bangunan, mutu hasil pekerjaan, keamanan, keselamatan dan kesehatan kerja.

7) Keputusan Menteri Tenaga Kerja No.1 tahun 1980, tentang Pedoman Teknis Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi Bangunan.

8) Surat Keputusan Bersama Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Pekerjaan Umum No.174/MEN/1986 dan No.104/KPS/1986, tentang Pedoman Pelaksanaan K3 pada tempat kegiatan konstruksi.

9) Undang-undang yang berkaitan dengan Keselamatan dan Kesehatan kerja (K3) yang paling akhir diterbitkan Pemerintah adalah Undang-undang Republik Indonesia no 13 tahun 2003 tentang ketenaga kerjaan. Pada paragraf 5 Keselamatan dan Kesehatan Kerja, pasal 86 ayat 1 menyatakan dengan tegas bahwa setiap pekerja mempunyai hak atas perlindungan atas K3, sedangkan ayat 3 menyatakan bahwa

(18)

penyelenggaraannya diatur dengan perundang-undangan. Kutipan ayat selengkapnya sebagai berikut :

(1) Setiap pekerja/ buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas : a. Keselamatan dan Kesehatan Kerja

b. Moral dan kesusilaan, dan

c. Perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama

(2) Untuk melindungi keselamatan pekerja/ buruh guna mewujudkan produktivitas kerja yang optimal diselenggarakan upaya keselamatan dan kesehatan kerja (3) Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan

sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Selanjutnya pasal 87 ayat (1) dan (2) menyatakan:

(1) Setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan.

(2) Ketentuan mengenai penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 87 di atas menyatakan bahwa setiap perusahaan, termasuk perusahaan jasa konstruksi, mempunyai kewajiban menyelenggarakan sistem manajemen K3 yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahan. Sedangkan penerapan sistem manajemen K3 diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pemerintah dalam hal ini Menteri Tenaga Kerja mengeluarkan Peraturan Menteri No 05/MEN/ 1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan Kerja (SMK3) sedangkan lampirannya mengatur penerapan dengan bentuk pedoman penerapan sistem manajemen K3.

Undang-undang atau Peraturan tentang keselamatan kerja , berdasarkan sasarannya dapat dikelompokan menjadi 2:

1) Kelompok yang mempunyai sasaran pencegahan kecelakaan akibat kerja.

2) Kelompok yang mempunyai sasaran memberi kompensasi atas kecelakaan yang terjadi dalam pelaksanaan pekerjaan.

(19)

K3 Konstruksi

Undang-undang No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi Pasal 2 meng- amanatkan terlaksananya tertib penyelenggaraan pekerjaan konstruksi yakni pengaturan jasa konstruksi berlandaskan pada asas kejujuran dan keadilan, manfaat, keserasian, keseimbangan, kemandirian, keterbukaan, kemitraan, keamanan dan keselamatan demi kepentingan masyarakat, bangsa dan negara. Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi Pasal 30 ayat (1) menjabarkan pasal tersebut dengan menegaskan perhatian pada keselamatan umum konstruksi bangunan, mutu hasil pekerjaan, keamanan, keselamatan dan kesehatan kerja.

Untuk melaksanakan K3 bidang konstruksi dikeluarkanlah 'Pedoman Teknis K3 Konstruksi Bangunan' dalam KEPMENNAKER No. 1 Tahun 1980 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Konstruksi Bangunan, dan Pedoman Pelaksanaan K3 Pada Tempat Kegiatan Konstruksi dalam 8KB Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Pekerjaan Umum No. 174/MEN/1986 dan 1 04/KPTS/1 986 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Tempat Kegiatan Konstruksi.

(20)

BAB 3 K3 KONSTRUKSI

3.1 Peraturan Per Undang-Undangan

Undang-undang No. 18 tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi Pasal 2 mengamanatkan terlaksananya tertib penyelenggaraan pekerjaan konstruksi yakni pengaturan jasa konstruksi berlandaskan pada asas kejujuran dan keadilan, manfaat, keserasian, keseimbangan, kemandirian, keterbukaan, kemitraan, keamanan dan keselamatan demi kepentingan masyarakat, bangsa dan negara.

Untuk melaksanakan K3 bidang konstruksi dikeluarkan Pedoman Teknis K3 Konstruksi Bangunan dalam KEPMENNAKER no 1 tahun 1980 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada konstruksi bangunan, dan pedoman Pelaksanaan K3 pada tempat kegiatan konstruksi dalam SKB menteri Tenaga Kerja dan Menteri Pekerjaan Umum No 174/MEN/1986 dan 104/KPTS/1986 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada tempat Kegiatan Konstruksi.

Terakhir sudah dikeluarkan keputusan Menteri Kimpraswil (PU) No.

384/KPTS/M/2004, tentang Pedoman Teknis Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada tempat kegiatan Konstriksi Bendungan. Dan petunjuk teknis berupa surat edaran Menteri PU No. 03/SE/M/2005.

Pedoman teknis keselamatan dan kesehatan kerja mencakup aturan-aturan alat pelindung diri tenaga kerja, cara dan sikap yang aman dalam mengoperasikan alat kerja atau dalam melaksanakan pekerjaan, kondisi dan bahaya yang dapat timbul dalam tempat kerja dan cara penyimpanan barang/bahan yang aman. Pekerjaan bendungan merupakan pekerjaan yang besar, lingkup dan jenis pekerjaannya kompleks di bidang sumber daya air, sehingga dapat dipakai sebagai panduan untuk pekerjaan lain di bidang sumber daya air.

Berdasarka hasil evaluasi atas kejadian-kejadian kecelakaan kerja selama ini dapat disimpulkan beberapa faktor penyebab terjadi kecelakaan baik yang telah menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka sebagai berikut :

(21)

1) Terjadinya kegagalan konstruksi yang antara lain disebabkan tidak dilibatkannya ahli teknik konstruksi, penggunaan metode pelaksanaan yang kurang tepat, lemahnya pengawasan pelaksanaan konstruksi di lapangan.

2) Belum sepenuhnya melaksanakan ketentuan-ketentuan atau peraturan- peraturan yang menyangkut K3 yang telah ada, lemahnya pengawasan penyelenggaraan K3, kurang memadainya baik dalam kualitas maupun kuantitas ketersediaan alat pelindung diri (APD).

3) Kurang disiplinya para tenaga kerja didalam mematuhi ketentuan mengenai K3 yang anatara lain alat pelindung diri dan kecelakaan kerja.

Dari faktor-faktor penyebab terjadinya kecelakaan kerja menunjukkan bahwa kecelakaan kerja terjadi umumnya lebih disebabkan kesalahan manusia (human error), baik dari aspek kompetensi para pelaksanan kondtruksi maupun pemahaman arti pentingnya penyelenggaraan K3.

3.2 Permasalahan

Secara umum, dari studi literatur dan peraturan perundang-undangan yang ada dan pengamatan langsung dan pengumpulan data praktek K3 di lapangan dapat diambil kesimpulan sebagai antara lain :

3.2.1 Permasalahan Terkait Pelaksanaan dan Perundang-Undangan K3

a. Pada umumnya pelaksanaan pekerjaan konstruksi di bidang sumber daya air telah melaksanakan program K3 meskipun bersifat lokal, berbeda dari satu proyek ke proyek lainnya :

Ada proyek pembangunan sumber daya air yang belum secara khusus melaksanakan dan tidak memiliki dokumen program K3. Program K3 diasosiasikan dengan program jaminan asuransi tenaga kerja yang bersifat wajib dan dicantumkan dalam Kerangka Acuan Kerja yang harus dilsaksanakan, sebaliknya pelaksanaan program K3 belum dimasukkan dalam KAK.

Telah memiliki dokumen program K3 dan melaksanakan program K3 sesuai dengan penafsiran dan keperluan pelaksana, dan masih bersifat umum dan terbatas. Program disusun dengan sumber yang diketahui oleh Perusahaan penyelenggara sehingga cakupan dan kedalamannya dapat berbeda-beda dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain;

(22)

b. Pelaksanaan program K3 belum disyaratkan dan didukung dengan penyediaan anggaran, yang semestinya dapat dimasukkan dalam dokumen tender. Tidak ada peraturan yang mewajibkan Kontraktor melaksanakan program K3 yang tegas dan dilengkapi dengan petunjuk teknis pelaksanaannya. Sebaliknya, Kontraktor sudah mengikutsertakan karyawannya pada Asuransi Tenaga Kerja berupa Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jaminan kecelakaan, perawatan rumah sakit, dan asuransi kematian) sebagaimana diamanatkan UU No. 3 Tahun 1997 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Oleh karena itu, belum diterapkan sanksi bagi yang melanggar pelaksanaan program K3.

c. Pada umumnya Kontraktor belum menganggap program K3 sebagai kebutuhan yang penting, dimana secara nyata sebetulnya dapat mengurangi biaya operasional proyek, jika semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pekerjaan mendukung penerapan program K3 secara penuh dan bertanggung jawab.

d. Penerapan Peraturan Perundang-undangan tentang keselamatan dan kesehatan kerja belum sepenuhnya dilakukan dan ditaati. Disisi lain juga belum ditetapkan secara tegas siapa yang ditugaskan harus mengawasi pelaksanaannya di lapangan.

3.2.2 Permasalahan Terkait Aspek Umum dan Administrasi

a. Dijumpai di lapangan, Organisasi dan pengelolaan program K3 berbeda - beda yang pada umumnya bersifat melekat pada jabatan struktural pelaksanaan pekerjaan konstruksi setempat, tidak merupakan unit khusus Tugas dan tanggung jawab pelaksanaan K3 diserahkan kepada setiap pejabat di wilayah wewenang kerjanya masing-masing. Organisasi demikian berbeda dengan organisasi P2K3 (Panitia Pembina K3) yang memasukkan unsur Tenaga Ahli K3 sebagai Sekretaris.

b. Sistem Administrasi, Pencatatan dan dokumentasi data, dan sistem pelaporan pada umumnya buruk : tidak semua dilakukan. Pada umumnya laporan resmi dilakukan apabila ada kasus K3 yang menimbulkan korban (meninggal, atau luka berat) dengan tujuan untuk melakukan klaim pertanggungan asuransi tenaga kerja.

(23)

c. Sistem Manajemen K3 yang mencakup perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan pelaporan belum dilaksanakan secara menyeluruh.

d. Sumber Daya Manusia yang melaksanakan program K3 pada setiap kegiatan konstruksi belum ditunjuk khusus dengan kualifikasi tertentu, namun lebih merujuk pada organisasi dan jabatan pelaksana pekerjaan fisik. Tugas K3 merupakan tambahan uraian tugas (job description) bagi seorang pejabat pelaksana fisik;

e. Rencana Tanggap Darurat (Emergency Plan) yang berupa rencana tindakan penanganan kasus kecelakaan dan pemulihan (lingkungan dan pekerja) serta prosedur pelaporannya, pada umumnya belum disiapkan.

Permasalahan Terkait Teknis K3, antara lain.

3.2.3 Permasalahan Terkait Aspek Umum dan Administrasi (1) Kecelakaan terkait blasting :

a. Terjadi Kecelakaan Ledakan bahan peledak pada Proyek Bendungan Pelaparado yang menimbulkan korban jiwa, dan luka-luka, serta kebakaran ruangan kantor di Kantor Lapangan PT Adhi Karya d Kecamatan Moya, Bima, NTB (Bendungan Pelaparado) yang mengakibatkan korban meninggal 6 orang, luka berat 15 orang, dan luka ringan 5 orang. Kasus ini diduga adanya salah prosedur penanganan dan penyimpanan bahan peledak.

b. Kecelakaan yang mengakibatkan pekerja meninggal dunia akibat terkena 'hujan batu dan material' yang terhambur akibat ledakan/

blasting di Proyek Wonogiri. (APD, Rambu, Kornunikasi peledakan, Pengamanan Lokasi Peledakan)

(2) Terjadinya Kecelakaan yang mengakibatkan korban jiwa sebanyak 13 orang pekerja di dalam terowongan akibat robohnya steel form work yang digunakan dalam pekerjaan terowongan pada proyek Bendungan Batutegi, Lampung.

(3) Kecelakaan Kendaraan :

a. Motor grader terguling dan masuk jurang bersama operatornya yang meyebabkan korban meninggal dunia;

b. Pekerja meninggal terhimpit truk pengangkut kayu;

(24)

(4) Gangguan Kesehatan Akibat Kerja

a. Pekerja menderita Infeksi Saluran Pernafasan Atas akibat menghirup udara terpolusi debu

b. Pekerja terganggu pendengarannya akibat terpapar kebisingan, khususnya operator alat berat, pekerja perbengkelan, dan pekerja peledakan (blasting)

c. Pekerja menderita diare yang diduga diakibatkan oleh bakteri E. coli yang banyak dijumpai di dalam faeces manusia (limbah domestik) d. Pekerja las menderita gangguan penglihatan berupa rabun

(sementara maupun permanen) akibat terpapar cahaya menyilaukan;

e. Keluhan sakit otot pinggang, tengkuk, dan dada yang diderita oleh para operator alat berat yang diduga akibat terpapar getaran mesin;

f. Keluhan sesak nafas dari pekerja yang bekerja di dalam terowongan;

g. Keluhan 'gangguan kulit’ dari pekerja yang menangani semen dan beton, dan bahan bakar minyak dan pelumas,

h. Gangguan 'sesak nafas' yang diderita pekerja yang bertugas melakukan pengecatan dan sistem semprot.

(25)

BAB 4

ANALISA POTENSI BAHAYA K3

4.1 Umum

Pembangunan konstruksi Sumber Daya Air pada umumnya meliputi beberapa lingkup pekerjaan dengan masing-masing meliputi satu atau beberapa jenis pekerjaan.

Masing masing jenis pekerjaan akan melibatkan kondisi lingkungan, bahan dan material, mesin dan alat, orang atau pekerja sebagai pelaku, dan proses serta dampak sampingan dari kegiatan tersebut.

Dalam pelaksanaannya ada potensi timbulnya masalah kecelakaan akibat kerja dan penyakit atau gangguan kesehatan akibat kerja, yang secara umum dapat dikelompokkan menjadi :

a. kecelakaan akibat faktor manusia, dan b. kecelakaan akibat faktor bukan manusia.

Faktor - faktor penyebab kecelakaan dan gangguan kesehatan akibat kerja tersebut harus dapat diantisipasi melalui Analisis Potensi Bahaya Pekerjaan pada setiap kegiatan. Berdasarkan hasil analisis potensi bahaya tersebut disusunlah program K3 agar kasus kecelakaan tidak terjadi.

4.2 Identifikasi Potensi Bahaya K3

Berikut ini merupakan identifikasi awal potensi bahaya kecelakaan akibat kerja dan penyakit akibat kerja yang dapat timbul, berdasarkan studi dan pengalaman pelaksanaan pekerjaan bendungan yang telah dilaksanakan.

4.2.1 Penyiapan Bangunan Perkantoran, Motor- pool, Bengkel dan Gudang.

Kegiatan konstruksi bangunan-bangunan tersebut yang berpotensi bahaya kecelakaan kerja adalah kegiatan konstruksi kayu dan konstruksi baja berupa pemasangan kuda-kuda kayu dan kerangka baja.

Pemasangan kerangka baja dilakukan bagian demi bagian, sebelum kabel pengangkat dilepas dari bagian baja yang diangkat, harus dipastikan bahwa bagian baja tersebut telah terletak tepat di tempatnya. Keadaan angin yang kencang atau hujan, mempengaruhi keamanan pekerja yang bekerja di atas kerangka baja terbuka (potensi jatuh). Untuk memasang kerangka baja kadang kadang memakai perancah yang menggantung atau baja terbuka

(26)

yang rawan terhadap kecelakaan, maka diperlukan alat pengaman. Adanya kabel listrik di areal kerja dapat membahayakan keselamatan pekerja atau peralatan yang digunakan akan adanya bahaya 'sengatan’ arus listrik, dan bahaya kebakaran akibat hubungan pendek arus listrik.

4.2.2 Jaringan dan Instalasi Listrik

Pekerjaan jaringan listrik berupa penyambungan listrik dari PLN ke daerah bast camp yang memerlukan tenaga listrik cukup besar, bisa mencapai lebih dari 1000 KVA. Sistim jaringan distribusinya cukup komplek dan menggunakan tegangan dari 220 V sampai 22 KVA yang mempunyai potensi bahaya seperti kabel listrik yang dapat tertabrak oleh peralatan berat, dari alat transformator dan perlengkapan switch yard dan bahaya bocornya aliran listrik karena banyaknya genangan air di daerah proyek. Potensi bahaya : bahaya 'sengatan' arus listrik dan bahaya kebakaran akibat hubungan pendek arus listrik.

4.2.3 Jalan Hantar dan Jalan Kerja

Pekerjaan pembuatan jalan, baik jalan hantar (access road) maupun jalan kerja terdiri dari galian tanah, timbunan dan pemadatan, perataan dan perkerasan jalan, yang menggunakan alat bulldozer, motor grader dan road roler/road compactor. Potensi bahaya kecelakaan mungkin timbul dari peralatan (kelaikan), cara dan prosedur/pengoperasian alat, dan dari kebisingan dan getaran mesin. Dari segi pengoperasian jalan, potensi K3-nya adalah kebisingan, dan polusi udara berupa debu dan gas buang kendaraan.

4.2.4 Terowongan / Saluran Pengelak

Pekerjaan terowongan untuk mengalihkan aliran sungai sehingga pekerjaan bendungan utama dapat dilaksanakan, ini akan meliputi pembuatan terowongan (pekerjaan di bawah tanah) yang melibatkan mesin bor tanah yang besar ata peledakan, pengangkutan tanah ke luar terowongan. Kondisi bekerja di bawah tanah akan memerlukan penerangan, penguatan dinding (samping dan atas terowongan, pengoperasian mesin-mesin, dan pergantian udara segar untuk kepentingan pernafasan pekerja.

Berdasarkan kondisi geologinya dan besarnya penampang terowongan, pekerjaan penggalian terowongan dapat dilaksanakan dengan dua cara yaitu dengan blasting atau dengan drilling.

(27)

a. Pembuatan Terowongan dengan Cara Drilling

Jika terowongan cukup panjang, pekerjaan penggalian dilaksanakan dari dua arah, dimana diperlukan pengukuran yang teliti sehingga dapat dihindarkan sejauh mungkin penyimpangan as terowongan dari kedua arah.

b. Pembuatan Terowongan dengan Cara Blasting

Jika penggalian dilakukan dengan cara blasting, kegiatan operasional berupa :

▪ Pemboran lubang peledakan.

▪ Pemasangan bahan peledak dan peledakan.

▪ Pemasangan ventilasi dan pembersihan debu setelah peledakan.

▪ Pengangkutan material batu / tanah yang telah tergali di terowongan.

▪ Pengeringan air tanah bila ada.

▪ Pemasangan batang-batang penyokong dibagian atas atau samping bilamana diperlukan untuk mencegah runtuhnya dinding terowongan

▪ Pemasangan besi beton.

▪ Pembetonan.

Potensi K3 antara lain : penyimpanan dan penanganan bahan peledak, persiapan dan pengisian bahan peledak, peledakan, pengamanan lokasi sekitar titik peledakan, debu, suara keras / kebisingan, hamburan material yang diledakkan, kurang cahaya, kurang oksigen (O2), keracunan gas (nitrogen, NO2; CO, dan CO2), terpapar tekanan dan suhu udara yang lebih tinggi, potensi bahaya terkait pekerjaan las (besi), dan penanganan dan penyimpanan bahan dan material (bahan bakar peralatan, asitilin, bahan peledak, dan lain-lain). Akibat digunakan bahan peledak, di dalam terowongan terjadi pencemaran udara

Untuk mengambil material hasil galian di dalam terowongan dengan menggunaka dozer shovel yang menyebabkan pencemaran udara (debu) dan kebisingan akumulasi gas buang pembakaran mesin, menurunnya kadar oksigen (O2) dai meningkatnya kadar karbon dioksida (CO2), bahkan karbon mono-oksida (CO). Pekerja yang bekerja di dalam terowongan dapat mengalami tekanan udara yang lebih besar dari pada di luar terowongan.

Pekerja yang bekerja di bawah tekanan udara akan dapat mendapat pengaruh kejiwaan.

(28)

Di dalam terowongan diperlukan penerangan listrik yang dapat menimbulkan bahaya jika di dalam terowongan terdapat rembesan air/air tanah.

Penggunaan cara blasting yang menggunakan listrik sebagai memerlukan pengaturan agar tidak menimbulkan 'salah ledak' akibat arus listrik penerangan yang mempengaruhi arus listrik untuk peledakan.

4.2.5 Penutupan Sungai Dilanjutkan Dengan Pembuatan Coffer Dam

Pekerjaan ini terdiri dari kegiatan penyediaan bahan timbunan tanah dan batu ditempat lokasi penutupan aliran sungai, penggusuran dan pemadatan timbunan tanggul penutup sungai dan alirannya dipindahkan ke saluran pengelak. Alat yang digunakan berupa bulldozer dan diperlukan penerangan listrik untuk bekerja pada malam hari. Potensi bahaya yang ada yaitu berupa datangnya banjir yang mengakibatkan overtopping pada timbunan tanah (tanggul) yang belum mencapai elevasi yang aman, sehingga timbunan yang telah dilaksanakan akan longsor dan hanyut, yang dapat mengancam keselamatan pekerja dan peralatan yang berada di sungai.

4.2.6 Galian Tanah Pondasi Main Dam

Pekerjaan galian tanah dilakukan dengan menggunakan bulldozer, excavator untuk mendapatkan lapisan tanah pondasi yang memenuhi syarat seperti yang ditetapkan dalam desain. Hasil galian diangkut dan dibuang ke spoil bank yang telah ditetapkan dengan menggunakan loader dan dump truck. Di beberapa tempat dilakukan peledakan untuk membantu memudahkan penggalian tanah. Potensi bahaya yang ada, di samping dari peledakan jika ada, yaitu yang berkaitan dengan keberadaan pekerja atau orang dan kendaraan kecil di areal galian tanah, debu, cara dan prosedur/

pengoperasian alat, keadaan cuaca dan tiupan angina yang kencang.

Pekerjaan galian kemungkinan mengenai daerah pemukiman, dekat dengan jalan raya atau bangunan / fasilitas utilitas lain. Hal ini dapat mengganggu stabilitas bangunan milik orang / penduduk di dekat galian, pipa air minum, pipa gas, kabel listrik dan kabel telepon. Jika galian cukup dalam, kemungkinan dapat terjadi longsor jika kemiringan galian terlalu curam atau lebih besar dari sudut lereng alan yang aman.

Kemungkinan adanya air tanah perlu diperhatikan atau dikontrol, karena dapat menyebabkan terjadinya longsor pada kemiringan tanah yang telah digali atau pergerakan tanah lainnya.

(29)

Potensi bahaya timbul pada 'ruang kerja' excavator / alat berat sehingga daerah kerja harus diamankan dengan rambu, dan orang dilarang memasuki daerah bahaya tersebut.

4.2.7 Boring dan Grouting Pondasi

Pekerjaan ini untuk memperbaiki kondisi lapisan pondasi, berupa pembuatan lubang di dasar pondasi dan untuk memasang pipa grouting diameter 1,5-2 inch panjang 18-36 inch, kemudian dilakukan injeksi / pemompaan air semen atau campuran material lainnya lewat pipa grouting ke dalam formasi lapisan pondasi. Pada umumnya pekerjaan grouting menggunakan material air semen.

Peralatan yang digunakan mesin bor, pompa grouting (tipe piston) dan kompresor. Tekanan pompa tidak boleh melebihi tekanan yang diijinkan.

Pengeboran kadang-kadang memerlukan perancah yang harus memenuhi syarat-syarat keamanan. Potensi bahaya dari debu yang dihasilkan dari kerja boring dan pemompaan material grouting (akibat tekanan) bisa mengenai mata, dan penanganan semen.

4.2.8 Peledakan Tempat Pengambilan Batu (Quarry)

Peledakan bertujuan untuk mendapat material batu bahan timbunan dan Kegiatan terdiri dari :

▪ Pembuatan lubang untuk memasang bahan peledak

▪ Memasang bahan peledak.

▪ Peledakan.

Alat yang digunakan terdiri mesin bor, mesin peledak dan tongkat kayu.

Potensi bahaya yang ada berupa debu dan suara bising dari mesin bor penanganan bahan peledak, persiapan dan pengisian, peledakan, terjadi ledakan diluar kontrol atau karena salah prosedur kerja, lemparan batu yang dapat melesat ke segala arah yang ditimbulkan dari peledakan dan bahan peledak yang sensitif terhadap percikan api.

4.2.9 Pengambilan Material Batu Untuk Bahan Timbunan

Pengambilan material batu terdiri dari kegiatan pemuatan (loading) material batu ke dump truck di quarry dan pengangkutan ke tempat timbunan (main dam atai coffer dam).

(30)

Alat yang digunakan berupa dozer shovel untuk pengisian (loading), dan dump truck sebagai alat pengangkutan.

Potensi bahaya yang ada disamping cara dan prosedur/ pengoperasian alat terutama pada kegiatan pengangkutan, berupa terjadinya kecelakaan dump truck karena sistim rem yang rusak, kemiringan jalan kerja yang curam dan belokan yang tajam, kelebihan muatan, dan kecelakaan akibat jalan kerja dengan dua arah tanpa pembatas median, dan potensi tertimbun saat truck membongkar muatan. Di samping bising suara mesin, maka polusi udara berupa debu dan gas buang mesin merupakan potensi bahaya yang perlu diwaspadai.

4.2.10 Galian Tanah di Borrow Area

Galian tanah di borrow area bertujuan untuk mendapatkan material tanah bahan timbunan di main dam atau coffer dam.

Alat yang digunakan berupa bulldozer atau / dan excavator atau loader.

Potensi bahaya yang ada yaitu keberadaan orang / pekerja atau kendaraan kecil di areal galian tanah, cara dan prosedur/ pengoperasian alat, keadaan cuaca dan tiupan angin kencang, dan setelah selesainya galian tanah pada umumnya membentuk kolam yang berbahaya jika ada hujan, yang perlu pengamanan.

4.2.11 Pengambilan Tanah Untuk Bahan Timbunan

Pengambilan tanah dari borrow area terdiri dari kegiatan pemuatan tanah ke dump truck dan pengangkutan ke tempat timbunan main dam atau coffer dam, dan membongkar muatan. Alat yang digunakan berupa excavator atau dozer shovel / loader dan dump truck.

Potensi bahaya yang ada seperti pada butir (4.2.9).

4.2.12 Timbunan / Pemadatan

Timbunan/pemadatan main dam untuk tipe Rock fill dam, terdiri dari 3 bagian : a. Core

b. Filter

c. Rock dan transisi.

Timbunan, pemadatan main dam terdiri dari kegiatan perataan bahan timbun lapis demi lapis setebal tertentu dan pemadatan bahan timbun yang telah

(31)

diratakan. Alat yang digunakan terdiri dari bulldozer dan soil compactor / vibrator roller I stamper.

Potensi bahaya yaitu keberadaan orang / pekerja atau kendaraan kecil di areal pemadatan, adanya polusi debu di udara, cara dan prosedur/

pengoperasian alat keadaan cuaca dan tiupan angin yang kencang.

4.2.13 Bangunan di Jaringan Irigasi

Pembuatan bangunan di jaringan irigasi pada umumnya terdiri dari kegiatan pekerjaan Galian tanah terbuka, Bekisting, Pemasangan besi beton, Pembetonan.

i) Galian Tanah Terbuka

Pekerjaan galian tanah terbuka uraian kegiatan, peralatan yang digunakan dan potensi bahaya yang ada seperti diuraikan pada butir 4.2.9.

ii) Bekisting

Pembuatan bekisting menggunakan material kayu atau plat baja sesuai dengan spesifikasi teknik yang ditetapkan. Bekisting harus ditopang oleh batang-batang kayu atau perancah baja yang kokoh, yang tidak boleh ada pergerakan atau perubahan bentuk pada waktu penuangan beton atau setelah selesai penuangan beton. Untuk menjamin kekokohan diperlukan batang-batang penguat datar atau diagonal sesuai gambar disain. Potensi bahaya yang ada jika pemasangan bekisting dilakukan di tempat yang tinggi (potensi jatuh).

iii) Pemasangan Besi Beton.

Pemasangan besi beton memerlukan ketelitian meliputi jumlah, bentuk dan letal besi harus sesuai dengan gambar disain. Potensi bahaya yaitu jika ada ujung-ujung besi yang sudah tertanam dalam beton dan pemasangan di tempat yang tinggi.

iv) Pembetonan

Pekerjaan pembetonan terdiri dari kegiatan pekerjaan : - Pekerjaan persiapan.

- Pemasangan alat / perlengkapan bantu untuk penuangan beton berupa talang atau pipa concrete pump.

(32)

- Penuangan beton.

Pekerjaan persiapan berupa penyiapan alat dan mesin yang akan digunakan untuk penuangan (pengecoran) beton. Penuangan beton dilaksanakan dengan beberapa cara, harus tidak terjadi segregation (pemisahan material beton) dimana beton telah selesai dituang di tempatnya. Peralatan dan perlengkapan untuk penuangan beton tergantung dari jarak, elevasi yang akan dituang dan kondisi lapangan yang membatasi atau kendala yang ada.

Cara penuangan beton dapat dengan bucket, corong tuang, talang belt conveyor dan concrete pump. Potensi bahaya dapat timbul dari peralatan yang digunakan, seperti pipa concrete pump, cara dan prosedur / pengoperasian alat serta sistim komando dari tim pengecoran beton, dan bahan (semen) yang mengenai kulit pekerja.

4.3 Jenis Pekerjaan

Lingkup pekerjaan konstruksi jaringan irigasi tersebut di atas dapat dirinci lagi menjadi bagian jenis pekerjaan yang meliputi : Pembersihan Tapak/ persiapan dan pembersihan lahan, Galian Tanah / Batu, Timbunan, Drilling, Borring, Grouting, shotcrete, Blasting, Muat material, Pengangkutan dan Bongkar Material, Penyaringan Batu dan Pasir, Pencampuran Tanah - pasir - dan gravel, Penimbunan dan Pemadatan, Pembuatan Cetakan (bekisting), Pembesian dan pemasangannya, Pembetonan, Konstruksi baja, Hidromekanikal, Pengelasan, Pengecatan, mekanikal dan elektrikal, Pengunaan Peralatan Konstruksi ringan dan berat, dan Pembuatan sarana dan Prasarana Bengkel.

Suatu lingkup pekerjaan harus dianalisa lebih lanjut jenis kegiatan apa saja yang terlibat di dalamnya untuk kemudian disusun pedoman teknis K3-nya. Misalnya pengambilan material dari quarry akan melibatkan kegiatan peledakan penggalian, penimbunan material (pengoperasian bulldozer, shovel), pemuatan (pengoperasian loader) dan pembongkaran, pengangkutan (dump truck) sehingga Pedoman Teknis K3-nya akan meliputi antara lain K3 peledakan, penggalian penimbunan material, pengoperasian alat berat, pengangkutan, dan pengamanan daerah kerja.

(33)

4.4 Identifikasi Potensi Bahaya Kecelakaan dan Gangguan Kesehatan Akibat Kerja dan Pola Konsep K3

Berdasarkan lingkup pekerjaan pelaksanaan konstruksi di bidang sumber daya air dan kegiatan jenis pekerjaan tersebut di atas, dapat diidentifikasi resiko bahaya dan berbagai kecelakaan kerja yang mungkin terjadi, dan kemudian disusun pola konsep pedoman K3.

Berikut ini merupakan identifikasi bahaya K3 yang disusun berdasarkan material dan sumbernya, dan konsep pedoman teknis K3-nya, antara lain :

a. Debu : Banyak dijumpai pada jenis pekerjaan pembuatan terowongan (tunnel), peledakan pasir (sandblasting), daerah pengambilan batu (Quarry) menggerinda (grinding), pengoperasian galian tanah / pasir / gravel (shoveling [loading / unloading], dan penyaringan pasir dan gravel kering), pengangkutan material (tanah / pasir), pengangkutan, pemotongan batu dan bata, pemecahan batu (rock crushing), refractory brick cutting, dan pembersihan (cleaning) debu (kendaraan, dan perumahan / kantor);

Pola konsep K3 :

• kurangi sumber pencemar debu teknik : rekayasa (alat yang baik sehingga tidak banyak menghasilkan debu, dilengkapi dust collector, penghisap debu, pembasahan, penutupan

• kurangi paparan pekerja terhadap debu (pakai Alat Pelindung Diri masker respirasi yang sesuai), kurangi waktu terpapar.

b. Perbedaan Suhu antara siang dan malam cukup tinggi pada medan yan terbuka, sehingga temperatur udara pada siang hari sangat panas ditambah lagi hembusan angin yang sangat kencang dan pada malam hari sangat dingin, Pola konsep K3 :

• Tingkatkan daya tahan dan tingkat kesehatan pekerja : ekstra food,

• kurangi paparan pekerja terhadap perbedaan suhu tinggi, dan kurangi waktu terpapar.

c. Karbon Mono-oksida (CO) : bahaya gas beracun dapat mengenai pekerja di garasi (bengkel di ruang tertutup), terowongan, dan caissons, pekerja bagian limbah [sewer], kebakaran, peledakan, pembakaran bertekanan & temperatur tinggi / internal combustion engine (motor bakar, mesin-mesin, dll.)

Pola konsep K3 :

• Pengecekan kondisi udara di ruang kerja, pengaturan ruang kerja

(34)

• kurangi sumber pencemar gas beracun : rekayasa teknik (alat yang baik sehingga tidak banyak menghasilkan gas beracun, pergantian udara (sedot udara tercemar dan masukkan udara bersih), batas penggunaan mesin yang menghasilkan gas beracun

• kurangi paparan pekerja terhadap gas beracun kadar tinggi (pakai Alat Pelindung Diri: masker respirasi), kurangi waktu terpapar

• Rencana tindakan darurat penanganan korban

d. Dekompresi : penurunan tekanan udara (dekompresi) yang mendadak dapat menyebabkan caissons disease pada pekerja di bagian pembuatan caissons .

Pola konsep K3 :

• kurangi waktu terpapar

e. Uap Logam Berat (Racun) : pengecatan (spary painting), pemipaan, glazinc penanganan 'lead' / timbal, cadmium, zinc (seng), copper (tembaga), shee lead burning, mengamplas cat, mengelas besi yang dicat.

Pola konsep K3 :

• hindari paparan pekerja terhadap uap logam beracun (pakai Alat Pelindung Diri: masker respirasi), kurangi waktu terpapar

• pasokan udara segar (ventilasi) yang cukup gantikan udara tercemar ruang kerja terbuka

f. Dermatitis : penanganan minyak pelumas pemotong (cutting oils), creosok emulsi, lime (kapur), asam, semen (portland), concrete (campuran beton), cair dan pengencernya

Pola konsep K3:

• hindari paparan pekerja terhadap bahan kimia tersebut (pakai Alat Pelindung Diri : sarung tangan, sepatu / safety shoes, pakaian kerja pelindung badan yang sesuai), kurangi waktu terpapar

g. Cahaya Yang menyilaukan : pekerjaan pengelasan (las listrik, las karbit]

percikan logam panas / bercahaya Pola konsep K3 :

• hindarkan paparan pekerja langsung terhadap cahaya menyilaukan (pakai Alat Pelindung Diri : kacamata las yang sesuai), kurangi waktu terpapar

• hindarkan terpapar percikan logam panas (APD masker pelindung|

muka, pakaian pelindung badan dan kaki)

(35)

h. Kebisingan : Operasi alat-alat berat, generator set, dan bengkel, Pemecahan (chiping), penggerindaan (grinding), alat pemboran (drilling equipment) blasting.

Pola konsep K3 :

• Pengecekan tingkat kebisingan alat, rekayasa penurunan tingkat kebisingan

• hindarkan paparan pekerja terhadap kebisingan di atas Nilai Ambang Batas (pakai Alat Pelindung Diri : penutup telinga), kurangi waktu terpapar

• hindarkan orang / pekerja yang tanpa menggunakan APD terpapa kebisingan : rambu daerah wajib pakai penutup telinga, rambu larangan masuk

• pemeriksaan berkala terhadap pekerja yang terpapar kebisingan

i. Polutan baik domestik maupun material bangunan : limbah domestik yang tidak dikelola dengan baik dapat mengundang mikroba penyebab penyaki yang dapat menyerang manusia.

Pola konsep K3 :

• Penyediaan sarana dan penyelenggaraan sanitasi dan pengelolaan limbah yang baik

• Penyediaan air bersih yang cukup

j. Kecelakaan lalulintas yang mungkin timbul dan yang berkaitan dengan pengoperasian kendaraan dan alat berat;

Pola konsep K3 :

• Pemeriksaan kelaikan operasi bagi semua kendaraan

• Pemenuhan persyaratan operator dan sopir

• Pengaturan lalulintas, jalur dan arus lintasan, kecepatan, lama bekerja secara menerus

• Pengamanan daerah kerja (rambu)

• Pemakaian Alat Pelindung Diri

k. Kecelakaan yang mungkin timbul akibat peledakan dan efek samping peledakan;

Pola konsep K3 :

• Petugas yang kompeten (bersertifikat dan berpengalaman)

• Prosedur penyimpanan, pengangkutan, perakitan, pemasangan, dan peledakan

• Pengamanan sebelum peledakan, saat peledakan, dan sesuda peledakan

(36)

• Penyimpanan bahan peledak, lokasi dan disain gudang, pengamanan sisa bahan peledak, pengamanan gudang bahan peledak

l. Kecelakaan yang dapat timbul pada penggunaan perancah, pekerjaan di tempat tinggi lainnya;

Pola konsep K3 :

• Penentuan kapasitas perancah, syarat dan prosedur pemasangan

• Penggunaan APD (sabuk pengaman, jaring pengaman)

• Pengamanan daerah pengaruh operasi alat

m. Gangguan kesehatan yang mungkin timbul pada pekerjaan pembetonan penanganan semen, dan peralatannya

Pola konsep K3 :

• hindarkan paparan pekerja terhadap campuran beton, semen (paka Alat Pelindung Diri : sarung tangan, sepatu / safety shoes), kurangi waktu terpapar

• pemeriksanaan kelaikan alat, syarat dan prosedur pengoperasian

• pengamanan daerah pengaruh operasi alat

n. Bahaya yang mungkin timbul akibat longsoran tebing, dan atau timbunan material

Pola konsep K3 :

• Kurang atau hilangkan potensi terjadi longsoran, kurangi tingkat kelerengan tebing atau timbunan

• Hindarkan orang atau pekerja mendekati daerah rawan longsor (rambu o. Kecelakaan yang mungkin timbul pada penanganan bahan kimia, dan limbah.

Pola konsep K3 :

• Syarat dan prosedur penanganan bahan kimia dan limbah

p. keluhan sakit otot pinggang, tengkuk, dan dada dapat disebabkan karena pengaruh angin malam, pengaruh getaran mesin yang merambat pada anggota badan sendiri, sepertinya banyak diderita oleh operator dan drive Heavy Duty Truck karena duduk terlalu lama

Pola konsep K3 :

• rekayasa teknis : turunkan tingkat getaran

• hindari paparan pekerja terhadap getaran yang berlebih, kurangi waktu terpapar (jam kerja terputus)

• pemeriksaan kesehatan, peningkatan derajat kesehatan

(37)

Potensi K3 lain dapat bersumber pada keadaan alam maupun kondisi lingkungan kerja atau sumber lainnya, antara lain :

a. Kegagalan menyelesaikan pekerjaan untuk sebagian atau untuk sementara waktu sehingga terjadi hal-hal di luar rencana : belum selesainya bendungan penutupan sungai datang banjir yang melebihi tingkat ketinggian bendungan yang diselesaikan;

b. Kebakaran,

c. Badai, dan bencana alam lainnya.

Konsep Pedoman Teknis K3 harus mencakup semua usaha guna mengantisipasi semua potensi masalah kecelakaan dan gangguan kesehatan akibat kerja, baik yang bersifat preventif, penanggulangan dan pemulihan (kuratif), maupun promotif.

Termasu di dalamnya penyediaan pertolongan pertama pada kecelakaan, dan rencana penanganan keadaan darurat.

4.5 Pedoman Teknis dan Pelaksanaannya

Agar program K3 dapat dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, maka harus dibangun sikap bagi seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pekerjaan bahwa K3 adalah sangat penting dan dijaga agar mendapat penuh dukungan dari semua pihak yang terlibat. Sebagai awal pembinaan sikap adalah memberi contoh keteladanan dalam aktualisasinya, Pihak Manajemen dan Pengawas harus mentaati aturan keselamatan kerja tanpa kecuali, dan menciptakan daerah kerja yang bersih, dan kebiasaan yang teratur adalah merupakan insentif yang mendasar dalam membina sikap mental.

Dalam hal pelaksanaan K3 di lapangan Undang - undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja mencantumkan kewajiban dan hak tenaga kerja (yang dilindungi) dan pengurus atau penyelenggara pekerjaan antara lain :

Bab VIII Kewajiban dan Hak Tenaga Kerja Pasal 12 menyatakan bahwa tenaga kerja mempunyai kewajiban dan atau hak untuk :

a. Memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh pegawai pengawas dan atau tenaga ahli keselamatan kerja;

b. Memakai alat - alat perlindungan diri yang diwajibkan;

c. Memenuhi dan mentaati semua syarat - syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan;

(38)

d. Meminta pada pengurus agar dilaksanakan semua syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan;

e. Menyatakan keberatan kerja pada pekerjaan dimana syarat keselamatan dan kesehatan kerja serta alat - alat perlindungan diri yang diwajibkan diragukan olehnya kecuali dalam hal - hal khusus ditentukan lain oleh pegawai pengawas K3 dalam batas - batas yang masih dapat dipertanggungjawabkan.

Sedangkan Bab X Kewajiban Pengurus Pasal 14 mengatur kewajiban penguru sebagai berikut:

a. Secara tertulis menempatkan dalam tempat kerja yang dipimpinnya semua syarat keselamatan kerja yang diwajibkan, sehelai undang - undang ini dan semua peraturan pelaksanaannya yang berlaku bagi tempat kerja yang berangkutan, pada tempat - tempat yang mudah dibaca dan menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja;

b. Memasang dalam tempat kerja yang dipimpinnya semua gambar keselamatan kerja yang diwajibkan dan semua bahan pembinaan lainnya pada tempat - tempat yang mudah dilihat dan terbaca menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja;

c. Menyediakan secara cuma - cuma semua alat perlindungan diri yang diwajibkan pada tenaga kerja yang berada di bawah pimpinannya dan menyediakan bagi setiap orang lain yang memasuki tempat kerja tersebut disertai petunjuk-petunjuk yang diperlukan menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja;

Dalam rangka melaksanakan Pasal 14 ayat (c) tersebut tidak dijelaskan secara eksplisi sumberdana yang dapat digunakan apakah harus dimasukkan dalam biaya konstruksi secara terpisah, atau harus dimasukkan dalam biaya penawaran (implisit).

Di dalam kontrak konstruksi bendungan selama ini belum dijumpai item biaya penyelenggaraan K3 secara eksplisit.

Boleh jadi inilah yang salah satu hal yang menyebabkan terjadinya perbedaan pelaksanaan K3 di lapangan : ada yang cukup lengkap ada pula yang sekedarnya.

Sebagai perbandingan Undang - undang No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja yang mewajibkan Kontraktor mengikutsertakan tenaga kerjanya dalam program (asuransi) jaminan sosial tenaga kerja (yang didalamnya terdapat asuransi kecelakaan kerja, dan asuransi kematian), dan dijabarkan dalam peraturan pemeintah No. 14 tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja sudah dimasukkan dalam kontrak konstruksi.

(39)

Oleh karena itu, pelaksanaan K3 bidang konstruksi sumber daya air memerlukan usaha aktif semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan konstruksi sumber daya air dan memerlukan pijakan peraturan yang jelas dan tegas, termasuk pedoman penyelenggaraannya antara lain Kepment. PU No. 384/KPTS/M/2004, Pedoman Teknis K3 Konstruksi Bendungan. Disamping itu, tersedianya sarana dan prasarana penunjang, dan tenaga pelaksana yang mempunyai kualifikasi yang disyaratkan merupakan hal yang penting guna pelaksanaan program K3 bidang konstruksi sumber daya air.

(40)

BAB 5

SISTEM MANAJEMEN K3

Pelaksanaan K3 akan melibatkan penyelengara pekerjaan konstruksi, pelaksana lapangan (kontraktor dan pengawas teknik), ahli K3 dan tenaga kerja sebagai pelaksana pekerjaan di lapangan.

Untuk mewujudkan K3 yang baik mutlak diperlukan :

a. Adanya perhatian yang seksama dari semua unsur pimpinan , baik dipusat maupun di tingkat yang lebih rendah atau unit kerja sehingga segala sarana yang diperlukan bagi kelancaran pelaksanaan K3 dilingkungannya masing-masing mudah didapat

b. Adanya Badan Organisasi dengan petugas pelaksana yang dibebani tugas serta kewajiban menangani tugas-tugas keselamatan kerja disetiap unit kerja

c. Adanya peraturan-peraturan keselamatan kerja di setiap unit kerja dalam bentuk buku-buku, poster dan lain-lain sebagai pedoman dan petunjuk pelaksanan sehingga pembinaan K3 dapat berjalan dengan lancar, dan

d. Adanya alat pengaman kerja dan perlindungan diri yang lengkap dengan jumlah dan spesifikasi sesuai dengan jenis pekerjaan yang dihadapi disetiap unit kerja.

Menteri Tenaga Kerja telah mengeluarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.

Per.05/Men/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang mengatur bagaimana K3 seharusnya dilaksanakan. Unsur-unsur dalam manajemen khususnya proyek konstruksi adalah Pengurus (Pemimpin Proyek), Pegawai Pengawas Ketenaga kerjaan yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Tujuan dan sasaran sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja adalah menciptakan suatu sistem keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja dengan melibatkan unsur manajemen dan tenaga kerja, kondisi dan lingkungan kerja yang terintegrasi, dalam rangka mencegah dan mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta terciptanya tempat kerja yang aman, efisen dan produktif.

Pada pelaksanaan pekerjaan konstruksi bangunan sumber daya air yang memperkerjakan 100 tenaga kerja atau lebih dan atau mengandung potensial bahaya

(41)

yang ditimbulkan oleh karakteristik tempat kerja, bahan bangunan atau peralatan yang digunakan, wajib menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja.

Penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja diatur dalam lampiran Peraturan Menteri Tenaga Kerja no 05/Men/1996 tentang sistem Manajemen dan Keselamatan Kerja (SMK3)

Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan manajemen proyek konstruksi yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, personel yang dibutuhkan, penerapan serta pengukuran dan evaluasi .

5.1 Perencanaan

Pemimpin Proyek yang didukung dengan kontrak pekerjaan konstruksi sumber daya air, melalui kontraktor yang ditunjuk harus menyiapkan perencanaan program keselamatan dan kesehatan kerja yang efektif.

Perencanaan meliputi penyediaan personil-personil sesuai kualifikasi yang ditugaskan melaksanakan program K3 dan pengawas ahli, mempersiapkan keperluan alat-alat keselamatan kerja dan pengadaannya, menyiapkan brosur-brosur prosedur dan aturan-aturan manual keselamatan kerja, mempersiapkan pertemuan awal untuk personel-personel kunci sebelum mulai pelaksanaan pekerjaan, mengadakan training/

pelatihan dan menyediakan keperluan anggarannya untuk melaksanakan program K3 tersebut.

Keperluan anggaran untuk melaksanakan program K3 semestinya harus disediakan secara eksplisit oleh kontraktor yang termasuk dan disyaratkan di dalam kontrak pekerjaan konstruksi sumber daya air.

5.2 Penerapan

Untuk mencapai tujuan keselamatan dan kesehatan kerja yang secara nyata mengurangi biaya operasional pelaksanaan pekerjaan, kontraktor harus merealisasikan rencana program K3 tersebut dengan cara:

a. Menunjuk dan menetapkan personel yang ditugaskan melaksanakan program K3 dan pengawas ahli keselamatan kerja

(42)

b. Mengadakan pertemuan awal sebelum mulai melaksanakan pekerjaan untuk personel-personel kunci, membicarakan usaha pencegahan kecelakaan kerja, program, kebutuhan alat-alat keselamatan kerja dan pengadaannya, serta gangguan terhadap kemungkinan terjadinya kerusakan properti milik umum disekitar proyek akibat pelaksanaan pekerjaan konstruksi.

c. Mengadakan pertemuan periodik untuk mengevaluasi kinerja pelaksanaan program K3 dan laporan-laporan dari lapangan.

d. Proyek dapat megintegrasikan sistem manajemen K3 ke dalam manajemen proyek.

5.3 Tanggung jawab

Proyek harus mendorong kepada semua pihak untuk berperan serta dalam penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja antara lain dengan mengadakan:

a. Pelatihan-pelatihan bagi personel yang terlibat b. Menetapkan prosedur pelaporan

Prosedur pelaporan perlu ditetapkan untuk menangani:

▪ Pelaporan terjadinya insiden

▪ Pelaporan ketidaksesuaian dari pelaksanaan K3 di lapangan

▪ Pelaporan identifikasi sumber bahaya di tempat kerja

▪ Pelaporan kinerja keselamatan dan kesehatan kerja c. Menerapkan prosedur menghadapi keadaan darurat

d. Proyek harus mereview prosedur yang telah ditetapkan pada saat kejadian yang sebenarnya.

e. Menetapkan prosedur menghadapi insiden yang meliputi

▪ Menyediakan fasilitas Pertolongan pertama Pada Kecelakan (P3K) dengan jumlah yang cukup memadai, sampai mendapat pertolongan medik

▪ Proses perawatan selanjutnya

f. Menetapkan prosedur pemulihan keadaan darurat

g. Proyek harus mempunyai prosedur pemulihan keadaan darurat untuk secara cepat mengembalikan keadaan seperti semula dan membantu tenaga kerja yang mengalami trauma pemulihan.

h. Pendokumentasian.

Proyek harus membuat dokumentasi pelaksanaan program K3 dengan sistematis sesuai kebutuhan, mengatur dan memelihara kumpulan dokumentasi tersebut.

Referensi

Dokumen terkait