BAB 3
LANDASAN TEORI
3.1 Definisi Penjadwalan
Berdasarkan pendapat Michael Pinedo (2002, p1), penjadwalan didefinisikan sebagai proses pengalokasian sumber daya untuk menampilkan sekumpulan tugas pada jangka waktu yang telah ditetapkan. Definisi ini dapat dijabarkan kedalam dua arti.
• Penjadwalan merupakan sebuah fungsi pengambilan keputusan, yaitu dalam menetapkan jadwal yang paling tepat.
• Penjadwalan merupakan sebuah teori yang berisi sekumpulan prinsip, model, teknik, dan konklusi logis dalam proses pengambilan keputusan.
3.2 Pentingnya Strategi Penjadwalan Jangka Pendek
Menurut Barry Render dan Jay Heizer dalam bukunya yang berjudul “Prinsip- Prinsip Manajemen Operasi “ terdapat implikasi strategis dari penjadwalan yang sangat penting dan menunjang bagi perusahaan antara lain yaitu :
• Dengan penjadwalan secara efektif, perusahaan menggunakan asetnya dengan efektif dan menghasilkan kapasitas dolar yang diinvestasikan menjadi lebih besar, yang sebaliknya akan mengurangi biaya.
45
• Penjadwalan menambah kapasitas dan fleksibilitas yang terkait memberikan waktu pengiriman yang lebih cepat dan dengan demikian pelayanan kepada pelanggan menjadi lebih baik.
• Keuntungan yang ketiga dari bagusnya penjadwalan adalah keunggulan kompetitif dengan pengiriman yang bisa diandalkan.
Sedangkan menurut Bedworth, 1987 terdapat juga beberapa tujuan dari aktivitas penjadwalan adalah:
• Meningkatkan penggunaan sumber daya atau mengurangi waktu tunggunya sehingga total waktu proses dapat berkurang dan produktivitas dapat meningkat.
• Mengurangi persediaan barang setengah jadi atau mengurangi sejumlah pekerjaan yang menunggu dalam antrian ketika sumber daya yang ada masih mengerjakan tugas yang lain. Teori Baker mengatakan, jika aliran kerja konstan maka antrian yang mengurangi waktu rata-rata waktu alir akan mengurangi rata-rata persediaan barang setengah jadi.
• Mengurangi beberapa keterlambatan pada pekerjaan yang mempunyai batas waktu penyelesaian sehingga akan meminimasi biaya keterlambatan.
46
• Membantu pengambilan keputusan mengenai perencanaan kapasitas pabrik dan jenis kapasitas yang dibutuhkan sehingga penambahan biaya yang mahal dapat dihindarkan.
3.3 Isu-Isu Penjadwalan
Penjadwalan berkaitan dengan waktu operasi. Penjadwalan dimulai dengan perencenaan kapasitas yang meliputi fasilitas dan penguasaan terhadap mesin. Di dalam tahap perencenaan agregat dibuatlah keputusan yang berkaitan dengan penggunaan fasilitas, orang dan kontraktor luar. Kemudian skedul induk membagi rencana kasar dan membuat skedul keseluruhan untuk keluaran (output). Penjadwalan jangka pendek menerjemahkan keputusan kapasitas, rencana jangka menengah ke dalam urut-urutan pekerjaan, penugasan khusus kepada personel, bahan baku dan mesin- mesin.Penjadwalan melibatkan pembebanan tanggal jatuh tempo atas pekerjaan- pekerjaan khusus, tapi banyak pekerjaan yang bersaing secara simultan untuk sumber daya yang sama.
Menurut Render dan Heizer, 2001 untuk membantu mengatasi kesulitan yang melekat pada penjadwalan, teknik penjadwalan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu:
• Penjadwalan ke Depan
Penjadwalan ke depan memulai skedul atau jadwal segera setelah persyaratan –persyaratan diketahui. Penjadwalan ke depan digunakan di beragam organisasi seperti :
Rumah sakit
Klinik
47
Restoran untuk makan malam
Perusahaan alat-alat permesinan
Dalam fasilitas ini , pekerjaan dilaksanakan atas pesanan pelanggan dan sesegera mungkin dilakukan pengiriman. Penjadwalan ke depan biasanya dirancang untuk menghasilkan jadwal yang bisa diselesaikanmeskipun tidak berarti memenuhi tanggal jatuh temponya. Di dalam beberapa keadaan , penjadwalan ke depan menyebabkan menumpuknya barang dalam proses.
• Penjadwalan ke Belakang
Penjadwalan ke belakang dimulai dengan tanggal jatuh tempo, menjadwal operasi final dahulu. Tahap-tahap dalam pekerjaan kemudian dijadwal, pada suatu waktu , dibalik. Dengan mengurangi lead time untuk masing-masing item, akan didapatkan waktu awal. Namun demikian, sumber daya yang perlu untuk menyelesaikan jadwal bisa jadi tidak ada.
Penjadwalan ke belakang digunakan di lingkungan perusahaan manufaktur , sekaligus di lingkungan perusahaan jasa seperti catering atau penjadwalan pembedahan. Dalam praktik seringkali digunakan penjadwalan ke depan dan ke belakang untuk mengetahui titik temu yang beralasan antara apa yang bisa dicapai dengan tanggal jatuh tempo pelanggan.
Kerusakan mesin, ketidakhadiran, problem mutu, kekurangan dan faktor- faktor lain membuat penjadwalan menjadi semakin kompleks.
Konsekuensinya, tanggal penugasan tidak meyakinkan bahwa pekerjaan
48 akan dilakukan sesuai dengan jadwal. Banyak teknis khusus yang telah dibuat untuk membantu kita dalam mempersiapkan jadwal yang bisa diandalkan.
3.3.1 Penjadwalan Kriteria Proses
Teknik penjadwalan yang benar tergantung pada volume pesanan, ciri operasi, dan keseluruhan kompleksitas pekerjaan, sekaligus pentingnya tempat pada masing- masing dari empat kriteria. Empat kriteria adalah :
• Meminimalkan waktu penyelesaian
Hal ini dinilai dengan menentukan rata-rata waktu penyelesaian
• Memaksimalkan utilisasi
Hal ini dinilai dengan menentukan presentasi waktu fasilitas itu digunakan
• Meminimalkan persediaan barang dalam proses
Hal ini dinilai dengan menentukan rata-rata jumlah pekerjaan dalam sistem. Hubungan antara jumlah pekerjaan dalam sistem dan persediaan barang dalam proses adalah tinggi. Dengan demikian semakinkecil jumlah pekerjaan yang ada di dalam sistem, maka akan semakin kecil persediannya.
• Meminimalkan waktu tunggu pelanggan
Hal ini dinilai dengan menentukan rata-rata jumlah keterlambatan.
49 Empat kriteria ini juga digunakan dalam industri untuk mengevaluasi kinerja penjadwalan. Pendekatan penjadwalan yang baik haruslah sederhana, jelas, mudah dimengerti, mudah dilaksanakan, flexible dan realistik. Sasaran dari penjadwalan sesungguhnya adalah untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya sehingga tujuan produksi bisa tercapai.
3.3.2 Proses Penjadwalan Terfokus Pada Pusat Kerja
Fasilitas berfokus proses (juga dikenal sebagai terputus-putus atau fasilitas job shop) adalah :
• Tingginya variasi
• Sistem volume rendah yang biasanya dijumpai di organisasi manufaktur maupun jasa
Ini merupakan sistem di mana produk dibuat berdasarkan pesanan. Barang-barang yang dibuat di bawah sistem ini biasanya berbeda dalam hal bahan baku yang digunakan, urutan pemrosesan , persyaratan pemrosesan, waktu pemrosesan, dan persyaratan setup.
Karena perbedaan-perbedaan ini, penjadwalan bisa menjadi kompleks. Untuk mengolah fasilitas dengan cara yang seimbang dan efisien, manajer mebutuhkan perencanaan produksi dan sistem pengendalian. Sistem ini harus :
• Penjadwalan pesanan yang akan dating tanpa mengganggu kendala kapasitas pusat kerja individual
• Mengecek ketersediaan alat-alat dan bahan baku sebelum memberikan pesanan ke suatu departemen
50
• Membuat tanggal jatuh tempo untuk masing-masing pekerjaan dan mengecek kemajuan terhadap tanggal keperluan dan waktu tempuh pesanan
• Mengecek barang dalam proses pada saat pekerjaan bergerak menuju perusahaan
• Memberikan feedback pada pabrik dan aktivitas produksi
• Menyediakan statistik efisiensi pekerjaan dan memonitor waktu operator untuk analisis distribusi tenaga kerja dan gaji dan upah
3.4 Pengurutan Pekerjaan
Teknik atau metode penjadwalan produksi sangat tergantung pada jenis produksinya. Penjadwalan pada produksi job shop akan berbeda dengan penjadwalan pada produksi massal dan proyek. Pengurutan pekerjaan merupakan problem yang cukup penting dalam analisis produksi. Problem yang dihadapi karena adanya banyaknya job dan ketersediaan mesin yang terbatas. Job sequencing bertujuan untuk mencapai kriteria performance tertentu yang optimal. Beberapa kriteria yang sering dipakai dalam pengurutan job (pengerjaan job) antara lain sebagai berikut :
1. Mean Flow Time (MFT) atau rata-rata waktu job berada dalam sistem.
2. Idle Time atau waktu menganggur dari mesin.
3. Mean Latteness atau rata-rata keterlambatan.
4. Mean number job in the system (WIP) atau rata-rata jumlah job dalam mesin.
5. Make span atau total waktu penyelesaian seluruh job.
51 Faktor yang mempengaruhi pelayanan atau pengerjaan suatu job adalah :
1. Jumlah job yang harus dijadwalkan 2. Jumlah mesin yang tersedia
3. Tipe manufaktur (flow shop atau job shop) 4. Pola kedatangan job (statik atau dinamik)
3.4.1 Algoritma Prioritas untuk Mengirimkan Pekerjaan Pada Satu Mesin
Algoritma prioritas memberikan panduan untuk urut-urutan pekerjaan yang harus dilaksanakan. Algoritma prioritas ini secara khusus bisa diterapkan untuk fasilitas yang berfokus pada proses seperti klinik, percetakan, dan perusahaan manufaktur. Algoritma prioritas mencoba untuk mengurangi waktu penyelesaian, jumlah pekerjaan dalam sistem, dan keterlambatan kerja sementara penggunaan fasilitas bisa maksimum.
Ada 8 macam algoritma prioritas yang dikenal yaitu : 1. First Come First Serve (FCFS)
Pekerjaan yang datang terlebih dahulu di pusat kerja, maka akan diproses lebih dulu.
2. Shortest Processing Time (SPT)
Pekerjaan yang due date-nya paling pendek atau paling cepat akan diproses lebih dulu. Sehingga penjadwalan dilakukan dengan mendahulukan pekerjaan yang mempunyai waktu batas akhir yang paling cepat. Metode ini bertujuan untuk meminimumkan keterlambatan maksimum.
52 3. Earlist Due Date (EDD)
Pekerjaan yang waktu prosesnya paling singkat akan diproses lebih dulu.
Metode ini bertujuan untuk meminimumkan rata-rata waktu proses dan rata- rata keterlambatan.
4. Longest Processing Time (LPT)
Pekerjaan yang mempunyai waktu proses terbesar atau terlama akan diproses terlebih dahulu
5. Most Work Remaining (MKWR)
Pekerjaan yang mempunyai sisa waktu proses paling banyak akan diproses terlebih dahulu
6. MONPR
Pekerjaan yang mempunyai jumlah tahapan proses paling banyak akan diproses terlebih dahulu
7. Least Work Remaining (LKWR)
Pekerjaan yang mempunyai sisa waktu proses paling sedikit akan diproses terlebih dahulu
8. Random Selection
Pekerjaan-pekerjaan yang diproses terlebih dahulu (urutannya) dipilih secara acak.
53 Pada kenyataan di lapangan tidak ada algoritma prioritas yang selalu baik untuk semua kriteria. Pengalaman menunjukkan hal-hal berikut ini yaitu :
• Waktu Pemrosesan Paling Pendek (Shortest Processing Time) biasanya merupakan teknik paling bagus untuk meminimasi aliran pekerjaan dan meminimasi rata-rata jumlah pekerjaan dalam sistem.
Kelemahan utama adalah bahwa pekerjaan yang memerlukan waktu lama mungkin bisa ditekan terus-menerus dalam prioritas mengerjakan pekerjaan yang memerlukan waktu pendek. Pelanggan mungkin melihat ini dengan samar/tidak jelas, dan penyesuaian secara periodik harus dilakukan.
• Datang Pertama Dilayani Pertama tidak memberikan nilai yang bagus pada hamper semua kriteria ( tapi juga tidak memberikan skor dengan sangat jelek) . Ini memiliki keunggulan, bagaimanapun juga, terlihat adil bagi pelanggan yang mana merupakan hal sangat penting di sistem jasa.
3.4.1.1 Rasio Kritis
Jenis lain aturan urutan adalah rasio kritis . Rasio kritis merupakan suatu nomor indeks yang dihitung dengan membagi waktu yang tersisa sampai tanggal jatuh tempo dengan sisa waktu kerja. Selayaknya berlawanan dengan algoritma prioritas, rasio kritis adalah dinamis dan sangat mudah untuk diperbaharui. . Rasio kritis cenderung lebih bagus dari FCFS, SPT, EDD atau LPT pada kriteria rata-rata keterlambatan kerja .
Rasio kritis memberikan prioritas pada pekerjaan yang harus dilaksanakan untuk menjaga agar pengiriman bisa tepat waktu. Suatu pekerjaan dengan rasio kritis yang
54 rendah (kurang dari 1,0) adalah pekerjaan selesainya di belakang jadwal. Jika rasio kritis tepat sama dengan 0, maka pekerjaan itu tepat dengan jadwal. Jika rasio kritis lebih besar dari 1,0 berarti pekerjaan itu berada di depan jadwal dan terdapat beberapa kemunduran.
Rumus untuk rasio kritis adalah :
kerja hari sisa
ini hari tanggal o
jatuh temp tanggal
kerja hari sisa
sisa u Kritis Wakt
Rasio −
=
=
Aturan rasio kritis bisa membantu sistem penjadwalan dengan melakukan hal berikut yaitu :
Menentukan status pekerjaan tertentu
Membuat prioritas relative diantara pekerjaan dengan dasar keadaan biasa
Menghubungkan antara stok dengan pekerjaan yang dibuat berdasarkan urutan atas dasar keadaan biasa
Menyesuaikan prioritas dan merevisi jadwal secara otomatis atas perubahan-perubahan antara permintaan dan kemajuan pekerjaan
Secara dinamis mengikuti kemajuan pekerjaan
55 3.4.2 Mengurutkan Pekerjaan N Pada Dua Mesin : Aturan Johnson
Aturan Johnson menekankan pada pengaturan pekerjaan n (dimana n adalah 2 atau lebih ) harus dilakukan dengan dua mesin atau pusat-pusat pekerjaan di urutan yang sama. Ini disebut dengan problem N/2.
Gambar 3. 1 Flow Shop Dengan 2 Mesin
Aturan Johnson bisa digunakan untuk meminimasi waktu pemrosesan untuk mengurutkan suatu kelompok pekerjaan melalui dua fasilitas. Aturan Johnson juga meminimasi total waktu menganggur pada mesin. Aturan Johnson meliputi empat tahap atau langkah yaitu :
• Semua mesin harus dicantumkan dan masing-masing waktu yang dibutuhkan oleh sebuah mesin harus ditunjukkan.
• Pilihlah pekerjaan dengan waktu aktivitas yang paling pendek. Jika waktu yang paling pendek terdapat pada mesin pertama, maka pekerjaan dijadwalkan pertama kali. Jika waktu paling pendek terdapat pada mesin kedua, pekerjaan dijadwalkan paling akhir. Kemacetan dalam waktu aktivitas bisa dibagi-bagi secara arbitrer.
• Sekali suatu pekerjaan telah dijadwalkan, sisihkanlah pekerjaan itu.
• Terapkan tahap 2 dan tahap 3 ke pekerjaan yang masih tersisa , bekerja ke arah pusat urutan itu.
56 3.4.3 Mengurutkan Pekerjaan N Pada Tiga Mesin
Pengurutan pekerjaan atau job pada 3 mesin secara optimal dapat dilakukan dengan 2 metode yaitu sebagai berikut :
1. Menggunakan aturan Johnson’s untuk kasus tertentu 2. Dengan branch and bound method
3.4.3.1 Johnson Algoritma
Misalnya, mesin dengan urutan proses M1, M2, M3. Semua job mempunyai urutan pengerjaan yang sama. Waktu proses job 1 pada mesin j disimbolkan dengan tij.
Algoritma Johnson untuk dua mesin dapat diaplikasikan pada problem n job tiga mesin bila memenuhi :
Min ti1>= Max ti2 atau Min ti3 >= Max ti2
Dengan kata lain, minimal waktu proses pada semua job pada mesin 1 dan 3 harus lebih besar dari waktu proses terpanjang pada mesin 2. Untuk mengaplikasikan algoritma Johnson, waktu proses 3 mesin dirancang ulang menjadi 2 mesin (M1’,M2’) dengan aturan :
• Waktu proses job pada M1’ = ti1 + ti2 dan waktu proses pada M2’=
ti3 + ti2
• Algoritma Johnson diaplikasikan pada M1’ dan M2’
57 3.4.3.2 Algoritma Branch and bound
Pada algoritma ini, problem digambarkan dalam bentuk diagram pohon di mana masing-masing cabang menggambarkan urutan parsial. Untuk menentukan bagian mana yang menjadi cabang, dihitung makespan terendah (lower bound) dari masing-masing cabang. Besarnya lower bound untuk makespan pada semua job diperkirakan sebagai berikut : Misalkan n job (1,2,3,…,n) dan masing-masing job diproses pada tiga mesin yaitu M1,M2,M3 pada urutan yang sama. Lower bound dari makespan untuk semua job dihitung sebagai berikut :
1. L1 n t ,M1 t ,M2 tn,M3
1
t i + n +
=
∑
=
2. L2 t ,M1 n t ,M2 tn,M3
1 t
i
i + +
=
∑
=
3. L3 t ,M1 t ,M2 n t ,M3
1 t
i 1
1
∑
=
+ +
=
Untuk menentukan lower bound tiap-tiap cabang terdapat urutan Jr , yairu berisi subset tertentu r job dari n job yang ada. Didefinisikan TM1(Jr), TM2(Jr), dan TM3(Jr) sebagai waktu di M1,M2,M3 untuk penyelesaian job terakhir pada urutan Jr. Maka lower bound make span untuk semua jadwal yang dapat dimulai dengan urutan Jr adalah :
⎪⎪
⎪
⎭
⎪⎪
⎪
⎬
⎫
⎪⎪
⎪
⎩
⎪⎪
⎪
⎨
⎧
+
+ +
+ +
+
=
∑
∑
∑
jr i
3 i
jr i jr
jr
3 i 2 jr i i
3 t ) Jr ( 3 TM
) t ( min 2 t ) Jr ( 2 TM
) t t ( min 1 t ) Jr ( 1 TM max ) Jr ( LB
Di mana tij= waktu proses job 1 pada mesin j
58 3.4.4 Mengurutkan Pekerjaan N Pada Banyak Mesin ( >3 Mesin )
3.4.4.1 Algoritma Campbell Dudek and Smith (CDS)
Pengurutan pekerjaan pada banyak mesin dan banyak tahapan dapat dilakukan dengan membuat penjadwalan dengan metode atau algoritma Campbell Dudek and Smith (CDS). Metode Campbell Dudek and Smith (CDS) ini merupakan metode heuristic yang paling penting untuk problem make-span . Selain itu Metode Campbell Dudek and Smith (CDS) ini memiliki kelebihan dalam dua hal yaitu :
• Pemakaian aturan Johnson dalam sebuah cara heuristic
• Biasanya menghasilkan beberapa jadwal yang dapat dipilih sebagai yang terbaik
Algoritma Campbell Dudek and Smith (CDS) ini cocok untuk persoalan yang memiliki banyak tahapan (multistage) yang memakai aturan Johnson dan diterapkanpada masalah baru, yang diperoleh dari yang asli dengan waktu proses t*I,1 dan t*I,2
Pada Tahap I
1 ,
*I
t = t*I,1 dan t*I,2=t*I,m.
Rumus di atas adalah waktu proses pada mesin pertama (M-1) dan mesin terakhir (M-2).
Pada Tahap II
2 ,
*I
t = t*I,1+t*I,2 dan t*I,2 = t*I,m+t*I,m−1
Oleh karena itu, aturan Johnson diaplikasikan pada jumlah dari dua mesin yang pertama (first-two) dan dua mesin terakhir (last-two)waktu proses operasi ke i.
∑
== i
1 k
k ,
ti
1 ,
*I
t
dan∑
= +
= i − 1 k
1 k m ,
ti
2 ,
*I
t
59 Di mana : t*I,1= Waktu proses pada job ke i dengan menggunakan mesin pertama
2 ,
*I
t = Waktu proses pada job ke i dengan menggunakan mesin terakhir I = (Job) produk yang diproses
m = Jumlah mesin K = (Stage) tahapan
Untuk tiap tahapan k (k=1,2,…,m-1) , job yang diperoleh dipakai untuk menghitung sebuah make-span untuk masalah yang sesungguhnya. Setelah tahap demi tahap (m-1) dilakukan, maka dapat diketahui make-span terbaik di antara tahap (m-1).
Langkah-langkah penjadwalan produksi dengan metode Campbell Dudek and Smith adalah sebagai berikut :
1. Menyusun matrik n x m dari tij di mana n = jumlah job, m= jumlah mesin dan tik= waktu pengerjaan job i pada mesin ke j.
2. Menentukan jumlah urutan (p) untuk n job 2 mesin, di mana p≤ m-1 3. Memulai penjadwalan dengan tahap 1(k=1)
4. Menghitung t*I,1(M-1)dan t*I,1(M-2)
Di mana :
∑
=
=
− k
1 j
j ,
ti
1 M
∑
+
=
=
− m
1 k , m j
j ,
ti
2 M
5. Dengan bantuan algoritma Johnson, n job two mesin, maka dapat ditentukan urutan job.
6. Jika k≠p, maka penghitungan kembali pada langkap ketiga dengan (k+1) . Jika k = p maka perhitungan selesai.
60 7. Menghitung make-span (total waktu pengerjaan produk terpanjang yang berada
dalam suatu sistem).
8. Memilih urutan penjadwalan yang memiliki makespan terkecil
Campbell Dudek and Smith mencoba algoritma mereka dan menguji performancenya pada beberapa masalah. Mereka menemukan bahwa algoritma Campbell Dudek and Smith efektif untuk masalah kecil maupun masalah besar.
3.4.4.2 Algoritma Palmer
Algoritma Palmer juga merupakan metode penjadwalan flowshop untuk jumlah mesin lebih dari 3 mesin. Algoritma Palmer juga memiliki kriteria yang sama dengan Algoritma Campbel Dudek and Smith yaitu make-span. Secara garis besar, algoritma Palmer membantu dalam penjadwalan job yang memiliki banyak tugas (T11,T21,...,Tm1,T12,T22,...,T(m−1)n,Tmn) yang harus dikerjakan dengan urutan mesin sama . Langkah-langkah penjadwalan produksi dengan metode Algoritma Heuristik Palmer adalah sebagai berikut :
1) Untuk setiap job Jj, cari nilai dari π j
( )
( )
[ ]
(m 1 i)j m2
1
i ij
j (m 2i 1)t m 2i 1 t +−
∑
= − − + + − += π
2) Urutkan job berdasarkan π secara descending . j
Jika dua atau lebih job memiliki nilai π yang sama, maka urutkan sesuai j keperluannya.
3) Jadwalkan job pada setiap mesin sesuai dengan urutan tersebut
61 3.5 Keterbatasan Aturan Yang Berbasis Sistem
Teknik penjadwalan yang baru saja dibicarakan adalah aturan berbasis teknis, tapi aturan berbasis sistem memiliki keterbatasan. Diantaranya adalah :
• Penjadwalan adalah dinamis , dengan demikian aturan perlu direvisi untuk menyesuaikan perubahan-perubahan dalam proses, peralatan, bauran produk, dan seterusnya.
• Aturan tidak melihat ke hulu atau ke hilir, sumber daya yang menganggur dan kemampatan sumber daya di departemen yang lain mungkin saja tidak diketahui.
• Aturan tidak melihat lewatnya dari tanggal jatuh tempo.
Dua pesanan mungkin saja memiliki tanggal jatuh tempo yang sama. Satu pesanan melibatkan pengisian kembali stok sebuah distributor dan yang lain adalah pesanan dari pelanggan yang nantinya akan berakibat ditutupnya perusahaan pelanggan jika tidak terpenuhi. Dua-duanya mungkin mempunyai tanggal jatuh tempo yang sama tapi terlihat bahwa pesanan dari pelanggan adalah lebih penting.
3.6 Penjadwalan Terbatas
Penjadwalan jangka pendek sekarang ini adalah penjadwalan terbatas yang interaktif . Penjadwalan terbatas mengatasi kelemahan / kerugian aturan berbasis sistem dengan memberikan pemberi jadwal dengan perhitungan interaktif grafis. Sistem ini dicirikan
62 dengan kemampuan pembuat jadwal untuk membuat perubahan berdasarkan kepada informasi yang sedetail atau seteliti mungkin. Jadwal-jadwal ini seringkali ditampilkan di formulir diagram Gantt . Pembuat jadwal memiliki fleksibilitas untuk menghandel segala situasi, termasuk pesanan, tenaga kerja/buruh atau perubahan pada mesin.
Penjadwalan terbatas memungkinkan kebutuhan pengiriman bisa seimbang dengan efisiensi berdasarkan kondisi dan pesanan saat ini, tidak berdasarkan beberapa aturan yang ditentukan lebih dahulu. Banyak dari program komputer penjadwalan terbatas saat ini menawarkan ciri-ciri kendala sumber daya, suatu aturan-aturan yang sangat banyak dan kemampuan para pembuat jadwal untuk bekerja secara interaktif dengan sistem penjadwalan untuk mendapatkan penjadwalan yang realistis. Sistem ini juga mengkombinasikan sistem ahli dan teknik simulasi dan memungkinkan pembuat jadwal untuk membebankan biaya ke pilihan yang beragam. Penjadwalan ketat membantu pembuat jadwal, tapi tidak memberikan kesempatan bagi pembuat jadwal untuk menentukan apa yang merupakan jadwal yang baik itu.
3.7 Teori Kendala
Manajer perlu mengidentifikasi operasi-operasi yang menghalangi output karena ini, unit fasilitas dan terjual, yang membuat adanya perbedaan. Ini telah menyebabkan penggunaan istilah Teori Kendala. Teori Kendala adalah seperangkat pengetahuan yang berkaitan dengan segala sesuatu yang membatasi kemampuan perusahaan untuk mencapai tujuannya. Kendala bisa berupa fisik (seperti proses atau ketersediaan karyawan, bahan baku atau bahan penolong) atau nonfisik (seperti prosedur, moral, pelatihan).
63 Mengakui dan mengelola kendala-kendala ini melalui proses lima tahap merupakan dasar teori kendala yaitu :
• Tahap 1 : Mengidentifikasi kendala
• Tahap 2 : Membuat suatu rencana untuk mengatasi kendala yang sudah diidentifikasi
• Tahap 3 : Memfokuskan sumber daya untuk mencapai tahap 2
• Tahap 4 : Mengurangi pengaruh kendala dengan mengurangi beban kerja atau dengan memperluas kapabilitas.Kendala bisa dikenali dengan semua yang terkena imbasnya.
• Tahap 5 : Sekali satu kendala bisa diatasi, kembali ke tahap 1 dan identifkasilah kendala baru.
3.8 Dasar - Dasar Penjadwalan
3.8.1 Aktivitas Penjadwalan Dalam Sistem Manufaktur
Aktivitas penjadwalan sangat bergantung pada sistem manufaktur yang diterapkan dan jumlah output yang harus dihasilkan oleh sistem. Maka berdasarkan hal tersebut, aktivitas penjadwalan dapat terbagi menjadi tiga bagian (Monks, 1995, p304), yaitu:
1. High-volume (flow) systems
Sistem ini menggunakan peralatan berdasarkan urutan kerja yang kontinu melalui proses operasi yang tetap dan sama, dengan kecepatan yang tinggi.
Permasalahan dalam hal pengiriman pesanan, penugasan, dan pengawasan lebih sederhana dibandingkan low-volume systems atau make to order
64 systems. Bagaimanapun juga, aliran material harus terkoordinasi dengan baik, persediaan dikontrol secara cermat, dan perawatan tambahan untuk menghindari peralatan mengalami breakdown, kekurangan bahan, dan sebagainya.
2. Intermediate-volume (flow and batch) systems
Sistem ini menggunakan campuran peralatan dan proses yang serupa untuk memproduksi produk yang serupa secara intermiten dengan fasilitas yang sama. Pengurutan pekerjaan dan lamanya produksi berjalan sangat penting memperhatikan penjadwalan sebagai usaha menyeimbangkan antara biaya dan waktu.
3. Low-volume (batch or single job) systems
Sistem ini menggunakan peralatan yang mempunyai fungsi umum dimana harus menjalankan pesanan secara individual melalui kombinasi yang unik dalam pusat kerja. Variabel dalam aliran kerja dan waktu proses menyebabkan antrian, persediaan barang dalam proses, dan kemampuan kapasitas yang membutuhkan perhatian lebih dibandingkan dua sistem sebelumnya.
65 Tabel 3.1 Karakteristik sistem penjadwalan
High volume Intermediate volume Low volume
- Peralatan khusus - Peralatan bervariasi - Kegunaan peralatannya - Kegunaan peralatannya
- Urutan sama dalam - Urutan yang serupa umum umum
operasi kecuali untuk setiap batch - Urutan yang unik - Urutan dan lokasi
diproses oleh untuk setiap job yang unik
mikroprosesor/robot untuk setiap job
- Keseimbangan lini - Keseimbangan antara lini - Keseimbangan - Pengalokasian - Perubahan biaya dan pekerja-mesin pekerja-mesin sumber daya dan waktu - Perubahan biaya - Kemampuan kapasitas untuk meminimasi
dan waktu waktu dan biaya
- Kekurangan bahan - Masalah peralatan - Pengurutan pekerjaan - Penjadwalan - Peralatan rusak dan bahan - Pembebanan pusat kerja waktu pertemuan - Masalah kualitas - Biaya set-up dan - Aliran kerja dan pekerjaan - Anggaran biaya pertemuan - Jumlah dan produk lamanya proses dalam proses - Kemampuan sumber daya bervariasi - Akumulasi persediaan
Desain yang diperhatikan
Operasional yang diperhatikan Karakteristik Tipe sistem produksi
Continuous (flow operations)
Intermittent (flow and batch operations)
Job Shop (batch or single
jobs) Project (single jobs)
Tabel 3.1 merupakan ringkasan yang menggambarkan karakteristik dari ketiga sistem yang telah disebutkan. Beberapa operasi yang intermiten (sebentar-sebentar) lebih menyerupai job shop, sedangkan operasi yang bervolume rendah dilakukan secara batch, dan job shop sering berada sistem yang kontinu. Tabel tersebut juga mencakup perbandingan sistem untuk project.
3.8.2 Penjadwalan Produksi
Penjadwalan produksi memiliki beberapa fungsi dalam sistem produksi, aktivitas-aktivitas fungsi tersebut (Russel dan Taylor, 2000, p702) adalah sebagai berikut:
1. Loading (pembebanan)
Bertujuan untuk mengkompromikan antara kebutuhan yang diminta dengan kapasitas yang ada (ketersediaan dari bahan, mesin, atau tenaga kerja).
66 Pembebanan ini untuk menugaskan pekerjaan pada tenaga kerja atau mesin.
Masalah pembebanan pekerjaan pada mesin atau fasilitas lain dapat dipecahkan dengan menggunakan metode penugasan (assignment method) dalam pemrograman linear.
2. Sequencing (penentuan urutan).
Bertujuan membuat prioritas pengerjaan dalam pemrosesan pesanan-pesanan yang masuk, dan memberikan perintah kerja pada mesin atau fasilitas lainnya (dispatching).
3. Pengendalian kinerja penjadwalan
Cara untuk mengendalikan kinerja penjadwalan adalah :
• Mengawasi perkembangan pencapaian pemenuhan order dalam semua vektor.
• Merancang ulang sequencing bila ada kesalahan atau ada prioritas utama baru.
4. Updating schedules
Pelaksanaan jadwal biasanya selalu ada masalah baru yang berbeda dari saat pembuatan jadwal, maka jadwal harus segera di-update bila ada permasalahan baru yang memang perlu diakomodasi.
67 Kompleksitas aktivitas penjadwalan produksi tersebut dapat ditangani secara sistematik dengan berbagai macam metode-metode khusus untuk penjadwalan produksi.
Tugas mengalokasikan kapasitas untuk permintaan/order, prioritas job, dan pengendalian jadwal memerlukan informasi terperinci, sebagai input untuk membuat keputusan dalam penjadwalan. Informasi ini berupa operation sheet (skill dan peralatan yang diperlukan , waktu standar, dan lain-lain) serta bill of material atau struktur produk (komponen, part dan bahan pembantu). Kualitas penjadwalan yang dibuat sangat ditentukan oleh informasi tersebut.
Input tersebut harus dilengkapi dengan parameter-parameter pembatas dalam hal kapasitas dalam berkenaan dengan hal-hal berikut
1. Teknologi pemrosesan (urutan aktivitas)
2. Limit kapasitas (kapasitas normal dan kemampuan maksimal) 3. Rencana agregat untuk :
a. Persediaan
b. Jumlah tenaga kerja
c. Batasan lembur, subkontrak, dan lain-lain 4. Kebutuhan pemeliharaan
5. Kelayakan dan jumlah persediaan antar tingkat
Variabel keputusan dalam penjadwalan produksi berkenaan dengan penyiapan, pengendalian, dan updating jadwal untuk :
1. Kuantitas pasti dari tenaga kerja yang digunakan harian.
2. Setting adjustable tingkat produksi actual untuk overtime dan undertime.
68 3. Alokasi spesifik dari order atau permintaan ke sumber daya (tenaga
kerja, mesin, dan lain-lain).
4. Sequencing( urutan ), time phasing, dari pesanan sampai unit produksi.
Sistem penjadwalan produksi, input, output, informasi, pembatas dan semua aspek terkait dapat terlihat pada skema berikut ini :
Pembatas 1. Kapasitas jangka pendek yang layak
2. Kapasitas persediaan penyangga 3. Pemelihara kebutuhan 4. Urutan pengerjaan (operasi)
Variabel Keputusan 1. Jumlah TK harian 2. Tingkat produksi harian 3. Pemberian perintah pengerjaan 4. Prioritas urutan pengerjaan
INPUT
Kebutuhan Kapasitas dari :
1. Penerimaan order 1, Skills
2. Permintaan jangka pendek 2. Peralatan 3. Material 4. dll Lembar operasi dan bill of material (struktur produk)
OUTPUT Penentuan jadwal:
1. Pembebanan pengerjaan 2. Urutan pengerjaan 3. Percepatan pengerjaan 4. Updating dan pengendalian
Ukuran Kinerja Penjadwalan= Minimasi Biaya Total Penjadwalan
Biaya total penjadwalan = Biaya idle + Biaya keterlambatan + Biaya adjustment jadwal SISTEM
PENJADWALAN
Gambar 3.2 Cakupan Penjadwalan
69
3.8.3 Klasifikasi Penjadwalan Produksi
Penjadwalan produksi dapat berbeda-beda dilihat dari kondisi yang mendasarinya. Beberapa model penjadwalan yang sering terjadi didalam proses produksi berdasarkan beberapa keadaan antara lain (Kusiak, 1987, p359) adalah:
1. Berdasarkan mesin yang dipergunakan dalam proses
a. Penjadwalan pada mesin tunggal (single machine shop) b. Penjadwalan pada mesin jamak (m machine)
2. Berdasarkan pola kedatangan job a. Penjadwalan statis
Job yang datang bersamaan, tidak ada job yang datang di tengah- tengah pada saat jadwal dilaksanakan.
b. Penjadwalan dinamis
Kedatangan job tidak menentu.
3. Berdasarkan pola aliran proses a. Penjadwalan flow shop
Proses produksi dengan aliran flow shop berarti proses produksi dengan pola aliran identik dari satu mesin ke mesin lain. Walaupun pada flow shop semua tugas akan mengalir pada jalur produksi yang sama, yang biasa dikenal sebagai pure flow shop, tetapi dapat pula berbeda dalam dua hal. Pertama jika flow shop dapat menangani tugas yang bervariasi. Kedua, jika tugas yang datang ke dalam flow shop
70 tidak harus dikerjakan pada semua jenis mesin. Jenis flow shop seperti ini disebut general flow shop.
b. Penjadwalan job shop
Proses produksi dengan aliran job shop berarti proses produksi dengan pola aliran atau rute proses pada tiap mesin yang spesifik untuk setiap pekerjaan, dan mungkin berbeda untuk tiap job. Akibat aliran proses yang tidak searah ini, maka setiap job yang akan diproses pada satu mesin dapat merupakan job yang baru atau job dalam proses, dan job yang keluar dari suatu mesin dapat merupakan job jadi atau job dalam proses.
4. Berdasarkan sifat informasi yang diterima a. Penjadwalan deterministic
Informasi yang diperoleh pasti, misalnya informasi tentang pekerjaan dan mesin seperti waktu kedatangan pekerjaan dan waktu proses.
b. Penjadwalan stokastik
Diperoleh tidak pasti tetapi memiliki kecenderungan yang jelas atau menyangkut adanya distribusi probabilitas tertentu.
71 3.8.4 Istilah dalam Penjadwalan
Ada beberapa istilah dalam penjadwalan yang perlu diketahui diantaranya adalah (Daihani, 2001, pp152-153):
1. Waktu proses (processing time) adalah perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu tugas.
2. Batas waktu (due date) adalah batas waktu yang diberikan untuk menyelesaikan suatu tugas. Apabila tugas tersebut tidak dapat diselesaikan hingga batas waktu tersebut maka penyelesaian tugas tersebut akan terlambat.
3. Rentang waktu (completion time) adalah waktu dari mulai bekerja menyelesaikan tugas pertama (t = 0) sampai dengan waktu tugas ke-i selesai.
4. Keterlambatan (lateness) adalah selisih antara waktu penyelesaian tugas dengan due date-nya. Tugas akan memiliki keterlambatan positif bila diselesaikan setelah due date, dan memiliki keterlambatan negatif bila diselesaikan sebelum due date.
5. Tardiness adalah besarnya keterlambatan dari job i. Tardiness adalah lateness yang berharga positif.
72 6. Slack adalah suatu ukuran dari perbedaan antara waktu yang tersisa bagi
suatu tugas untuk diselesaikan (due date) dengan waktu proses yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya (processing time).
7. Flow time adalah jangka waktu dimana suatu tugas mulai siap untuk diproses sampai dengan selesai diproses.
8. Makespan adalah total waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan seluruh tugas, mulai dari tugas pertama hingga tugas ke-i.
9. Criticial Ratio adalah perbandingan antara waktu yang masih tersisa hingga due date dengan waktu proses untuk tugas yang masih tersisa tersebut.
3.9 Pengukuran Waktu Kerja
Penelitian kerja dan analisa metode kerja pada dasarnya akan memusatkan perhatiannya pada bagaimana (how) suatu macam pekerjaan akan diselesaikan. Dengan mengaplikasikan prinsip dan teknik pengaturan cara kerja yang optimal dalam sistem kerja tersebut, maka kan diperoleh alternatif metode pelaksanaan kerja yang dianggap memberikan hasil yang paling efektif dan efisien. Suatu pekerjaan akan dikatakan diselesaikan secara efisien apabila waktu penyelesaiannya berlangsung paling singkat.
Untuk menghitung waktu baku (standard time) penyelesaian pekerjaan guna memilih alternatif metode kerja terbaik, maka perlu diterapkan prinsip-prinsip dan teknik-teknik pengukuran kerja (work measurement atau time study). Pengukuran waktu kerja ini akan berhubungan dengan usaha-usaha untuk menetapkan waktu baku yang
73 dibutuhkan guna menyelesaikan suatu pekerjaan. Secara singkat pengukuran kerja adalah metode penetapan keseimbangan antara kegiatan manusia yang dikontribusikan dengan unit output yang dihasilkan. Waktu baku ini sangat diperlukan terutama sekali untuk :
• Man power planning (perencanaan kebutuhan tenaga kerja)
• Estimasi biaya-biaya untuk upah karyawan atau pekerja
• Penjadwalan produksi dan penganggaran
• Perencanaan sistem pemberian bonus dan insentif bagi karyawan atau pekerja yang berprestasi
• Indikasi keluaran (output) yang mampu dihasilkan oleh seorang pekerja
Waktu baku ini merupakan waktu yang dibutuhkan oleh seorang pekerja yang memiliki tingkat kemampuan rata-rata untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Di sini sudah meliputi kelonggaran waktu yang diberikan dengan memperhatikan situasi dan kondisi pekerjaan yang harus diselesaikan tersebut. Dengan demikian maka waktu baku yang dihasilkan dalam aktivitas pengukuran kerja ini akan dapat digunakan sebagai alat untuk membuat rencana penjadwalan kerja yang menyatakan berapa lama suatu kegiatan itu harus berlangsung dan berapa output yang akan dihasilkan serta berapa pula jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Di sisi lain dengan adanya waktu baku yang sudah ditetapkan ini akan dapat pula ditentukan upah ataupun insentif atau bonus yang harus dibayar sesuai dengan performans yang ditunjukkan oleh pekerja.
74 Pada garis besarnya teknik-teknik pengukuran waktu kerja ini dapat dibagi atau dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu :
1. Pengukuran kerja secara langsung
Pengukuran kerja secara langsung artinya pengukuran kerjanya dilaksanakan secara langsung di tempat di mana pekerjaan yang diukur dijalankan. Pengukuran kerja secara langsung ini terbagi atas :
• Pengukuran kerja dengan menggunakan jam henti (stopwatch) Pengukuran kerja dengan menggunakan jam henti merupakan aktivitas yang mengawali dan menjadi landasan untuk kegiatan- kegiatan pengukuran kerja yang lain.
• Pengukuran kerja dengan metode sampling kerja (work sampling)
2. Pengukuran kerja secara tidak langsung
Pengukuran kerja secara tidak langsung artinya melakukan perhitungan waktu kerja dengan membaca tabel-tabel waktu yang tersedia asalkan mengetahui jalannya pekerjaan melalui elemen-elemen pekerjaan atau elemen-elemen gerakan.
Pengukuran kerja secara tidak langsung terbagi atas :
• Data waktu baku (standard data)
• Data waktu gerakan (predetermined time system)
75 3.9.1 Pengukuran Waktu Kerja Dengan Jam Henti
Pengukuran waktu kerja dengan jam henti (stopwatch time study) diperkenalkan pertama kali oleh Frederick W. Taylor sekitar abad 19 yang lalu.Metode ini terutama sekali baik diaplikasikan untuk pekerjaan – pekerjaan yang berlangsung singkat dan berulang-ulang (repetitive) . Dari hasil pengukuran maka akan diperoleh waktu baku untuk menyelesaiakn suatu siklus pekerjaan, yang mana waktu ini akan dipergunakan sebagai standard penyelesaian pekerjaan bagi semua pekerja yang akan melaksanakan pekerjaan yang sama seperti itu. Secara garis besar langkah-langkah untuk pelaksanaan pengukuran waktu kerja dengan jam henti ini yaitu :
• Definisi pekerjaan yang akan diteliti untuk diukur waktunya dan diberitahukan maksud dan tujuan pengukuran ini kepada pekerja yang dipilih untuk diamati dan supervisor yang ada.
• Catat semua informasi yang berkaitan erat dengan penyelesaian pekerjaan seperti lay out, karakteristik atau spesifikasi mesin atau peralatan kerja lain yang digunakan, dan lain-lain.
• Bagi operasi kerja dalam elemen-elemen sedetail-detailnya tapi masih dalam batas-batas kemudahan untuk pengukuran waktunya.
• Amati, ukur dan catat waktu yang dibutuhkan oleh operator untuk menyelesaikan elemen – elemen kerja tersebut.
76 Langkah-langkah pemrosesan hasil pengukuran adalah:
1. Hasil pengukuran dikelompokkan ke dalam subgrup-subgrup dan hitung rata-rata dari tiap subgrup:
n k Xi X = ∑
dimana : n = ukuran subgrup, yaitu banyaknya data dalam satu subgrup
k = jumlah subgrup yang terbentuk Xi = data pengamatan
2. Hitung rata-rata keseluruhan, yaitu rata-rata dari rata-rata subgrup:
k k X=
∑
X3. Hitung standar deviasi dari waktu penyelesaian:
1 N
X Xi σ
2
−
⎟⎠
⎜ ⎞
⎝⎛ −
=
∑
dimana: N = jumlah pengamatan pendahuluan yang telah dilakukan 4. Hitung standar deviasi dari distribusi harga rata-rata subgrup:
n x σ σ =
• Tetapkan jumlah siklus kerja yang harus diukur dan dicatat. Cek juga kecukupan data dan keseragaman data yang diperoleh
77
• Tetapkan penyesuaian sehingga didapatkan waktu normal
• Tetapkan waktu longgar (allowance time) guna memberikan fleksibilitas.
Waktu longgar yang akan diberikan ini guna menghadapi kondisi- kondisi seperti :
Kebutuhan personil yang bersifat pribadi
Faktor kelelahan
Keterlambatan material
Dan lain-lain
• Tetapkan waktu kerja baku (standard time) yaitu jumlah total antara waktu normal dan waktu longgar.
78
Gambar 3.3 Sistematika pengukuran Kerja Dengan Jam Henti
79 3.9.2 Penyesuaian
Penyesuaian bertujuan untuk menormalkan waktu proses operasi jika pengukur berpendapat bahwa operator bekerja dengan kecepatan tidak wajar, agar waktu penyelesaian proses operasi tidak terlalu singkat atau tidak terlalu panjang.
Terdapat tiga batasan dalam penyesuaian (Sutalaksana, 1979, p138) yaitu:
• p > 1 ; jika pengukur menganggap bahwa pekerja bekerja terlalu cepat (di atas normal)
• p = 1 ; jika pengukur menganggap bahwa pekerja bekerja normal
• p < 1 ; jika pengukur menganggap bahwa pekerja bekerja terlalu lambat (di bawah normal)
Terdapat beberapa metode untuk menentukan faktor penyesuaian (Sutalaksana, 1979, pp139-149) yaitu
a. Metode Persentase
Merupakan cara yang paling mudah dan sederhana tetapi cara ini bersifat subyektif, kurang teliti, kasar dan tidak ilmiah karena faktor ini ditentukan sepenuhnya oleh pengukur melalui pengamatannya selama melakukan pengukuran.
b. Metode Shumard
Cara ini memberikan patokan-patokan penilaian melalui kelas-kelas performance kerja dimana setiap setiap kelas tersebut mempunyai nilai masing-masing. Di sini pengukur diberi standarisasi untuk menilai performansi kerja operator menurut kelas-kelas Superfast +, Fast, Fast -, Excellent, dan seterusnya.
80 c. Metode Obyektif
Metode yang memperhatikan dua faktor yaitu kecepatan kerja dan tingkat kesulitan pekerjaan. Kedua faktor inilah yang dipandang bersama-sama untuk menentukan berapa harga penyesuaian untuk mendapatkan waktu normal. Rumusnya adalah p = p1 x p2. Faktor-faktor penyesuaian menurut tingkat kesulitan metode obyektif dapat dilihat pada Tabel 3.2.
Tabel 3.2. Penyesuaian menurut tingkat kesulitan dengan metode obyektif
Keadaan Lambang Penyesuaian
Anggota terpakai
Jari A 0
Pergelangan tangan dan jari B 1
Lengan bawah, pergelangan tangan dan kaki C 2
Lengan atas, lengan bawah, dst. D 5
Badan E 8
Mengangkat beban dari lantai dengan kaki E2 10 Pedal kaki
Tanpa pedal, atau satu pedal dengan sumbu F 0 dibawah kaki
Satu atau dua pedal dengan sumbu tidak G 5 dibawah kaki
Penggunaan tangan
Keadaan tangan saling bantu atau bergantian H 0 Kedua tangan mengerjakan gerakan yang sama H2 18 pada saat yang sama
Koordinasi mata dengan tangan
Sangat sedikit I 0
Cukup dekat J 2
Konstan dan dekat K 4
Sangat dekat L 7
Lebih kecil dari 0,04 cm M 10
81
Peralatan
Dapat ditangani dengan mudah N 0
Dengan sedikit kontrol O 1
Perlu kontrol dan penekanan P 2
Perlu penanganan dan hati-hati Q 3
Mudah pecah dan patah R 5
Berat Beban (kg) tangan kaki
0,45 B-1 2 1
0,90 B-2 5 1
1,35 B-3 6 1
1,80 B-4 10 1
2,25 B-5 13 1
2,70 B-6 15 3
3,15 B-7 17 4
3,60 B-8 19 5
4,05 B-9 20 6
4,50 B-10 22 7
4,95 B-11 24 8
5,40 B-12 25 9
5,85 B-13 27 10
6,30 B-14 28 10
3.9.3. Kelonggaran (Sutalaksana, 1979, pp149-154)
Kelonggaran adalah waktu yang dibutuhkan pekerja yang terlatih, agar dapat mencapai performance kerja sesungguhnya, jika ia bekerja secara normal. Seorang pekerja tidak mungkin bekerja sepanjang waktu tanpa adanya beberapa interupsi untuk kebutuhan tertentu yang sifatnya manusiawi, seperti kebutuhan pribadi, menghilangkan rasa fatique, dan gangguan-gangguan yang mungkin terjadi yang tidak dapat dihindarkan oleh pekerja. Umumnya kelonggaran dinyatakan dalam persen dari waktu normal.
Persentase kelonggaran berdasarkan faktor-faktor yang berpengaruh dapat dilihat pada Tabel 3.3.
82
Tabel 3.3 Tabel Kelonggaran
Faktor Contoh Pekerjaan Kelonggaran (%)
A. Tenaga yang dikeluarkan 1. Dapat diabaikan
2. Sangat ringan 3. Ringan 4. Sedang 5. Berat 6. Sangat berat 7. Luar biasa berat
Bekerja dimeja, duduk Bekerja dimeja, berdiri Menyekop, ringan Mencangkul
Mengayun palu yang berat Memanggul beban Memanggul karung berat
Pria Wanita
0-6 0-6
6-7,5 6-7,5 7,5-12 7,5-16 12-19 16-30 19-30
30-50
B. Sikap Kerja 1. Duduk
2. Berdiri diatas dua kaki 3. Berdiri diatas satu kaki 4. Berbaring
5. Membungkuk
Bekerja duduk, ringan Badan tegak, ditumpu 2 kaki 1 kaki mengerjakan alat kontrol Belakang atau depan bedan Bertumpu pada dua kaki
0-1 1-2,5 2,5-4 2,5-4 4-10
C. Gerakan Kerja 1. Normal
2. Agak terbatas 3. Sulit
4. Pada anggota badan terbatas 5. Seluruh anggota badan terbatas
Ayunan bebas dari palu Ayunan terbatas dari palu Membawa beban berat 1 tangan Dengan tangan di atas kepala Di lorong pertambangan sempit
0 0-5 0-5 5-10 10-15
D. Kelelahan Mata
1. Pandangan terputus-putus 2. Pandangan terus menerus 3. Pandangan dengan focus berubah 4. Pandangan dengan focus tetap
Membawa alat ukur Pekerjaan teliti
Memeriksa cacat pada kain Pemeriksaan yang sangat teliti
Baik Buruk 0-6 0-6 6-7,5 6-7,5 7,5-12 7,5-16 12-19 16-30
83
E.Temperatur Tempat Kerja 1. Beku
2. Rendah 3. Sedang 4. Normal 5. Tinggi 6. Sangat tinggi
Temperatur di bawah 0 Temperatur antara 0-13 Temperatur antara 13-22 Temperatur antara 22-28 Temperatur antara 28-38 Temperatur di atas 38
Normal Berlebihan Di atas 10 Di atas 12
10-0 12-5
5-0 8-0
0-5 0-8
5-40 8-100
Diatas 40 Diatas 100
F. Keadaan Atmosfer 1. Baik
2. Cukup 3. Kurang baik 4. Buruk
Ventilasi baik, udara segar Ventilasi kurang baik, ada bau Debu beracun tidak banyak Bau-bauan berbahaya
0 0-5 5-10 10-20
G. Keadaan Lingkungan Baik 1. Bersih, sehat, kebisingan rendah 2. Siklus berulang 5-10 detik 3. Siklus berulang 0-5 detik 4. Sangat bising
5. Faktor menurunkan kualitas 6. Adanya getaran lantai 7. Keadaan luar biasa
0 0-1 1-3 0-5 0-5 5-10 5-15
84 Kelonggaran dapat diberikan untuk tiga hal yaitu:
a. Kelonggaran untuk kebutuhan pribadi
Yang termasuk dalam kebutuhan pribadi disini adalah hal-hal seperti minum untuk menghilangkan dahaga, ke kamar kecil, bercakap-cakap untuk menghilangkan ketegangan atau kejenuhan dalam bekerja. Kebutuhan ini jelas terlihat sebagai sesuatu yang mutlak yang harus diberikan kepada pekerja karena merupakan tuntutan fisiologis dan psikologis yang wajar.
b. Kelonggaran untuk rasa fatique
Rasa fatique tercermin dari menurunnya hasil produksi dari segi kualitas maupun kuantitas. Cara menentukan kelonggaran ini adalah dengan melakukan pengamatan sepanjang hari kerja dan mencatat pada saat-saat dimana hasil produksi menurun.
c. Kelonggaran untuk hambatan yang tak terhindarkan
Dalam melaksanakan pekerjaan, pekerja tidak akan lepas dari hambatan. Adapun beberapa contoh yang termasuk kedalam hambatan tak terhindarkan adalah:
− menerima atau menerima petunjuk kepada pengawas.
− melakukan penyesuaian-penyesuaian mesin.
− memperbaiki kemacetan-kemacetan singkat seperti mengganti alat potong yang patah, memasang kembali ban yang lepas dan sebagainya.
− mengasah peralatan potong.
− mengambil alat-alat khusus atau bahan-bahan khusus dari gudang.
85 3.10 Pengukuran Waktu Baku
Data waktu baku berisi data dari waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan yang telah diukur pada waktu yang lalu. Pemakaian data waktu baku dalam penelitian waktu akan mendatangkan beberapa keuntungan dibandingkan pengukuran secara langsung:
• Menghemat waktu penelitian
• Untuk keperluan pekerjaan yang banyak, jumlah pengukur yang diperlukan lebih sedikit dibandingkan jumlah pengukur dengan cara langsung
• Biaya yang dikeluarkan lebih sedikit
• Penentuan waktu penilaian suatu pekerjaan dapat dilaksanakan tanpa harus berada di tempat pekerjaan berlangsung
Di samping keuntungan-keuntungan yang ada, data waktu baku juga memiliki kekurangan yaitu terbatasnya lingkup pekerjaan yang dapat menggunakan tabel data waktu baku yang telah dibuat, misalnya data waktu baku yang dibuat untuk pekerjaan- pekerjaan pemotongan kayu umumnya tidak dapat digunakan untuk pekerjaan-pekerjaan di pabrik perakitan mobil. Waktu baku tidak dapat dilepaskan dari aspek pemberian penyesuaian dan kelonggaran. Secara matematis, waktu baku dapat dinyatakan sebagai berikut : Wn = Ws x p
Wb = Wn x (1 + a)
Di mana : Ws = Waktu Siklus Wn = Waktu Normal
P = Penyesuaian
a = Kelonggaran
86 3.11 Sistem dan Informasi
3.11.1 Pengertian Sistem
Menurut Raymond McLeod, Jr (Jilid 1, p 11) Sistem adalah sekelompok elemen yang terintegrasi dengna maksud yang sama untuk mencapai tujuan. Suatu organisasi seperti perusahaan atau suatu bidang fungsional cocok dengan definisi ini. Organisasi terdiri dari sejumlah sumber daya, dan sumber daya tersebut bekerja menuju tercapainya suatu tujuan tertentu yang ditemukan oleh pemilik atau manajemen.
3.11.1.1 Elemen-Elemen Sistem
Tidak semua sistem memiliki kombinasi elemen yang sama, tetapi suatu susunan dasar yang dapat dilihat pada skema di bawah ini.
Gambar 3.4 Bagian-bagian komponen dari suatu sistem
87 Sumber daya input diubah menjadi sumber daya output. Sumber daya mengalir dari elemen input, melalui elemen transformasi , ke elemen output. Suatu mekanisme pengendalian memantau proses transformasi untuk meyakinkan bahwa sistem tersebut memenuhi tujuannya. Mekanisme pengendalian ini dihubungkan pada arus sumber daya dengan memakai sutu lingkaran umpan balik (feedback loop) yang mendapatkan informasi dari output sistem dan menyediakan informasi bagi mekanisme pengendalian.
Mekanisme pengendalian membandingkan sinyal-sinyal umpan balik ke sasaran dan mengarahkan sinyal pada elemen input jika sistem operasi memang perlu diubah.
Jika pengaturan elemen ini digunakan untuk menjelaskan suatu sistem manufaktur, sumber daya input adalah bahan mentah yang diubah menjadi barang jadi atau jasa melalui proses manufaktur. Mekanisme pengendaliannya adalah manajemen perusahaan, tujuannya adalah sasaran-sasaran yang ingin dicapai perusahaan, dan lingkaran umpan baliknya adalah arus informasi ke dan dari manajemen.
3.11.1.2 Pentingnya Suatu Pandangan Sistem
Suatu pandangan sistem (systems view) melihat operasi bisnis sebagai sistem-sistem yang melekat dalam suatu lingkungan yang lebih luas. Ini adalah suatu cara pandang yang abstrak, tetapi bernilai potensial bagi manajer. Pandangan sistem ini :
• Mencegah manajer tersesat dalam kerumitan struktur organisasi dan rincian pekerjaan
• Menyadari perlunya memiliki tujuan-tujuan yang baik
• Menekankan pentingnya kerja sama dari semua bagian dalam organisasi
• Mengakui keterkaitan organisasi dengan lingkungannya
88
• Memberi penilaian yang tinggi pada informasi umpan balik yang hanya dapat dicapai dengan cara sistem lingkaran tertutup
3.11.2 Pengertian Informasi
Menurut Raymond McLeod, Jr. (Jilid 1, p4) Informasi adalah salah satu jenis utama sumber daya yang tersedia bagi manajer. Informasi dapat dikelola seperti halnya sumber daya yang lain, dan perhatian pada topik ini bersumber dari dua pengaruh.
Pertama, bisnis telah menjadi semakin rumit, dan kedua, komputer telah mencapai kemampuan yang semakin baik.
Output informasi dari komputer digunakan oleh para manajer, non-manajer, serta orang - orang dan organisasi – organisasi dalam lingkungan perusahaan. Manajer berada pada semua tingkat organisasional perusahaan, dan dalam semua bidang fungsional.
Manajer melaksanakan berbagai fungsi dan peran, dan untuk berhasil, manajer memerlukan keahlian da;am komunikasi dan pemecahan masalah. Manajer perlu mengerti komputer (computer literate), tetapi yang lebih penting mereka perlu mengerti informasi (information literate).
Sangat bermanfaat jika manajer mampu melihat unitnya sebagai suatu sistem yang terdiri dari beberapa subsistem dan berada dalam supersistem yang lebih besar.
Perusahaan adalah suatu sistem yang bersifat fisik, namun dikelola dengan menggunakan suatu sistem konseptual. Sistem konseptual itu terdiri dari suatu pengolah informasi yang mengubah data menjadi informasi dan menggambarkan sumber daya fisik.
89 Aplikasi utama komputer yang pertama adalah pengolahan data akuntansi.
Aplikasi tersebut lalu diikuti oleh empat aplikasi lain yaitu :
• Sistem Informasi Manajemen (Management Information System)
• Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support Systems)
• Kantor Virtual (Virtual Office)
• Sistem Berbasis Pengetahuan (Knowledge Based System)
Kelima aplikasi ini membentuk sistem informasi berbasis komputer (computer based information system), atau CBIS.
Perusahaan – perusahaan membentuk suatu organisasi jasa informasi yang terdiri dari para spesialis informasi untuk menyediakan keahlian dalam pengembangan sistem berbasis komputer. Para spesialis ini mencakup analis sistem (system analyst), pengelola database (database administrator), spesialis jaringan (network specialists), programmer dan operator. Dalam beberapa tahun terakhir tahun terakhir, para pemakai telah melakukan sebagian besar pekerjaan para spesialis, suatu fenomena yang disebut end- user computing.
Sangat sulit untuk membuktikan nilai ekonomis dari suatu aplikasi computer, tetapi banyak analisis yang dilakukan untuk menjustifikasi tiap proyek potensial. Setelah berjalan, proyek tersebut berkembang melalui suatu siklus hidup sistem (system life cycle). Para spesialis informasi dapat berperan serta dalam tingkat yang beragam, tetapi keseluruhan siklus, termasuk pengembangan dan pemakaian, harus dikelola oleh manajer.
90 3.11.2.1 Dimensi – Dimensi Informasi
Ketika para manajer menentukan output yang harus disediakan pengolah informasi, mereka mempertimbangkan empat dimensi dasar informasi. Dimensi-dimensi ini memberikan kontribusi pada nilai informasi yaitu :
1. Relevansi
Informasi memiliki relevansi jika berkaitan langsung dengan masalah yang ada.
Manajer harus mampu memilih informasi yang diperlukan tanpa membaca seluruh informasi mengenai subyek lain.
2. Akurasi
Idealnya, semua informasi harus akurat, tetapi peningkatan ketelitian sistem menambah biaya. Karena alasan tersebut , manajer terpaksa menerima ketelitian yang kurang dari sempurna. Berbagai aplikasi yang melibatkan uang seperti pembayaran gaji, penagihan, dan piutang menutut keahlian 100 persen.
Beberapa aplikasi lain, seperti ramalan ekonomi jangka panjang dan laporan statistik, sering dapat tetap berguna jika datanya mengandung sedikit kesalahan.
3. Ketepatan Waktu
Informasi harus tersedia untuk memecahkan masalah sebelum situasi krisis menjadi tidak terkendali atau kesempatan menghilang. Manajer harus mampu memperoleh informasi yang menggambarkan apa yang sedang terjadi sekarang, selain apa yang telah terjadi di masa lampau.
91 4. Kelengkapan
Manajer harus mampu memperoleh informasi yang menyajikan gambaran lengkap dari suatu permasalahan atau penyelesaian. Namun, rancangan sistem seharusnya tidak menenggelamkan manajer dalam lautan informasi. Istilah kelebihan informasi (information overload) mengakui adanya bahaya dari informasi yang terlalu banyak. Manajer haru sampu menentukan jumlah rincian yang diperlukan.
Manajer adalah orang yang terbaik untuk menentukan dimensi-dimensi informasi yang ia perlukan. Jika perlu, analis sistem dapat membantu pendekatan yang dilakukan terhadap manajer tugas ini secara logis.
3.11.2.2 Data Versus Informasi
Berbicara tentang sistem dan elemen-elemen sistem sangat erat sekali kaitannya dengan data dan informasi. Data terdiri dari fakta-fakta dan angka-angka yang relative tidak berarti bagi pemakai. Sebagai contoh, data dapat berupa jumlah jam kerja tiap pegawai dalam perusahaan. Saat data ini diproses, ia dapat diubah menjadi informasi.
Jika jam kerja tiap pekerja dikalikan dengan upah per jam, hasilnya adalah pendapatan kotor. Jika angka pendapatan kotor tiap pekerja dijumlahkan, penjumlahan tersebut adalah total biaya gaji bagi seluruh perusahaan. Jumlah biaya gaji dapat menjadi informasi bagi pemilik perusahaan. Informasi adalah data yang telah diproses, atau data yang memiliki arti. Perubahan data menjadi informasi dilakukan oleh pengolah informasi (information processor) . Pengolah informasi adalah salah satu elemen kunci
92 dalam sistem konseptual. Pengolah informasi dapat meliputi elemen-elemen komputer, elemen-elemen non komputer, atau kombinasi keduanya.
Perjalanan informasi tidak selalu langsung dari sistem fisik kepada manajer.
Sebagian besar manajer berada jauh dari aktivis fisik. Hal ini terutama terjadi pada para manajer tingkat tinggi. Menurut Raymond McLeod,Jr. (Jilid 1, p144), Pengolah Informasi adalah mekanisme yang menghasilkan informasi.
Gambar 3.5 Pengolah Informasi Mentransformasi Data Menjadi Informasi
3.11.3 Sistem Informasi
3.11.3.1 Jenis-Jenis Sumber Daya
Manajer mengelola lima jenis sumber daya utama adalah :
• Manusia
• Material dan Metode
• Mesin (termasuk fasilitas dan energi)
• Uang
• Informasi (termasuk data)
Tugas manajer adalah mengelola sumber daya ini agar dapat digunakan dengan cara yang paling efektif. Empat jenis sumber daya yang pertama memiliki wujud, yang
93 ada secara fisik dan dapat disentuh. Kita menggunakan istilah sumber daya fisik untuk menggambarkannya. Jenis sumber daya yang kelima adalah informasi yang memiliki nilai dari apa yang telah diwakilinya,bukan dari bentuk wujudnya. Kita menggunakan istilah sumber daya konseptual untuk mennggambarkan informasi dan data. Para manajer menggunakan sumber daya konseptual untuk mengelola sumber daya fisik.
3.11.3.2 Manajemen Sumber Daya
Sumber daya diperoleh dan disusun agar siap digunakan saat diperlukan. Sangat sering proses penyusunan membutuhkan pengubahan suatu bahan mentah menjadi bentuk yang lebih halus, seperti pelatihan pegawai atau konstruksi suatu bagian mesin yang khusus.
Setelah sumber daya ini disusun, manajer berusaha untuk memaksimalkan penggunaannya. Manajer meminimalkan waktu yang terbuang dan menjaganya agar berfungsi pada efisiensi puncak. Keseluruhan aktivitas mulai dari memperoleh informasi, menggunakanya seefektif mungkin, dan membuangnya pada saat yang tepat disebut sistem informasi.
3.11.3.3 Pengertian Sistem Informasi
Menurut Raymond McLeod, Jr (2001, p4), sistem informasi adalah suatu kombinasi yang terorganisasi dari manusia, perangkat lunak, perangkat keras, jaringan komunikasi, dan sumber daya data yang mengumpulkan, mentransformasikan, serta menyebarkan informasi dalam sebuah organisasi. Sedangkan menurut pendapat Alter, sistem informasi adalah suatu jenis sistem kerja yang menggunakan teknologi informasi untuk mengumpulkan, meneruskan, menyimpan, mendapatkan kembali, memanipulasi, ataupun menampilkan informasi, sehingga mendukung satu atau lebih sistem kerja.
94 Sementara itu sistem kerja adalah suatu sistem dimana manusia berpartisipasi untuk melakukan suatu proses bisnis dengan menggunakan teknologi informasi dan sumber daya yang lain untuk menghasilkan suatu produk bagi pihak internal ataupun eksternal.
3.11.4 Analisa dan Desain Sistem 3.11.4.1 Analisa Sistem
Menurut McLeod (2001, p234) analisis sistem adalah penelitian atas sistem yang telah ada dengan tujuan untuk merancang sistem yang baru atau diperbaiki. Jadi dapat disimpulkan bahwa analisis sistem adalah penelitian sistem yang ada dengan tujuan penyempurnaan sistem yang dapat dimanfaatkan oleh pengguna sistem.
Menurut Cushing (1991, p327), analisis sistem dapat didefinisikan sebagai proses penyelidikan kebutuhan informasi pemakai didalam suatu organisasi agar dapat menetapkan tujuan dan spesifikasi untuk desain suatu sistem informasi.
3.11.4.2 Perancangan Sistem
Menurut Mulyadi (1993, p51) adalah proses penterjemahan kebutuhan pemakai ke dalam alternatif rancangan sistem informasi yang diajukan kepada pemakai informasi untuk dipertimbangkan. Sedangkan menurut Cushing (1991, p348) perancangan sistem adalah proses penyiapan spesifikasi yang terperinci untuk pengembangan suatu sistem baru. Dari definisi diatas, perancangan sistem dapat disimpulkan suatu proses penyiapan spesifikasi dalam menterjemahkan kebutuhan pemakai dalam pengembangan sistem baru.