Pengukuran kerja secara tidak langsung artinya melakukan perhitungan waktu kerja dengan membaca tabel-tabel waktu yang tersedia asalkan mengetahui jalannya pekerjaan melalui elemen-elemen pekerjaan atau elemen-elemen gerakan.
Pengukuran kerja secara tidak langsung terbagi atas :
• Data waktu baku (standard data)
• Data waktu gerakan (predetermined time system)
75 3.9.1 Pengukuran Waktu Kerja Dengan Jam Henti
Pengukuran waktu kerja dengan jam henti (stopwatch time study) diperkenalkan pertama kali oleh Frederick W. Taylor sekitar abad 19 yang lalu.Metode ini terutama sekali baik diaplikasikan untuk pekerjaan – pekerjaan yang berlangsung singkat dan berulang-ulang (repetitive) . Dari hasil pengukuran maka akan diperoleh waktu baku untuk menyelesaiakn suatu siklus pekerjaan, yang mana waktu ini akan dipergunakan sebagai standard penyelesaian pekerjaan bagi semua pekerja yang akan melaksanakan pekerjaan yang sama seperti itu. Secara garis besar langkah-langkah untuk pelaksanaan pengukuran waktu kerja dengan jam henti ini yaitu :
• Definisi pekerjaan yang akan diteliti untuk diukur waktunya dan diberitahukan maksud dan tujuan pengukuran ini kepada pekerja yang dipilih untuk diamati dan supervisor yang ada.
• Catat semua informasi yang berkaitan erat dengan penyelesaian pekerjaan seperti lay out, karakteristik atau spesifikasi mesin atau peralatan kerja lain yang digunakan, dan lain-lain.
• Bagi operasi kerja dalam elemen-elemen sedetail-detailnya tapi masih dalam batas-batas kemudahan untuk pengukuran waktunya.
• Amati, ukur dan catat waktu yang dibutuhkan oleh operator untuk menyelesaikan elemen – elemen kerja tersebut.
76 Langkah-langkah pemrosesan hasil pengukuran adalah:
1. Hasil pengukuran dikelompokkan ke dalam subgrup-subgrup dan hitung rata-rata dari tiap subgrup:
n
2. Hitung rata-rata keseluruhan, yaitu rata-rata dari rata-rata subgrup:
k k X=
∑
X3. Hitung standar deviasi dari waktu penyelesaian:
1
dimana: N = jumlah pengamatan pendahuluan yang telah dilakukan 4. Hitung standar deviasi dari distribusi harga rata-rata subgrup:
n x σ σ =
• Tetapkan jumlah siklus kerja yang harus diukur dan dicatat. Cek juga kecukupan data dan keseragaman data yang diperoleh
77
• Tetapkan penyesuaian sehingga didapatkan waktu normal
• Tetapkan waktu longgar (allowance time) guna memberikan fleksibilitas.
Waktu longgar yang akan diberikan ini guna menghadapi kondisi-kondisi seperti :
Kebutuhan personil yang bersifat pribadi
Faktor kelelahan
Keterlambatan material
Dan lain-lain
• Tetapkan waktu kerja baku (standard time) yaitu jumlah total antara waktu normal dan waktu longgar.
78
Gambar 3.3 Sistematika pengukuran Kerja Dengan Jam Henti
79 3.9.2 Penyesuaian
Penyesuaian bertujuan untuk menormalkan waktu proses operasi jika pengukur berpendapat bahwa operator bekerja dengan kecepatan tidak wajar, agar waktu penyelesaian proses operasi tidak terlalu singkat atau tidak terlalu panjang.
Terdapat tiga batasan dalam penyesuaian (Sutalaksana, 1979, p138) yaitu:
• p > 1 ; jika pengukur menganggap bahwa pekerja bekerja terlalu cepat (di atas normal)
• p = 1 ; jika pengukur menganggap bahwa pekerja bekerja normal
• p < 1 ; jika pengukur menganggap bahwa pekerja bekerja terlalu lambat (di bawah normal)
Terdapat beberapa metode untuk menentukan faktor penyesuaian (Sutalaksana, 1979, pp139-149) yaitu
a. Metode Persentase
Merupakan cara yang paling mudah dan sederhana tetapi cara ini bersifat subyektif, kurang teliti, kasar dan tidak ilmiah karena faktor ini ditentukan sepenuhnya oleh pengukur melalui pengamatannya selama melakukan pengukuran.
b. Metode Shumard
Cara ini memberikan patokan-patokan penilaian melalui kelas-kelas performance kerja dimana setiap setiap kelas tersebut mempunyai nilai masing-masing. Di sini pengukur diberi standarisasi untuk menilai performansi kerja operator menurut kelas-kelas Superfast +, Fast, Fast -, Excellent, dan seterusnya.
80 c. Metode Obyektif
Metode yang memperhatikan dua faktor yaitu kecepatan kerja dan tingkat kesulitan pekerjaan. Kedua faktor inilah yang dipandang bersama-sama untuk menentukan berapa harga penyesuaian untuk mendapatkan waktu normal. Rumusnya adalah p = p1 x p2. Faktor-faktor penyesuaian menurut tingkat kesulitan metode obyektif dapat dilihat pada Tabel 3.2.
Tabel 3.2. Penyesuaian menurut tingkat kesulitan dengan metode obyektif
Keadaan Lambang Penyesuaian
Anggota terpakai
Jari A 0
Pergelangan tangan dan jari B 1
Lengan bawah, pergelangan tangan dan kaki C 2
Lengan atas, lengan bawah, dst. D 5
Badan E 8
Mengangkat beban dari lantai dengan kaki E2 10 Pedal kaki
Tanpa pedal, atau satu pedal dengan sumbu F 0 dibawah kaki
Satu atau dua pedal dengan sumbu tidak G 5 dibawah kaki
Penggunaan tangan
Keadaan tangan saling bantu atau bergantian H 0 Kedua tangan mengerjakan gerakan yang sama H2 18 pada saat yang sama
Koordinasi mata dengan tangan
Sangat sedikit I 0
Cukup dekat J 2
Konstan dan dekat K 4
Sangat dekat L 7
Lebih kecil dari 0,04 cm M 10
81
Peralatan
Dapat ditangani dengan mudah N 0
Dengan sedikit kontrol O 1
Perlu kontrol dan penekanan P 2
Perlu penanganan dan hati-hati Q 3
Mudah pecah dan patah R 5
3.9.3. Kelonggaran (Sutalaksana, 1979, pp149-154)
Kelonggaran adalah waktu yang dibutuhkan pekerja yang terlatih, agar dapat mencapai performance kerja sesungguhnya, jika ia bekerja secara normal. Seorang pekerja tidak mungkin bekerja sepanjang waktu tanpa adanya beberapa interupsi untuk kebutuhan tertentu yang sifatnya manusiawi, seperti kebutuhan pribadi, menghilangkan rasa fatique, dan gangguan-gangguan yang mungkin terjadi yang tidak dapat dihindarkan oleh pekerja. Umumnya kelonggaran dinyatakan dalam persen dari waktu normal.
Persentase kelonggaran berdasarkan faktor-faktor yang berpengaruh dapat dilihat pada Tabel 3.3.
82
Tabel 3.3 Tabel Kelonggaran
Faktor Contoh Pekerjaan Kelonggaran (%)
A. Tenaga yang dikeluarkan 1. Dapat diabaikan
2. Sangat ringan 3. Ringan 4. Sedang 5. Berat 6. Sangat berat 7. Luar biasa berat
Bekerja dimeja, duduk Bekerja dimeja, berdiri Menyekop, ringan Mencangkul
Mengayun palu yang berat Memanggul beban Memanggul karung berat
Pria Wanita
2. Berdiri diatas dua kaki 3. Berdiri diatas satu kaki 4. Berbaring
5. Membungkuk
Bekerja duduk, ringan Badan tegak, ditumpu 2 kaki 1 kaki mengerjakan alat kontrol Belakang atau depan bedan Bertumpu pada dua kaki
0-1 1-2,5 2,5-4 2,5-4 4-10
C. Gerakan Kerja 1. Normal
2. Agak terbatas 3. Sulit
4. Pada anggota badan terbatas 5. Seluruh anggota badan terbatas
Ayunan bebas dari palu Ayunan terbatas dari palu Membawa beban berat 1 tangan Dengan tangan di atas kepala Di lorong pertambangan sempit
0 0-5 0-5 5-10 10-15
D. Kelelahan Mata
1. Pandangan terputus-putus 2. Pandangan terus menerus 3. Pandangan dengan focus berubah 4. Pandangan dengan focus tetap
Membawa alat ukur Pekerjaan teliti
Memeriksa cacat pada kain Pemeriksaan yang sangat teliti
Baik Buruk 0-6 0-6 6-7,5 6-7,5 7,5-12 7,5-16 12-19 16-30
83
E.Temperatur Tempat Kerja 1. Beku
2. Rendah 3. Sedang 4. Normal 5. Tinggi 6. Sangat tinggi
Temperatur di bawah 0 Temperatur antara 0-13 Temperatur antara 13-22 Temperatur antara 22-28 Temperatur antara 28-38 Temperatur di atas 38
Normal Berlebihan
F. Keadaan Atmosfer 1. Baik
2. Cukup 3. Kurang baik 4. Buruk
Ventilasi baik, udara segar Ventilasi kurang baik, ada bau Debu beracun tidak banyak Bau-bauan berbahaya
0 0-5 5-10 10-20
G. Keadaan Lingkungan Baik 1. Bersih, sehat, kebisingan rendah 2. Siklus berulang 5-10 detik 3. Siklus berulang 0-5 detik 4. Sangat bising
5. Faktor menurunkan kualitas 6. Adanya getaran lantai 7. Keadaan luar biasa
0
84 Kelonggaran dapat diberikan untuk tiga hal yaitu:
a. Kelonggaran untuk kebutuhan pribadi
Yang termasuk dalam kebutuhan pribadi disini adalah hal-hal seperti minum untuk menghilangkan dahaga, ke kamar kecil, bercakap-cakap untuk menghilangkan ketegangan atau kejenuhan dalam bekerja. Kebutuhan ini jelas terlihat sebagai sesuatu yang mutlak yang harus diberikan kepada pekerja karena merupakan tuntutan fisiologis dan psikologis yang wajar.
b. Kelonggaran untuk rasa fatique
Rasa fatique tercermin dari menurunnya hasil produksi dari segi kualitas maupun kuantitas. Cara menentukan kelonggaran ini adalah dengan melakukan pengamatan sepanjang hari kerja dan mencatat pada saat-saat dimana hasil produksi menurun.
c. Kelonggaran untuk hambatan yang tak terhindarkan
Dalam melaksanakan pekerjaan, pekerja tidak akan lepas dari hambatan. Adapun beberapa contoh yang termasuk kedalam hambatan tak terhindarkan adalah:
− menerima atau menerima petunjuk kepada pengawas.
− melakukan penyesuaian-penyesuaian mesin.
− memperbaiki kemacetan-kemacetan singkat seperti mengganti alat potong yang patah, memasang kembali ban yang lepas dan sebagainya.
− mengasah peralatan potong.
− mengambil alat-alat khusus atau bahan-bahan khusus dari gudang.
85 3.10 Pengukuran Waktu Baku
Data waktu baku berisi data dari waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan yang telah diukur pada waktu yang lalu. Pemakaian data waktu baku dalam penelitian waktu akan mendatangkan beberapa keuntungan dibandingkan pengukuran secara langsung:
• Menghemat waktu penelitian
• Untuk keperluan pekerjaan yang banyak, jumlah pengukur yang diperlukan lebih sedikit dibandingkan jumlah pengukur dengan cara langsung
• Biaya yang dikeluarkan lebih sedikit
• Penentuan waktu penilaian suatu pekerjaan dapat dilaksanakan tanpa harus berada di tempat pekerjaan berlangsung
Di samping keuntungan-keuntungan yang ada, data waktu baku juga memiliki kekurangan yaitu terbatasnya lingkup pekerjaan yang dapat menggunakan tabel data waktu baku yang telah dibuat, misalnya data waktu baku yang dibuat untuk pekerjaan-pekerjaan pemotongan kayu umumnya tidak dapat digunakan untuk pekerjaan-pekerjaan-pekerjaan-pekerjaan di pabrik perakitan mobil. Waktu baku tidak dapat dilepaskan dari aspek pemberian penyesuaian dan kelonggaran. Secara matematis, waktu baku dapat dinyatakan sebagai berikut : Wn = Ws x p
Wb = Wn x (1 + a)
Di mana : Ws = Waktu Siklus Wn = Waktu Normal
P = Penyesuaian
a = Kelonggaran
86 3.11 Sistem dan Informasi
3.11.1 Pengertian Sistem
Menurut Raymond McLeod, Jr (Jilid 1, p 11) Sistem adalah sekelompok elemen yang terintegrasi dengna maksud yang sama untuk mencapai tujuan. Suatu organisasi seperti perusahaan atau suatu bidang fungsional cocok dengan definisi ini. Organisasi terdiri dari sejumlah sumber daya, dan sumber daya tersebut bekerja menuju tercapainya suatu tujuan tertentu yang ditemukan oleh pemilik atau manajemen.
3.11.1.1 Elemen-Elemen Sistem
Tidak semua sistem memiliki kombinasi elemen yang sama, tetapi suatu susunan dasar yang dapat dilihat pada skema di bawah ini.
Gambar 3.4 Bagian-bagian komponen dari suatu sistem
87 Sumber daya input diubah menjadi sumber daya output. Sumber daya mengalir dari elemen input, melalui elemen transformasi , ke elemen output. Suatu mekanisme pengendalian memantau proses transformasi untuk meyakinkan bahwa sistem tersebut memenuhi tujuannya. Mekanisme pengendalian ini dihubungkan pada arus sumber daya dengan memakai sutu lingkaran umpan balik (feedback loop) yang mendapatkan informasi dari output sistem dan menyediakan informasi bagi mekanisme pengendalian.
Mekanisme pengendalian membandingkan sinyal-sinyal umpan balik ke sasaran dan mengarahkan sinyal pada elemen input jika sistem operasi memang perlu diubah.
Jika pengaturan elemen ini digunakan untuk menjelaskan suatu sistem manufaktur, sumber daya input adalah bahan mentah yang diubah menjadi barang jadi atau jasa melalui proses manufaktur. Mekanisme pengendaliannya adalah manajemen perusahaan, tujuannya adalah sasaran-sasaran yang ingin dicapai perusahaan, dan lingkaran umpan baliknya adalah arus informasi ke dan dari manajemen.
3.11.1.2 Pentingnya Suatu Pandangan Sistem
Suatu pandangan sistem (systems view) melihat operasi bisnis sebagai sistem-sistem yang melekat dalam suatu lingkungan yang lebih luas. Ini adalah suatu cara pandang yang abstrak, tetapi bernilai potensial bagi manajer. Pandangan sistem ini :
• Mencegah manajer tersesat dalam kerumitan struktur organisasi dan rincian pekerjaan
• Menyadari perlunya memiliki tujuan-tujuan yang baik
• Menekankan pentingnya kerja sama dari semua bagian dalam organisasi
• Mengakui keterkaitan organisasi dengan lingkungannya
88
• Memberi penilaian yang tinggi pada informasi umpan balik yang hanya dapat dicapai dengan cara sistem lingkaran tertutup
3.11.2 Pengertian Informasi
Menurut Raymond McLeod, Jr. (Jilid 1, p4) Informasi adalah salah satu jenis utama sumber daya yang tersedia bagi manajer. Informasi dapat dikelola seperti halnya sumber daya yang lain, dan perhatian pada topik ini bersumber dari dua pengaruh.
Pertama, bisnis telah menjadi semakin rumit, dan kedua, komputer telah mencapai kemampuan yang semakin baik.
Output informasi dari komputer digunakan oleh para manajer, non-manajer, serta orang - orang dan organisasi – organisasi dalam lingkungan perusahaan. Manajer berada pada semua tingkat organisasional perusahaan, dan dalam semua bidang fungsional.
Manajer melaksanakan berbagai fungsi dan peran, dan untuk berhasil, manajer memerlukan keahlian da;am komunikasi dan pemecahan masalah. Manajer perlu mengerti komputer (computer literate), tetapi yang lebih penting mereka perlu mengerti informasi (information literate).
Sangat bermanfaat jika manajer mampu melihat unitnya sebagai suatu sistem yang terdiri dari beberapa subsistem dan berada dalam supersistem yang lebih besar.
Perusahaan adalah suatu sistem yang bersifat fisik, namun dikelola dengan menggunakan suatu sistem konseptual. Sistem konseptual itu terdiri dari suatu pengolah informasi yang mengubah data menjadi informasi dan menggambarkan sumber daya fisik.
89 Aplikasi utama komputer yang pertama adalah pengolahan data akuntansi.
Aplikasi tersebut lalu diikuti oleh empat aplikasi lain yaitu :
• Sistem Informasi Manajemen (Management Information System)
• Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support Systems)
• Kantor Virtual (Virtual Office)
• Sistem Berbasis Pengetahuan (Knowledge Based System)
Kelima aplikasi ini membentuk sistem informasi berbasis komputer (computer based information system), atau CBIS.
Perusahaan – perusahaan membentuk suatu organisasi jasa informasi yang terdiri dari para spesialis informasi untuk menyediakan keahlian dalam pengembangan sistem berbasis komputer. Para spesialis ini mencakup analis sistem (system analyst), pengelola database (database administrator), spesialis jaringan (network specialists), programmer dan operator. Dalam beberapa tahun terakhir tahun terakhir, para pemakai telah melakukan sebagian besar pekerjaan para spesialis, suatu fenomena yang disebut end-user computing.
Sangat sulit untuk membuktikan nilai ekonomis dari suatu aplikasi computer, tetapi banyak analisis yang dilakukan untuk menjustifikasi tiap proyek potensial. Setelah berjalan, proyek tersebut berkembang melalui suatu siklus hidup sistem (system life cycle). Para spesialis informasi dapat berperan serta dalam tingkat yang beragam, tetapi keseluruhan siklus, termasuk pengembangan dan pemakaian, harus dikelola oleh manajer.
90 3.11.2.1 Dimensi – Dimensi Informasi
Ketika para manajer menentukan output yang harus disediakan pengolah informasi, mereka mempertimbangkan empat dimensi dasar informasi. Dimensi-dimensi ini memberikan kontribusi pada nilai informasi yaitu :
1. Relevansi
Informasi memiliki relevansi jika berkaitan langsung dengan masalah yang ada.
Manajer harus mampu memilih informasi yang diperlukan tanpa membaca seluruh informasi mengenai subyek lain.
2. Akurasi
Idealnya, semua informasi harus akurat, tetapi peningkatan ketelitian sistem menambah biaya. Karena alasan tersebut , manajer terpaksa menerima ketelitian yang kurang dari sempurna. Berbagai aplikasi yang melibatkan uang seperti pembayaran gaji, penagihan, dan piutang menutut keahlian 100 persen.
Beberapa aplikasi lain, seperti ramalan ekonomi jangka panjang dan laporan statistik, sering dapat tetap berguna jika datanya mengandung sedikit kesalahan.