Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya penelitian ini dilakukan di dua tempat yang berbeda, yaitu lahan dan gudang pertanian. Berikut ini akan dibahas pengukuran denyut jantung serta analisis beban kerja dan konsumsi energy untuk masing-masing tempat.
Subjek pada pengambilan data denyut jantung kerja perontokan secara manual adalah subjek S1, S2, S3, dan S4 dengan karakteristik antropometri yang tertera pada tabel 3. Dilakukan tiga kali ulangan dalam pengambilan data untuk tiap-tiap subjeknya dan diselingi istirahat 5-10 menit pada setiap ulangan.
Pengambilan data denyut jantung saat aktivitas pengasapan, dilakukan dihari yang berbeda dari pengukuran kalibrasi dengan metode step test. Sebelum pengasapan subjek melakukan istirahat selama 5-10 menit sampai denyut jantung stabil dan step test 20 langkah/menit selama 5 menit. Step test berfungsi sebagai kontrol terhadap kondisi denyut jantung subjek. Jika nilai step test sebelumn pengasapan tidak jauh berbeda dengan denyut jantung saat kalibrasi, maka dapat dipastikan kondisi denyut jantung subjek kurang lebih sama. Setelah itu, subjek dikondisikan untuk beristirahat kembali sekitar 5-10 menit agar denyut jantung subjek kembali stabil. Selanjutnya pekerjaan pengasapan lahan dan gudang dilakukan pada hari yang sama. Pekerjaan penyemprotan pada gudang dan lahan dapat dilihat pada Gambar 14.
(a) (b)
Gambar 17. (a) kegiatan pengasapan pada gudang, (b) kegiatan pengasapan pada lahan
Dari pengukuran yang dilakukan pada semua subjek, laju denyut jantung subjek berbeda satu sama lain. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan karakteristik setiap orang dalam menerima beban kerja. Data denyut jantung dalam aktivitas tersebut diukur dan data yang terekam oleh HRM dipindahkan ke komputer, contoh grafik denyut jantung untuk satu siklus observasi kegiatan perontokan disajikan pada Gambar dibawah ini. Grafik lengkap untuk subjek lain dan ulangan lain dapat dilihat pada Lampiran. Berikut merupakan contoh grafik laju denyut jantung saat subjek melakukan penyemprotan:
28 Gambar 18: Grafik denyut jantung subjek 2 saat pengasapan di lahan
Gambar 19: Grafik denyut jantung subjek 2 saat pengasapan di gudang Keterangan: R = istirahat W2 = Kerja (ulangan 2)
ST = steptest siklus 20 W3 = Kerja (ulangan 3) W1 = Kerja (ulangan 1)
Pada grafik diatas didapatkan bahwa step test siklus 20 yang dilakukan sebelum kerja hampir sama dengan steptest kalibrasi, sehingga dapat dilanjutkan untuk melukan pengasapan pada lahan dan gudang pertanian. Denyut jantung yang didapatkan dari kegiatan penyemprotan di lahan dan di gudang sangat berbeda. Denyut jantung pengasapan di lahan lebih tinggi daripada di gudang. Pada pengasapan di lahan denyut jantung yang tertinggi ada pada detik ke 3595 dan 3600 atau pada menit ke 60 yaitu sebesar 155 denyut/menit. Sedangkan pada pengasapan di gudang denyut jantung yang tertinggi ada pada detik ke 2655 atau pada menit ke 44 yaitu sebesar 128 denyut/menit. Perbedaan ini disebabkan oleh keadaan lingkungan yang berbeda seperti temperatur dan keadaan medan tempat pengambilan data.
Nilai HRwork yang digunakan dalam perhitungan IRHR merupakan nilai yang diperoleh dari pemetaan denyut jantung saat bekerja, dengan ketentuan denyut tertinggi dan stabil. Nilai denyut jantung yang diambil harus lebih dari 2 – 3 menit dikarenakan tubuh mengalami respirasi
R1 ST R2
W1
R3 W2 R4 W3 R5
29 anaerob sehingga denyut jantung belum stabil. Nilai denyut jantung yang diambil juga kurang dari 2 menit akhir bekerja, karena dikhawatirkan pada menit-menit akhir bekerja subjek tidak lagi berkonsentrasi penuh terhadap pekerjaannya sehingga mempengaruhi denyut jantung. HRrest yang diambil merupakan nilai HR terendah yang umumnya terdapat pada istirahat awal. Nilai HRrest an HRwork yang diambil yaitu selama min 30 detik (min 6 data). Tabel 10 dan Tabel 11 berikut adalah data denyut jantung pada saat kerja:
Tabel 10. Data denyut Jantung pada saat kerjadi lahan
subjek HR rest HR W1 lahan HR W2 lahan HR W3 lahan
s1 83.66 130 132 135
s2 83 148.33 149,5 151.83
s3 69.33 131.66 134 133.16
s4 68.66 121.33 120.16 123.33
Tabel 11. Data denyut jantung pada saat kerja di gudang
Setelah didapatkan nilai HRrest dan HRwork kemudian dicari nilai IRHR untuk setiap masing-masing pengulangan kerja, kemudian dicari nilai rata-rata IRHR. Cara mencari IRHR sama seperti cara mencari IRHR pada steptest kalibrasi yaitu dengan membagi nilai HRwork dengan HR istirahatterendah. Berikut merupakan tabel pemetaan HRrest dan HRwork serta tabel tingkat beban kerja berdasarkan nilai IRHR:
Tabel 12. IRHR work lahan
IRHR lahan
Subjek IRHR w1 IRHR w2 IRHR w3 Rata-rata
s1 1.554 1.578 1.614 1.582
s2 1.787 1.801 1.829 1.806
s3 1.899 1.933 1.921 1.917
s4 1.767 1.750 1.796 1.771
Tabel 13. IRHR work gudang
IRHR gudang
subjek IRHR w1 IRHR w2 IRHR w3 Rata-rata
s1 1.567 1.584 1.582 1.577
s2 1.492 1.476 1.496 1.488
s3 1.706 1.763 1.825 1.765
s4 1.653 1.719 1.792 1.721
subjek HR rest HR W1 gudang HR W2 gudang HR W3 Gudang
s1 77.66 121.66 123 122.83
s2 83.66 124.83 123.5 125.16
s3 64.66 110.33 114 118
30 Nilai IRHR rata-rata didapatkan dari merata-ratakan nilai IRHR ulangan 1, ulangan 2 dan ulangan 3. Dari data di atas IRHR rata-rata yang lebih tinggi adalah IRHR pada pekerjaan di lahan. Selanjutnya dari nilai IRHR rata-rata tersebut dapat dicari beban kerja kualitatif (kejerihan) dengan merujuk ke Tabel. Tabel 14 dam Tabel 15 berikut adalah beban kerja kualitatif (kejerihan) dari masing-masing kegiatan.
Tabel 14. Beban Kerja Kualitatif (kejerihan) pada pekerjaan di lahan
subjek IRHR rata-rata
tiap subjek
beban kerja kualitatif
(kejerihan)
IRHR
rata-rata
standar
deviasi
rata-rata
beban kerja
kualitatif
(kejerihan)
s1 1.582 berat
1.769 0.140 sangat berat
s2 1.806 sangat berat
s3 1.917 sangat berat
s4 1.771 sangat berat
Tabel 15. Beban Kerja Kualitatif (kejerihan) pada pekerjaan di gudang
subjek IRHR rata-rata
tiap subjek
beban kerja kualitatif
(kejerihan)
IRHR
rata-rata
standar
deviasi
rata-rata
beban kerja
kualitatif
(kejerihan)
s1 1.577 berat
1.638 0.128 berat
s2 1.488 sedang
s3 1.765 sangat berat
s4 1.721 berat
Dari beban kerja kualitatif pada lahan di dapatkan pekerjaan berkisar antara berat sampai sangat berat. Sedangkan pekerjaan pada gudang didapatkan hasil berkisar antara sedang sampai sangat berat. Pada kegiatan pengasapan di gudang hasil yang didapatkan lebih rendah dari pengasapan pada lahan, hal tersebut terjadi karena dipengaruhi faktor fisik seperti temperatur. Temperatur yang jauh berbeda sangat mempengaruhi kepada hasil yang didapatkan.
Setelah didapatkan beban kerja kualitatif (berdasarkan nilai IRHR), maka dapat dihitung konsumsi energi saat kerja (WEC). Nilai WEC untuk setiap subjek didapat dengan memasukkan nilai IRHR sebagai nilai Y kedalam persamaan daya hubungan IRHR dan WECst. Selain didapatkan nilai WEC, nilai TEC (total konsumsi energi yang diperlukan subjek untuk metabolisme tubuh dan untuk bekerja), serta nilai BME (energi untuk menjalankan fungsi minimal organ tubuh) juga bisa didapat. Berikut Tabel 16 dan Tabel 17 tentang data TEC dan TEC’ serta contoh perhitungannya:
31
Tabel 16. ata TEC dan TEC’ pekerjaan di lahan
subjek persamaan y (IRHR
lahan) WEC work (kkal/menit) BME (kkal/menit) TEC (kkal/menit) W (kg) TEC' (kkal/kg.menit) s1 y = 0,5905x + 0,989 1.582 1.004 0.945 1.949 50 0.039 s2 y = 0,4864x + 0,9945 1.806 1.668 1.09 2.758 60 0.046 s3 y = 0,6229x + 1,0139 1.917 1.451 0.865 2.316 42 0.055 s4 y = 0,4541x + 1,0142 1.771 1.667 1.02 2.687 56 0.048 Rata-rata 1.769 1.447 0.98 2.427 0.047 Standar deviasi 0.140 0.313 0.096 0.373 0.007
Tabel 17. ata TEC dan TEC’ pekerjaan di gudang
subjek persamaan y (IRHR
gudang) WEC work (kkal/menit) BME (kkal/menit) TEC (kkal/menit) W (kg) TEC' (kkal/kg.menit) s1 y = 0,5905x + 0,989 1.577 0.996 0.945 1.941 50 0.039 s2 y = 0,4864x + 0,9945 1.488 1.015 1.09 2.105 60 0.035 s3 y = 0,6229x + 1,0139 1.765 1.205 0.865 2.070 42 0.049 s4 y = 0,4541x + 1,0142 1.721 1.557 1.02 2.577 56 0.046 Rata-rata 1.638 1.194 0.98 2.174 0.042 Standar deviasi 0.128 0.260 0.096 0.278 0.006
Contoh perhitungan WEC, TEC dan TEC’
Subjek 1
Y = 0.5905X + 1.0989 1.577 = 0.5905X + 1.0989 X = (1.577 – 1.0989)/0.5905
= 0.996 kkal/menit
TEC = WEC + BME
= 0.996 + 0.945 = 1,941 kkal/menit
TEC’ = TEC/W
= 1.941/50
= 0.039 kkal/kg menit
Nilai WECWORK, TEC, dan TEC’ berbanding lurus. Sehingga semakin tinggi nilai
WECWORK, maka nilai TEC dan TEC’ juga akan semakin tinggi. Setiap subjek melakukan
pekerjaan yang sama. Namun, dapat dilihat pada Tabel 16 dan 17, respon fisiologis dari masing-masing subjek berbeda-beda. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perbedaan tersebut diantaranya karakteristik dari tiap subjek, kemampuan fisiologis (kemampuan cardio-vaskuler/jantung dan serat otot) tiap subjek, serta pengaruh lingkungan fisik (suhu dan kelembaban). Pada pekerjaan di lahan yang memiliki TEC paling tinggi adalah S2, hal ini dikarenakan subjek S2 memiliki berat badan yang lebih berat, sehingga beban yang dirasakan bagi dirinya relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan yang lainnya. Sedangkan pada pekerjaan yang
32 dilakukan di gudang yang memiliki TEC paling tinggi adalah S4, hal ini mungkin dikarenakan kondisi psikologis subjek yang kurang stabil.
Konsumsi energi setiap subjek berbeda-beda sesuai dengan karakteristik tubuhnya masing-masing, oleh karena itu TEC perlu dinormalisasi, yaitu dengan membagi nilai TEC dengan berat badan subjek yang melakukan kerja, sehingga diperoleh nilai TEC’ (kkal/kg menit). Nilai TEC’
menunjukkan besarnya konsumsi energi setiap orang dalam menerima beban per satuan waktu dan per satuan berat badan. Perbedaan nilai TEC’ pada setiap subjek menunjukkan bahwa setiap
manusia memiliki respon fisiologis yang berbeda terhadap beban kerja. Respon fisiologis tersebut dipengaruhi oleh postur tubuh, pengalaman kerja, suhu lingkungan, kemampuan kerja jantung dan lain-lain. Pengalaman kerja seseorang mempengaruhi beban kerja yang dialami seseorang juga. Karena pengalaman seseorang akan mempengaruhi keterlatihan dan kebiasaan seseorang kerja.
Nilai TEC’ S3 pada pekerjaan di lahan maupun di gudang lebih besar dari nilai TEC’ subjek
lainnya, hal ini dikarenakan pengalaman subjek yang masih kurang dibandingkan dengan subjek lainnya.
Kejerihan (IRHR) pada masing-masing subjek berbeda-beda. Hal ini dapat saja terjadi, karena nilai IRHR hanya dihubungkan dengan kemampuan diri seseorang. Nilai IRHR mencerminkan beban kerja relatif terhadap kapasitas diri seseorang, selain itu juga terdapat perbandingan antara kerja dan istirahat, sedangkan konsumsi energi (WECWORK) merupakan jumlah energi yang dikeluarkan ketika seseorang melakukan aktivitas atau respon yang dikeluarkan oleh seseorang terhadap beban yang ada. Sehingga pengeluaran energi yang sama memiliki dampak yang berbeda-beda pada tiap subjeknya. Nilai IRHR juga dipengaruhi oleh beban fisik dan beban mental, namun nilai WEC cenderung dipengaruhi oleh beban fisik saja.
Dari data diatas dapat dilihat bahwa pekerjaan pengasapan menggunakan thermal fogger pada penelitian ini dikategorikan pekerjaan dengan rentang berat sampai sangat berat. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya berat alat itu sendiri, keadaan udara setelah pengasapan, kebisingan yang dihasilkan oleh alat, dan keadaan psikologis dari operator. Dengan berat alat yang mencapai kurang lebih 13 kg pada saat tanki larutan dan bahan bakar terisi penuh sudah jelas alat tersebut akan menjadi beban bagi operator. Ativitas seperti berjalan, membawa beban dan mengangkat beban dengan repetitif menggunakan kelompok otot yang lebih banyak dari pada pekerjaan dengan infrequent . Jenis pekerjaan tersebut membutuhkan lebih banyak pengeluaran energi yang tidak boleh melebihi kapasitas energi pekerja. Berat atau tingginya kerja yang harus dilakukan seorang pekerja akan bisa ditentukan oleh gejala-gejala perubahan yang tampak dan bisa diukur lewat pengukuran anggota tubuh atau fisik manusia antara lain seperti laju detak jantung, tekanan darah , temperatur badan , laju pengeluaran keringat, konsumsi oksigen yang dihirup, kandungan kimiawi dalam darah. Berat total alat dapat dilihat pada Tabel 18.
Tabel 18. Total Berat Alat
Komponen
Berat
(kg)
berat kosong alat 8,2
bensin (1,5 liter x berat jenis) 1,2
solar (5 liter x berat jenis) 3,65
Total 13,05
Catatan: Berat jenis bensin = 0,74 kg/liter
33 Dari uraian data-data diatas juga dapat dilihat bahwa pekerjaan pengasapan pada lahan membutuhkan energi yang lebih banyak dibandingkan dengan kegiatan pengasapan di gudang. Hal ini ditandai oleh nilai TEC pada pengasapan di lahan lebih besar daripada nilai TEC pengasapan di gudang. Faktor yang mempengaruhi perbedaan kebutuhan energi tersebut diantaranya adalah faktor mikroklimat seperti suhu, kelembapan udara di lingkungan. Untuk Suhu lingkungan di dalam gudang dan di lahan dapat dilihat pada Tabel 19 dan Tabel 20
Tabel 19. Suhu Lingkungan di gudang
gudang
Subjek tbb (
oC) tbk (
oC) %RH
s1 24 25 92
s2 23 24 91
s3 23,5 24,5 91,9
s4 23 24,5 88
rata-rata 23,375 24,5 90,725
Tabel 20. Suhu lingkungan di lahan
lahan
Subjek tbb (
oC) tbk (
oC) %RH
s1 26 28 85,49
s2 28 31 83,01
s3 27 31 85,2
s4 27 29,5 82,54
rata-rata 27 29,8 84,06
Pada kegiatan penyemprotan di lahan didapatkan suhu yang lebih tinggi daripada di gudang. Selama beraktivitas dilingkungan panas tersebut, tubuh secara otomatis akan memberikan reaksi untuk memelihara suatu kisaran panas lingkungan yang konstan dengan menyeimbangkan antara panas yang diterima dari luar tubuh dengan kehilangan panas dari dalam tubuh. Menurut
Suma’mur (1984) dan Priatna (1990) bahwa suhu tubuh manusia dipertahankan hampir menetap
(homeotermis) oleh suatu pengaturan suhu (thermoregulatory system). Suhu menetap ini dapat dipertahankan akibat keseimbangan di antara panas yang dihasilkan dari proses metabolisme tubuh dan pertukaran panas diantara tubuh dengan lingkungan sekitarnya. Kondisi lingkungan yang panas memerlukan upaya tambahan pada anggota tubuh untuk memelihara keseimbangan panas. Menurut Pulat (1992) bahwa reaksi fisiologis tubuh oleh karena peningkatan temperatur diantaranya adalah vasodilatasi, peningkatan denyut jantung, peningkatan temperatur kulit, penurunan suhu inti tubuh yang kemudian meningkat.
34