2. Sikap ( Attitude ) 1. Pengertian Sikap
2.4. Pengukuran sikap
Beberapa karakteristik (dimensi) sikap yaitu arah, intensitas, keluasan, konsistensi, dan spontanitas.
Sikap mempunyai arah, artinya sikap terpisah pada dua arah kesetujuan yaitu apakah setuju atau tidak setuju, apakah mendukung atau tidak mendukung, apakah memihak atau tidak memihak terhadap sesuatu atau seseorang sebagai objek. Orang yang setuju, mendukung, atau memihak terhadap suatu objek sikap berarti memiliki sikap yang arahnya positif, sebaliknya mereka yang tidak setuju atau tidak mendukung dikatakan sebagai memiliki sikap yang arahnya negatif.
Sikap memiliki intensitas, kedalaman atau kekuatan sikap terhadap sesuatu belum tentu sama walaupun arahnya mungkin tidak berbeda. Dua orang yang sama tidak sukanya terhadap sesuatu, yaitu sama-sama memiliki sikap yang berarah negatif belum tentu memiliki sikap yang negatif yang sama intensitasnya. Orang pertama mungkin tidak setuju tapi orang kedua dapat saja sangat tidak setuju. Begitu juga sikap yang positif dapat berbeda ke dalamannya bagi setiap orang. Mulai dari agak setuju sampai pada setuju yang ekstrem.
Sikap juga memiliki keluasan, maksudnya kesetujuan atau ketidaksetujuan terhadap suatu objek sikap dapat mengenai hanya aspek yang sedikit dan sangat spesifik akan tetapi dapat pula mencakup banyak sekali aspek yang ada pada objek sikap.
Sikap juga memiliki konsistensi, maksudnya adalah kesesuian antara pernyataan sikap yang dikemukakan dengan responnya terhadap objek sikap antar waktu. Untuk dapat konsisten, sikap harus bertahan dalam diri induvidu untuk waktu yang relatif panjang. Konsistensi juga diperlihatkan oleh tidak adanya kebimbangan dalam bersikap.
Karakteristik sikap yang terakhir adalah spontanitas, yaitu menyangkut sejauh mana kesiapan induvidu untuk menyatakan sikapnya secara spontan. Sikap dikatakan memiliki spontanitas yang tinggi apabila dapat dinyatakan secara terbuka tanpa harus melakukan pengungkapan atau desakan lebih dahulu agar induvidu mengemukakannya. Hal ini tampak dari pengamatan terhadap indikator sikap atau perilaku sewaktu induvidu berkesempatan mengungkapkan sikapnya. Dalam berbagai bentuk skala sikap yang umumnya harus dijawab dengan “setuju” atau “tidak setuju”, spontanitas sikap ini pada umumnya tidak dapat dilihat.
Pengukuran dan pemahaman terhadap sikap, idealnya, harus mencakup kesemua dimensi tersebut di atas. Namun, belum ada atau mungkin tak akan pernah ada instrumen pengukuran sikap yang dapat mengungkap kesemua dimensi itu sekaligus. Banyak diantara skala yang digunakan dalam pengukuran sikap hanya mengungkapkan dimensi arah, dan dimensi intensitas sikap saja, yaitu hanya dengan menunjukan kecendrugan sikap positif atau negatif dan memberikan tafsiran mengenai derajat kesetujuan atau ketidaksetujuan terhadap respon induvidu.
Adapun beberapa metode pengukuran sikap: 1) Observasi perilaku
Untuk mengetahui sikap seseorang terhadap sesuatu kita dapat memperhatikan perilakunya, sebab perilaku merupakan salah satu indikator sikap induvidu. Perilaku tertentu kadang-kadang sengaja ditampakan untuk menyembunyikan sikap yang sebenarnya.
2) Pertanyaan langsung
Manusia akan mengungkapkan secara terbuka apa yang dirasakannya. Ternyata orang yang akan mengungkapkan pendapat dan jawaban yang sebenarnya secara terbuka hanya apabila situasi dan kondisi memungkinkan. Apabila situasi dan kondisi memungkinkan untuk mengatakan hal yang sebenarnya tanpa rasa takut terhadap konsekuensi langsung maupun tidak langsung yang dapat terjadi. Dalam situasi tanpa tekanan dan bebas dari rasa takut serta tidak terlihat adanya keuntungan untuk berkata lain, barulah induvidu cendrung memberikan jawaban yang sebenarnya sesuai dengan apa yang ia rasakan. 3) Pengungkapan langsung
Prosedur pengungkapan langsung dengan item tunggal, responden diminta menjawab langsung suatu pernyataan sikap tertulis dengan memberi tanda setuju atau tidak setuju. Hal ini menyatakan sikap secara lebih jujur bila ia tidak perlu menuliskan nama atau identitasnya. Problem utama dalam pengukuran dengan item tunggal adalah masalah reabilitas hasilnya. Pengukuran yang reliabel memerlukan item yang banyak. Item tunggal terlalu tebuka terhadap sumber error pengukurannya (Azwar, 2005).
3. Lelaki Seks Lelaki (LSL) atauMen Who Have Sex With Men (MSM) 3.1. Pengertian
Terminologi men who have sex with men atau MSM dimaksudkan untuk menjelaskan semua laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki, tanpa memandang identitas seksual mereka. Ini digunakan karena hanya sejumlah kecil dari laki-laki terlibat dalam perilaku seks sesama jenis yang didefinisikan sebagai
gay, biseksual atau homoseksual tetapi lebih tepat rnengidentifikasi diri menggunakan identitas dan perilaku lokal sosial dan seksual. Mereka tidak menganggap hubungan seksual mereka dengan laki-laki lain dalam terminologi identitas atau orientasi seksual. Banyak yang berhubungan seks dengan laki-laki mengidentifikasi diri sebagai hetereseksual bukannya homoseksual atau biseksual, terutama bila mereka juga berhubungan seks dengan perempuan, menikah, hanya memainkan peran sebagai pihak yang penetratif dalam anal seks, dan/atau berhubungan seks dengan laki-laki demi uang atau kesenangan.
Lelaki Suka Lelaki atau sering disebut jugaGayadalah istilah laki-laki yang mengarahkan orientasi seksualnya kepada sesama laki atau disebut juga laki-laki yang mencintai laki-laki-laki-laki secara fisik, seksual, emosional ataupun secara spiritual. Secara psikologis, gay adalah seorang laki-laki yang penuh kasih. Mereka juga rata-rata mempedulikan penampilan, dan sangat memperhatikan apa-apa saja yang terjadi pada pasangannya.
LSL termasuk juga berbagai kategori dari laki-laki yang dapat dibedakan menurut pengaruh dari variabel seperti :
a. Identitas seksual mereka, tanpa memandang perilaku seksual (gay, homoseksual, heteroseksual, biseksual, dan transgender, atau persamaannya, dan identitas lain)
b. Penerimaan dan keterbukaan mereka akan identitas seksual mereka yang bukanmainstream(terbuka atau tertutup)
d. Alasan mereka memilih pasangan seksual tersebut (alami, paksaan, atau tekanan, motivasi komersial, kesenangan atau rekreasi, dan/atau karena keberadaan di lingkungan yang semuanya laki-laki)
e. Peran meraka dalam praktik khusus (penetratif, reseptif, atau keduanya)
f. Identitas terkait gender mereka, peranan dan perilaku (laki-laki atau perempuan, maskulin atau feminine/ effeminate, bersebrangan pakaian (cross-dressing)atau berpakaian sesuai gender)
Laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki menjadi terminologi yang populer dalam konteks HIV dan AIDS dimana ia digunakan karena menggambarkan perilaku yang menempatkan mereka dalam resiko terinfeksi. Telah menjadi perdebatan bahwa terminologi tersebut terlalu terfokus pada perilaku seksual dan tidak mencukupi pada aspek lain seperti emosi, hubungan, dan identitas seksual diantara mereka yang juga merupakan determinan dari infeksi. Beberapa organisasi dan individu lebih suka memakai terminologi
laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki, karena ia menunjukkan kelompok yang lebih luas dari sejumlah individu yang berhubungan seks dengan pasangan lain dari kelamin yang sama. Khususnya, ia tidak mempunyai batasan pada umur yang ditunjukkan dengan kata ”laki-laki”, dan karenanya termasuk juga anak-anak lelaki yang saling berhubungan seks dan juga hubungan seks antara laki-laki dewasa dengan anak lelaki.