Berdasarkan data model faktual terkait dengan kemitraan sekolah dengan orang tua di SMA Kristen 1 Salatiga, maka disusunlah data untuk mengem-bangkan suatu model tersebut. Pengumpulan data tersebut dilakukan dengan analisis kebutuhan model. Analisis kebutuhan model yang digunakan dalam penelitian ini adalah SWOT dan MAS. Analisis data ini dilakukan dengan FGD dengan beberapa pihak yaitu
Media Sosial
Action Plan dan Penyusunan
RKAS Tujuan Program
113
kepala sekolah, ketua program pendidikan keluarga, koordinator program kemitraan dan perwakilan komite.
Analisis kebutuhan merupakan kegiatan menganalisis data dengan tujuan memperoleh informasi yang dibutuhkan pengguna dalam menjalankan suatu program. Judul model disesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai. Tujuan analisis kebutuhan model adalah untuk menentukan judul dan isi model. Melalui hasil diskusi dengan beberapa pihak sekolah yaitu kepala sekolah, ketua program pendidikan keluarga, koordinator program kemitraan serta guru pengelola sistem informasi sekolah diperoleh data tentang penyelenggaraan program pendidikan keluarga di SMA Kristen 1 Salatiga yang diturunkan ke dalam faktor IFAS dan EFAS pada table 4.1 berikut.
114
Tabel 4.1 Hasil Analisis Faktor Kekuatan dan Kelemahan Matrik IFAS (Internal Factors Analysis Summary) No Faktor-faktor Internal Bobot Skor Total Bobot x Skor Kekuatan (Strength)
1 Teamwork yang solid 0,07 4 0,28
2 Komitmen dari warga sekolah untuk mewujudkan program. 0,07 4 0,28 3
Kemampuan sumber daya manusia yang cukup baik dan kreatif dalam
mengembangkan program. 0,1 4 0,4
4 Sekolah juga mengadakan penguatan ekosistem untuk meningkatkan kinerja sekolah.
0,06 4 0,24
5 Sekolah memiliki moto custumor
staisfication. 0,06 3 0,18
6 Pemimpin yang humanis. 0,07 3 0,21
7
Pemimpin yang cukup aktif menjalin hubungan kerjasama dengan pihak masyarakat.
0,09 4 0,32
8
Sekolah telah memiliki kesadaran untuk melaksanakan beberapa kegiatan dalam program pendidikan keluarga sebelum mendapatkan bantuan pemerintah.
0,07 4 0,28
9
Sekolah telah mengikuti
pembinaan dan bimbingan teknis penyelenggaraan pendidikan keluarga dari dinas pendidikan.
0,06 3 0,18
10
Sekolah telah menganggarkan untuk penyelenggaran program
pendidikan keluarga melalui RKAS. 0,09 4 0,32
11
Sekolah memiliki program unggulan lainnya yang dapat mendukung kegiatan-kegiatan dan pendanaan pada program
kemitraan sekolah.
0,08 3 0,24
12
Sekolah telah memiliki tim pengelola sistem informasi manajemen.
0,05 4 0,20
13 Daya dukung sarana prasarana yang cukup memadai. 0.06 3 0,18 14
Menggunakan media sosial untuk menjalin komunikasi dengan
115
Total Skor 1 3,59
Kelemahan (Weaknesses)
1
Waktu pelaksanaan kegiatan program yang melibatkan orang tua terbatas karena mayoritas orang tua bekerja.
0,14 1 0,14
2
Waktu pelaksanaan kegiatan program kadang bersamaan
dengan kegiatan program lain. 0,13 2 0,26
3 Banyaknya program sekolah dapat mengurangi jam pelajaran siswa. 0,13 1 0.13 4 Beberapa media komunikasi tersedia yang masih kurang
accessible.
0,12 2 0,24
5
Masih ada beberapa media komunikasi sekolah yang masih kurang maksimal penggunaanya misalnya web dan blog.
0,13 2 0,26
6
Sekolah masih kurang melibatkan orang tua dalam proses
pembelajaran anak di bidang akademik.
0,12 1 0,12
7
Beberapa guru masih kurang memiliki motivasi untuk menggunakan dan mengembangkan media
pembelajaran seperti Edmodo dan blog.
0,12 2 0,24
8
Kegiatan kolaborasi anak dan orang tua dalam bidang akademik
dan non akademik masih kurang. 0,11 1 0,11
Total Skor 1 1,5
Total SkorAkhir (Kekuatan –
Kelemahan) 2.09
Dari data pada tabel diatas dapat disimpulkan bahwa total bobot dikalikan skor pada faktor kekuatan adalah 3,59 sedangkan total bobot dikalikan skor pada faktor kelemahan adalah 1,5 sehingga skor akhir IFAS yaitu faktor kekuatan dikurangi faktor kelemahan adalah 2,09. Hal ini menunjukkan bahwa faktor kekuatan adalah faktor yang lebih dominan
116
dibandingkan dengan faktor kelemahan. Oleh karena itu sekolah dapat mengoptimalkan kekuatan yang dominan yang dimiliki untuk mengatasi kelemahan-kelemahan yang ada.
Berdasarkan hasil data wawancara dan FGD dan studi dokumentasi yang didapat telihat bahwa SMA Kristen 1 Salatiga memiliki cukup banyak kekuatan dalam menjalankan program kemitraan antara sekolah dan orang tua yang dikemas dalam program pendidikan keluarga. Kekuatan yang dimiliki bahkan lebih banyak dari kelemahan yang ditemukan. Dalam hal ini sekolah dapat memaksimalkan kekuatan berdasarkan tingkat kepentingannya yang dapat dilihat pada skor SWOT yang dibuat untuk mengurangi atau meminimalisasi kelemahan yang ada.
Kekuatan yang memiliki bobot tertinggi dalam analisis SWOT tersebut ada dua, yaitu terkait dengan kepala sekolah sebagai pemimpin yang cukup aktif menjalin hubungan kerjasama dengan pihak masyarakat yang juga meliputi orang tua dan alumni dan pengalokasian anggaran khusus sekolah untuk penyelenggaran program pendidikan keluarga melalui RKAS.Hal ini dirasa menjadi kekuatan yang tertinggi karena dalam suatu kemitraan, relasi atau hubungan menjadi sesuatu yang sangat penting.Kepala sekolah sebagai pihak yang memiliki fungsi paling strategis disekolah merupakan salah satu faktor penentu dalam
117
jalinan kemitraan sekolah dengan masyarakat. Terjalinnya hubungan baik secara personal maupun kelembagaan antar pemimpin dapat mendatangkan kepercayaan yang tinggi dan kemudahan terhadap instansi yang dipimpinnya.
Meskipun tidak diberikan bobot yang terlalu tinggi namun faktor pemimpin yang humanis yang dimiliki oleh sekolah ini menjadi daya dukung yang memberi dampak baik secara tidak langsung bagi program kemitraan disekolah ini. Pola berpikir kepala sekolah yang menganggap bahwa tugas sekolah tidak hanya mengembangkan prestasi namun juga membangun karakter para peserta didiknya merupakan suatu dasar pemikiran yang menjadikan program kemitraan sekolah dengan orang tua serta masyarakat menjadi salah satu prioritas sekolah. Hal ini berdampak pada suatu keputusan dan pendanaan yang terkait dengan kegiatan-kegiatan pada program kemitraan. Meskipun baru setahun program kemitraaan ini mendapatkan dana bantuan dari pemerintah namun sudah cukup banyak kegiatan-kegiatan kemitraan dan jalinan kemitraan yang sudah dilakukan baik sebelum maupun sesudah bantuan diberikan. Kegiatan-kegiatan dalam program kemitraan tersebut hendaknya tetap dilanjutkan dengan tidak melupakan segi manajemen pelaksanaan program dari
118
perencanaan, peng-organisasian, pelaksanaan dan pengawasan secara berkesinambungan.
Jalinan kemitraan sekolah dengan orang tua serta masyarakat juga didukung dengan usaha sekolah untuk melakukan penguatan ekosistem dari dalam. Penguatan ekosistem tersebut meliputi pemberian motivasi dan pelatihan tentang pola asuh. Pemberian motivasi ini sangat penting melihat padatnya program sekolah yang harus dilaksanakan sehingga tidak menutup kemungkinan rasa lelah dan hambatan-hambatan yang dirasakan warga sekolah dapat menurunkan kinerja mereka. Dalam hal ini peran moto sekolah “custumor statisfication” dapat berguna menjadi pengingat warga sekolah untuk memberikan yang terbaik kepada para pelanggan termasuk orang tua atau wali murid.
Dari segi pendanaan, sebelum dana bantuan dicairkan sekolah terlebih dahulu telah meng-alokasikan anggaran melalui RKAS dalam mewujudkan program kemitraan tersebut. Hal ini dikarenakan kegiatan-kegiatan dalam program kemitraan telah dijalankan oleh sekolah sebelum bantuan dana dari pemerintah diberikan. Komiten dari warga sekolah serta kesadaran akan pentingnya program inilah yang menjadikan sekolah ini sebagai salah satu sekolah percontohan program pendidikan keluarga sehingga juga diberi dana bantuan. Dana bantuan pemerintah
119
dianggap sekolah sebagai sarana penguatan bagi program kemitraan yang telah dilaksanakan sekolah sebelumnya. Dana yang digunakan sekolah sebelumnya berasal dari dana konvensional seperti SPP dan sumbangan pendidikan serta dana non konvensional yang didapatkan dari program keiwrausahaan serta program kemitraan itu sendiri seperti pada kegiatan expo pendidikan. Program-program unggulan sekolah ini digunakan sekolah untuk menggali danamelalui jalinan kemitraan yang telah terbentuk seperti kerjasama dengan orang tua, alumni serta pihak masyarakat lainnya yang disalurkan untuk kegiatan dalam program selanjutnya. Dalam hal ini sekolah berusaha memanfaatkan social capital yang dapat berimplikasi menjadi economy capital.
Meskipun banyak kekuatan yang dimiliki sekolah namun masih terdapat beberapa kelemahan yang dimiliki sekolah yang dapat menjadi faktor penghambah internal dalam mewujudkan tujuan program pendidikan keluarga. Banyaknya program unggulan yang dimiliki oleh sekolah justru juga dapat menjadi kelemahan atau hambatan bagi sekolah. Padatnya program-program yang harus dilaknsanakan oleh sekolah dan kendala waktu pelaksanaan mengakibatkan guru-guru terkadang harus mening-galkan kelas untuk mempersiapkan program-program tersebut. Jika hambatan ini tidak dapat segera diatasi
120
maka hal tersebut dapat menyebabkan turunya pencapaian akademik siswa. Kendala mengenai waktu juga mengakibatkan kegiatan-kegiatan beberapa program diadakan secara bersamaan sehingga mengakibatkan kurang maksimalnya ketercapaian tujuan program tersebut.
Saat ini sekolah telah menggunakan media sosial untuk menjalin komunikasi dengan stakeholder. Hal ini menjadi kekuatan sekolah dalam mewujudkan program kemitraan sekolah dengan orang tua dan masyarakat lainnya. Media sosial telah memberikan kemudahan sekolah dalam menyampaikan informasi kepada pihak-pihak terkait. Penggunaan media sosial yang telah digunakan oleh sekolah dalam usaha untuk selalu menjaga komunikasi dengan orang tua dan masyarakat yaitu diantaranya melalui email, website, facebook, youtube, blog, whatsapp, BBM, sms/ telepon. Pentingnya komunikasi dalam suatu kemitraan telah disadari oleh sekolah sehingga sekolah senantiasa membuka diri dengan hal-hal yang dapat membantu dalam menjaga komunikasi
tersebut. Meskipun begitu, masih ada beberapa media komunikais yang kurang dimaksimalkan fungsinya oleh sekolah sehingga media komunikasi tersebut dianggap masih kurang accessible bagi orang tua terutama pada media komunikasi melalui website dan blog. Hal ini masih dapat dikembangkan lagi
121
melalui tim pengelola sistem informasi agar orang tua lebih merasakan manfaat berkomunikasi dengan sekolah melalui media tersebut.
Dalam bidang non akademik sekolah telah banyak memiliki program, seperti 20 program pengembangan bakat minat serta program lainnya seperti kemitraan dan kewirausahaan. Hal ini juga mesti diimbangi dengan kegiatan akademik agar potensi akademik siswa dapat lebih dimaksimalkan dan mencapai prestasi yang dapat menambah kekuatan sekolah. Keterlibatan orang tua dalam bidang akademik dapat dilakukan melalui pembelajaran menggunakan media Edmodo dan blog sebagai media pengawasan orang tua terhadap pembelajaran yang sedang diberikan terhadap anaknya. Namun belum banyak guru yang menggunakan media ini sebagai media pembelajaran, meskipun sekolah sudah pernah diberikan pelatihan tentang media pembelajaran ini. Pemberian pelatihan kepada sekolah yang terkait dengan media pembelajaran ini menunjukan bahwa media ini sebenarnya dapat bermanfaat jika digunakan dengan tepat. Tidak hanya di bidang akademik namun dalam bidang non akademik kegiatan yang mendorong kolaborasi orang tua dan anak juga masih dapat dikembangkan agar dapat meningkatkan keharmonisan hubungan antara orang tua/ wali murid dengan peserta didik dan sekolah.
122
Selanjutnya hasil analisis faktor eksternal sekolah meliputi peluang dan ancaman, pemberian bobot dan skor masing-masing faktor dan dilakukan perhitungan skor akhirnya hingga diperoleh matrik EFAS (Eksternal Factors Analysis Summary) dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.2 Hasil Analisis Faktor Peluang dan Ancaman Matrik EFAS (External Factors Analysis Summary)
No Faktor-faktor Eksternal Bobot Skor Total Bobot x Skor Peluang (Opportunity)
1 Sekolah telah dipilih menjadi salah satu sekolah percontohan program pendidikan keluarga.
0,13 3 0,39
2
Dukungan dana dari pemerintah berupa bantuan dana program Kemitraan Sekolah dengan Keluarga dan Msayarakat serta monitoring.
0,17 3 0,51
3 Mendapatkan dukungan dari beberapa alumni yang cukup berpotensi.
0,14 4 0,56
4 Kepercayaan masyarakat masih cukup tinggi. 0,14 4 0,56 5 Mendapat dukungan orang tua baik dari dana maupun fasilitas. 0,15 4 0,6 6
Beberapa komite bersedia terjun langsung membantu dan mendukung
kegiatan atau program sekolah. 0,12 3 0,36
7 Sudah terbentuknya paguyuban orang tua wali murid 0,15 4 0,6
Total Skor 1 3,58
Ancaman (Threat)
1 Sebagian orang tua yang masih berprinsip “pasrah bongkoan” 0,23 1 0,23 2
Belum ada rapat rutin komite karena terhalang oleh kesibukan masing-masing komite.
0,18 2 0,36
3
Kesibukan orang tua sehingga sulit menemukan waktu yang tepat untuk
123
4
Pengetahuan media komunikasipada orang tua yang masih perlu
ditingkatkan 0,18 2 0,36
5 Beberapa orang tua yang masih berada di kalangan ekonomi menengah kebawah.
0,16 3 0,48
Total Skor 1 1,68
Total SkorAkhir (Peluang –
Ancaman) 2,9
Dari data pada tabel diatas dapat disimpulkan bahwa total bobot dikalikan skor pada faktor peluang adalah 3,58 sedangkan total bobot dikalikan skor pada faktor ancaman adalah 1,68 sehingga skor akhir EFAS yaitu faktor peluang dikurangi faktor ancaman adalah 2,9. Dari hasil analisis faktor eksternal tersebut diketahui bahwa sekolah memiliki beberapa peluang yang dapat dimanfaatkan untuk memberikan kontribusi dalam meningkatkan kemitraan sekolah dengan orangtua dan masyarakat.
Kekuatan dari dalam yang dimiliki oleh sekolah dapat menghasilkan peluang eksternal yang dapat digunakan untuk memperkuat program-program yang ada disekolah. Hal ini dirasakan sungguh oleh SMA Kristen 1 Salatiga.Sebagai buah yang baik akan adanya komitmen yang kuat dari warga sekolah dalam usaha menjalin hubungan yang harmonis dengan berbagai pihak dengan diwujudkannya kegiatan-kegiatan yang bersifat kemitraan maka SMA Kristen 1 Salatiga mendapat beberapa bantuan dari pemerintah baik dalam pendanaan maupun dukungan lainnya seperti
124
keikutsertaan dalam bimtek penyelenggaraan program pendidikan serta monitoring dan supervisi oleh dinas pendidikan. Disamping program pendidikan keluarga, sekolah juga mendapatkan bantuan dalam penyelenggaraan program kewirausahaan dan program wawasan kebangsaan. Dukungan dana, tenaga dan pemikiran tidak hanya mengalir dari pemerintah namun juga para orang tua, para alumni yang sebagian juga orang tua siswa dan komite sekolah. Hal tersebut merupakan peluang yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan program kemitraan sekolah dengan orang tua dan masyarakat yaitu untuk menjalin kerjasama dan keselarasan dalam menjalankan program pendidikan di sekolah, keluarga, dan masyarakat demi membangun ekosistem pendidikan yang kondusif untuk menumbuh kembangkan karakter dan budaya berprestasi pada peserta didik. Tujuan program kemitraan tersebut selaras dengan visi sekolah yaitu berkarakter dan berprestasi.
Berdasarkan pengakuan hampir semua pihak sekolah yang telah diwawancari salah satu faktor penghambat dalam mewujudkan program kemitraan ini yaitu waktu pelaksanaan kegiatan yang melibatkan orang tua. Kesibukan orang tua yang mayoritas bekerja dirasa masih menjadi kendala. Kendala inilah yang sebaiknya masih perlu dipkirkan jalan keluarnya dengan memaksimalkan kekuatan yang dimiliki oleh
125
sekolah yang terkait dengan kemampuan sumber daya manusia yang sebenarnya cukup baik dan kreatif dalam mengembangkan program-program yang ada selama ini.
Komunikasi yang efektif juga dirasa dapat menjadi jembatan yang dapat mengatasi masalah kesibukan orang tua dan pihak-pihak terkait lainnya. Sebagai peluang eksternal yang lain, sekolah juga telah mulai membentuk paguyuban-paguyuban orang tua. Paguyuban orang tua kelas 10 telah dibentuk secara resmi melalui media sosial whatsapp. Group whatsapp orang tua telah dibentuk baik yang diprakarsai dari setiap pihak wali kelas 10 maupun guru BK kelas 10. Paguyuban orang tua kelas 11 dan 12 resmi juga sedang diusahakan oleh sekolah. Kesediaan orang tua dengan bergabung dalam paguyuban orang tua menjadi hal yang strategis untuk mengembangkan jalinan kemitraan untuk membangun sekolah yang lebih baik. Keberagaman pengetahuan media komunikasi yang dimiliki orang tua menjadi tantangan tersediri juga bagi sekolah dalam mewujudkan komunikasi yang harmonis dengan para orang tua atau wali murid.
Kepercayaan masyarakat dalam hal ini alumni cukup tinggi pada SMA Kristen 1 Salatiga. Banyak diantara alumni yang sekarang menjadi orang tua/ wali murid di sekolah ini. Namun di sisilain, hal ini juga dapat menjadi ancaman bagi sekolah. Kepercayaan
126
yang tinggi tersebut dapat menimbulkan prisnsip “pasrah bongkoan” oleh orang tua kepada sekolah. Padahal hal ini bertentangan dengan prisnsip kemitraan yang saling bergotong royong untuk mendidik anak. Diakui sekolah, prinsip “pasrah bongkoan” terhadap sekolah masih dimiliki oleh beberapa orang tua terutama orang tua dari kalangan menengah kebawah. Sehingga hal ini menjadi tantangan sekolah yang harus segera dipecahkan dengan memanfaatkan peluang-peluang dan kekuatan sekolah yang ada agar program kemitraan dapat berjalan lebih baik sesuai dengan prinsip-prinsip kemitraan yang telah ditetapkan.
Berdasarkan hasil analisis SWOT sekolah tersebut diketahui skor akhir IFAS adalah 2.09 sedangkan skor akhir EFAS adalah 2,9. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa strategi berada di kuadran SO (strength oportunity) yang mendukung strategi agresif. Sehingga pihak sekolah dapat menggunakan kekuatan dari lingkungan internal sekolah dan meraih peluang yang ada pada lingkungan eksternal untuk kemitraan sekolah dengan orangtua.
127
Selanjutnya setelah mengetahui hasil analisis SWOT tersebut dibuatlah strategi-strategi untuk meningkatkan jalinan kemitraan sekolah dengan orang tua serta masyarakat dan meminimalisasi faktor kelemahan dan ancaman yang dapat menghambat penyelenggraan program pendidikan keluarga tersebut. Strategi yang perlu dibuat oleh sekolah untuk mengembangkan model kemitraan sekolah dan orang tua dapat meliputi beberapa aspek. Dalam hal ini peneliti mengkategorikan beberapa aspek strategi tersebut berdasarkan analisis MAS yaitu strategi yang meliputi perubahan (modify), penambahan (add) dan perluasan atau penyempitan (size). Hasil analisis tersebut dipaparkan sebagai berikut:
Kuadran 1 (SO) Stratetgi Agresif Memanfaatkan kekuatan untuk menangkap peluang
yang ada
Peluang
(O)
3 2 1Kekuatan
(S)
Kelemahan
(W)
3 2 1 1 2 3 1 2 3Ancaman
(T)
129 2.2.3. Desain Produk
Berdasarkan hasil analisis kebutuhan tentang model kemitraan sekolah dengan orang tua SMA Kristen 1 Salatiga maka penyusunan kerangka model model kemitraan sekolah dengan orang tua sebagai berikut:
1) Pendahuluan berisi latar belakang, dasar hukum, rasional mode, tujuan, sasaran dan spesifikasi model. Model ini berisi tentang pentingnya program pendidikan keluarga yang termuat dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.
2) Spesifikasi model produk hasil pengembangan ini terkait dengan model Kemitraan Sekolah dengan Keluarga dan Masyarakat dari pemerintah yang dikembangkan dengan mengadaptasi beberapa teori kemitraan atau family-school partnersip lainnnya di berbagai sumber. Setelah mempertimbangkan berbagai prosedur, fungsi manajemen, proses dan strategi pelaksanaan yang digunakan, produk hasil pengembangan ini diberi nama “Model Kemitraan Sekolah dengan Orang Tua melalui Media Sosial”
130
3) Konsep dan bentuk kemitraan yang dilengkapi dengangambar model kemitraan sekolah dengan orang tua melalui media sosial. Konsep kemitraan berupa pengertian, tujuan, prinsip dan bentuk-bentuk kemitraan. Model ini memiliki beberapa bentuk kemitraan dalam beberapa aspek–aspek kemitraan yang ditentukan.
4) Gambar model merupakan rangkuman dari kegiatan manajemen program pendidikan kelurga yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi. Gambar model berisi skema/ bagan alur model kemitraan sekolah dengan orang tua melalui media sosial.
5) Efektifitas model merupakan faktor-faktor yang mendukung keefektifan jalannya model jika dilaksanakan pada satuan pendidikan. Faktor-faktor pendukung tersebut diantaranya berupa persyaratan pokok model, profil sekolah, peran dan karakter yang harus dimiliki oleh warga sekolah dalam menjalankan program.
6) Monitoring program kemitraan sekolah dengan orang tua dilaksanakan selama kegiatan berlangsung yang dilakukan oleh kepala sekolah atau bahkan oleh pengawas dan Dinas Pendidikan. Evaluasi terhadap kegiatan program kemitraan sekolah dengan orang tua untuk mengetahui kualitas bentuk-bentuk kemitraan
131
tersebut, kelemahan-kelemahan serta kendala dalam proses pelaksanaannya.
7) Pengarsipan dan pelaporan kegiatan program kemitraan sekolah dengan orang tua. Arsip adalah semua dokumen atau berkas program pendidikan keluarga yang harus disimpan sebagai bukti pertanggungjawaban telah dilaksanakan kegiatan program kemitraan, laporan program kemitraan bermanfaat untuk keperluan evaluasi program dan dapat digunakan sebagai dasar perbaikan program pendidikan keluarga di masa datang.