• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELATIHAN AHLI SUPERVISI KONSTRUKSI JARINGAN IRIGASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PELATIHAN AHLI SUPERVISI KONSTRUKSI JARINGAN IRIGASI"

Copied!
71
0
0

Teks penuh

(1)

PELAKSANAAN

PELATIHAN

AHLI SUPERVISI KONSTRUKSI

JARINGAN IRIGASI

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA PUSAT PEMBINAAN KOMPETENSI DAN PELATIHAN KONSTRUKSI

(2)

KATA PENGANTAR

Usaha dibidang Jasa konstruksi merupakan salah satu bidang usaha yang telah berkembang pesat di Indonesia, baik dalam bentuk usaha perorangan maupun sebagai badan usaha skala kecil, menengah dan besar. Untuk itu perlu diimbangi dengan kualitas pelayanannya. Pada kenyataannya saat ini bahwa mutu produk, ketepatan waktu penyelesaian, dan efisiensi pemanfaatan sumber daya relatif masih rendah dari yang diharapkan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain adalah ketersediaan tenaga ahli/ terampil dan penguasaan manajemen yang efisien, kecukupan permodalan serta penguasaan teknologi.

Masyarakat sebagai pemakai produk jasa konstruksi semakin sadar akan kebutuhan terhadap produk dengan kualitas yang memenuhi standar mutu yang dipersyaratkan. Untuk memenuhi kebutuhan terhadap produk sesuai kualitas standar tersebut, perlu dilakukan berbagai upaya, mulai dari peningkatan kualitas SDM, standar mutu, metode kerja dan lain-lain.

Salah satu upaya untuk memperoleh produk konstruksi dengan kualitas yang diinginkan adalah dengan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang menggeluti perencanaan baik untuk bidang pekerjaan jalan dan jembatan, pekerjaan sumber daya air maupun untuk pekerjaan dibidang bangunan gedung.

Kegiatan inventarisasi dan analisa jabatan kerja dibidang sumber daya air, telah menghasilkan sekitar 130 (seratus Tiga Puluh) Jabatan Kerja, dimana Jabatan Kerja Ahli

Supervisi Konstruksi Jaringan Irigasi merupakan salah satu jabatan kerja yang

diprioritaskan untuk disusun materi pelatihannya mengingat kebutuhan yang sangat mendesak dalam pembinaan tenaga kerja yang berkiprah dalam perencanaan konstruksi bidang sumber daya air.

Materi pelatihan pada Jabatan Kerja Ahli Supervisi Konstruksi Jaringan Irigasi ini terdiri dari 12 (duabelas) modul yang merupakan satu kesatuan yang utuh yang diperlukan dalam melatih tenaga kerja yang menggeluti Ahli Supervisi Konstruksi

Jaringan Irigasi.

Namun penulis menyadari bahwa materi pelatihan ini masih banyak kekurangan khususnya untuk modul Pengetahuan Gambar Konstruksi/Pelaksanaan pekerjaan konstruksi Sumber Daya Air.

Untuk itu dengan segala kerendahan hati, kami mengharapkan kritik, saran dan masukan guna perbaikan dan penyempurnaan modul ini.

(3)

LEMBAR TUJUAN

JUDUL PELATIHAN : PELATIHAN AHLI SUPERVISI KONSTRUKSI JARINGAN

IRIGASI

TUJUAN PELATIHAN

A.

Tujuan Umum Pelatihan

Mampu melakukan kegiatan perencanaan irigasi, memeriksa dan mengarahkan asisten perencana dan juru gambar dalam melakukan kegiatan perencanaan irigasi sesuai tahapan perencanaan, metode perencanaan dan spesifikasi yang ada dalam kontrak.

B. Tujuan Khusus Pelatihan

Setelah mengikuti pelatihan peserta mampu:

1. Mempelajari dan memahami R.T.R.W. Nas/ Prop/ Kab/ Kota, rencana pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai, menjaring ide masukan dari

Stake Holder dan kajian hubungan keterkaitan R.T.R.W. Nas/ Prop/ Kab/

Kota menuju pengembangan irigasi

2. Memanfaatkan dan menerapkan hasil analisis data survai dan investigasi (primer & sekunder) hidrologi, topografi, geologi, geoteknik, kesesuaian lahan, sosial-ekonomi, adat, budaya dan lingkungan

3. Menerapkan hasil analisis keseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan air untuk penyusunan pola tanam dan rencana tata tanam

4. Membuat pra lay out peta petak, jaringan irigasi dan drainase, pengecekan lapangan, sosialisasi, konsultasi publik dan menetapkan lay out definitif 5. Menghitung dimensi bangunan utama, menghitung dimensi saluran dan

bangunannya berdasarkan hasil pengukuran dan penggambaran trase saluran

6. Menyiapkan konsep, memeriksa dan mengkoreksi gambar perencanaan dan mengikuti proses uji model hidrolis yang diperlukan

(4)

NOMOR MODUL : ICSE - 08

JUDUL MODUL

: PENGETAHUAN GAMBAR KONSTRUKSI/PELAKSANAAN

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU)

Setelah selesai mempelajari modul ini peserta mampu menjelaskan dan menerapkan METODE MENGGAMBAR TEKNIS

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK)

Setelah modul ini diajarkan peserta mampu :

1. Menerapkan ukuran kertas gambar dan blok judul

2. Menerapkan penomoran gambar, pengecilan gambar dan penunjukan arah gambar 3. Menerapkan skala, tebal garis, tinggi huruf dan angka, ukuran dan indikasi gambar 4. Menerapkan simbol, arsiran dan singkatan kata dalam gambar

5. Menerapkan susunan/ penempatan gambar-gambar untuk saluran irigasi, pembuang dan tanggul

(5)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

LEMBAR TUJUAN ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN MODUL PELATIHAN AHLI PERENCANA IRIGASI ... vi

DAFTAR MODUL ... vii

PANDUAN PEMBELAJARAN ... viii

MATERI SERAHAN ... xii

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1 – 1 1.1 Umum ... 1 – 1 1.2 Tenaga Pengguna ... 1 – 1 BAB 2 UKURAN KERTAS GAMBAR ... 2 – 1 BAB 3 BLOK JUDUL ... 3 – 1 BAB 4 PENOMORAN GAMBAR ... 4 – 1 BAB 5 PENGECILAN GAMBAR ... 5 – 1 BAB 6 PENUNJUKAN ARAH GAMBAR ... 6 – 1 BAB 7 SKALA, TEBAL GARIS, TINGGI HURUF DAN ANGKA ... 7 – 1 BAB 8 UKURAN DAN INDIKASI ... 8 – 1 BAB 9 SIMBOL ARSIRAN DAN SINGKATAN ... 9 – 1 BAB 10 GAMBAR-GAMBAR UNTUK SALURAN, PEMBUANG DAN TANGGUL ... 10 – 1 BAB 11 TATA WARNA PETA ... 11 – 1 BAB 12 PELIPATAN GAMBAR ... 12 – 1 DAFTAR PUSTAKA

(6)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Ukuran-ukuran kertas dan garis-garis tepi untuk gambar ... 2 – 1 Gambar 2 Blok judul ... 3 – 1 Gambar 3 Cara mengisi blok judul ... 3 – 2 Gambar 4 Tebal garis untuk gambar-gambar bangunan ... 7 – 3 Gambar 5 Penunjuk skala ... 7 – 4 Gambar 6 Ukuran dan petunjuk ... 8 – 1 Gambar 7 Blok gambar untuk saluran-saluran irigasi ... 10 – 1 Gambar 8 Blok gambar untuk saluran-saluran pembuang ... 10 – 2 Gambar 9 Blok gambar untuk tanggul ... 10 – 3 Gambar 10 Tipe tata letak gambar situasi dan gambar potongan memanjang ... 10 – 4 Gambar 11 Tipe tata letak gambar potongan melintang (saluran kecil) ... 10 – 5 Gambar 12 Tipe-tipe tata letak gambar potongan melintang

(saluran sedang dan besar) ... 10 – 6 Gambar 13 Blok gambar untuk potongan melintang ... 10 – 7 Gambar 14 Pelipatan gambar ... 12 – 1

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Skala, tebal garis dan tinggi huruf ... 7 – 2 Tabel 2 Singkatan-singkatan yang digunakan dalam gambar ... 9 – 1 Tabel 3 Simbol peta ... 12 – 2 Tabel 4 Standar arsiran ... 12 – 11 Tabel 5 Simbol-simbol penyelidikan geologi teknik dan mekanika tanah ... 12 – 14

(7)

DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN MODUL

PELATIHAN AHLI SUPERVISI KONSTRUKSI JARINGAN IRIGASI

1. Kompetensi kerja yang disyaratkan untuk jabatan kerja Ahli Supervisi Konstruksi Jaringan Irigasi(Irrigation Construction Supervisor Engineer) dibakukan dalam Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang didalamnya telah ditetapkan unit-unit kompetensi, elemen kompetensi, dan kriteria unjuk kerja sehingga dalam Pelatihan Ahli Supervisi Konstruksi Jaringan Irigasi unit-unit tersebut menjadi Tujuan Khusus Pelatihan.

2. Standar Latihan Kerja (SLK) disusun berdasarkan analisis dari masing-masing Unit Kompetensi, Elemen Kompetensi dan Kriteria Unjuk Kerja yang menghasilkan kebutuhan pengetahuan, keterampilan dan sikap perilaku dari setiap Elemen Kompetensi yang dituangkan dalam bentuk suatu susunan kurikulum dan silabus pelatihan yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan kompetensi tersebut.

3. Untuk mendukung tercapainya tujuan khusus pelatihan tersebut, maka berdasarkan Kurikulum dan Silabus yang ditetapkan dalam SLK, disusun seperangkat modul pelatihan (seperti tercantum dalam Daftar Modul) yang harus menjadi bahan pengajaran dalam pelatihan Ahli Supervisi Konstruksi Jaringan Irigasi.

(8)

DAFTAR MODUL MODUL NOMOR : ICSE. 08

JUDUL :

PENGETAHUAN GAMBAR KONSTRUKSI/PELAKSANAAN

Merupakan salah satu modul dari :

NO. KODE JUDUL

1. ICSE. 01 Etika Profesi, Etos Kerja, UU Jasa Konstruksi Dan UU SDA 2. ICSE. 02 Sistem Manajemen K3, Pedoman Teknis K3, RKL dan RPL 3. ICSE. 03 Pengenalan Survai Dan Investigasi

4. ICSE. 04 Pengenalan Dokumen Tender Dan Dokumen Kontrak 5. ICSE. 05 Pengenalan Manual O & P

6. ICSE. 06 Kriteria Desain Irigasi 7. ICSE. 07 Perhitungan Desain Irigasi

8. ICSE. 08 Pengetahuan Gambar Konstruksi/Pelaksanaan 9. ICSE. 09 Manajemen Konstruksi

10 ICSE. 10 Manejemen Mutu

11 ICSE. 11 Metode Pelaksanaan ( Construction Method ) dan Perhitungan Biaya Konstruksi

(9)

PANDUAN PEMBELAJARAN

PELATIHAN : AHLI PERENCANA IRIGASI

JUDUL MODUL : METODE MENGGAMBAR TEKNIS KETERANGAN KODE MODUL : IDE. 05

DESKRIPSI : Materi ini terutama membahas pengetahuan gambar konstruksi pada pekerjaan di bidang sumber daya air yang meliputi : ukuran kertas gambar Blok judul, penomoran gambar, pengecilan gambar, penunjukan arah gambar, skala, tebal garis, tinggi huruf dan angka ukuran dan indikasi, simbol arsiran dan singkatan, gambar-gambar untuk saluran pembuang dan tanggul, tata warna peta, pelipatan gambar

TEMPAT KEGIATAN : Dalam ruang kelas lengkap dengan fasilitasnya

(10)

KEGIATAN INSTRUKTUR KEGIATAN PESERTA PENDUKUNG

1. CERAMAH : Pembukaan  Menjelaskan Tujuan

Instruksional (TIU & TIK)  Merangsang motivasi peserta

dengan pertanyaan atau pengalamannya dalam penerapan metode menggambar teknis

Waktu : 5 menit Bahan : Lembar tujuan

2. CERAMAH : Pendahuluan  Gambaran dari maksud dan

pengguna modul metode menggambar teknis serta tata cara

 Menjelaskan maksud metode menggambar teknis

 Menjelaskan penggunaan metode menggambar teknis dan tata cara menggambar

Waktu : 10 menit

Bahan : Materi serahan (Bab 1 Pendahuluan)

3. CERAMAH : Tentang ukuran kertas dan blok judul

 Menjelaskan ukuran kertas gambar

 Menjelaskan blok judul dalam kertas gambar

Waktu : 15 menit

Bahan : Materi serahan (Bab 2 Ukuran Kertas dan Bab 3 Blok Judul)

 Mengikuti penjelasan TIU dan TIK dengan tekun dan aktif

 Mengajukan pertanyaan apabila kurang jelas

 Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

 Mencatat hal-hal yang perlu

 Mengajukan pertanyaan bila perlu

 Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

 Mencatat hal-hal yang perlu  Mengajukan pertanyaan bila perlu OHT No. 3 OHT No. 4 s/d 5 OHT No. 6 s/d 8

(11)

KEGIATAN INSTRUKTUR KEGIATAN PESERTA PENDUKUNG

4. CERAMAH : Penomoran gambar dan pengecilan gambar serta penunjuk arah gambar

 Menjelaskan penomoran gambar

 Menjelaskan pengecilan gambar

 Menjelaskan penunjuk arah gambar

Waktu : 15 menit

Bahan : Materi serahan (Bab 4 Penomoran Gambar dan Bab 5 Pengecilan Gambar serta Bab 6 Penunjuk Arah Gambar)

5. CERAMAH : Skala, tebal garis, tinggi huruf dan angka serta ukuran dan indikasi)

 Menjelaskan skala, tebal garis, tinggi huruf dan angka  Menjelaskan ukuran dan

indikasi

Waktu : 15 menit

Bahan : Materi serahan (bab 7 Skala, Tebal Garis, Tinggi Huruf dan Angka Bab 8 Ukuran dan Indikasi)

 Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

 Mencatat hal-hal yang perlu

 Mengajukan pertanyaan bila perlu

 Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

 Mencatat hal-hal yang perlu  Mengajukan pertanyaan bila perlu OHT No. 9 s/d 15 OHT No. 16 s/d 18

(12)

KEGIATAN INSTRUKTUR KEGIATAN PESERTA PENDUKUNG

6. CERAMAH : Simbol arsiran dan singkatan serta gambar-gambar untuk saluran pembuang dan tanggul

 Menjelaskan simbol arsiran dan singkatan

 Menjelaskan gambar-gambar untuk saluran pembuang dan tanggul

Waktu : 15 menit

Bahan : Materi serahan (Bab 9 Simbol Arsiran dan Singkatan dan Bab 10 Gambar-gambar untuk Saluran Pembuang dan Tanggul)

7. CERAMAH : Tata warna peta dan pelipatan gambar

 Menjelaskan tata warna  Menjelaskan pelipatan

gambar

Waktu : 15 menit

Bahan : Materi serahan (Bab 11 Tata Warna Peta dan Bab 12 Pelipatan Gambar)

 Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

 Mencatat hal-hal yang perlu

 Mengajukan pertanyaan bila perlu

 Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

 Mencatat hal-hal yang perlu  Mengajukan pertanyaan bila perlu OHT No. 19 s/d 23 OHT No. 24 s/d 26

(13)
(14)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Umum

Metode menggambar teknis ini dimaksudkan sebagai panduan dalam pembuatan gambar-gambar teknis untuk pekerjaan irigasi

Gambar-gambar teknis ini bisa meliputi : - Peta topografi

- Peta tata letak - Peta geologi

- Gambar denah, potongan memanjang dan melintang untuk saluran irigasi pembawa dan pembuang

- Gambar denah, potongan memanjang dan melintang untuk bangunan irigasi pembawa dan pembuang

Sebelum suatu jaringan irigasi (baik baru maupun rehabilitasi) dimulai pelaksanaan konstruksinya banyak tenaga teknik terlibat dalam pembuatan semua jenis gambar. Tanpa adanya gambar-gambar tersebut baik perencanaan maupun pelaksanaan pekerjaan tidak akan pernah bisa dilakukan, misalnya tanpa ada peta topografi, perencana tidak dapat merencanakan peta lay out/ peta petak atau tanpa gambar konstruksi pelaksana/ kontraktor tidak dapat melaksanakan pekerjaan konstruksi yang diinginkan.

1.2 Tenaga Pengguna

Para tenaga teknik yang membuat dan atau yang menggunakan gambar dalam bidang pekerjaannya antara lain adalah :

- Ahli topografi membuat peta topografi

- Ahli geologi yang melakukan pekerjaan penyelidikan geologi menggunakan peta topografi dan membuat peta geologi

- Perencana menggunakan peta topografi dan membuat peta tata letak, membuat konsep gambar konstruksi (saluran dan bangunan)

- Juru gambar, yang membuat konsep-konsep gambar

- Pengawas lapangan, menggunakan gambar-gambar peta dasar konstruksi - Kontraktor menggunakan gambar-gambar peta dasar konstruksi

(15)

Agar semua orang ini bisa saling mengerti, maka dibuatlah suatu s tandar untuk semua tampakan (baik denah/ situasi maupun penampang/ potongan) yang diperlukan pada gambar-gambar tersebut.

Setelah menyelesaikan pekerjaan lapangannya yang terdiri dari penyipatan datar (levelling) dan pengukuran, ahli topografi harus mencantumkan semua hasilnya pada peta. Semua harus diusahakan selengkap mungkin. Peta yang dibuat menggunakan skala tertentu. Segala sesuatu yang ditemui di lapangan digambar sesuai dengan skala tersebut.

Oleh karena itu ia harus menggunakan simbol-simbol, garis dan arsiran. Misalnya : sebuah sungai yang lebar dapat digambar dengan dua garis yang menunjukkan tepian sungai, tetapi untuk sungai yang kecil cukup digambar dengan satu garis. Kadang-kadang bangunan dapat digambar lengkap pada peta berskala besar, tetapi pada peta berskala kecil bangunan tadi hanya akan ditunjukkan dengan titik. Selanjutnya ahli topografi akan menggunakan simbol untuk menunjukkan bangunan itu.

Ia juga dapat menunjukkan relief yang ia jumpai di lapangan, yang terdiri dari perbukitan dan pegunungan, cekungan atau tanggul-tanggul. Semua ini ditunjukkan dengan garis-garis tinggi/ kontur. Arsiran yang dipakai untuk menunjukkan rawa-rawa, hutan, persawahan dan sebagainya.

Demikian juga ahli geologi mempunyai simbol-simbol dan arsiran khusus untuk menunjukkan tampakan-tampakan yang ia temukan selama penyelidikan di lapangan.

Perencana diharapkan bisa mengerti simbol-simbol dan arsiran-arsiran ini dan dapat menginterpretasikannya. Perencana mampu memutuskan tipe/ macam tanggul dan pembuang yang dipilih, kesemuanya ini mempunyai simbol-simbol, tipe-tipe garis dan arsiran untuk menunjukkan rencananya serta bahan-bahan yang dipakai.

Juru gambar bertugas untuk, antara lain membuat gambar-gambar yang dipakai di lapangan selama pelaksanakan pekerjaan. Ia harus membuat gambar-gambar yang jelas yang bisa dipahami baik oleh kontraktor maupun pengawas. Setiap bagian dari saluran atau bangunan harus tampak dari detailnya ditunjukkan seperlunya. Petunjuk-petunjuk yang diberikan pada gambar-gambar itu akan memperjelas hal-hal yang dapat menyimpulkan salah pengertian :

Gambar-gambar harus dibuat dengan skala, walaupun mengukur dari gambar tidak pernah dibolehkan. Dimensi-dimensi diberikan dalam meter, sentimeter atau milimeter, tergantung pada apa yang akan ditunjukkan dalam gambar. Dalam hal ini akan

(16)

dibicarakan mengenai ukuran kertas gambar, blok judul, penomoran gambar, pengecilan gambar, penunjukan arah gambar, skala, tebal garis, tinggi huruf dan angka, ukuran dan indikasi simbol-simbol arsiran dan lain-lain yang akan digunakan agar bisa membantu mereka yang berkecimpung dalam penggambaran pekerjaan irigasi.

(17)

BAB 2

UKURAN KERTAS GAMBAR

Sebagai aturan, semua pekerjaan penggambaran akan memakai ukuran-ukuran kertas gambar berikut : (w) (l) A0 A1 A2 A3 A4 841 594 420 297 210 1189 841 594 450 297

Antara (l) dan (w) adalah tetap dengan perbandingan

2 : 1

Ukuran-ukuran kertas yang dicetak tebal adalah yang lebih disukai untuk digunakan dalam pekerjaan irigasi.

Sedapat mungkin penggunaan kertas ukuran A0 hendaknya dihindari. Sebagai lembar

standar dipakai kertas ukuran A1. Garis-garis tepi (marginal) akan ditempatkan sebagai

berikut :

(18)

BAB 3

BLOK JUDUL

Blok-blok judul seperti ditunjukkan gambar 2 akan dipakai dalam semua gambar dan letaknya di sudut kanan bawah tiap-tiap gambar. Gambar 3 adalah contoh bagaimana blok judul itu harus diisi.

(19)
(20)

BAB 4

PENOMORAN GAMBAR

Penomoran gambar-gambar akan diatur sedemikian sehingga tipe gambar akan mudah dikenali. Demikian juga sistem penomoran akan mempermudah pengarsipan/ penyimpanan gambar-gambar itu. Sistem penomoran dibatasi untuk satu jaringan irigasi/ pembuang saja.

Jaringan-jaringan yang lain bisa ditandai dengan membubuhkan singkatan nama jaringan itu atau dengan membubuhkan sebuah huruf di depan nomor gambar.

Nomor gambar dicantumkan dalam blok judul pada nomor register : Nomor gambar dapat dibagi menjadi bagian fungsional dan bagian urutan. Nomor gambar akan disusun seperti berikut :

A - Menunjukkan tipe gambar, misalnya :

0. Gambar-gambar pengukuran – dan penyelidikan 1. Gambar-gambar pelaksanaan

2. Gambar-gambar pabrikan

3. Gambar-gambar purnalaksana (As built drawings)

BB - Menunjukkan pengelompokan gambar sesuai dengan judul, misalnya : 01. Tata letak (skala 1 : 25.000; 1 : 5.000; 1 : 2.000)

02. Bangunan utama dan bangunan-bangunan pelengkap 03. Saluran irigasi

04. Bangunan irigasi

05. Gambar standar (pintu, skala, dan sebagainya) 06. Saluran pembuang 07. Bangunan pembuang 08. Tanggul 09. Bangunan bantu 10. Jembatan 11. Bangunan pelengkap 12. Petak tersier A – BB – CC – DD Tipe gambar

Pembagian butir (item) Pengelompokan gambar

(21)

CC - Menunjukkan pembagian butir yang disebutkan dalam BB, misalnya : - Bangunan utama dan bangunan pelengkap :

1-02-01 Bangunan pengelak (diversion structure) dengan pembilas 1-02-02 Pengambilan utama

1-02-03 Kantong Lumpur

1-02-04 Bangunan pengambilan saluran primer 1-02-05 Pembilas dan saluran pembilas

1-02-06 Tanggul penutup

1-02-07 Pekerjaan lindungan sungai - Saluran irigasi 1-03-01 Saluran primer X 1-03-02 Saluran sekunder A 1-03-03 Saluran sekunder B 1-03-04 …. - Bangunan irigasi

1-04-01 (untuk saluran primer X) – 01 1-04-01-02

1-04-02 (untuk saluran sekunder A) – 01 1-04-02-02

1-04-02-03

- Saluran pembuang

1-06-01 Saluran pembuang primer…. 1-06-02 Saluran pembuang sekunder…. 1-06-03 Saluran pembuang sekunder…. 1-06-04 …. - Petak tersier 1-12-01 Tata letak 1-12-02 Saluran irigasi 1-12-03 Bangunan irigasi 1-12-04 Saluran pembuang 1-12-05 Bangunan pembuang

Bangunan-bangunan di saluran irigasi tertentu akan diberi nomor – CC pada gambar saluran irigasi.

Gambar-gambar untuk tiap butir yang disebutkan di dalam CC akan diberi nom or urut. Tiap butir yang disebutkan di dalam CC akan diberi nomor urut. Tiap butir dimulai 01 Contoh :

1 – 03 – 02 – 05

Gambar konstruksi

Saluran sekunder Saluran irigasi

(22)

Sebagian dari gambar konstruksi dan pengukuran dipakai sebagai gambar-gambar tender. Gambar-gambar-gambar tender ini terdiri dari pilihan gambar-gambar-gambar-gambar kontrak. Semua gambar yang dipakai untuk pelaksanaan pekerjaan akan direvisi lagi menjadi gambar purnalaksana, setelah itu nomor pertama akan diubah menjadi nomor 3. Contoh : 1-04-03-02 menjadi 3-04-03-02

1 – 04 – 02 – 02

Gambar konstruksi

Bangunan di saluran sekunder Bangunan irigasi

(23)

BAB 5

PENGECILAN GAMBAR

Gambar hendaknya tidak diperkecil sampai melebihi setengah dari ukuran kertas gambar aslinya. Pengecilan maksimum adalah sampai ukuran kertas A3.

Di antara berbagai ukuran gambar standar, ada perbandingan tetap yaitu 1 :

2. Pengecilan maksimum adalah :

A0 A2

A1 A3

Semua gambar harus diperkecil supaya mudah disimpan pada microfilm. Jika kriteria yang dibicarakan dalam bagian ini diikuti, maka perlu dibuat suatu persyaratan agar gambar-gambar mudah dicari sewaktu diperlukan dan agar gambar-gambar itu tetap bisa dibaca setelah diperbesar lagi.

Hal-hal berikut hendaknya dipertimbangkan pada waktu membuat gambar-gambar yang akan diperkecil :

- tinggi huruf dan angka tidak boleh kurang dari 3 mm;

- tebal garis untuk huruf dan angka adalah 1/10 dari tingginya; - tebal garis untuk pekerjaan gambar tidak lebih kecil dari 0,25 mm;

- untuk arsiran, tebal garis tidak boleh lebih kecil dari 0,18 mm dan jarak antar garis tidak kurang dari 3 mm untuk gambar bangunan dan 2 mm untuk gambar-gambar pekerjaan baja (arsiran potongan baja, perunggu, karet dan sebagainya)

(24)

BAB 6

PENUNJUKAN ARAH GAMBAR

Pada peta-peta topografi dan peta-peta situasi, arah utara ditunjukkan ke arah atas gambar. Data mengenai jaringan grid (gridnet), kalau ada, akan ditulis di sepanjang garis -garis tepi/ marginal kertas gambar.

Peta-peta situasi sungai dan peta-peta situasi untuk trase saluran atau pembuang akan digambar sedemikian sehingga arah aliran adalah ke arah kanan gambar.

Potongan memanjang sungai, saluran, pembuang atau tanggul akan digambar langsung di bawah peta situasi. Juga, dalam potongan memanjang arah aliran adalah ke kanan gambar.

Peta situasi dan potongan memanjang yang muncul dalam satu gambar, akan menunjukkan bentang sungai, saluran, pembuang atau tanggul yang sama.

Kalau sungai, saluran atau pembuang dilihat ke arah hilir, maka tanggul di sebelah kanan disebut tanggul kanan dan yang kiri disebut tanggul kiri. Potongan melintang akan digambar dengan tanggul-kiri sebelah kiri dan tanggul-kanan sebelah kanan.

Untuk gambar-gambar bangunan di saluran atau pembuang, denah akan dicantumkan di sebelah kiri atas gambar, sedemikian rupa sehingga arah aliran saluran atau pembuang adalah ke arah kanan gambar. Tepat di bawah denah, akan digambar potongan yang paralel terhadap arah aliran. Untuk bangunan-bangunan besar – atau bagian-bagiannya akan digambar sedemikian rupa sehingga arah aliran sungai atau saluran adalah ke kanan atau ke sebelah bawah gambar.

(25)

BAB 7

SKALA, TEBAL GARIS, TINGGI HURUF DAN ANGKA

Skala gambar bergantung kepada apa yang harus ditunjukkan oleh gambar itu atau seberapa detail gambar itu harus dibuat.

Dalam pekerjaan gambar dipakai bermacam-macam tebal garis dan huruf atau tinggi angka agar gambar lebih mudah dibaca. Tebal garis dan tinggi angka akan berbeda-beda menurut skala gambar. Dalam tabel 1 diberikan skala, tebal garis dan tinggi huruf atau angka untuk berbagai tipe gambar. Untuk tebal huruf dan angka dianjurkan untuk memakai 1/10 dari tinggi huruf/ angka. Juga, dianjurkan untuk gambar-gambar peta dipakai tebal garis seperti yang diberikan dalam daftar, dengan simbol-simbol peta pada tabel 3 serta tebal garis untuk gambar-gambar bangunan seperti yang disajikan pada gambar 4.

Penunjuk skala (scale bar) akan menunjukkan dimensi sebagaimana diberikan pada gambar, dalam meter atau sentimeter, dan untuk pekerjaan baja dalam milimeter.

Kalau ukuran gambar diperkecil, maka skala semula akan ditunjukkan dengan angka, demikian pula skala yang baru (sesudah pengecilan) dengan menggunakan penunjuk skala.

Gambar 5 memperlihatkan penunjuk skala untuk berbagai skala.

Penunjuk skala akan memperlihatkan dimensi-dimensi yang diberikan pada gambar, dalam meter atau sentimeter, dan untuk pekerjaan baja dalam milimeter.

(26)

Tabel 1 Skala, tebal garis dan tinggi huruf

Tipe gambar skala Tebal-garis (mm)

Tinggi huruf/ angka (mm) Peta

Peta topografi

Peta situasi bendung

Peta ikhtisar dan peta petak

Peta situasi jaringan tersier

Peta situasi/ peta situasi trase

Potongan memanjang - horisontal

- vertikal

Potongan melintang horisontal dan vertikal

Gambar-gambar bangunan Denah umum Denah Potongan Detail 1 : 50.000 1 : 25.000 1 : 5.000 1 : 1.000 1 : 500 1 : 25.000 1 : 5.000 1 : 5.000 1 : 2.000 1 : 2.000 1 : 1.000 1 : 2.000 1 : 1.000 1 : 200 1 : 100 1 : 200 1 : 100 1 : 1.000 1 : 500 1 : 500 1 : 200 1 : 100 1 : 50 1 : 100 1 : 50 1 : 20 1 : 10 1 : 20 1 : 10 1 : 5 1 : 2 1 : 1 0,18/ 0,25/ 0,35 0,18/ 0,25/ 0,35 0,18/ 0,25/ 0,35 0,25/ 0,35/ 0,5 0,25/ 0,35/ 0,5 0,25/ 0,35/ 0,5 0,25/ 0,35/ 0,5/ 0,7 0,25/ 0,35/ 0,5/ 0,7 0,25/ 0,35/ 0,5/ 0,7 0,25/ 0,35/ 0,5/ 0,7 0,25/ 0,35/ 0,5/ 0,7 0,25/ 0,35/ 0,5/ 0,7 0,25/ 0,35/ 0,5/ 0,7 0,25/ 0,35/ 0,5/ 0,7 0,25/ 0,35/ 0,5/ 0,7 0,25/ 0,35/ 0,5/ 0,7/ 1 0,25/ 0,35/ 0,5/ 0,7/ 1 0,25/ 0,35/ 0,5/ 0,7/ 1 0,25/ 0,35/ 0,5/ 0,7/ 1 0,25/ 0,35/ 0,5/ 0,7/ 1 0,25/ 0,35/ 0,5/ 0,7/ 1 0,25/ 0,35/ 0,5/ 0,7/ 1 0,25/ 0,35/ 0,5/ 0,7/ 1 0,25/ 0,35/ 0,5/ 0,7/ 1 0,25/ 0,35/ 0,5/ 0,7/ 1 0,25/ 0,35/ 0,5/ 0,7/ 1 1,8/ 2,5/ 3,5 1,8/ 2,5/ 3,5/ 5 2,5/ 3,5/ 5 2,5/3,5/ 5 2,5/3,5/ 5 2,5/3,5/ 5 2,5/3,5/ 5/ 7 2,5/3,5/ 5/ 7 2,5/3,5/ 5/ 7 2,5/3,5/ 5/ 7 2,5/3,5/ 5/ 7 2,5/3,5/ 5/ 7 2,5/3,5/ 5/ 7 2,5/3,5/ 5/ 7 2,5/3,5/ 5/ 7 2,5/3,5/ 5/ 7/ 10 2,5/3,5/ 5/ 7/ 10 2,5/3,5/ 5/ 7/ 10 2,5/3,5/ 5/ 7/ 10 2,5/3,5/ 5/ 7/ 10 2,5/3,5/ 5/ 7/ 10 2,5/3,5/ 5/ 7/ 10 2,5/3,5/ 5/ 7/ 10 2,5/3,5/ 5/ 7/ 10 2,5/3,5/ 5/ 7/ 10 2,5/3,5/ 5/ 7/ 10

(27)

 m m    

(28)
(29)

BAB 8

UKURAN DAN INDIKASI

Untuk garis-garis ukuran dan garis-garis bantu (auxilary line), akan digunakan tebal garis 0,25 mm sebagaimana ditunjukkan pada gambar 4. Untuk keterangan lebih lanjut mengenai bagaimana dan dimana menempatkan garis-garis ukuran bantu dan indikasinya, lihat gambar 6.

Ketinggian (level) selalu ditunjukkan dalam meter di atas ketinggian yang sudah ditetapkan.

Semua ukuran gambar bangunan dapat diberikan dalam meter atau sentimeter, kecuali gambar-gambar pekerjaan baja yang selalu diberikan dalam milimeter.

Garis-garis ukuran digambar dekat dan paralel dengan bagan yang dimensinya akan ditunjukkan. Garis-garis bantu digambar tegak lurus terhadap garis ukuran dan agak ke luar.

Garis-garis konstruksi dan garis-garis bantu yang berpotongan digambar sedikit ke luar titik potongan.

(30)

Garis-garis tengah dan garis-garis batas tidak akan pernah dipakai sebagai garis ukuran Akan tetapi, garis ukuran bisa ditempatkan langsung diantara garis batas, diantara garis-garis tengah dan antara garis-garis batas dan garis tengah.

Garis-garis ukuran dan garis-garis bantu sebaiknya tidak memotong garis-garis lain, kalau mungkin. Garis-garis ukuran tidak boleh terpotong oleh garis ukuran lainnya atau oleh garis bantu yang termasuk garis ukuran lainnya.

Tiap ujung garis ukuran akan ditandai dengan ujung panah secara jelas yang menunjukkan batas garis ukuran.

(31)

Biasanya ujung panah akan digambar di dalam batas garis ukuran. Bila tidak tersedia ruang untuk ini, ujung panah boleh digambar di luar batas ini, mengarah ke belakang.

Ujung-ujung panah yang saling berhadapan boleh diganti dengan titik yang jelas.

Bila suatu bagian mempunyai dua dimensi atau lebih, maka jumlah itu juga akan ditunjukkan pada garis dimensi terpisah.

Pada ujungnya garis-garis penunjuk akan mempunyai :

- sebuah titik, untuk garis penunjuk yang berada di dalam garis batas suatu bagian

- ujung panah, untuk garis penunjuk yang menunjuk ke garis batas suatu bagian.

(32)

Biasanya ukuran digambar di atas dan di tengah-tengah garis ukuran.

Jika ruang di atas garis ukuran terbatas, ukuran boleh ditulis di atas garis yang ditarik panjang, kalau mungkin di sebelah kanan. Ukuran bagian yang tidak di tulis ke skala akan diberi garis bawah.

(33)

Untuk ukuran atau penunjuk yang tidak bisa ditempatkan di luar potongan, harus disediakan ruang di dalam arsiran.

Kalau dari gambar tidak jelas bahwa suatu ukuran menunjuk pada, jari-jari atau potongan segi empat, maka di muka ukuran akan ditulis simbol-simbol berikut :

- O/ di muka ukuran

- Huruf (besar) R di muka jari-jari

- / di muka potongan segi empat

(34)

BAB 9

SIMBOL, ARSIRAN, DAN SINGKATAN

Tabel 2 menyajikan singkatan-singkatan yang sering dipakai pada gambar. Tabel 3, tabel 4 dan tabel 5 secara berturut-turut menyajikan simbol-simbol dan tipe-tipe arsiran dari yang paling sering sampai yang kurang sering dipakai. Simbol-simbol peta pada tabel 3 dibagi menjadi “Simbol Peta Topografi“ dan “Simbol Peta Situasi”.

Tabel 4 adalah pengarsiran untuk gambar-gambar konstruksi.

Tabel 5 adalah simbol-simbol serta pengarsiran geologi dan geologi teknik. Tabel-tabel 3, 4 dan 5 dapat dilihat di bagian belakang buku ini.

Tabel 2 Singkatan-singkatan yang digunakan dalam gambar

luas (ha)

lebar perkerasan jalan, tanggul dll. Atau lebar bagian dalam dari bangunan (m atau cm)

titik tetap

batas pembebasan tanah (m atau cm)

lebar dasar (cm) sentimeter

sentimeter persegi detik

elevasi berm (bantaran) elevasi dasar

elevasi jalan atau rel KA

(elevasi pada sumbu/ as jalan atau tepi as rel)

elevasi mercu

elevasi tebing (tanggul) kedalaman air (rencana) (m) hektar hilir A B BM BPT B cm cm2 dt/s EL.B/ bm EL.DS/ bl EL.j/ rl EL.M/ cl EL.T/ bk h ha hi/ds area (ha)

top width of road, dike etc. or internal width of a structure (m or cm) benchmark right of way (m or cm) bed width (cm) centimeter square centimeter second

berm (foreland) level bed level

road or rail level (level in the axis of the road or on the or on top of the rail)

crest level bank (levee) level

water depth (design) (m) hectare (10,000 m2)

(35)

kemiringan dasar factor kekasaran (m1/3/dt) (sisi) kanan (sisi) kiri kilometer kilometer persegi liter panjang lengkungan (m) elevasi muka air

elevasi muka tanah meter

kemiringan talud (1 tegak : m datar)

kemiringan talud sebelah dalam millimeter

millimeter persegi

kemiringan talud sebelah luar meter persegi meter kubik potongan melintang potongan memanjang panjang tangen (m) debit (m3/ dt)

debit per satuan lebar jari-jari (m)

titik akhir lengkung titik mulai lengkung titik potong tengah udik kecepatan (m/dt) tinggi jagaan I k ka ki km km2 l l MA/WL MT/GL m 1 : m mi mm mm2 m0 m2 m3 PL/CS PP/LS PT Q Q5 q r TA TM TP tg ud/us v w/F

longitudinal bed slope of a channel roughness factor (m1/3/s) right side left side kilometer square kolimeter liter (m3/1000 or dm3) length of curve (m) water level groundlevel meter

side slope of channel (1 vertical : m horizontal)

side slope landside millimeter

square millimeter side slope riverside square meter cubic meter cross-section longitudinal section tangent length (m) discharge (m3/s)

discharge with 5 % probability of non-exceedence

discharge per unit length radius (m)

end point of curve start point of curve intersection point center

upstream velocity (m/dt) freeboard

(36)

absis ordinat sudut jari-jari (0) belok ke kiri belok ke kanan X Y  coordinate gridnet (m) coordinate gridnet (m) radial angle (0)

curve to the left curve to the right

(37)

BAB 10

GAMBAR-GAMBAR UNTUK SALURAN, PEMBUANG DAN TANGGUL

Pada gambar-gambar 7, 8 dan blok gambar untuk potongan memanjang saluran, pembuang dan tanggul, sedangkan gambar 10 menunjukkan beberapa tipe tata letak gambar ;

a. untuk gambar pelaksanaan, dan

b. untuk gambar potongan memanjang saluran, pembuang atau tanggul.

Disebelah atas potongan memanjang disediakan ruang untuk sebagian tata letak saluran, pembuang atau tanggul tersebut, sebagaimana ditunjukkan dalam potongan memanjang.

Gambar 11, 12 dan 13 menyajikan penjelasan serupa untuk gambar-gambar potongan melintang.

Untuk penjelasan mengenai arti simbol, lihat tabel 2

(38)

Untuk penjelasan mengenai arti simbol, lihat tabel 2

(39)

l

Untuk penjelasan mengenai arti simbol, lihat tabel 2

(40)
(41)

Gambar 11 Tipe tata letak gambar potongan melintang (saluran kecil)

Potongan-potongan melintang sungai, saluran, pembuang atau tanggul selalu digambar dalam suatu urutan, mulai dari sudut kiri atas gambar ke bawah, sesudah itu deretan tengah dan deretan kanan dipakai dari atas ke bawah. Dalam satu gambar potongan melintang hanya akan ditunjukan untuk satu saluran, pembuang atau tanggul saja.

Kalau mungkin garis-garis tengah saluran, pembuang atau tanggul akan berada dalam satu garis lurus vertical. Ketinggian akan ditunjukkan dalam semua potongan melintang (dalam meter) di atas ketinggian nol (zero level) tertentu yang sudah ditetapkan.

Pada dasarnya, dimensi dan kemiringan juga akan diberikan di setiap potongan melintang. Walaupun demikian, apabila dalam satu deretan potongan melintang tidak mengalami perubahan dalam dimensi dan kemiringan, maka hal ini akan ditunjukkan di bagian atas dan bawah potongan saja.

Kalau ada perubahan potongan melintang dalam suatu deret, maka potongan terakhir bagian sebelumnya bersama-sama dengan potongan pertama dari bagian yang diubah, akan digambar lengkap.

(42)
(43)

Gambar 13 Blok gambar untuk potongan melintang

Data-data berikutnya yang berkenaan dengan masing-masing potongan melintang akan dicantumkan dalam lembar-lembar terpisah dalam album gambar

Saluran : a

Potongan melintang Panjang bentang (m) Volume No Kupasan (m2) Timbunan (m2) Galian (m2) Kupasan (m2) Timbunan (m2) Galian (m2) b c d e f c x f d x f e x f Jumlah g h j k

a : nama saluran, pembuang atau tanggul b : nomor potongan melintang urut dari PL 1

c : luas kupasan (stripping) yang diukur dari potongan melintang (luas ini sering bisa dihitung; biasanya potongan diketemukan dengan planimeter)

(44)

e : luas timbunan, tidak termasuk luas pasangan batu, lapisan batu, lining beton, beronjong – kalau ada

f : panjang bentang yang valid/ sahih bagi potongan melintang yang bersangkutan g : bentang saluran secara keseluruhan, yaitu sama dengan panjang saluran di dalam

gambar potongan memanjang.

h : jumlah volume dalam m3 untuk kupasan

j : jumlah volume dalam m3 untuk timbunan

k : jumlah volume dalam m3 untuk galian

Butir-butir h, j dan k akan muncul dalam Rincian Volume dan Biaya, Harga Satuan dan Harga

(45)

BAB 11

TATA WARNA PETA

Warna-warna standar akan dipakai untuk memperjelas gambar-gambar tata letak jaringan irigasi dan pembuang, serta gambar-gambar tata letak jaringan tersier.

Empat eksemplar dari peta-peta tata letak ini harus seluruhnya diberi warna, sedangkan empat eksemplar yang terakhir akan diberi warna hanya di sepanjang batas -batas petak saja. Lebar warna sepanjang perbatasan ini adalah 1 cm.

Warna-warna yang akan dipakai adalah :

- biru untuk jaringan irigasi, garis penuh untuk jaringan pembawa yang ada dan garis putus-putus untuk jaringan yang sedang direncana.

- merah untuk sungai dan jaringan pembuang; garis penuh untuk jaringan yang sudah ada dan garis putus-putus untuk jaringan yang sedang direncanakan;

- coklat untuk jaringan jalan;

- kuning untuk daerah yang tidak diairi (dataran tinggi, rawa-rawa); - hijau untuk perbatasan kabupaten, kecamatan desa dan kampong; - merah untuk tata nama bangunan;

- hitam untuk jalan kereta api;

- warna bayangan akan dipakai untuk batas-batas petak sekunder; batas-batas petak tersier akan diarsir dengan warna yang lebih muda dari warna yang sama.

(46)

BAB 12

PELIPATAN GAMBAR

Gambar-gambar teknik dilipat sedemikian sehingga: - didapatkan format A4

- blok judul terlihat di luar, dan pelipatan dilakukan secara saling-silang, sebagaimana dapat dilihat pada gambar 14.

Garis-garis lipat akan dibuat di luar gari-garis tepi; lihat gambar 1 dan 14

Gambar 14 Pelipatan Gambar

1 : Cetakan gambar siap dilipat

2a dan 2b : Lipatan vertical dibuat secara saling-silang (zig-zag)

(47)

Table 3 Map Symbols-Simbol Peta SIMBOL PETA TOPOGRAFI (a)* (b)* TOPOGRAPHIC MAP SYMBOLS Sungai 0.35 0.25 River

Aliran 0.35 0.25 Flow direction

Aliran tidak tetap 0.35 0.25 Intermittent stream

Tanggul Dike

Jalan propinsi 0.35 0.35 Provincial road (Surfaced road) Jalan sekunder 0.35 0.35 Secondary road

(Unsurfaced road) Jalan petani 0.35 0.25 Farm road

Jalan Setapak 0.35 0.25 Foot path

Jalan kereta api Railway

Jalan lori

0.35 0.25 Narrow gauge

railway

Tranches pembagi 0.35 0.25 Regular contour

Tranches pertolongan 0.25 0.18 Intermediate contour Tranches perkiraan 0.25 0.18 Approximate

contour

Dataran tinggi High ground

Tranches terendah 0.25 0.18 Depression contour

Titik tetap (patok beton)

(name)

Benchmark

10.0

(48)

Table 3 Map Symbols-Simbol Peta (lanjutan)

Titik poligon Traverse point

Triangulasi Triangulation

station Penunjuk ketinggian dari

lapangan

20-21 Spot elevation,

measured in the field

Penunjuk ketinggian, dari interpolasi

34-5 Spot elevation from interpolation

Jalur pengukuran 0.25 0.18 Surveyed alinement

Persilangan grid Grid cross

Penanda grid Grid tick along side

drawing

Sawah Ricefield

Ladang Non irrigated

farming (normally rice)

Alang-alang Meadow

Rumput Grass

Pohon kelapa Coconut trees

Tegalan (palawija dll) Horticulture

2.0 m m 3.0 m m P P = primer S = sekunder T = tersier 50.000 20.000 10 mm 10 mm 65.000 5 mm

(49)

Table 3 Map Symbols-Simbol Peta (lanjutan) Kebun campuran

(jagung, tebu, tembakau, buah-buahan dll)

Mixed agriculture (maize, sugar, tobacco, fruit etc) Perkebunan (karet, kopi,

the, dll)

Plantation (rubber, coffee, tea, etc)

Hutan belukar Primary forest

Hutan belantara Secondary forest

Rawa-rawa Marsh or swamps

Kolam ikan Fish pond (fresh

water)

Tambak ikan Fish pond (brackish

water)

Tambak garam Salt pan

Batas daerah aliran sungai

1.0 0.7 Watershed divide of a catchment area

Rumah batu Permanent house

Rumah panggung Semi-permanent

house

Kantor pemerintahan Government

building

Sekolah School

Rumah sakit Hospital

2.5 mm

2.5 m m

(50)

Table 3 Map Symbols-Simbol Peta (lanjutan)

Kantor pengadilan Court house

Kantor pos Post office

Kantor polisi Police officer

Mesjid, Gereja, Klenteng Mosque, Church, Temple

Tempat keramat Shrine

Makam/ kuburan (islam, Kristen, tionghoa)

Graves/ cemetery

Pabrik Factory

Pasar Market

Pompa air Waterpump

Kawat listrik tegangan tinggi

High voltage line

Saluran irigasi yang telah ada

0.35 0.25 Existing irrigation channel

Saluran pembuang yang telah ada

0.35 0.25 Existing drainage channel

Desa yang telah ada Existing village

Desa yang direncanakan Proposed village

Batas propinsi 0.35 0.25 Province boundary

Batas kabupaten 0.35 0.25 Kabupaten boundary Batas kecamatan 0.25 0.18 Kecamatan

boundary 2.0 mm 2.5 m m P 2.5 m m 2.5 m m 2.0 m m 2.5 m m 1.0 m m 2.5 m m 1.5 m m 2.5 m m 2.5 m m

(51)

Table 3 Map Symbols-Simbol Peta (lanjutan)

Batas desa 0.25 0.18 Village boundary

Pagar 0.35 0.25 Fence line

Arah utara North indication

* tebal garis (line-thickness) a. 1 : 5.000

b. 1 : 25.000 – 1 : 10.000

batu kawat

wire stone

(52)

Tabel 3 Map Symbols-Simbol Peta (lanjutan)

SIMBOL TATA LETAK (a)* (b)* LAYOUT SYMBOL

Tata letak Layout

Batas proyek X X X X X 0.35 0.25 Project boundary Batas petak tersier 0.35 0.25 Boundary tertiary

unit Batas petak kuarter 0.35 0.25 Boundary

quaternary unit

Nama petak tersier atau kuarter

Luas bersih (ha) Debit rencana (l/dt)

Name of Tertiary or Quaternary unit

Net area (ha) Design discharge (l/s) Bangunan pengambilan/ bangunan utama Intake structures/ headworks

Pengambilan pompa Pump intake

Pengambilan bebas Free intake

Bendung permanen Permanent weir

Bendung gerak Barrage

Bendung bronjong Gabion weir

Saluran irigasi (biru) Irrigation canals (blue)

Saluran primer 1.0 0.7 Primary canal

Saluran sekunder 0.7 0.5 Secondary canal

Saluran tersier 0.5 0.35 Tertiary canal

(53)

Tabel 3 Map Symbols-Simbol Peta (lanjutan)

Saluran kuarter 0.35 0.25 Quaternary canal

Saluran pasangan Lined canal

Terowongan Tunnel or closed

canal

Bangunan irigasi Irrigation structure Bangunan pengatur m.a. Check structure

Bangunan bagi Division structure

Bangunan sadap Off-take structure

Bangunan bagi dan sadap

Division structure ture with off-take

Boks tersier Tertiary box

Boks tersier dengan pelimpah

Tertiary box with wasteway

Boks kuarter Quaternary box

(farm inlet)

Gorong-gorong Culvert

Talang Flume, aqueduct

Sipon Inverted siphon

Bangunan terjun (vertical/ miring)

Drop structure (straight/ inclined)

Got miring Chute structure

Bangunan pelimpah samping Side spillway 4.0 m m 4.0 m m 4.0 m m 4.0 m m 2.5 m m 2.5 m m 1.5 m m 2.5 m m 2.5 m m 2.5 m m 4.0 m m 2.5 m m 3.0 m m

(54)

Tabel 3 Map Symbols-Simbol Peta (lanjutan)

Bangunan pembuang Wasteway

Bangunan pembawa Suppletion intake

Saluran pembuang (merah) Drainage channels (red) Saluran pembuang primer 1.0 0.7 Primary drainage channel Saluran pembuang sekunder 0.7 0.5 Secondary drainage channel Saluran pembuang tersier 0.5 0.35 Tertiary drainage channel Saluran pembuang kuarter 0.35 0.25 Quaternary drainage channel

Bangunan pembuang Drainage structure

Gorong-gorong Drainage culvert

Gorong-gorong silang Drainage culvert below irrigation canal (underpass)

Alur pembuang Inlet drainage

Bangunan terjun Drop structure

Pintu pasang surut Drainage outlet/

tidal outlet

Pengendali banjir Flood control

Tanggul Flood dike/ levee

Bangunan penahan banjir Flood control structure Krib Groyne 1.5 m m 6.0 m m 2.5 m m 6.0 m m 2.5 m m 4.0 m m 2.5 m m 3.0 m m 2.5 m m 6.0 m m 3.5 m m

(55)

Tabel 3 Map Symbols-Simbol Peta (lanjutan)

Bendungan Dam

Bangunan pelengkap Auxiliary structure

Jalan inspeksi 0.5 0.35 Inspection road

Jalan petani 0.35 0.25 Farm road

Jembatan Bridge

Jembatan orang Foot bridge

Tempat cuci Washing place

Tempat mandi hewan di dalam saluran

Buffalo pool in canal

Tempat mandi hewan di luar saluran

Buffalo pool outside canal

Waduk lapangan Field reservoir

Patok hektometer Hectometer stone

Dangau Operating facility

Rumah jaga pintu Gate keeper house

Telepon Telephone

Kombinasi bangunan di dalam satu gambar

Combination of structure on one drawing 3.5 m m 4.5 m m 4.5 m m 3.5 m m 3 x 1.0 m m 6.0 m m 3.5 m m 6.0 m m 2.5 m m 2.5 m m 2.5 m m 236 6.0 m m 2 x 1.5 m m 4.0 m m 6.0 m m

(56)

Potongan/ section Campuran (kalau ada) Mix proportion (if any) tampak/ view

9 m m 5 m m

4 m m

Table 4 Standard Hatchings – Standard Arsiran

ARSIRAN HATCHINGS

Keterangan

2 x 10 = 20 mm

Legend

Tanah dll Soils etc.

Batu kali Boulders

Kerikil Gravel

Pasir Sand

Lempung Clay

Konstruksi Constructions

Beton bertulang Reinforced concrete

Beton siklop Cyclopean concrete

Beton tumbuk (tanpa tulangan)

Plain concrete

(57)

Table 4 Standard Hatchings – Standar Arsiran (lanjutan)

Pasangan batu kali 1pc : 2pc Stone masonry 1pc : 2s

Pasangan batu bata Brick masonry

Pasangan batu kosong Stone – pitching

Bronjong Gabion

Batu candi Batu candi/ hard stone

Aspal Aspalt Kayu Wood Besi Steel Perunggu Bronze Aluminium Aluminium Karet Rubber

(58)

Table 4 Standard Hatchings – Standar Arsiran (lanjutan)

Urugan dengan kemiringan Fill with slope

Galian dengan kemiringan Cut with slope

Permukaan tanah (potongan)

Ground surface (section)

Kemiringan pasangan batu kali

Sloping masonry

Kemiringan pasangan beton Sloping concrete lining

(59)

Tabel 5 Simbol-simbol penyelidikan geologi teknik dan mekanika tanah Symbols for geotechnical and soil mechanical investigation

Deskripsi Rencana Design

Selesai dikerjakan Accomplished

Description

Bor inti Drill hole

Bgor inti (diameter besar)

Drill hole (large diameter) Bor inti (pemboran

miring)

Drill hole (inclined drill hole)

Bor tangan Auger hole

Bor tangan (diameter besar)

Auger hole (large diameter)

Sumuran uji Test pit

Test shaft Test shaft

Paritan Test trench

Titik duga geolistrik Vertical

electrical resistivity

(60)

Tabel 5 Simbol-simbol litologi (lanjutan) lithologic symbols

Tanah Soils

Tanah penutup atau alluvial

Top soil or alluvial

Berangkal (bongkah) Cobbles (boulders)

Kerakal Gravels Pasir Sand Lanau Silt Lempung Clay Talus Thalus Gambut Peat

Tanah lepas Loess

Batuan endap Sedimentary rocks

Breksi volkanik dan tufa

Volcanic breccia and tuff

Breksi volkanik atau aglomerat

(61)

Tabel 5 Simbol-simbol litologi (lanjutan) lithologic symbols

Aliran lava Lava flow

Debu volkanik atau tufa Volcanic dust or breccia

Tufa dan breksi tufaan Tuff and tuffaceous breccia

Breksi Breccia

Konglomerat Conglomerate

Batu pasir berbutir kasar

Coarse-grained sand-stone

Batu pasir berbutir halus

Fine-grained sand-stone

Lensa-lensa batu pasir pada serpih

Sandstone lenses in shale

Batu pasir berlapis Bedded sandstone

Batu pasir berstruktur silang siur

Cross-bedded sandstone

Batu pasir dengan sisipan serpih

Sandstone with shale

Lensa-lensa serpih pada batu pasir

Shale lenses in sandstone

(62)

Tabel 5 Simbol-simbol litologi (lanjutan) lithologic symbols

Serpih gampingan Calcareous shale

Batu gamping Massive limestone

Batu gamping berlapis Bedded limestone

Dolomit Dolomite

Batu gamping pasiran Sandy limestone

Batu gampinhg Oolit Oolitic limestone

Batu gamping berfosil Shelly limestone

Batu gamping rijang Cherty limestone

Gipsum Gypsum

Anhidrit Anhydrite

Garam Salt

Batuan beku Igneous rocks

Lava basal (struktur aliran)

(63)

Tabel 5 Simbol-simbol litologi (lanjutan) lithologic symbols

Lava (struktur aliran) Lava (flow structure)

Batuan beku porfirit Porphyritic igneous rock

Granit Granite

Serpentinit Serpentine

Batuan beku Massive igneous rock

Batuan metamorfosis Methamorphic rock

Sekis Schist

Genes Gneiss

Marmer Marble

Kuarsit Quartzite

Batu sabak Slate

Macam-macam Various

Permukaan batuan Rock surface

(64)

Tabel 5 Warna-warna yang biasa digunakan pada peta geologi (Lanjutan) Colours commonly use in the geological map

Batuan beku/ batuan terobosan

Igneous rock/ gang

Endapan gunung api Volcanic product

Batu gamping Limestone

Endapan sungai/ teras Alluvial deposit/ terrace

Batu pasir/ sedimen Sandstone/ sedimentary rock

Lempung/ serpih Clay/ shale

Merah Red Coklat Brown Biru Blue Biru muda Light Blue Kuning Yellow Hijau Green

(65)

Tabel 5 Simbol-simbol untuk peta geologi (lanjutan) Symbols for geologic maps

Kontak, dengan kemiringan

40 Contact, showing dip

Kontak, tegak (kiri) dan membalik

90 63

Contact, vertical (left) and overturned

Kontak, lokasi diperkirakan Contact, located

approximately (give limits) Kontak, lokasi tidak pasti Contact, located very

approximately

Kontak gradasi Gradational contact

Sesar, dengan arah Kemiringan

72 90 Fault, showing dips

Sesar diperkirakan Fault, located approximately

Sesar sangat diragukan ? Fault, existence uncertain Sesar yang diproyeksikan di

bawah sat. Peta

Fault projected beneath mapped units

Kemungkinan adanya sesar (interpretasi photo udara)

Possible fault (as located from, aerial photographs) Sesar, memeperlihatkan

arah dan penunjaman (D:turun, U:naik)

75 D

U Fault showing trend and

plunge or linear features (D:down thrown side, U:upthrown side) Sesar mendatar Fault showing relative

horizontal movement Sesar naik Thrust fault, T or sawteeth

in upper plate Zona sesar dengan

kemiringan rata-rata

70 63 Fault zones, showing

average dips

Sesar normal/ sesar turun Normal fault/ hachures on downthrown side

Antiklin dan sinklin 18

31 Anticline (top) and syncline, showing trace of

axial plane and plunge of axis, dashed where located opproximately

(66)

Tabel 5 Simbol-simbol untuk peta geologi (lanjutan) Symbols for geologic maps

Antiklin (kemungkinan) ? ? Anticline (existence

uncertain) Antiklin yang diproyeksikan

di bawah sat. Peta

Anticline projected beneath mapped units

Antiklin tidak simetris Asymetric anticline, steeperlimb to south Antiklin membalik (atas) dan

siklin dengan arah dan sumbu penunjaman

18 Overturned anticline (top)

and syncline, showing trend and plunge of axis Antiklin membalik 20 Overturned anticline,

showing dip of axial plane Antiklin dengan dua arah

penunjaman, dengan kulminasi

Doubly plunging anticline, showing culmination

Antiklin dengan penunjaman tegak

94 Vertically plunging anticline

Antiklin membalik bentuk sama

Inverted (synformal) anticline

Monoklin Monocline or flexure in

homocline Arah sumbu antiklin kecil

(kiri) dan siklin

Axial trend of small

anticline (left) and syncline Arah sumbu perlipatan Axial trend of folds that are

too small to plot

individually, patterns show general shapes of folds in profile

Jurus dan kemiringan pelapisan

100 Strike and dip of bedding

Jurus dan kemiringan lapisan (membalik)

780 Strike and dip of

over-turned bedding

Kemiringan perlapisan tegak 680 Strike of vertical bedding,

stratigraphic tops to north Perlapisan mendatar Horizontal bedding

(67)

Tabel 5 Simbol-simbol untuk peta geologi (lanjutan) Symbols for geologic maps

Undulasi (perlapisan menggelombang)

10 20 Undulatory or crumpled

beds Jurus dan kemiringan

pelapisan (diperkirakan)

63 Strike and dip of bedding

uncertain Jurus dari perlapisan dan

kemiringan diperkirakan

760 760

Strike of bedding certain but dips uncertain

Jurus dan kemiringan foliasi Strike and dip of foliations

Jurus dari foliasi tegak Strike of vertical foliation

Foliasi mendatar Horizontal foliation

Jurus dan kemiringan

dimana lapisan sejajar foliasi

34 Strike and dip where

bedding parallels foliation Jurus dan kemiringan

cleavage

75 Strike and dip of cleavage

Jurus dari cleavage tegak 34 Strike of vertical cleavage

Cleavage mendatar Horizontal cleavage

Jurus dan kemiringan kekar

78 Strike and dip of joint

Jurus dari kekar tegak

34

Strike of vertical joint

Kekar mendatar Horizontal joint

Arah dan penunjaman dari liniasi

30 Trend and plunge of

lineation

Liniasi tegak 90 Vertical lineation

Arah liniasi mendatar Trend of horizontal lineation

(68)

Tabel 5 Simbol-simbol untuk peta geologi (lanjutan) Symbols for geologic maps

Arah cleavage yang saling memotong dan perlapisan

Trend of intersection of cleavage and bedding Dua cleavage yang

berpotongan

Trend of intersection of two cleavages

Arah liniasi yang terletak pada bidang foliasi

Trend of lineations lying in planes of foliations

Arah liniasi mendatar terletak pada bidang foliasi

Trend of horizontal

lineations lying in planes of foliations

Liniasi tegak dan foliasi 90 Vertical lineation and

(69)

Tabel 5 Simbol-simbol tambahan untuk peta dengan skala kecil (lanjutan) Accessory symbols for small-scale maps

Shaft, tegak (kiri) dan miring Shaft, vertical (left) and inclined

Adit, terbuka (kiri) dan tertutup

Adit, open 9left) and inaccessible

Paritan (kiri) dan prospek Trench (left) and prospect Penambangan/ cadangan Mine, quarry, or glory hole Pasir, kerakal dan lubang

lempung

Sand, gravels or clay pits

Sumur minyak (kiri) dan sumur gas

. Oil well (left) and gas well

Sumur pemboran minyak dan gas (kering)

. Well drilled for oil or gas, dry

Sumur penghasil minyak (kiri) dan gas

. Wells with shows of oil (left) and gas

Sumur minyak/ gas (ditinggalkan)

. . Oil or gas well, abandoned (left) and gas

Lubang air, ada aliran (kiri), tak mengalir, dan kering (kanan)

. Water wells; flowing (left), nonflowing and dry (right)

Mata air panas . Hot spring Tanah labil (longsor) Landslide Tambang terbuka atau

cadangan (quarry)

Open or reserved quarry

Portal dari terowongan atau adit

Portal of tunnel or adit

Shaft dipermukaan, tegak (kiri) dan miring

Surface shaft, vertical (left) and inclined

Shaft diperluas keatas (kiri) dan dasar shaft

Vertically extended shaft (left) and shaft bottom Shaft miring dengan titik

chevron ke bawah

Inclined shaft with chevron point downwards

Lobang bor mendatar

(kiri)dan miring 300 30 .

Horizontal (left) and inclined 300 bore hole

(70)

RANGKUMAN

Rangkuman materi pelatihan ini sebagai berikut :

Bab 1

Menjelaskan maksud metode menggambar teknis dan penggunaan metode menggambar teknis serta tata cara menggambar.

Bab 2 dan 3

Menjelaskan ukuran kertas gambar dan blok judul.

Bab 4, 5 dan 6

Menjelaskan penomoran gambar, pengecilan gambar dan petunjuk arah gambar

Bab 7 dan 8

Menjelaskan skala, tebal garis, tinggi huruf, angka, ukuran dan indikasi.

Bab 9 dan 10

- Menjelaskan simbol arsiran dan singkatan

- Menjelaskan gambar – gambar untuk saluran pembuang dan tanggul.

Bab 11 dan 12

(71)

DAFTAR PUSTAKA

Standar Perencanaan Irigasi disusun oleh Sub Dit Perencanaan Teknis Direktorat Irigasi Direktorat Jenderal Pengairan Departemen PU, 1 Desember 1986.

Gambar

Gambar 2 Blok Judul
Gambar 3 Cara mengisi blok judul
Gambar 4 Tebal garis untuk gambar-gambar bangunan
Gambar 5 Penunjuk skala
+7

Referensi

Dokumen terkait