DATA SEKUNDER Agar hasil detail desain ini lebih komprehensif, maka digunakan referensi
BAB 5 SURVEY TOPOGRAFI
5.1 PENGUKURAN DI LAPANGAN
Tata laksana kegiatan survai pengukuran topografi mengacu pada Kriteria Perencanaan
(KP) bagian Pengukuran topografi, Le Groupe AFH International Inc., dan WER Agra, Ltd.
(1993) dengan berdasarkan teori dari Rais (1979). Selanjutnya hasil perhitungan ini akan digunakan sebagai bahan pelaksanaan pekerjaan penggambaran.
Ada 2 Methode yang bisa dilakukan dalam Survey pengukuran adalah : 1. Methode Pengukuran Teristris Konvensional.
Alat yang digunakan adalah Theodolit dengan sistem pengukuran seperti yang biasa dilaksanakan (Poligoon, Situasi, Waterpassing).
2. Methode Pengukuran GPS
Ini adalah methode pengukuran terbaru dengan akurasi yang cukup baik dan yang terintegrasi dengan Satelit Navigasi.
Pada kegiatan survai topografi Konsultan minimal akan mengacu pada :
PT -02 Pengukuran Topografi, Standar Perencanaan Irigasi, Ditjen Air 1986.
SNI 19-6724, 2002 Tata Cara Pengukuran Kontrol Horizontal dan SNI 19-6988, 2004 Tata Cara Pengukuran Kontrol Vertikal.
Dalam bagian ini kegiatan-kegiatan, tahapan dan metode pelaksanaan untuk Survai Topografi diuraikan secara mendalam, dan pokok-pokok pekerjaan yang akan dilakukan secara berurutan adalah sebagai berikut :
a. Pengecekan Kondisi dan Kalibrasi Peralatan
Kegiatan ini bertujuan agar peralatan yang akan digunakan dalam survai topografi dalam keadaan bagus dan dapat diterima toleransi kesalahannya. Semua peralatan yang akan digunakan harus dikalibrasi dan mendapat persetujuan dari Pemberi Kerja.
b. Pengukuran Jarak dan Pembuatan Patok
Untuk memudahkan pekerjaan pengukuran propil memanjang dan melintang saluran, maka terlebih dahulu dilakukan pengukuran jarak patok. Patok di buat setiap jarak 50 m diukur dengan menggunakan pita ukur dan kemudian dikontrol melalui perhitungan dari hasil pengukuran dengan menggunakan theodolite.
LAPORAN AKHIR | SURVEY TOPOGRAFI 5-2 Patok-patok tersebut diberi tanda dengan menggunakan kayu sembarang keras yang di ujungnya dicat berwarna merah dan bertuliskan nomor patok. Patok sedemikian mungkin diletakkan di tempat yang aman dari gangguan manusia dan hewan serta tidak jauh dari bibir drainase.
Gambar 5.1 Pengukuran Jarak Patok dengan Pita Ukur di Drainase Sidodadi
LAPORAN AKHIR | SURVEY TOPOGRAFI 5-3
c. Pengukuran Potongan Memanjang dan Melintang
Pengukuran ini berdasar pada titik-titk tetap kerangka polygon. Spesifikasi pengukuran potongan melintang dan memanjang ini akan mengacu pada KAK, sedangkan peralatan yang digunakan adalah Theodolite. Pengukuran untuk trase drainase meliputi penampang memanjang dan melintang. Penampang memanjang dilengkapi dengan elevasi pada tiap jarak 100 m pada daerah lurus dan 50 m pada belokan atau ditambah apabila ada perubahan kemiringan yang cukup signifikan pada kemiringan tanah.
Gambar 5.3 Pengukuran Propil Melintang Drainase Glugur dengan Theodolite
LAPORAN AKHIR | SURVEY TOPOGRAFI 5-4
d. Pengukuran Trase
Pengukuran trase diukur berdasarkan jaringan kerangka horizontal dan vertikal yang telah dipasang, dengan melakukan pengukuran sepanjang trase saluran eksisting
Pengukuran situasi dilakukan dengan metode Tacheometry menggunakan theodolith T.0 atau yang sejenis. Jarak dari alat ke rambu tidak boleh lebih dari 100 meter.
Gambar 5.5 Pengukuran Trase Saluran dengan Theodolite di Drainase Kisaran Naga
Gambar 5.6 Pengukuran Trase Saluran dengan Theodolite di Drainase Primer Bunut
LAPORAN AKHIR | SURVEY TOPOGRAFI 5-5
e. Pengolahan Data Pengukuran
Semua peralatan yang digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan ini sudah terintegrasi dengan program Komputer, sehingga dalam pengolahan data akan lebih akurat dan cepat. Peralatan di sambung dengan Komputer, dan Komputer akan memproses seluruh data-data pengukuran.
Kontrol Pengukuran Jarak
1. Jarak Optis
Jarak datar dan jarak optis dihitung dengan menggunakan rumus : D = L . Cos2 Z
Dimana :
D = jarak datar L = jarak optis Z = sudut miring
2. Jarak Pita Ukur
Jarak pita ukur dilakukan dengan cara mencari harga rata-rata dari beberapa ukuran, dimana selisih bacaan jarak dengan pita ukur tidak boleh lebih dari 2 cm. Jadi sebelum kita hitung harga rata-ratanya, maka data-data jarak tersebut harus diseleksi terlebih dahulu. Setelah ketiga jenis hitungan selesai (azimuth matahari, sudut dan jarak), maka kemudian dilakukan hitungan koordinat dengan rumus sebagai berikut :
X2 = X1 + D Sin a I-2 Y2 = Y1 + D Cos a I-2
Sedangkan untuk perhitungan koreksinya dipakai rumus : X (akhir) – X (awal) = D Sin a + fx
Y (akhir) – Y (awal) = D Cos a + fy
Koreksi per sisi dilakukan dengan membagi koreksi X (Y) dengan jumlah sisi yang ada, sedangkan untuk mengetahui kesalahan relatif dapat kita hitung dari rumus :
S : D adalah 1 : ……. Dimana : 2 2 fy fx S
LAPORAN AKHIR | SURVEY TOPOGRAFI 5-6 Perhitungan Elevasi
Perhitungan elevasi terdapat beberapa bagian penting, yaitu sebagai berikut :
Kontrol bacaan benang
Rumus yang digunakan dalam mengontrol bacaan benang adalah :
2
Bb Ba Bt Dimana :
Bt = bacaan benang tengah Ba = bacaan benang atas Bb = bacaan benang bawah
Jika selisih antara Bt dan (Ba + Bb)/2 lebih dari 2 mm maka bacaan benang akan langsung diulang lagi sampai memperoleh selisih maksimum 2 mm.
Kontrol beda tinggi
Rumus yang digunakan untuk kontrol beda tinggi antara 2 titik adalah sebagai berikut : H1 = Btbelakang - Btmuka (stand I)
Dengan sedikit mengubah posisi alat, kemudian dilakukan pengukuran untuk stand II dan diperoleh :
H2 = Btbelakang - Btmuka (stand II)
Jarak Theodolite
Jarak Theodolite dihitung dengan rumus :
dm = (Bamuka - Bbmuka) x 100 db = (Babelakang - Bbbelakang) x 100 Dimana :
Sm = dm1 + dm2 + dm3 + ….. + ….. + dmn Sb = dm1 + dm2 + dm3 + ….. + ….. + dmn dmuka = jarak alat ke rambu muka
dbelakang = jarak alat ke rambu belakang Sdmuka = jumlah jarak ke muka
Sdbelakang = jumlah jarak ke belakang
Untuk menghindari kesalahan karena pengaruh garis visir diusahakan agar dmuka = dbelakang. Jadi hitungan jarak dan jumlahnya dihitung langsung pada saat pengukuran setelah mengukur beda tingginya agar juru ukur bisa mengatur kedudukan alat dan rambu sehingga Sdmuka Sdbelakang (mendekati).
LAPORAN AKHIR | SURVEY TOPOGRAFI 5-7 Untuk hitungan ketelitian (toleransi 10D), data jarak yang akan dipakai adalah jarak rata-rata.
Beda tinggi (pulang-pergi)
Beda tinggi pergi didapat dari jumlah beda tinggi rata-rata stand II pada route pergi, beda tinggi pulang didapat dari jumlah beda tinggi rata-rata stand I dan stand II pada route pulang. Selisih hpg (beda tinggi pergi) dan hpl (beda tinggi pulang) harus masuk toleransi 10D mm dan bila lebih dari toleransi, maka dilakukan pengukuran ulang.
Perataan beda tinggi
Perhitungan beda tinggi per seksi dilakukan dalam bentuk kring/tertutup, dengan demikian akan memudahkan dalam proses perhitungan sistem hitungan perataan untuk koreksi ukuran dalam satu seksi akan digunakan sistem perataan biasa. Tiap seksi akan selalu dicek hitungannya apakah memenuhi toleransi 10D atau tidak.
Jika tidak memenuhi toleransi maka harus dilakukan hal-hal sebagai berikut : 1. Cek semua data perhitungan
2. Deteksi kesalahan, yaitu mencari perkiraan dimana kira-kira kesalahan itu terjadi dan setelah didapat (dengan bahan pertimbangan/alasan yang kuat) maka langsung dicek ulang ke lapangan dengan alat ukur.
Setelah perhitungan tiap seksi selesai dan semua masuk dalam toleransi, dilakukan perhitungan dengan rumus :
H = ½ I . Sin2Z Dimana :
H = beda tinggi L = jarak miring/optis Z = sudut miring/vertikal
Untuk tinggi bidikan yang tidak sama dengan tinggi alat, maka rumus yang dipakai adalah:
H = ½ L Sin2 Z + TA – Bt Dimana :
H = beda tinggi
L = jarak miring/optis (Ba – Bb) x 100 Z = sudut miring/vertikal
TA = tinggi alat (dari atas patok) Bt = bacaan benang tengah
LAPORAN AKHIR | SURVEY TOPOGRAFI 5-8
Gambar 5.7 Pengecekan dan Pengolahan Data Survey
Pengecekan validitas data hasil pengukuran dilakukan sesegera mungkin. Konsultan melakukan pengecekan hasil pengukuran sesaat setelah melaksanakan pengukuran. Hal ini dilakukan agar bila terjadi kesalahan pengukuran dapat langsung dideteksi tanpa harus menunggu seluruh data diolah.