• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perencanaan Ducting Terpadu di BKT Lapor

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Perencanaan Ducting Terpadu di BKT Lapor"

Copied!
47
0
0

Teks penuh

(1)

Dinas Pekerjaan Umum

P

P

P

E

E

E

R

R

R

E

E

E

N

N

N

C

C

C

A

A

A

N

N

N

A

A

A

A

A

A

N

N

N

D

D

D

U

U

U

C

C

C

T

T

T

I

I

I

N

N

N

G

G

G

T

T

T

E

E

E

R

R

R

P

P

P

A

A

A

D

D

D

U

U

U

D

D

DI

I

I

B

B

BA

A

AN

N

NJ

J

J

I

IR

I

R

R

K

K

KA

A

A

N

N

N

A

A

A

L

L

L

T

T

TI

I

IM

M

M

U

UR

U

R

R

(2)

KATA PENGANTAR

Laporan ini merupakan Laporan Pendahuluan dari kegiatan Perencanaan Ducting

Terpadu di BKT. Laporan ini diharapkan dapat menggambarkan pandangan awal tim konsultan terhadap pelaksanaan pekerjaan. Secara garis besar laporan ini membahas mengenai :

Bab I Pendahuluan, bab ini menjelaskan mengenai latar belakang, maksud dan tujuan, sasaran, lokasi kegiatan, data dasar, standar teknis, lingkup kegiatan dan keluaran.

Bab II Metodologi, bab ini menjelaskan mengenai penjelasan umum mengenai kegiatan yang dilakukan dalam pekerjaan ini, lingkup studi, kerangka umum pelaksanaan kajian, pendekatan teknis, dan program kerja.

Bab III Organisasi Kerja, bab ini dijelaskan mengenai organisasi kerja dan jadual pelaporan dalam pelaksanaan pekerjaan ini.

Bab IV Survey Pendahuluan, pada bab ini dijelaskan mengenai lokasi perencanaan Ducting pada koridor BKT Cipinang dan Pulogebang.

Bab V Rencana Kerja, bab ini membahas mengenai jangka waktu dari penyelesaian kegiatan dan jadwal pekerjaan sebagai acuan waktu dalam melaksanakan kegiatan ini.

Laporan ini telah memuat semua hal yang disyaratkan dalam kerangka acuan, kami tetap mengharapkan saran serta masukan untuk perbaikan pada laporan selanjutnya.

Jakarta, Juli 2013

(3)

D A F T A R I S I

2.3. Kerangka Hukum Pelaksanaan Pekerjaan 2-2

2.4. Pendekatan Teknis 2-2

2.4.1. Umum 2-3

2.4.2. Persiapan Perencanaan 2-3

2.4.3. Survei Lapangan 2-3

2.4.4. Penyelidikan Tanah dan Perkerasan 2-4

2.4.5. Analisa Data Lapangan 2-4

2.4.6. Perencanaan Ducting Utilitas 2-5

2.4.7. Perencanaan Perbaikan Galian 2-10

2.5. Program Kerja 2-11

2.5.1. Umum 2-11

2.5.2. Persiapan 2-15

2.5.3. Pengumpulan Data Lapangan 2-15

2.5.4. Survei Pendahuluan 2-16

2.5.5. Survei Topografi 2-18

2.5.6. Inventarisasi Jalan dan Jembatan Eksisting 2-23

2.5.7. Penggambaran 2-24

2.5.8. Perhitungan Kuantitas 2-24

2.5.9. Perkiraan Biaya 2-25

BAB III ORGANISASI KERJA

3.1. Organisasi Kerja 3-1

(4)

BAB IV SURVEI PENDAHULUAN

4.1. Lokasi Perencanaan 4-1

4.2. Kondisi Eksisting BKT koridor Cipinang - Pulogebang 4-1

BAB V RENCANA KERJA

5.1. Jangka Waktu Penyelesaian Kegiatan 5-1

(5)

1

P E N D A H U L U A N

1.1. LATAR BELAKANG

Jaringan utilitas merupakan sarana penunjang dalam pemenuhan kebutuhan suatu kota,

antara lain berupa jaringan utilitas kabel dan pipa untuk keperluan listrik, air bersih, gas,

telekomunikasi dan lain-lain. Saat ini pelaksanaan pemasangan jaringan utilitas belum

terkoordinasi dengan baik dan sering terjadi bongkar pasang. Untuk menghindari

pekerjaan penggalian untuk penempatan jaringan utilitas, maka dibuat perencanaan

sarana penempatan jaringan utilitas yang permanen.

Kota DKI Jakarta kian dituntut menjadi sebuah kota modern sebagaimana kota-kota

megapolitan lainnya di dunia. Satu diantara indikator kota modern adalah tersedianya

pelayanan jaringan utilitas yang mudah, efisien dan maksimal dapat dijangkau oleh

publik. Dengan demikian DKI Jakarta harus dapat menyediakan infrastruktur jaringan

utilitas terpadu yang dapat digunakan oleh pemerintah maupun swasta. Untuk itu Dinas

Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta akan melakukan perencanaan jaringan utilitas

terpadu guna memenuhi kebutuhan masyarakat yang lebih baik.

Pembangunan sarana jaringan utilitas terpadu memang sudah lama direncanakan, tetapi

dalam pelaksanaannya masih terbentur masalah biaya investasi pembangunan yang

sangat besar, tetapi jika dilihat dari sisi pelayanan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta

terhadap masyarakat sangat besar manfaatnya. Dari sisi sosial akan banyak mengurangi

kemacetan lalu lintas dan membuat kenyamanan masyarakat pengguna jalan yang selama

ini sangat terganggu akibat pekerjaan penggalian untuk penempatan jaringan utilitas yang

(6)

sangat dibutuhkan. Oleh karena itu Dinas Pekerjaan Umum merencanakan pada lokasi

yang dianggap mempunyai skala prioritas untuk dibuatkan sarana jaringan utilitas

terpadu.

Adapun lokasi yang akan direncanakan yaitu pada lokasi Banjir Kanal Timur. Diharapkan

dengan adanya perencanaan pembangunan ducting utilitas tersebut Pemerintah Provinsi

DKI Jakarta sudah mempunyai perencanaan secara terpadu pada Jalur sepanjang Banjir

Kanal.

1.2. MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud dilaksanakan pekerjaan Perencanaan Ducting Terpadu di BKT adalah dalam

rangka menyiapkan dokumen lelang berupa gambar rencana, spesifikasi teknis, rencana

anggaran biaya dan tahapan kerja pada lokasi rencana pembangunan ducting utilitas.

Tujuan dari Perencanaan Ducting Terpadu di BKT ini adalah agar tersedianya dokumen

Perencanaan sebelum pelaksanaan fisik konstruksi dimulai (perencanaan x-1).

1.3. SASARAN

Sasaran Perencanaan Ducting Terpadu di BKT ini adalah sebagai berikut :

1. Tersedianya bentuk dan konsep desain konstruksi Ducting disesuaikan dengan fungsi

dan tujuan pembangunan Banjir Kanal Timur.

2. Membuat Metode pelaksanaan konstruksi dengan memperhatikan keberadaan sarana

dan prasarana yang telah ada.

3. Tersedianya gambar pra-rencana (Basic disain), Perkiraan anggaran biaya dan

spesifikasi teknis terhadap usulan rencana disain.

(7)

1.4. LOKASI KEGIATAN

Kegiatan Perencanaan Ducting Terpadu di BKT ini akan dilaksanakan di Banjir Kanal Timur

di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur yaitu segmen Cipinang sampai dengan Pulo

Gebang). Koridor lokasi perencanaan pada jarlur BKT ini digambarkan pada Gambar 1.1.

(8)

1.5. DATA DASAR

Kegiatan perencanaan teknis ini ditunjang dengan data dasar yang diuraikan sebagai

berikut :

1. Data kondisi jaringan utilitas eksisting di Banjir Kanal Timur.

2. Gambar As Built Drawing Banjir Kanal Timur.

3. Referensi dan data pendukung lainnya.

1.6. REFERENSI HUKUM

Peraturan perundangan yang menjadi referensi hukum dalam pelaksanaan kegiatan ini

antrara lain:

a. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.

b. Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

c. Undang-undang Nomor 29 tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah

Khusus Ibukota Jakarta Sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia.

d. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisa Dampak Lingkungan.

e. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2012 tentang Perubahan

Kedua Keputusan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa

Pemerintah beserta Penjelasannya.

f. Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 6 Tahun 1999 tentang Rencana Tata

Ruang Wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

g. Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 1999 tentang Jaringan

Utilitas.

h. Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 37 Tahun 2011

tentang Tata Cara Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)

Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

i. Keputusan Dewan Pengurus Nasional Ikatan Nasional Konsultan Indonesia Nomor :

01/TAP.DPN/I/2012 tentang Ketentuan Pedoman Standar Minimal Tahun 2011

(9)

Non-Personil (Direct Cost) Untuk Penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan

Harga Perkiraan Sendiri (HPS) Kegiatan Jasa Konsultansi.

1.7. LINGKUP KEGIATAN

Tahapan - tahapan kegiatan tercakup dalam kegiatan perencanaan teknis ini antara lain

adalah :

1. Persiapan perencanaan

Pencatatan data-data kondisi eksisting (inventarisasi data-pengolahan data survey) untuk

mencatat semua kondisi awal lokasi yang direncanakan baik bangunan, fasilitas yang ada,

patok STA/BKT, bangunan umum, drainase, pohon, dan lain-lain yang akan terkena

pekerjaan ducting utilitas tersebut. Konsultan harus berkoordinasi dengan pihak Balai

Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane Direktorat Jenderal Sumber Daya Air

Kementerian Pekerjaan Umum untuk untuk memperoleh data-data kondisi eksisting

tersebut.

Persiapan desain ini bertujuan untuk :

a. Mempersiapkan dan mengumpulkan data awal.

b. Menetapkan desain sementara dari data awal untuk dipakai sebagai panduan survei

pendahuluan.

c. Menetapkan prioritas ducting utilitas yang akan disurvei.

(10)

4. Tahap Penyusunan Rencana Detail

a. Membuat gambar situasi dan profil;

b. Membuat gambar detail konstruksi ducting utilitas;

c. Membuat rincian volume pekerjaan dan rencana anggaran biaya (RAB)/Engineer’s Estimate(EE).

5. Tahap Akhir

a. Menyusun dokumen perencanaan;

b. Menyusun dokumen pelelangan;

c. Bahan presentasi dilengkapi dengan gambar animasi ducting utilitas.

1.8. KELUARAN

Keluaran atau hasil yang diinginkan dari kegiatan perencanaan teknis ducting utilitas

terpadu di BKT ini mencakup hal-hal sebagai berikut :

a. Peta situasi lajur jaringan utilitas eksisting dan rencana penempatan ducting utilitas

yang akan dilaksanakan (potongan memanjang dan melintang), termasuk gambar

jalan inspeksi dan saluran gendong yang berada di sisi kanan kiri Kanal Banjir Timur.

b. Perhitungan struktur konstruksi ducting utilitas.

c. DED ducting utilitas yang akan direncanakan.

(11)

2

M E T O D O L O G I

2.1. UMUM

Penyusunan metodologi ini merupakan langkah yang dilakukan oleh tim konsultan sebagai acuan dalam melakukan kegiatan perencanaan ducting utilitas ini. Langkah awal yang ditempuh adalah penelaahan konteks studi yang dimaksudkan agar mendapatkan pemahaman mengenai tujuan dilaksanakannya kajian. Selanjutnya dilanjutkan dengan penjabaran mengenai konteks studi yang kemudian akan disusun mengenai tahapan pekerjaan yang sesuai dengan rencana kerja dan ruang lingkup kajian.

Sebagai dasar dalam melaksanakan kajian, dijabarkan pendekatan dan metodologi teknis termasuk didalamnya dasar teori dan konsep perencanaan ducting utilitas di BKT.

2.2. LINGKUP STUDI

Perencanaan ducting utilitas di BKT ini merupakan salah satu bagian dari implementasi program pengembangan jaringan prasarana umum yang merupakan wewenang dan tanggung jawab Pemda Provinsi DKI Jakarta. Pengembangan prasarana ducting di BKT ini merupakan salah satu bentuk realisasi program pengembangan jaringan utilitas secara terpadu di DKI.

(12)

Sejalan dengan ruang lingkup studi, hasil keluaran kegiatan akan dapat menjadi acuan untuk melakukan pelelangan dan pelaksanaan konstruksi dusting utilitas di BKT koridor Cipinang – Pulogebang. Dengan demikian, pelaksanaan kegiatan ini haruslah dilakukan dengan baik dengan memaksimalkan informasi dan data dari berbagai sumber dan pihak yang terkait.

2.3. KERANGKA HUKUM PELAKSANAAN PEKERJAAN

Peraturan dan Ketentuan yang harus dijadikan landasan untuk pelaksanaan kegiatan ini adalah:

a. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. b. Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

c. Undang-undang Nomor 29 tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia.

d. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisa Dampak Lingkungan. e. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2012 tentang Perubahan

Kedua Keputusan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah beserta Penjelasannya.

f. Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 6 Tahun 1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

g. Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 1999 tentang Jaringan Utilitas.

h. Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 37 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

(13)

2.4. PENDEKATAN TEKNIS

2.4.1. Umum

Metodologi teknis yang dikembangkan dalam dokumen teknis ini didasarkan pada lingkup kajian yang dijabarkan pada kerangka acuan kerja. Lingkup kajian akan meliputi pekerjaan:

Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan survei instansional ke instansi-instansi terkait seperti Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Tata Ruang, pihak Kecamatan dan lainnya. Selain itu, juga dilakukan survei kepada pihak-pihak terkait lainnya Badan Pengelola Banjir Kanal Timur. Secara umum, survei sekunder difokuskan untuk mendapatkan data dan informasi sebagai berikut:

 Data kondisi jaringan utilitas eksisting di Banjir Kanal Timur.

 Gambar As Built Drawing Banjir Kanal Timur.

 Referensi dan data pendukung lainnya.

2.4.3. Survei Lapangan

2.4.3.1. Survei Pendahuluan

Survei pendahuluan dimaksudkan untuk mendapatkan data dan informasi yang meliputi:

 Peta situasi (foto udara) terkini dengan skala 1:2000;

 Foto detail kondisi teknis di lapangan berikut analisa dan hasil pemetaan wilayah perencanaan BKT;

 Data rumija, geometrik dan alinyemen jalan di BKT koridor Cipinang – Pulogebang.

2.4.3.2. Survei Topografi

(14)

ditetapkan yang akan digunakan sebagai dasar untuk penyiapan peta topografi. Pelaksanaan survei topografi ini dilakukan dengan kaidah pengukuran yang umum digunakan pada perencanaan jaringan jalan dan utilitas

Hasil pengukuran dan pemrosesan gambar wajib menampilkan informasi terkini terkait bangunan, jalan, jembatan, saluran dan utilitas lainnya. Penggambaran ini akan disesuaikan juga dengan skala penggambaran yang umum digunakan dalam perencananan jalan seperti ukuran kertas, skala, gambaran situasi, potongan memanjang dan melintang dan sebagainya.

2.4.4. Penyelidikan Tanah dan Perkerasan

Survei penyelidikan tanah dalam perencanaan ducting utilitas ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran mengenai kondisi lapisan tanah dimana duciting utilitas akan ditempatkan. Hasil penyelidikan tanah ini akan digunakan sebagai dasatr untuk perencanaan galian dan timbunan untuk ducting utilitas yang akan dibangun sepanjang kordior BKT dari Cipinang sampai dengan Pulogebang. Survei penyelidikan tanah ini dilakukan dengan tes pit pada beberapa lokasi untuk mendapatkan gambaran mengenai karakteristik lapisan tanah.

Penyelidikan mengenai perkerasan jalan dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran dan informasi mengenai kondisi perkerasan jalan eksisting maupun yang direncanakan. Hal ini berkaitan dengan perencanaan ducting utilitas yang direncanakan melintang jalan. Pemasangan ducting dibawah perkerasan jalan harus disesuaikan dengan perkerasan jalan sehingga dihindari potensi kerusakan perkerasan jalan pada titik tersebut.

2.4.5. Analisa Data Lapangan

Setelah dilakukan pengumpulan data (primer dan sekunder), maka langkah selanjutnya dalam pekerjaan perencanaan teknis jalan ini adalah analisa yang didasarkan pada data yang ada yang didahului dengan kompilasi, rekapitulasi dan pengolahan data. Kegiatan analisa yang tercakup dalam tahapan analisa data lapangan ini antara lain,

(15)

2. Analisa Data Hasil lnventarisasi Jalan dan Jembatan; 3. Analisa Data Penyeidikan Tanah dan Perkerasan.

2.4.5.1. Analisa Data Topografi

Analisa data topografi yang diperlukan meliputi :

1. Situasi di sekitar trase jalan di koridor BKT Ciping - Pulogebang; 2. Daerah galian dan timbunan;

3. Kontur dengan interval sesuai kebutuhan.

2.4.5.2. Analisa Data Hasil lnventarisasi Jalan

Analisa data hasil inventarisasi jalan meliputi :

1. Perkerasan : lebar, jenis bahan yang ada, kondisi 2. Median : lebar, jenis konstruksi, lokasi/station, kondisi; 3. Trotoar : lebar, jenis konstruksi, kerb, lokasi/station, kondisi;

4. Drainase jalan : jenis konstruksi saluran samping jalan, dimensi penampang basah dan strukturnya, arah aliran, lokasi/station, kondisi;

5. Gorong-gorong, box culvert : jenis konstruksi, dimensi penampang basah dan strukturnya, arah aliran, lokasi/station, kondisi;

6. Utilitas tiang listrik, Telkom, PDAM : lokasi/station, khususnya pengaruhnya terhadap perencanaan jalan, apakah perlu digeser atau tetap pada tempatnya;

7. Jarak pagar bangunan ke sisi jalan/BKT; 8. Jarak tebing ke sisi jalan/BKT.

2.4.5.3. Analisa Data Penyelidikan Tanah dan Perkerasan

Analisa data penyelidikan tanah dan perkerasan meliputi : 1. Klasifikasi jenis tanah;

2. Lokasi galian dan timbunan; 3. Kajian penurunan tanah;

(16)

2.4.6. Perencanaan Ducting Utilitas

2.4.6.1. Definisi dan Pemasangan

Ducting didefinisikan sebagai tempat yang khusus disediakan untuk pemasangan utilitas. Utilitas yang dipasang tersebut seperti kabel listrik, kabel telepon/internet, pipa air dan sebagainya. Pembangunan ducting dimaksudkan untuk memudahkan pemasangan utilitas seperti listrik, air, telekomunikasi dan sebagainya serta kemudahan dalam pemeliharaan.

Secara umum, pemasangan ducting dibedakan atas 3 lokasi pemasangan, yaitu diatas lantai (secara melayang di bawah plafond/lantai), diatas tanah (ditempatkan langsung diatas tanah) dan ditanam dibawah tanah. Pemasangan ducting dengan melayang pada umumnya dilakukan di bangunan/gedung bertingkat, sementara pemasangan di permukaan tanah pada umumnya pada kawasan yang memilki jaringan utilitas cukup banyak dan kompleks seperti pelabuhan. Sedangkan ducting utilitas dibawah tanah pada umumnya dibangun di sepanjang jaringan jalan, di kawasan komersial, perumahan dan sebagainya. Pada dasarnya, setiap pola pemasangan mempunyai keunggulan dan kekurangan masing-masing tergantung, tergantung pada pola penggunaan dan pemeliharaan utilitas yang dipasang dalam ducting.

(17)

Gambar 2.2 Contoh Ducting di Permukaan Tanah

2.4.6.2. Ducting di Jaringan Jalan

Pemasangan ducting di sisi jalan raya dimaksudkan sebagai tempat penyimpanan jaringan utilitas seperti kabel listrik, kabel telekomunikasi, pipa gas dan sebagainya. Penempatan ducting di jaringan jalan ini pada umumnya di buat di sisi jalan yang ditempatkan di samping saluran drainase dan/atau di bawah trotoar.

(18)
(19)

2.4.6.3. Konstruksi Pemasangan Sistem Duct

Sistem ducting pada pemasangan kabel dapat dilakukan dengan dua cara yaitu ducting menggunakan boks beton berbentuk kotak serta ducting berbentuk pipa yang dicor beton. Untuk ducting dengan menggunakan boks beton pada umumnya menggunakan beton pracetak dengan ukuran yang disesuaikan dengan kebutuhan. Sedangkan ducting yang dicor beton pada umumnya memakai pipa PVC. jika lebih dari satu pipa yang digunakan, maka antara kedua pipa tersebut diberikan sekat dan pengaman.

2.4.6.4. Pemasangan Ducting

A. Penempatan/pematokan trace jaringan kabel duct

Pengukuran dan penempatan/pematokan trace jaringan kabel duct harus sesuai dengan gambar desain yang ada. Pengukuran trace jaringan kabel duct ini dilakukan dengan menggunakan alat ukur optik dan mistar/rollmeter pada tempat tertentu atau setiap jarak tertentu (25-30 m). Pada trace jaringan kabel duct, harus ditanam tanda patok kayu sebagai trace. Pada pengukuran ini ditentukan pula tempat-tempat manhole, atau belokan trace jaringan kabel duct dan lain-lain.

Dalam pelaksanaan pekerjaan ini sebelumnya harus seijin dari pihak PEMDA setempat.

B. Penggalian

Tempat penggalian tanah diusahakan terbatas pada lokasi yang tepat dari trace/jalur jaringan duct kabel seperti yang direncakan dalam gambar desain. Lebar galian diusahakan selebar duct kabel dengan memperhtiungkan yang diijinkan oleh PEMDA setempat. Pada tanah yang lunak/lembek atau tanah basah, bila dipandang perlu dapat dibuat cetakan (bekesting atau forming) yang dibuat dari papan kayu, agar profil penampang duct kabel yang dibuat sesuai dengan yang direncanakan.

(20)

telepon) dan saluran-saluran lain yang sudah ada sebelumnya. Di lokasi pekerjaan galian harus dipasang rambu-rambu lalu lintas dengan jumlah cukup untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Tanah bekas galian dan batu yang mungkin masih tertinggal di alur galian harus dibuang, sehingga alur galian betul-betul bersih.

C. Tikungan Ducting

Manhole dibuat sesederhana mungkin, dengan keterangan sejuah mungkin manhole tersebut hanya mempunyai 2 jalan/jurusan, sehingga apabila ada pencabangan ke-2 atau lebih arah/jurusan akan diatur dengan tikungan boks ducting.

D. Kemiringan Ducting

Dalam sistem ducting, rute harus didesain dan dibangun sedemikian rupa sehingga tidak ada bagian route ducting diantara mainhole yang melengkung/rendah.

Bila hal tersebut terjadi, maka pada bagian route duct yang melengkungakan berkumpul air kotor, lumpur, kotoran-kotoran lainnya pada bagian tersebut. Lama kelamaan kotoran/Lumpur tersebut akan mengeras dan menyumbat pipa PVC, sehingga nantinya menyulitkan penarikan kabel. Sumbatan pada pipa PVC tersebut di atas merupakan salah

satu dari istilah “duct block” yang dikenal dalam pengoperasian system duct. Agar kondisi demikian dapat dihindarkan, maka route duct harus dibuat dengan kemiringan tertentu, dengan tujuan agar air, kotoran dan lumpur tidak tergenang dalam pipa PVC, melainkan akan mengalir ke dalam Manhole.

2.4.7. Perencanaan Perbaikan Galian

Pekerjaan perbaikan galian ini mencakup penggalian dan penanganan hasil galian pada lokasi pembangunan/pemasangan ducting utilitas. Perbaikan galian dimaksudkan untuk menjaga kondisi tanah dasar tempat penempatan ducting utilitas.

(21)

untuk galian bahan konstruksi dan pembuangan sisa bahan galian, untuk pengupasan dan pembuangan bahan perkerasan beraspal dan /atau perkerasan beton pada perkerasan lama, dan umumnya untuk pembentukan profil dan penampang yang sesuai dengan kondisi awal sebelum digali. Perencanaan perbaikan galian ini harus memenuhi garis, ketinggian dan penampang melintang jalan yang dipasangkan ducting utilitas.

Untuk pekerjaan timbunan pada lokasi bekas galian, dilakukan dengan timbunan biasa harus terdiri dari bahan galian tanah dengan bahan yang memenuhi syarat untuk digunakan dalam pekerjaan permanen. Bahan yang dipilih sebaiknya tidak termasuk tanah yang berplastisitas tinggi, yang diklasifikasikan sebagai A-7-6 menurut SNI-03-6797-2002 atau sebagai CH menurut "Unified atau Casagrande Soil Classification System". Bila penggunaan tanah yang berplastisitas tinggi tidak dapat dihindarkan, bahan tersebut harus digunakan hanya pada bagian dasar dari timbunan atau pada penimbunan kembali yang tidak memerlukan daya dukung atau kekuatan geser yang tinggi. Tanah plastis seperti itu sama sekali tidak boleh digunakan pada 30 cm lapisan langsung di bawah bagian dasar perkerasan atau bahu jalan atau tanah dasar bahu jalan. Sebagai tambahan, timbunan untuk lapisan ini bila diuji dengan SNI 03-1744-1989, harus memiliki nilai CBR tidak kurang dari karakteristik daya dukung tanah dasar yang diambil untuk rancangan dan ditunjukkan dalam gambar atau tidak kurang dari 6% jika tidak disebutkan lain (CBR setelah perendaman 4 hari bila dipadatkan 100 % kepadatan kering maksimum (MDD) seperti yang ditentukan oleh SNI 03-1742-1989).

Tanah sangat expansive yang memiliki nilai aktif lebih besar dari 1,25, atau derajat pengembangan yang diklasifikasikan oleh AASHTO T258 sebagai "very high" atau "extra high" tidak boleh digunakan sebagai bahan timbunan. Nilai aktif adalah perbandingan antara Indeks Plastisitas / PI - (SNI 1966-1989) dan persentase kadar lempung (SNI 03-3422-1994).

(22)

 Tanah yang mengadung organik seperti jenis tanah OL, OH dan Pt dalam sistem USCS serta tanah yang mengandung daun – daunan, rumput-rumputan, akar, dan sampah.

 Tanah dengan kadar air alamiah sangat tinggi yang tidak praktis dikeringkan untuk memenuhi toleransi kadar air pada pemadatan (>OMC+1%).

 Tanah yang mempunyai sifat kembang susut tinggi dan sangat tinggi dalam klasifikasi Van Der Merwe dengan ciri ciri adanya retak memanjang sejajar tepi perkerasan jalan.

2.5. PROGRAM KERJA

2.5.1. Umum

Sejalan dengan pendekatan teknis yang dijabarkan diatas, dalam pelaksanaan pekerjaan nantinya, diagram alur ini akan menjadi pegangan bagi konsultan maupun pemberi kerja dalam proses pelaksanaan pekerjaan. Dengan alokasi waktu yang terbatas, hanya 4 bulan kalender, maka proses pelaksanaan pekerjaan harus dibuat seoptimal mungkin.

Secara umum, tahapan dalam diagram alur pekerjaan terdiri dari 4 tahap yaitu: 1. tahap persiapan;

2. tahap pengumpulan data; 3. tahap analisa dan perencanaan 4. tahap penyempurnaan.

Masing-masing tahapan ini akan disesuaikan dengan kerangka jangka waktu yang dialokasikan serta juga dengan tahapan penyerahan laporan kepada pihak pemberi kerja. Lingkup pekerjaan pada masing-masing tahap pekerjaan diatas dijabarkan sebagai berikut.

a. Tahap Persiapan

(23)

metodologi perencanaan yang meliputi penyusunan konsep dan metoda perencanaan. Hasil tahap persiapan ini disampaikan pada Laporan Pendahuluan.

b. Tahap Pengumpulan Data

Pada tahapan ini dilakukan kegiatan pengumpulan data sekunder dan data primer. Data sekunder meliputi: data jalan eksisting (bila telah ada jalan eksisting), data curah hujan, data geoteknik/geologi, dan data teknis lainnya, serta ketentuan teknis lainnya yang terkait dengan detail perencanaan jalan dan jembatan. Sedangkan survei primer yang dilakukan antara lain survei topografi dan situasi, survei penyelidikan tanah umum. Selain itu juga dilakukan survei lalu lintas sebagai data masukan untuk pemodelan transportasi. Hasil tahap pengumpulan data ini disampaikan pada Laporan Antara.

c. Tahap Analisa dan Perencanaan

Tahap analisa meliputi pengolahan lanjut data sekunder serta data primer dari lapangan. Tahap ini difokuskan pada perencanaan ducting utilitas yang meliputi perencanaan lokasi pemasangan, bentuk dan ukuran ducting, tata letak utilitas dalam ducting serta metode pelaksanaan penutupan galian setelah dilakukan pemasangan ducting.

Keseluruhan perencanaan pembuatan ducting utilitas ini digambarkan dalam gambar desain serta dilengkapi dengan rencana anggaran biaya.

d. Tahap Penyempurnaan

Pada tahap ini dilakukan perbaikan dan penyempurnaan dari tahap sebelumnya berdasarkan hasil dari diskusi dan pembahasan yang dilakukan bersama pemberi kerja. Selain laporan akhir, sebagai dokumentasi seluruh kegiatan, dokumen-dokumen lain seperti yang disyaratkan dalam kerangka acuan juga dihasilkan pada akhir tahap ini.

(24)

Gambar 2.4 Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan

Pendahuluan Pengumpulan Data Analisis Awal Penyempurnaan

(25)

Persiapan Survei

Pada tahap persiapan ini, sudah mulai dilakukan identifikasi jenis survei primer dan sekunder yang akan dilakukan di wilayah studi. Persiapan survei yang dilakukan disini meliputi:

2.5.2. Persiapan

Di dalam tahap persiapan ini dilakukan beberapa kegiatan sebagai awal (inisialisasi) dari seluruh rangkaian kegiatan yang direncanakan. Hasil tahap persiapan ini akan sangat mempengaruhi proses yang dilakukan dalam tahap-tahap selanjutnya.

Secara umum terdapat 4 kegiatan utama di dalam tahap persiapan ini, yakni: 1. Mobilisasi tenaga kerja;

2. Pengenalan lokasi;

Bertujuan untuk memperoleh gambaran/data awal sebagai bagian penting bahan kajian kelayakan teknis dan untuk bahan pekerjaan selanjutnya. Kegiatan ini diharapkan mampu memberikan saran dan bahan pertimbangan terhadap kegiatan/survei lanjutan.

3. Pemantapan metodologi, maksud dari kegiatan ini adalah :

a. Merencanakan secara lebih detail tahap-tahap pelaksanaan kegiatan berikutnya, untuk mengefisienkan penggunaan waktu dan sumber daya.

b. Menetapkan metoda dan analisa yang akan digunakan, hal ini penting untuk ditetapkan karena akan mempengaruhi kebutuhan data, penyediaan waktu analisa, dan kualitas hasil penelitian secara keseluruhan.

4. Penyusunan rencana kerja.

Melakukan penyusunan rencana kerja berdasarkan pada lingkup pekerjaan dengan memperhatikan alokasi waktu dan sumber daya yang ada.

2.5.3. Pengumpulan Data Lapangan

Kegiatan pengumpulan data lapangan yang akan dilakukan dalam perencanaan teknis jalan ini meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut,

(26)

3. Inventarisasi Tata Guna Lahan, Jalan dan Jembatan (bila ada); 4. Survei Geoteknik secara umum.

2.5.4. Survei Pendahuluan

Kegiatan yang perlu dilakukan sebelum pelaksanaan survei pendahuluan ini adalah pengumpulan data sekunder yang bertujuan untuk :

1. Mempersiapkan dan mengumpulkan data awal;

2. Menetapkan desain sementara dari data awal untuk dipakai sebagai panduan survei pendahuluan.

3. Mendapatkan gambaran awal kondisi di lapangan,diantaranya:

a. Foto situasi dan lokasi terkait fungsi, kondisi dan tata guna lahan di sepanjang koridor BKT Cipinang - Pulogebang;

b. Foto situasi dan lokasi terkait dengan utilitas yang ada di sepanjang sepanjang koridor BKT Cipinang - Pulogebang.

4. Foto lokasi dan hasil pemetaan jalan inspeksi dan jalan di sisi BKT;

Survei pendahuluan meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

1. Menentukan awal dan akhir proyek yang tepat untuk mendapatkan overlaping yang baik dan memenuhi syarat geometri. Penyedia jasa wajib mengambil data sejauh 200 meter sebelum dan sesudah titik awal dan akhir pekerjaan.

2. Mengidentifikasi medan secara stationing/urutan jarak dengan mengelompokkan kondisi : medan datar, perbukitan, pegunungan/bukit curam dalam bentuk matriks. 3. Mengidentifikasi/memperkirakan secara tepat penerapan desain ducting sesuai

dengan geometri (alinyemen horisontal dan vertikal) jalan di sepanjang koridor BKT Cipinang – Pulogebang.

(27)

A. Survei Pendahuluan Topografi

Kegiatan yang dilakukan oleh ahli geodesi pada survei pendahuluan ini antara lain:

1. Menentukan awal dan akhir pengukuran serta pemasangan patok beton Benchmark (BM) diawal dan akhir proyek.

2. Mengamati kondisi topografi.

3. Mencatat daerah-daerah yang akan dilakukan pengukuran khusus, morfologi dan lokasi yang perlu dilakukan perpanjangan koridor.

4. Membuat rencana kerja untuk survei detail pengukuran.

5. Menyarankan posisi patok Benchmark pada lokasi/titik yang akan dijadikan referensi.

B. Survei Pendahuluan Geologi dan Geoteknik

Kegiatan yang dilakukan pada survei pendahuluan geologi dan geoteknik adalah:

1. Mengamati secara visual kondisi lapangan yang berkaitan dengan karakteristik dan sifat tanah dan batuan.

2. Mengamati perkiraan lokasi sumber material (quarry) sepanjang lokasi pekerjaan. 3. Memberikan rekomendasi pada ahli jalan raya berkaitan dengan rencana trase jalan

dan rencana jembatan yang akan dipilih.

4. Melakukan pemotretan pada lokasi-lokasi khusus (rawan longsor, dll). 5. Membuat rencana kerja untuk tim survei detail.

C. Survei Pendahuluan Bangunan Pelengkap Jalan

Hal-hal yang dilakukan dalam survei pendahuluan untuk bangunan pelengkap jalan ini antara lain:

1. Untuk perencanaan jalan baru perlu dicatat data lokasi/Sta, perkiraan lokasinya apa sudah sesuai dengan geometrik dengan rencana jenis konstruksi, dimensi yang diperlukan.

(28)

3. Untuk lokasi yang ada aliran airnya perlu dicatat tinggi muka air normal, muka air banjir dan muka air banjir tertinggi yang pernah terjadi serta adanya tanda-tanda/gejala-gejala erosi yang dilengkapi dengan sketsa lokasi, morfologi serta karakter aliran sungai dan dilengkapi foto-foto jika diperlukan.

4. Mendiskusikan dengan tim geometrik, geologi, amdal dan hidrologi apakah data-data dan usul penempatan lokasi serta usul perencanaan/penanganan sudah sesuai secara teknis.

5. Membuat sketsa dan kalau perlu foto-foto beserta catatan-catatan khusus serta saran-saran yang sangat berguna dijadikan panduan dalam pengambilan data untuk perencanaan pada waktu melakukan survei detail nanti dan pengaruhnya terhadap keamanan/ kestabilan.

2.5.5. Survei Topografi

Tujuan pengukuran topografi adalah mengumpulkan data koordinat dan ketinggian permukaan tanah sepanjang rencana trase jalan di dalam koridor yang ditetapkan yang akan digunakan sebagai dasar untuk penyiapan peta topografi. Peta topografi dengan skala 1: 1000 akan digunakan untuk perencanaan geometrik jalan dan skala 1:500 untuk perencanaan jembatan dan penanggulangan longsoran.

Pekerjaan pengukuran topografi untuk perencanaan jalan meliputi bagian pekerjaan : 1. Pekerjaan pengukuran yang terdiri dari:

a. Pengukuran titik kontrol horisontal dan vertikal b. pengukuran situasi

c. Pengukuran penampang memanjang dan melintang d. pengukuran-pengukuran khusus

e. Pemasangan patok;

(29)

Pekerjaan pengukuran topografi sedapat mungkin dilakukan sepanjang rencana sumbu jalan (mengikuti koridor BKT) dengan mengadakan pengukuran-pengukuran tambahan pada daerah persilangan dengan sungai dan jalan lain sehingga memungkinkan diperoleh sumbu jalan sesuai dengan standar yang ditentukan. Sebelum melakukan pengukuran harus dilakukan pemeriksaan dan kalibrasi alat yang baik dan sesuai dengan ketelitian alat serta dibuatkan daftar hasil pemeriksaan dan kalibrasi alat tersebut.

A. Pengukuran titik kontrol horisontal

1. Pengukuran titik kontrol horizontal dilakukan dengan sistem poligon, dan semua titik ikat (BM) harus dijadikan sebagai titik poligon.

2. Sisi poligon atau jarak antar titik poligon maksimum 100 meter, diukur dengan meteran, atau dengan alat ukur secara optis ataupun elektronis.

3. Sudut-sudut poligon diukur dengan alat ukur theodolit dengan ketelitian baca dalam detik.

4. Ketelitian untuk poligon adalah sebagai berikut

a. Kesalahan sudut yang diperbolehkan adalah 10" kali akar jumlah titik polygon

(10”√n)

b. Kesalahan azimuth pengontrol tidak lebih dari 5" (lima detik)

c. Pengamatan matahari dilakukan pada titik awal proyek dan pada setiap jarak 5 km serta pada titik akhir pengukuran

d. Setiap pengamatan matahari dilakukan dalam empat seri rangkap (8 biasa dan 8 luar biasa) dengan interval waktu yang sama

e. Apabila pengamatan matahari tidak bisa dilakukan, disarankan menggunakan alat GPS Portable (Global Positioning System).

B. Pengukuran titik kontrol vertikal

1. Jenis alat yang dipergunakan untuk pengukuran ketinggian adalah waterpass orde IV; 2. Untuk pengukuran ketinggian dilakukan dengan double stand dengan perbedaan

(30)

3. Batas ketelitian tidak boleh lebih besar dari 10 D, dimana D adalah panjang

1. Pengukuran situasi dilakukan dengan sistem tachymetri; 2. Ketelitian minimum alat yang dipakai adalah 20";

3. Pengukuran situasi dilakukan pada titik pengukuran penampang melintang;

4. Pengaturan situasi daerah sepanjang rencana jalan harus mencakup semua keterangan-keterangan yang ada di daerah sepanjang rencana jalan tersebut;

5. Pada awal proyek dilakukan pengukuran situasi sekitarnya yang meliputi geometrik jalan yang sudah ada;

6. Lebar pengukuran 25 m ke kiri dan 25 m ke kanan dari rencana as jalan.

7. Tempat – tempat sumber material jalan yang terdapat disekitar jalur perlu diberi legenda/keterangan diatas peta dan difoto (jenis dan lokasi material)

D. Pengukuran penampang memanjang dan melintang

1. Pengukuran penampang memanjang

a. Pengukuran penampang memanjang dilakukan sepanjang sumbu rencana jalan, dengan melihat daerah perubahan turunan dan tanjakan jalan tersebut

(31)

2. Pengukuran penampang melintang

a. Pengukuran penampang melintang pada daerah yang datar dan landai dibuat setiap 50 m dan pasca daerah-daerah tikungan/pegunungan setiap 25 m

b. Lebar pengukuran penampang melintang 75 m ke kiri dan 75 m ke kanan as jalan. c. Pada daerah menikung, dari as jalan kearah luar 50 m dan ke arah dalam 75 m. d. Peralatan yang digunakan untuk pengukuran penampang melintang sama dengan

yang dipakai pengukuran situasi (theodolit)

Pengukuran pada perpotongan rencana trase jembatan dengan sungai atau jalan

 Pengukuran disekitar perpotongan sungai

- 50 m sebelum dan sesudah perpotongan dengan sungai dibuat potongan

melintang jalan dengan interval 25 m;

- 100 m ke arah hulu dan hilir sungai dari as jalan dibuat potongan melintang sungai

dengan interval 25 m.

 Pengukuran disekitar persimpangan jalan

- Pengukuran di persimpangan jalan sejauh 75 m kiri kanan jalan yang akan

direncanakan;

- Pengukuran titik kontrol horisontal berupa poligon tertutup/terbuka yang terikat

sempurna,

- Pengukuran titik kontrol vertikal dengan alat waterpass - pengukuran penampang memanjang dibuat di sumbu jalan;

- Pengukuran melintang dibuat maksimal sepanjang 75 m ke arah kiri dan kanan

jalan untuk setiap interval perubahan tanah yang ditentukan pada skala yang diperlukan

- Pengukuran situasi dilakukan dengan lengkap terutama bangunan-bangunan

permanen yang ada disekitar persimpangan.

Pekerjaan Perhitungan dan Penggambaran

(32)

2. Perhitungan koordinat poligon dibuat setiap seksi antara pengamatan matahari yang satu dengan pengamatan berikutnya.

3. Koreksi sudut tidak boleh diberikan atas dasar nilai rata-rata tapi berdasarkan panjang (kaki sudut yang lebih pendek mendapatkan koreksi yang lebih besar) dan harus dilakukan di lokasi pekerjaan.

4. Perhitungan sipat datar harus dilakukan hingga 4 desimal (ketelitian 0,5 mm), dan harus dilakukan kontrol perhitungan pada setiap lembar perhitungan dengan menjumlahkan beda tingginya.

5. Ketinggian detail dihitung berdasarkan ketinggian patok ukur yang dipakai sebagai titik pengukuran detail dan dihitung secara tachimetris.

6. Seluruh perhitungan sebaiknya menggunakan sistim komputerisasi.

7. Penggambaran titik-titik polygon haras didasarkan pada hasil perhitungan koordinat. Penggambaran titik-titik polygon tersebut tidak boleh secara grafis. 8. Gambar ukur yang berupa gambar situasi harus digambar pada kertas

milimeter dengan skala 1 : 1000 dan interval kontur 1 m. Tiap kontur '5 meteran ditebalkan.

9. Gambar hasil akhir berupa gambar situasi. Potongan memanjang dan potongan melintang digambar pada kertas kalkir standar.

10. Ketinggian titik detail harus tercantum dalam gambar ukur begitu pula semua keterangan-keterangan yang penting, seperti:

- Penggambaran poligon harus dibuat dengan skala 1 : 1.000 untuk jalan

dan 1:500 untuk jembatan.

- Koordinat grid terluar (dari gambar) harus dicantumkan harga absis (x)

dan ordinat (y)-nya.

- Setiap titik ikat (BM) agar dicantumkan nilai X, Y ,Z nya dan diberi tanda

khusus.

(33)

garis ketinggian (contour) 1 meter. Semua gambar topografi harus disajikan dengan menggunakan software komputer.

Pekerjaan Digitasi dan Komputer

Semua gambar topografi disajikan dengan menggunakan software komputer dan diplot/dikalkirkan setelah hasilnya dapat diterima oleh Pengguna jasa.

2.5.6. Inventarisasi Jalan dan Jembatan Eksisting

Survei kondisi jalan eksisting dilakukan untuk mendapatkan gambaran mengenai kondisi jalan eksisting yang meliputi kondisi perkerasan jalan, kapasitas jalan, keberadaan bangunan pelengkap jalan, kondisi drainase dan sebagainya. Survei kondisi jalan eksisting ini dilakukan dengan mengikuti pedoman survei kondisi jalan perkotaan yang diterbitkan oleh Dirjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum.

Pemeriksaan inventarisasi jalan dilakukan dengan mencatat kondisi rata-rata setiap 100 m yang tercatat selama pengamatan.

Data yang diperoleh/diperlukan dari pemeriksaan ini adalah : a. Lebar perkerasan yang ada dalam meter;

b. Jenis bahan perkerasan yang ada;

c. Kondisi daerah samping jalan serta sarana utilitas yang ada seperti saluran samping, gorong-gorong, bahu Jalan, kondisi drainase samping, jarak pagar bangunan/tebing ke pinggir perkerasan;

d. Lokasi awal dan akhir pemeriksaan harus jelas dan sesuai dengan lokasi yang ditentukan untuk jenis pemeriksaan lainnya;

e. Data yang diperoleh dicatat dalam format inventarisasi jalan (Highway Geometric Inventory) per 100 meter;

(34)

lnventarisasi jembatan bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai eksisting jembatan yang terdapat pada ruas jalan yang ditinjau.

Informasi yang harus diperoleh/diperlukan dari pemeriksaan ini adalah : a. Nama, lokasi, tipe dan kondisi jembatan;

b. Dimensi jembatan yang meliputi bentang, lebar, ruang bebas dan jenis lantai;

c. Perkiraan volume pekerjaan bila diperlukan pekerjaan perbaikan atau pemeliharaan; d. Data yang diperoleh dicatat dalam satu format yang standar;

e. Foto dokumentasi minimum 2 lembar untuk setiap jembatan yang diambil dari arah memanjang dan melintang. Foto ditempel pada format standar yang disetujui pengguna jasa.

2.5.7. Penggambaran

Pembuatan gambar rencana trase jalan selengkapnya dilakukan setelah Draft Perencanaan Teknis mendapat persetujuan dari pengguna jasa dengan mencantumkan koreksi-koreksi dan saran-saran yang diberikan oleh pengguna jasa, berikut posisi alternatif trase yang pernah diteliti.

2.5.8. Perhitungan Kuantitas

Perencana harus memuat perhitungan kuantitas pekerjaan secara rinci dengan ketentuan sebagai berikut :

1. Volume pekerjaan tanah dihitung dari gambar cross section setiap 25-100 meter; 2. Penyusunan mata pembayaran pekerjaan (pay item) harus sesuai dengan Spesifikasi

yang dipakai;

(35)

2.5.9. Perkiraan Biaya

Perkiraan biaya konstruksi rinci harus disiapkan untuk setiap tahapan konstruksi yang direncanakan, sesuai item pekerjaan dan harga satuan yang disajikan secara terpadu. Kuantitas akan disertai dengan data pendukung perhitungannya, sedangkan harga satuan akan merujuk pada referensi harga satuan terbaru dan masih berlaku atau berpedoman pada survei harga pasar.

(36)

3

ORGANISASI KERJA

3.1. ORGANISASI KERJA

Organisasi kerja yang akan melaksanaan pekerjaan ini disesuaikan dengan kebutuhan

tenaga ahli yang dijabarkan pada kerangka acuan kerja. Tenaga ahli yang akan terlibat

terdiri dari ketua tim dan 5 orang tenaga ahli. Sebagai pendukung, akan ada tenaga

sekretaris, surveyor, juru gambar (CAD operator) dan pesuruh kantor.

Organisasi kerja tim konsultan digambarkan pada Gambar 3.1.

Gambar 3.1 Organisasi Kerja

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta

Ketua Tim Ahli Teknik Sipil

Ahli

Mekanikal Elekterikal

Ahli Konstruksi Sipil

Ahli

Mekanika Tanah

Ahli Estimasi Biaya

Tenaga Pendukung:

(37)

Kualifikasi dari tenaga ahli beserta tanggung jawabnya berdasarkan kerangka acuan kerja

dijabarkan sebagai berikut :

a. Ahli Teknik Sipil (Ketua Tim)

Seorang SarjanaTeknik Sipil dengan pengalaman dibidangnya selama minimal 6 (enam)

tahun yang terkait, dimana tugas utama ketua tim adalah bertanggung pada hal-hal

berikut:

 Merencanakan, mengkoordinasi dan mengendalikan semua kegiatan dan personil

yang terlibat dalam pekerjaan ini sehingga pekerjaan dapat diselesaikan baik serta

mencapai hasil yang diharapkan.

 Mempersiapkan petunjuk pelaksanaan kegiatan, baik dalam tahap pengumpulan

data, pengolahan, dan penyajian akhir dan hasil keseluruhan pekerjaan.

b. Ahli Mekanikal Elektrikal

Seorang Sarjana atau strata yang lebih tinggi di bidang Teknik Elektro berpengalaman

dibidangnya selama minimal 4 (empat) tahun, dimana tugas ahli mekanikal elekterikal

ini adalah melaksanakan semua kegiatan perencanaan ducting yang mencakup desain

boks utilitas, mekanisme pemasangan kabel listrik dan telekomunikasi dan menyusun

rencana mengenai hal-hal yang menyangkut pemasangan utilitas kelistrikan di dalam

(38)

c. Ahli Konstruksi Sipil

Seorang Sarjana atau strata yang lebih tinggi di bidang Teknik Sipil berpengalaman

dibidangnya selama minimal 4 (empat) tahun, dimana tugas ahli teknik sipil adalah

merencanakan dan melaksanakan semua kegiatan dalam pekerjaan perencanaan

ducting utilitas yang mencakup perencanaan galian, pemasangan ducting, penutupan

kembali dan perencanaan perbaikan perkerasan jalan, serta harus menjamin bahwa

rencana dan desain yang dihasilkan adalah pilihan yang paling ekonomis dan sesuai

dengan standar teknik.

d. Ahli Mekanika Tanah

Seorang Sarjana atau strata yang lebih tinggi di bidang Teknik Sipil berpengalaman

dibidangnya selama minimal 4 (empat) tahun, dimana tugas ahli mekanika tanah

adalah merencanakan dan melaksanakan semua kegiatan dalam pekerjaan yang

berkaitan dengan mekanika tanah khususnya terkait dengan pemasangan ducting

utilitas sepanjang koridor BKT Cipinang – Pulogebang. serta harus menjamin bahwa gambar pengukuran yang dihasilkan adalah benar, akurat, dan siap digunakan untuk

tahap perencanaan teknik jalan.

e. Ahli Estimator Biaya

Seorang Sarjana atau strata yang lebih tinggi di bidang Teknik Sipil berpengalaman

dibidangnya selama minimal 3 (tiga) tahun, dimana tugas Ahli Estimator Biaya adalah

melaksanakan semua kegiatan yang mencakup pengumpulan data harga satuan bahan

dan upah, menyiapkan analisa harga satuan pekerjaan, membuat perhitungan

kuantitas pekerjaan jalan, membuat perkiraan biaya pekerjaan konstruksi serta harus

menjamin bahwa data, perhitungan analisa harga satuan dan perhitungan kuantitas

(39)

3.2. PELAPORAN

Bentuk pelaporan yang harus diserahkan pada pemberi kerja terdiri dari 4 laporan,

diantaranya adalah:

1. Laporan Pendahuluan

Laporan Pendahuluan diselesaikan dalam 7 (satu) hari kerja sejak Kontrak ditandatangani

dan laporan dibuat sebanyak 6 (enam) rangkap yang disajikan dalam buku atau album

ukuran A4 diberi sampul dari kertas laminating dan memakai logo Provinsi DKI Jakarta

serta logo konsultan yang bersangkutan. Laporan Pendahuluan berisi tentang antara lain :

a. Latar belakang, maksud dan tujuan, metodologi pelaksanaan pekerjaan, rencana

kerja, persiapan awal, struktur organisasi, jadwal pelaksanaan pekerjaan.

b. Penyajian suatu desain perencanaan yang merupakan gambaran garis besar

pengembangan materi dan kerangka acuan kerja.

2. Laporan Antara

Laporan antara berisi antara lain :

· Laporan ini memuat hasil pengukuran survey lapangan, foto-foto eksisting, hasil

analisa survey lapangan dan hasil penyelidikan tanah.

· Perkembangan hasil pekerjaan sesuai jadwal pelaksanaan rencana kerja.

· Perhitungan-perhitungan konstruksi meliputi antara lain perhitungan beometrik,

struktur dan lain-lain.

· Gambar-gambar plan dan profil dari kondisi eksisting, potongan-potongan dan

detail.

3. Konsep Laporan Akhir

Konsep laporan akhir berisi antara lain :

a. Laporan ini memuat permasalahan-permasalahan teknis dan non teknis serta

solusi-solusinya.

b. Perkembangan hasil pekerjaan sesuai jadwal pelaksanaan rencana kerja.

c. Perhitungan-perhitungan konstruksi meliputi antara lain perhitungan geometrik,

(40)

d. Gambar-gambar plan dan profil dari rencana, potongan-potongan dan

detail-detail.

4. Laporan Akhir

Laporan akhir ini berisi antara lain :

a. Menyajikan solusi dari masalahan-masalah yang terjadi dilapangan baik masalah

teknis ataupun non teknis yang mendukung hasil akhirperencanaan.

b. Pehitungan-perhitungan akhir konstruksi meliputi antara lain perhitungan geometrik,

struktur dan lain-lain.

c. Gambar-gambar rencana, Rencana Anggaran Biaya (RAB/Engineer’s Estimate), Bill of Quantity dan Spesifikasi teknis.

d. Kesimpulan dan saran yang berupa masukan-masukan teknis yang bersifat

(41)

4 SURVEY PENDAHULUAN

4.1. LOKASI PERENCANAAN

Lokasi perencanaan jalan pada studi Perencanaan Ducting Utilitas Terpadu ini berlokasi di Banjir Kanal Timur khususnya pada koridor Cipinang – Pulogebang . Lokasi perencanaan ini digambarkan pada Gambar 4.1.

4.2. KONDISI EKSISTING JARINGAN BANJIR KALAN TIMUR

Kondisi eksisting banjir kanal timur (BKT) pada koridor Cipinang – Pulogebang saat ini telah terbangun. Pada koridor ini, BKT telah Pembangunan kanal dari Cipinang sampai dengan Pulogebang

(42)
(43)

Gambar 4.2 Gambaran Kondisi BKT : Cipinang

Gambar 4.3 Gambaran Kondisi BKT koridor Cipinang Perintis Kemerdekaan

(44)

Gambar 4.5 Gambaran Kondisi BKT koridor Pahlawan Revolusi Sawah Barat

Gambar 4.6 Gambaran Kondisi BKT koridor Sawah Barat Radin Inten

(45)

Gambar 4.8 Gambaran Kondisi BKT koridor Pondok Kelapa Raya Pulogebang

(46)

5

R E N C A N A K E R J A

5.1. JANGKA WAKTU PENYELESAIAN KEGIATAN

Jangka waktu kegiatan Perencanaan Ducting Terpadu di BKT harus dapat diselesaikan dalam waktu 4 (empat) bulan, terhitung sejak tanggal diterbitkan Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK).

5.2. JADUAL PELAKSANAAN PEKERJAAN

(47)

Tabel 5.1 Jadwal Pelaksanaan Kegiatan

Gambar

Gambar 1.1 Peta Lokasi Perencanaan Ducting BKT
Gambar 2.1 Contoh Pemasangan Ducting Kabel Atas di Gedung
Gambar 2.2 Contoh Ducting di Permukaan Tanah
Gambar 2.3 Contoh Pembangunan Ducting Utilitas di Sisi Jalan
+7

Referensi

Dokumen terkait

HUBUNGAN ANTARA BEBAN KERJA DENGAN PELAKSANAAN TUGAS DI SUBBAGIAN UMUM, KEUANGAN DAN PERENCANAAN DINAS KESEHATAN KABUPATEN NGAWI TAHUN 2009.. The Health Department

Dalam suatu Perencanaan Jaringan Irigasi Tambak, terlebih dahulu harus dilakukan survei dan investigasi dari daerah atau lokasi yang bersangkutan guna memperoleh data yang

Adapun tugas akhir ini berjudul “PERENCANAAN SISTEM PENERANGAN JALAN UMUM DAN TAMAN DI AREAL KAMPUS USU DENGAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI TENAGA SURYA (APLIKASI PENDOPO DAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan Sistem Aplikasi Perencanaan di Dinas Pemberdayaan Masyarakat Dan Desa Kabupaten Wonogiri secara umum sudah sesuai

Secara umum kegitan ini melibatkan berbagai pihak mulai dari perencanaan kegiatan sampai pelaksanaan kegiatan pengabdian. Kegiatan ini melibatkan secara

Pada tahap ini masih ada kendala yang paling besar pada pelaksanaan pengembangan jalan umum adalah kebijakan Ibu Walikota mengalihkan pju ke LED secara regulasi

Penelitian ini mengkaji alternatif proyeksi jaringan jalan hutan untuk perencanaan pemanenan kayu di PT Inhutani I Labanan, Jawa

Panduan lengkap perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan proyek konstruksi desa di Kalurahan, termasuk jalan, irigasi, dan gedung kantor untuk pengembangan desa yang