• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengumpulan Bukti Pemeriksaan Berdasarkan Hipotesa

Dalam dokumen Juknis Pem Invest Mei 2009 (Halaman 47-56)

BAB V PELAKSANAAN PEMERIKSAAN INVESTIGATIF

C. Pengumpulan Bukti Pemeriksaan Berdasarkan Hipotesa

08 Pada tahap ini, pemeriksa investigatif telah memiliki hipotesa awal yang berisi mengenai, siapa, bentuk dan jenis peristiwa, indikasi TPKKN yang merugikan keuangan negara/daerah.

09 Tujuan pengumpulan bukti

Pelaksanaan pengumpulan bukti bertujuan untuk melengkapi bukti pemeriksaan yang diperlukan dalam rangka mengungkap: 1. fakta dan proses kejadian, 2. sebab dan akibat TPKKN, dan 3. penanggung jawab

Tujuan pengumpulan bukti

Juknis Pemeriksaan Investigatif Atas Indikasi Tindak Pidana Korupsi yang Mengakibatkan Kerugian Negara/Daerah Bab V

atau pihak yang terkait atas TPKKN.

Pada saat pemeriksa mengumpulkan bukti, pemeriksa harus terlebih dahulu memahami jenis – jenis dan kriteria bukti pemeriksaan yang harus dikumpulkan, alat bukti menurut UU No. 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dan keterkaitan antara keduanya. Penjelasan mengenai bukti pemeriksaan dan bukti hukum dapat dilihat pada lampiran V.1.

10 Strategi pengumpulan bukti

Strategi pembuktian adanya TPKKN umumnya meliputi tiga langkah dasar, yaitu:

1. Pemeriksa membangun kasus secara menyeluruh melalui wawancara terhadap saksi yang mendukung dan menganalisis dokumen yang tersedia.

2. Pemeriksa menggunakan bukti tidak langsung untuk mengidentifikasikan kasus dan meyakinkan saksi intern yang dapat memberikan bukti langsung tentang pihak yang diduga terlibat, guna membangun kasus.

3. Pemeriksa meminta keterangan kepada subyek guna mengungkap kasus, mengidentifikasikan pelaku kejahatan dan membuktikan adanya unsur kesengajaan (intent) si pelaku.

Strategi pengumpulan bukti

11 Metode pengumpulan bukti

Dalam upaya membuktikan TPKKN yang sudah dirumuskan dalam hipotesa awal, pemeriksa mengumpulkan bukti dengan cara: 1. meminta dokumen, 2. meminta keterangan, 3. melakukan pemeriksaan fisik dan pengamatan, 4. memperoleh bukti elektronik/digital, 5. melakukan penyegelan dan 6. memotret dan merekam.

Lima metode dalam pengumpulan bukti

12 1. Meminta Dokumen

a. Pasal 10 huruf a UU No. 15 Tahun 2004 dan Pasal 9 ayat (1) huruf b UU No. 15 Tahun 2006 memberikan kewenangan kepada BPK untuk meminta dokumen yang wajib disampaikan oleh setiap orang, unit organisasi Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Lembaga Negara lainnya, Bank Indonesia, Badan Usaha Milik Negara, Badan Layanan Umum, Badan Usaha Milik Daerah, dan lembaga atau badan lain yang mengelola keuangan negara.

Meminta Dokumen

b. Dokumen yang dikumpulkan adalah dokumen yang terkait dengan indikasi TPKKN. Dokumen ini didapatkan dari berbagai sumber baik internal maupun eksternal entitas yang diperiksa.

c. Dalam memperoleh bukti pemeriksaan, pemeriksa dapat:

a. Meminta dokumen kepada pejabat atau pihak terkait lainnya yang berwenang untuk memberikannya melalui surat yang dilampiri dengan daftar dokumen yang diminta.

b. Mengecek kesesuaian antara jumlah/jenis dokumen/bukti yang diterima dengan daftar permintaan dokumen/bukti.

c. Memfotokopi setiap dokumen asli yang diperoleh kemudian dilegalisasi oleh pembuat dokumen asli atau pejabat yang berwenang dari entitas yang diperiksa dan distempel dengan memuat penjelasan “sesuai dengan aslinya dan bukti asli ada di kantor kami di bawah tanggung jawab Saudara ...”.

d. Jika dokumen yang diperoleh hanya berupa fotokopi, maka pemeriksa harus melakukan prosedur pemeriksaan lainnya seperti konfirmasi kepada pihak - pihak yang terkait dengan dokumen tersebut.

Juknis Pemeriksaan Investigatif Atas Indikasi Tindak Pidana Korupsi yang Mengakibatkan Kerugian Negara/Daerah Bab V

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 37

dibuatkan berita acara peminjaman/pengembalian dokumen. Formulir Berita Acara Peminjaman Dokumen dapat dilihat pada lampiran V.2.

f. Jika dokumen asli maupun fotokopi tidak dapat diperoleh, maka pemeriksa mengajukan permintaan tertulis kedua kalinya dengan menjelaskan dasar hukum permintaan dokumen disertai konsekuensi pelanggaran ketentuan tersebut.

g. Jika dokumen asli maupun fotokopi dapat diperoleh tetapi tidak dapat dipinjamkan, pemeriksa harus mencatat secara lengkap nomor dokumen, tanggal dokumen, halaman buku dan catatan lain yang dianggap perlu untuk memudahkan mendapatkan kembali pada saat penyidikan dilakukan.

h. Daftar dokumen/bukti tersebut harus dilegalisir oleh pejabat yang berwenang dari entitas yang diperiksa, sebagai bukti dukungan bahwa daftar tersebut telah dibuat sesuai dengan dokumen/bukti yang ada pada saat itu.

i. Jika dokumen tersebut tetap tidak diberikan, maka pemeriksa dapat segera merencanakan langkah berikutnya, yaitu :

1) Melakukan tindakan sebagaimana diatur dalam Surat Edaran Ketua BPK No. 01/SE/I-VIII.3/9/2007 tanggal 5 September 2007 tentang Penolakan Pemeriksaan.

2) Melakukan penyegelan sesuai dengan kewenangan BPK setelah mendiskusikannya dengan Ditama Binbangkum. Tata cara penyegelan dilakukan sesuai dengan ketentuan.

j. Perolehan dokumen terkait dengan kerahasiaan bank

1) Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). a) Pemeriksa dapat memperoleh informasi dari PPATK

berkaitan dengan adanya dugaan penyalahgunaan wewenang dan atau perbuatan melawan hukum yang berindikasi tindak pidana pencucian uang. Formulir Permintaan Informasi kepada PPATK dapat dilihat pada lampiran V.3.

b) Dalam hal diperlukan adanya konfirmasi atau penjelasan lebih lanjut atas informasi yang telah diberikan, dapat dilakukan melalui pejabat penghubung yang telah ditunjuk.

c) Informasi yang diberikan bersifat rahasia dan hanya dapat digunakan sesuai dengan tujuan yang tercantum dalam surat permintaan informasi.

d) Informasi yang diberikan tidak dapat diteruskan atau diungkapkan kepada pihak lain tanpa persetujuan tertulis dari PPATK.

e) Pemeriksa bertanggung jawab atas kerahasiaan, penggunaan, dan keamanan informasi yang diterima. 2) Pemeriksa dapat meminta dokumen yang diperlukan kepada

Bank, dengan izin/kuasa dari pemegang rekening.

3) Jika cara 1) dan 2) di atas tidak berhasil, pemeriksa dapat meminta pihak instansi penyidik untuk mendapatkan izin Pimpinan Bank Indonesia, setelah melalui proses sesuai dengan prosedur yang berlaku di instansi penyidik.

Menurut UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, izin pemberian keterangan yang menyangkut rahasia bank untuk suatu perkara yang menyangkut rekening nasabah bank hanya dapat diberikan oleh Pimpinan Bank Indonesia kepada pihak

Juknis Pemeriksaan Investigatif Atas Indikasi Tindak Pidana Korupsi yang Mengakibatkan Kerugian Negara/Daerah Bab V

Kepolisian, Kejaksaan dan Hakim atas permintaan tertulis dari ketiga instansi tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut, pejabat BPK yang berwenang meminta secara tertulis kepada intansi penyidik agar mengajukan permohonan izin kepada Pimpinan Bank Indonesia. Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 UU No. 10 Tahun 1998.

4) Langkah-langkah persiapan dalam mendapatkan izin tersebut antara lain:

a) Menyampaikan surat permintaan.

b) Jika diminta, pemeriksa melakukan presentasi kasus kepada penyidik untuk meyakinkan bahwa tanpa dokumen yang diperlukan, posisi kasus menjadi lemah.

13 2. Meminta Keterangan

a. Permintaan keterangan tertulis dan atau lisan dilakukan oleh pemeriksa dengan tujuan untuk memperoleh, melengkapi dan/atau meyakini informasi yang dibutuhkan dalam kaitan dengan pemeriksaan.

Meminta keterangan

b. Permintaan keterangan tertulis dapat dilakukan dengan beberapa macam cara misalnya dengan membuat Berita Acara Permintaan Keterangan (BAPK), Surat Pernyataan, dan pengisian kuesioner. c. Permintaan keterangan secara lisan dapat dilakukan dengan

beberapa macam cara misalnya dengan wawancara dan wawancara mendalam.

d. Definisi dan Tujuan Wawancara

1) Wawancara adalah usaha/kegiatan untuk memperoleh keterangan dari orang yang memiliki atau diduga memiliki keterangan. Wawancara bersifat netral, tidak menuduh. Tujuan wawancara adalah mengumpulkan informasi yang penting bagi pemeriksaan investigatif dan mengenai perilaku dari orang yang diwawancarai. Wawancara memiliki pola dan struktur yang spesifik, serta memiliki tujuan. Wawancara dapat berupa satu pertanyaan atau rangkaian pertanyaan.

2) Wawancara mendalam adalah wawancara yang dilakukan terhadap penanggung jawab atau pihak yang diduga terkait dengan TPKKN. Tujuannya adalah untuk memperoleh informasi yang dapat dipakai untuk mengungkap segala sesuatu yang menyangkut bagaimana TPKKN yang terjadi. e. Untuk menjaga independensi dan mencapai tujuan, wawancara dan

wawancara mendalam dilakukan di kantor BPK atau kantor entitas yang diperiksa kecuali jika hal tersebut tidak dapat dilaksanakan maka pemeriksa dapat melakukan wawancara di tempat lain berdasarkan pertimbangan pemeriksa.

f. Teknik dan Dokumentasi Wawancara 1) Teknik Wawancara

Teknik wawancara secara rinci dapat dilihat pada Lampiran V.4.

2) Dokumentasi hasil wawancara

a) Pernyataan dari responden dapat didokumentasikan melalui tulisan tangan atau diketik selama wawancara dan/atau direkam secara elektronik dengan menggunakan kamera video dan alat lain. Pasal 10 butir e UU No. 15 Tahun 2004 menyatakan bahwa pemeriksa BPK berwenang memotret dan merekam sebagai alat bantu pemeriksaan.

Juknis Pemeriksaan Investigatif Atas Indikasi Tindak Pidana Korupsi yang Mengakibatkan Kerugian Negara/Daerah Bab V

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 39

b) Kegiatan pemotretan dan perekaman yang dilakukan oleh pemeriksa bertujuan untuk memperkuat dan/atau melengkapi informasi yang berkaitan dengan pemeriksaan. Manfaat hasil rekaman gambar dan suara adalah:

(1) Memungkinkan pemeriksa investigatif melakukan pengamatan selama berlangsungnya wawancara dan juga sesudahnya.

(2) Memudahkan pemeriksa investigatif membuat Berita Acara Permintaan Keterangan.

(3) Dapat menjadi bukti ketika tersangka mengklaim bahwa wawancara atau wawancara mendalam dilakukan di bawah tekanan.

c) Jika direkam dengan kamera video, buatlah salinan teks wawancara dan minta responden memastikan ketepatannya. Catatan teks wawancara agar ditandatangani oleh responden untuk penegasan ketepatannya.

d) Kemudian susunlah pernyataan berdasarkan urutan kejadian secara logis. Dari catatan tersebut pemeriksa menyusun BAPK yang akan ditandatangani oleh pihak yang memberikan keterangan.

e) Hasil wawancara tersebut dituangkan dalam BAPK. Formulir BAPK dapat dilihat pada lampiran V.5.

Berita acara ini tidak dapat dijadikan sebagai alat bukti keterangan saksi, namun berita acara ini dapat digunakan oleh aparat penyidik untuk kepentingan penyidikan. f) Hal–hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan

wawancara:

(1) Pemeriksa harus merencanakan wawancara dengan baik. Oleh karena itu pemeriksa harus mempunyai gambaran umum tentang apa yang diketahui oleh saksi, dokumen apa yang dapat disediakannya serta bagaimana hubungan informasi tersebut dengan kasus yang sedang diperiksa.

(2) Sebelum melakukan wawancara, pemeriksa perlu mereviu semua data/informasi yang telah diperoleh. Informasi tersebut dapat dibagi dalam tiga kategori sebagai berikut: a) informasi yang sudah dapat didokumentasikan/relevan, dan tidak perlu didiskusikan; b) informasi yang mungkin dapat didokumentasikan/relevan, tetapi masih perlu didiskusikan; dan c) informasi yang harus dibangun melalui kesaksian.

(3) Pemeriksa dapat melakukan wawancara dimulai dari lingkungan paling luar, yaitu mereka yang tidak mempunyai kepentingan terhadap kasus yang akan diungkap atau saksi yang tidak memiliki kepentingan. Setelah itu wawancara mengarah kepada pihak yang memiliki konspirasi dan yang terakhir adalah wawancara kepada pihak yang menjadi target kasus tersebut.

(4) Wawancara sebaiknya dilakukan secara non formal, dengan kemampuan memilih cara pendekatan yang tepat.

Juknis Pemeriksaan Investigatif Atas Indikasi Tindak Pidana Korupsi yang Mengakibatkan Kerugian Negara/Daerah Bab V

(5) Peranan tiap orang dalam hubungannya dengan peristiwa TPKKN yang terjadi dapat menghasilkan keterangan yang berbeda.

(6) Sikap mental, kepribadian dan latar belakang saksi/ responden perlu dipertimbangkan, karena dapat memberikan pengaruh yang besar atas isi keterangan yang diberikan, misal karena enggan, takut/terpaksa, merasa tidak nyaman, tidak simpati kepada pemeriksa, bersikap tidak peduli, rasa dendam, sensasi dan fitnah.

(7) Wawancara kepada saksi tidak hanya melengkapi bukti dalam suatu kasus, tetapi dapat juga digunakan untuk menunjukkan keterkaitan bukti dengan saksi lain. Oleh karena itu, pemeriksa investigatif harus meneliti keterkaitan tersebut.

(8) Pemeriksa harus hati–hati membedakan mana keterangan yang merupakan fakta dan mana keterangan yang merupakan pendapat/persepsi yang disampaikan oleh saksi.

(9) Pada umumnya wawancara mendalam dilaksanakan pada saat: 1) sebanyak mungkin informasi telah diperoleh dari sumber selain tersangka, 2) terdapat beberapa bukti atau informasi yang hanya dapat diperoleh dari tersangka, dan 3) waktu, tempat dan materi wawancara mendalam sedapat mungkin dalam pengendalian pemeriksa.

g. Jika responden dalam wawancara menghendaki untuk didampingi penasehat hukumnya, hal tersebut dapat diijinkan sepanjang kehadiran penasehat hukum tidak mengganggu jalannya proses wawancara. Penasehat hukum boleh hadir mendampingi responden namun ia tidak boleh mengajukan dan/atau menjawab pertanyaan pemeriksa. Penasehat hukum hanya boleh melihat dan mendengar proses wawancara.

h. Dalam rangka wawancara untuk mendapat dan meminta keterangan, BPK berwenang melakukan pemanggilan kepada orang tersebut. Pelaksanaan pemanggilan mengacu pada tata cara pemanggilan dan permintaan keterangan yang berlaku di BPK. i. Sebelum melakukan pemanggilan, pemeriksa investigatif perlu

mempertimbangkan seseorang yang dipanggil mempunyai peranan sebagai saksi atau sebagai pihak yang bertanggung jawab/terkait atas TPKKN yang telah terjadi.

14 3. Melakukan Pemeriksaan Fisik dan Pengamatan

a. Pemeriksaan fisik lazimnya diartikan sebagai penghitungan uang tunai (baik dalam mata uang rupiah atau mata uang asing), kertas berharga, persediaan barang, aktiva tetap dan barang berwujud lainnya. Formulir Berita Acara Pemeriksaan Fisik dapat dilihat pada lampiran V.6.

Pemeriksaan fisik dan pengamatan

b. Pengamatan diartikan sebagai pemanfaatan panca indera untuk mengetahui sesuatu. Kunjungan ke ruang kantor untuk melihat kondisi peralatan yang ada, kegiatan yang dilakukan, banyak dan ragamnya pegawai; mendengar tingkat kebisingan atau keheningan suasana kantor; merasakan suhu panas atau dingin tempat kerja dan lain sebagainya.

Juknis Pemeriksaan Investigatif Atas Indikasi Tindak Pidana Korupsi yang Mengakibatkan Kerugian Negara/Daerah Bab V

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 41

c. Tujuan dari melakukan pemeriksaan fisik dan pengamatan di lapangan antara lain adalah:

1) Memahami kelemahan pengendalian intern secara nyata, dan pemeriksa lebih memahami mengenai proses yang terjadi sehingga dapat menentukan bukti apa yang perlu diperoleh dan kepada siapa pemeriksa meminta bukti tersebut.

2) Memperoleh informasi yang lebih lengkap, tepat, kongkrit, dan terkini tentang keberadaan suatu aktiva atau obyek yang diperiksa, dengan tujuan untuk menguji apakah jumlah dan spesifikasi teknis telah sesuai dengan yang ditetapkan.

3) Menentukan keidentikan fisik yang diperiksa dengan informasi/ gambaran yang telah diperoleh sebelumnya.

4) Melengkapi informasi yang sudah ada.

5) Pengecekan atau konfirmasi keterangan, data atau fakta terkait dengan perkiraan besarnya kerugian karena kerusakan fisik yang diperiksa.

6) Mencari hubungan antara fisik yang diperiksa dengan peristiwa TPKKN.

Tujuan pemeriksaan fisik dan pengamatan lapangan

d. Hal–hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemeriksaan fisik:

1) Dilakukan dengan cermat dan tepat sehingga dapat diperoleh gambaran yang lengkap dan jelas.

2) Untuk membantu mengingat apa yang telah diamati perlu disediakan peralatan/perlengkapan/alat bantu yang diperlukan misalnya: alat tulis/catatan, peralatan foto, dan alat perekam

handycam.

e. Dokumentasi hasil pengamatan dan pengujian fisik:

1) Hasil pemeriksaan fisik dapat didokumentasikan dalam bentuk foto dan rekaman wawancara. Dan hasil pengujian fisik dapat didokumentasikan dalam bentuk Berita Acara Pemeriksaan Fisik.

2) Dokumentasi hasil pengamatan dan pengujian fisik yang baik akan membantu pemeriksa dalam kegiatan pemeriksaan. 15 4. Memperoleh bukti elektronik/digital

a. Perkembangan teknologi, terutama teknologi informasi mengakibatkan sumber perolehan bukti mengalami perluasan sehingga tidak hanya mencakup bukti konvensional, tetapi juga mencakup bukti non-konvensional seperti bukti elektronik (electronic evidence) atau bukti digital (digital evidence). Bukti elektronik (electronic evidence) atau bukti digital (digital evidence) adalah bukti yang disimpan, diterima atau dikirim dalam bentuk digital dengan menggunakan perangkat elektronik.

Memperoleh bukti elektronik/digital

b. Pasal 26A UU No. 31 Tahun 1999 yang telah diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi menyatakan bahwa alat bukti yang sah dalam bentuk petunjuk sebagaimana dimaksud dalam pasal 188 ayat (2) UU No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, khusus untuk Tindak Pidana Korupsi juga dapat diperoleh dari:

1) Alat bukti lain yang berupa informasi yang diucapkan, dikirim, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu; dan

2) Dokumen, yakni setiap rekaman data atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan atau didengar yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang di

Juknis Pemeriksaan Investigatif Atas Indikasi Tindak Pidana Korupsi yang Mengakibatkan Kerugian Negara/Daerah Bab V

atas kertas, benda fisik apapun selain kertas, maupun yang terekam secara elektronik, yang berupa tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, huruf, tanda, angka, atau perforasi yang memiliki makna.

c. Komputer sebagai salah satu peralatan elektronik, yang dapat mengolah, menyimpan, menerima dan mengirimkan bukti elektronik, memiliki peran yang bermacam–macam di dalam kejahatan teknologi tinggi:

1) Komputer sebagai sebuah obyek. Komputer dan sistem jaringan seringkali menjadi obyek atau sasaran kejahatan, sabotase fisik, pencurian atau penghancuran informasi.

2) Komputer sebagai sebuah subyek. Komputer merupakan subyek langsung dari kejahatan ketika komputer berada di dalam lingkungan di mana pakar teknologi melakukan kejahatan.

3) Komputer sebagai sebuat alat bantu. Komputer secara nyata digunakan sebagai alat untuk melakukan kejahatan, baik penggelapan, pencurian informasi yang dilindungi atau pun

hacking.

4) Komputer sebagai sebuah simbol. Komputer memberikan pelaku sebuah kredibilitas hingga memudahkan pelaku melakukan tindak kejahatan.

d. Dalam menangani data elektronik yang tersimpan dalam komputer, terdapat tiga langkah utama: (1) mengambil image atau imaging, (2) pemrosesan, yaitu mengolah citra atau image, dan (3) analisis, yaitu menganalisis image yang sudah diproses.

e. Untuk mengamankan data elektronik penting terkait dengan Tindak Pidana Korupsi yang tersimpan dalam komputer, dari penghancuran atau perubahan data, pemeriksa investigatif dapat menempuh langkah–langkah sebagai berikut:

1) Menutup seluruh akses terhadap komputer atau media elektronik. Hanya pihak yang kompeten dan berwenang saja yang dapat memperoleh akses terhadap komputer tersebut. 2) Mematikan komputer dilakukan dengan mencabut kabel listrik

yang terhubung dengan komputer tersebut.

Hal ini dimaksudkan untuk menjaga agar tidak terdapat perubahan, atau tindakan lain yang dapat dilakukan oleh pihak tertentu untuk menghilangkan atau merubah barang bukti. 3) Mendokumentasikan waktu dilakukan dengan mencatat kapan

waktu menutup akses dan mematikan komputer. Hal ini dimaksudkan agar pemeriksa dapat mempertanggung jawabkan keaslian dari alat bukti.

4) Mendokumentasikan lingkungan kerja dimana komputer tersebut berada. Hal ini dimaksudkan agar dapat diperoleh gambaran yang utuh terhadap alat bukti yang ada. Mengidentifikasi media elektronik yang ditemukan dan dianggap memuat alat bukti yang dicari.

5) Mengkonsultasikan dengan ahli forensik komputer. Langkah paling penting adalah pemeriksa melakukan konsultasi dan/atau koordinasi dengan ahli forensik komputer (misalkan dengan ahli forensik komputer KPK). Hal ini tentunya telah dimulai sebelum melakukan penyegelan atau memasuki ruangan komputer.

16 5. Melakukan Penyegelan

a. Maksud dan tujuan penyegelan adalah untuk mengamankan uang, barang, dan/atau dokumen pengelolaan keuangan negara dari

Juknis Pemeriksaan Investigatif Atas Indikasi Tindak Pidana Korupsi yang Mengakibatkan Kerugian Negara/Daerah Bab V

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 43

kemungkinan usaha pemalsuan, perubahan, pemusnahan, atau penggantian pada saat pemeriksaan.

b. Penyegelan dilakukan terhadap tempat uang, barang, dan/atau dokumen pengelolaan keuangan negara yang berada dalam penguasaan dan atau tanggung jawab pihak yang diperiksa atau pihak lain yang terkait dengan pemeriksaan yang bersangkutan. c. Penyegelan hanya dilakukan dalam hal pemeriksaan terpaksa

ditunda karena alasan tertentu, yaitu jika pihak yang menguasai dan/atau bertanggung jawab atas uang, barang, dan atau dokumen pengelolaan keuangan negara tidak berada di tempat pada saat pemeriksaan dilaksanakan atau alasan lain sehingga pemeriksaan tidak dapat dilaksanakan.

d. Tata cara penyegelan dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

17 6. Memotret dan Merekam

a. Pasal 10 huruf e UU No. 15 Tahun 2004 menyatakan bahwa pemeriksa BPK berwenang memotret, merekam dan/atau mengambil sampel sebagai alat bantu pemeriksaan.

Memotret dan merekam

b. Pemotretan dan perekaman gambar ataupun suara dapat dilakukan oleh pemeriksa investigatif sebagai alat bantu pemeriksaan pada saat pemeriksa:

1) Meminta keterangan (wawancara dan wawancara mendalam); 2) Melakukan pemeriksaan fisik;

3) Memperoleh bukti elektronik; 4) Melakukan penyegelan.

18 Sesuai dengan kewenangan BPK dalam upaya mengumpulkan bukti, pemeriksa investigatif dapat melakukan teknik pemeriksaan sebagai berikut:

Teknik pemeriksaan yang dapat digunakan pemeriksa

19 1. Konfirmasi

Pembuktian dengan mengusahakan memperoleh informasi dari sumber lain yang independen, baik secara lisan maupun tertulis.

Dalam kasus tender pengadaan barang dan jasa misalnya, permintaan konfirmasi dari pemasok yang cenderung melindungi pejabat, perlu diperkuat dengan konfirmasi dari Direktorat Jenderal Bea & Cukai, kalau barang tersebut diimpor.

20 2. Pengujian

Memeriksa hal-hal atau sampel-sampel yang representatif dengan maksud untuk mendapatkan simpulan, sehubungan dengan kelompok yang dipilih.

21 3. Reviu analitikal

Pembuktian dengan mengusahakan memperoleh informasi dengan cara: a) membandingkan anggaran dengan realisasinya, b) mencari hubungan antara satu data keuangan dengan data keuangan lain, c) menggunakan data non keuangan, d) regresi atau analisis trend, dan e) menggunakan indikator ekonomi makro.

22 4. Pemeriksaan keabsahan

Memeriksa sah tidaknya serta lengkap tidaknya bukti yang mendukung suatu transaksi.

23 5. Rekonsiliasi

Penyesuaian antara dua golongan data yang berhubungan tetapi masing – masing dibuat oleh pihak – pihak yang independen.

Juknis Pemeriksaan Investigatif Atas Indikasi Tindak Pidana Korupsi yang Mengakibatkan Kerugian Negara/Daerah Bab V

24 6. Penelusuran

Memeriksa dengan jalan menelusuri proses suatu keadaan atau masalah, kepada sumber atau bahan pembuktiannya.

25 7. Penghitungan kembali

Pembuktian dengan mengusahakan memperoleh informasi dengan cara memeriksa kebenaran perhitungan (kali, bagi, tambah, kurang, dan lain-lain). Dalam investigasi, perhitungan yang dihadapi umumnya amat rumit, didasarkan atas kontrak atau perjanjian yang kompleks, mungkin sudah terjadi perubahan dan renegosiasi berkali-kali dengan pejabat yang berbeda.

26 8. Penelaahan pintas

Melakukan penelaahan secara umum dan cepat untuk menemukan hal-hal yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

27 Penyimpanan Bukti

Bukti yang telah diperoleh harus dikelola dengan baik. Pengamanan alat/ barang bukti dapat dilihat pada lampiran V.7.

28 Hal –hal yang perlu diperhatikan dalam Pengumpulan Bukti adalah : 1. Keberhasilan pelaksanaan pemeriksaan atas TPKKN tergantung pada

situasi, kondisi dan kreativitas pemeriksa investigatif dalam menerapkan prosedur serta teknik–teknik pemeriksaan secara tepat untuk mendapatkan bukti-bukti yang kompeten dan relevan.

Dalam dokumen Juknis Pem Invest Mei 2009 (Halaman 47-56)

Dokumen terkait