• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengukuran penampang memanjang dan melintang

Dalam dokumen Perencanaan Ducting Terpadu di BKT Lapor (Halaman 30-36)

1. Pengukuran penampang memanjang

a. Pengukuran penampang memanjang dilakukan sepanjang sumbu rencana jalan, dengan melihat daerah perubahan turunan dan tanjakan jalan tersebut

b. Peralatan yang dipakai untuk pengukuran penampang sama dengan yang dipakai untuk pengukuran titik kontrol vertikal (N12 atau yang mempunyai ketelitian sama).

2. Pengukuran penampang melintang

a. Pengukuran penampang melintang pada daerah yang datar dan landai dibuat setiap 50 m dan pasca daerah-daerah tikungan/pegunungan setiap 25 m

b. Lebar pengukuran penampang melintang 75 m ke kiri dan 75 m ke kanan as jalan. c. Pada daerah menikung, dari as jalan kearah luar 50 m dan ke arah dalam 75 m. d. Peralatan yang digunakan untuk pengukuran penampang melintang sama dengan

yang dipakai pengukuran situasi (theodolit)

Pengukuran pada perpotongan rencana trase jembatan dengan sungai atau jalan

 Pengukuran disekitar perpotongan sungai

- 50 m sebelum dan sesudah perpotongan dengan sungai dibuat potongan melintang jalan dengan interval 25 m;

- 100 m ke arah hulu dan hilir sungai dari as jalan dibuat potongan melintang sungai dengan interval 25 m.

 Pengukuran disekitar persimpangan jalan

- Pengukuran di persimpangan jalan sejauh 75 m kiri kanan jalan yang akan direncanakan;

- Pengukuran titik kontrol horisontal berupa poligon tertutup/terbuka yang terikat sempurna,

- Pengukuran titik kontrol vertikal dengan alat waterpass

- pengukuran penampang memanjang dibuat di sumbu jalan;

- Pengukuran melintang dibuat maksimal sepanjang 75 m ke arah kiri dan kanan jalan untuk setiap interval perubahan tanah yang ditentukan pada skala yang diperlukan

- Pengukuran situasi dilakukan dengan lengkap terutama bangunan-bangunan permanen yang ada disekitar persimpangan.

Pekerjaan Perhitungan dan Penggambaran

1. Dasar perhitungan pengamatan matahari harus mengacu pada tabel almanak matahari yang diterbitkan oleh Direktorat Topografi TNI-AD untuk tahun yang sedang berjalan dan harus dilakukan di lokasi pekerjaan.

2. Perhitungan koordinat poligon dibuat setiap seksi antara pengamatan matahari yang satu dengan pengamatan berikutnya.

3. Koreksi sudut tidak boleh diberikan atas dasar nilai rata-rata tapi berdasarkan panjang (kaki sudut yang lebih pendek mendapatkan koreksi yang lebih besar) dan harus dilakukan di lokasi pekerjaan.

4. Perhitungan sipat datar harus dilakukan hingga 4 desimal (ketelitian 0,5 mm), dan harus dilakukan kontrol perhitungan pada setiap lembar perhitungan dengan menjumlahkan beda tingginya.

5. Ketinggian detail dihitung berdasarkan ketinggian patok ukur yang dipakai sebagai titik pengukuran detail dan dihitung secara tachimetris.

6. Seluruh perhitungan sebaiknya menggunakan sistim komputerisasi.

7. Penggambaran titik-titik polygon haras didasarkan pada hasil perhitungan koordinat. Penggambaran titik-titik polygon tersebut tidak boleh secara grafis. 8. Gambar ukur yang berupa gambar situasi harus digambar pada kertas

milimeter dengan skala 1 : 1000 dan interval kontur 1 m. Tiap kontur '5 meteran ditebalkan.

9. Gambar hasil akhir berupa gambar situasi. Potongan memanjang dan potongan melintang digambar pada kertas kalkir standar.

10. Ketinggian titik detail harus tercantum dalam gambar ukur begitu pula semua keterangan-keterangan yang penting, seperti:

- Penggambaran poligon harus dibuat dengan skala 1 : 1.000 untuk jalan dan 1:500 untuk jembatan.

- Koordinat grid terluar (dari gambar) harus dicantumkan harga absis (x) dan ordinat (y)-nya.

- Setiap titik ikat (BM) agar dicantumkan nilai X, Y ,Z nya dan diberi tanda khusus.

Semua hasil perhitungan titik pengukuran detail, situasi, dan penampang melintang harus digambarkan pada gambar polygon, sehingga membentuk gambar situasi dengan interval

garis ketinggian (contour) 1 meter. Semua gambar topografi harus disajikan dengan menggunakan software komputer.

Pekerjaan Digitasi dan Komputer

Semua gambar topografi disajikan dengan menggunakan software komputer dan diplot/dikalkirkan setelah hasilnya dapat diterima oleh Pengguna jasa.

2.5.6. Inventarisasi Jalan dan Jembatan Eksisting

Survei kondisi jalan eksisting dilakukan untuk mendapatkan gambaran mengenai kondisi jalan eksisting yang meliputi kondisi perkerasan jalan, kapasitas jalan, keberadaan bangunan pelengkap jalan, kondisi drainase dan sebagainya. Survei kondisi jalan eksisting ini dilakukan dengan mengikuti pedoman survei kondisi jalan perkotaan yang diterbitkan oleh Dirjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum.

Pemeriksaan inventarisasi jalan dilakukan dengan mencatat kondisi rata-rata setiap 100 m yang tercatat selama pengamatan.

Data yang diperoleh/diperlukan dari pemeriksaan ini adalah : a. Lebar perkerasan yang ada dalam meter;

b. Jenis bahan perkerasan yang ada;

c. Kondisi daerah samping jalan serta sarana utilitas yang ada seperti saluran samping, gorong-gorong, bahu Jalan, kondisi drainase samping, jarak pagar bangunan/tebing ke pinggir perkerasan;

d. Lokasi awal dan akhir pemeriksaan harus jelas dan sesuai dengan lokasi yang ditentukan untuk jenis pemeriksaan lainnya;

e. Data yang diperoleh dicatat dalam format inventarisasi jalan (Highway Geometric Inventory) per 100 meter;

f. Membuat foto dokumentasi minimal 1 foto per 100 meter. Foto ditempel pada format standar dengan mencantumkan hal-hal yang diperlukan seperti nomor dan nama ruas jalan. Arah pengambilan foto dan tinggi petugas yang memegang nomor STA.

lnventarisasi jembatan bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai eksisting jembatan yang terdapat pada ruas jalan yang ditinjau.

Informasi yang harus diperoleh/diperlukan dari pemeriksaan ini adalah : a. Nama, lokasi, tipe dan kondisi jembatan;

b. Dimensi jembatan yang meliputi bentang, lebar, ruang bebas dan jenis lantai;

c. Perkiraan volume pekerjaan bila diperlukan pekerjaan perbaikan atau pemeliharaan; d. Data yang diperoleh dicatat dalam satu format yang standar;

e. Foto dokumentasi minimum 2 lembar untuk setiap jembatan yang diambil dari arah memanjang dan melintang. Foto ditempel pada format standar yang disetujui pengguna jasa.

2.5.7. Penggambaran

Pembuatan gambar rencana trase jalan selengkapnya dilakukan setelah Draft Perencanaan Teknis mendapat persetujuan dari pengguna jasa dengan mencantumkan koreksi-koreksi dan saran-saran yang diberikan oleh pengguna jasa, berikut posisi alternatif trase yang pernah diteliti.

2.5.8. Perhitungan Kuantitas

Perencana harus memuat perhitungan kuantitas pekerjaan secara rinci dengan ketentuan sebagai berikut :

1. Volume pekerjaan tanah dihitung dari gambar cross section setiap 25-100 meter; 2. Penyusunan mata pembayaran pekerjaan (pay item) harus sesuai dengan Spesifikasi

yang dipakai;

3. Perhitungan kuantitas pekerjaan harus dilakukan secara keseluruhan. Tabel perhitungan harus mencakup lokasi dan semua jenis mata pembayaran (pay item); 4. Kuantitas pekerjaan harus dihitung/sesuai dengan yang ada dalam gambar rencana.

2.5.9. Perkiraan Biaya

Perkiraan biaya konstruksi rinci harus disiapkan untuk setiap tahapan konstruksi yang direncanakan, sesuai item pekerjaan dan harga satuan yang disajikan secara terpadu. Kuantitas akan disertai dengan data pendukung perhitungannya, sedangkan harga satuan akan merujuk pada referensi harga satuan terbaru dan masih berlaku atau berpedoman pada survei harga pasar.

Metoda perhitungan harga satuan harus dibuat, analisa harga satuan menggunakan metoda dan acuan yang berdasarkan faktor-faktor/parameter: tenaga, material, peralatan, sosial, pajak, overhead, dan keuntungan yang berlaku di daerah setempat. Perkiraan biaya yang diperoleh dari analisa ini dibandingkan dengan proyek-proyek lainnya di daerah sekitar lokasi untuk mendapatkan keyakinan mengenai perkiraan harga yang telah dibuat.

Dalam dokumen Perencanaan Ducting Terpadu di BKT Lapor (Halaman 30-36)

Dokumen terkait