BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Balanced Scorecard
2.3.5 Tolak Ukur Kinerja dalam Balanced Score-
2.3.5.3 Pengukuran Kinerja Pada Perspektif Proses
bisnis internal adalah terpenuhinya sertifikat internasional, margin laba operasional, rasio beban operasi terhadap pendapatan dan jumlah kunjungan bisnis ke pelanggan.
a. Terpenuhinya Sertifikat Internasional
Terpenuhinya akreditasi dari lembaga penilai internasional merupakan ukuran kinerja yang digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam usaha memenuhi produk berkualitas yang berstandar internasional.
b. Margin Laba Operasional
Margin Laba Operasional = Laba Operasi x 100% Penjualan Bersih
Ukuran ini digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam melakukan efisiensi biaya dalam proses operasi.
c. Rasio Beban Operasi Terhadap Pendapatan
Rasio Beban Operasi/ Pendapatan = Beban Operasi x 100% Pendapatan
Ukuran ini untuk mengetahui efisiensi beban-beban operasi perusahaan sehubungan dengan proses operasi perusahaan.
2.3.5.4 Pengukuran Kinerja pada Perspektif Pertumbuhan dan Pembelajaran
Ukuran-ukuran kinerja yang digunakan pada perspektif pembelajaran dan pertumbuhan adalah jumlah karyawan yang mengikuti pelatihan dan pengembangan, rasio beban pelatihan dan pengembangan karyawan terhadap laba operasi, organization capital dan kepuasan karyawan, tingkat perputaran karyawan dan produktivitas karyawan.
a. Jumlah Karyawan yang Mengikuti Pelatihan dan Pengembangan Ukuran ini digunakan untuk mengetahui konsistensi perusahaan dalam memberikan kesempatan bagi para karyawan untuk mengembangkan pengetahuan dan keahliannya.
b. Rasio Beban Pelatihan dan Pengembangan Karyawan Terhadap Laba Operasi
Rasio Beban Pelatihan Laba Operasi dan Pengembangan = Beban Pelatihan Pengembangan x 100%
Laba Operasi
Ukuran ini digunakan untuk mengukur kontribusi atas pelatihan dan pengembangan karyawan yang dilakukan oleh perusahaan terhadap laba operasi.
c. Organization Capital dan Kepuasan Karyawan
Ukuran ini digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam meningkatkan organization capital dan menciptakan kepuasan karyawan.
d. Tingkat Perputaran Karyawan
Tingkat Perputaran Karyawan = Jumlah Pekerja yang Keluar Jumlah Seluruh Karyawan e. Produktivitas Karyawan
Produktivitas Karyawan = Pendapatan Total Karyawan
Ukuran ini digunakan untuk mengukur kemampuan karyawan dalam menghasilkan pendapatan bagi perusahaan.
Tabel 2.1 Interpretasi Nilai Atas Kemampuan Perusahaan dalam Implementasi Balanced Scorecard
SKOR (%) INTERPRETASI NILAI
85-100
Perusahaan telah memiliki pendekatan yang sangat baik dalam mengukur kinerja organisasi. Perusahaan memiliki suatu database yang ringkas yang terhubung dengan
scorecard kunci dan juga memiliki satu set tolok ukur berimbang yang baik. Perusahaan juga terbukti dapat menggunakan data yang dikumpulkan untuk membuat keputusan dalam meningkatkan kinerja organisasi. Organisasi yang demikian dapat menjadi benchmark
SKOR (%) INTERPRETASI NILAI
70-84 Perusahaan telah memiliki pendekatan yang sistemik
dalam pengukuran dan dapat mencapai suatu keseimbangan yang baik, namun perusahaan memiliki kelemahan dalam mengukur kepuasan pelanggan dan pegawai.
55-69 Perusahaan berada pada level menengah dan mengindikasikan suatu awal yang baik untuk mulai melakukan pembenahan terhadap pendekatan pengukuran yang ada.
54 ke bawah
Perusahaan masih jauh tertinggal dalam menerapkan
balanced scorecard. Perusahaan tidak memiliki tolok ukur strategis jangka panjang sehingga perusahaan harus mengaplikasikan beberapa konsep dalam balanced scorecard untuk meningkatkan sistem pengukuran kinerja organisasi.
Sumber: Adaptasi dari Yuwono, et.al, Petunjuk Praktis Penyusunan
2.4 Penelitian Terdahulu
Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu Nama dan Tahun Penelitian Judul Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian Replina Sembiring (2011) Analisis Penerapan Balanced Scorecard Sebagai Pengukuran Kinerja Pada PT. PLN (PERSERO) Wilayah Sumatera Utara Metode Deskriptif
Perusahaan telah melakukan pengukuran kinerja di keempat perspektif balanced scorecard. Pada perspektif keuangan, perusahaan belum mampu mencapai tujuan strategisnya. Walaupun tingkat penjualan perusahaan
meningkat namun perusahaan masih mengalami kerugian hal ini
dikarenakan beban usaha perusahaan yang juga meningkat. Maria Evy (2012) Mempengaruhi Metode Deskriptif
n telah memiliki visi dan misi yang mampu diterjemahkan ke dalam keempat perspektif
Nama dan Tahun Penelitian Judul Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian Kinerja pada Perusahaan Makanan dan Minuman yang ada Di Sumatera Utara
Perusahaan telah melakukan pengukuran kinerja di keempat perspektif dan interpretasi nilai atas kemampuan perusahaan dalam implementasi balanced scorecard memberikan nilai maksimal.
2.5 Kerangka Konseptual
Kerangka Konseptual merupakan sintesis atau ekstrapolasi tinjauan teori. Penelitian ini menggunakan satu variabel independen yaitu Kinerja Perusahaan dan empat buah variabel dependen yaitu Perspektif Keuangan, Perspektif Pelanggan, Perspektif Proses Bisnis Internal dan Perspektif Pertumbuhan.
Berdasarkan landasan teoritis dan tinjauan penelitian terdahulu, maka kerangka konsep penelitian adalah sebagai berikut:
Perspektif Keuangan (X1) Perspektif Pelanggan (X2) spektif Proses Bisnis Internal (X3)
Perspektif Pertumbuhan (X4)
Gambar 2.5
Kerangka Konseptual Penelitian
Balanced Scorecard merupakan suatu ukuran yang cukup komprehensif dalam mewujudkan kinerja, yang mana keberhasilan keuangan yang dicapai perusahaan bersifat jangka panjang. Balanced Scorecard tidak hanya sekedar alat pengukur kinerja perusahaan tetapi merupakan suatu bentuk transformasi strategik secara total kepada seluruh tingkatan dalam organisasi.
Balanced Scorecard juga memberikan ukuran-ukuran yang dapat membantu manajer puncak untuk melihat kinerja perusahaan secara menyeluruh, tidak hanya perspektif keuangan saja, tetapi juga dari perspektif pelanggan, bisnis internal, dan pembelajaran dan pertumbuhan.
2.6 Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan tebakan pemecahan atau jawaban terhadap problema penelitian yang diusulkan peneliti secara ilmiah dan logis (Arikunto, 2005:4). Dalam penelitian ini, penulis menguji hipotesis sebagai berikut:
H1 : Perspektif Keuangan berpengaruh terhadap Kinerja Perusahaan Kinerja Perusahaan (Y)
Perspektif Keuangan “Untuk berhasil secara keuangan, apa yang harus kita perlihatkan kepada para pemegang saham kita?”
Perspektif Proses Bisnis Internal “Untuk menyenangkan para pemegang saham dan pelanggan kita, proses bisnis apa yang harus kita kuasai dengan baik?”
Perspektif Pelanggan “Untuk mewujudkan visi kita, apa yang harus kita perlihatkan kepada para pelanggan kita?”
Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan
“Untuk mewujudkan visi kita, bagaimana kita memelihara kemampuan kita untuk berubah dan meningkatkan diri?”
Visi & Strategi
H2 : Perspektif Pelanggan berpengaruh terhadap Kinerja Perusahaan H3 : Perspektif Proses Bisnis Internal berpengaruh terhadap Kinerja
Perusahaan
H4 : Perspektif Pertumbuhan berpengaruh terhadap Kinerja Perusahaan
Gambar 2.6
Kerangka Kerja Balanced Scorecard
Sumber: Kaplan dan Norton (1996) dalam Yuwono et.al., Petunjuk Praktis Penyusunan Balanced Scorecard Menuju Organisasi yang Berfokus pada Strategi, 2002:5