BAB 1 PENDAHULUAN
3.6 Cara Penelitian
3.6.4 Pengukuran Stabilitas Warna
1. Pengukuran stabilitas warna dilakukan dengan menggunakan alat FTIR
spectrophotometer (Fourier Transform InfraRed Spectrophotometer)
2. Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah direndam dalam minuman teh18
3. Sampel direndam selama 2 hari pada suhu 37 ºC didalam minuman teh 4. Sampel dikeluarkan dan dibersihkan dengan air kemudian diletakkan diatas tisu kering sambil membalik-balikkannya sehingga kering pada suhu kamar37
5. Sampel selanjutnya diletakkan pada alat pengukur untuk mengukur panjang gelombang cahaya
6. Sumber cahaya dari infra merah akan dijatuhkan pada sampel. Cahaya yang dipantulkan atau diserap oleh sampel akan dideteksi oleh detektor dan ditransfer ke komputer untuk terjemahan pengukuran intensitas cahaya yang diukur dalam satuan cm-1. Hasil yang didapat merupakan pengukuran panjang gelombang cahaya yang dipantulkan atau diserap dari suatu bahan (Gambar 13)
Gambar 13. Skematik proses analisa sampel49
3.7Analisis Data
Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah :
1. Uji-t berpasangan untuk mengetahui pengaruh minuman teh pada setiap bahan basis gigitiruan
2. Uji-t independen untuk melihat apakah ada perbedaan signifikan antara kedua bahan basis gigitiruan resin akrilik polimerisasi panas dan nilon termoplastik terhadap stabilitas warna
BAB 4
HASIL PENELITIAN
4.1 Pengaruh Minuman Teh Terhadap Stabilitas Warna Bahan Basis Gigitiruan Resin Akrilik Polimerisasi Panas.
Pengukuran panjang gelombang cahaya dengan satuan cm-1 dilakukan sebelum dan sesudah perendaman dalam teh selama 2 hari pada sampel resin akrilik polimerisasi panas. Stabilitas warna basis gigitiruan resin akrilik polimerisasi panas sebelum direndam (kelompok A) menunjukkan nilai terbesar 3441,57 cm-1 dan nilai terkecil 3439,04 cm-1, sedangkan sesudah direndam (kelompok B) nilai terbesar 3440,49 cm-1 dan nilai terkecil 3438,18 cm-1.(Tabel 1)
Tabel 1 : NILAI PANJANG GELOMBANG CAHAYA RESIN AKRILIK POLIMERISASI PANAS SEBELUM (KELOMPOK A) DAN SESUDAH (KELOMPOK B) DIRENDAM DALAM MINUMAN TEH
No. KELOMPOK A KELOMPOK B
1. 3439,13 3438,18** 2. 3439,25 3439,97 3. 3440,50 3439,73 4. 3439,78 3439,57 5. 3439,04** 3440,10 6. 3441,57* 3440,49* * Nilai terbesar ** Nilai terkecil
Dari hasil uji-t berpasangan diperoleh nilai rerata, simpangan baku dan derajat signifikan panjang gelombang cahaya pada resin akrilik polimerisasi panas (Tabel 2).
Nilai rerata dan simpangan baku untuk kelompok A adalah 3439,90 ± 0,99151 dan untuk kelompok B adalah 3439,70 ± 0,79761. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa kelompok B mempunyai panjang gelombang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan kelompok A tetapi dari hasil uji-t berpasangan terlihat bahwa P=0,6030 (p>0,05), hal ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh minuman teh terhadap stabilitas warna yang signifikan pada basis gigitiruan resin akrilik polimerisasi panas.
Tabel 2 : NILAI RERATA DAN SIMPANGAN BAKU PANJANG GELOMBANG CAHAYA RESIN AKRILIK POLIMERISASI PANAS SEBELUM (KELOMPOK A) DAN SESUDAH (KELOMPOK B) DIRENDAM DALAM MINUMAN TEH.
Kelompok Panjang Gelombang (cm-1) P
N X ± SD
A 6 3439,90 ± 0,99151 0,6030
B 6 3439,70 ± 0,79761
Tidak ada perbedaan yang signifikan (p>0,05)
4.2 Pengaruh Minuman Teh Terhadap Stabilitas Warna Bahan Basis Gigitiruan Nilon Termoplastik.
Pengukuran panjang gelombang cahaya dengan satuan cm-1 dilakukan sebelum dan sesudah perendaman dalam minuman teh selama 2 hari pada sampel Nilon termoplastik. Stabilitas warna basis gigitiruan nilon termoplastik sebelum direndam (kelompok C) menunjukkan nilai terbesar 3321,25 cm-1 dan nilai terkecil
3305,77 cm-1, sedangkan sesudah direndam (kelompok D) nilai terbesar 3308,34 cm-1 dan nilai terkecil 3306,69 cm-1.(Tabel 3)
Tabel 3 : NILAI PANJANG GELOMBANG CAHAYA NILON TERMOPLASTIK SEBELUM (KELOMPOK C) DAN SESUDAH (KELOMPOK D) DIRENDAM DALAM MINUMAN TEH.
* Nilai terbesar ** Nilai terkecil
Dari hasil uji-t berpasangan diperoleh nilai rerata, simpangan baku dan derajat signifikan panjang gelombang cahaya pada nilon termoplastik (Tabel 4). Nilai rerata dan simpangan baku untuk kelompok C adalah 3314,60 ± 6,75688 dan untuk kelompok D adalah 3307,40 ± 0,66499. Dari hasil uji-t berpasangan terlihat bahwa P=0,0490 (p<0,05)*, hal ini menunjukkan bahwa ada pengaruh minuman teh terhadap stabilitas warna pada basis gigitiruan nilon termoplastik.
No. KELOMPOK C KELOMPOK D
1. 3318,67 3308,03 2. 3306,45 3307,45 3. 3305,77** 3306,96 4. 3319,16 3306,92 5. 3321,25* 3306,69** 6. 3316,12 3308,34*
Tabel 4 : NILAI RERATA DAN SIMPANGAN BAKU PANJANG GELOMBANG CAHAYA NILON TERMOPLASTIK SEBELUM (KELOMPOK C) DAN SESUDAH (KELOMPOK D) DIRENDAM DALAM MINUMAN TEH
*Ada perbedaan yang signifikan (p<0,05)
4.3 Perbedaan Stabilitas Warna antara Bahan Basis Gigitiruan Resin Akrilik Polimerisasi Panas dan Nilon Termoplastik.
Untuk memastikan perbedaan stabilitas warna antara bahan basis gigitiruan resin akrilik polimerisasi panas dan nilon termoplastik dilakukan uji-t independen antara kelompok A dengan C dan kelompok B dengan D. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa p=0,0001 (p<0,05)*, artinya ada perbedaan signifikan stabilitas warna resin akrilik polimerisasi panas dan nilon termoplastik sebelum direndam dalam minuman teh. (Tabel 5)
Tabel 5 : PERBEDAAN PANJANG GELOMBANG CAHAYA ANTARA BAHAN BASIS GIGITIRUAN RESIN AKRILIK POLIMERISASI PANAS DAN NILON TERMOPLASTIK SEBELUM DIRENDAM DALAM MINUMAN TEH
Kelompok Panjang Gelombang (cm-1) P
N X ± SD
A 6 3439,90 ± 0,99151 0,0001*
C 6 3314,60 ± 6,75688
*Ada perbedaan yang signifikan (p<0,05)
Kelompok Panjang Gelombang (cm-1) P
N X ± SD
C 6 3314,60 ± 6,75688 0,0490*
Hasil uji statistik kelompok B dengan D menunjukkan bahwa p=0,0001 (p<0,05)*, artinya ada perbedaan signifikan stabilitas warna resin akrilik polimerisasi panas dan nilon termoplastik sesudah direndam dalam minuman teh. (Tabel 6)
Tabel 6 : PERBEDAAN PANJANG GELOMBANG CAHAYA ANTARA BAHAN BASIS GIGITIRUAN RESIN AKRILIK POLIMERISASI PANAS DAN NILON TERMOPLASTIK SESUDAH DIRENDAM DALAM MINUMAN TEH
*Ada perbedaan yang signifikan (p<0,05)
Kelompok Panjang Gelombang (cm-1) P
N X ± SD
B 6 3439,70 ± 0,79761 0,0001*
BAB 5 PEMBAHASAN
5.1 Metodologi Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratoris. Dalam penelitian eksperimental laboratoris atau percobaan, peneliti melakukan percobaan atau perlakuan terhadap variabel bebasnya, kemudian mengukur akibat atau pengaruh percobaan tersebut pada variabel terikat. Percobaan atau perlakuan adalah suatu usaha modifikasi kondisi secara sengaja dan terkontrol dalam menentukan peristiwa atau kejadian, serta pengamatan terhadap perubahan yang terjadi akibat dari peristiwa tersebut. Penelitian eksperimental ini bertujuan untuk menguji hipotesis sebab akibat dengan melakukan intervensi. Oleh karena itu sering disebut penelitian intervensi.52
5.2 Hasil penelitian
5.2.1 Pengaruh Minuman Teh Terhadap Stabilitas Warna Bahan Basis Gigitiruan Resin Akrilik Polimerisasi Panas.
Pengukuran stabilitas warna yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan perbedaan panjang gelombang cahaya dengan satuan cm-1. Bila intensitas cahaya yang diteruskan lebih banyak dari intensitas cahaya yang dipantulkan, maka nilai panjang gelombang akan meningkat berarti warna makin terang dan stabilitas warna lebih baik. Begitu juga sebaliknya, jika intensitas cahaya yang diteruskan makin berkurang, maka nilai panjang gelombang akan menurun
berarti warna menjadi lebih gelap dan stabilitas warna lebih buruk.21 Dari Tabel 1 dapat dilihat nilai panjang gelombang cahaya untuk kelompok A 3439,90 ± 0,99151 dan untuk kelompok B 3439,70 ± 0,79761. Dari uji-t berpasangan terlihat p=0,6030 (p>0,05), hal ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh minuman teh terhadap stabilitas warna yang signifikan pada basis gigitiruan resin akrilik polimerisasi panas.
Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa kelompok B mempunyai panjang gelombang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan kelompok A. Hal ini menunjukkan adanya sedikit perubahan warna pada sampel resin akrilik setelah perendaman di dalam teh selama 2 hari (2 hari ekivalen dengan 1 tahun pemakaian). Penelitian yang dilakukan oleh David (2005) membuktikan adanya perubahan warna pada bahan basis gigitiruan resin akrilik setelah dilakukan perendaman pada larutan sodium hipoklorit 0,5% dan larutan klorhexidin 0,2%. Pada perendaman selama 1 hari tidak menunjukkan perubahan sedangkan pada perendaman 7 hari dan 14 hari menunjukkan perubahan warna yang signifikan. Hal ini kemungkinan karena waktu kontak yang tidak terlalu lama sehingga pengaruh perendaman belum menunjukkan perubahan warna yang jelas.7 Menurut Sturdevant, lama kontak antara resin dan larutan perendaman yang mengandung zat warna berbanding lurus dengan perubahan warnanya, artinya semakin lama sesuatu bahan itu direndam maka semakin tinggi perubahan warna yang terjadi diikuti ikatan fisik dan kimia antara zat warna dan resin.15 Hal ini karena kecenderungan kontak zat warna dari larutan juga akan semakin besar.41
Perubahan warna pada sampel resin akrilik polimerisasi panas dapat disebabkan oleh salah satu sifat resin akrilik polimerisasi panas yaitu menyerap air. Perubahan ini disebabkan oleh karena kemampuan menyerap cairan pada bahan dan lingkungan sekitar rongga mulut sehingga zat warna pada teh yang terserap dapat bereaksi dengan unsur dalam resin akrilik polimerisasi panas.7
Mekanisme penyerapan air yang terjadi adalah difusi. Masuknya cairan ke dalam resin melalui proses difusi diikuti oleh penyerapan substansi lain dari cairan tersebut seperti zat warna. Zat warna ini bersifat akumulatif terutama pada daerah yang terdapat porositas dan pada ruang-ruang kosong diantara matrik polimer. Akumulasi dari zat warna inilah yang menyebabkan perubahan fisik dari resin yaitu perubahan warna.25,41
Porositas disebabkan oleh pengadukan yang tidak tepat antara komponen polimer dan monomer. Porositas terjadi oleh karena sisa monomer yang tidak berpolimerisasi sempurna dengan polimer. Hal ini karena tidak semua monomer akan bersatu dengan polimer, oleh karena itu monomer yang tersisa akan menguap dan menghasilkan porositas. 3,11,25
Selain itu, perubahan warna kurang terlihat jelas pada sampel resin akrilik polimerisasi panas adalah karena resin akrilik polimerisasi panas mempunyai ikatan
cross-linked. Ikatan ini sangat kuat sehingga tidak mudah lepas dari ikatannya.15,11 Penambahan cross-linked pada resin akrilik polimerisasi panas meningkatkan kekuatan dan menurunkan solubilitas serta penyerapan air.3
5.2.2 Pengaruh Minuman Teh Terhadap Stabilitas Warna Bahan Basis Gigitiruan Nilon Termoplastik.
Dari Tabel 3 dapat dilihat nilai panjang gelombang cahaya untuk kelompok C 3314,60 ± 6,75688 dan untuk kelompok D 3307,40 ± 0,66499. Dari uji-t berpasangan terlihat p=0,0490 (p<0,05), hal ini menunjukkan bahwa ada pengaruh minuman teh terhadap stabilitas warna pada basis gigitiruan nilon termoplastik.
Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa kelompok D mempunyai panjang gelombang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok C. Ini menunjukkan berlakunya perubahan warna yang jelas pada sampel nilon termoplastik setelah perendaman di dalam teh selama 2 hari. Menurut Marina Utami (2009), walaupun nilon itu sendiri dalam pembuatannya sudah dikemas dengan penambahan glass reinforced untuk mengurangi penyerapan air, akan tetapi fiber (serat) yang ada di dalam nilon itu sendiri masih mempunyai kemampuan menyerap air. Ini merupakan faktor terjadinya perubahan warna yang besar pada nilon termoplastik.11
Selain itu, nilon termoplastik memiliki sifat hidroskopi, perendaman yang cukup lama akan menyebabkan banyak molekul air yang mengandung zat warna memasuki tiap pori pada sampel. Proses penyerapan zat warna adalah sama dengan yang terjadi pada resin akrilik polimerisasi panas yaitu proses difusi. Difusi adalah berpindahnya suatu substansi melalui rongga atau melalui substansi kedua.11,25
Perubahan warna dapat juga disebabkan oleh porositas yang terdapat pada nilon termoplastik. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh metode injeksi yang tidak sesuai dengan prosedur pembuatan yang seharusnya sehingga sewaktu pemanasan terdapat gelembung udara yang terperangkap.11
Nilon lebih sulit untuk dipoles oleh karena itu mudah terjadi perlekatan bakteri dan stain pada permukaan basis gigitiruan nilon termoplastik.9 Menurut Mathews dan Smith (1955), dari hasil klinis menunjukkan kecenderungan bahan nilon untuk mengalami perubahan warna, stain, penyerapan air yang tinggi, serta terjadi peningkatan kekasaran permukaan setelah beberapa minggu pemakaian.12
Selain itu nilon juga mengandung ikatan linear (ikatan polimer tunggal) yang mengandung hexamethylenadiamine dan asam karboksilik di dalam nilon termoplastik yang akan membentuk ikatan poliamida yang panjang. Ikatan linear dalam nilon termoplastik ini lebih lemah dibanding dengan ikatan polimer yang bercabang atau yang mempunyai cross-linked pada resin akrilik.11
5.2.3 Perbedaan Stabilitas Warna antara Bahan Basis Gigitiruan Resin Akrilik Polimerisasi Panas dan Nilon Termoplastik.
Tabel 5 dan tabel 6 memperlihatkan nilai rerata dan standar deviasi antara resin akrilik polimerisasi panas dan nilon termoplastik sebelum dan sesudah direndam dalam teh. Dari uji-t independen antara kelompok A dengan C, dan kelompok B dengan D terbukti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara resin akrilik polimerisasi panas dan nilon termoplastik yaitu nilai p=0,0001 (p<0,05).
Terdapat perubahan warna yang lebih jelas pada nilon termoplastik dibanding resin akrilik polimerisasi panas. Hal ini kemungkinan karena nilon termoplastik mempunyai ikatan linear yang panjang tanpa adanya cross-linked dan ikatan ini lebih lemah dan mudah lepas. Berbeda dengan resin akrilik yang mempunyai ikatan cross-
linked mengurangi jumlah penyerapan air pada basis gigitiruan. Polimer yang mengandung banyak cross-linked lebih mudah pecah dan keras dibanding tanpa
cross-linked. 11Cross-linked terbentuk dari homopolimer cross-linked bersama ikatan linear dari bahan cross-linked tunggal sehingga membentuk struktur tiga dimensi yang sangat kuat diantara ikatannya.3,11 Ini menjadikannya kukuh dan tidak mudah lepas dari ikatan.
Selain itu, perendaman sampel penelitian di dalam minuman teh dapat menyebabkan perubahan warna. Penelitian yang dilakukan oleh Joseph membuktikan bahwa teh bersifat asam yaitu mempunyai pH 3,5.16 Salah satu unsur kimia yang terdapat pada teh adalah polifenol. Bahan resin jika berkontak dengan larutan fenol akan menunjukkan peningkatan dan pengaruh kimiawi yang sifatnya merusak permukaan resin karena senyawa tersebut akan masuk kedalam permukaan resin. Ion H+ dari asam menyebabkan degradasi ikatan polimer sehingga beberapa monomer dari resin melepaskan diri. Adanya pelepasan ini akan menyebabkan ruang-ruang kosong di antara matrik polimer bertambah banyak sehingga memudahkan terjadinya proses difusi cairan dari luar menuju ke dalam resin. Ikatan kimia pada nilon termoplastik hanyalah ikatan linear yang panjang, maka perubahan warna lebih besar terjadi pada nilon termoplastik.41
Selain itu, sifat penyerapan air pada nilon lebih besar dibanding dengan resin akrilik polimerisasi panas karena nilon termoplastik mempunyai serat yang menyerap air.11 Hal ini jelas menunjukkan perbedaan stabilitas warna antara resin akrilik polimerisasi panas dan nilon termoplastik di mana resin akrilik polimerisasi panas menunjukkan stabilitas warna yang lebih baik dibanding nilon termoplastik.
Menurut Annusavice, perubahan warna yang terjadi dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain adalah ukuran sampel, mikroporositas sampel dan lamanya kontak antara bahan. Semakin luas ukuran sampel maka semakin besar perubahan fisik dapat terjadi. Mikroporositas menentukan terjadinya penempelan partikel warna daerah yang poreus.41
Perubahan warna tidak hanya disebabkan oleh karena perendaman dalam minuman teh tetapi juga karena faktor makanan dan minuman sehari-hari yang dikonsumsi oleh pemakai gigitiruan. Hal ini karena adanya akumulasi penempelan
stain pada permukaan dan perlekatan partikel yang masuk ke bagian liang renik resin
sehingga warna menjadi semakin gelap.7
Pada penelitian ini banyak variabel yang dikendalikan untuk mendapatkan sampel yang homogen tetapi terdapat hal-hal yang diluar kemampuan peneliti sehingga peneliti memperoleh beberapa data yang berlawanan. Hal ini kemungkinan karena kesalahan-kesalahan yang terjadi sewaktu pemrosesan sampel sehingga mempengaruhi beberapa data yang diperoleh.
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian eksperimental laboratoris yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Tidak ada pengaruh minuman teh terhadap stabilitas warna bahan basis gigitiruan resin akrilik polimerisasi panaspada p=0,6030 (p>0.05)
2. Ada pengaruh minuman teh terhadap stabilitas warna bahan basis gigitiruan nilon termoplastik pada p=0,0490 (p<0.05)
3. Ada perbedaan signifikan terhadap stabilitas warna antara basis gigitiruan resin akrilik polimerisasi panas dan nilon termoplastik pada p=0,0001 (p<0.05). Dapat disimpulkan bahwa stabilitas warna basis gigitiruan nilon termoplastik adalah kurang baik dibandingkan dengan basis gigitiruan resin akrilik polimerisasi panas sehingga perlu diinformasikan terlebih dahulu kepada kepada pemakai gigitiruan berbasis nilon termoplastik bahwa basis gigitiruan tersebut dapat mengalami perubahan warna setelah pemakaian dalam jangka waktu yang lama
6.2 Saran
1. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui bahan yang ditambahkan untuk memperbaiki kelemahan stabilitas warna bahan basis gigitiruan
2. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui efek perubahan warna basis gigitiruan resin akrilik polimerisasi panas dan nilon termoplastik yang direndam didalam bahan minuman lainnya
3. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui perubahan warna basis gigitiruan resin akrilik polimerisasi panas dan nilon termoplastik yang direndam didalam bahan pembersih gigitiruan yang terdapat dipasaran
DAFTAR RUJUKAN
1. Phillips RW. Science of dental materials. 8th ed. Skinners company, 1982: 177- 215.
2. Meng TR, Latta MA. Physical properties of four acrylic denture base resins. Journal of contemporary dental practice. 2005; 6(4).
3. Manappallil JJ. Basic dental materials. 2nd ed. New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers ( P ), 1998: 98-137.
4. Combe EC. Notes on dental materials. 5th ed. Edinburgh: Churchill livingstone, 1986: 47-57, 255-267.
5. Brodhead Garrett/ Frey Resourses. Man made organic materials-part III
<http://home.att.net/~cat6a/org_mat-III.htm>
6. Wilson HJ, Mansfield MA, Health JR, Spence D. Dental Material 8th ed. Oxford: Blackwell Scientific Publication, 1987 : 353-71.
(12 Februari 2010).
7. David, Munadziroh E. Perubahan warna lempeng resin akrilik yang direndam
dalam larutan desinfektan sodium hipoklorit dan klorhexidin. Maj ked gigi. 2005;
38(1): 36-40.
8. Mahalistiyani R, Ratwita DF. Pengaruh bahan penguat serat gelas terhadap kekuatan transversa lempeng akrilik. Maj ked gigi. 2006; 21(4): 140-145.
9. Negrutiu M, Sinescu C, Romanu M, dkk. Thermoplastic resins for flexible framework removable partial dentures.
<http://www.tmj.ro/pdf/2005_number_3_833235561124423.pdf> (20 Agustus 2009).
10. Wirework Dental Laboratories. Flexible partial dentures. 11. Utami M, Febrida R, Djustiana N. The comparison of surface hardness between
thermoplastic nylon resin and heat-cured acrylic resin. Padjadjaran Journal of
Dentistry. 2009; 21(3): 200-203.
12. Kortrakulkij K. Effect of denture cleanser on color stability and flexural strength of denture base materials. Thesis. Thailand: University of Mahidol, 2008: 1-73. 13. Faltermeier A, Rosentritt M, Reicheneder C, Behr M. Discolouration of
orthodontic adhesives caused by food dyes and ultraviolet light. Eur J orthodont 2008; 30: 89-93.
14. Celik C, Yuzugullu B, Erkut S, Yamanel K. Effects of mouth rinses on color stability of resin composites. Eur J dent 2008; 2: 247-253.
15. Prasetyo EA. Perubahan warna resin komposit hibrit setelah direndam dalam minuman berwarna. Jurnal ilmu konservasi gigi. 2008; 1(1): 51-54.
16. Joseph RM. Comparison of efficacy of sodium hypochlorite with sodium perborate in the removal of stains from heat cured clear acrylic resin. J Indian Prosthodont Soc 2009; 9(1): 6-12.
17. Anonymous. Potensi teh sebagai sumber zat gizi dan perannya dalam kesehatan.
<http://www.hapynfun.com/2008/59/potensi-teh-sebagai-sumber-zat-gizi-dan- html
18. Wikipedia, Tea. <
> (14 Oktober 2009).
19. Wikipedia, File: tea processing chart II.svg. < http://en.wikipedia.org/wiki/File:Tea_processing_chart_II.svg
20. Dian V. Tentang teh. <
> (16 Oktober 2009).
http://dianekawati.wordpress.com/2004/09/29/tentang- teh/
21. Pingarron MDC. Valplast: a new concept of partial removable prosthesis. <
> ( 16 Oktober 2009)
http://www.informed.es/aragoneses/casos/3.html
22. Dental Arts Laboratories. Valplast the esthetic flexible partial denture. Technical Buletin.
> (14 Oktober 2009).
2006).
23. Hilgenberg SP dkk. Evaluation of surface physical properties of acrylic resins for provisional prosthesis. Mat. Res. 2008; 11(3).
24. Anonymous. Synthetic plastic. <http://www.scribd.com/doc/26811661/Synthetic- Plastic-Atau-Resin-Sintetis-Adalah-Suatu-Campuran-Bahan-Non-Metalik- Buatan-Biasanya-Dari-Senyawa-Organic>
25. Anusavice KJ. Phillips buku ajar Ilmu bahan kedokteran gigi. Alih bahasa; Johan Arief Budiman, Susi Purwoko. Edisi 10. Jakarta: EGC, 2004: 29-61, 192- 219.
(20 Februari 2010)
26. Anusavice KJ. Phillips’ science of dental materials. 11th ed. Philadelphia: W.B Saunders Co: 2003; 738-47.
27. Ferracane JL. Materials in dentistry. 2nd ed. Lippincott Williams & Wilkins. 10- 38.
28. Noort RV. Introduction to dental materials. 3th ed. London: Mosby. 2007: 56-63, 216-25.
29. Diwan RR. Material prescribed in the management of edentulous patient. In Eckert SE, Jacob RF, Fenton AH, Stern RM, eds. Prosthodonthics treatment for the edentulous patients. India: Mosby, 2004: 190-199
30. Wikipedia. Nylon. <http://en.wikipedia.org/wiki/Nylon> 31. Wikipedia. Polyamide <
(16 Oktober 2009) 2010)
32. Talladium INC. Flexident: Instructions for use.
<http://www.talladium.com/Flexident.pdf
33. Alvarez A. Cullivan B. Valplast the flexible partial. Dental equipment & Material, 2003. <
> (11 September 2009).
http://dem.pennet.com/Article Display.cfm?Aricle ID=189760&CFID=119077&CFTOKEN=80601231
34. Ditolla M. Valplast : flexible, aesthetic partial dentures. Chairside Perspective. April 2005; 5(1).
> (11 September 2009)
35. Frendo Dental Laboratory. Where the art of excellence meets dental technology. <http://www.frendolab.com/
36. Wise Geek. What is colorimeter.
> (11 September 2009) <http://www.wisegeek.com/what-is-a- colorimeter.htm> 37. Wikipedia. Spectrophotometry (15 Maret 2010). (15 Maret 2010). .<http://en.wikpedia.org/wiki/Spectrophotometry>
38. Anonymous. Fourier transform Infrared Spectrometry FTIR
39. Keck Interdisciplinary surface science center. What is FT-IR?
(7 Desember 2009).
40. Muetia R. Pengaruh lama perendaman dalam perasan daun jinten terhadap
perubahan warna resin akrilik. Skripsi fakultas kedokteran gigi Universitas
Airlangga, Surabaya.
41. Aprilia, Rochyani L, Rahardiarto E. Pengaruh minuman kopi terhadap
perubahan warna pada resin komposit. Indonesian journal of dentistry. 2007;
14(3): 164-170.
42. Guler AU, Guler E, Yucel AC, Ertas E. Effects of polishing procedures on color stability of composite resins. J. Appl. Oral Sci. 2009; 17(2).
43. Anonymous. Lebih baik pewarna alami
<2.http://www.scribd.com/doc/3116442/Lebih-Baik-Pewarna-Alami>
44. Wikipedia, Lipton.
(23 Februari 2010)
<http://en.wikipedia.org/wiki/Lipton>
45. Tuminah S. Teh [Camellia sinensis O.K var. Assamica (mast)] sebagai salah
satu sumber antioksidan. Cermin dunia kedokteran. 2004; 144: 52-54
(16 Oktober 2009).
46. Wikipedia, Acid. <http://en.wikipedia.org/wiki/Acid>
47. Hanafiah IKA. Rancangan percobaan teori & aplikasi. PT RajaGrafindo Persada, Jakarta: 2003; 9.
48. Koksal T, Dikbas I. Color stability of different denture teeth materials against various staining agents. Dent Materials J 2008; 27(1): 139-144.
49. Noegroho W, Kresnoadi U, Subianto A. The change of temperature on the shear strength of permanent soft-liner on acrylic resin. Maj Ked Gigi 2006; 39(2): 77- 79.
50. Ranson, Randolph. Dental stone buff type III stone. <http://www.ransom- randolph.com/dental_stone_buff_instructions.pdf> (7 Desember 2009)
51. Yliopisto H. Homepage of the molecular biophysics group.
2009)
52. Notoatmodjo S. Metodologi Penelitian Kesehatan. 3rd ed. Jakarta: Rineka Cipta, 2005: 29
Lampiran 1
Kerangka Konsep Skripsi :
PENGARUH MINUMAN TEH TERHADAP STABILITAS WARNA BAHAN BASIS GIGITIRUAN RESIN AKRILIK POLIMERISASI PANAS DAN NILON TERMOPLASTIK
BASIS GIGITIRUAN RESIN
Bahan Klasifikasi
Termoset Termoplastik
Vulkanit Resin Akrilik Fenol formaldehid Selulosa Nitrat Resin Vinil Nilon Polikarbonat