• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGUKURAN KINERJA KOPERASI BERBASIS BALANCED SCORECARD

Endang Dhamayantie

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura

ABSTRACT

Measurement of cooperative performance is needed to develop cooperative institutions. One comprehensive, balanced, and measurableperformance measurement system is a balanced scorecard. The balanced scorecard is a performance measurement system that describes financial and non-financial aspects. The purpose of this study was to describe the performance of the Koperasi Serba Usaha Karya Sahaja based on a balanced scorecard consisting of a financial perspective, member perspective, internal business perspective, and learning and growth perspective. Research data was obtained through documentation, observation, and interviews.

Descriptive analysis was carried out in analyzing data.Based on the results of the analysis, the performance of theKoperasi Serba Usaha Karya Sahajabased on the financial perspective is categorized as good enough, the consumer perspective is categorized as good, the internal business perpsective is categorized as good, and the learning and growth perpsective is categorized good enough.

Keywords: cooperative, performance, balanced scorecard

Pendahuluan

Koperasi merupakan badan usaha sekaligus badan ekonomi kerakyatan yang berasaskan kekeluargaan.Koperasi telah berkembang di seluruh wilayah Indonesia, namun peningkatan kuantitas koperasi belum diiringi dengan peningkatan kinerja koperasi. Kinerja koperasi selama ini lebih difokuskan pada aspek finansial, padahal kinerja koperasi harus diukur secara menyeluruh menyangkut aspek-aspek non finansial. Pengukuran finansial tidak lagi merupakan prediktor yang baik dalam memprediksi finansial di masa yang akan datang karena pengukuran keuangan gagal mengenal aset-aset yang tidak berwujud, seperti riset dan sumberdaya manusia (Norreklit, 2003).

Pengukuran kinerja didefinisikan sebagai proses mengukur efisiensi dan efektivitas tindakan (Thakkaret al., 2006). Koperasi dapat menjadikan organisasi

bisnis dalam industri yang sama sebagai acuan dalam mengembangkan pengukuran kinerja (Beaubien & Rixon, 2012).Oleh karena itu, penting bagi koperasi untuk mengembangkan pengukuran kinerja yang lebih komprehensif, sehingga dapat memberikan pandangan yang lebih luas mengenai organisasi (Barnabe, 2011) dan menghadapi persaingan yang kompetitif (Thakkar et al., 2006). Dengan memperluas ukuran kinerja pada aspek non finansial, ukuran kinerja menjadi lebih komprehensif (Mulyadi, 2009:5).

Balanced scorecard diusulkan oleh Kaplan & Norton (1992) untuk mengatasi kelemahan pengukuran kinerja yang berfokus pada aspek finansial. Balanced scorecard merupakan sistem pengukuran kinerja yang melampaui sistem tradisional yang tidakhanya mencakup aspek finansial saja tetapi juga mencakupaspek non finansial (Reefke & Trocchi, 2013). Balanced scorecarddalam perkembangannya disajikan sebagai alat manajemen kinerja dengan mempertimbangkan berbagai aspek, meliputi aspek keuangan, preferensi pelanggan, efektivitas dan efisiensi proses internal, serta pembelajaran dan pertumbuhan (Porporato et al., 2017).

Kerangka balanced scorecard memungkinkan organisasi untuk memonitor, mengukur, dan melacak keselarasan kinerja finansial dan non finansial yang sejalan dengan strategi dan visi (Mehralian et al., 2017; Wake, 2015).Balancedscorecard merupakan salah satu sistem pengukuran kinerja holistik yang mengukur kinerja organisasi melalui empat perspektif, yaitu perspektif keuangan, perspektif pelanggan, perspektif internal, serta perspektif pembelajaran dan pertumbuhan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kinerja Koperasi Serba Usaha Karya Sahaja Kabupaten Kubu Raya dari empat perspektif balanced scorecard, yaitu perspektif keuangan, pelanggan, bisnis internal, dan pembelajaran dan pertumbuhan.

Tinjauan Pustaka

Balanced scorecard memberikan kerangka kerja yang digunakan untuk mengukur kinerja dari empat perspektif mencakup perspektif finansial dan non finansial (Kaplan & Norton, 1992,1996), yaitu:

Perspektif keuangan;untuk sukses secara finansial, bagaimana seharusnya koperasi tampil kepada para shareholders? Koperasi menjadikan perspektif finansial sebagai fokus bagi tujuan-tujuan strategis dan ukuran-ukuran perspektif yang lain dalam balanced scorecard. Dalam perspektif ini, koperasi berorientasi untuk memaksimalkan kepuasan pemilik modal (anggota) dan investor luar untuk penyertaan modal pada usaha koperasi.

Perspektif pelanggan; untuk mencapai visinya, bagaimana seharusnya koperasi tampil dihadapan pelanggannya?Dalam perspektif ini, koperasi harus mengidentifikasi pelanggan dan segmen pasar, memahami kebutuhan dan memuaskannya. Dalam konteks koperasi, pemilik adalah pelanggan koperasi, disamping pelanggan lainnya.

Perspektif bisnis internal; untuk memuaskan shareholders dan pelanggan, proses bisnis apa yang harus diutamakan koperasi?Dalam perpsektif ini, koperasi harus mengidentifikasi proses-proses paling kritis untuk mencapai nilai bagi pelanggan dan sharedoldersnya. Model rantai nilai proses bisnis internal dapat digunakan koperasi, yaitu proses inovasi, proses operasional, dan proses pelayanan.

Perspektif pertumbuhan dan pembelajaran; untuk mencapai visinya, bagaimana koperasi mempertahankan kemampuannya untuk berubah dan berkembang?Dalam perspektif ini, koperasi mempertimbangkan infrastruktur yang memungkinkan tujuan-tujuan dalam ketiga perspektif tercapai. Terdapat tiga kategori penting dalam perpsektif ini, yaitu kompetensi karyawan, infrastruktur teknologi, dan kultur koperasi.

Menurut Kaplan & Norton (1996),balanced scorecard harus mencakup berbagai ukuran kinerja untuk mewakili semua dimensi-dimensi organisasi. Untuk koperasi sebaiknya menggunakan tolok ukur perusahaan bisnis pada industri yang sama untuk mengevaluasi kinerja (Beaubien & Rixon, 2012).

Metodologi Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kinerja Koperasi Serba Usaha Karya Sahaja berbasis balanced scorecardtahun 2016-2017 yang terdiri dari perspektif keuangan, perspektif pelanggan, perspektif internal bisnis, dan perspektif pembelajaran dan pertumbuhan. Kinerja koperasi dari perspektif keuangan diukur dengan menggunakan rasio keuangan yang terdiri dari rasio likuiditas, rasio solvabilitas, dan rasio rentabilitas. Kinerja koperasi dari perspektif pelanggan diukur melalui kepuasan anggota, retensi anggota, dan akuisisi anggota. Kinerja perspektif bisnis internal diukur melalui percepatan proses menjadi anggota, percepatan pelayanan terhadap anggota, efisiensi pelayanan, ketepatan pelaksanaan RAT, dan kesediaan sarana dan prasarana. Kinerja perspektif pembelajaran dan pertumbuhan diukur dengan retensi karyawan, produktivitas karyawan, pengembangan kompetensi karyawan, dan penggunaan teknologi informasi. Data penelitian diperoleh melalui dokumentasi, observasi, dan wawancara terhadap pengurus dan anggota koperasi. Analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif.

Hasil

Penilaian kinerja Koperasi Serba Usaha Karya Sahajaberdasarkan data tahun 2016 dan 2017 melalui empat perspektif balanced scorecard sebagai berikut:

KinerjaPerspektifKeuangan

Kinerja koperasi dari perspektif keuangan diukur dengan menggunakan rasio keuangan. Rasio keuangan merupakan alat analisis keuangan yang digunakan untuk menilai kinerja koperasi berdasarkan perbandingan data keuangan yang terdapat dalam laporan laba rugi, laporan perubahan modal, dan neraca. Hasil perhitungan rasio keuangan dalam pengukuran kinerja koperasi sebagai berikut:

RasioLikuiditas, menunjukkan kemampuan koperasi untuk membayar hutang jangka pendek dengan aktiva lancar. Perhitungan likuiditas menggunakan current ratio.

= ℎ 100%

Hasil perhitungan current ratio sebagai berikut:

Tabel 1. Current RatioKoperasi Serba Usaha Karya Sahaja Tahun 2016-2017 Tahun Aktiva

Lancar

Hutang Lancar

Current Ratio(%)

Keterangan

2016 550.349.929 965.916.227 56,98 Tidak Baik

2017 1.000.402.293 1.085.905.450 92,13 Tidak Baik

Sumber: Data Olahan, 2018

RasioSolvabilitas, menunjukkan kemampuan koperasi untuk membayar seluruh kewajibannya. Rasio ini merupakan ukuran yang menunjukkan besarnya porsi hutang dibandingkan dengan aktiva dan modal koperasi, meliputi total debt to total assets dan total debt to total equity ratio.

= x 100%

Perhitungan total debt to total assets sebagai berikut:

Tabel 2. Total Debt to Total Assets Koperasi Serba Usaha Karya Sahaja Tahun 2016-2017

Tahun Total Hutang Total Aktiva Total Debt to Total Assets (%)

Keterangan

2016 1.091.916.227 2.318.711.939 47,09 Baik

2017 1.211.905.450 2.473.395.351 49 Baik

Sumber: Data Olahan, 2018

= x 100

Penilaian total debt to total equity ratio sebagai berikut:

Tabel 3. Total Debt to Total Equity Koperasi Serba Usaha Karya Sahaja Tahun 2016-2017

Tahun Total Hutang Total Modal Total Debt to Total Equity

Keterangan

(%)

2016 1.091.916.227 1.226.795.712 89 Baik

2017 1.211.905.450 1.261.489.901 96,07 Baik

Sumber: Data Olahan, 2018

Rentabilitas, menunjukkan kemampuan koperasi untuk menghasilkan laba dalam satu periode. Rentabilitas diukur dengan return on assets, return on equity, dan net profit margin.

= 100%

Perhitungan return on assets sebagai berikut:

Tabel 4. Return on Assets Koperasi Serba Usaha Karya Sahaja Tahun 2016-2017 Tahun SHU Total Aktiva Return on

Assets (%)

Keterangan

2016 131.084.128 2.318.711.939 5,65 Cukup Baik

2017 125.355.749 2.473.395.351 5,07 Cukup Baik

Sumber: Data Olahan, 2018

= 100%

Perhitungan return on equity sebagai berikut:

Tabel 5. Return on Equity Koperasi Serba Usaha Karya Sahaja Tahun 2016-2017 Tahun SHU Total Modal Return on

Equity (%)

Keterangan

2016 131.084.128 1.226.795.712 10,68 Cukup Baik

2017 125.355.749 1.261.489.901 9,94 Cukup Baik

Sumber: Data Olahan, 2018

= 100%

Perhitungan net profit margin sebagai berikut:

Tabel 6. Net Profit Margin Koperasi Serba Usaha Karya Sahaja Tahun 2016-2017 Tahun SHU Pendapatan Net Profit Keterangan

Margin (%)

2016 131.084.128 312.675.326 41,92 Sangat Baik

2017 125.355.749 243.683.440 51,44 Sangat Baik

Sumber: Data Olahan, 2018

Kinerja Perspektif Pelanggan

Kinerja koperasi dari perspektif pelanggan diukur melalui:

Kepuasan anggota, menunjukkan tingkat kepuasan anggota dalam menerima pelayanan dan aktivitas koperasi. Kepuasan anggota diukur melalui tingkat keluhan anggota terhadap koperasi.

ℎ = ℎ ℎ

100%

Tingkat keluhan anggota sebagai berikut:

Tabel 7. Tingkat Keluhan Anggota Koperasi Serba Usaha Karya Sahaja Tahun 2016-2017

Tingkat retensi anggota dinyatakan sebagai berikut:

Tabel 8. Tingkat Retensi Anggota Koperasi Serba Usaha Karya Sahaja Tahun 2016-2017

Keluar

2016 411 8 1,95 Baik

2017 424 15 3,54 Baik

Sumber: Data Olahan, 2018

Akuisisi anggota, menunjukkan kemampuan koperasi dalam merekrut anggota baru.

= ℎ

ℎ ℎ 100%

Tingkat akuisisi anggota sebagai berikut:

Tabel 9. Tingkat Akuisisi Anggota Koperasi Serba Usaha Karya Sahaja Tahun 2016-2017

Percepatan proses menjadi anggota, menunjukkan kemampuan koperasi memberikan pelayanan menjadi anggota secara tepat, cepat, dan jelas dalam waktu yang sesuai atau kurang dari standar yang telah ditetapkan.

=

Percepatan proses menjadi anggota sebagai berikut:

Tabel 10. Percepatan Proses Menjadi Anggota Koperasi Serba Usaha Karya Sahaja Tahun 2016-2017

2016 10 8 1,25 Sangat Baik

2017 10 8 1,25 Sangat Baik

Sumber: Data Olahan, 2018

Percepatan Pelayanan, menunjukkan kemampuan koperasi memberikan pelayanan terhadap anggota koperasi secara tepat, cepat, dan jelas dalam waktu yang sesuai atau kurang dari standar yang telah ditetapkan.

=

Percepatan proses pelayanan anggota sebagai berikut:

Tabel 11. Percepatan Proses Pelayanan Anggota Koperasi Serba Usaha Karya Sahaja Tahun 2016-2017

Tahun Waktu Standar

Waktu Realisasi

Service Cycle Efficiency

Keterangan

2016 20 18 1,11 Sangat Baik

2017 20 18 1,11 Sangat Baik

Sumber: Data Olahan, 2018

Efisiensi pelayanan, menunjukkan kemampuan koperasi memberikan pelayanan yang efisien kepada anggotanya dari penggunaan aset yang dimilikinya.

= 100%

Tingkat efisiensi pelayanan sebagai berikut:

Tabel 12. Tingkat Efisiensi Pelayanan Anggota Koperasi Serba Usaha Karya Sahaja Tahun 2016-2017

Tahun Biaya Karyawan

Volume Pinjaman

Efisiensi Pelayanan (%)

Keterangan

2016 21.600.000 354.887.997 6,09 Baik

2017 21.600.000 690.370.000 3,13 Sangat Baik

Sumber: Data Olahan, 2018

Ketepatan pelaksanaan RAT menunjukkan kemampuan koperasi melaksanakan RAT sebagai bentuk laporan pertanggung jawaban selama tahun buku berjalan serta menyampaikan rencana kerja dan rencana anggaran pendapatan dan belanja koperasi tahun berikutnya.

Percepatan proses pelayanan anggota sebagai berikut:

Tabel 13. Ketepatan Pelaksanaan RATKoperasiSerba Usaha KaryaSahajaTahun 2016-2017

Tahun Waktu Pelaksanaan Keterangan

2016 Januari 2017 Sangat Baik

2017 Januari 2018 Sangat Baik

Sumber: Data Olahan, 2018

Ketersediaan sarana dan prasaranaditunjukkan koperasi melalui keberadaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk memudahkan anggota dalam pelayanan, seperti meja, kursi kantor, komputer, printer, kantor, toko, penyediaan gudang, dan lain-lain.

Ketersediaan sarana dan prasaranasebagaiberikut:

Tabel 14. Ketersediaan Sarana dan PrasaranaKoperasiSerba Usaha KaryaSahajaTahun 2016-2017

Tahun Kepemilikan Keterangan

2016 Sewa/Kontrak Baik

2017 Sewa/Kontrak Baik

Sumber: Data Olahan, 2018

Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan

Retensi karyawan menunjukkan kemampuan koperasi untuk mempertahankan karyawannya.

= ℎ

ℎ 100%

Tingkat retensi karyawansebagaiberikut:

Tabel 15. Retensi KaryawanKoperasiSerba Usaha KaryaSahajaTahun 2016-2017 Tahun Jumlah

Produktivitas karyawan ditunjukkan dari kemampuan karyawan koperasi untuk menghasilkan sejumlah pendapatan.

= ℎ

ℎ 100%

Tingkat produktivitas karyawansebagaiberikut:

Tabel 16.Tingkat Produktivitas KaryawanKoperasiSerba Usaha KaryaSahajaTahun 2016-2017

Pengembangan potensi karyawan, menunjukkan keikutsertaan karyawan koperasi dalam pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kualitas kerja.

Tingkat pengembangan potensi karyawansebagaiberikut:

Tabel 17.Pelaksanaan PengembanganPotensi KaryawanKoperasiSerba Usaha KaryaSahajaTahun 2016-2017

Tahun Program dan Pelaksanaan Keterangan

2016 Tertuang dalam program dan dilaksanakan sebagian

Baik

2017 Tertuang dalam program dan dilaksanakan sebagian

Baik

Sumber: Data Olahan, 2018

Penggunaan teknologi informasi, ditunjukkan dengan ketersediaan dan penggunaan teknologi informasi dalam melayani anggota.

Tingkat pengembangan potensi karyawansebagaiberikut:

Tabel 18. Tingkat Penggunaan TeknologiKoperasiSerba Usaha KaryaSahajaTahun 2016-2017

Tahun Program dan Pelaksanaan Keterangan 2016 Tidak tertuang dalam program dan tapi

dilaksanakan

Cukup Baik

2017 Tidak tertuang dalam program dan tapi dilaksanakan

Cukup Baik

Sumber: Data Olahan, 2018

Pembahasan

Penilaian kinerja Koperasi Serba Usaha Karya Sahaja tahun 2016-2017 didasarkan pada empat perspektif balanced scorecard. Pada perspektif keuangan, kinerja koperasi diukur melalui tiga rasio keuangan, yaitu rasio likuiditas, rasio solvabilitas, dan rasio rentabilitas. Standar penilaian kinerja keuangan koperasi menggunakan Peraturan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia nomor 06/Per/M.KUKM/V/2006 tanggal 1 Mei 2006 tentang Pedoman Penilaian Koperasi Berprestasi/Koperasi Award.

Perhitungan rasio likuiditas diwakili current ratio. Current ratio pada tahun 2016 sebesar 56,98% dan tahun 2017 meningkat menjadi 92,13%. Berdasarkan perhitungan current ratio tersebut, penilaian kinerja koperasi dikategorikan tidak

baik pada tahun 2016 maupun pada tahun 2017. Tingkat current ratio rendah ini mengindikasikan tingkat likuiditas yang rendah sehingga kemampuan membayar hutang-hutang jangka pendek yang jatuh tempo tergolong rendah, hal ini dikarenakan jumlah aktiva lancar lebih kecil dibanding jumlah hutang lancar.

Perhitungan rasio solvabilitas dengan menghitung total debt to total asset dan total debt to total equity. Total debt to total assetpada tahun 2016 sebesar 47,09%

dan tahun 2017 sebesar 49%. Hasil ini menunjukkan bahwa total debt to total asset dikategorikan baik. Artinya koperasi memiliki kemampuan yang baik untuk melunasi total hutang baik hutang jangka panjang maupun jangka pendek dengan menggunakan aktivanya.Demikian jugatotal debt to total equitydikategorikan baik pada tahun 2016 dan 2017 (berturut-turut adalah 89% dan 96,07%). Artinya pada tahun 2016 sebesar89% dan pada tahun 2017 sebesar 96,07% hutang dapat dibiayai oleh modal sendiri.

Perhitungan rasio rentabilitas meliputi return on assets, return on equity, dan net profit margin. Perhitungan return on assets pada tahun 2016 dan 2017 masing-masing sebesar 5,65% dan 5,07%. Berdasarkan perhitungan tersebut maka return on assetsdikategorikan cukup baik. Artinya kemampuan total aktiva dalam menghasilkan laba cukup baik. Demikian juga dengan hasil perhitungan return on equity sebesar 10,68% pada tahun 2016 dan 9,94% pada tahun 2017 dikategorikan cukup baik, artinya kemampuan koperasi cukup baik dalam menghasilkan laba dari modal sendiri. Sementara net profit margin dikategorikan sangat baik pada tahun 2016 dan 2017, masing-masing sebesar 41,92% dan 51,44%. Artinya kemampuan koperasi sangat baik dalam menghasilkan laba pada tingkat penjualan tertentu.

Penilaian kinerja pada perspektif pelanggan diukur melalui kepuasan anggota, retensi anggota, dan akuisisi anggota. Kepuasan anggota dilihat melalui tingkat keluhan anggota koperasi. Tingkat keluhan anggota pada tahun 2016 sebesar 0,48% dan tahun 2017 sebesar 0,71%. Hasil ini menunjukkan tingkat keluhan anggota koperasi tergolong baik karena tidak melebihi target tingkat keluhan 5%.

Hal ini memunjukkan koperasi sudah mampu memberikan pelayanan sesuai yang diharapkan anggota.

Hasil perhitungan tingkat retensi pada tahun 2016 sebesar 1,95% dan tahun 2017 sebesar 3,54% dikategorikan baik. Hal ini menunjukkan koperasi telah mampu menjalin hubungan yang baik dengan anggotanya. Kemampuan koperasi dalam merekrut anggota baru ditunjukkan dari tingkat akuisisi anggota pada tahun 2016 sebesar 8,55% dan pada tahun 2017 sebesar 6,81%. Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia 06/Per/M.KUKM/V/2006 tentang Pedoman Penilaian Koperasi Berprestasi, tingkat akuisisi pada kedua tahun tersebut tergolong baik, artinya koperasi mampu menarik lebih banyak anggota baru, namun jumlah anggota baru pada tahun 2017 lebih rendah dibandingkan tahun 2016.

Kinerja dari perspektif bisnis internal dilihat dari percepatan proses menjadi anggota, percepatan pelayanan, efisiensi pelayanan, ketepatan pelaksanaan RAT, dan ketersediaan sarana dan prasarana. Percepatan proses menjadi anggota koperasi dan percepatan pelayanan ditunjukkan melalui service cycle efficiency.Apabila service cycle efficiency lebih besar dari satu, maka waktu proses menjadi anggota dan waktu pelayanan anggota telah berjalan sangat efisien karena waktu realisasi lebih cepat dibandingkan standar. Penilaian waktu proses menjadi anggota koperasi dan waktu pelayanan tahun 2016 dan 2017 menunjukkan lebih besar dari satu, hal ini berarti kemampuan koperasi memberikan pelayanan menjadi anggota dan waktu pelayanan anggota sangat baik karena melebihi standar yang telah ditetapkan.

Efisiensi pelayanan yang diberikan koperasi dalam melayani anggotanya mengalami peningkatan. Berdasarkan Peraturan Deputi Bidang Pengawasan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia 06/Per/Dep.6/IV/2016 tentang Pedoman Penilaian Kesehatan Koperasi Simpan Pinjam dan Unit Simpan Pinjam Koperasi maka pada tahun 2016 efisiensi pelayanan sebesar 6,09%, tergolong baik, sementara pada tahun 2017 efisiensi pelayanan meningkat sangat baik dengan rasio efisiensi pelayanan sebesar 3,03%.

Hal ini berarti koperasi sangat baik memberikan pelayanan kepada anggotanya dari penggunaan aset yang dimilikinya.

Ketepatan pelaksanaan RAT dan ketersediaan sarana dan prasarana dinilai berdasarkan Peraturan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia 06/Per/M.KUKM/V/2006 tentang Pedoman Penilaian Koperasi Berprestasi. Pelaksanaan RAT berdasarkan peraturan tersebut digolongkan sangat baik, karena mampu dilaksanakan pada bulan Januari baik untuk tahun buku 2016 mupun 2017. Ketersediaan sarana dan prasarana tergolong baik, karena kantor dan bengkel kerja masih sewa/kontrak sementara ketersediaan meja, kursi kantor, komputer dan printer merupakan milik koperasi sendiri.

Kinerja dari perspektif pembelajaran dan pertumbuhan ditunjukkan melalui retensi karyawan, produktivitas karyawan, pengembangan potensi karyawan, dan penggunaan teknologi informasi. Tingkat retensi karyawan pada tahun 2016 dan 2017 tergolong sangat baik, karena tidak ada karyawan yang mengundurkan diri.

Produktivitas karyawan menunjukkan penurunan dari tahun 2016 ke tahun 2017 sebesar 22,07%. Hal ini berarti terjadi penurunan kemampuan karyawan koperasi dalam menghasilkan pendapatan. Pengembangan potensi karyawan digolongkan baik berdasarkan Peraturan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia 06/Per/M.KUKM/V/2006 tentang Pedoman Penilaian Koperasi Berprestasi. Hal ini ditunjukkan adanya perencanaan pengembangan potensi karyawan melalui pendidikan dan pelatihan dan sebagian telah dilaksanakan pada tahun 2016 dan 2017. Penggunaan teknologi informasi tergolong cukup baik berdasarkan Peraturan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia 06/Per/M.KUKM/V/2006 tentang Pedoman Penilaian Koperasi Berprestasi. Hal ini ditunjukkan belum adanya program kerja yang berkaitan ketersediaan penggunaan teknologi informasi dalam melayani anggota, tetapi pengurus koperasi telah mengupayakan penggunaan teknologi informasi dalam melayani anggota.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

Kinerja perspektif keuangan dilihat dari rasio likuiditas dikategorikan tidak baik, rasio solvabilitas dikategorikan baik, sementara rasio rentabilitas dikategorikan cukup baik untuk return on assets dan return on equity dan sangat baik untuk net profit margin.

Kinerja perspektif pelanggan dilihat dari kepuasan anggota, retensi anggota dan akuisisi anggota dikategorikan baik.

Kinerja perspektif bisnis internal dilihat dari percepatan proses menjadi anggota, percepatan pelayanan, dan ketepatan pelaksanaan RAT dikategorikan sangat baik, sementara efisiensi pelayanan dan ketersediaan sarana prasarana dikategorikan baik.Kinerja perspektif pembelajaran dan pertumbuhan dilihat dari retensi karyawan dikategorikan sangat baik, produktivitas karyawan mengalami penurunan, pengembangan potensi karyawan baik, sementara penggunaan teknologi informasi dikategorikan cukup baik. Berdasarkan kesimpulan tersebut, koperasi disaranakan: Meningkatkan kinerja perspektif keuangan dengan meningkatkan rasio likuiditas melalui pengelolaan hutang lancar dan aktivita lancar dan meningkatkan rasio rentabilitas melalui peningkatan kemampuan menghasilkan laba. Meningkatkan kinerja perspektif pelanggan melalui peningkatan pelayanan kepada anggota dengan memperhatikan dan menindaklanjuti keluhan anggota, serta mengembangkan hubungan baik dengan anggota melalui forum sharing anggota. Meningkatkan kinerja perspektif bisnis internal melalui peningkatan kepemilikan sarana dan prasarana seperti kantor dan bengkel kerja. Meningkatkan kinerja perspektif pembelajaran dan pertumbuhan dengan meningkatan kemampuan dan keterampilan karyawan untuk menghasilkan sejumlah pendapatan dan meningkatkan penggunaan teknologi informasi untuk mengikuti perkembangan teknologi dalam melayani anggota.

Daftar Pustaka

Barnabe, F. (2011). A system dynamics-based balanced scorecard to support strategic decision making: Insights from a case study, International Journal of Productivity and Performance Management, 60 (5), 446-473.

Beaubien, L., & Rixon, D. (2012). Key performance indicators in co-operatives:

directions and principles, Journal of Co-operative Studies, 45 (2), 5-15.

Kaplan, R., & Norton, D. (1992). The balanced scorecard: measures that drive performance, Harvard Business Review, 70 (1), 71-79.

Kaplan, R., & Norton, D. (1996). Using the balanced scorecard as a strategic management system, Harvard Business Review, 74 (1), 75-85.

Mehralian, G., Nazari, J.A., Nooriparto, G., & Rasekh, H.R. (2017). TQM and organizational performance using the balanced scorecard approach, International Journal of Productivity and Performance Management, 66 (1), 111-125.

Mulyadi (2009). Sistem terpadu pengelolaan kinerja personnel berbasis balanced scorecard. Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN.

Norreklit, H. (2003). The balanced scorecard: what is the score? A rhetorical analysis of the balanced scorecard, Accounting, Organizations and Society, 28 (6), 591-619.

Peraturan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia nomor 06/Per/M.KUKM/V/2006 tanggal 1 Mei 2006 tentang Pedoman Penilaian Koperasi Berprestasi/Koperasi Award.

Porporato, M., Tsasis, P., Vinuesa, L.M.M. (2017). Do hospital balanced scorecard measures reflect cause-effect relationship? International Journal of Productivity and Performance Management, 66 (3), 338-361.

Reefke, H. & Trocchi, M. (2013). Balanced scorecard for sustainable supply chains: design and development guidelines, International Journal of Productivity and Performance Management, 62 (8), 805-826.

Thakkar, J., Deshmukh, S.G., Gupta, A.D., & Shankar, R. (2006). An integrated approach of interpretive structural modeling (ISM) and analytic network process (ANP), International Journal of Productivity and Performance Management, 56 (1), 25-59.

Wake, N.J.(2015). The use of the balanced scorecard to measure knowledge work, International Journal of Productivity and Performance Management, 64 (4),590-602.

STRATEGI PEMBANGUNAN PROVINSI BALI: PERSPEKTIF