IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3. Pengukuran Laju Erosi
Hasil perhitungan erosi menggunakan persamaan USLE pada 3 jenis penggunaan lahan di hulu DAS Batang Pane dari 6 titik pengamatan pada lahan dengan kemiringan lereng antara 32,22% - 35,56%, diperoleh hasil untuk penggunaan lahan perkebunan kelapa sawit sebesar 27,78 ton/ha.thn dan 41,27 ton/ha.thn, penggunaan lahan perkebunan karet sebesar 24,98 ton/ha.thn dan 21,85 ton/ha.thn dan penggunaan lahan perkebunan cokelat sebesar 35,9 ton/ha.thn dan 30,7 ton/ha.thn, sedangkan hasil perhitungan erosi menggunakan metode petak kecil selama masa penelitian 4 bulan pada penggunaan lahan kelapa sawit sebesar 8,9ton/ha.thn dan 11,8 ton/ha.thn. Pada penggunaan lahan karet
sebesar11,2 ton/ha.thn dan 9,8 ton/ha.thn.Pada penggunaan lahan cokelat sebesar 7,1ton/ha.thn dan 10,5 ton/ha.thn(Lampiran 15).
Besarnya rataan erosi yang terjadi pada masing-masing penggunaan lahan di hulu DAS Batang Pane ini dapat saja terjadi karena kajian erosi ini dilakukan pada lahan dengan kemiringan lereng yang tergolong curam (26-40%) atau persisnya pada kemiringan lereng 32,22% - 35,56%. Namun demikian, erosi tertinggi yang terjadi pada lahan kelapa sawit di lokasi kajian ini sebesar 41,27 ton/ha.thn masih lebih kecil dibandingkan erosi yang terjadi pada perkebunan kelapa sawit PT. Karya Tanah Subur Kabupaten Aceh Barat yaitu sebesar 74,9 ton/ha.thn (Dastur Syah dkk, 2012).
Nilai erosi terbesar menggunakan metode petak kecilterjadi pada lahan perkebunan kelapa sawit (PKS2) sebesar 11,8ton/ha.thn (33,49× 10-4 ton/4 bln) dan erosi terendah terjadi pada lahan perkebunan cokelat (PC1) sebesar 7,1 ton/ha.thn (20,21 × 10-4 ton/4 bln), nilai erosi tersebut lebih rendah dibandingkan nilai erosi yang terjadi di Desa Sejahtera Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, yaitu sebesar 4,2 hingga 10,7 ton/ha.thn (Fadhil dkk, 2013). Nilai erosi yang dihasilkan menggunakan metode prediksi USLE dan metode petak kecil dapat dilihat pada Tabel 13 di bawah ini.
Tabel 13. Nilai Erosi Menggunakan Metode USLE dan Metode Petak Kecil No. Penggunaan Lahan Erosi Prediksi USLE Erosi Petak Kecil
(ton/ha.thn) (ton/ha.thn)
4.4. Laju Erosi Ditoleransikan (T)
Dari hasil perhitungan diperoleh laju erosi yang masih dapat ditoleransi (T) pada setiap penggunaan lahan di hulu DAS Batang Pane pada penggunaan lahan kelapa sawit, karet dan cokelat terdapat pada Tabel 14 di bawah ini.
Tabel 14. Nilai Laju Erosi yang Ditoleransi pada Lahan Kelapa Sawit, Karet dan Cokelat
Arsyad (2000) menyatakan batas toleransi adalah batas maksimal besarnya erosi yang masih diperkenankan terjadi pada suatu lahan. Besarnya batas toleransi erosi dipengaruhi oleh kedalaman tanah, batuan asal pembentuk tanah, iklim, dan permeabilitas tanah.
Nilai batas erosi toleransi terkecil pada lahan kelapa sawit sebesar 19,94 ton/ha.thn masih lebih rendah bila dibandingkan dengan nilai T pada lahan perkebunan kelapa sawit di hilir DAS Padang Kota Tebing Tinggi (24,98 – 26,52 ton/ha.thn). Begitu juga nilai T pada lahan karet dengan nilai terendah sebesar 20,12 ton/ha.thn masih lebih rendah dibandingkan nilai T di lahan karet pada hilir DAS Padang yaitu sebesar 23,75 - 28,00 ton/ha.thn. Nilai T terendah pada lahan tanaman cokelat sebesar 20,9 ton/ha.thn masih relatif rendah dibandingkan pada lahan tanaman cokelat di hilir DAS tersebut (24,75 – 26,00 ton/ha.thn) (Ardiansyah, 2013).
Pengelolaan lahan dan teknik konservasi tanah dan air dapat disesuaikan apabila mengetahui sejauh mana erosi tanah yang masih bisa ditoleransikan pada suatu lahan. Hal ini dilakukan untuk pemanfaatan lahan secara baik sehingga produktivitas lahan dapat terus dipertahankan dan laju kerusakannya dapat ditekan.
4.5. Tingkat Bahaya Erosi (TBE)
Tingkat bahaya erosi yang terjadi pada lahan perkebunan kelapa sawit, karet dan cokelat dapat dilihat pada Lampiran 15, berturut-turut menurut metode petak kecil dan metode USLE dengan perhitungan curah hujan maksimum 10 tahun.Tingkat bahaya erosi diukur dengan membandingkan erosi aktual dengan erosi yang ditoleransikan.Hal ini dilakukan untuk mengetahui tingkatan erosi yang terjadi sehingga pengelolaan lahan dan tindakan konservasi yang sesuai dapat dilakukan agar produktivitas lahan tetap tinggi. Nilai TBE menggunakan metode petak kecil disajikan pada Tabel 15berikut ini.
Tabel 15.Nilai Tingkat Bahaya Erosi (TBE) dengan Menggunakan Metode Petak Kecil
No. Penggunaan Lahan
Erosi (A) Erosi yang ditoleransi (T)
(TBE) Ket
Pada metode petak kecil diperoleh nilai erosi yang terjadi secara faktual di enam titik penelitian bila dibandingkan dengan erosi yang masih dapat ditoleransi menghasilkan tingkat bahaya erosi berkisar antara 0,34 – 0,56 dengan kriteria tingkat bahaya erosi relatif rendah.
Tabel 16. Nilai Tingkat Bahaya Erosi (TBE) Menggunakan Metode USLE No. Penggunaan
Lahan
Erosi (A) Erosi yang ditoleransi
(T) (TBE) Keterangan
Tingkat Bahaya Erosi prediksi memiliki kategori rendah sampai sedang (Tabel 16), pada pendugaan erosi menggunakan metode USLE dengan perhitungan curah hujan maksimum selama 10 tahun dengan TBE tertinggi terdapat pada lahan perkebunan kelapa sawit (PKS2) sebesar 2,1 dengan kategori TBE sedang, sedangkan TBE terendah terdapat pada lahan perkebunan karet (PK2) sebesar 0,8 dengan kategori TBE rendah.
Nilai TBE pada lahan perkebunan di hilir DAS Padang kota Tebing Tinggi pada perkebunan kelapa sawit sebesar 6,49 – 9,41 (kategori tinggi), pada perkebunan karet 11,42 – 15,76 (sangat tinggi) dan pada perkebunan cokelat 0,72 – 0,88 (rendah) (Ardiansyah, 2013). Bila dibandingkan dengan nilai TBE pada hilir DAS tersebut, nilai TBE lahan kelapa sawit dan karet di hulu DAS Batang Pane jauh lebih rendah dengan kriteria rendah hingga sedang, sedangkan nilai TBE pada lahan perkebunan cokelat sedikit lebih tinggi dibandingkan nilai TBE tanaman cokelat di hilir DAS Padang.
Tabel 17. Rataan Nilai Erosi pada Lahan Perkebunan Kelapa Sawit, Karet dan Cokelat
No. Penggunaan Lahan Erosi Prediksi USLE Erosi Petak Kecil (ton/ha.thn) (ton/ha.thn)
1 Kelapa Sawit 34,52 10,35
2 Karet 23,41 10,5
3 Cokelat 33,30 8,8
Dari Tabel 17 dapat disimpulkan bahwa jenis tanaman penutup lahan (C) sangat berpengaruh terhadap tingkat bahaya erosi yang terjadi, sesuai dengan analisis statistik yang dilakukan.Namun diambil kesimpulan jenis tanaman perkebunan manakah yang paling berpengaruh terhadap laju erosi yang terjadi.Oleh karena itu, dilakukan analisis Kruskal Wallis Test(Lampiran 17) untuk menentukan apakah ada perbedaan secara signifikan antara ketiga jenis tanaman terhadap tingkat bahaya erosi yang terjadi.
4.6. Analisis Perbandingan Besarnya Erosi yang Terjadi pada Ketiga Jenis